Kulit Pastel

Sudah seminggu lamanya mengidamkan bikin pastel. Bikin ya bukan makan. Tiba tiba saja terinspirasi saat minggu lalu dibekali dua buah pastel dari seorang teman. Dulu pernah juga bikin pastel untuk pertama kali, tapi langsung berjanji tidak akan bikin lagi diakibatkan keribetan membuat kulitnya.

Dua potong pastel itu aku bawa ke tempat kerja keesokan harinya, aku tawarin pada seorang kolega yang tepat duduk di sebelah ku saat kami break di kantin. Sudah barang tentu si Belanda ini memuji kelezatan pastel tersebut.

Hari senin kemarin sepulang kerja, aku menelepon teman ku itu, aku minta resep kulit lumpia seperti yang dia buat, kukatakan pada nya bahwa aku telah googleling tapi tetap aku ingin tau resep kulit pastel buatan ya karena menurut dia anti gagal.

Dan Inilah resep yang dia gunakan, yang menurut dia hasil pencari an di Internet.

250 gr tepung terigu

50 gr boter

50 gr minyak sunflower

80 gr air

Sejumput garam

Semua diaduk saja, setelah boter ya dicairkan terlebih dahulu. Diuleni hingga kalis, diamkan kira kira satu jam, baru bisa di pakai.

Saat itu aku langsung membuat tiga adonan. Membuat isiannya dari pukul satu siang, dengan harapan pukul 3 siang saat anak anak pulang bisamenyantapnya. Tapi ternyata tidak begitu, aku baru bisa menggoreng sebanyak 7 biji tepat saat makan sore tiba sekitar pukul 6 sore. Pembuatan selanjutnya aku lanjutan pada pukul 8 malam dan baru selesai pada pukul setengah 10 malam.

Dari 3 adonan yang aku buat, berhasil menghasilkan pastel sebanyak 33 buah dengan berat masing masing perbijinya 60 gr.

Melihat perjuangan ku dari siang hingga malam (brenti brenti juga) ternyata membuahkan waktu dan effort yang tidak sedikit. Rasanya pastel yang banyak beredar di toko seharga 1,75 euro satuannya termasuk harga yang murah jiga dibandingkan perjuangan membuatnya.

Biro Jodoh

Bicara tentang permintaan ‘tolong cariin cowok/cewek’ dari beberapa orang kenalanku rasanya bukan bahasan yang terdengar asing di telingaku . Tapi hari ini ditengah suasana mendung yang menyelimuti Belanda dalam beberapa hari terakhir, kok jadinya aku tertarik buat nulis tentang hal yang satu ini.

Kemarin aku menerima pesan App bertubi tubi dari nomor yang tidak dikenal, bunyinya permintaan tolong dicarikan suami, yang ternyata bukan buat dirinya tapi untuk temannya. Pesan itu dilengkapi foto si pencari jodoh tersebut, tak lupa diertakan pula kriteria suami yang diinginkan. Yang menurutku calon yang diminta begitu istimewa dan nyaris sempurna. Sesaat membaca pesan tersebut, emosi sempat naik. Kok berani beraninya tanpa basa basi tanya kabar terlebih dahulu langsung minta tolong ke permasalahan yang satu ini. Namun begitu aku melihat foto profiel yang ada di nomor App tersebut, aku langsung mengenali orang tersebut. Beliau adalah istri dari seorang temanku semasa SMA yang hingga saat ini masih berteman baik denganku. Aku segera melupakan keterkejutanku saat ditodong tiba tiba, menjawab pesannya dengan ramah dan sopan, singkat dan sedikit menyenangkan sang peminta.

Jawabku, Hallo dear…kebetulan untuk saat ini aku tidak mempunyai calon suami yang sekiranya dapat dijodohkan atau dikenalkan pada temanmu itu. Namun, jika ada seorang laki laki yang datang padaku untuk dicarikan wanita, maka aku akan menghugungimu. Ceila, begitulah kira kira jawabanku yang disambut suka cita oleh orang diujung sana. Alamak, maafkan aku yang nyengir membaca betapa antusiasnya walau dijawab dengan kata ‘jika ada’.

