Jadian

Bukan, bukan menceritakan kapan pertama kali aku jadian dengan suami atau jadian dengan para mantan atau (hanya mantan) karena hanya satu itu, tapi menceritakan jadiannya versi si kembar.

Tepat umur 4 tahun si kembar masuk SD groep satu atau kalau di Indonesia TK nol kecil, setelah dua tahun sebelumnya mereka masuk pra sekolah atau disini disebut peuterspeelzaal (usia 2-4 tahun). Di sekolah si kembar groep satu dan dua disatukan kelasnya mereka belajar bersama sama, begitu tahun baru ajaran maka sebagian murid yang telah cukup umur dan siap (mereka yang dikatagorikan groep dua) akan naik kelas ke groep tiga dimana sekolah yang sesungguhnya akan dimulai.

Tak berapa lama setelah si kembar masuk SD, ada beberapa orangtua murid yang datang padaku dan menceritakan bahwa anaknya jatuh cinta pada Cahaya atau Cinta, si kembar saat itu tidak sekelas. Kami mengobrol sambil tertawa tawa, menceritakan kelakauan anak anak bau kencur tersebut. Di akhir groep satu tiba tiba Cinta bercerita bahwa dia akan bersedih karena Hidde salah satu temannya akan masuk groep tiga, itu artinya akan keluar dari kelasnya. Ik ben verliefd! Hah? Jatuh cinta?!!!!!

Cerita Hidde memudar dengan beriringnya waktu, awal berpisah konon Cinta masih berusaha saat istirahat untuk mencari Hidde ke area bermain groep tiga, ingin bermain bersama lagi seperti dulu tapi katanya tidak berhasil, sang arjuna sibuk bermain dengan gerombolan anak laki laki lainnya main bola, bukan main pasir atau main boneka lagi.

Hidde adalah cerita fenomenal Cinta sekitar tiga tahun lalu, kemudian tak terdengar lagi Cinta jatuh cinta lagi, hingga bulan february tahun ini, aku mendengar cerita mendebarkan tentang ‘kisah asamara’ Cinta kembali.

Kala itu Cinta memegang gulungan kertas warna merah berpita, diacungkan padaku. Ini dari Rafael, Bunda! Kami sama sama membuka gulungan kertas tersebut, dan sama sama terkejut saat membaca nama yang tertera disitu, bukan dari Rafael namun dari Saffa, teman sekelas Cinta yang jarang diceritakan Cinta. Dengan merenggut kecewa, Cinta menghempaskan kertas tersebut. Lalu mengertilah aku, dalam rangka valentine day si ibu guru di kelas membuat tema valentine, anak anak dibagikan kertas merah cantik yang boleh digambar atau ditulisi sesukanya pokoknya dibuat cantik, setelah selesai kertas tersebut disimpan secara sembunyi sembunyi di laci meja anak anak yang dituju, boleh juga dilaci sendiri jika tertas merah itu ditujukan untuk orangtua atau saudara di rumah, jadi nanti bisa dibawa pulang. Si bu guru memastikan si anak akan mendapat kertas merah tersebut, jika anak yang tidak mendapat kertas merah dilacinya si bu gurulah yang akan membuat surat cinta tersebut untuk si anak, tentu saja hasil karya bu guru lebih dinilai special oleh anak anak.

Cahaya mendapat dua kertas merah, dari sahabatnya dan dari anak cowok yang sejak pertama mereka sekelas di groep tiga sudah dikenal sebagai anak yang memuja Cahaya secara nyata. Menurut Cahaya dan cerita beberapa temannya, Cahaya sering dikejar kejar olehnya kemudian diciumi pipinya. Hal yang terakhir itu sempat membuat Luc naik darah, bahkan ada satu kejadian (yang tidak bisa saya ceritakan disini) membuat Luc harus menulis surat pada kepala sekolah, yang kemudian kami didudukan bersama orangtua si anak tersebut. Orang tua anak tersebut sampai meminta maaf pada kami dan memastikan tidak akan ada peristiwa itu lagi pada Cahaya.

Diluar kejadian tersebut, aku dan Luc sangat menyukai Delencio anak yang menyukai Cahaya tersebut, anaknya lucu dan super ramah, spontan dan antusias. Beberapa hari sebelum liburan musim panas ini, Delencio menangis dan memeluk Cahaya karena akan berpisah dengan Cahaya. Si kembar mulai tahun ajaran depan akan pindah sekolah! (Ssssstttthhhh karena kami akan pindah rumah).

Jiga disinggung tentang Delencio, Cahaya selalu cemberut katanya dia sama sekali tidak nyaman karena hampir semua anak di sekolah tau bahwa Delencio menyukainya, kadang mereka mengejeknya dengan cara menyanyikan guyonan bahwa mereka sepasang kekasih. Cahaya memastikan padaku bahwa dia tak mau menikah dengan Delencio jika dewasa nanti, alasannya karena dia makannya cepat. Anak lain belum selesai makan dia sudah habis dalam hitungan menit dan yang lebih menyeramkan bagi Cahaya adalah karena Delincio jika makan apel dia menghabiskannya sampai bijinya ikut dimakan juga (klokhuis appel/bagian tengah apel).

Hari terakhir sekolah sebelum musim panas, hari jumat minggu lalu. Cinta bercerita padaku bahwa Cahaya jadian dengan anak yang bernama Thiago. Hah???? Saat aku bertanya dengan senyum dikulum, Cahaya menceritakan bahwa Thiago bertanya padanya apakah Cahaya mau menjadi pacarnya? Cahaya menjawab singkat ‘oke’. Alasannya kan ini hari terakhir, aku kan tidak akan bertemu dia lagi, apa salahnya menjawab setuju. Jawan Cahaya dengan polosnya.

