Kutuan

Awal tahun 2018 di salah satu saluran TV Belanda ada mini seri De Luizenmoeder. Awal aku melihat iklannya aku berpikiran apakah ini mengenai pencarian kutu di kepala anak anak yang prakteknya dilakukan di minggu pertama anak anak kembali ke sekolah setelah liburan (liburan semua musim). Ternyata film ini bukan mengenai hal tersebut (walau hingga saat ini aku belum pernah nonton mini seri tersebut).

Luizenmoeder itu sendiri adalah sebutan untuk orang yang memeriksa rambut anak anak setelah liburan tiba. Jika di sekolah si kembar yang lama yang jadi luizenmoeder adalah orang yang bekerja di sekolah (bisa admin ataupun vrijwilligers yang bekerja di sekolah untuk menjaga anak anak bermain saat istirahat tiba). Sedangkan di sekolah si kembar yang sekarang yang jadi luizenmoeder adalah orangtua murid, biasanya tiga orangtua. Tidak hanya ibu saja lho, bapak pun bisa jadi luizenmoeder.

Nah mengenai kutu di kepala, rasanya jaman masa kini yang namanya kutu sudah tidak jaman lagi, digantikan oleh ketombe dan kerontokan. Tapi tidak begitu di Belanda! Saat si kembar awal bersekolah SD di sekolah yang lama, aku mendapatkan email peringatan dari pihak sekolah bahwa salah satu anak di kelas Cinta kedapatan kutu di kepalanya. Kami para orang tua dianjurkan selama seminggu menyisir rambut anak anak setiap pagi dan sebelum tidur (menggunakan sisir sirit). Hal tersebut dianjurkan guna mengantisipasi kemungkinan rambut anak anak lainnya yang sekelas tertular kutu pula.

Langkah langkah yang harus dilakukan untuk menyirit rambut anak anak harus dilakukan di atas kertas putih sehingga kutu yang jatuh dari rambut akan terlihat di kertas putih. Saat aku membaca perintah tersebut, aku sampai ngakak habis, kok persis banget sih caranya seperti aku kedapatan kutu sewaktu kelas empat SD sehabis kemping Pramuka padahal cuma semalam lho! Ibuku menyirit rambutku di atas kertas putih!

Selain cara menyirit rambut, juga terdapat informasi lainnya yang harus dilakukan jika langkah pertama menyirit rambut membuahkan hasil kutu di kertas putih tadi, maka langkah selanjutnya adalah membeli shampo pembasmi kutu atau mendatangi dokter keluarga.

Awalnya aku tak menghiraukan email tersebut, tapi aku sedikit takjub saat Luc pulang dari bekerja dia membawa sisir sirit yang baru dibelinya. Dan aku diajarkan bagaimana caranya menyirit rambut anak anak. Dan diatas kertas putih! Hahaha.

Nah tepatnya aku lupa saat si kembar duduk di kelas berapa (sa, aku mendapatkan telepon dari pihak sekolah bahwa luizenmoeder menemukan lisa (telur kutu) di kepala Cahaya. Tidak banyak katanya mungkin tiga atau empat telur saja, dan itu sudah mati. OMG, seteliti itukah? Dan akupun disarankan memeriksa rambut kami sekelurga dengan alat sisir serit. Nah tak lama setelah meneleponku, muncul dong email peringatan penemuan telur kutu di kepala di kelas Cahaya. Nama anak yang jadi tersangka (anakkku!) tentu saja tidak disebutkan.

Rasanya aku tidak pernah menceritakan penemuan telur kutu di kepala Cahaya pada orangtua teman sekelas Cahaya. Menurutku itu aib yang harus dijaga, jangan sampai ada anak lain yang tau. Hihihi. Ternyata tidak begitu dengan salah satu ibu dari teman si kembar. Tadi pagi aku mendapatkan pemberitahuan di whats App grup kelas Cinta, seorang ibu memberitahukan bahwa anaknya kedapatan kutu di kepalanya. Dia memohon maaf dan meminta kami untuk memeriksa anak masing masing yang mungkin saja tertular kutu juga, atau bisa jadi salah satu murid dari kelas Cinta yang menularkan kutu tersebut.

Kalau kalian pernah kutuan? πŸ™‚

Advertisements

Tante

Awal bulan oktober ini aku dapat email dari seorang student asal Indonesia yg akan melanjutkan kuliah di Rotterdam, janjian buat ketemuan setelah beberapa bulan sebelumnya dia banyak bertanya tentang seluk beluk kehidupan di Rotterdam, dia banyak bertanya pada ku mulai dari cari rumah dan cara tepat mencari alat transportasi yang ringan di kantong.

