Berlari setelah melahirkan!

kate

Aku sama sekali tidak memprediksi bahwa aku akan diberi titipan anak tidak lama setelah aku datang ke Belanda. Belum ada pengetahuan atau informasi apapun mengenai bagaimana kebiasaan atau hal umum mengenai mengenai melahirkan di Belanda.

Dan begitu kami yakin bahwa aku hamil (hanya melalui testpack  yg dibeli dari apotek), maka yang dilakukan Luc adalah searching di intsernet apa yang harus kami lakukan:

Memilih /mencari bidan

Luc bertanya padaku seperti apa yang aku inginkan, apakah yang tempat prakteknya dekat dengan rumah kami? Apakah aku menginginkan seorang bidan yang mengerti bahasa Indonesia atau bahkan orang Indonesia?

Setelah Luc mendapatkan jawaban dariku bahwa aku sama sekali tidak berkeberatan dengan ‘ras’ apapun yang akan menolongku dalam persalinan sepanjang mereka bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris denganku, akhirnya kami memutuskan memilih bidan yang dekat dengan rumah kami.

Masalah baru muncul pada saat Luc membuat janji pemeriksaan dengan bidan tersebut, saat ditanyakan mengenai nomor asuransi kesehatanku. Saat itu kartu asuransi kesehatanku masih dalam proses pembuatan, belum dikirim ke rumah. Yang dilaluka Luc pada saat aku sudah berada di Belanda adalah menelepon pihak asuransi untuk mendaftarkanku, asuransi yang kami ambil adalah asuransi kesehatan dengan banyak tambahan. Menurut Luc karena aku wanita dan mungkin ingin/akan mempunyai anak, maka sebaiknya asuransi yang diambil bukanlah asuransi basic, hal tersebut untuk menghindari banyak resiko, sehingga aku memungkinkan di cover untuk segala hal. Untunglah bidan tersebut masih mau menerima kami walau aku pada saat itu datang tanpa kartu asuransi, biaya akan ditagihkan double pada suransi di pemerksaan berikutnya.

Memutuskan apakah melahirkan di rumah atau di rumah sakit

Luc bertanya apakah aku ingin melahirkan di rumah sakit atau di rumah? Dengan tegas aku menjawab bahwa aku ingin melahirkan di rumah sakit. Agak aneh rasanya saat Luc menjelaskan bahwa wanita di Belanda banyak merasa lebih nyaman saat melahirkan di rumah dan menjelaskan padaku bahwa saat itu 30% wanita di Belanda memilih melahirkan di rumah. Begitupun dengan Angela saat melahirkan Luc, dan juga ratu Maxima yang memilih melahirkan anak anaknya di rumah. (Walau kini fenomena melahirkan di rumah semakin mengecil, hanya 13% saja di tahun 2017, ini artikelnya.)

Yang kemudian aku tidak perlu lagi memutuskan sendiri apakah aku ingin melahirkan di rumah atau di rumah sakit, karena suatu alasan. Aku mengalami mual yang luar biasa, tak ada makanan dan minuman yang bisa masuk ke tubuhku selain aku memuntahkannya kembali, badanku lemas luar biasa, aku hanya bisa seharian berbaring di sofa saja. Luc memutuskan membawaku ke huisart (dokter rumah/dokter pribadi). Untuk pertama kalinya aku bertemu dengan Lorenzo yang kemudian akan ada cerita panjang setelah aku melahirkan antara kedekatan kami sekeluarga secara emosi dengan dokter pribadiku tersebut. (baca Tragedy of giving birth) Setelah Lorenzo menyalami kami karena aku hamil dan mendengarkan keluhanku, dia memutuskan mengecek perutku dengan echo. Saat itulah kami melihat bahwa ada dua janin dalam perutku. Kembar! Mataku berkaca kaca pada saat melihat keajaiban tersebut. Kemudian Lorenzo berkata pada kami bahwa kami harus berhenti dengan bidan kami, dan aku harus ditangani oleh gynaecoloog. Lorenzo juga yang langsung memutuskan bahwa aku akan diperiksa dan melahirkan di rumah sakit Erasmus (bukan rumah sakit San Franciscus, rumah sakit kami) dengan alasan di Erasmus ada bagian khusus untuk anak kembar. Saat itu pula Lorenzo bertanya pada kami siapa nama bidannya dan langsung menelepon bidan tersebut dihadapan kami dengan suara speaker sehingga kami dapat ikut mendengarkan pembicaraan mereka. Alasannya adalah, bayiku kembar, aku dan suamiku memiliki perbedaan yang besar antara berat dan tinggi badan. Keputusan selanjutnya adalah aku harus ditangani oleh para gynaecoloog di rumah sakit untuk pemeriksaan selanjutnya.

