Cilok dan setoples bumbu kacang

Image

Ingat jaman Sekolah dasar, jajanan favorit adalah cilok dan cireng.
Berkali kali melanggar larangan orangtua untuk tidak jajan sembarangan.
Tapi cilok selalu memanggilku jika jam istirahat tiba.

Cilok dengan bumbu saos kacang dicampur saos tomat yang tak tau rimbanya apakah berasal dari tomat atau sekedar pewarna murahan.
Cilok yang boleh dibeli dan langsung dicelupkan pada bumbu kacang tersebut dengan satu kali celupan.
Cilok dengan memori yang kuat melekat dan tawa masa kini jika ingatanku melambung pada sosok nakal teman sekelasku yang telah membuat berang penjual cilok yang lugu tapi jujur.
Temanku yang dengan polosnya kembali mencelupkan cilok yang telah dijilatnya pada bumbu yang berada di panci kecil milik si penjual.
Baahhhhhhhhhh, pada jaman itu tapi tawa pada masa kini.

Kini aku tak perlu lagi menahan air liur untuk berbuat gila dan polos seperti temanku untuk menjilat cilok dengan bergelimang saos yang gurih.
Kini aku bisa makan cilok sesuka aku, dengan saos kacang terlezat, dengan kacang yang diimpor dari negara pengimpor kacang terbaik, dengan cabe dan rawit yang didatangkan dari penghasil cabe dan rawit terbaik.
Dan aku bisa mencelupkan berkali kali cilok pada toples yang besarnya luar biasa untuk ukuran satu cilok kecil.
Tanpa harus merasa bersalah, tanpa harus mendapat murka dari penjual cilok di sekolahku, seperti temanku dulu.

Pada temanku, kudoakan kini kau bisa menikmati cilok dengan setoples besar bumbu kacang sepertiku.

Pada kau penjual cilok dan para penjual makanan SD di SDN Cijagra Jl. Situ Lembang Bandung, dimana kalian berada?
Si Iing tukang es doger sahabatku,
Mang Ari, tukang baso legendaris,
Si Crisye, penjual es campur terlezat,
Mang Abuy, tukang bubur langganan kami,
Si mang buah yang selalu memberikan ekstra sambal bubuk padaku, dia yang aku ingat selalu berlari ke mesjid Baladun Amin, setiap azan Azhar berkumandang, tak peduli jam segitu adalah saatnya istirahat kedua dimana anak anak siap membeli dagangannya, hingga aku selalu berlagak menjadi asistennya, melayani jika ada yang membeli.

Kudoakan pada kalian para pejuang hidup, para penjual bermental jujur dan baik hati, untuk selalu berbahagia di akhir hidup kalian. Jika mungkin kalian tak mendapatkan limpahan harta didunia kini, tak usah khawatir. Aku yakin seyakinnya, Tuhan yang Maha Kuasa telah mempersiapkan kenikmatan di lain tempat suatu saat nanti.

Dan untuk kawan kawanku penggemar cilok, mari kita nikmati cilok dan saos kacangnya yang berlimpah.

Rotterdam, 31 January 2014

Advertisements

Blue Monday


Hidup di negara yang mempunyai empat musim, membuat kita jadi rajin untuk selalu mengikuti prakiraan cuaca alias ramalan cuaca, kalo lupa satu hari saja tidak nemgecek cuaca hari ini, maka tau sendiri akibatnya……bisa salah kostum, bahkan kalo kita hanya menarik garis kesimpulan untuk hari ini tanpa melihat apa yang terjadi nanti siang bisa fatal juga, contohnya pagi hari cuaca cerah tau tau jam 12 bisa terjadi hujan. Jadi sebelum melakukan aktifitas cek baik baik apa kata ramalan cuaca jam 6 pagi, 12 siang dan 6 sore, karena pa yg diramalkan 90% selama ini selalu terbukti benar.

Seperti hari ini tgl 17 Jan 2011, hari ini disebut juga hari senin kelabu alias Blue Monday, kenapa begitu?

Begini ceritanya…….
Hari ini tepat  akan jatuh malam terpanjang dan siang terpendek dalam satu tahun. So saya segera mengecek islamic finder panduan kita semua ( jadwal sholat dll) dan benar setelah saya liat hari ini Fajr jam 06.41 (kalo di Indonesia mah adzan awal) dan sunrise 08.43, walau dikatakan jam 9 pagi akan mulai terang, tapi sekaran jam 11 siang  masih terasa jam 6 pagi di Indonesia. Dan hari akan mulai gelap gulita pada jam 17.00 alias adzan magrib mulai berkumandang.

