Green Book

Awal tahun baru ini setidaknya diawali dengan tontonan film  yang mengesankan. Kemarin setelah hari yang melelahkan, sebelum pergi tidur aku masih sempat nonton film Green Book.

Ini film bagus banget menurutku. Film yang menceritakan tentang seorang pianis yang berdarah Afrika- Amerika yang akan mengadakan tur selama dua bulan di tahun 1962 di daerah Selatan Amerika yang pada saat itu masih racist. Don Shirley (pianist) menyewa Tony ‘Lip’  seorang supir merangkap body guard untuk membawanya melalui tur tersebut.

Perbedaan kelas antara Don dan Tony diperlihatkan dengan manis dalam film ini, dan aku dapat melihat humor berkelas disini. Don yang kaya, berpendidikan, rapi dan sopan harus berhadapan dengan Tony yang dibesarkan dari kelas menengah kebawah, dan berkelakuan seenaknya. Hubungan antara bos dan pekerja menjadi kontras karena tidak pas dimasa itu, karena perbedaan warna kulit. Hal yang aneh karena orang kulit putih lah yang menjadi jongos dan kulit hitam menjadi bos nya. Pada masa itu terutama di daerah Selatan hal tersebut adalah hal yang tidak wajar.

Setiap percakapan antara Don dan Tony adalah hal penuh makna yang dapat aku petik sepanjang menonton film ini. Perdebatan diantara mereka menjadi perenunganku setelah  selesai melihat film ini. Ada kata kata Tony yang menyentuh jiwaku, bahwa dia tau siapa dirinya, bahwa dia tau tujuan hidupnya untuk apa. Mendengar penjelasan Tony mengenai tujuan hidupnya, menurutku adalah sesuatu yang benar adanya. Aku tak akan menceritakan apa isi percakapan itu disini, tontonlah  filmnya.

Film ini pada akhirnya menceritakan mengenai freindship, ketulusan, pengabdian dan kasih sayang. Aku berharap film ini bisa dinominasikan sebagai pemenang Oscar, soalnya bagus banget sih!

 

 

Advertisements

Go to the Camp!

Saat aku meneliti blog ini, aku melihat ada 17 draft yang belum aku selesaikan, salah satunya Go to the Camp ini, baiklah hari ini aku akan menyelesaikannya.

28 Agustus 2017 adalah hari pertama si kembar masuk di sekolah yang baru, mereka pindah sekolah karena kami pindah ke tempat yang baru. Saat itu si kembar baru merayakan ulang tahun yang ke delapan dan telah duduk di groep 5 atau setara dengan kelas 3 SD di Indonesia.

Kebanyakan (tidak semua) sekolah dasar di Belanda ketika anak anak duduk di groep 7 (kelas 5 SD) mereka akan pergi ke perkemahan selama tiga hari dan saat groep 8 selama seminggu.

Siapa sangka sebulan kemudian yaitu pada tanggal 27 september 2017 si kembar harus pergi kemping bersama sekolah selama 3 hari. Ternyata di sekolah baru si kembar, anak anak sudah pergi ke camp sejak pertama masuk SD, groep 1. Walau hanya tidur semalam itupun di sekolah, tetaplah menurutku sangat dini sekali, bayangkan umur 4 tahun harus sudah tidur semalam di perkemahan tanpa orang tua.

Hari itu, Cinta dan Cahaya dengan gagah perkasa walau hati deg degan mereka pergi ke perkemahan selama tiga hari ke depan. Diiringi doa dan petuah petuah dariku yang sudah aku lontarkan beberapa hari sebelum hari H. Entah mengapa rasanya aku lebih was was melepaskan mereka dibandingkan saat mereka pergi berdua ke Portugal.

Bukan saja si kembar yang merasa cemas tapi akupun merasa was was yang luar biasa, alasannya karena mereka berdua ternyata masih belum merasa memiliki atau kerasan di sekolah yang baru, bahkan hal yang tidak aku sangka ternyata mereka menghadapi kesulitan mendapat teman baru. Menurut si kembar anak anak di sekolah yang baru sungguh berbeda tabiat dan kebiasaannya dengan teman mereka yang lama.