Melahirkan secara normal

Luc (lagi lagi) yang menginformasikan bahwa kebanyakan wanita Belanda melahirkan secara normal. Kita tidak dapat meminta bahwa kita ingin melahirkan secara cesar, keputusan cesar atau tidaknya adalah keputusan dari dokter. Aku disiapkan oleh gynaecoloog bahwa aku bisa melahirkan secara normal. Aku berkata pada dokter apakah tidak beresiko jika aku melahirkan secara normal? Mengingat bahwa aku hamil saat usiaku tidak muda lagi (35 tahun), bayi yang akan aku lahirkan kembar, akan ada dua kali kerja keras dibanding wanita lainnya dan kemungkinan bayiku besar karena postur ayahnya yang besar. Namun dokter berkata bahwa aku tidak ada masalah apapun jika harus melahirkan kembar, semuanya akan baik baik saja. Dari penjelasan dokter lah aku menjadi tenang dan segera mempersiapkan jiwa ragaku untuk melahirkan secara normal termasuk rencana memberi ASI pada si kembar.

Hari kelahiranpun tiba, sehari sebelumnya aku masih memeriksakan diri ke rumah sakit, eh siap sangka keesokan harinya aku merasakan bahwa inilah hari H nya, setelah sejak subuh aku tak bisa tidur akhirnya pukul 7 pagi Luc membawaku ke rumah sakit, aku mandi dan sempat difoto dulu di rumah dengan kaki super bengkak. Proses pembukaan berjalan lambat hingga akhirnya pukul satu dini hari aku siap melahirkan setelah mencapai pembukaan 9,5. Namun sayang bayi kedua yang akan lahir tiba tiba berubah posisi, melintang, bukan posisi kepala yang duluan keluar. Persalinan dibatalkan! Setelah gynocoloog yang menolongku tak yakin apakah aku akan aman. Tengah malam atau dini hari buta sang gynocoloog harus menelepon colega(leader) nya yang lain, melalu telepon gynocoloog yang lain bahwa aku tidak aman untuk melahirkan normal dan baru nanti pagi akan dioperasi. Dua bayiku selamat setelah keluar melalui jaln cesar. Tapi tidak denganku. Aku mengalami pendarahan yang amat hebat. Tiga hari koma setelah melahirkan. Ada tindakan dua kali spoed operasi setelah melahirkan. Kemudian aku berangsur membaik, namun tiba tiba memburuk kembali. Paru paruku tak berfungsi dengan semestinya dan problem lainnya. Kemudian aku koma dua minggu. Baru setelah dua bulan paru paruku membaik, aku bisa bertemu dengan bayi kembarku, lucu dan montok! Luc adalah ibu pertama buat mereka, memandikannya untuk pertama kali, memberi popok dan susu botol. Harapanku untuk memberikan ASI musnah!

Kate Middleton melahirkan

Dunia terbelalak saat beredar foto dan berita yang menyiarkan Kate Middleton melambaikan tangan sambil menggendong bayinya didampingi pangeran William. Cantik, segar dan sehat! Hanya tujuh jam setelah melahirkan! Betapa hebohnya para emak emak melihat foto dan berita tersebut. Hebat! Bagaimana bisa? tentu saja bisa. Banyak! Bahkan yang melahirkan diam diampun ada juga, cerita ekstrim bahkan sering kita baca bergentayangan, anak yang tidak diinginkan bisa lahir di kamar mandi dan langsung hanyut pula. Amit amit! Jangan sampai cerita memilukan ada lagi terdengar.