Aku tak bisa tertawa terbahak bahak, tentu saja didepan mereka aku berusaha menyelami pikiran mereka dengan bijaksana walau kadang menggodanya juga. Sebelum aku berkata kata, Cinta sudah menimpali bahwa dia jadi mendadak tak suka dengan Thiago, karena ulah Thiago jadinya Cinta keduluan yang bisa jadian, bukan dirinya. Aku bertanya, apakah Rafael mengajak Cinta jadian? Cinta menjawab cepat, aku yang bertanya pada Rafael tapi Rafael menolaknya……. Oh noooo!

Oh ya, Cahaya pun pernah menerima kartu Valentine saat umur 4,5 tahun saat dia duduk di groep 1 yang diserahkan langsung padaku dari oppasnya (baby sitter). Kata oppasnya, ibunya Pascal yang menuliskannya langsung karena Pascal memintanya, tulisannya Ik hou van je, Chahaja. Hihihihi, rumah Pascal tak jauh dari rumah kami, kadang Cinta dan Cahaya bermain ke rumahnya begitupun sebaliknya, dan yang mengatur urusan main saat pulang sekolah adalah aku dan oppasnya, aku hanya satu kali bertemu dengan ibunya saat ada acara Holloween di lingkungan rumah kami, saat itu aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena dia berkostum dan bermake up nenek sihir. Kata kata yang pertama kali dia ucapkan saat kami berkenalan adalah, oh ini Cinta dan Cahaya yang sudah beken namanya di telingaku. Aha!

Kalau kalian umur berapa kalian pertama kali jadian?

***

Note: Nama teman teman si kembar dalam tulisan ini sedikit disamarkan, hanya sama huruf depannya saja. 🙂

 

 

 

 

Katakan dengan bunga

IMG_20170520_111042410[1]

Minggu lalu, aku menerima kiriman foto foto saat aku berada di Jepang lewat email dari adikku. Agak bernostalgia sekaligus terpana melihat foto fotoku jaman dulu, terpikir dalam hatiku betapa muda dan energiknya diriku kala itu, dan aku merasa cantik! Ehhemmmm!

Karena aku membuka emailku dari komputer kepunyaan Luc yang berlayar sangat lebar membuat foto foto tersebut terlihat lebih memukau, dan tanpa sengaja Luc melihat pula foto fotoku tanpa sepengetahuanku saat dia akan memakai komputer keesokan harinya.

Nah tiba tiba saja begitu aku bangun tidur, pertama yang dia ucapkan adalah…. Yayang aku melihat ratusan foto fotomu saat di Jepang, you are so beautiful! Wow baru aku tahu dulu kau begitu cantiknya!

Aku yang baru bangun tidur tak sadar sepenuhnya tapi jelas menangkap kata katanya yang antusias, dan yang terekam baik adalah…. dulu cantik, sekarang tidak!

Eheemmm dulu cantik? Berarti sekarang gak cantik ya, awas lho! kataku pura pura ngambek. Tentu saja aku tak mempermasalahkan ucapannya. Agak geli juga melihat Luc sampai minta maaf berkali kali karena ucapannya yang menurut dia sangat brutal.

Dan pagi itu, seperti biasanya setelah bangun aku segera menyiapkan bekal dan sarapan anak anak, kemudian Luc mengantarkan mereka ke sekolah sekaligus dia pergi ke kantor. Selepas mereka pergi seperti biasanya aku mengerjakan pekerjaan rumah, namun setengah jam kemudian aku mendengar pintu rumah dibuka dan mendengar langkah Luc. Dalam hati aku berpikir pasti ada sesuatu yang terlupa sehingga Luc harus balik lagi ke rumah. Aku beranjak untuk menyongsong dirinya dan pemandangan didepanku membuatku tersipu sekaligus geli. Luc berdiri sambil memegang buket bunga, diserahkan padaku dengan senyumnya yang sumringah.

Ucapnya…. Buat istriku tercinta yang paling cantik sedunia, dulu, sekarang dan yang akan datang! Hahaha rasa haruku terganti menjadi tawa terbahak bahak.

IMG_20170601_090341630[1]

*****

Sekalian bernostalgia, aku datang ke Jepang seorang diri sebelas tahun yang lalu, mengunjungi seorang teman yang sudah kami anggap bagian dari keluarga kami. Banyak pelajaran yang aku petik disana terutama tentang pelayanan seorang istri/ibu pada suami atau anaknya. Pengalaman ini membuatku takjub setiap hari.  Temanku tinggal di Tokyo, aku tinggal bersamanya selama 10 hari di Tokyo  setelah itu selama 20 hari aku tinggal di Fukuoka bersama orang tuanya, disanalah aku banyak belajar.

Pagi hari ibu menyiapkan bento untuk dibawa suaminya pergi kerja, bento yang cantik sekaligus menyiapkan sarapannya. Kami berempat makan pagi bersama sama, ibu menyiapkan semuanya sendirian, dia selalu menyucapkan terima kasih secara berlebihan padaku jika aku membantunya di dapur atau hanya menyiapkan meja makan. Setiap hari dia selalu manata meja dengan cantik, baik itu sarapan, makan siang atau makan malam, pokoknya selama kami makan di rumah dia selalu menyajikan makanan istimewa.

Berikut beberapa foto yang aku punya selama makan di rumah.