Di waktu musim dingin juga biasanya kami berlomba lomba puasa senin kamis (pasti tau alasannya kan……hehehe yap! waktunya singkat)

Tentunya ada malam terpanjang dan ada juga malam terpendek, ya….malam terpendek jatuh pada pertengahan musim panas nanti  atau disebut juga the happiest day of the year.

Tadi pagi saya melihat berita di TV yang cukup membuat saya tertawa, hari ini di suatu tempat (di Belanda) akan dibuka workshop untuk menghalau blue monday menjadi ceria, caranya kita diajak tertawa bersama.

Nah bagi mereka yang suka itung itungan dan suka berlagak jadi ilmuan (kadang seperti suamiku yg harus jelas segala sesuatunya hehehe) berikut saya lampirkan bagaimana perhitungan blue monday bisa jatuh hari ini

http://nl.wikipedia.org/wiki/Blue_Monday_(dag)

Blue Monday is a name given to a date stated, as part of a publicity campaign by Sky Travel, to be the most depressing day of the year.

This date was published in a press release under the name of Cliff Arnall, at the time a tutor at the Centre for Lifelong Learning, a Further Education centre attached to Cardiff University. Guardian columnist Dr Ben Goldacre reported that the press release was delivered substantially pre-written to a number of academics by Public Relations agency Porter Novelli, who offered them money to put their names to it.[1] The Guardian later printed a statement from Cardiff University distancing themselves from Arnall: “Cardiff University has asked us to point out that Cliff Arnall… was a former part-time tutor at the university but left in February.”[2]

According to a press release by a mental health charity[3], the formula is:

http://upload.wikimedia.org/math/1/d/a/1da90efee88e1a738833621cba3b84ff.png

where weather=W, debt=d, time since Christmas=T, time since failing our new year’s resolutions=Q, low motivational levels=M and the feeling of a need to take action=Na. ‘D’ is not defined in the release, nor are units.

Arnall says the date was calculated by using many factors, including: weather conditions, debt level (the difference between debt accumulated and our ability to pay), time since Christmas, time since failing our new year’s resolutions, low motivational levels and feeling of a need to take action. Writing about the calculation, Goldacre stated: … the fact is that Cliff Arnall’s equations … fail even to make mathematical sense on their own terms.[1]

This date allegedly falls on the third Monday of January. The date was declared by Arnall to be 24 January in 2005,[4] 23 January in 2006,[5] 22 January in 2007,[6] 21 January in 2008,[7] 19 January in 2009[8], 18 January in 2010 and 17 January in 2011 [9]

Mr Arnall also says, in a press release commissioned by Wall’s ice cream,[10] that he has calculated the happiest day of the year – in 2005, 24 June,[11] in 2006, 23 June,[12] in 2008, 20 June,[13] in 2009, 19 June[14] and in 2010, 18th June.[15] So far, this date has fallen close to Midsummer

PS.
Itu catatan tiga tahun yang lalu. Hari ini tanggal 20 Januari 2014, adalah hari blue monday juga.
Kalian merasa ‘blue’?
Aku tidak! Walaupun hari ini mendung luar biasa, tidak begitu dengan hatiku. Seperti pepatah bilang cuaca boleh mendung, asal jangan jiwa kita. Mari kita usahakan untuk selalu riang gembira.
*anjurankhususnyauntukdirikusendiri*

Hadiah Gratis dari Supermarket

Biasanya urusan belanja adalah urusan ibu ibu.
Tapi dulu tidak begitu dengan diriku, semuanya Luc yang urus. Aku tinggal bilang saja apa yang tidak ada di dapur.
Tapi seperti kataku tadi, itu dulu.

Sekarang?
Walau masih Luc yang belanja tapi sekarang aku mengerti cara belanja ‘bijaksana’ atau malah mungkin jadi lebih boros.

Disini ada istilah aanbieding alias korting alias discount.
Discount tak hanya pada pakaian tapi hampir pada semua barang yang bisa dijual. Sayur, buah, sabun, sampo. Apa saja.

Selain itu ada juga istilah 3+2 yaitu drie halen twee betalen yang artinya ambil tiga cuma bayar dua. Semacam istilah darmaji (dahar lima ngaku hiji) yang dilegalkan. Ada 2+2 artinya bayar dua biji tapi dapat empat buah produk. Biasanya berlaku pada handbody, sabun, sampo, pasta gigi.

