Pengungsi – Vluchtelingen

Tulisan ini sebenarnya hanya curahan hatiku saja, bisa dibilang aku dan Luc tak berdiskusi mengenai masalah ini yang tengah jadi sorotan dunia, tentang pengungsi Syria. Awalnya karena seorang kawan SMA bertanya basa basi padaku musim apa di Belanda saat ini. Dan aku jawab musim vluchtelingen alias musim pengungsi. Aku tau bukan itu maksud pertanyaannya, tapi kan jawaban bisa apa saja, jika aku jawab musim gugur tentu saja dia sudah tau, tak perlu bertanya tentang musim kan karena dia tau ada empat musim disini dan dia tinggal berpikir musim apa sekarang. Atau mungkin saja dia bertanya tentang musim buah? Aha bisa saja.

Tapi kembali pada jawabanku padanya, aku tak menyangka dia akan membalas balik tulisanku, katanya tolong bantu mereka Yang, sebagai sesama muslim. Ahhh tentu bukan maksudnya meneruskan kalimat itu, dan tentu saja akan terlihat tolol kalau aku mengoreksi perkataannya dengan menjawab balik, jadi kalau bukan muslim tak perlu di tolong?

Tentang pengungsi yang hampir tiap hari memenuhi berita disini (tapi tetap dalam porsi yang wajar) aku hampir menutup rasa dalam segalanya, tak bersuara, tak ikut berkomentar, semuanya ditelan sendiri, ada dalam pikiranku saja. Pada saat pengungsi yang mulai berdatangan di Jerman, memukul mukul pagar besi agar diperbolehkan masuk, menolak makanan yang diberikan para relawan yang didatangkan atau dibeli dari perusahaan besar yang bernama mirip tokoh kartun bebek (dengan alasan haram), mengenai ribuan pengungsi yang berjalan di jalan rel kereta api, berjalan menyusuri sungai, atau mengenai ribuan pengungsi yang disambut dengan nyanyian di suatu tempat namun ditempat lainnya ditolak dan disuruh kembali, tentang para petinggi pemerintahan dan politik di  Eropa yang berkumpul demi memecahkan persoalan pengungsi ini. Semua persoalan selalu ada pro dan kontra, begitu pula tentang vluchtelingen.

Sore tadi kami duduk seperti biasanya pukul enam sore, berita yang derdurasi satu jam tersebut dan hanya memuat berita inti selama lima belas menit, setelah lima belas menit membahas lebih dalam tentang pengungsi ini. Relawan  yang berasal dari Belanda berada di lokasi kejadian di suatu pulau di negara Yunani. Dari Turki mereka harus menyebrang ke Yunani, mereka menggunakan kapal laut dan biasanya mereka menyebrang di malam hari untuk menuju Yunani. Saat ini setiap hari sebanyak kurang lebih 2000 orang menyebrang dari Turki ke Yunani. Dua ribu orang setiap hari!  Setelah berhasil melewati Yunani mereka menyebar ke berbagai negara di Eropa dan negara yang paling banyak di tuju para pengungsi tersebut adalah negara Jerman.

Aku tertegun melihat semua itu, anak anak yang menangis histeris di kapal sekoci setelah berpindah dari kapal besar. Di udara dingin di musim gugur, mereka yang kelelahan dan menangis, berteriak teriak histeris karena ibunya masih berada di kapal besar. Wawancara relawan yang bercerita bahwa pengungsi ini (atau pengelundup? smokkelaars) membayar ribuan euro untuk bisa jadi seperti ini, pengungsi yang kedinginan dan sengsara, menempuh perjalanan yang panjang, setelah berhasil berada di negara Yunani dengan cara apa mereka akan mencapai negara yang mereka inginkan? Tanpa pesawat, kereta, atau pun mobil. Hanya jalan kaki?   Ditengah cuaca seperti ini?