 

CIMG1428

Penampakan saat sarapan

CIMG1500

ini bukan iklan sariwangi 🙂

CIMG1508

Makan siang

CIMG1509CIMG1511CIMG1513CIMG1396CIMG1395

CIMG1541

Minum teh di rumahpun bisa cantik begini

CIMG1510CIMG1403

Sayang aku tidak memotret makanan lainnya, seperti kare yang lezat, taart coklat bahkan sushi untuk bento suaminya tak aku jepret. Hhmmm semoga mereka selalu sehat dan kita bisa bertemu kembali suatu saat seperti janjiku yang akan mengunjunginya.

Beunghar Kagok

Bagi yang mengerti bahasa Sunda pasti tau artinya beunghar kagok yaitu orang kaya tapi nanggung. Kok ada istilah begitu? Menurut temanku orang seperti itu banyak ditemui di jaman sekarang ini. Mereka yang dikatagorikan beunghar kagok adalah mereka yang suka banyak wara wiri ke luar negri dan dipost foto fotonya di sosial media, memakai barang barang merk terkenal dan mahal. Model model sosialita lah. Mohon maaf bukan berarti mereka yang begitu kaya boongan, atau semuanya seperti itu. Tentu saja hanya sebagian saja dan mungkin saja pengamatan temanku yang kemudian aku benarkan adalah salah.

Semuanya berawal  saat teman lamaku (benar benar teman masa lampau, kami satu kelas selama dua tahun saat kami di bangku SMA sekitar 24 tahun yang lalu) berlibur ke Eropa dan menemuiku di Rotterdam dua minggu yang lalu. Kami hanya berjumpa mungkin satu atau dua kali sejak kami berpisah dari SMA, persahabatan kami di SMA dikalahkan oleh kesibukan kami saat kuliah dan kegiatan serta pergaulan  yang berbeda. Hingga beberapa tahun yang lalu aku mendapat kabarnya kembali di sebuah group BBM teman SMA, namun tak berlangsung lama karena aku menghapus BBM di mobielku dan aku belum sempat menyimpan nomor teleponnya begitupun dirinya. Untunglah dia dapat menghubungiku melalui kakakku.

Singkat cerita dia mengabarkan bahwa dia akan berada di Belanda selama lima hari setelah dia berada terlebih dahulu di Prancis dan Jerman. Dia bertanya dikota mana aku tinggal. Akhirnya diputuskan dia akan berada di Amsterdam dua hari menginap di hotel di Schiphol kemudian ke Rotterdam dua hari dan kembali ke hotel di Schiphol satu hari sebelum mereka kembali ke Indonesia. Mengingat persahabatan jaman dulu yang penuh tawa antara aku dan dirinya tiba tiba saja aku bertanya pada suamiku apakah dia mengijinkna jika aku menawarkan dirinya untuk menginap di rumah kami selama mereka berada di Rotterdam (dia akan datang bersama suami dan satu anaknya). Kuceritakan bahwa dia sahabatku saat SMA, dia hampir tiap hari datang ke rumahku sepulang sekolah. Selama SMA dia tidak satu rumah dengan orangtuanya, orangtuanya tinggal di sebuah kota kecil di pelosok Jawa Barat. Dia dibelikan sebuah rumah di Bandung saat dia sekolah dan tinggal bersama kakak satu satunya yang berbeda satu tahun dengannya dan bersekolah di sekolah yang sama dengan kami, mereka ditemani oleh pengasuhnya yang mengurusnya sejak lahir.

Aku menjemputnya di centraal station di hari sabtu tanggal 20 Mei bertepatan dengan hari ulang tahun pernikahan kami yang ke 9. Pertemuan yang menggembirakan! Tidak ada rasa canggung sama sekali, sama seperti puluhan tahun yang lalu, masih menggunakan bahasa Sunda kasar yang akan mengagetkan para priyayi Sunda jika mendengarnya. Dia masih sederhana seperti dulu. Aku bertanya padanya apakah dia masih jenius seperti dulu? Yang langsung dia jawab bahwa dia tak sejenius dulu lagi tapi masih tetap lucu seperti dulu katanya.

Itu tak kami ragukan lagi. Suamiku sampai tercengang melihat tingkah polahnya, sesaat setelah berkenalan sang suami langsung menyukai kawanku itu, Suasana penuh canda tawa. Cinta Cahaya langsung nempel dengan anaknya yang sudah berusia 15 tahun. Dari mulutnya aku mendengar cerita kemana saja dia setamat SMA, kuliah di universitas top di kota Bandung mengambil jurusan Teknik Sipil sesuai cita citanya, bekerja di perusahaan pamannya yang aku kenal juga. Di usia 21 tahun dia sudah berpenghasilan antara 20 hingga 30 juta perbulan saat dia masih kuliah, dan itu sekitar 20 tahun yang lalu. Berhasil membuat proyek perumahan besar di kota Bandung pada usia 21 tahun dan menikah juga di usia 21 tahun. Kukatakan padanya bahwa aku pun bercita cita  menikah di usia 21 tahun, namun sayang di usia 21 tahun tak ada yang melamarku! Barulah 13 tahun kemudian ada orang yang berani melamarku.

Kutinggalkan kawanku sekeluarga di hari pertama pertemuan dirumah kami bersama si kembar, karena aku dan suami sudah reservasi tempat untuk makan di restaurant merayakan ulang tahun pernikahan kami. Dan topik kencan aku dan suami saat dinner di restaurant  adalah tertawa tawa menceritakan kembali pertemuan kami dengan kawanku, suami tercengang saat menyadari bahwa dia bisa begitu akrab dengan kawanku seolah sudah bertemu berkali kali.

