Lotek di Hari Jumat Siang

Sejak aku kecil dulu, saat ayah pulang sholat jum’at beliau selalu membawa pulang lotek. Jadi menu di jumat siang adalah menu lotek. Eh siapa sangka, saat aku kerja di Bandung, bos ku punya kebiasaan yang sama dengan ayah ku, makan lotek sepulang sholat jum’at. (Oom Djoedjoen apa kabarnya? 😘)

Kini Sepertinya kebiasaan makan lotek di jumat siang akan menjadi kebiasaan baru kami di Belanda. Seperti hari ini, Cahaya datang pada ku sepulang sekolah, menanyakan makan siang apa yg aku siap kan hari ini, aku menawarkan tosti kesukaan nya, tapi dia melihat diriku yang tengah merebus ubi dan sayur sayuran. Bunda bikin gado gado? Tanyanya. Lotek, jawab ku. Dia bersorak girang, mendengar jawabanku. Walau dia harus menunggu sejam kemudian hingga lotek siap disantap, dia tetap antusias menemaniku di dapur selama proses pembuatan lotek.

Setelah lotek tersaji, kami bertiga menikmatinya dengan antusias di luar, dibawah sinar matahari yang bersinar mewah dan berlimpah.

Fijne weekend allemaal bersama orang terkasih ❤️❤️❤️❤️

Oh ya, bagi kalian yang belum kenal dengan lotek, makanan ini berasal dari jawa Barat, di Bandung hampir di tiap sudut ada😁. Ada dua jenis lotek, lotek mentah (sayurannya tanpa di masak lebih dahulu) dan ada lotek masak. Dibuat langsung di cobek besar, dibuat langsung bumbunya di cobek tersebut hingga sayurannya yang langsung di campur di cobek, karena fresh jadi terasa lebih nikmat. Oh ya ternyata buatnya gampang aja dan rasanya tak kalah dengan yang ada di Bandung. Pokoknya lotek jalan macan kalah deh!

Advertisements

Obrolan di minggu pagi

Sejak pertengahan bulan Januari 2019, kami sekeluarga punya ritual di minggu pagi dengan nonton serial TV Ninja Nanny di televisi. Serial ini menarik buat kami sekeluarga karena yang menjadi nanny disini diceritakan berasal dari Indonesia, dia menjadi nanny dari keluarga pesepak bola terkenal yang kaya raya. Sang nanny mengajarkan Pencak Silat pada anak tiri dari pesepak bola tersebut dan mereka berpakaian ninja jika sedang menjalankan aksinya.

Menarik buat kami, karena anak anak jadi tertarik untuk berbicara bahasa Indonesia denganku setelah me dengar beberapa adegan di seri tersebut yang kadang kadang menyelipkan kalimat berbahasa Indonesia.

Dari seri tersebut juga membuat obrolan panjang tentang suatu hal yang kami bahas setelah me nonton seri tersebut, misalnya saat Hunter memergoki teman sekolah nya yang seorang pendatang di Belanda saat mencuri sepatu. Dilemma dihadapi Hunter harus kah dia mengembalikan sepatu tersebut ke toko atau memberikan /menaruh di lokker teman sekelas nya itu yang memang membutuhkan sepatu tersebut.

Saat Hunter harus memilih apa yang harus di lakukan Hunter, Luc bertanya pada si kembar apa yang akan di lakukan si kembar menghadapi dilemma tersebut? Keduanya kompak menjawab bahwa mereka akan mengembalikan sepatu tersebut ke toko. Mereka sedikit kecewa saat melihat keputusan Hunter yang menaruh sepatu tersebut di lokker temannya tersebut. Si kembar nyaris berbarengan berkata bahwa Hunter malah membantu pencuri. Kemudian obrolan semakin berkembang, menurut si kembar seharusnya Hunter menaruh kembali sepatu tersebut ke toko dan suatu hari nanti dia seharusnya membeli sepatu tersebut dan memberikan atau menaruh nya di lokker temannya tersebut.

Dan tadi pagi saat kami sedang me nonton berita dan disana sedang membahas mengenai penembakan di mesjid di New Zealand saat shalat jumat tanggal 15 Maret kemarin. Sama dengan penduduk dunia lainnya kami pun berduka mendengar hal tersebut. Cahaya bertanya alasan apa yang membuat si penembak bisa melakukan itu semua?

Selagi aku berpikir untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang pantas di dengar anak usia 9 tahun, Luc dengan spontan menjawab pertanyaanan Cahaya dengan tanpa beban…. Yang aku tau alasan mereka adalah karena mereka tidak suka pada kaum pendatang (immigrants) dan Muslims…..