Apa jawaban dari seorang pengungsi yang kebetulan menjawab pertanyaan reporter? Aku ingin tempat yang aman? Apakah Turki bukan negara yang aman? Kenapa mengambil resiko yang begitu besar dengan menyebrangi lautan di malam hari demi mencapai negara lain? Aku ingin tempat yang baik untuk anakku, agar mereka bisa bersekolah dengan baik. Begitu jawaban seorang ibu.

Aahhhhh benua Eropa, dimana banyak negara maju disana,  negara dengan sejuta harapan bagi mereka yang berada di negara konflik berkepanjangan.

Dan bagaimana pendapat dari negara yang didatangi dari para pengungsi tersebut? Tak banyak dari mereka yang secara lantang mengemukakan pendapatnya padaku. Oh ya tentu saja karena aku tak bertanya. Orang Belanda yang aku kenal secara kebetulan membantu para pengungsi agar diperlakukan layak disini. Secara kebetulan pula beberapa orang Indonesia yang aku kenal mengemukakan kekesalannya pada para pendatang yang berbondong bondang tersebut. Mulai dari pajak yang semakin tinggi untuk membantu para pengungsi itu, lapangan pekerjaan yang semakin sulit, kekacauan yang terjadi karena kedatangan mereka dan keluhan lainnya.

Melihat semua itu aku semakin bingung, tak banyak yang bisa aku bagi atau tanyakan karena pengetahuanku tentang semua ini sangat terbatas, aku kebingungan untuk mengemukakan pendapatku sendiri, bahkan hanya untuk mengemukakan apakan aku senang atau benci dengan kedatangan mereka, solusi apa yang sebaiknya dilakukan? Juga untuk menjawab pertanyaan segelintir pertanyaan dari mereka yang berada di negaraku tercinta, mengenai mengapa negara negara di Eropa itu kelihatannya tak membantu dengan baik para pengungsi tersebut? Walau aku ingin menjawab, jangan lah menuduh sebelum tahu apa yang sebanarnya kami lakukan. Untuk itupun aku tak mengemukakan pendapatku.

Hanya ada kesedihan, itupun tak mampu aku perlihatkan. Hanya tanya mengapa semua ini dapat terjadi. Apa penyebabnya? Kekuasaan? Keserakahan? Ego yang besar? Jika kamu berbeda denganku maka kamu harus binasa? Suku ku lebih baik dari sukumu?

Mengapa tak juga belajar bahwa kita memang berbeda? Dan untuk hidup damai kuncinya adalah memahami semua perbedaan.

Temjpat pengungsian di kota Appeldorn Belanda. Setiap kotak berisi 8 tempat tidur untuk 8 orang

Temjpat pengungsian di kota Appeldorn Belanda. Setiap kotak berisi 8 tempat tidur untuk 8 orang. Sumber gambar TROUW

Sambutan dari warga Belanda saat pengungsi memasuki negara Belanda

Sambutan dari warga Belanda saat pengungsi memasuki negara Belanda. Membludaknya pengungsi yang datang telah menghabiskan biaya satu miljaard euro,  sumber Metro.nl

Pengungsi Syria. Sumber gambar. vn.nl

Pengungsi Syria.
Sumber gambar. vn.nl

dvhn.nl 1500 pengungsi di Noodopvang Amsterdam

dvhn.nl
1500 pengungsi di Noodopvang Amsterdam

NB. Buat para penanya, apa yang telah kami (orang Belanda) bantu untuk para pengungsi? Mungkin gambar gambar ini sebagian bisa mewakili. Kebanyakan dari mereka (walau tentu saja ada sebagian) tidak terlalu berpikiran bahwa vluchtelingen negatif, mereka bisa menerima kedatangan mereka. Warna kulit mereka berbeda, dan atau (mungkin) kepercayaan merekapun  berbeda. Mereka tetap menerima pengungsi menjejali negaranya yang mungil ini. Rela hasil kerja kerasnya (pajak) diserahkan pada para pendatang yang menerima tunjungan dari pemerintah Belanda. Jika negara negara di Eropa tak memiliki nurani atau dianggap tak becus dalam menyikapi persoalan pengungsi ini seperti celutukan seorang kawan di negaraku tercinta, tentunya mereka para vluchtelingen sudah ditolak dari negara negara di Eropa.