Hari jumat yang lalu, aku bertemu dengan seorang kenalan. Dia adalah istri dari seorang student yang tengah menempuh pendidikan di TU Delft. Sejak pertama kali mengenalnya aku merasa suka dengan anak tersebut, muda dan ceria. Karena aku tidak tau dia sudah melahirkan, ujug ujug kami bertemu setalh anaknya berumur 3 bulan, sedangkan terakhir bertemu dia sedang hamil muda, aku bertanya tentang proses melahirkan bayinya. Kemudian dia bercerita yang aku dengarkan sambil meringis dan sesekali menutup telinga dengan kedua tanganku.

Dia melahirkan di rumah, cerita lancar jaya dia utarakan padaku, kehamilan yang sehat, tidak ada resiko apapun hingga cerita berikutnya. Sesaat setelah bayi keluar, plasentanya tidak ikut keluar, juga setelah dua kali penyuntikan untuk merangsang agar plasentanya bisa keluar, setelah dua bidan dan dua kraamzorg ikut menolongnya, si plasenta tak mau juga keluar. Itu artinya harus segera dilakukan tindakan operasi. Menurut penuturannya, bahwa plasenta harus keluar paling lambat satu jam setelah bayi lahir. Mobil ambulans segera datang. Masalah muncul setelah petugas medis kesulitan mencapai lantai 4 dimana kenalanku itu tinggal. Alat yang akan membawa nya turun ke mobil ambulan hanya bisa sampai di jendela lantai 2, itu artinya kenalanku harus bisa mencapai lantai dua tanpa brankar, dia harus jalan menuruni tangga hanya dipapah oleh petugas medis. Apartemen yang dia tinggali adalah apartemen tanpa lift!

Dan bayangkanlah seseorang yang baru saja melahirkan harus menuruni tangga hingga dua lantai dengan keadaan lemas setelah berusaha mengelurkan plasenta sekuat tenaga. Energi telah habis terkuras. (Yang aku tidak mengerti mengapa dia tidak dibopong saja oleh petugas medis?) Baru beberapa langkah saja dia menuruni tangga, darah telah mengalir deras dari selangkangannya, si petugas medis memberi tahu bahwa dia harus segera berlari, tidak boleh jalan! Dan menurut penuturan dia entah dari mana datangnya tiba tiba energi dia datang dengan tiba tiba, dia dapat berlari dengan sekuat tenaga menuruni tangga hingga lantai dua! Kemudian segera bisa keluar dan mendatangi alat dari ambulan di jendela lantai dua dan segera di larikan di rumah sakit.

Cerita melegakan belum juga terjadi hingga dia sampai di rumah sakit, sekiranya dia harus langsung segera dilarikan ke kamar operasi ternyata tertahan karena tak ada seorang  dokter bedahpun yang sedang bebas tugas. Semuanya tengah sibuk di kamar operasi. Dia telah dikelilingi oleh beberapa perawat dan kemudian muncul seorang dokter dengan wajah Asia bermata sipit menghampirinya, dan berkata bahwa dia akan mencoba sekali lagi mengeluarkan plasenta dengan jalan normal sambil menunggu dokter bedah. Dan menurut penuturannya, sang dokter tersebut berhasil merogoh plasenta  keluar.

 

Ps. Dear R, kudoakan agar kau selalu sehat dan bahagia. Sukses dalam karir dan keluarga, sampai ketemu bulan juli atau agustus 2018 di Bandung! Tanggal menyusul darling….

 

 

 

Advertisements

Kado mahal

Kini si kembar sudah mulai di terima dan kerasan di sekolah barunya, sebelumnya mereka merasa ‘aneh’ dengan pergaulan di sekolah barunya, kini mereka mulai terbiasa dan menerima perbedaan di sekolah lama dan sekolah baru.