Hari janjian pun tiba, student tersebut datang bersama istrinya ke Belanda, pasangan muda.

Aku mengajak berkeliling di seputaran pusat kota Rotterdam, mereka menyukai tour kecil kami. Entah dari mana awalnya mereka bertanya padaku angkatan tahun berapa aku saat kuliah dulu. Saat aku menjawab pertanyaan tersebut tak hanya mereka yang terkejut mendengar jawabanku, diriku pun ikut terkejut. Haaahhh sudah berpuluh tahun yang lalu!

Sekonyong konyong si student itu menatapku sambil berkata… Aduh mbak maaf kan saya, seharusnya saya memanggil mbak…. Tante!

Mendengar kata katanya, diriku merasa TUA sekali!!! πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Ex Rotterdam Schiedam Reunion

5 Agustus 2018

Hari keduapuluh dua

Mungkin tulisan basi dan tidak layak tayang😩, tapi sudah lah lupakan ketidaklayakan dan kebasian!

Meneruskan cerita hari hari saat liburan yang lalu, akhirnya sampai juga ke hari keduapuluh dua. Hari sabtu itu tgl 5 Agustus sehari setelah kami kembali ke Bandung dari Kuala Lumpur, jadwal ketemuan dengan para ‘ ex students PHD di Belanda’ dan diriku akhirnya terlaksana.

Kami janjian makan siang di mall trans beserta keluarga, heboh seperti dua tahun lalu. Dan walau pun aku datang tepat waktu ternyata teman teman yang lain sudah pada datang duluan, keren lho ga pake alesan macet.

Jadi begini, awal pertemananku dengan para student ini adalah dengan cara yang ajaib menurutku. Saat itu aku sedang berada di sebuah tram dengan si kembar yang baru berumur satu tahun. Aku berdiri sambil memegang kereta dorong si kembar, sementara di depan ku berdiri seorang perempuan muda. Wajahnya semakin sumringah saat mendengar aku berbicara bahasa Indonesia pada si kembar.

Wanita muda itu menyapa, kemudian bertanya akan sesuatu yang mustahil dia tau menurut ku, dia bertanya pada ku apakah aku pernah dirawat di rumah sakit Erasmus? Bertanya tentang si kembar disusul pertanyaan pertanyaan yang membuatku terbelalak namun aku Iya kan. Setelah dia yakin, bahwa aku orangnya kemudian dia memelukku.

Kemudian meluncur lah ceritanya, aku dikenal dia hampir satu tahun yang lalu, saat kasus sakitku jadi bagian penelitian di rumah sakit. Dia yg bekerja (penelitian) di salah satu labotarium di Erasmus termasuk orang yang meneliti kasus ku.

Aneh rasanya saat aku berkenalan namun menitikan air mata, saling bertukar nomor telephone dan berjanji akan saling berkomunikasi.

Beberapa bulan kemudian aku diundang ke rumah nya, merayakan ultah anaknya yang ternyata beda setengah tahun saja dengan si kembar, darisitulah aku mengenal sesama orang Indonesia yang tinggal di Belanda, para student! Ada empat keluarga yang kemudian menjadi dekat dengan kami. Tak hanya Luc saja yang nyaman tapi si kembar pun sangat antusias jika bertemu dengan mereka. Luc bilang ngobrol dengan mereka membuat dirinya menjadi lebih muda dan fresh, mereka orang orang muda yang menyenangkan.

Kini walau pun mereka semua telah kembali ke Bandung tapi pertemanan kami tak putus, ada memori indah yang selalu aku ingat tentang mereka. Tentang obrolan menjadi seorang ibu untuk yg pertama kali, memori saat nonton Harry Potter edisi terakhir dan saat itulah untuk pertama kalinya aku pergi ke bioskop di Belanda, pergi piknik, masak rame rame, naik kereta api, ke museum. Empat pasangan suami istri tersebut sama sama sekolah, super sibuk dengan penelitian mereka, masih harus mengurus anak pula.

Kini mereka satu persatu kembali pulang ke Bandung, ada di antara mereka yang bekerja di negara lain, dan saat kami liburan ke Indonesia pun mereka sedang mudik pula di Indonesia. Bagiku mereka tetap keluarga keluarga yang bersahaja yang aku kenal di Belanda, aku pernah melihat salah seorang di antara mereka di TV yang membuat ku bangga dan terharu. Aku juga melihat yang lainnya menerima penghargaan dari suatu badan dunia luar negeri untuk penelitian mengenai obat HIV. Aku juga melihat dua dari mereka saat sidang defense nya. Ikut mengharu biru dan berdoa. Bahkan Luc pun ikut menghadiri salah satu sidang mereka, saat tema yang di angkat berhubungan dengan pekerjaan Luc saat ini.