Advertisements

Merayakan Ulang Tahun

Bisa dibilang aku adalah orang Indonesia yang menikah dengan orang Belanda tapi tidak termasuk pada lingkaran pergaulan orang Belanda.

Jika kenalan yang lain bisa dengan mudahnya masuk ke pergaulan orang orang Belanda, menurut mereka awalnya dari lingkungan keluarga suami. Mereka biasa rutin bertemu entah weekend atau pada saat anggota keluarga lainnya berulang tahun atau hanya acara natal dan tahun baru. Dari acara acara tersebut mereka berkenalan dan ada diantara kenalan ku yang mendapatkan sahabat. Datang ke berbagai acara sama sama, mengasuh anak sama sama atau soal titip tipan anak, bahkan mendapat pekerjaan pun karena informasi dari mereka.

Tapi tidak denganku, aku seorang diri disini, begitupun Luc. Dan kami berdua termasuk orang yang susah berada di keramaian, bisa dibilang susah bergaul. Tahun pertama disini aku hanya mengenal dua keluarga dari temannya Luc saja, itu pun persahabatan mereka telah terjalin dari usia belasan. Sedangkan dari pihakku aku hanya mengenal seorang teman yang datang ke Belanda hampir pada saat yang bersamaan, kami berdua mempunyai guru privat bahasa Belanda yang sama saat kami masih di Indonesia.

Barulah setelah hampir tujuh tahun aku tinggal disini aku meminta izin pada Luc untuk merayakan ulang tahunku bersama orang orang yang dari pertama kali aku ke Belanda mengenal mereka, dan mereka selalu ada untuk kami. Bukan, bukan kami selalu bertemu dalam frekuensi tertentu atau sering telepon, tapi kami selalu saling mengabarkan dan selalu ada di hati walau jarang bertemu. Mungkin istilah yang pertama sulit dilupakan benar adanya, namun sebenarnya karena aku lebih menjaga teman yang sudah ada aripada mencari yang baru.

Luc terkaget kaget saat aku mulai mengumumkan siapa saja yan ingin aku undang. Luc keberatan karena rumah kami kecil dan kami tak terbiasa mengundang banyak orang. Aku mengusulkan dua kali ulang tahun, tapi Luc menolaknya dia tak mau cape dua hari berturut turut.

Ulang tahun akan dirayakan tepat di hari H-nya tanggal 10 Oktober. Email dan whats aap aku kirim. Akan menjadi pertemuan Barat dan Timur. Karena tiga keluarga asli Indonesia (suami istri orang Indonesia), tiga keluarga asli Belanda dan tiga keluarga mix (aku berada diantara keluarga mix tersebut).

Luc sibuk menghitung kursi sementara aku sibuk berpikir masakan apa yang akan aku masak. Aku tak membatasi waktu pada semuanya, jam berapapun mereka bisa, kami welcome. Ini dimaksudkan agar tamu bisa datang silih berganti sehingga rumah tak terlalu penuh. Tiga keluarga menginformasikan akan datang sekitar pukul 2 siang, tiga keluarga akan datang pukul empat sore dan sisanya datang pukul 6 sore.

Hari H pun tiba, tradisi terima kado di temapat tidur dari Luc dan anak anak tetap dilakukan, awalnya aku bersikeras loncat saja dari tempat tidur mengingat berbagai macam olahan yang harus aku kerjakan di dapur, tapi Luc mencegahnya dan menyuruhku tetap di tempat tidur, sementara dia di bawah sibuk dengan anak anak menyiapkan sarapan di bawah. Sarapan naik ke atas ke kamarku diiringi Cinta Cahaya yang menyanyikan lagu ulang tahun, di tangan mereka aku mendapatkan ‘maha karya’ yang indah berupa gambar hasil karya mereka. dari Luc aku mendapatkan bantal untuk menambah tinggi tubuhku jika aku sedang menyetir dan sebuah kamera.