Keesokan harinya aku membawanya ke kota Maastrich, kota kenanganku karena di kota inilah aku belasan tahun yang lalu pernah datang dan tinggal sesaat di kota ini  sebelum mengenal suamiku. Kuajak seorang teman yang tinggal di kota Maastrich untuk bergabung bersama kami. Dengan bergabungnya temanku suasana semakin seru. Sebelum ke kota Maastrich kami ke outlet Roermond terlebih dahulu, seperti yang sudah sudah biasanya turis Indonesia suka kalap belanja disini. Tapi tidak dengan temanku. Dia hanya mendatangi toko sepatu Tod’s yang menurutnya susah didapat di Indonesia, membeli dua buah sepatu untuk dua putrinya. Sambil berkata bahwa sebelum pulang ke Indonesia dia akan membeli koper terlebih dahulu. Merk Rimowa katanya yang terus terang aku baru saja mendengar nama merek tersebut darinya, dan cukup tercengang saat harganya berada di kisaran 600 euro dia membeli dua pula. Lucunya begitu keluar dari toko dia langsung mengisi nya dengan belgian coklat buatan supermarket, untuk para karyawannya katanya. Membeli koffer dia lakukan sesaat sebelum dia naik kereta dari centraal Rotterdam ke schiphol dan kami membongkar isi belanjaannya untuk dimasukan ke koffer baru di pinggir jalan!

Terus terang walaupun selama tiga hari kami tertawa tawa bersama, ternyata sulit pula melepas dia saat meninggalkanku di station, dia menitikkan air mata begitu juga diriku. Terus terang tiga hari bersamanya rasanya aku kembali ke masa remaja yang penuh canda tawa, mengingat kenakalan yang kami buat. Tercekat bagaimana mungkin dia bisa menjadi ibu yang baik, aku kagum melihat anaknya yang cekatan, ramah dan sopan. Tak terbayangkan jika membandingkan dia saat SMA dulu, karena aku tau betul dia dahulu, saat makan tiba,  dia  tinggal makan dari piring yang disediakan pengasuhnya dan saat selesai makan dia akan menaruhnya begitu saja dimanapun dia suka.

Aku mengambil gambar dirinya saat berpisah, dia tertawa sambil berkata bahwa dia tidak mempunyai foto selama liburan kali ini, aku terpengarah saat dia berkata bahwa dia tak punya foto saat di disneyland Paris sekalipun. Selama dia di Amsterdam aku merekomendasikan tempat yang harus dia datangi diantaranya ke Volendam dan berfoto disana, ternyata dia tak melakukan foto itu. Ucapnya semua memori di Belanda sudah dia simpan di otaknya, aku tertawa mendengar jawabannya, sambil memelukku dia berkata bahwa dia akan kembali di bulan September ini sebagai alasan untuk bisa berfoto di Volendam. Ahhh, aku tertawa mendengar jawaban konyolnya.

Mengingat dirinya kini aku hanya bisa menyukuri bisa bertemu kembali dengan dirinya setelah puluhan tahun lamanya tak berjumpa, melihat dirinya sekarang yang tak berubah tetap sederhana dan kocak, juga saat aku menyikut tangannya karena dia tetap sibuk dengan teleponnya saat seorang pelayan datang bertanya padanya untuk menanyakan pesanan makanannya. Dia cukup berkata maaf, dan berkata padaku bahwa dia baru saja mengecek laporan keuangan bisnisnya yang dilaporkan oleh anaknya di Indonesia.

Balik lagi ke istilah beunghar kagok menurut versi dirinya. Aku bertanya, jadi kamu orang kaya jenis mana? Dia malah melotot padaku. Hah aku sama sekali bukan orang kaya, serunya. Jika aku kaya mungkin aku tidak seperti ini, aku rasa kamu cukup cerdas untuk tidak mengelompokan seseorang dari uang atau harta yang dimilikinya.

Sekali lagi aku terpana mendengar jawabannya. Dan saat itu juga aku merasa lebih kaya darinya. Aku masih bisa berdebar debar saat menanti liburan tiba, mempersiapkan koffer dengan baik, berpikir jangan sampai barang pribadi terlewat tak terbawa, menyusun tempat wisata yang akan dikunjungi, menimang nimang hotel yang terjangkau harganya namun nyaman, semuanya. Dia, temanku ini saking sibuknya menurut cerita dia saat akan berangkat dia hanya punya waktu 10 menit untuk memasukan pakaiannya ke koffer dan langsung berangkat ke bandara. Dia baru melihat nomor dan jam penerbangan sesaat sebelum berangkat ke bandara.

Duh Heidy belum sebulan kita berpisah, aku sudah merindukan tawamu……….

 

 

NB; Ppffff aku nulis apaan sih? Hahaha ga pede abis setelah lama gak nulis. Ini mengalir begitu saja dari pikiran dan dituangkan dalam tulisan, semoga ga banyak salah ngetik.

Saat Anak-anak Terbang Sendiri

IMG_20170424_173901282[1]

Children traveling alone? Pernah berpikir tentang membiarkan anak anak terbang sendiri saat mereka dibawah umur? Dulu tak pernah berpikir sampai kesana, hingga dua tahun lalu….. Aku dan suami mulai memikirkan untuk membiarkan si kembar terbang berdua tanpa kami. Hal itu diawali saat aku bilang pada ibu mertua bahwa kami tak bisa tiap tahun menengok beliau di  Portugal. Beliau langsung melontarkan penawaran untuk mengirimkan si kembar tanpa kami, sehingga kami bisa pergi ke tempat lain tanpa anak anak. Luc langsung menyetujui ide itu sebagai usulan yang baik tapi tidak denganku. Rasanya berat sekali membiarkan si kembar terbang berdua saja.