Suasana sekolah baru dan ruang lingkup pergaulan yang baru bagi kami semua adalah permasalahan pokok yang sebetulnya membuatku ketar ketir. Entahlah, walau hampir satu bulan lamanya aku menempati rumah baru tapi hatiku masih ada di rumah lama, juga di sekolah lama anak anak. Aku masih merasa tempat tinggal kami yang baru rasanya kurang sesuai dengan diriku.

Diawali saat pertama kali mengantarkan si kembar ke sekolah baru. Aku datang bersama Luc dengan dandanan cara kami. Berada di lingkungan sekolah aku takjub luar biasa saat melihat penampilah para pengantar anak anak lain. Para bapak hampir semuanya memakai setelan jas dan dasi, para ibu berhak tinggi dan tampil rapi dengan pakaian wanita karier versi Belanda, bahkan aku hampir terlonjak kaget saat ada seorang wanita tinggi semampai mengenakan topi lebar! Asli aku hampir berteriak melihat Ratu Maxima!

Berada di dalam mobil saat kembali dari mengantar CC, aku bersama Luc terdiam, jika tidak dimulai oleh Luc yang tertawa duluan dan bertanya padaku, apa kesanmu tentang sekolah baru si kembar? Yang aku jawab, sekolah yang dilihat dari segi fasilitas dan bangunannya lebih baik dari sekolah lama, yang diiyakan oleh Luc sembari menambahkan, rasanya aku salah kostum tadi. dan kami pun tertawa bersama mengomentari pemandangan yang mencolok antara kami dan mereka. Tapi memang itulah keadaan kami, rakyat jelata. Hahaha.

Balik lagi ke topik semula, tiga hari berlalu. Aku menjemput si kembar saat mereka kembali dari camp. Tempat penjemputan tak jauh dari rumah, cukup berjalan kaki saja aku sudah bisa melihat bis yang membawa mereka pulang telah datang. Mereka memelukku erat, bercerita bahwa mereka sedikit menderita disana, mereka merasa terkucil diantara teman temannya, tapi dengan penuh keyakinan mereka menghibur diri sendiri bahwa tahun depan akan lebih baik dari tahun sekarang. Ini karena kami merasa asing, begitu penuturan mereka dengan tabah. Oh ya mereka juga bercerita bahwa di malam terakhir di camp, ada acara bounte avond, seperti malam perpisahan di depan api unggun dan setiap anak menunjukan kemampuannya di depan publik. Bisa menyanyi, menari, pantomin, bersajak atau kemampuan lainnya. Dan itu bisa dilakukan perorangan ataupun kelompok. Cerita si kembar datang mengharukan saat mereka nyaris beraksi berdua saja karena tak ada teman yang lain yang mau dan membolehkan mereka bergabung, namun tiba tiba salah satu teman sekelas mereka meninggalkan kelompoknya dan meutuskan beraksi bersama si kembar. Nama anak tersebut adalah Chloe’ dan hingga saat ini, dia menjadi salah satu teman dekat Cahaya.

Oh ya selama mereka di camp, aku mendapat laporan dari salah satu orang tua murid yang ikut menginap disana dan dia melaporkan kegiatan sehari hari melalui whats App grup kelas si kembar. Biasanya diselingi oleh foto foto anak anak selama mereka disana.

Kini setahun berlalu, si kembar telah kerasan di sekolah yang baru, wlau kini mereka tidak sekelas tapi mereka baik baik saja dan telah siap menghadapi camp berikutnya. 19 September hingga 21 September 2018 mereka pergi kemping. Cerita seru dan sumringah dari mulut mereka mewarnai saat aku menjemputnya pulang, cuaca yang kurang bersahabat saat itu tak mengurangi keriangan mereka. Aku mendapat pujian dari salah satu orang tua teman sekelas Cinta yang mengatakan mereka menampilkan penampilan yang mengesankan saat bonte avond. Mereka menari dan bernyanyi bersama empat orang anak lainnya, karena meurut teman teman mereka Cinta dan Cahaya bersuara emas, ehmmm… mereka boleh bernyanyi berdua sementara empat orang lainnya hanya menari mengiringi si kembar menyanyi.