Kemudian Cahaya menimpali dengan cepat, tapi papa kau bilang bahwa penduduk New Zealand dan juga Australia adalah keseluruhannya adalah Immigrant? Menurutmu penduduk asli New Zealand adalah bangsa Maori? Jika mereka membenci immigrants hingga harus membunuhnya, bukan kah mereka pun harus membunuh dirinya sendiri karena mereka sendiri pun seorang pendatang?

Kemudian Cinta menimpali ucapan Cahaya. Seharusnya pembantai itu banyak membaca dulu sebelum bertindak, jika dia membenci suatu golongan karena suatu hal, dia harus tahu dulu apakah dia pun sebetulnya immigrants atau bukan. Lagi pula untuk alasan apapun membunuh adalah perbuatan yang keji. Apakah mereka tidak mempunyai otak?

Ah nak, mereka tidak punya hati nurani….

Dan obrolan di minggu pagi ini tak dapat aku ikuti lagi, airmataku mengalir dengan cukup deras, aku meninggalkan mereka bertiga di bawah yang masih berdiskusi mengenai alasan mengapa peneror tersebut melakukan semua itu.

Cireng

Kebiasaan kami bertiga setiap si kembar pulang sekolah adalah kami duduk bersama mengelilingi meja makan, barang 10 hingga 15 menit begitu mereka pulang sekolah. Biasanya kami makan cemilan, bisa apa saja. Buah buah2an, kue kue atau hanya minum teh saja. Setiap hari rabu dan jumat karena mereka sekolah setengah hari (sampe jam 12 siang) ritual makan bertiga tersebut terasa lebih special karena sajiannya lebih istimewa, bisa pizza, patat (kentang goreng) atau Indomie selera ku 😁.

Hari ini cemilan yg aku sajikan adalah cireng dan combro. Bikin dengan tergesa gesa saat menyadari tak ada kue yg dapat aku suguhkan saat mereka pulang nanti. Dengan sumringah mereka menciumku saat melihat dua makanan favoritnya tersaji.

Sambil menikmati cireng hingga merem melek, Cinta bertanya pada ku…
Bunda, bolehkan aku mentraktir cireng buat temen temen sekelas saat ulang tahun nanti?

😁

Schat, ik zoek een ander…

Di antara tiga pos yg kami terima hari kemarin, salah satunya adalah kartu super menghebohkan ini.

Di amplop kartu tersebut ditujukan pada penghuni rumah ini, aku tak menggubrisnya langsung meletakan di tempat biasa kami meletakan surat yg belum dibuka.

Saat Luc pulang kerja, dia langsung membuka surat surat untuknya. Kemudian aku yang sedang sibuk di dapur mendengar makian kekagetan dari suaranya. Aku melirik nya, dia tersipu saat tersadar aku tengah mengawasinya. Dia langsung tersenyum sambil berjalan ke arah tempat sampah kertas dan membuang kartu tersebut seraya bergumam…. Reklame sialan, ujarnya. Aku penasaran dan segera memungut apa yang baru dilempar Luc. Terbahak nya ring sesaat setelah membuka kartu tersebut.

Di bagian depan kartu tersebut bertuliskan…

Schat, ik zoek een ander…. (terjemahan bebasnya adalah, Sayang, aku mencari yang lain)

Sedangkan begitu aku buka lembar berikutnya adalah… HUIS!

Hahaha bukan mencari kekasih hati yang lain.😂

Ini adalah iklan spektakular yg nyaris bikin Luc jantung an 😜.

Luc you are always be my valentine every day every time, forever! 😁

Hand phone

Sudah hampir setahun ini si kembar terutama Cinta tergila gila dengan telepon genggam. Obsesi untuk memiliki telepon genggam kian menjadi setelah mereka pulang liburan dari Indonesia setengah tahun lalu. Disana oom dan tante dengan suka hati meminjamkan telepon mereka jika si kembar meminjamnya barang sesaat jika kami sedang tertimpa kemacetan. Aku dan Luc tak suka jika mereka bermain main dengan telepon genggam yang bukan milik kami, banyak resiko yang dapat terjadi, entah itu rusak, terjatuh atau memperlihatkan contoh yang kurang baik jika dilihat umum melihat anak kecil bermain main dengan telepon genggam.

Tanteku pernah berbicara secara hati hati padaku saat aku melihat si kembar bermain telepon genggam kepunyaan tanteku tanpa persetujuanku terlebih dahulu. Tanteku bilang mereka tidak bermain game atau memdownload seseatu melalui telepon genggam, mereka hanya berfoto ria alias selfie. Menurut tanteku, aku khawatir secara berlebihan. Bermain sesaat dengan barang yang tidak diperbolehkan olehku saat di rumah terutama saat liburan adalah hal yang wajar, menurut tanteku. Dan aku ada membenarkan pendapat tanteku tersebut.