Pertemuan kami saat ini tak hanya di Indonesia saja, kadang mereka pun masih datang ke Belanda untuk keperluan pekerjaan mereka. Dan kami masih bisa tertawa bersama seperti dulu.

Sehari setelah Pertemuan tersebut, salah satu dari mereka memajang foto kami di medsos, mataku berair membawa tulisan yang menyertai foto tersebut.

Inilah yang dia tulis;

A strong friendship doesn’t need daily conversation,
Doesn’t always need togetherness,
as long as the relationship lives in the heart, true friend are never part.

A star is born

Bergerakmu, Sehatmu
Lelahmu, Ibadahmu
Kemampuanmu, Bekalmu
Pengalamanmu, Kekayaanmu
Perjuanganmu, menjemput Kebahagianmu
Ridhoku, Ridho Allah Swt
Berbahagialah Yang!!!
Senyumlah Yang!!!
Allah mendampingimu dengan sukacita Nya, dengan senyum Nya
Aamiin Ya Robbal Alamin.

Dear ibuku,

I reed your massage when I was in the train to work! At 6 o’clock while a lot of people are still fast asleep. My eyes glazed reading your massage, in the day my birthday. I really wanted to reply back then but I hold on. Thank you ibuku, for all the prayers that all have never stop for me. This is me now. Same as you, a mother and a wife. All your prayers are provision of my journey.

Not being able to count how many hurting I’ve ever made to you, forgive me. My age is increasing and the share of my life in the world will decrease. Now I can begin to understand how life works. It turns out that it is not just a cause or a luck, but a journey and struggle to get divine blessings. If we do good, we will get good results. It turns out that not only that, there are times when even though we are doing our best to do good, being honest turns out that sweet results are not always held by us. We can suddenly fall down because we do our actions to always walk on the right path. You educate me to believe that. Now I learn that belief is not enough. It turns out that I always have to be grateful, thank you for what I have gained every day. Yes, what do you say happy people focus on what they have, unhappy people? Focus on what is missing. I choose to be a happy person, I will learn to be grateful for what I have gained.

I always thought that I was a simple person. It’s enough to just pray that my family and I will be fine. It turned out that my prayer was something I had to fight for in volumes. I had to make sure that every time I woke up I had to be grateful that I was still given the chance to kiss the twins, give them a prayer for the day, make sure my anger didn’t appear when the twins didn’t heed my words. Had to make sure I didn’t kick my husband because he forgot to turn off the bathroom lights or put dirty clothes in the right place!

It turned out that I was alleviating a lot of things, I wanted to make sure I was in the right control, not giggling when I read stupid comments in a group of whats App, it still had a cool head when thousands of hoaks articles filled my phone share many times. Trying not to yelling curses when I saw talk shows on Indonesian television.

My age is increasing now, and I want to be able to be a forgiving and patient human being like my father. Can it? I’m trying, for everything. Not too hopeful to always get sweet friends, easy and fun work, people around who are fun and supportive of me. I tried to get it. It turns out I have to make peace with everything, ensuring that everyone has different qualities, accepting difference is a way to achieve happiness. I became able to smile when a friend let me down, I could laugh intently when my husband forgot to turn off the bathroom lights and didn’t suffocate his neck with anger, just stopping my fingers telling him to go back to the bathroom and he would carry out my orders well and without bloodshed. To achieve happiness requires sanity and wisdom.

Dear ibuku, everything is because of your prayers. I am strong and keep running is because of you. Thank you ibu to making me a star!

#Happy birthday to me!

Libur telah usai, kembali ke sekolah! Is she your sister?

Ya panjang judulnya, rangkuman dari cerita yang akan aku tulis.

Jadi setelah liburan ke Indonesia itu (dimana aku ternyata tidak bisa menyelesaikan cerita perhari selama disana, mungkin nanti akan disambung lagi) akhirnya kami kembali ke negeri Belanda. Yang langsung disibukan dengan kegiatan sekolah si kembar.

Si kembar masuk kembali ke sekolah pada tanggal 27 agustus 2018 setelah libur panjang musim panas (sekitar 6 minggu). Berbeda dengan Belgia yang libur musim panasnya selalu dalam waktu yang bersamaan selama dua bulan (1 Juli – 31 Agustus) sehingga di Belgia orang tidak akan pernah lupa kapan harus masuk sekolah, pasti akan jatuh di di tanggal 1 September tak perdulu hari senin atau kamis. Di Belanda liburan sekolah dibagi menjadi tiga wilayah (Rogio Noord – wilayah Utara, Regio Midden – wilayah tengah, dan Regio Zuid – wilayah Selatan). Konon pembagian tersebut untuk menghidari penumpukan di airport atau banyaknya pekerja yang berlibur pada saat yang bersamaan. Hanya liburan musim dingin dan libur bulan Mei yang waktunya bersamaan di seluruh wilayah Belanda, sedangkan liburan musim semi, musim gugur dan musim panas waktunya berdeda selang satu minggu antara satu wilayah dengan wilayah berikutnya. Dan tiap tahunnya ketiga wilayah tersebut akan bergiliran wilayah mana yang mendapat diliran pertama, kedua dan terakhir.