Laporan via whats App dari orang tua siswa yang ikut menginap disana bagaikan cerita bersambung yang menyenangkan, aku tak sabar menengok teleponku saat ada pesan dari grup tersebut. Mulai tahun ini aturan pemuatan foto anak anak semakin di perketat. Saat si kembar masuk sekolah peuterspeelzaal saat mereka berumur dua tahun, kami harus menandatangani apakah foto si kembar boleh dipublikan di media sosial atau media lainnya jika terbidik kamera, aku menandangani bahwa kami tidak keberatan. Dari situlah kami tahu bahwa kami harus hati hati jika akan ‘memamerkan’ foto si kembar dimana ada anak yang lain yang terfoto, biasanya aku minta izin dulu pada orang tua anak yang terfoto atau jika aku tak sempat minta izin biasanya aku memblurkan wajah anak yang terfoto.

Di sekolah yang sekarang tak ada satu wajah pun yang boleh muncul di media sosial sekolah, jika sekolah mewartakan tentang kegiatan anak anak maka media sosial sekolah hanya memuculkan karya dari anak anak tersebut tanpa wajah dan nama, tapi wajah para guru dan kru sekolah kadang menghiasi media sosial tersebut, misalkan saat sekolah mendatangkan petugas medis yang memakai helicopter, polisi atau petugas pemadam kebakaran (untuk pengenalan pada anaka anak) , maka para petugas beserta alat peraganya yang akan muncul di media sosial sekolah tapi tak ada foto siswa yang muncul, jikapun ada hanya punggungnya saja atau tangannya saja.

Jika tahun lalu aku masih bisa menikmati foto anak anak via whats app yang dikirimkan orangtua yang ikut menginap, tahun ini pengiriman foto ke grup whats aap tidak diperkenankan, dan kini hanya berita tulisan saja, saat salah satu orang tua memohon untuk dikirimkan foto maka si pemberi berita akan mengirimkan foto langit, pohon, sungai atau foto dirinya sendiri.

Walau aku suka memposting foto si kembar disini, tapi aku menghargai dan mendukung pihak sekolah yang menerapkan peraturan bijak tersebut, karena whats Aap seperti halnya media sosial bisa menyebar dengan sangat cepatnya.

Berikut aku sertakan foto Cinta (tetep pamer) saat menerima kado suprise 5 Desember belum lama ini, foto tersebut dikirim salah satu orang tua murid yang menjadi asisten pak guru di sekolah, foto yang dikirim prive padaku bertuliskan, menurut anak yang membuatkan suprise untuk Cinta, Cinta dibuatkan piala voice of Holland, saat menyerahkannya pada Cinta si anak berkata bahwa Cinta patut mengikuti voice of kid (Hollands) karena dia bersuara bagus, ah senangnya hatiku mendengar pujian tersebut.

PS. Pas baca ulang, ini tulisan mo nyeritain apa sih? Ah maafkan dah nulis kesana kemari, initinya cuma mo bilang…

  1. Di sekolah si kembar sudah pergi kemping sejak masuk groep 1, groep 1 dan 2 menginap satu hari, groep 3 dan 4 menginap 2 hari, groep 5 dan 6 menginap 3 hari, groep 7 dan 8 menginap 5 hari.
  2. Tidak diperkenankan memposting foto siswa
  3. Aku masih ‘pamer’ foto si kembar asalkan sopan dan tidak berlebihan. Eh padahal sewaktu mereka masih bayi aku memproteksi foto foto mereka, eh sekarang disaat banyak orang mulai berhati hati aku malah tidak, oalah…

Ajaklah anak anda saat berbelanja

Judul diatas dianjurkan jika berbelanja ke toko daging atau toko bunga.

Di Belanda jika kami berbelanja ke toko daging (slagerij) dan membawa anak kecil, adalah hal yang biasa jika si tukang dagingnya akan mengerat seiris daging asap atau sosis dan memberikannya pada anak tersebut. Dulu pertama kali aku dibawa oleh Luc ke toko daging, akulah yang diberi irisan daging tersebut. Aku senang saja dan langsung aku lahap tanpa tau daging apa yang disodorkan. Saat kami keluar dari toko daging, sambil tertawa Luc berpikir mungkinkah si tukang daging mengira aku anaknya? Kemudian Luc menjelaskan kebiasaan tukang daging yang selalu memberikan seiris daging pada pelanggannya yang membawa anak kecil.