Ya, seperti dikatakan kepala sekolah di sekolah nya yang dulu (dan penuturan si kembar) mereka termasuk anak anak yang dikenal oleh hampir penghuni sekolah yang dulu, namun predikat ‘famous girls’ tidak berlaku lagi di sekolah yang baru pada awal mereka masuk sekolah. Namun kini aku mulai menerima pesan dari banyak  orang tua  teman sekelas si kembar untuk permintaan play date bersama si kembar. Termasuk diundang pada ulang tahun teman teman mereka.

Sejak bulan january 2018 hingga hari ini, si kembar sudah pergi ke ulang tahun temannya sebanyak tiga kali, dan kini tiga undangan ke depan telah ada di agenda. Jika di sekolah yang lama, si pengundang akan langsung memberikan undangan pada si kembar di sekolah. Dalam undangan biasanya dicantumkan nomor telepon orang tua yang berulang tahun,  dimaksudkan untuk konfirmasi apakan si kembar akan datang atau tidak. Biasanya aku cukup mengirim pesan singkat. Namun kini, disekolah yang baru sistem mengundang sedikit berbeda, si orang tua yang berulang tahun langsung membuat whats app grup. Langsung bertanya siapa saja yang akan datang, setelah ada konfirmasi dari yang diundang barulah mereka mengirim kartu undangannya, dan itu pun melalui pos! Alamak, aku benar benar terpana pada saat pertama kali menerimanya.

Tentang kado pun sangat jelas, yang berulang tahun akan membuat list kado yang telah mereka pilih sendiri, dan diletakan di keranjang yang telah disediakan oleh toko yang membuatnya, biasanya toko mainan dan toko buku. Jika yang berulang tahun mengundang enam orang anak untuk datang ke pestanya, maka hanya da 6 kado yang tersedia di keranjang tersebut. Kami hanya tinggal datang ke toko yang dimaksud, memilih kado yang telah disediakan di keranjang, (keranjang tersebut telah ditulisi nama yang berulang tahun dan tanggal pestanya, jadi kami tidak akan salah mengambil kado dari keranjang yang lain) kemudian membayarnya di kassa dan di kassa pula kado tersebut akan dibungkus.
IMG_20180113_125009140[1]

Berdasarkan pengalaman sebelumnya dengan keranjang kado, kami harus segera datang ke toko yang dimaksud sebelum banyak didahului anak yang lainnya. Mengapa begitu? Karena jika kalah cepat, maka hanya kado sisa lah yang tersedia di keranjang. Biasanya kado sisa adalah kado terbagus, karena harganya paling mahal!

Dan itu terjadi pada si kembar hari kamis minggu lalu saat si kembar datang ke toko yang dimaksud untuk membeli kado, pestanya sendiri  diadakan hari jumat, sedangkan si kembar baru sempat datang ke toko dimana keranjang kado berada, sebuah toko buku di kampung kami. Kado yang tersisa ada dua buah kado, tentu saja karena itu jatah kado yang harus dibeli Cinta dan Cahaya. Dan yang bikin aku syok (setelah diberi tahu Luc, aku tak ikut pergi untuk membeli kadonya) ternyata satu dari kado yang harus dibeli adalah seharga 35 euro! Sedangkan kado yang lainnya seharga 15 euro, harga kado ulang tahun umumnya untuk anak SD. Saat aku bertanya pada Luc, kado apa seharga 35 euro itu, jawaban Luc lebih membuatku tak mengerti, hanya tempat pinsil (etui) berisi pinsil, bolpoin, penggaris dan penghapus. Haahhhh! Ampun mahal amat!

Dan inilah penampakan salah satu kado mahal, menurut ukuran kami. Hiks!
dav

 

 

 

Satu dekade

10th Anniversary

Hari ini tepat 10 thn usia pernikahan kami. Tidak ada kado atau merencanakan dinner special. Kami keluar rumah, menikmati udara cerah ceria, berjalan kaki sepanjang 6 km, menikmati keceriaan si kembar yg kian tumbuh besar.