Pukul duabelas siang Luc harus mengantarkan Cinta dan Cahaya ke pesta ulang tahun teman sekelasnya disebuah tempat hiburan dan menjemputnya kembali pukul tiga siang. Dan kehebohanpun dimulai. Tamu pertama datang saat aku belum menyiapkan tumpeng seperti cita citaku sebelumnya. Tampah yang aku beli beberapa tahun lalu di pasar malam dan belum pernah aku gunakan, raib ditelan bumi saat aku mencarinya kesana kemari. Temanku terheran heran saat aku ingin membuat tumpeng tapi tak tau tampahnya entah dimana, mendadak? Ya, jawabku cengar cengir, biar masih hangat nasinya, belaku.

Dan benar saja rice cooker yang berisi nasi berwarna kuning yang aku beri santan dan bumbu bumbu lainnya lampunya berpindah menjadi kuning, pertanda telah selesai dimasak. Ayo makan siang seruku! Lauk tumpeng telah tersedia di meja makan. Temanku trenyuh melihatku, dan mencari akal untuk membantuku membuat tumpeng, aku menyodorkan wadah lebar yang awalnya untuk menata sandwich, potongan keju, worst dan cemilan cemilan ala Barat lainnya. Sandra dan keluarga yang tinggal di kota Mepel datang tepat pukul dua saat kami heboh di dapur dan ikut nimbrung dalam proses pencetakan tumpeng yang berubah menjadi bentuk hati, tumpeng yang tidak mancung lagi….

Sandra gembira melihat aneka macam kue kue yang jika di Indonesia dikenal dengan kue jajanan pasar, lebih terbelalak lagi saat Hani temanku membawa nasi tumpeng hati yang pinggirnya telah ditaburi lauk seadanya dari dapur ke ruang tengah. Tak ada hiasan dari timun, wortel atau salada seperti halnya tumpeng lainnya. Tumpeng hati yang dibuat dalam hitungan menit saja.

Semua bergembira, kami mengobrol dan Luc harus segera menjemput Cinta dan Cahaya. Mereka kembali ke rumah diiringi tamu lainnya yang berencana datang pukul empat sore, tiga keluarga muncul hampir secara bersamaan, satu dari Belgia, satu dari Denhaag dan satunya dari Ridderkerk. Ramai, seru, biasanya aku tak berkutik tak bisa mengajak ngobrol mereka satu satu, tapi kali ini semuanya berbaur, aku bisa duduk tenang dan ikut ngobrol sementara Sandra atau yang lainnya menanyakan pada para tamu lainnya ingin minum apa atau ingin dibawakan apa dari meja. Saling menawarkan makan dan minuman. Hanya tugas Luc yang tak dapat digantikan, barista penjaga mesin kopi, hanya dia yang bisa cepat menyediakan cappucinno.

Perayaan ulang tahun sederhana yang betul betul menyatu satu sama lainnya bisa dibilang sukses, kami semua larut dalam kegembiraan. Sajian baso,siomay, soto ayam, tumpeng dan teman temannya memuaskan mereka yang hadir. Bahkan es buah campur pun tak kalah menjadi primadona. Semua masakan dan kue kue aku semua yang membuat. Good job Yayang! Kata mereka. Dan tentu saja kebiasaan orang Indonesia yang selalu menawarkan makanan untuk dibawa pulang berlaku pula padaku, sebagain tamu mau membawa pulang makanan. Bahkan saat Paul menjinjing beraneka macam kue pasar buatanku, dia bergumam sambil memelukku….aahhhhhhh atmosfir ini yang aku rindukan dari Afrika Selatan. Paul dan Anne menghabiskan masa kecil mereka di Afrika Selatan. Dan party pun berakhir pada pukul sebelas malam.