Kini kami tidak lagi datang ke slagerij yang biasa didatangi oleh Luc, dengan berkembangnya pergaulanku di Belanda dan banyaknya orang Indonesia yang aku kenal disini, aku jadi tau bahwa banyak bertebaran slagerij halal di Belanda terutama di Rotterdam. Toko daging yang kini menjadi langgananku tentu saja tidak se eksklusif toko daging yang dulu menjadi langganan Luc, tapi di toko daging halal ini kami bisa memesan daging yang tidak dijual di supermarket contohnya kaki sapi berbagai macam jeroan.

Kini kami tidak lagi tinggal di Rotterdam, walau tanpa kaca mata kami masih bisa memandang jalan yang memisahkan wilayah Rotterdam dengan tempat dimana kami tinggal kini, namun kini keadaannya berbeda. Tidak ada lagi slagerij halal di dekat rumah kami. Menurut Luc, daerah kami kini seperti Rotterdam jaman dulu kala saat dia masih kecil. Berbelanja ke toko kecil dan khusus, contohnya toko keju, toko daging, toko buah dan sayuran masih banyak didatangi oleh konsumen. Disini berbagai jenis toko kecil masih subur dan digemari.

Rumahku sejak dulu selalu dihiasi oleh bunga segar, biasanya aku membeli bunga tersebut di supermarket. Kini karena toko bunga aku lewati jika aku pulang ke rumah, aku selalu mampir di toko bunga tersebut. Disana aku bisa membeli bunga walau satu batang saja. Dan kebiasaan si tukang bunga itu adaalah jika Cinta dan Cahaya ikut saat aku membeli bunga, maka dia akan memberikan setangkai bunga mawar atau bunga hebras pada si kembar. Pernah aku membeli bunga seharga 99 cent, tapi si kembar mendapat masing masing setangkai bunga hebras dan bunga tersebut mereka beri hiasan pita dan plastik transparan, si kembar bisa bereksperimen menghias bunganya bersama si tukang bunga. Tapi jangan harap hal itu kerjadi jika aku membeli bunga sendirian. Pernah aku membeli buket bunga seharga 20 euro tapi aku tak mendapatkan apa apa. Mendapat bonus bunga hanya bisa terjadi jika kita membawa anak kecil saja.

Hari kemarin saat kami berbelanja dan melewati toko bunga aku melirik bunga kuning yang biasanya ada di pinggir jalan tak terurus. Iseng aku memilihnya sebanyak 8 tangkai dan bertanya harganya, si penjual menjawab 1 euro saja. Dengan bahagia aku melangkah keluar toko, eh tiba tiba si pedangang memanggi Cinta dan menyerahkan satu buket bunga kecil padanya.

Ini bunganya, cantik kan. Aku menyimpannya pada vas bunga setelah membuka ikatan buketnya.

Oh ya karena hari ini hari natal, hari ini Luc mau difoto sesuai keinginanku, ini dia hasilnya. Dia bahagia akupun bahagia. Fijne Feestdagen allemaal!

Tradisi 5 Desember

Si kembar sudah tahu bahwa Sinterklas hanyalah dongeng belaka sejak setahun yang lalu. Mereka berterus terang pada kami bahwa kado kado yang mereka terima di sepatu mereka sejak ‘kedatangan’ Sinterklas secara resmi ke Belanda sekitar dua minggu sebelum tanggal 5 desember adalah kado yang diletakan oleh orang tua mereka.

Tahun lalu mereka minta penjelasan padaku bagaimana caranya kado kado bisa muncul di bawah perapian rumah kami secara tiba tiba, mereka telah berusaha berpikir keras tapi hingga sekarang mereka tak menemukan jawabannya. Tanggal 5 desember adalah puncak dari kegembiraan anak anak di Belanda yang mengharapkan kado dari Sinterklas, karena di tanggal tersebut ada acara pakjesavond yaitu Sinterklas datang membawa kado sebelum keesokan harinya dia meninggalkan Belanda untuk berlibur ke Spanyol. Di malam tersebut hampir setiap keluarga merayakan pakjesavond, membuka kado. Dan kebiasaan tersebut sudah kami lakukan sejak si kembar berumur 4 tahun.

