The Climber

20 Juli 2018

Hari ketujuh,

Hari papa dan putrinya. Mereka pergi bertiga saja (sementara aku sedang berjuang di pasar baru😜), naik ojek dari rumah orangtuaku ke bunderan cibiru, dari bunderan barulah mereka naik taksi menuju trans studio di trans mall jalan Gatot Subroto.

Permainan yang paling berkesan untuk keduanya adalah mereka berhasil mencapai puncak tertinggi dari 4 etape yang harus mereka lalui.

Luc mengabadikan keberhasilan mereka saat hampir menuju puncak untuk ditunjukan pada ku. Sambil memperlihatkan foto mereka, Luc berbisik pada ku… Saat aku melihat mereka berjuang memanjat dinding tersebut, aku adalah seorang ayah yang bangga!


(bersambung)

Advertisements

Pasar Baru Bandung

20 juli 2018

Ini salah satu tempat yang hampir aku kunjungi setiap kali aku mudik. Biasanya aku mencari baju batik buat di pakai saat musim panas tiba atau membeli bed cover.

Hari ini, kakak iparku khusus datang dari Cianjur untuk menemani berburu bed cover. Pukul sembilan pagi, aku sudah meninggalkan rumah. Luc dan anak anak tak turut serta. Kubiarkan mereka mencari kesibukan sendiri, konon rencananya mereka akan naik gojek ke Trans studio dari rumah. Cita cita mereka sejak dari Belanda ingin naik gojek.

Pasar baru sekitar pukul setengah sebelas pagi ternyata sudah ramai luar biasa. Niat akan membeli segala macam yang kira kira bisa diangkut ke Belanda ternyata pupus, begitu melihat penuh sesaknya pasar baru hari itu. Ternyata hari biasa tak mempengaruhi keadaan pasar baru untuk sedikit sepi. Hiruk pikuk seperti biasanya.

Oh ya, pasar baru Bandung ini adalah tempat favorite mereka yang akan berjualan, konon harganya lebih murah dari pasar lainnya. Tak heran banyak pendatang dari kota lain datang ke pasar baru. Bahkan beberapa tahun yang lalu pasar baru pernah menjadi destinasi wisata orang Malaysia. Ibuku pernah dibuat kaget karena diajari orang Malaysia saat menunjukan toko kerudung yang menurut mereka berkualitas baik dan berharga miring. Turis lebih tahu dari penduduk lokal!

Ah tak terbayangkan kala melihat foto di depan pasar baru saat kendaraan tak dapat bergerak, macet.

Note: foto di ambil dari google

Tentang umur dan nikmat sehat

Hari keempat,

17 juli 2018

Beberapa hari sebelum aku mudik, di grup wa teman sekelas sma dulu seorang teman mengabarkan bahwa salah satu teman sekelas kami sedang terbaring sakit sejak sepuluh tahun yang lalu. Konon dia menderita lumpuh secara tiba tiba.

Tentu saja aku kaget mendengar kabar tersebut, teringat sosoknya yang selalu ceria dan super ramah. Aku dan dia hampir setiap pulang sekolah selalu bersama karena kami sama sama menaiki angkot jurusan yang sama. Angkot buah batu. Saat itu rumah orangtuaku di jln buah batu 227, sedang kan dia tinggal di daerah Rajamantri buah batu.

Aku langsung mengacungkan icon telunjuk ke atas saat teman ku bertanya siapa yg akan ikut bergabung dengan dirinya menengok salah satu kawan kami yang tengah sakit tersebut. Hanya tiga orang yang menyanggupi hadir di hari selasa tanggal 17, selebihnya ada yang bersuara untuk mengusulkan hari lain.

Ternyata begitu hari H tiba terkumpul 8 orang. Hebohlah kami berdelapan menikmati reuni kecil yang sarat akan kenangan masa lalu, memang kami telah berubah wujud dari sosok remaja belasan tahun menjadi bapak bapak dan ibu ibu namun jiwa kami rasanya seperti dulu, berhaha hihihi mengingat masa masa kami di sma. Hebatnya reuni kecil tersebut dihadiri teman kami yang kini bertugas di Palembang yang khusus terbang pulang pergi untuk bisa ikut menengok. Oh ya lima tahun yang lalu dia pun pernah bertugas di Belanda selama dua tahun dan hari kedua setelah dia menginjakkan kakinya di bumi Belanda adalah mengunjungi rumahku di Rotterdam.