Selamat ulang tahun Yang, semoga selalu sehat dan bahagia! Terimakasih buat semua teman dan keluargaku di Holland yang telah datang pada hari itu, semua yang aku undang semuanya datang.

Kue Jajana pasar. Lumpia, pastel, dadar gulung, lapis legit, ketan serundeng

Kue Jajana pasar.
Lumpia, pastel, dadar gulung, lapis legit, ketan serundeng

Yeahhhhhhh 6 years old! Ketauan ga modal pake lilin bekas Cinta Cahaya :)

Yeahhhhhhh 6 years old!
Ketauan ga modal pake lilin bekas Cinta Cahaya 🙂

DSC00045DSC00064DSC00051DSC00038DSC00035

Paul and Luc

Paul and Luc

Nasi tumpeng jadi jadian

Nasi tumpeng jadi jadian

Es buah

Es buah

Rainbouw cake yang sukses berat, karena rasanya yang enak.  Aku membuat dua kue taart, Cinta dan Cahaya yang menghias kue taar ini

Rainbouw cake yang sukses berat, karena rasanya yang enak.
Aku membuat dua kue taart, Cinta dan Cahaya yang menghias kue taar ini

Diantara tamu yang hadir

Diantara tamu yang hadir

FB_IMG_1444996539047[1]FB_IMG_1444996522954[1]

Bu, tolong singkirkan HPnya!

Kira kira seperti itu kata kata seorang sopir bis tadi pagi pada seorang ibu muda yang tengah asyik dengan telepon genggamnya di sebuah bis nomor 32 jurusan Station Zuid Rotterdam.

Pukul 9 pagi aku sudah berada di sebuah bis yang akan membawaku ke perpustakaan pusat di Rotterdam. Di sebuah bis halte seorang ibu yang menggendong bayi kira kira umur satu tahun masuk ke bis. Dan mengambil tempat duduk tepat di depanku. Si ibu tetap berdiri sementara bayinya di dudukan di kursi. Bis melaju dan si ibu tetap fokus pada telepon genggamnya.

Di halte berikutnya bis berhenti dan sang supir memanggil si ibu yang sedang sibuk dengan HPnya. Si ibu datang ke arah supir, singkat cerita si supir meminta si ibu menyingkirkan HPnya, kata katanya kira kira seperti ini, apakah Hp lebih penting dari bayimu?

Si ibu meradang dan kembali ke kursi dimana bayinya ditinggalkan, sambil berkata jangan banyak omong Pak, ini bukan urusanmu, ayo mengemudi saja. Aha kontan saja sang supir semakin marah mendengar jawaban seperti itu. Keselamatan penumpang tanggung jawab saya, kalau kamu gak mau menyingkirkan HPmu, turun dari bis ini! Ucapnya sambil membuka pintu bis

Dan si ibupun tak berkutik. Dengan bersungut sungut si ibu memasukan HP pada tasnya.

Pemandangan orang memegang telepon genggam memang bukan sesuatu yang aneh. Rasanya jaman kini kebanyakan orang makin tergantung pada telepon genggam. Seperti halnya diriku.

Tujuh tahun yang lalu, saat aku masih tinggal di Indonesia, telepon genggam lebih banyak digunakan buat sms an dengan teman teman. Di awal kepindahanku ke Belanda hingga dua tahun lalu, aku tak tergantung pada telepon genggam. Tak banyak komunikasi dengan teman atau keluarga melalui telepon, komunikasi lebih banyak melalui facebook, messenger, yahoo atau skype. Semuanya melalui computer yang tak pernah dimatikan selama 24 jam perhari. Computer baru dimatikan jika kami pergi lebih dari satu minggu lamanya.

Nah barulah kira kira dua tahun yang lalu, aku mulai tergantung kembali pada telepon genggam setelah adanya whats App, apalagi setelah bermunculan grup Whats App teman SD, SMA dan kuliah, belum lagi grup keluarga di Indonesia dan teman teman disini. Telepon genggam juga semakin melekat erat karena kini acces internet lebih mudah ditemukan dimana mana, jadi pesan baju, pesan makanan atau apapun yang dulu aku lakukan melalui computer duduk, kini bisa aku lakukan melalu telepon genggam.