Karena si kembar berada di Regio Midden mereka harus kembali ke sekolah pada tanggal 27 Agustus. Dan seperti kebudayaan di Belanda, hari pertama masuk sekolah setelah liburan musim panas (itu berarti awal tahun baru ajaran sekolah), para orang tua biasanya mengantarkan anak anak mereka ke sekolah. Sayang sekali hari itu aku tidak bisa mengantarkan si kembar, mereka diantarkan papanya dan aku berjanji esoknya akulah yang akan mengantarkan mereka ke sekolah.

Pulang sekolah tanpa aku minta mereka berebutan bercerita mengenai hari pertama di sekolah. Mulai tahun ini Cinta dan Cahaya berbeda kelas. Dengan gaya antusias seperti biasanya Cinta bercerita tentang teman barunya yang duduk dalam satu grup (4 orang). Namanya K, anak laki laki, ngomong terus ga bsia berhenti, sama sama penyuka Harry Potter, dia sudah baca semua bukunya! Sepanjang hari pertama sekolah dia hanya bertanya tentang pengetahuan Cinta tentang film Harry Potter.

Irritant, bunda…. K ga mau berhenti ngomong. Papar Cinta antusias. Dan dia penyuka warna pink dan ungu, oh ya dia juga pake kuteks warna ungu di semua jarinya, termasuk jari kakinya!

Oh ya? Aku mendengarkan dengan mimik dibuat seantusias mungkin untuk mengimbangi Cinta. Kayak kamu dong pake kuteks. Lanjutku.

Tapi kuteksku warna biru bunda, beda dong dengan punya K, kuteks ungunya ga pake bling bling seperti punyaku!

Okeeee. Kataku dan mendengarkan lebih lanjut cerita Cinta.

Esoknya sesuai janjiku, aku mengantarkan si kembar ke sekolah, berkenalan dengan guru mereka dan aku dipersilahkan masuk ke kelas untuk sekejap menyapa Cinta di tempat duduknya. Empat orang duduk saling melingkar, di hadapan Cinta duduk seorang anak laki laki yang berambut rapi, pake gel di rambutnnya, sayang tidak berjambul seperti model mendem jaman dulu! Dan kukunya berkuteks warna ungu. Aha dialah si tenar yang ada di cerita Cinta kemarin. Aku menyapanya, dan langsung menebak namanya. Dia tersenyum senang sambil mengangguk. Aku berterus terang padanya bahwa Cinta sangat antusias bercerita tentang dirinya karena sama sama penggemar Harry Potter. Sekonyong konyong anak itu bertanya padaku, kamu baca buku Harry Potter juga? Tidak, jawabku. Tapi aku menonton semua filmnya. Lanjutku. Hanya Cinta dan Cahaya yang membaca bukunya sekaligus menonton filmnya.

Dari kelas Cinta, aku segera beranjak ke kelas Cahaya. Saat aku tiba di bangkunya, Cahaya sudah mengeluarkan Ipad / Snappet nya (punya sekolah) dan telah siap belajar, aku tak sempat bersay hello dengan teman sebangkunya (juga empat orang). Aku hanya memeriksa agendanya hari itu, dimana sudah ada petunjuk untuk dia (kertas kerja selama satu minggu) bab bab mana saja yang harus dia selesaikan selama seminggu, beban belajar di kelas akan berbeda dengan anak lainnya, sesuai kemampuan, daya tangkap masing masing anak, dan kecenderungan seorang anak menyukai pelajaran apa.

Pulang sekolah, aku segera memberondong Cinta dengan bertanya tentang harinya, sekaligus memberi komentar pada teman baru Cinta. K anak yang menarik menurutku. Tapi dia ngajak ngomong terus, bunda. Kata Cinta. Trus tadi setelah bunda keluar kelas, dia bertanya padaku, dia kakakmu? OMG K menyangka kau adalah kakakku! Seru Cinta dengan mulut monyong saking tak percaya.

Tentu saja aku bersorak bahagia. Ah, aku sungguh suka pada K. Selorohku. Tentunya karena aku terlihat muda kan? Wajahku muda kan? Tanyaku pada Cinta dengan bangganya.