P, teman kami yang tengah sakit bercerita bahwa kondisinya sekarang jauh lebih baik dari tahun tahun pertama dia tiba tiba tidak bisa bergerak, katanya suatu hari sepulang dia bekerja dia demam, esok harinya saat bangun tidur dia tidak bisa menggerakan kaki dan badannya, seluruh tubuhnya tiba tiba nyeri yang amat sangat.

Kehidupan nya langsung berubah, P wanita karir yang gesit dan ceria tak dapat seperti dulu lagi, hari harinya hanya bisa dilewati di tempat tidur, namun semangat nya untuk sembuh tak pernah luntur. Keceriaan nya tetap seperti dulu joke joke nya tetap dapat menghibur kami. Dia kini menjadi motivator dari mereka yang mengalami nasib yang sama. Sharing dengan yang lainnya. Kami yang datang memenuhi rumahnya merasakan energy positive dari dirinya. Dia tidak mengeluh, dia tidak menyesali nasibnya. Dia memberikan pembelajaran pada kami yang berada di ruangan tersebut bagaimana caranya mensyukuri hidup.

Kabahagiaan adalah pilihan, ada di tangan kita. Begitu tuturnya.

Di pertemuan itu pula kami bercerita tentang salah satu teman sekelas kami yang telah mendahului kami, dua minggu sebelum lebaran Idul Fitri. Aku nyaris tak percaya menerima kabar tersebut, di awal puasa tahun ini, secara tiba tiba almarhumah menghubungiku via wa, hanya bertanya bagaimana kabarku, pertanyaan ringan yang membuatku merasa di perhatikan. Aku tak pernah tahu bahwa almarhumah tengah menderita sakit, tak ada keluh kesah. Kabar kepergiannya bagai menohok jantungku.

Umur tiada seorang pun yang tahu….

(bersambung)

Go to Salon

Hari ketiga,

16, juli 2018

Sepertinya datang ke salon saat pulang kampung ke Indonesia sudah menjadi agenda penting selain berburu makanan buat kebanyakan orang Indonesia yang tinggal di luar negri.

Ya seperti aku ini, dan Luc juga (kini si kembar pula!). Biasanya sehari setelah mendarat, kami akan pergi ke mall untuk mencari salon untuk potong rambut, namun hari itu kami mencari barber shop atas permintaan Luc karena sejak dua bulan lalu dia tidak mencukur jambangnya, awalnya karena malas, eh malah keterusan setelah berhari hari akhirnya dia jadi membiarkan jambangnya tumbuh.

Luc meminta adikku untuk diantarkan ke jln Sulanjana, barbershop hasil browsing kilat saat kami mengantri di golden money changer dago (salah satu ritual awal saat datang ke Indonesia, tukar euro), namun adikku membawa Luc ke jln Pager gunung yg tak jauh dari Dago, Brocode barbershop. Ternyata disana antriannya lumayan banyak, Luc harus menunggu satu jam sebelum gilirannya, si kembar yang saat itu ikut serta tak henti hentinya bertanya kapan gilirannya, mereka sedikit kecewa saat aku menjelaskan bahwa barbershop adalah salon khusus laki laki. Kekecewaan nya pupus saat aku menjanjikan bahwa setelah papanya selesai ‘diurus’ rambut dan jambangnya kami akan segera meluncur ke bip untuk menggambar kuku si kembar dengan kuteks warna warni.

Luc sangat puas dengan hasil cukur rambut dan jambang di Brocode, aku melihat dia memberikan tip yang hampir sama besarnya dengan biaya cukurnya.

Apalagi si kembar yang sangat gembira saat melihat kuku kuku tangannya yang kini berwarna. Ini adalah kali pertama aku memperbolehkan mereka mengecat kukunya di tempat berbayar (biasanya mereka bermain kuteks sendiri di rumah).