Pertanyaannya, adakah manusia jaman kini di negara maju yang tidak tergantung pada telepon genggam? Tentu saja ada, salah satunya adalah teman sekasurku, alias sang suami.

Awal pacaran dulu, aku masih ada di Indonesia, dia sudah enggan ber-sms denganku, apa apa mesti melalui email atau messenger. Katanya telepon genggam yang dia punya adalah kepunyaan kantor, kantor memberinya inventaris telepon genggam karena dia tak punya, dan sialnya jika dia sms atau telepon pada diriku yang ada di Indonesia maka dia harus bayar sendiri. Rugi katanya. Dan menurutnya dia tak suka sama sekali pada telepon genggam, ribet.

Satu hari setelah aku berada di Belanda, Luc membelikanku telepon genggam merk Nokia sesuai permintaanku dengan model terbaru kala itu, sementara Luc tetap menggunakan telepon genggam inventaris kantor yang jadul sekali. Sebulan kemudian Luc tak bekerja lagi di perusahaan tersebut dan dia terbebas dari telepon genggam. Hingga anak anak berusia tiga tahun dan masuk kinderopvang atau penitipan anak, pengurus kinderopvang meminta nomor telepon dari kedua orang tua. Maka terpaksalah Luc membeli HP.

Apakah setelah itu dia tergantung pada telepon genggam? Tidak sama sekali. Malah akhir akhir ini kian menyebalkan dan membuatku jengkel. Bukan, bukan karena dia anteng dengan telpon genggamnya melainkan karena sama sekali tak mengindahkan telepon nya sama sekali.

Beberapa kejadian menyebalkan terjadi pada diriku gara gara telepon genggamnya tak tak diindahkan. Suatu hari aku dan anak anak pergi ke mushola, seperti biasanya Luc mengantarkan kami dan pulangnya dia akan menjemput kami setelah aku menelepon ke rumah dan minta dijemput. Tapi hari itu aku tak bisa menghubungi telepon rumah, ada nada sibuk disebrang sana, dan itu berlangsung lama sekali. Tak mungkin Luc menggunakan telepon selama itu, sepertinya telepon rumah rusak. Kemudian aku menelepon ke HP Luc tapi tidak tersambung alias HP nya mati. Pukul 10 malam mushola tutup, seorang teman menawarkan untuk mengantar kami pulang, tapi karena arah rumahnya berlawanan dengan rumahku, aku menolaknya dan lebih memilih ikut di rumah teman yang dekat mushola berharap Luc ingat padaku dan mencari cara menghubungiku. Dan dia baru menghubungi pukul 12 malam, setelah panik kenapa aku belum menelepon juga. Astaga!!!

Dan kejadian seperti itu  tidak hanya sekali, beberapa kejadian yang membuatku naik darah, janjian dia menjemputku di centrum sepulang dari kantor, eh begitu dia sampai centrum dia harus pulang dulu ke rumah karena menyadari teleponnya tak ada baterainya sehingga tak dapat menghubungiku, atau saat dia menjemputku di station, aku harus mencarinya di tempat parkir karena HPnya mati. Kini jika kami janjian di suatu tempat aku harus mengingatkannya agar dia membawa HP atau memeriksa baterainya.