Kemudian Cinta memelukku, menciumku dan menatap mataku dengan hati hati. Kemudian katanya dengan lirih….

Bunda selalu menyuruhku untuk berbuat dan berkata jujur kan? Aku akan mengatakan yang sesungguhnya, aku kira K mengira dirimu kakakku bukan karena wajahmu yang muda tapi karena dirimu yang super mungil…. kecil bunda. Dan menyebutkan kata kecilnya, benar benar dengan bahasa Indonesia dengan logat Cinta Laura pastinya.

Duh my Cinta, kau menohok jiwaku! Hahaha.

Savoi Homan, Jalan Braga dan Ricuh tiket Air Asia

1 Agustus 2018

Hari kedelapan belas

Savoi \nHoman

Akhirnya kesampaian juga aku menginap di hotel Savoi Homan Bandung. Hotel yang terkenal karena menjadi hotel yang ditempati para tamu negara pada saat KTT Asia Afrika tahun 1955 berlangsung. Saat aku kecil dulu setiap lewat hotel Homan, aku selalu teringat akan cerita ayahku tentang hotel Homan. Tempat dimana Presiden pertama RI menginap. Rasanya mustahil aku bisa menginap disana, pikirku saat itu.

Beranjak remaja, ketertarikanku mengenai hotel yang pernah menjadi tempat menginap Presiden pertama RI tidak lagi menjadi daya tarik bagiku, saat melewati hotel Homan tempat disebrang hotel Homanlah yang menjadi daya tarikku untuk melirik dan bahkan mampir kesana. Nasi goreng pinggir jalan di depan kantor surat kabar Pikiran Rakyat atau yang lebih dikenal dengan nama nasgor PR.

Jika hari menjelang malam sekitar 10 malam barulah tukang nasgor pinggir jalan ini penuh, kami sampai duduk di trotoar karena tidak kebagian kursi plastik yang disediakan. Hanya kursi, tidak ada mejanya. Nah aku sudah mewanti wanti Luc bahwa tengah malam nanti aku akan keluar hotel untuk membeli nasgor legendaris tersebut (yang ternyata tidak kesampaian karena aku sudah kenyang dan cape hingga tidak mampu memuaskan hasratku yang rakus). Oh ya, kini nasgor PR tidak mangkal di depan kantor PR lg di jalan Asia Adrika tapi tepat berada di jalan kecil pinggir hotel Homan. Pemindahan ini dikarenakan kota Bandung yang berbenah setelah dikomando oleh Ridwan Kamil kala itu. Jadi lebih cantik dan rapih.

Ternyata begitu kami sampai di Savoi Homan, begitu masuk lobi kami sudah mendengar bahasa yang tidak asing ditelinga kami. Bahasa Belanda. Olala alamat Luc manyun sepanjang masa. Dan benar saja begitu kami berada di kolam renang, bahkan di lift sekalipun orang orang yang berkeliaran rasanya menggunakan bahasa Belanda semua. Ahhhhhhhh Nederlander dimana mana. Saat dimana kau menceritakan tentang riwayat hotel Homan pada si kembar tentang konfrensi Asia Afrika, tentang pemimpin dunia yang menginap di hotel yang sama dengan kita menginap sekarang, kemudian Luc menyela bahwa cukup sekali saja kami meningap disini. Dia selalu merasa tak nyaman jika saat liburan tapi menemukan orang sebangsanya di tempat yang sama. Untunglah saat sarapan kami tidak terlalu menemukan orang Belanda disana, mungkin mereka melewati sarapan karena harus ikut tour mulai pagi buta.

Jalan Braga

Nah ini termasuk jalan yang wajib dikunjungi para turis jika sedang menginap di Bandung. Apalagi jika menginap di daerah yang tidak jauh dari jalan Braga jadi tinggal jalan kaki saja.

Dulu sewaktu aku masih tinggal di Bandung, Braga tidak terasa istimewa biasa saja. Tentu saja jalan tersebut jalan yang sering dilewati jika aku berkendaraan, juga termasuk trotoar yang sering dipijaki saat aku berjalan kai disana, ada saja keperluan ke daerah Braga, entah itu saat melwati jalan ABC, cari pernik pernik cantik dari kayu di toko Sin Sin atau membeli roti di french Bakery yang ada di paling awal jalan Braga, atau kalau ibuku sering mampir ke toko roti sumber hidayangan untuk membeli kue bolu marjipan kesukaanku.

