Lelaki Indomie

Noodles bukan makanan favorite nya. Namun matanya berbinar saat melihat tumpukan dus indomie goreng disebuah toko.
Mie kesukaanmu! Serunya padaku (walau sesungguhnya dia tahu aku sedang mengurangi makanan yang mengandung karbo).
Dengan gembira dia segera menenteng dus tersebut dan membawanya ke kasir.
Aku teringat beberapa tahun yang lalu, saat dia untuk pertama kalinya melihat karung berisi beras 20 kg dan langsung membelinya.
Untuk dia yang biasa hanya melihat beras 1 kg atau mie yg dijual perbungkus di supermarket, menemukan mereka dalam jumlah yang banyak adalah bagai menemukan harta karun.
Sayang aku bukan pemakai emas dan berlian, jika saja begitu mungkin dia sudah menentengnya dan menyerahkan padaku jika melihat toko perhiasan. Ah!!!

Advertisements

This is life……

Aneh, terharu atau tepatnya tercengang, saat kata kata  ‘dit is het leven’ atau ‘inilah kehidupan’ diucapkan Cinta sambil memelukku.

Senin, 5 Maret aku datang ke sekolah si kembar untuk menonton pertunjukan anak anak di sekolah. Hari itu adalah cultuurdag (hari kebudayaan) di sekolah. Setiap anak mengambil peranan kecil dalam pertunjukan yang diadakan sekolah, semacam drama kolosal yang melibatkan semua anak di sekolah tersebut. Kelas si kembar hanya muncul sekitar dua menit, dua puluh enam anak yang berkostum hijau maju ke tengah lingkaran (panggung drama) saat suara angin berderu deru berkumandang. Mereka memerankan pohon pohon dan daun daun di hutan.  Kemudian duduk kembali di pinggir lingkaran saat suara angin berhenti.

Tempat duduk gerombolan kelas si kembar yang tak jauh dari tempatku menonton memudahkan diriku untuk saling melambai pada mereka.Cahaya tak terlalu memperdulikan kehadiranku, namun Cinta berkali kali mencuri pandang ke arahku.

Ada satu adegan dalam drama tersebut yang menarik perhatianku, saat kelas yang lebih kecil  (kelas satu) maju ke tengah lingkaran. Semua anak yang bertopi kertas dan memegang bendera kertas menari nari sambil sesekali membungkukan badan pada raja yang ada di hadapannya. Dari tiga kali membungkukan badan, tiga kali pula topi kertas salah satu anak  terjatuh. Si anak memungutnya kembali, menaruhnya dikepalanya, namun terjatuh lagi saat dia kembali membungkukkan badannya.

Tiba tiba airmataku meleleh menyaksikan adegan tersebut. Bukan, bukan merasa kasian pada anak yang tiga kali pula memungut topinya tapi pada pikiranku yang melanglang buana menyaksikan si anak yang berkepala plontos tersebut. Dia seorang anak perempuan….

Aku teringat pada cerita si kembar saat mereka baru beberapa minggu di sekolah baru tersebut, mereka bercerita bahwa ada seorang anak kecil perempuan yang menangis di tangga sekolah,  dia tak mempunyai rambut sama sekali. Si kembar menyapanya, bertanya apakah kamu baik baik saja? Ada yang bisa kami lakukan untukmu? Namun si anak tersebut menggeleng, yang tak lama berselang seorang guru melihatnya dan membawa anak tersebut ke kelasnya. Di kemudian hari si kembar bercerita padaku bahwa ternyata anak tersebut menderita kanker.

Saat aku melihat anak yang terjatuh topinya dan dia tidak memiliki rambut, tiba tiba saja aku menebak pasti inilah anak yang dulu diceritakan si kembar. Aku memandang dirinya, berpikir jauh betapa tabahnya dia, membayangkan orang tuanya yang harus sama sama berjuang. Dan aku tiba tiba merasa malu saat aku mendapati diriku bergumam…. untunglah dia bukan anakku. Dan air mataku meleleh antara malu dan bersyukur.

Usai pertunjukan, si kembar menghampiriku dan bertanya apakah mereka boleh bermain ke rumah temannya. Aku mengizinkan namun aku harus mencari orangtua si anak tersebut, apakah dia setuju pula. Ayah si anak yang akan dikunjungi si kembar langsung berkata setuju dan bertanya padaku jam berapa si kembar akan dijemput di rumahnya. Tiba tiba Cinta berkata, bahwa dia tidak ingin bermain ke rumah temannya dan membiarkan hanya Cahaya yang ikut mereka.

Sambil berjalan pulang, aku bertanya mengapa Cinta tiba tiba tak ingin bermain. Dia menjawab santai bahwa dia ingin berdua saja denganku di rumah. Sampai di rumah, tiba tiba Cinta berkata bahwa dia melihat air mataku saat pertunjukan barusan, dia bertanya, mengapa.

Lalu meluncurlah ceritaku bahwa aku bersedih pada anak kecil yang topinya berkali kali jatuh, dan bertanya apakah dia yang menderita kanker. Cinta mengiyakan, sekaligus menghampiriku dan berkata bahwa aku tak perlu bersedih, karena anak tersebut semakin hari semakin membaik. Kemudian Cinta memelukku sambil berkata…. tapi itulah kehidupan, ada yang sakit kanker ada yang tidak, dan aku beruntung bahwa aku tidak kanker, bunda tidak, Cahaya tidak, dan papa juga tidak. Tutur Cinta lembut. Tapi bunda, percayalah jika kamu sakit aku akan menjagamu….

Dan air mataku semakin deras mengalir………..