Biasanya anak anak kami suruh tidur lebih awal biasanya setelah makan malam, sejam kemudian atau kira kira setelah tak ada suara lagi dari kamar si kembar, kami akan menata kado kado dibawah cerobong asap rumah kami. Rumah kami saat itu adalah rumah tua yang ada perapiannya (dan masih berfungsi, walau tidak kami gunakan lagi). Kemudian Luc akan membuat keributan seolah olah ada Sinterklas dan kami akan membangunkan si kembar dan tentu saja mereka akan bangun dan terbelalak saat kado kado sudah berserakan di dekat cerobong asap. Skenario tidak selamanya berjalan mulus, pernah suatu hari Luc sudah berteriak teriak kesurupan tapi si kembar tetap tidur nyenyak, sehingga kami harus datang ke kamar mereka dan benar benar membangunkan mereka, atau pernah setelah mereka lebih besar mereka tak mau tidur juga dan berusaha tetap terjaga karena mereka ingin melihat Sinterklas datang.

Nah dua tahun yang lalu strategi klasik seperti diatas tidak kami lakukan lagi, kami makan malam lebih awal jam lima sore, setelah makan malam kami pergi ke pasar swalayan. Kami berempat telah duduk manis di mobil, tiba tiba Luc bergumam bahwa dompetnya ketinggalan di dalam rumah, dia kembali lagi masuk rumah. Tentu saja bukan dompet yang ketinggalan, tapi dia sibuk meletakan kado kado di bawah cerobong asap. Setiba kami kembali ke rumah dari pasar swalayan, si kembar menjerit jerit sejadi jadinya begitu melihat kado yang sudah bertumpuk di sekitar perapian. Setahun kemudian yaitu tahun yang lalu dia minta penjelasan padaku bagaimana kado kado tersebut bisa muncul tiba tiba setelah kami datang ke rumah, mereka lupa sama sekali akan moment Luc kembali masuk ke rumah, dan rahasia tersebut tidak aku katakan pada mereka. Teori yang mereka pikirkan adalah bahwa kami bekerja sama dengan tetangga sebelah, saat kami tidak ada di rumah tentunya si tetangga itu sudah masuk ke rumah kami dan meletakan kado kado tersebut.

Tahun ini kami berempat berdiskusi, kami memutuskan tidak akan ada lagi sepatu yang mereka umpankan berisi makanan untuk kuda Sinterklas, tidak akan ada lagi kado yang mereka temukan di sepatu di pagi harinya selama dua minggu setiap paginya. Tapi acara pakjesavond akan tetap kami lakukan hingga kapanpun, akan menjadi tradisi keluarga kami. Si kembar tetap menulis daftar kado yang mereka inginkan, bedanya dengan dulu adalah jika dulu ditujukan pada Sinterklas kini daftar itu ditujukan pada kami, surat pembukanya tidak lagi lieve Sinterklas tapi lieve bunda en papa….

Beberapa hari terakhir jika kami sedang berjalan jalan di kota pada akhir pekan mereka akan menunjukan apa yang mereka inginkan, tapi mereka tahu diri, mereka tidak minta dibelikan barang barenga tersebut, hanya kalimat berlapis mengiringi setiap mereka menunjukan apa yang mereka tunjuk, ….. mungkin itu kado buat nanti tanggal 5?….

Dan bagaimana rasanya jika kita mendapatkan kado surat bersampul biru? 🤣

Kutuan

Awal tahun 2018 di salah satu saluran TV Belanda ada mini seri De Luizenmoeder. Awal aku melihat iklannya aku berpikiran apakah ini mengenai pencarian kutu di kepala anak anak yang prakteknya dilakukan di minggu pertama anak anak kembali ke sekolah setelah liburan (liburan semua musim). Ternyata film ini bukan mengenai hal tersebut (walau hingga saat ini aku belum pernah nonton mini seri tersebut).

Luizenmoeder itu sendiri adalah sebutan untuk orang yang memeriksa rambut anak anak setelah liburan tiba. Jika di sekolah si kembar yang lama yang jadi luizenmoeder adalah orang yang bekerja di sekolah (bisa admin ataupun vrijwilligers yang bekerja di sekolah untuk menjaga anak anak bermain saat istirahat tiba). Sedangkan di sekolah si kembar yang sekarang yang jadi luizenmoeder adalah orangtua murid, biasanya tiga orangtua. Tidak hanya ibu saja lho, bapak pun bisa jadi luizenmoeder.