Itu bukan satu satunya contoh yang minta dicarikan jodoh. Belum lama ini ada kasus serupa permintaan jodoh, dia adalah temanku semasa sekolah (sengaja kali ini tidak disebutkan, saat sekolah apa. SD, SMP, SMA atau universitas). A, temanku itu tiba tiba meneleponku. Aku menyambutnya dengan gembira, karena setiap kali dia menelepon dia selalu membawa keceriaan. Tapi tiba tiba saja kali ini tema nya jadi tentang permintaan jodoh…. darliiingggg tolong dong cariin aku bule! Awas harus yang ganteng ya, baik hati dan kaya raya! Mendengar suaranya yang riang gembira, aku segera menyuruhnya istigfar saat dia minta bule. Lha, gimana bisa dia minta bule sedangkan dia belum lama ini baru saja menikah dengan seseorang dan tinggal di luar Indonesia? Lalu meluncurlah ceritanya….. Bahwa saat ini dia dalam proses perceraian, menceritakan bahwa suaminya bukan manusia seperti ‘harapannya’ dan kini temanku  sudah kembali lagi ke Indonesia.

Kujawab permintaannya dengan tegas, bahwa aku tidak bisa mencarikan dia bule, kujawab sejujurnya bahwa aku bukan type orang yang bisa menjodohkan dan mau bersusah payah untuk itu. Kukatakan pula bahwa selama aku tinggal di Belanda aku belum pernah mengenal bule yang super kaya seperti standar hidupnya di Indonesia. kusinggung juga padanya mengenai fotonya yang belum lama ini berseliweran di media sosial miliknya yang terlihat bersama dengan artis cantik papan atas ibukota yang menyabet predikat super rich. Tuhhhhh harusnya kamu mencari jodoh dikalangan sana, semburku. Dia tertawa renyah. Ah dia selalu bersahabat dan enak diajak bercerita. Dia yang aku tau tak pernah membedakan manusia dari bentuk fisik, wajah dan kekayaannya. Namun ajaibnya dia minta cowok yang kaya (eh sah sah saja kan?). Dia selalu bisa bercengkrama denganku tentang apa saja dan selalu diselingi dengan humor yang tidak garing.

Setelah kami selesai berbincang bincang, aku tercenung cukup lama. Kehidupan siapa yang tau. Si cantik jelita, berada di lingkungan glamour. Orang yang memandang kehidupannya tidak akan menyangka ada apa dibalik semua gemerlap itu, tentang kekosongan hati seperti yang dia ceritakan. Pencarian yang hingga kini belum dia temukan.

Makan apa kita hari ini? Wat eten we vandaag?

Makan apa kita hari ini alias wat eten we vandaag? Ya itulah pertanyaan itulah yang hampir tiap hari dilontarkan oleh Cinta. Jika sedang bad mood, rasanya ingin sekali menjerit jika mendengar pertanyaan tersebut. Tapi eitsss seorang ibu ga boleh gitu ya😁.

Apakah hanya aku saja yang dilanda kepanikan dan kebingungan jika pukul 6 sore segera tiba? Saat jam makan malam telah tiba dimana artinya aku sudah harus masuk dapur, memasak. Kebanyakan (tidak semua tentunya) orang yang tinggal di Belanda mengikuti kebiasaan orang Belanda yang hanya makan panas satu kali yaitu jika makan malam tiba. Kenapa disebut makan panas? Ya, karena ada proses memasak terlebih dahulu, entah itu diatas api, oven atau sekedar masuk microwave, pokoknya ada suhu panasnya.

Jawabannya ternyata tidak, tidak hanya aku saja yang harus berpikir keras jika harus memasak apa untuk hari ini, beberapa ibu ibu bercerita hal yang sama, hanya bapak bapak saja yang lebih santai, mereka memasak seketemunya bahan bahan yang dilihat di supermarket atau di kulkas sekalipun, tanpa banyak mikir sebelumnya harus masak apa. Aneh kan, seharusnya ibu ibu dong yang lebih praktis, karena pengalaman mereka memasak untuk keluarga lebih sering daripada para bapak (setidaknya kenyataan itu yang terjadi di rumah kami).

Nah kebingungan memilih menu masakan untuk hari ini diperlihatkan oleh sebuah iklan supermarket disini, iklan supermarket Jumbo. Iklan tersebut aku banget! Pertama kali aku melihatnya, aku langsung ketawa ngakak pilu. Kok pilu sih? Iya sulit digambarkan, perasaan hati yang tiap detik yang di pikirkan adalah mo masak apa hari ini. Saat sarapan pagi (di surat kabar yang sedang di baca su ami), di baju anaknya, di perjalanan menuju tempat kerja, bahkan saat meeting pun yang ada adalah tulisan ‘wat eten we vandaag’. Agak berlebihan sih, tapi kan disitu intinya.