Bulan Oktober tahun lalu rencana sudah dibuat, si kembar sudah siap dikirim saat liburan musim gugur. Namun tiba tiba aku tidak bisa tidur, gelisah luar biasa, beberapa pikiran buruk berseliweran dalam benakku. Hingga aku harus menelepon ibu mertua dan bilang bahwa kepergian si kembar kami mundurkan hingga liburan di bulai mei sebelum liburan musim panas.

Dan panduan inilah yang membuat diriku semakin percaya diri untuk mengirimkan si kembar berdua saja, karena beberapa point dalam artikel tersebut dimiliki pula oleh si kemabr seperti point yang menyebutkan perkembangan emosi dan kemampuan si kembar dalam beradaptasi sangat baik.

Seperti biasa, kami selalu memilih maskapai penerbangan transavia jika akan terbang ke Faro. Dengan alasan praktis, transavia bisa terbang dari Rotterdam Airport dan itu hanya lima menit saja berkendarran dari rumah, penerbangan ini adalah penerbangan langsung dari Rotterdam ke Faro, tidak usah transit dulu di Lisabon seperti beberapa penerbangan lainnya.

Batas minimal untuk terbang sendiri di beberapa maskapai penerbangan berbeda beda. Untuk Transavia anak umur 5 hingga 11 tahun wajib  menggunakan jasa pengantar/pendamping atau disebut begeleider. Biaya yang dikenakan  adalah 50 euro per anak per satu tujuan. Jadi total biaya pendamping untuk dua anak adalah 200 euro pp.

Tiket tidak bisa langsung dibeli online. Karena saat kami mencoba membeli tiket online system selalu saja menolak, mereka selalau menanyakan berapa jumlah orang dewasa yang akan pergi, untuk itu kami segera menelepon pihak maskapai, sehingga merekalah yang menuliskannya di system dan langsung dikirim saat itu juga via email. Ada beberapa formulir yang harus kami isi dan harus kami bawa saat  check in nanti. Dan trala ternyata formulir itu harus dibuat sebanyak 5 copy per satu keberangkatan, alhasil karena dua anak kami harus mengcopy (print out) sebanyak 20 lembar pulang pergi.

Dan tibalah hari keberangkatan, si kembar heboh luar biasa. Aku menyiapkan dua handbagage yang muat dibawa ke cabin, sengaja tidak menyediakan koffer besar dengan tujuan mereka tak perlu mengambil di bagian pengambilan bagage tujunnya agar mereka cepat keluar bandara sehingga nenek mereka tak lama menunggu. (Yang pada akhirnya tetap saja handbagage tersebut tidak dibawa ke cabin untuk memudahkan anak anak berjalan ke atas pesawat, koffer mereka dimasukan ke penyimpanan koffer seperti biasa).

Selain membawa baju seperlunya, mereka juga membawa tutup plastik minuman untuk disumbangkan pada organisasi yang menangani anak anak sakit kanker di Portugal. Kebiasaan ini sudah aku lakukan sejak pertama kali melihat ibu mertuaku selalu menyimpan tutup minuman bekas, saat aku tau alasannya maka sejak itu pula aku ikut mengumpulkan tutup plastik bekas susu dll. Dan salah satu teman sekelas Cahaya, diapun ikut ikutan mengumpulkan tutup bekas minuman juga dan selalu dia serahkan pada Cahaya secara berkala. Tentu saja tutup platik itu tak bisa seluruhnya meraka bawa ke Portugal karena tak ada ruang di koffer mereka.
img_20170504_1007099471.jpg

Tibalah kami di bandara, saat check in dan memasukan koffer, petugas memberikan dua buah tas kecil yang dikalungkan pada leher si kembar. Tas kecil tersebut berisi tiket, passport dan kertas kertas yang telah kami print sebelumnya di rumah, kertas tersebut harus aku tandatangani di depan petugas saat menyerahkan si kembar, tentu saja akupun harus memperlihatkan passportku pada petugas.

Tiga puluh lima menit sebelum pesawat take off kami sudah harus berada di dekat pintu  ruang boarding, saat itu juga ada petugas bandara yang membawa si kembar ke dalam, kami tidak boleh masuk kedalam sehingga kami hanya bisa melihat dari kejauhan saja saat mereka diperiksa seluruh badannya oleh petugas. Ada 4 orang anak dalam penerbangan tersebut yang terbang tanpa orang dewasa.

Setelah mereka masuk ke ruang boarding, aku dan Luc segera berlari ke tempat panorama sehingga kami bisa melihat saat pesawat take off. Oh ya salah satu syarat dari transavia, pengantar tidak boleh meninggalkan airport sebelum pesawat lepas landas. Ternyata anak anak langsung dibawa ke pesawat saat itu juga, kami bisa melihat mereka berjalan didampingi petugas yang membawa mereka dari kami, barulah dua puluh menit setelah anak anak masuk, rombongan penumpang lain baru bisa memasuki pesawat berbondong bondong.
IMG_20170424_194322211[1]

Mereka akan berada di pesawat selama 3 jam lamanya. Setelah anak anak berada di tangan ibu mertua, Angela (ibu mertua) segera menelepon kami mengabarkan si kembar sudah di tangannya. Si kembar datang paling akhir setelah semua penumpang turun, saat penyerahan petugas memeriksa passport Angela dan meminta Angela menandatangi surat surat.