Hari ke lima,

18 juli 2018

Masih urusan salon, hari ini kami berada di cibiru di rumah orangtuaku. Karena Luc berencana menonton film bersama ayahku di bioskop, akhirnya aku dan si kembar akan di creambath di salon yang ada di mall sambil menunggu Luc dan ayahku selesai nonton. Luc menonton di transmark buah batu, mall kecil yang berada di cipagalo itu belum berdiri saat kami terakhir kali mudik dua tahun yang lalu. Sayang di dalam mall tersebut tidak ada salon, sehingga aku harus mencari salon di luar mall. Beruntung hanya beberapa ratus meter dari mall, aku menemukan papan besar yang menunjukan salon cukup beken di Bandung. Ternyata salon Ananta jln Lodaya membuka cabang di jln cipagalo. Saat melihat reklame potongan 30% untuk perawatan apa pun, aku memutuskan facial disana sementara si kembar tetap seperti rencana semula di creambath!

Keluar dari sana, saat kami dalam perjalanan kembali ke mall untuk menjemput Luc dan ayahku, berkali kali si kembar bercerita dengan nada puas dan bahagia, bahwa hari ini adalah salah satu the best mother and doughter hang out! Go to salon!

Tradisi Pizza Hut

Hari kedua, 15 juli 2018

Akhirnya kami mendarat dengan selamat di bandara Soekarno Hatta. Rasanya ingin segera melompat menuju tempat kedatangan tanpa melewati antrean pemeriksaan passport atau visa buat Luc kemudian menunggu koper yang biasanya terlambat muncul kepermukaan.

Perjalanan panjang dari Amsterdam menuju Jakarta terasa lebih melelahkan dibandingkan mudik mudik terdahulu. Entah lah apa yang salah… Secara waktu perjalanan hampir sama dengan pulang kampung sebelumnya. Mungkin karena kami harus berhenti dua kali. Yang pertama pesawat berhenti di Damman, yang mereka sebut bukan transit tapi disebut technical stop. Disana pesawat berhenti selama satu jam untuk pengisian bahan bakar, penumpang diminta tetap duduk di kursi masing masing. Kemudian pesawat kembali terbang menuju Moscat. Ya, kami menumpang penerbangan Oman airline. Untuk pertama kalinya (karena alasan harga yang terjangkau). Ternyata penerbangan ini adalah kerjasama antara Oman airline dengan KLM Royal Dutch Airline. Jadi lah dari Amsterdam menuju Moscat kami berada di pesawat KLM yang…. hhmm seperti yang sudah sudah, biasanya tempat duduknya sempit dan peralatan hiburannya agak jadul dan ditemani oleh crew penerbangan yang berambut acak acakan (sebetulnya lebih rapih rambut mereka dari pada rambutku) dan kurang senyum. Tapi ternyata aku dibuat kaget oleh crew kali ini, mereka super ramah, sangat membantu, sangat professional dan lebih banyak senyum dari pada diriku, walau rambut dan dandanan tetap seperti para crew yang ada dibenakku. Oh ya dan TV yg masih jadul. Masih pake remote belum touch screen dan berukuran kecil dengan kualitas suara yang menyedihkan.

Kebalikan dari KLM, Oman airline ternyata mempunyai crew yang menyedihkan. Mereka jutek, tak ramah sama sekali, beberapa kali lupa saat aku minta minum air teh. Alhasil selama penerbangan aku hanya mendapatkan air teh satu kali, itu pun dengan permintaan berkali kali, mereka selalu bilang nanti kami mengantarkan pada anda atau nanti rekan kerja kami yang menyajikan. Dan itu isapan jempol belaka.

Yang lebih bikin aku naik pitam adalah saat aku diseruduk seorang pramugari tinggi besar dan dia melenggang tanpa minta maaf sama sekali padahal aku nyaris terjengkang. Di ujung sana aku melihat mata Luc membara, kemudian saat kami berjalan keluar pesawat Luc berkata lirih pada ku, bahwa dia tak tertarik lagi untuk memilih maskapai penerbangan Oman airline. Bahkan Cahaya pun bertanya padaku dengan heran, mengapa pramugari yang berdiri di pintu pesawat tidak menyapa welcome saat kami masuk dan tidak bersay goodbye saat kami keluar.

Mungkin tekanan bathin inilah, (karena diseruduk) yang membuatku merasa lelah luar biasa.