Saat kembali ke sekolah, si kembar mengomporiku dengan cerita bahwa beberapa temannya sudah ada yang mempunyai telepon genggam kepunyaan sendiri, walaupun mereka juga berkata umumnya telepon genggam tersebut adalah telepon bekas orang tuanya dan tidak membawanya kesekolah. Melihat fenomena tersebut Cinta semakin gencar ‘merengek’ mengenai keinginannya mempunyai telepon genggam. Karena dia suka bernyanyi, saat dia meminjam telepon kepunyaanku dia selalu membuka youtube yang menampilkan penyanyi kesukaannya, dan dia suka ikut menyanyi. Bagiku aku tak keberatan dia meminjam teleponku untuk dipakai demi mengikuti nyanyian dan tarian.

Minggu yang lalu dia bermain di rumah tetangga, sepulang dari sana dia menceritakan bahwa mereka bermain tik tok, katanya mereka bernyayi dan membuat video melalui media tik tok. Terus terang aku tidak tahu banyak mengenai tik tok, hanya pernah mendengar samar samar saja. Karena Cinta meminta aku meng-install aplikasi tersebut, membuatku mencari tahu terlebih dahulu mengenai apa tik tok itu. Dari meng-gugel aku membaca bahwa pada tanggal 3 Juli 2018, Tik Tok mulai diblokir di Indonesia. Kemenkominfo telah melakukan pemantauan mengenai aplikasi ini selama sebulan dan mendapati akan banyak sekali masuknya laporan yang mengeluh tentang aplikasi ini. Menurut sang menteri banyak sekali konten negatif terutama sekali untuk anak-anak.

Aku membacakan laporan tersebut pada Cinta dan dia mulai mengerti, namun begitu aku berjanji akan membicarakannya dengan Luc, apakah dia memberi izin untuk bermain Tik Tok atau tidak. Saat aku berbicara dengan Luc dia langsung berkata bahwa Tik tok bukan untuk anak sesusia si kembar, karena aplikasi tersebut adalah termasuk jejaring media sosial. Si kembar masih dibawah umur.

Kecewalah Cinta saat dia tahu bahwa dia tak boleh lagi having fun bersama temannya yang setahun lebih tua dari usia si kembar untuk bertik tok tanpa pengawasan orang tua. Namun begitu keinginan untuk mempunyai telepon masih tetap menyala, berkali kali dia memastikan padaku bahwa dia akan mendapatkan telepon genggam jika dia masuk middelbare school (SMP) nanti. Aku berkata bahwa aku tidak menjanjikan demikian, aku akan membelikan dia telepon genggam jika memang perlu (harus) dan sudah cukup usia. Dari kata kataku tersebut Cinta mulai ketakutan bahwa jika dia duduk di meddelbare dia tidak mempunyai telepon. Ujarnya…. nanti teman teman akan membully ku bunda…. nanti aku akan jadi mahluk aneh di kelas bunda….. Dan alasan alasan lainnya yang menurutku lucu dan mengenaskan.

Mulailah dia mencari solusi lain, dia memintaku untuk memberinya uang saku, dia menawarkan untuk membantuku mengerjakan pekerjaan rumah dan meminta upah padaku, bahkan dia meminta hadiah ulang tahunnya kelak (yang masih setengah tahun lagi) berupa uang. Dia bertekad akan menabungnya hingga cukup dibelikan telepon gengganm saat dia duduk di SMP nanti. Mengenai tekadnya tersebut, aku dan Luc harus mendudukannya untuk mengajaknya berbicara serius mengenai hal tersebut.

Dengan lemah lembut dan sabar aku dan Luc memberikan pengertian pada Cinta bahwa tak usah khawatir mengenai telepon genggam, Middelbare masih beberapa tahun lalu, mungkin disaat dia dududk di meddelbare nanti telepon genggam sudah tergantikan dengan teknologi yang lebih canggih. Dia tak usah khawatir dia tak mendapatkan sesuatu yang dibutuhkannya nanti, kami selaku orang tua akan memberikan yang terbaik selama itu perlu dan telah sesuai dengan usianya. Adil adalah bukan penyama rataan dengan yang lain tapi susuai dengan kebutuhannya.

Aku rasa dia mengerti…..

Hingga kemarin sore, dia berlari lari menghampiriku sepulang sekolah. Mencium pipiku seperti biasanya dan dia terburu buru mengeluarkan sesuatu dari tas nya…..

Sebuah telepon genggam terbuat dari kertas karton yang dia warnai dengan cantik.

Kini aku telah punya telepon genggam bunda….. Aku membuatnya di sekolah saat istirahat tadi siang. Kau tak usah khawatir lagi aku selalu merengek. Ujarnya.

Aku memandang maha karya indah itu dengan haru. Dan mencium Cinta berkali kali.

Ngopi bareng Polisi – Koffie met een Cop

Akhirnya hari ini terwujud sudah keinginan untuk ngopi bareng Polisi.