Dan doa yang sama selalu aku ikrarkan setiap saat……
Semoga kami diberikan kekuatan untuk saling menerima perbedaan, menghargai pendapat yg tidak selalu sama, melihat kebaikan dan seluruh usaha pasangan kita bukan mengungkit kekurangannya.

20 mei 2008
20 mei 2018

Dulu tidak suka, sekarang suka! Begitupun sebaliknya

Ini tentang kebiasaan ataupun makanan favorit jaman dulu dan sekarang, apakah berubah atau tetap sama. Dulu aku paling suka minum yoghurt. Hampir tiap hari ada stok yughurt di rumah. Kakakku yang sama sama penyuka yoghurt pasti mengurungkan niatnya mengambil yoghur di kulkas jika hanya ada satu kemasan saja disana, pasti bertanya dulu padaku apakah dia boleh meminumnya? Padahal jelas jelas yoghurt tersebut jatah kepunyaannya.

Nah sekarang setelah tinggal di Belanda, ternyata kesukaan minum yoghurt jadi berubah drastis. Jadi gak berminat lagi. Bahkan bisa berbulan bulan tidak minum yoghurt padahal kini keberadaan yoghurt sangat berlimpah ruah di kulkas.

Dulu aku paling tidak suka jika makan mie baso kuah dan makan bubur ayam pake kecap, apalagi kalau bubur ayamnya diaduk aduk jadi satu dengan kacang kedelei, cakue dan krupuk. Suka terkesima jika liat kakakku yang makan buburnya begitu. Aduk semua jadi satu!

Tapi sekarang, saat makan baso selalu pakai kecap, saos, cuka sampai hitam pekat. Manis, pedas, asam! Dan yang lebih spektakuler, aku jadi suka makan bubur dicampur aduk kayak kakakku!

Hampir setiap orang yang aku kenal tidak menyukai pekerjaan nyetrika baju. Dulupun aku begitu. Tapi setelah menikah rasanya mataku selalu pening saat melihat tumpukan baju bersih yang siap di setrika. Suami sampai bingung saat aku menghabiskan waktu hanya untuk menyetrika baju, dia bilang berkali kali bahwa bajunya bisa dia setrika sendiri, tidak perlu aku yang melakukannya. Kebiasaannya adalah setiap berangkat kerja dia baru setrika baju. Sedangkan kebiasaanku dulu tidak begitu. Sewaktu di Indonesia, hari sabtu atau minggu adalah waktunya cuci baju dan setrika (walau tidak hobi tapi hal yang harus dikerjakan). Langsung beres, jadi seninnya saat berangkat kerja aku sudah siap.

Kini kebiasaan menyetrika jadi mendarah daging, setiap cucian kering aku bisa langsung merencanakan menyetrika baju. Dan menyetrika baju ternyata bisa membawa ketenangan sendiri. Seperti sekarang, manday is cleaning day! Aku sendirian di zolder (ruangan yang berada paling atas dalam sebuah rumah, biasanya atapnya miring, tempat setrikaan, mesin cuci berada) disana aku bisa tenang nyetrika, pikiran menerawang jauh sambil melihat awan melalui jendela miring yang ada di atas kepalaku, inspirasi bisa datang begitu saja. Memikirkan model baju untuk si kembar, menulis, mengumpat dan mengeluarkan kekesalan hati, berangan angan. Dan saat aku melihat pakaian yang menumpuk rapi di dalam keranjang baju, hatiku damai tapi tanganku pegal luar biasa!

Hingga seorang teman, berkata padaku…. Yayang kamu orang yang aneh, mana ada orang menyukai  menyetrika baju. Ah, begitupun aku tapi harus dikerjakan kan? Kini setelah berdamai dengan menyetrika toh aku bisa melakukannya juga hingga tuntas.

Bagaimana dengan kalian? Seaneh dirikukah?