Richard adalah orang kedua yang aku kenal yang tidak tergantung pada telepon genggam. Sahabat Luc sejak umur 14 tahun itu dan hampir setiap selasa malam datang ke rumah kami untuk menonton film itu  sama sekali tak mengindahkan HPnya, telepon berdering dering dia tak mengangkatnya. Dulu aku sebal sekali melihat kelakuannya, pernah suatu waktu aku menyuruhnya membuang HP karena mengganggu sekali. Dia datang ke rumah kami, mengeluarkan semua benda bendai dari saku celananya di meja, ada HP, kunci mobil dan kunci lainnya. dan HP tersebut sering bergetar dan dia sama sekali tak pernah menjamahnya. Dia hanya menggumam pasti hanya urusan kantor dari anak buahnya yang jaga malam. Seperti halnya Luc, Richard juga seorang programmer bahkan mereka saling kenal di sebuah grup computer saat mereka masih berusia belasan, grup orang orang Nerd, kata Luc. Hahaha

Pernah suatu saat aku bilang padanya, kenapa bawa HP kalau tidak pernah menjawab panggilan yang masuk? Dan jawabnya, sudah tau aku tak pernah angkat telepon dari kantor masih juga menghubungiku. Ya Tuhan.

Nah di jaman sekarang adakah diantara kalian yang tak tergantung pada telepon genggam, membiarkan telepon yang masuk atau membawa HP tapi HPnya mati? Atau apakah kalian golongan yang tergantung pada telepon genggam hingga kena bentak, seperti si ibu muda di dalam bis tadi pagi?

Posisi bayi yang didudukan di sebelah (orang yang sedang duduk) sementara ibunya berdiri disamping sia anak sambil asyik dengan HPnya

Posisi bayi yang didudukan di sebelah (orang yang sedang duduk) sementara ibunya berdiri disamping sia anak sambil asyik dengan HPnya. (ini hanya contoh di dalam bis, posisinya seperti yang aku gambarkan)

Drama Lapis Legit

Akhirnya aku memantapkan diri membuat kue lapis legit di hari senin dua hari yang lalu setelah seminggu sebelumnya bertanya pada temanku yang sukses membuat kue lapis legit untuk pertama kalinya.

Dan di hari senin itu aku mempersiapkan semua bahan bahannya, saat di supermarket bumbu spekuk tidak aku temukan walaupun telah bertanya pada orang yang bekerja di supermarket tersebut. Tak kehabisan akal aku mengirim email pada suamiku minta dibelikan bumbu spekuk seperti yang tertulis di resep.

Tapi apa sih bahasa Belandanya bumbu spekoek? Tak berpikir panjang aku menulis pada Luc aku minta dibelikan spekkoek ingredient. Aku menulis aku hanya butuh itu yang lainnya aku sudah beli.Luc membalas bahwa spekkoek ingredienten adalah sebagai berikut: adas, kapulaga, kayu manis, cengkeh, pala, gula vanila dan gula merah. Kemudian kami saling berbalas pantun, aku akhirnya searching di google apa sih bumbu spekoek itu? Akhirnya ditemukan botol kecil bertuliskan koek en speculaas di di bagian bumbu dapur di supermarket. Ya ampun pantasen saja aku tak menemukan di bagian taart alias perkuehan karena bumbu spekoek ada di bagian bumbu dapur. Segera dong aku kirim gambar yang aku butuhkan pada Luc. Selesai, aku segera mengerjakan pekerjaan lain tak memantau email yang masuk dari Luc, toh aku sudah menjelaskan pada Luc bahwa aku akan membuat kue lapis legit ala Indonesia China, bukan kue spekuk ala Belanda yang banyak bumbu bumbu aneh nya.

Luc datang ke rumah dengan bahagia dan memperlihatkan tas besar belanjaannya, semuanya spekkoek ingredienten katanya sambil menyerahkan kantung kresek padaku. Aku mengeluarkan belanjaannya, ada telur, tepung terigu, brown suiker alias gula merah, gula vanila dan bumbu bumbu spekkuk ala Belanda. Ini dia,
IMG_20151007_103349757[1]

Dan drama pun segera dimulai, rasanya aku pengen marah, tidak cukup jelaskah emailku aku hanya butuh koek en speculaas? Untuk apa dia membeli bumbu yang sudah aku punya di dapur? Aku sedikit emosi sambil berkata padanya tidakkah kau melihat emailku? Aku mengirimkan gambarnya, dan bukan bumbu bumbu tersebut! Tak kalah sengitnya Luc menjawab bahwa dia mengirim email terakhir yang menyebutkan bahwa dia tetap akan membeli bumbu bumbu yang dia lihat di internet dan aku bisa memutuskan bumbu apa yang aku pakai, karena dia tetap berpaktokan bahwa membuat kue spekoek harus menggunakan bumbu tersebut. Emosi ku susut saat aku melihat telepon dan aku belum membuka email terakhir Luc.