Kini anak anak sudah kembali ke rumah dengan cerita seru selama liburan di provinsi Algarve yang dikenal sebagai  Balinya Portugal,  hanya 7 hari saja. Mereka membawa hasil karya mereka selama berada di club Mozaik dimana Angela terdaftar sebagi anggotanya. Mengunjungi berbagai perkumpulan yang kebanyakan anggotanya kakek dan nenek (begitu cerita si kembar), berbahasa Inggris dengan para anggota, pergi ke toko mainan, dan tak lupa tiap hari nyemplung ke kolam renang yang ada di rumah omanya.

IMG_20170504_114955000[1].jpg

Hasil karya si kembar di club mozaik. Yang atas buatan Cinta (penggemar warna ungu) yang bawah buata Cahaya (pengemar warna pink)

Selama berada di pesawat si kembar menunjukan sikap yang menyenangkan (laporan petugas bandara). Mereka membeli minuman di pesawat setelah sebelumnya aku memberikan uang sebanyak masing masing 3 euro untuk berjaga jaga jika mereka kehausan (setelah sebelumnya aku mengecek terlebih dahulu berapa harga satu minuman ice tea kaleng di dalam pesawat 2,8 euro. Kami orang tua yang pelit, hahaha. Dan ternyata kono uang yang aku berikan tidak mencukupi harga minuman yang mereka beli sehingga penumpang lain yang duduk disamping mereka harus mengeluarkan uang 20 cent untuk membantu si kembar. Hihihi maafkan bunda sayang…. dan terimakasih pada penumpang berhati mulia tersebut.

Saat kembali ke Rotterdam, uang saku yang diberikan Angela pada si kembar ternyata lebih manusiawi, selain bisa membeli ice tea si kembar pun bisa membeli tosti dan masih ada kembaliannya pula yang mereka tunjukan padaku dengan bangga, beberapa cent yang tak mencapai satu euro. 🙂 🙂

Cinta pun menunjukan kertas yang dia warnai selama di pesawat, sambil cemberut dia berkata … masa aku hanya diberikan kertas mewarnai untuk anak dua tahun! Tanya Cinta: mengapa kami tak boleh mempunyai tablet seperti anak lainnya, dan hanya boleh meminjam punya bunda saja itu pun hanya weekend? Anak lain bisa bermain dengan tablet mereka di pesawat, dan kami hanya mewarnai ini? Oohhh…..

IMG_20170504_112622078[1]

Captain Cinta! 🙂 🙂

Cerita Angela sangat positif mengenai si kembar, mereka sangat ramah dan penolong pada orang orang, bahkan  mereka membantu pekerjaan rumah  seperti menjemur baju, mencuci piring sehabis makan dan membereskan mainan mereka dengan baik. Tanpa diminta! Inisiatif sendiri.  Aha!

Dan drama seru lainnya adalah saat penjemputan anak anak di bandara. Mereka berjalan dengan gagah ke arahku, aku peluk Cahaya denagn erat namun dia menangis sesenggukan…. Ohhh mungkin anak ini rindu sekali padaku…. dan ternyata kata kata yang keluar dari mulutnya adalah…. Aku tak mau pulang, aku rindu pada oma Angela hiks hiks hiks. Dan aku pun menangis patah hati! Sepanjang perjalanan di mobil Cahaya benar benar menangis hebat, dia meminta berbicara dengan omanya saat kami tiba di rumah, dan dia tak bisa bercerita dengan jelas pada omanya karena tangisnya menghalangi perkataannya. Omanya berjanji untuk menelepon si kembar keesokan harinya. Esok harinya Angela memang menelepon sekaligus meminta pada kami untuk kembali mengirim si kembar di musim panas tahun ini. Baik aku maupun Luc tak langsung mengiyakan, kami hanya memberikan jawaban…. akan kami pikirkan…..

# Adakah diantara kalian yang pernah  mengalami mengirim anak anaknya terbang sendiri? Atau mungkin kalian sendrilah yang pernah mengalaminya?

 

What are you most looking forward to in the next six months?

Donkere-houten-keuken

photos van keuken inspiratie

Dapur baru!

Akhirnya, setelah pencarian dalam satu setengah tahun ini, kami memutuskan membeli dapur pada perusahaan yang sama sekali baru kali ini kami dengar namanya.

Ternyata membeli dapur disini tak segampang yang kami kira, butuh waktu yang lama hingga akhirnya kami menjatuhkan pilihan. Setelah  searching sana sini, baca vieuw dari banyak orang, kemudian kami memutuskan membuat janji untuk datang ke toko dapur yang terkenal akan kualitasnya. Hampir dua jam kami disana, dibuatkan sketsa dapur seperti yang kami inginkan, kemudian memilih warna lemari dan bahannya, memilih alat alat elektonik seperti oven, kompor, mesin cuci piring hingga keran air pun kita yang memilih.

Dan tibalah kalkulasi harga dari dapur yang kita inginkan, dan percayalah aku sampai sakit kepala dan ingin muntah saat mendengar harga yang diperlihatkan. Kemudian si penjual bertanya sebetulnya berapa budget yang kita siapkan, saat kami menyebutkan budget kami dan ajaib si penjual dengan cepat bisa menyamakan harga dapur dengan budget yang kami punya. Caranya? Merk alat alat yang kami pilih diganti, bahan meja dan lemari diganti hanya warna yang tetap sama, biaya pasang/kerja dihilangkan. Semua itu dengan syarat bahwa kita mau menandatangi kontrak hari ini juga!

Hah??? Tentu saja kami langsung mundur teratur, Luc paling tidak suka dipaksa paksa seperti itu. Membeli dapur baru adalah salah satu keputusan penting dalam hidup kami dan melibatkan euro yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya.