Dari ide iklan tersebut lah aku mencoba hidup lebih praktis. Yakni memulai memasak ala Belanda yang gampang gampang, saking gampang nya sekarang aku sering masak yang dari bumbu jadi, tinggal stok aja berbagai bumbu dan bahan bahan kering, sisanya seperti sayuran atau daging pendukung tinggal beli ke supermarket saja pas hari H nya.

Berikut masakan mudah ceria yang berhasil aku rekam sepulang kami liburan dari Indonesia. Oh ya selama kami di Indonesia, Cinta tidak pernah bertanya ‘makan apa kita hari ini’ 😁. Eh begitu balik, bahkan hari pertama nyampe rumah dia sudah bertanya hal tersebut.

Foto yang aku tampilkan sengaja aku buat dengan bahan bahan sebelum makanan tersebut jadi. Semua bahannya praktis, cara buatnya pun gampang.

1. Nachos

Favourite mereka bertiga, hingga saat ini hanya Luc yang memasak nachos di rumah, menurut dia gampang saja. Pertama oseng daging giling bersama bumbu taco (seperti dlm foto). Taburkan chips nachos di pinggan taburi daging giling (gahaakt) dan keju diatasnya. Masukan oven sekejap, keluarkan kemudian taburi potongan bawang merah, tomat, salada dan cheese cream. Jadi deh.

2. Kentang schotel

Banyak cara untuk membuat schotel yang berbahan kentang, schotel ala buatanku lah yang hingga saat ini paling mudah menurutku. Pertama siap kan bahan bahan yang gampang di dapat di supermarket, seperti kentang iris yang sudah di masak setengah matang, daging giling, sayuran untuk membuat pasta seperti wortel, bawang bombai, daun bawang, paprika bahkan jamur kan cing sekali pun, pokoknya berbagai sayuran campur yang sudah siap dalam kemasan plastik. Secara bertahap aku masukan daging giling, sayuran, kentang, setelah agak layu baru masukan susu cair, bisa juga di tambah yoghurt tanpa rasa atau pun slagroom cair pokoknya apupun produk susu yang ada di kulkas, setelah itu beri bumbu seperti garam, merica dan bubuk pala. Jika punya royco boleh ditambahkan. Aduk sebentar mati kan kompor. Kemudian semua dimasukan ke pinggan jangan lupa masukan kocok an telur dan taburi dengan keju parut dan siap masuk oven.

3. Chili con carne

Bahannya dasarnya daging giling, kacang merah, paprika, prei, bawang bombai. Pembuatannya lebih mudah dari kentang schotel. Semua bahan tinggal masuk wajan semuanya kemudian masukan kemasan bumbu chili con carne yg telah di campur air. Tralaaa jadi lah dalam sekejap.

4. Suriname roti

Ini makanan kesukaan Luc. Roti sekaligus bumbunya yang dikemas dalam kemasan jar kaca bisa di beli di toko. Bahan dasarnya potongan daging ayam filet yang di masak dengan bumbu siap saji dalam jar (tersedia berbagai merk). Setelah ayam masak masukan telur rebus dan potongan kacang panjang. Makannya dico’el co’el gitu ga pake sendok garpu.

5. Kupat tahu

Ini kupat tahu asal jadi, bumbunya pake bumbu pecel yang tinggal dituang air panas aja (tapi biasanya aku masak diatas kompor). Saking sukanya si kembar akan bumbu kacang (pinda saos) aku sampe mencoba beberapa merk bumbu kacang yang mudah di dapat di supermarket. Akhirnya aku menemukan bumbu kacang yang paling enak dan harganya sangat murah (hal Inilah yang paling membuat ku bahagia😁). Mereknya Koki Djawa ! Ambil yang gado gado, jangan yang bumbu sate. Karena rasanya yang tak karuan. Lontong nya bisa bikin sekaligus, kuat disimpan di kulkas untuk beberapa hari, pembuatan kupat tahu bisa dikombinasikan dengan pembuatan opor ayam di hari berikutnya, jadi kita tak perlu repot repot membuat lontong di hari berikutnya.

Demikian beberapa contoh masakan mudah dibuat dan meriah hasilnya. Selain itu banyak lagi contoh lainnya, seperti berbagai jenis pasta seperti spaghetti atau pun macaroni.