Ah maafkan aku, Luc sudah membelikan apa yang aku minta dan aku tak menghargai usahanya.

Karena menurut tips yang aku baca di internet bahwa membuat kue lapis dibutuhkan kesabaran dan ketenangan, jadi aku memutuskan membuat kue setelah anak anak naik tempat tidur pukul 8 malam. Empat puluh  butir telur aku pecahkan, dipisahkan antara putih dan kuning. Setiap lima butir putih telur aku masukkan ke kantung plastik kecil, agar memudahkan jika nanti memerlukan putih telur untuk membuat spone cake atau rainbow cake yang hanya menggunakan putih telur tanpa kuning telur.

Perlima butir putih telur dimasukan pada satu kantung plastik

Perlima butir putih telur dimasukan pada satu kantung plastik

Tepat pukul sembilan malam, aku sudah bisa memulai proses pembakaran. Satu lapisan sudah berada di oven, saat lima menit berlalu aku segera mengecek pembakaran lapisan pertama, tapi kok masih putih malah adonan baru mulai mencair tak sesuai dengan resep yang aku baca yang hanya menyebutkan kira kira lima menit saja untuk setiap lapisan. Maka aku tambahkan lima menit lagi, masih putih juga barulah setelah ditambahkan lima menit lagi adonan pertama sudah keliahatan menguning. Lapisan berikutnya lima belas menit lagi dibakar, begitu seterusnya hingga loyang penuh. Dan itu baru berakhir pada pukul satu malam.

Dengan harap harap cemas, setelah semuanya beres aku mengeluarkan lapis legit ku dari loyang. Olala bagian bawahnya sedikit gosong, walau tak pahit tapi kue lapisku tak telalu berminyak seperti kepunyaan temanku itu, agak kering karena kelamaan di dalam oven. Sedikit kecewa karena hasil tak terlalu memuaskan.

bagian atas yang cukup cantik tapi pinggirnya gosong

bagian atas yang cukup cantik tapi pinggirnya gosong

Bagian bawah, TUTUNG!!!

Bagian bawah, TUTUNG!!!

IMG_20151006_060546810[1]

Tak apalah kataku dalam hati. Dan segera naik ke tempat tidur pada pukul setengah dua malam, tapi sialnya aku tak dapat tidur, ingatanku hanya berkutat pada kue lapis ku. Memutar strategi untuk segera mengeksekusi adonan yang masih tersisa. Oh ya karena loyangku tak cukup tinggi jadi adonan masih bersisa. Memutar otak bagaimana caranya agar lapis legitku cantik dan tidak gosong.

Karena tak nyenyak tidur, pukul setengah lima aku sudah terbangun. Ingatanku tentu saja ada di dapur. Maka sibuklah aku kembali memanggang si kue lapis hahaha. Kali ini setengah adonan aku beri pewarna hijau. Kemudian aku gulung, dan jadilah lapis legit gulung. Kali ini tidak gosong, karena aku mengurangi waktu pembakaran menjadi sepulih menit per lapisnya namun menaikan temperatur oven menjadi 180 derajat celcius dari awalnya 160 derajat.

Lapis legit gulung

Lapis legit gulung

IMG_20151006_120910331[1]

Untuk resep yang aku buat ini, aku mengikuti resep yang dikenal dengan resep lapis legit Ny. Liem Bandung. Namun untuk langkah langkah pembuatannya aku mengikuti blog kepunyaan Pauline.

Nah buat teman teman yang ingin mencoba membuat lapis legit, selamat berjuang!