Strategi berikutnya kami ubah, kami tak langsung mengirim email uantuk membuat janji datang ke tempat, tapi kami mengirim email kesekitar sepuluh toko dapur se Belanda untuk meminta brosur atau majalah dapur dari toko mereka. Tak sampai seminggu rumah kami dibanjiri pos dari berbagai toko dapur yang mengirimi majalah dapur mereka. Kemudian beberpa toko tersebut ada yang menelepon kami menanyakan apakah kami sudah mempunyai ide dari dapur idaman kami? Bertanya apakah kami ingin datang ke toko mereka dan membuat janji? Hanya dua dari sepuluh toko yang pada akhirnya kami datangi untuk dibuatkan sketsa dan bernegosiasi. Dan kedua toko terakhirpun gagal memenuhi kemampuan  ‘kantong’ kami.

Beberapa kenalan menyodorkan nama nama toko dari Jerman, lebih bagus dan jauh lebih murah kabarnya. Sudah ada dalam agenda kami untuk membuat janji dengan salah satu toko di Jerman. Belum lagi hal itu terlaksana, hari kamis dua minggu yang lalu Luc mengambil cuti dari tempat kerjanya karena akan menghadiri concert Cinta dan Cahaya di sore hari, memanfaatkan waktu yang ada kami mendatangi sebuah toko dapur yang tak jauh dari kota Rotterdam (dengan membuat janji terlebih dahulu tentunya). Seorang pria setengah abad yang tengah duduk di balik komputer menyapa kami, sedikit mengernyit sambil memandangi komputer saat Luc menyebutkan bahwa kami telah membuat afspraak pukul 10 dengan orang yang bernama A, yang ternyata dirinya. Berkali kali dia mengecek komputernya dan bersikukuh bahwa dia tidak punya janji dengan kami, aku segera menangkap sinyal di wajah Luc yang mulai tak nyaman. Hingga kemudian wajah si pria itu tiba tiba sumringah dan berubah drastis menjadi super ramah. Aha Lucas! Serunya. Hhmmm saat Luc menyebutkan nama belakangnya ternyata yang tertera di komputer adalah nama depan.

Singkat, kami langsung dipersilahkan duduk. Seperti biasa ditanya minuman apa yang kami inginkan. Aku segera menyodorkan sketsa dapur buatanku padanya. Dia terbelalak dan melihatnya, berkomentar positif saat melihat akupun mencantumkan jarak stopkontak dan ukuran ukuran meja dan lemari, bahkan ukuran meja wastafel dan kompor pun aku cantumkan. Dia gembira karena hari itu berjalan menyenangkan, kami hanya memilih bahan saja, tak seperti toko dapur lainnya, kunjungan kami dia sudahi setelah kami memilih bahan, katanya kami diminta datang di hari minggu setelah hari kamis itu untuk membicarakan harga. Dia menjanjikan di pertemuan berikutnya dia sudah membuat gambar tiga dimensi dari dapur yang kita inginkan, sementara aku dirumah pun diberi tugas untuk memilih merk barang barang beserta harganya dari toko manapun yang dapat kami cari di internet. Ini lain dengan yang lain, kami diberi kebebasan untuk mencari barang barang yang kami inginkan.

Dan hari itupun tiba, kami menandatangi kontrak pembelian dapur, setelah sebelumnya si penjual tak percaya kami mengiyakan harga yang dia sodorkan. Dia sampai menjabat tangan kami berkali kali dan bertanya apakah kami akan merayakan pembelian dapur baru ini setelah pulang dari sini? Aku menjawab sambil bercanda, bukan kami yang akan merayakan seharusnya anda yang merayakan, kami bangkrut sekarang, tak ada uang!

Dalam perjalan pulang, kami bersiul senang. Impian mempunyai dapur baru akan terlaksana dalam waktu yang tak lama lagi. Aku senang karena nanti akan ada American koelkast dan laci laci cantik untuk menyimpan bumbu bumbu Indonesiaku. Sedangkan Luc bergembira karena impiannya untuk mempunya keran air Quooker dan oven berkualitas akan terlaksana. Akan aku buat kue taart terenak dan teh yang langsung keluar air panas dari keran. Serunya padaku. Ja ja ja Luc, kita lihat saja nanti hingga berapa lama kehebohan berkutat di dapur baru akan berlangsung.

What’s one thing that you would never change about yourself

Tetap menjadi seorang perempuan. Hmmm itu takdir ya? Setelah aku menjalani hidup hingga sekarang ini, sesuatu yang tidak ingin berubah atau hilang dalam diriku adalah rasa sayang dan kasih pada sesama.

Tentang salah satu sifat aku ini, pernah ada seseorang dalam hidupku memberi saran dan nasihat karena menurut dia sifatku yang ini harus sedikit dikurangi, menurutnya super ramah pada orang lain itu baik asal jangan kebablasan seperti diriku. Menurutnya harus ada sikap pertahanan diri sehingga orang tidak menginjak diriku seenaknya, atau rasa kasihan yang berlebihan pada orang lain sehingga menyebabkan diriku sedih berkepanjangan dan melakukan segala cara untuk menolong orang yang aku kashihani namun ternyata membawa masalah pada diriku.