Begini ceritanya, beberapa waktu lalu setelah pindah ke rumah baru, secara tak sengaja aku baca pengumuman bahwa setiap rabu terakhir di tiap bulan, penduduk sekitar bisa ngopi bareng di McDonald’s.

Disitu kami bisa bertanya apapun yang berhubungan dengan polisi. Karena rumah kami berhadapan dengan mac Donald, maka hari ini aku mengajak si kembar untuk pergi kesana sebelum si kembar les bernyanyi.

Begitu tau kami akan ke McDonald’s si kembar menolak makan siang di rumah, mereka rela menahan lapar hingga pukul dua untuk bisa makan disana, aku sudah menghitung waktu bahwa kami akan duduk disana kurang lebih 50 menit untuk kemudian langsung ke tempat les dan tiba disana pukul 3 tepat.

Saat tiba disana, sudah ada seorang polisi dan seorang polwan yang tengah bercengkrama dengan sepasang oma dan opa. Kami ikut bergabung. Betul betul santai suasananya. Cinta sibuk mengunyah satu dus ayam nugget berisi 20 buah. Sementara Cahaya hanya memesan burger keju saja. Polisi terkaget kaget melihat Cinta yang terlihat kelaparan.

Aku hanya memesan satu cup kopi saja yang langsung ditawari untuk memcicipi kue yang telah tersedia di meja.

Polisi menanyakan keadaan si kembar di sekolah, mereka bergantian menjawab dengan antusias. Kami mengobrol tentang keadaan di sekitar rumah kami. Apakah kami terganggu dengan kendaraan di jalan besar di depan rumah kami. Aku menjawab bahwa kami justru terganggu dengan wangi kentang goreng yang keluar dari McDonald’s sehingga menimbulkan selera untuk datang kemari.

Saat kami mengobrol, datang keluarga dari salah seorang polisi, istri bersama kedua anaknya. Dari mereka kami tau bahwa biasanya anak anak bisa langsung meminta kentang goreng sementara orang tuanya memesan koffie. Katanya gratis. Aku menolaknya dan berkata bahwa si kembar sudah cukup memesan makanannya. Ternyata setelah makanan mereka habis, si kembar masih melirik kue yang ada dihadapannya, sehingga aku mengijinkan mereka untuk mengambilnya.

Saat kami pamit, polisi tersebut berkata bahwa mereka akan melirik rumah kami jiga kebetulan sedang patroli di sekitar sini, sambil bertanya apakah mereka boleh mampir untuk mencicipi nasi goreng buatanku. Saat kami mengobrol si kembar berkata bahwa makanan favoritnya adalah nasi goreng buatanku!

Pengalaman hari ini langsung aku tulis saat menunggu si kembar les nyanyi.

Green Book

Awal tahun baru ini setidaknya diawali dengan tontonan film  yang mengesankan. Kemarin setelah hari yang melelahkan, sebelum pergi tidur aku masih sempat nonton film Green Book.

Ini film bagus banget menurutku. Film yang menceritakan tentang seorang pianis yang berdarah Afrika- Amerika yang akan mengadakan tur selama dua bulan di tahun 1962 di daerah Selatan Amerika yang pada saat itu masih racist. Don Shirley (pianist) menyewa Tony ‘Lip’  seorang supir merangkap body guard untuk membawanya melalui tur tersebut.

Perbedaan kelas antara Don dan Tony diperlihatkan dengan manis dalam film ini, dan aku dapat melihat humor berkelas disini. Don yang kaya, berpendidikan, rapi dan sopan harus berhadapan dengan Tony yang dibesarkan dari kelas menengah kebawah, dan berkelakuan seenaknya. Hubungan antara bos dan pekerja menjadi kontras karena tidak pas dimasa itu, karena perbedaan warna kulit. Hal yang aneh karena orang kulit putih lah yang menjadi jongos dan kulit hitam menjadi bos nya. Pada masa itu terutama di daerah Selatan hal tersebut adalah hal yang tidak wajar.

Setiap percakapan antara Don dan Tony adalah hal penuh makna yang dapat aku petik sepanjang menonton film ini. Perdebatan diantara mereka menjadi perenunganku setelah  selesai melihat film ini. Ada kata kata Tony yang menyentuh jiwaku, bahwa dia tau siapa dirinya, bahwa dia tau tujuan hidupnya untuk apa. Mendengar penjelasan Tony mengenai tujuan hidupnya, menurutku adalah sesuatu yang benar adanya. Aku tak akan menceritakan apa isi percakapan itu disini, tontonlah  filmnya.

Film ini pada akhirnya menceritakan mengenai freindship, ketulusan, pengabdian dan kasih sayang. Aku berharap film ini bisa dinominasikan sebagai pemenang Oscar, soalnya bagus banget sih!