Kini restauran Braga Permai bukan satu satunya restauran primadona di jalan Braga, (walau tetap menjadi primadona bagi Nederlander)! ada tempat makan lainnya yang banyak didatangi para turis, salah satunya adalah Braga Art cafe. Dari luar terlihat sepi, membuat Luc tertarik untuk masuk kesana. Sementara si kembar menarik narik tanganku untuk masuk ke Braga Permai yang ditolak mentah mentah oleh Luc. Berdasarkan pengalaman Luc (bukan sekali saja) jika dia masuk ke restauran tersebut maka dipastikan akan terdengar bahasa yang dia kenal sejak masih orok dari para pengunjung yang tengah menyantap makanan disana dan kebanyakan dari mereka adalah oma dan opa.

Design dari Braga Art Cafe dibuat senyeni mungkin, dengan ornamen kayu jati tua dengan ukiran Jeparanya. Bahkan barnya juga terlihat cantik walau terlihat seperti romelig tapi enak dipandang mata. Soal makanan, rasanya tidak terlalu istimewa, biasa saja. Porsinya bisa dibilang sangat banyak menurut ukuranku dan harganya jauh lebih murah dibandingkan jika kami makan di Braga Permai. Secara keseluruhan Braga Art Cafe tempat yang bisa kalian datangi jika datang ke jalan Braga.

Hari itu juga setelah makan malam disana, kami mengunjungi warung kopi Djawa. Aku niat banget datang kesana setelah membaca postingan Ariv yang bercerita bahwa toko buku Djawa telah berubah menjadi waring kopi. Ternyata disana membludak banget lho, tidak ada tempat duduk yang tersisa. Tapi Luc tetap menyuruhku tetap masuk karena dia mendengar nostalgiaku tentang toko buka Djawa saat aku kecil yang sering datang kesana bersama ayah dan ibu. Akhirnya aku membawa pulang es kopi Djawa yang direkomendasikan disana, kopi dengan campuran gula jawa. Sayang walaupun aku membawa pulang es kopi tersebut tapi aku tak sempat meminumnya karena masih terlalu kenyang akibat makan di Braga Art dan memberikan kopi tersebut pada orang yang aku temui (baca: tukang parkir) saat aku berjalan pulang ke hotel.

Ricuh tiket Air Asia

Hari ini kami sekeluarga ditambah ayah dan ibuku akan berangkat ke Kuala Lumpur. Rencana akan berlibur ke Malaysia dan Singapure usdah ada sejak kami masih di Belanda, dan rencanya aku akan mengajak ayah dan ibu. Biasanya jika kami mudik ke Indonesia, semuanya sudah siap. Rencana akan pergi kemana saja sudah tersusus rapi termasuk tikek pesawat atau hotel diamanpun kami akan menginap termasuk hotel di Bandung. Semuanya sudah di pesan saat masih di Belanda. Tapi liburan kali ini aku sungguh sibuk, banyak kejadian yang menyita perhatian kami sebelum kami mudik. Tentang si kembar yang akan dipisah mulai tahun ajaran baru sehingga kami harus berkali kali datang menuemui kepala sekolah untuk diberi pengarahan mempersiapkan si kembar nantinya, tentang rumah lama yang tiba tiba terjual sehingga kami harus bolak balik ke notaris untuk mengurus ini itu, tentang diriku yang tiba tiba dapat kerja part time tiga minggu sebelum kami berangkat.

Aku menelepon ibuku seminggu sebelum aku mudik untuk memastikan bahwa aku akan mengajak ayah dan ibu ke Singapure dan Malaysia. Tiga hari di Singapure dan empat hari di Malaysia. Tapi suara ibuku di ujung sana tidak tampak antusias, kemudian ibuku memintaku untuk tidak membeli tiket pesawat terlebih dahulu karena dia tidak yakin ingin ikut berlibur ke Singapure dan malaysia, alasannya dia tidak ingin merepotkan kami karena harus mengurus ayah ibu juga padahal kami sedang berlibur, nimatilah bersama suami dan anak anak, tidak usah mengurus orang tua terus. Begitu kata ibuku. Luc sedikit kecewa karena dialah yang ingin sekali mengajak ayah dan ibu liburan juga.

Ternyata kami diuntungkan dengan tidak jadi membeli tiket pesawat ke Singapure di Belanda, karena Cahaya sakit panas dan kami memutuskan tidak jadi berangkat ke Singapura guna memulihkan stamina Cahaya terlebih dahulu dan merubah tujuan kami berlibur hanya ke Kuala Lumpur saja, itupun dipersingkat karena tanggal 5 Juli nanti aku sudah mempunyai janji untuk bertemu teman lama. Akhirnya tiket dibeli dua hari sebelum keberangkatan, 6 tiket Pulang Pergi bandung Kuala Lumpur- Kuala Lumpur Bandung. Yuhuuu akhirnya ibuku jadi ikut setelah ayahku mengancam akan tetap ikut walaupun ibuku tidak ikut. Hahah dan itu ancaman paling manjur karena ibuku langsung mengiyakan untuk ikut, alasannya sederhana saja kalau ayahku yang ikut tanpa ibuku, ayahku akan lebih merepotkan diriku, hahaha. Itu teori ibuku.