Nah mengenai kutu di kepala, rasanya jaman masa kini yang namanya kutu sudah tidak jaman lagi, digantikan oleh ketombe dan kerontokan. Tapi tidak begitu di Belanda! Saat si kembar awal bersekolah SD di sekolah yang lama, aku mendapatkan email peringatan dari pihak sekolah bahwa salah satu anak di kelas Cinta kedapatan kutu di kepalanya. Kami para orang tua dianjurkan selama seminggu menyisir rambut anak anak setiap pagi dan sebelum tidur (menggunakan sisir sirit). Hal tersebut dianjurkan guna mengantisipasi kemungkinan rambut anak anak lainnya yang sekelas tertular kutu pula.

Langkah langkah yang harus dilakukan untuk menyirit rambut anak anak harus dilakukan di atas kertas putih sehingga kutu yang jatuh dari rambut akan terlihat di kertas putih. Saat aku membaca perintah tersebut, aku sampai ngakak habis, kok persis banget sih caranya seperti aku kedapatan kutu sewaktu kelas empat SD sehabis kemping Pramuka padahal cuma semalam lho! Ibuku menyirit rambutku di atas kertas putih!

Selain cara menyirit rambut, juga terdapat informasi lainnya yang harus dilakukan jika langkah pertama menyirit rambut membuahkan hasil kutu di kertas putih tadi, maka langkah selanjutnya adalah membeli shampo pembasmi kutu atau mendatangi dokter keluarga.

Awalnya aku tak menghiraukan email tersebut, tapi aku sedikit takjub saat Luc pulang dari bekerja dia membawa sisir sirit yang baru dibelinya. Dan aku diajarkan bagaimana caranya menyirit rambut anak anak. Dan diatas kertas putih! Hahaha.

Nah tepatnya aku lupa saat si kembar duduk di kelas berapa (sa, aku mendapatkan telepon dari pihak sekolah bahwa luizenmoeder menemukan lisa (telur kutu) di kepala Cahaya. Tidak banyak katanya mungkin tiga atau empat telur saja, dan itu sudah mati. OMG, seteliti itukah? Dan akupun disarankan memeriksa rambut kami sekelurga dengan alat sisir serit. Nah tak lama setelah meneleponku, muncul dong email peringatan penemuan telur kutu di kepala di kelas Cahaya. Nama anak yang jadi tersangka (anakkku!) tentu saja tidak disebutkan.

Rasanya aku tidak pernah menceritakan penemuan telur kutu di kepala Cahaya pada orangtua teman sekelas Cahaya. Menurutku itu aib yang harus dijaga, jangan sampai ada anak lain yang tau. Hihihi. Ternyata tidak begitu dengan salah satu ibu dari teman si kembar. Tadi pagi aku mendapatkan pemberitahuan di whats App grup kelas Cinta, seorang ibu memberitahukan bahwa anaknya kedapatan kutu di kepalanya. Dia memohon maaf dan meminta kami untuk memeriksa anak masing masing yang mungkin saja tertular kutu juga, atau bisa jadi salah satu murid dari kelas Cinta yang menularkan kutu tersebut.

Kalau kalian pernah kutuan? 🙂

Tante

Awal bulan oktober ini aku dapat email dari seorang student asal Indonesia yg akan melanjutkan kuliah di Rotterdam, janjian buat ketemuan setelah beberapa bulan sebelumnya dia banyak bertanya tentang seluk beluk kehidupan di Rotterdam, dia banyak bertanya pada ku mulai dari cari rumah dan cara tepat mencari alat transportasi yang ringan di kantong.

Hari janjian pun tiba, student tersebut datang bersama istrinya ke Belanda, pasangan muda.

Aku mengajak berkeliling di seputaran pusat kota Rotterdam, mereka menyukai tour kecil kami. Entah dari mana awalnya mereka bertanya padaku angkatan tahun berapa aku saat kuliah dulu. Saat aku menjawab pertanyaan tersebut tak hanya mereka yang terkejut mendengar jawabanku, diriku pun ikut terkejut. Haaahhh sudah berpuluh tahun yang lalu!

Sekonyong konyong si student itu menatapku sambil berkata… Aduh mbak maaf kan saya, seharusnya saya memanggil mbak…. Tante!

Mendengar kata katanya, diriku merasa TUA sekali!!! 😂😂😂

Ex Rotterdam Schiedam Reunion

5 Agustus 2018

Hari keduapuluh dua

Mungkin tulisan basi dan tidak layak tayang😩, tapi sudah lah lupakan ketidaklayakan dan kebasian!

