Hari ini…..

Hari sabtu tanggal 31 Desember 2016…..

Luc dan anak anak sibuk menyelesaikan puzzle 1000 keping, sementara aku menulis daftar belanjaan. Hari ini kami berencana membuat oliebollen, Luc and the girls tepatnya.  Ah life like a puzzle! Without all the pieces, it’s not complete.  Dan seorang bijak mengatakan life isn’t about finding pieces of puzzle. It’s about creating and putting those exceptional pieces together. Dan puzzles tersebut masih belum selesai saat kami meninggalkan rumah…

img_20161231_1220290671

Siang itu Plus supermarkt lebih ramai dari biasanya. Oh ya hari ini hari terakhir di tahun 2016, esok hari libur, seperti biasanya orang belanja seperti kesetanan. Kami? Lebih insyaf dari tahun lalu rasanya. Belanja sesuai kebutuhan saja. Untuk makan malam hari ini, aku akan memasak makanan Belanda, yang simple saja tapi enak. Gevulde rosbief met kastanjescampignons judulnya diambil dari resep ini. Tampilannya cantik dan mengerjakannya kurang dari satu jam. Daging nya khusus aku beli di tukang daging dengan harapan rasanya akan menyerupai seperti tampilan gambar resep yang menggiurkan.

Dapur kami yang kecil mungil sore ini dipenuhi empat orang manusia yang bersemangat memasak. Cinta dengan sukacita membantu Luc membuat oliebol dan aple beignet. Sementara Cahaya membantu diriku, mulai mengiris  jamur hingga mengupas kentang untuk membuat stampot. Aneh bin ajaib stampot plus rolade daging isi jamur plus sausnya benar benar selesai dalam jangka waktu satu jam saja. Dan kami berempat diberi kejutan saat mencicipi rasanya yang spektakuler. Enak sampai ke hati.

Mulai dari menata meja (seadanya) hingga meletakan stampot dan daging di piring dilaksanakan Cahaya dengan suka cita, dibawah pengawasan mata tajam Cinta yang tak berhenti mengkritik.
img_20161231_1726454171

Dan inilah sajian diatas piring kami,
img_20161231_1740420781

Terima kasih Cahaya yang telah menata piringku dengan cantiknya bak seorang chef terkenal.
img_20161231_1738075521

Kini sambil menanti hari berganti tahun, kami duduk bersama sama menikmati oliebol buatan Luc dan the girls, sementara aku sibuk menyomot combro, bala bala, rempeyek, lontong isi tempe yang semuanya buatan sendiri.

img_20161231_1204034951img_20161231_1705364731

Dan hari ini, seperti tahun tahun sebelumnya selama aku tinggal di Belanda kami hanya menikmatai kembang api dari jendela kamar tidur kami, khusus tiap pergantian tahun si kembar diperbolehkan tidur bersama kami, Gemerlap kembang api adalah hiburan kami dalam menyambut tahun baru.

Selamat tahun baru 2017 kawan semua, semoga kebahagian selalu bersama kita semua.
img_20161231_2244361241

Advertisements

Indonesia 2016

img_20160724_161411579

Entah dari mana harus aku mulai. Rasanya jari jemari menjadi kaku setelah libur panjang dari menulis. Tapi baiklah kucoba untuk mulai menulis lagi. Judulnya masih rada gak pas mungkin, tapi apa yang ingin aku tulis saat ini adalah beberapa cerita ngalor ngidul seputar cerita mudik 2016 yang baru lalu, seperti…..

Luc yang begitu tertarik mendengar penjelasan adikku saat kami kena macet seperti biasanya di bunderan Cibiru. Adikku menjelaskan mengapa saat ini begitu banyak truk truk besar pengangkut pasir berseliweran, karena saat itu sedang dibangun stadion terbesar di Bandung di daerah gede bage, tutur adikku yang langsung disambut teriakan gembira oleh Luc. Aha artinya akan dibuat jalan baru kan? Karena membuat stadion besar berarti akan dibuat juga fasilitas penunjang lainnya, jalan baru. Dan tentunya akan mengurai macet seperti sekarang ini. Ya ya ya, logikanya seperti itu.

Atau saat kami menginap di sebuah hotel di dago atas dan memutuskan tidak makan malam di restauran hotel namun berjalan keluar mencari cafe disekitar hotel atas rekomendasi pegawai hotel. Luc terbelalak ‘kagum’melihat sibuknya tukang parkir yang mengarahkan pengunjung untuk parkir. Setelah kami duduk di cafe yang nyaman, Luc menghitung tempat duduk yang terlihat dari pandangannya dan bergumam… OMG luas sekali, banyak tempat duduk yang tersedia, apakah tadi kamu memperhatikan tempat parkirnya? Sangat tidak memadai untuk pengunjung cafe ini. Bukankah sebelum membangun cafe si empunya memikirkan tempat parkirnya juga, seharusnya jumlah kursi disesuaikan dengan jumlah mobil yang dapat ditampung di tempat parkirnya, apalagi jika mengingat penduduk Indonesia yang datang ke tempat seperti ini kebanyakan menggunakan mobil. Ya ya ya tentu saja teori seharusnya begitu!