Ayah dan ibu datang menjemput kami ke hotel pukul setengah enam sore dispiri adikku yang langsung membawa kami ke Bandara. Tidak ada drama nyaris ketinggalan pesawat seperti dua tahun lalu saat kami mudik dan pergi berlibur dengan ayah ibu juga. Ah bandara Bandung memang penuh kenangan. Semuanya berjalan lancar hingga kami check in. Petugas di balik meja check in berkata bahwa Luc belum membayar tiket kami!

Aku dan Luc melongo sejadi jadinya. Saat kami membeli tiket via online aku melihat jelas ada email yang masuk bahwa tiket kami sudah terbayar. Kemudian petugas menjelaskan bahwa memang awalnya pembelian sukses dua hari yang lalu tapi hari ini ada refund di sistemnya bahwa uang yang kami bayarkan dikembalikan. Luc memakai kartu credit saat memesan tiket tersebut. Tiket dibeli melalui site momondo.

Petugas check in seorang wanita muda yang tegas yang menurutku sangat menguasai tugas dari pekerjaannya, sayang dia tidak mempunyai rasa empati sama sekali dia berkali kali mengatakan bahwa kesalahan bukan berada di pihak Air Asia, dia mengatakan itu urusan anda dengan kartu creditnya. Berkali kali Luc mengechek di laporan credit card nya bahwa pembayaran telah sukses dan didak ada pengembalian. Yang kemudian kami lakukan adalah berkomunikasi dengan pihak Visa. Luc menelepon ke nomor yang ada di balik kartu creditnya, tersambung ke Amsterdam. Dan itu bukan hal yang mudah karena HP Luc dan aku telah berganti nomor menggunakan kartu pra bayar di Indonesia, tidak tersambung mungkin karena pulsanya tidak cukup atau entah apa. Untunglah HP ku menggunakan duo kartu yang bisa langsung di switch, sehingga Luc akhirnya bisa menelepon ke Amsterdam. Tak banyak yang bisa dilakukan pihak Visa karena dari pihak sana pun tidak ada refund yang dikembalikan, kami tidak punya bukti sama sekali bahwa pembelian tiket kami dikembalikan. Aku tidak mengerti sama sekali. Sementara pihak Air Asia bersikeras bahwa pembelian tiket kami digagalkan persis di hari keberangkatan, menurut dia satu satunya yang bisa kami dilakukan agar dapat berangkat hari ini juga adalah membeli tiket kembali dengan harga yang sama yang dikembalikan. Dan harus cash!

Ibuku menarik tanganku, menyuruh diriku berpikir jernih. Jangan panik katanya, mungkin ada baiknya kita semua kembali ke rumah dan memikirkan mungkin liburan ke Malaysia kali ini akan gagal, kalaupun masih tetap bersikeras pergi, bisa ditunggu esok hari. Tapi Luc memikirkan hotel yang telah terbayar hingga empat hari kedepan. Kemudian katanya padaku, mari coba ambil uang di ATM. Uang berhasil kami ambil dari mesin ATM dari dua kartu tabungan yang berbeda, kartu Belanda tentunya. Sisanya menggunakan uang cash yang ada di dompet ibuku, karena penarikan dari kartu ada batas limit perharinya. Saat aku menyerahkan uang dan menghitungnya di meja check in, aku menatap nanar uang rupiah berwarna merah yang tergeletak di meja. Rasanya baru kali ini aku melihat uang sebanyak itu, dan transaksi yang kami lakukan seperti jajan sate di warung pinggir jalan. Beli tiket menggunakan uang cash seperti kembali kebelasan tahun yang lalu.

Aku meminta print bukti pembayaran dan juga print refund tiket sebelumnya, selain itu aku minta via email juga, semuanya untuk pengurusan jika kami kembali ke Belanda dan harus complain pada pihak Momondo atau pada pihak Visa. Semuanya akan kami pikirkan nanti.

Malam itu kami berhasil masuk ke pesawat sebagai penumpang yang terakhir, pintu imigrasi segera ditutup sesaat setelah pasport kami diperiksa. Kemudian kami duduk dalam diam, rasanya aku merasa menanggung beban berat telah melibatkan orangtua kami dalam situasi yang tidak menyenangkan. Luc duduk diantara aku dan ayahku. Sedangkan ibuku duduk diantara Cinta dan Cahaya, mereka duduk di belakang tempat aku duduk.