Meneruskan cerita hari hari saat liburan yang lalu, akhirnya sampai juga ke hari keduapuluh dua. Hari sabtu itu tgl 5 Agustus sehari setelah kami kembali ke Bandung dari Kuala Lumpur, jadwal ketemuan dengan para ‘ ex students PHD di Belanda’ dan diriku akhirnya terlaksana.

Kami janjian makan siang di mall trans beserta keluarga, heboh seperti dua tahun lalu. Dan walau pun aku datang tepat waktu ternyata teman teman yang lain sudah pada datang duluan, keren lho ga pake alesan macet.

Jadi begini, awal pertemananku dengan para student ini adalah dengan cara yang ajaib menurutku. Saat itu aku sedang berada di sebuah tram dengan si kembar yang baru berumur satu tahun. Aku berdiri sambil memegang kereta dorong si kembar, sementara di depan ku berdiri seorang perempuan muda. Wajahnya semakin sumringah saat mendengar aku berbicara bahasa Indonesia pada si kembar.

Wanita muda itu menyapa, kemudian bertanya akan sesuatu yang mustahil dia tau menurut ku, dia bertanya pada ku apakah aku pernah dirawat di rumah sakit Erasmus? Bertanya tentang si kembar disusul pertanyaan pertanyaan yang membuatku terbelalak namun aku Iya kan. Setelah dia yakin, bahwa aku orangnya kemudian dia memelukku.

Kemudian meluncur lah ceritanya, aku dikenal dia hampir satu tahun yang lalu, saat kasus sakitku jadi bagian penelitian di rumah sakit. Dia yg bekerja (penelitian) di salah satu labotarium di Erasmus termasuk orang yang meneliti kasus ku.

Aneh rasanya saat aku berkenalan namun menitikan air mata, saling bertukar nomor telephone dan berjanji akan saling berkomunikasi.

Beberapa bulan kemudian aku diundang ke rumah nya, merayakan ultah anaknya yang ternyata beda setengah tahun saja dengan si kembar, darisitulah aku mengenal sesama orang Indonesia yang tinggal di Belanda, para student! Ada empat keluarga yang kemudian menjadi dekat dengan kami. Tak hanya Luc saja yang nyaman tapi si kembar pun sangat antusias jika bertemu dengan mereka. Luc bilang ngobrol dengan mereka membuat dirinya menjadi lebih muda dan fresh, mereka orang orang muda yang menyenangkan.

Kini walau pun mereka semua telah kembali ke Bandung tapi pertemanan kami tak putus, ada memori indah yang selalu aku ingat tentang mereka. Tentang obrolan menjadi seorang ibu untuk yg pertama kali, memori saat nonton Harry Potter edisi terakhir dan saat itulah untuk pertama kalinya aku pergi ke bioskop di Belanda, pergi piknik, masak rame rame, naik kereta api, ke museum. Empat pasangan suami istri tersebut sama sama sekolah, super sibuk dengan penelitian mereka, masih harus mengurus anak pula.

Kini mereka satu persatu kembali pulang ke Bandung, ada di antara mereka yang bekerja di negara lain, dan saat kami liburan ke Indonesia pun mereka sedang mudik pula di Indonesia. Bagiku mereka tetap keluarga keluarga yang bersahaja yang aku kenal di Belanda, aku pernah melihat salah seorang di antara mereka di TV yang membuat ku bangga dan terharu. Aku juga melihat yang lainnya menerima penghargaan dari suatu badan dunia luar negeri untuk penelitian mengenai obat HIV. Aku juga melihat dua dari mereka saat sidang defense nya. Ikut mengharu biru dan berdoa. Bahkan Luc pun ikut menghadiri salah satu sidang mereka, saat tema yang di angkat berhubungan dengan pekerjaan Luc saat ini.

Pertemuan kami saat ini tak hanya di Indonesia saja, kadang mereka pun masih datang ke Belanda untuk keperluan pekerjaan mereka. Dan kami masih bisa tertawa bersama seperti dulu.

Sehari setelah Pertemuan tersebut, salah satu dari mereka memajang foto kami di medsos, mataku berair membawa tulisan yang menyertai foto tersebut.

Inilah yang dia tulis;

A strong friendship doesn’t need daily conversation,
Doesn’t always need togetherness,
as long as the relationship lives in the heart, true friend are never part.