Juga saat kami diam seribu bahasa, bahkan bernafas pun sulit saat kami berada di mobil yang akan membawa kami ke bandara Husen Bandung, kami harus mengejar pesawat yang akan membawa kami ke Surabaya pada pukul tujuh lewat lima belas pagi sementara kami masih terjebak macet di daerah buah batu pada pukul enam pagi. Ayahku berbicara panjang pendek pada dirinya sendiri tak mengerti mengapa bisa macet seperti ini. Ibuku hanya diam pucat pasi di tempatnya duduk, sementara Cinta Cahaya tetap mengoceh tak menyadari apa yang akan menimpanya (kemungkinan tak jadi berangkat hari itu), sementara aku bolak balik mengecek teleponku mencari cari tiket yang bisa aku beli bila kami tak bisa berangkat hari itu, ku tanyakan pada adikku apakah benar aku harus chek in paling lambat setengah jam sebelum pesawat berangkat? Pertanyaanku diiyakan oleh adik dan ayahku, namun adikku masih bisa memberikan harapan padaku…. kalau beruntung masih bisa sih lima belas menit sebelum pesawat berangkat. Oh ya?

Semakin mendekati bandara, aku menyusun strategi, aku meminta pada adikku yang membawa kami ke bandara untuk menurunkan kami di pintu masuk dan aku akan berlari ke loket diikuti oleh Luc sementara ibu dan ayahku akan menyusul bersama koffer dan tas kami berenam. Aku tiba di loket saat petugas tengah memegang papan bertulisan ‘closed’untuk ditempatkan di meja loket. Aku menyodorkan tiket dan paspoort padanya, si petugas bertanya padaku yang datang seorang diri kemudian diikuti satu mahluk bule, mana yang lainnya? Tanyanya melihat paspoort di tangannya yang berjumlah 4 buah ditambah dua buah KTP seumur hidup. Dengan wajah memelas aku berkata bisakah ditunggu barang lima menit saja? Lebih dari lima menit saya pasrah jika tidak dapat berangkat. Jawabku. Luc berlari membalik menyongsong ibu dan ayahku yang tak berbentuk membawa seluruh barang bawaan kami, sementara si kembar menyeret bawaannya sambil lari pontang panting. Ah sungguh pemandangan yang mengenaskan dan mengharu biru!

Sebagai ganjarannya, kami berhasil terbang bersama pesawat yang tidak mempunyai reputasi terlambat, padahal di mobil tadi aku sudah berdoa kuat kuat agar pesawatnya terlambat. Tiba di surabaya, kami bersama sama tertawa lepas, lega rasanya namun masih harus menunggu supir mobil yang telah aku pesan seminggu sebelumnya yang ternyata datang terlambat setengah jam dari waktu yang dia janjikan. Dengan percaya diri Luc bertanya, kena macet ya pak? Dan langsung dijawab tegas oleh sang supir, tidak pak! Saya sudah datang dari setengah jam yang lalu, hanya saja ibu tidak langsung menelepon saya. Jawabnya tegas. Aha, seperti yang telah aku pelajari, hati hati dengan supir Surabaya yang satu ini, beliau tidak akan pernah mau disalahkan!

Oh ya ada lagi cerita Cinta yang ngambek difoto. Mudik kali ini untuk pertama kalinya kami membawa si kembar pula untuk jalan jalan, biasanya saat mudik ke Indonesia kami selalu meninggalkan si kembar seminggu di Bandung bersama kakek dan neneknya sehingga aku dan Luc bisa pergi berdua saja. Karena kami membawa rombongan juga ayah dan ibuku maka acara jalan jalan kali ini dikhususkan untuk si kembar. Jadilah kami banyak ke tempat atraksi, seperti taman safari Jatim, Wisata Batu, Jatim Park 1, 2 atau sekedar menikmati Malang di malam hari. Ada yang berbeda dari orang Bandung dan Malang, di Malang dan Surabaya orang orang banyak tertarik pada Cinta dan Cahaya, hampir setiap berpapasan mereka minta foto dengan si kembar bahkan ada yang brutal tanpa bilang dulu pada kami langsung tarik tangan Cinta dan cetrek! Hanya pada si kembar tidak pada Luc yang besar seperti raksasa. Cahaya masih bisa tersenyum jiga yang mengambil dirinya untuk difoto meminta Cahaya tersenyum, tapi tidak dengan Cinta dia sudah berada di titik jenuh, hari terakhir di Malang dia meminta kami jika ada yang mau foto lagi dia tidak akan mau!

Jika selama di Belanda, aku tau banget tentang berita di Indonesia karena aku rajin nonton TV Indonesia di internet namun tidak begitu halnya saat di Indonesia, aku sama sekali tidak melihat TV disana, disamping tentu saja sibuk kesana kemari, tapi sekalipun menginap di rumah ayah ibu, mereka jarang menyalakan TV, sudah begitu adanya sedari aku kecil dulu. Seperti kemarin pagi saat aku menelepon ibuku, tanpa sengaja aku menyinggung berita yang tengah jadi viral di medsos yaitu ibu ibu yang menyerang seorang anggota polisi, ibuku terkaget kaget keheranan, dia sama sekali tak tau berita yang tengah jadi buah bibir itu, ada di TV kok kataku. Dan jawab ibuku… seperti kamu tau kan kami jarang menyalakan TV, setidaknya dengan tidak menyalakan TV hati kami tetap tenang, tidak was was melihat dan mendengar berita jaman kini yang ajaib. Tapi ibu ketinggalan berita paling ajaib saat ini bu….. Yang langsung disambut tawa lepasnya.