Menurut ‘penasihatku’ ini sifat ku yang selalu merasa kasihan pada orang lain adalah sifat baik yang menjadikan diriku lemah. Lalu baiklah, aku mencoba sarannya. Aku belajar tega pada orang lain, aku bersikap lebih tidak peduli jika melihat seseorang dalam kesusahan. Aku tidak lagi berlama lama bertatapan dengan orang yang menjajakan koran jalanan/ straat krant di depan supermarket. Hanya sesekali saja aku membelinya, tidak sesering dulu. Aku mulai menegarkan diri jika orang menghiba hiba meminta pertolonganku, aku mulai menakar dan mimilah mana yang lebih penting menolongnya atau membiarkannya.

Perubahan ini mulai berdampak pada diriku, aku mulai terlihat kaku, langsung berpikir hati hati jika ada orang minta tolong padaku, aku akan berpikir apakah dia memanfaatkanku saja? Pokoknya serba hati hati. Mulai memilih orang yang akan aku ajak senyum (sstthhh aku dikenal orang sebagai orang yang tukang senyum, ini sebenarnya karena aku pemalu).

Hingga beberapa bulan yang lalu, saat aku sadar bahwa aku merasa ada sesuatu yang hilang, aku memiliki jawaban apakah karena aku ingin  berubah, namun sesuatu yang aku ubah sebenarnya malah melemahkanku? Aku jadi bukan merasa diriku lagi. Aku menarik kesimpulan apa yang dikatakan sahabatku  memang baik, namun ternyata tak cocok denganku. Mungkin sudah begini diriku….. agak lebay kata ponakanku mah…….

Jadi inilah aku, yang bisa dengan tegas menolak keinginan Cinta yang minta dibelikan kibeling atau patat, tapi segera meyodorkan uang untuk membeli straat krant dan begitu sampai rumah dipelototi Luc sampai berkata…. Yayang ini koran yang sama dengan hari yang lalu…. Dan aku dengan cueknya akan berkata… Tapi Luc, yang jualannya beda orang kok! Hahaha.

What’s your most embarrassing moment?

Apa ya? Pake acara berpikir keras. Dan setelah pake acara berpikir keras, akhirnya aku menyuguhkan cerita ini….

Kejadiannya lebih dari  20 tahun yang lalu. Aku tidak bisa naik sepeda motor, dan temanku berkata bahwa naik motor itu gampang, asal bisa naik sepeda maka bisa langsung lancar. Tergoda aku menuruti ajakannya saat dia menawarkan akan mengajariku, karena dia sendiri tak punya motor maka aku meminjam motor kakakku, motor baru untuk pergi kuliah kakakku.

Benar saja dengan intruksi dari Airin (kawanku) aku bisa langsung naik motor, hari itu kami menjelajahi jalan buah batu, jalan dimana rumahku berada dan  terus menyusuri jalan bypass masuk komplek Batu nunggal dan kembali ke jalan cijagra I dimana rumah Airin berada, sebelum kami sampai ke rumahnya kami melihat tukang durian di pinggir jalan, kami sepakat untuk membeli dua buah durian. Setelah Airin duduk di belakang punggungku, aku memberikan aba aba padanya untuk duduk dengan benar, karena kedua tangannya penuh membawa durian di kiri dan kanan. Saat Airin berkata bahwa dia telah siap sekonyong konyong aku terkesima saat ada motor besar keren, dikenderai cowok ganteng.

Tak tau naluri penyerang atau terkesima dengan kegantengan cowok yang bak artis itu, motor yang tengah aku kendarai  langsung aku belokan menuju arah si ganteng tadi, namun karena kemampuan mengendarai motor belum terlatih, setelah belok sebanyak 90 derajak aku malah tancap gas dan motor meluncur terus ke arah selokan cukup besar. Motor beserta dua anak manusia dan dua buah durian ranum tergelincir dengan mengenaskan di selokan.

Orang berdatangan menolong kami, motor diangkat, kami diselamatkan. Dan durian juga tentunya tak ketinggalan ikut diangkat dalam keadaan tak muungkin dimakan karena masuk ke ari selokan. Aku berdiri dengan pakaian basah, untungnya hanya luka baret saja, begitupun Airin.

Saat kami masih dalam keadaan tak tau apa yang terjadi antara shock dan malu, tiba tiba aku melihat si ganteng ada di depan kami. Sudah turun dari motor besarnya, mengenakan celana jins dengan kaos oblong putih dan sepatu mengkilat, persis di film film telenovela, pria gagah tampan dan bersih menyelamatkan gadis kucel dan kotor.

Kalian tidak apa apa? Tanyanya ramah. Tangannya berlepotan air selokan, dialah yang menyelamatkan motor kakakku, bukan aku! Hahaha. Jadi tak perlu kuceritakan seperti apa mukaku saat itu. Aku malu luar biasa. Rasanya aku jatuh cinta pada pandangan pertama, entah cinta atau merasa diri konyol, entahlah. Aku menelepon ayahku, beliau datang dengan kakakku ke rumah Airin,  membawa baju salin sesuai permintaanku. Tak kuketahui kabar si lelaku ganteng itu, namun ada kabar baik yang bisa aku sampaikan pada kalian semua…..

Yakni aku dan Airin masih bisa menikmati buah durian yang telah nyemplung ke selokan, setelah durian tersebut dimandikan ternyata jadi cantik kembali dan kami membukanya bersama sama dan memakannya dengan lahap diiringi cerita tentang si ganteng.

 

 

Note: Kepada Airin dimanapun kamu berada, aku rindu padamu. Terakhir kali kami berkirim kabar, kau telah kembali ke daerah asalmu, telah menikah dengan seorang pegawai BRI, memiliki dua orang anak perempuan dan tinggal di Parigi Sulawesi. Mimpiku, kau membaca cerita kenangan kita kemudian mengontakku.