Ataupun berbagai jenis ikan filet yang bisa kita beli dalam keadaan beku ataupun tidak, asal kan telah dibumbui dan tinggal masuk oven atau penggorengan keduanya sama mudahnya, seperti ikan panga filet yang biasa kami santap.

Oh ya tips yang lain, jika sungguh malas masak, biasanya aku menyodorkan tosti pada anak anak. Dijamin semua bahan akan tersedia tiap hari hampir di semua rumah, roti (tidak harus jenis roti tosti) mentega, keju, dan irisan daging asap.

Mungkin kalian bisa menambah kan contoh makanan /masakan yang lainnya yang mudah dibuat untuk makan malam?

Pasar Raya Indonesia 2019: Pandora 2019

Sedikit berbeda dengan pasar malam, Pandora 2019 https://pasarindonesiaraya.nl/ (pesta rakyat 2012 – 2016, Pasar Raya 2017-2018) tak hanya menampilkan pasar/jajanan semata namun menonjolkan hiburan yang lainnya, seperti seni musik, tari dan lainnya. Didukung oleh artis Indonesia yang ada di Belanda atau pun yang langsung didatangkan dari Indonesia.

Awalnya tahun ini aku akan melewatkan event tersebut karena rasa rindu ku akan Indonesia baru saja terobati dikatenakan aku baru saja mudik dua minggu yang lalu dari Indonesia, tapi toch begitu melihat beberapa postingan teman di media sosial mengenai kehebohan Pandora, tak ada salahnya kan aku datang kesana😉. Terlebih lagi tidak dikenakan tiket masuk dan lokasinya yang tidak jauh dari rumah.

Pandora 2019 diadakan mulai tanggal 13 hingga 15 September 2019, nah kalang kabut dong aku mencari teman untuk datang kesana di detik detik terakhir. Mereka umumnya sudah datang di hari pertama atau kedua, dengan pasrah akhirnya aku meminta suami tercinta untuk menemani ku kesana, tak rela rasanya saat aku melihat si dia sedang giat membersihkan kaca jendela untuk pertama kalinya sejak kami pindah rumah, yakni dua tahun yang lalu, masa aku merusak moment membersihkan kaca dengan mengajaknya bersenang-senang? 😂

Jadi?! Ya aku menelpon seorang teman lain, eh jawaban di sebrang sana sungguh renyah…. Ayo! Kemaren aku udah sih, tapi boleh lah kesana lagi, mo beli lemper! Enak lho! Mo ketemu dimana? Siapa yang mo bawa mobil? Jam berapa? Aku selesai kan setrikaan dulu ya?!

Aha, jika Tuhan menghendaki ternyata semuanya mudah saja. Aku bisa pergi kesana sementara sang tercinta tetap bisa melanjutkan membersihkan seluruh kaca rumah dan mencuci baju! 😂🤣

Dan hari minggu ini aku bisa melihat Yayang (bali dancer) menari, makan baso Nusantara, makan es duren di pempek Elsya dan berhasil membawa pulang martabak manis untukku dan Luc juga membawa pesanan dua bantal guling untuk si kembar, dua buah risoles, dan akupun berhasil membeli dua payung cantik dari kain, oh ya aku juga mendapat tambahan dua euro dari seorang donatur 😉😁yang melihat ku dengan trenyuh saat aku menghitung uang cent yang tersisa, dengan uang tersebut aku berhasil membeli keripik balado. Terimakasih semuanya, yang menambah hari minggu ku semakin cerah ceria.

The Legend!

Hari ini tanggal 7 September, tepat empat tahun yang lalu aku berhasil meraih SIM Belanda dengan perjuangan yang menurutku sangat panjang. Pengalamanku mengendarai mobil belasan tahun di Indonesia seperti tiada artinya. Padahal dikala itu aku di kenal sebagai pengendara yang handal (bukan type ibu ibu yang ngasih sen ke kri tapi tiba tiba belok ke kanan😁). Di Belanda aku belajar lagi dari awal, lebih gugup dari saat aku mendapat mobil pertama di usia 18 tahun.