Aku dan anak anak berhasil melewati pemeriksaan passport dengan kilat, tak ada antrian disana, sementara antrian passport bukan passport Indonesia mengular mengerikan. Hingga aku memutuskan pada Luc bahwa kami akan meninggalkan Luc yang mengantri dan aku akan mengurusi koper bersama anak anak dan menunggu dia diluar.

Terimakasih Tuhan, aku berhasil (bersama poter legal) mengeluarkan 7 koper keluar dari bandara. Cinta menangis gembira saat memeluk kakek dan neneknya, kami semua trenyuh melihat air mata bahagia nya. Kemudian kami harus menunggu Luc yang tidak juga keluar dari bandara, setengah jam berlalu dari waktu aku dan anak anak keluar. Untung lah akhirnya dia nongol juga.

Entah kenapa kakak ku selalu membawa kami makan di pizza Hut saat perjalanan dari bandara menuju Bandung. Pizza Hut yang berada di jalan tol tak jauh dari bandara. Luc menyebutnya tradisi penyambutan adalah makan di pizza hut jalan tol. Hingga suatu ketika (empat tahun yang lalu) kami datang tepat dua hari setelah hari ulang tahun si kembar. Kakak ku sebagai ketua ‘panitia penjemputan’ membawa kami ke arah Ancol, kemudian dibawa ke rumah makan Bandar Jakarta di Ancol, makan seafood sepuasnya. Luc gembira karena bisa memilih kepiting, udang, dan ikan hidup sebelum di masak. Sementara si kembar cemberut begitu melihat hidangan datang, tuturnya kasihan ikan ikan itu baru saja berenang bahagia bersama keluarga nya namun kini berada di meja untuk kami santap. Wajah cemberut berganti wajah sumringah saat kami makan, datang segerombolan pelayan membawa kembang api bersama beberapa orang yang membawa perkusi dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan riuhnya. Surprise untuk si kembar yang baru saja berulang tahun yang kelima.

Setelah tradisi yang dilanggar itu (Tradisi makan di pizza hut), Luc selalu berseloroh dimana kah kami akan dibawa untuk makan? Apakah melanggar tradisi atau tetap melanjutkan tradisi. Dan hingga saat ini pelanggaran yang terjadi adalah empat tahun yang lalu.

Hari ini kami semua duduk dengan ramainya di pizza hut, seperti dua tahun yang lalu, juga tahun tahun sebelum empat tahun yang lalu.

(bersambung)

Keluarga Bahagia

Hampir tiap pagi keluarga angsa berjemur menikmati mentari pagi, papa duduk mengawasi dan menikmati istri tercinta dan enam anaknya, sedangkan mama berdiri siaga menjaga buah hatinya.

Kami dapat melihat keluarga bahagia tersebut dari jendela depan rumah, santai, tenang dan terlihat bahagia. Bagiku melihat hal sederhana seperti itu adalah hal yang mengasyikan, proses pembelajaran bisa melalui apa pun dan siapa pun ❤❤❤. Bercermin pada visual keluarga angsa itu yang terlihat rukun damai dan saling menjaga.

Dan jika matahari mulai terbenam, mereka akan berpindah ke kanal sebelah rumah, mereka akan berjalan berbaris melewati rumah (sayang aku tak berhasil menjepret pasangannya yang sedang memimpin acara pulang).

Si kembar paling heboh klo melihat keluarga bahagia ini berbaris pulang, antara senang sekaligus takut. Karena klo kita deket dekat mereka si induk suka mendesis, eh kok mendesis sih kayak ular? Pokoknya ngeluarin suara menggeram seperti ngusir kita.

Oh ya, kita baru menikmati keluarga bahagia ini sekitar tiga minggu yg lalu lho, sebelumnya kami hanya selihat sejoli yang selalu berduan terus di kanal, jarang naik ke darat. Eh begitu dah ada buntut 6 ekor mereka jadi sering ke darat. Duduk duduk manja, dan meninggalkan kotoran yang lumayan. Ihhhh! Untungnya mereka duduk duduk di persimpangan jalan yang jarang dilewati sepeda.

Nah, klo kita jalan sedikit lebih jauh menyusuri kanal, ke arah sekolah si kembar kita kadang suka selfie bareng ama burung yang suka bertengger sendirian ini. Entah lah apakah dia jomblo atau sedang menunggu sang kekasih di persimpangan.