Ditengah perjalanan saat pesawat membelah awan yang gelap gulita, Cinta memanggil diriku….. Bunda, aku merasa mual…… Lirih Cinta. Kemudian ibuku menyentuh dahinya, sembari berkata pelan ke arahku yang membalikan badan menatap mereka diantara sela sandaran kursi pesawat. Yayang, badan Cinta panas…..

Tanpa terasa air mataku jatuh….

(bersambung)

Didieu Land Punclut Dago

30 Juli 2018

Hari keenam belas

Hari ini sahabatku semasa SMA menemuiku. Dia khusus datang ke rumah orang tuaku untuk menemui orang tuaku pula. Dia yang berjanji akan datang jam lima sore ternyata baru nongol pada pukul delapan malam. Luc yang sangat menantikan kedatangnnya berkali kali bertanya padaku mengapa Heidy belum sampai juga. Ya sejak Luc mengenal Heidy, setahun yang lalu Heidy pernah mengunjungiku di Rotterdam dan menginap 4 hari di rumah kami, saat itulah Luc mulai memperhatikan persahabatanku dengannya. Ikut tertawa terbahak bahak saat Heidy menceritakan kenakalan apa yang aku dan Heidy lakukan semasa SMA dulu. Menurut Luc dari Heidy lah dia dapat mengenalku di jaman dahulu kala. Luc lebih banyak terbahak bahak dibanding terbelalak kaget mendengar cerita tentangku. Ah selucu itukah aku dulu, mengakibatkan dia dapat terbahak bahak seperti itu?

Karena ternyata Heidy datang saat hari telah larut, dia mengajak kami menginap di rumahnya, awalnya aku menolak. Tapi akhirnya menyetujui mengingat esok hari kami akan menginap di hotel, lebih mudah jika esok hari Heidy lah yang mengantarkan kami ke hotel karena jarak hotel dari rumahnya jauh lebih dekat daripada rumah orangtuaku di Cibiru. Setelah Cinda dan Cahaya bertanya apakah disana toiletnya normal atau tidak! Ahhhh dasar bocah masih urusan toilet juga.

31 Juli 2018

Hari ketujuh belas

Kami telah keluar rumah Heidy sejak pukul 11 pagi. Heidy akan mengajak kami bermain ke daerah Punclut. Ternyata lewat jalan belakang komplek rumahnya yang berada di Setiabudhi kami tiba tiba saja melintasi daerah Ciumbuleuit dan naik ke atas ke Punclut. Jalannya cukup sempit dan terjal. Kami menggunakan mobil yang tidak terlalu besar, sehingga memudahkan jika berpapasan dengan motor (klo berpapasan dengan mobil lain entahlah apakah masih muat atau tidak).

Berpuluh tahun yang lalu daerah Punclut hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki atau kuda, aku masih ingat saat SMP dulu, daerah Punclut mulai ramai dihari minggu. Orang orang berbondong bondong berjalan kali ke atas. Saat itulah cikal bakal nasi hitam menjadi beken. Saat para pendaki/pejalan kaki tiba di atas, kami akan mampir untuk makan nasi hitam bersam ikan asin, lalapan dan makanan Sunda lainnya. Menurut ayahku nasi hitam enak karena pulen dan lebih sehat. Tapi menurutku keras dan tidak seenak nasi putih.

Heidy membelokkan mobilnya ke temapt wisata DIDIEU LAND. Didieui artinya disini dalam bahasa Sunda. Heidy bermaksud mengajak kami makan di Dago Bakery Punclut yang tempatnya bersebelahan dengan Didieu Land. Tapi Cinta Cahaya langsung bersemangat begitu melihat arena outbond yang ada disana. Untuk masuk ke tempat wisata ada tiket masuk yang tidak mahal. Harga yang bersahabat. Ternyata disana selain bisa menikmati bermacam makanan, orang orang juga sibuk berfoto ria.

Tempat ini bisa dijadikan alternatif liburan jika sedang ke Bandung. Karena kami datang sebelum jam makan siang, tempatnya masih kosong. Anak anak bisa bermain sepuasnya. Tak banyaknya pengunjung mungkin juga karena saat itu bukan hari libur atau weekend. Tapi menurut Heidy jika hari menjelang sore, tempat ini akan dipenuhi anak muda yang pacaran. Ah untunglah aku tak datang sore hari, jadi tak usah nonton mereka, hihihi.

Keluar dari tempat parkir, si kembar melihat dua ekor kuda, jadinya sebelum Heidy mengantarkan kami ke hotel, si kembar masih sempat naik kuda di Punclut. Lumayanlah menghibur kekecewaan saat mereka naik kuda di The Ranch yang sekejap.

(bersambung)