Penghargaan kedua diberikan suami tercinta minggu lalu saat kami pulang dari Indonesia, dia baru menyadari bahwa menyetir di Belanda punya kesulitan yg berbeda dengan di Indonesia, liburan kali ini adalah liburan kesepuluh kalinya Luc menginjakan kaki di Indonesia namun bari kali ini dia berani menyetir di Indonesia, awalnya dia tak percaya bisa berani menyetir sendiri di Indonesia dengan lalu lintas nya yang ‘aduhai’ ternyata tiga minggu di Indonesia dia sudah sehandal supir pribadi yang tau aturan berlalu lintas tapi di lain kesempatan dia bisa seenaknya seperti kebanyakan supir angkot yang seenaknya, dia bisa mencari jalan tikus dengan percaya diri dan dapat menenangkan penumpang lainnya untuk mempercayakan semuanya padanya. Dia bisa menempatkan dirinya dengan baik, maka anugrah untuk Luc adalah the best driver in this year! Haha. 😛.

Dia berkata pada ku, walau pun lalu lintas di Indonesia padat dan semeraut, tapi dia masih bisa mengontrol laju mobilnya dan memprediksi mobil yang lainnya, tapi di Belanda karena kecepatan yg cepat dan semuanya mesti akurat semua itu menimbulkan kesulitan yang berbeda. Dia membenarkan bahwa menyetir di Belanda memerlukan konsentrasi yang lebih tinggi. Sedangkan di Indonesia menyetir mobil terasa lebih santai.

Jadi aku bisa berbangga kini, memiliki SIM Belanda dengan jatuh bangun untuk mendapatkan nya memang sesuatu yg istimewa.

Ps.

Hingga kini aku masih memiliki mobil pertamaku, daihatsu charede 1982 (mobil yang lebih tua dari kelahiran adikku sekali pun) pemberian ayahku. Mobil tersebut kini berada di garasi rumah adikku, bertahun tahun aku tidak pernah mendengar kabarnya apakah dia masih di gunakan adikku atau tidak. Namun di liburan kali ini, adikku mengejutkanku dengan mengajak ku berjalan jalan dengan mobil pertamaku. Mungil, tua dan penuh kenangan. Si beureum, kami menyebutnya. The Legend! Terimakasih Bay, yang masih menyimpannya dan mengurusnya.

Jajan apa di Jogya?

Lima hari di jogya

(19-23 Agustus 2019)

Yang paling di damba jajan pecel yang jualannya si mbok trus pake bakul gitu. Tapi, liburan kali ini aku belum menemukannya. Entah ngumpet dimana itu si mbok.

Jadi dah jajan apa dong?

Kopi klotok

Pulang dari MGM (museum gunung semeru), ponakan ku yang sedang kuliah di UGM dan yang siap siaga mengantarkan kami jika tidak ada jadwal kuliah membelokan mobil nya ke jalan sempit dimana di belokan jalan terdapat penunjuk jalan bertuliskan kopi klotok.

Ngopi dulu, teu! Serunya. Aku makin tertarik saat dia merekomendasikan tempat ini sedang menjadi tempat kekinian sebagai tempat nongkrong anak muda di jogya dan para turis lokal yang sedang berkunjung ke jogya.

Eitss benar saja apa kata ponakanku, di tempat parkir yg seadanya, sudah berjejer mobil mobil juga di jalanan menuju kopi klotok. Begitu aku berjalan menuju tempat tersebut dan melihat tempatnya, aku kian terpana melihat penampilan nya. Jangan berharap kalian akan melihat tempat makan mewah yang modern, yang kesohorannya telah memanggil para pecinta kuliner dari pelosok dunia (ya ya terlalu hiperbola sih😁).

Tempatnya adalah rumah sederhana khas jogya yang tua dan antik. Melihat ini semua, aku makin penasaran untuk merasuk ke dalam, ponakan ku mengarahkanku untuk berbaris di antrian yg panjang, ini prasmanan teu, kata ponakanku menjelaskan.Tiba giliran kami menyendokan nasi ke piring, sang ponakan memperingatkan Luc untuk mengingat makanan yg dia taruh di piring, gunanya untuk menghitung saat pembayaran nanti. Aku tertawa pelan sambil berkata pasti inget lah, karena menu yg tersedia tak banyak pilihan nya.

Sementara si kembar menolak untuk ikut makan saat melihat menu yang tersaji.

Selesai melewati fase pengambilan nasi dilanjutkan fase pencarian tempat duduk. Ini yg agak susah apalagi buat aku yang pertama kali kesana. Akhirnya kami mendarat di selembar tikar, tentu saja meneer Luc kesulitan saat aku harus bersila.

Peluh bercucuran saat dia menyantap nasi yg bermenu sayur lodeh, tahu goreng dan telur dadar yang mirip telor ceplok. Aku dan dia sama sama kepedasan akibat sayur lodeh yang dimasak ala rumah an ternyata pedas sekali sehingga sambal rawit merah yang aku serta kan di piring tak aku sentuh. Sungguh pemandangan yang memilukan melihat Luc tersiksa seperti itu sementara air minum yang kami pesan tak kunjung tiba juga. Sementara kami berdua tak kuasa menghabiskan makanan kami, ponakan ku dengan gilang gemilang makan dengan nikmatnya sementung nasi berlauk telor dan tahu goreng.

Saat aku membayar apa yang kami makan, di lorong menuju pintu keluar kulihat beberapa pigira bertanda tangan artis terkenal diantaranya Meriam Bellina. Oh ya, saat kami makan aku melihat sosok cantik semampai bersama seorang pria yang tak kalah ‘menggiurkannya’ dengan sang wanita. Apakah sang wanita itu Luna M? Aha, sayangnya aku bukan lambe lambe yang ada di medsos untuk mencari tau.

Je Jamuran

Tak sengaja aku melihatnya saat kami pulang dari arah Magelang menuju hotel di Jogya. Dan kami sungguh bersyukur bisa mampir kesana. Makanannya cocok di lidah ku dan aku adalah penggemar jamur. Semua makanan yang ada disana hampir semuanya mengandung unsur jamur, bahkan es cendol yang di pesan Luc sekali pun.

Disana kami memesan paket menu 1, paket ini diperuntukan untuk 4 orang, walau pun kami datang berlima (bersama Sopir) tapi toh paket yang untuk 4 orang tersebut tak seluruhnya mampu kami habis kan, mungkin krn si kembar hanya makan nasi saja dan kerupuk hihihi, sehingga menu yang tersedia tak habis.

Nuansa rumah makan nya pun cukup nyaman, ada sinden yang nenyanyi diiringi gamelan Jawa. Seperti biasanya Luc selalu terpana melihat mereka yang memainkan musik tradisional Indonesia.

Lumpia Samijaya

Adanya di trotoar malioboro dan sepertinya terkenal dikalangan orang lokal yang tinggal disana.

Penampilannya mirip lumpia semarang tapi lumpia yang ini bukan berisi rebung namun berisi irisan bengkuang. Harga satuannya 5000 sedangkan yang special (diisi telur puyuh) seharga 6000.

Jika kita membeli minimal 10 biji untuk dibawa pulang maka lumpia yg telah digoreng itu akan dimasukan ke besek bambu, berpenampilan tradisional dan tentunya ramah lingkungan.

Memories of Dieng

Hari ke 18

21 Agustus 2019

Ternyata berbeda dari ingatanku saat aku pertama kali mengenal Dieng. 16 tahun yg lalu. Dulu sunyi senyap disana, udara dingin terasa menggigit. Suasana alam yang tentram membius hatiku, aku jatuh cinta!

Kawah Sikidang yg dulu terasa sulit dijamah, kini dengan mudah didaki, ada jalan setapak bersemen yang membantu kita mencapai ke kawah. Bahkan sebelum mencapai tujuan, kita harus melewati tenda tenda penjual makanan dan oleh oleh di kanan kiri. Mereka gembira saat kami melirik dagangannya kemudian membelinya. Tak perlu gundah gulana saat menyadari tangan sudah penuh oleh tentengan, ada tangan lain yg bisa menerima perpindahan tentengan ke tangan lain di sepanjang perjalanan pulang nanti, tukang parkir yg gembira menerima kentang untuk di masak istrinya di rumah nanti. Ada petani kentang yg sumringah saat carica yg kami beli bisa dia bawa pulang untuk anaknya.
Walau begitu saat kami tiba diatas, kami cukup ‘terpana’ melihat pemandangan dibawah, kok jadi seperti melihat rumah bedeng yg merusak pemandangan alam. Kalau dalam bahasa Sunda nys, jadi ‘sareukseuk’ atau romelig dalam istilah lainnya. Namun disisi lain mungkin Inilah yg disebut meningkatkan perekonomian daerah.

Saat memasuki kawasan komplek candi Arjuna, pemandangan sudah tertata rapi, yang berbeda kini pengunjung diharuskan memakai kain batik saat memasuki kawasan tersebut, jika dahulu dapat masuk begitu saja. Dan tentu saja kini semuanya berbayar mulai dari bawah saat kami masih berada di Mobil, tiket masuk yg berlapis lapis.

But anyway, kami dalam keadaan liburan, menikmati hari ini, sambil tetap bersyukur tentunya.

Dan ini bonus video😁