Nah karena kini aku mengetahui sistem tersebut, maka aku selalu meminta Luc untuk berbelanja dengan cara melihat reklame terlebih dahulu. Di awal awal sudah tentu Luc selalu menolak cara belanja yang aku anjurkan. Buat apa katanya, berat bawanya, nanti kadaluarsa atau alasan konsumtif karena barang yang tidak kita butuhkan jadi kita beli katanya. Tapi lama lama dia jadi mau mengikuti anjuranku walau tak sepenuhnya, gara gara pada suatu saat dia membeli popok Cinta Cahaya dua buah dan saat di kassa dia hanya membayar tiga per dua dari jumlah uang yang seharusnya dia bayarkan, saat dia mengoreksi pada kasir, si kasir menjawab setiap membeli produk kedua dari produk yang sama maka akan mendapat korting 50%. O la la, seperti mendapat durian runtuh Luc saat itu. Dan sejak saat itu pula dia mulai mengikuti anjuranku sebelum berbelanja meliat iklan terlebih dulu.

Nah selain sistem discount dan lainnya, ada pula sistem lain, yaitu pengumpulan perangko setiap belanja.
Misalnya, setiap pembelian 10 euro maka kita akan mendapat satu perangko yang ditempel pada sebuah kertas (kartu) yang sudah disediakan. Jika kartu tersebut sudah terisi perangko seluruhnya, maka kita boleh menukarkan kartu yang berisi perangko tersebut dengan hadiah yang sudah disediakan.
Hadiahnya berlainan setiap musim, satu musim biasanya berlangsung tiga bulan, jadi tentu saja kertas tersebut harus sudah terisi penuh dalam kurun waktu tiga bulan jika kita ingin hadiah.

Hadiah yang paling kami sukai adalah dus belanjaan yang menurut si supermarket mencapai taksiran nominal 50 euro jika diuangkan. Walau aku tidak tahu benar atau tidaknya, tapi seperti tahun lalu, tahun ini pun kami puas saat menukarkan perangko yang kami kumpulkan denga dus berisi belanjaan tersebut.
Lihatlah isinya, ada diterjen, sabun cuci tangan, spon, pasta, chips, majalah hingga alat bersih bersih, semua ada.
Walaupun itu gratis, tapi jangan salah untuk mendapatkan dus seharga 50 euro itu, kami harus mengumpulkan 75 buah perangko. Yang artinya untuk mendapatkan dus tersebut kami harus belanja sebanyak 750 euro terlebih dahulu. Hahaha bukan jumlah yang sedikit ternyata.
Image
Image
Sebetulnya ada tiga supermarket di daerah kami, bahkan dua diantaranya berdampingan, tapi Luc hanya tetap mau berbelanja pada satu supermarket favoritnya saja yaitu Plus, alasannya cukup masuk akal selain barangnya komplit, tempatnya nyaman dan juga orang yang berbelanja ke situ bukan orang yang vervelend (menyebalkan),  untuk alasan yang terakhir aku tidak mengerti sama sekali. Alasan yang diada ada menurutku. 

Jika aku yang berbelanja, aku lebih suka ke Bas dan Lidl, dua supermarket yang tak mau didatangi Luc. Alasanku sangat bijaksana karena kedua supermarket tersebut barang barangnya lebih murah dari supermarket Plus. Terutama Bas yang paling sering discount barang barangnya dan juga tempatnya yang berada di belakang sekolah Cinta dan Cahaya, sehingga aku bisa datang kesitu sebelum menjemput anak anak dan menyimpan belanjaan di kereta dorong yang aku bawa saat menjemput anak anak.

Selain itu di daerah kami ada toko obat bernama Trekpleister walaupun namanya drogist alias toko obat tapi disini dijual juga kebutuhan rumah tangga lainnya, sebangsa sabun dan lainnya. Karena Trekpleister yang paling sering ada promo 2+2, maka untuk urusan kamar mandi selalu aku yang melengkapinya. Di trekpleister juga ada hadiah sama seperti yang ditawarkan di supermarket, kali ini hadiahnya adalah handuk. Lebih menyenangkan karena untuk mendapatkan handuk hanya dibutuhkan 8 stiker saja, dan untuk mendapatkan satu stiker kita harus belanja di situ hanya dengan 5 euro saja minimalnya.
Dan dengan waktu yang sebentar aku sudah mendapatkan tiga kartu yang telah terisi penuh stiker, dan tentu saja aku bisa mendapatkan tiga buah hadiah.
Image

Oh ya, walaupun hadiah tersebut bersifat gratis, tidak melulu kita ingat kapan waktunya promo tersebut berakhir.
Terutama laki laki tentunya yang tidak terlalu tertarik untuk urusan gratisan. Buktinya ada pada Luc.
Di bulan mei hingga juni 2014 hadiah di Plus adalah handuk. Saat aku menanyakan pada Luc, apakah dia sudah menukarkan perangko dengan handuk, Luc menjawab belum dan tak mungkin ditukarkan karena kartunya belum terisi penuh sementara waktu penukaran yang telah ditentukan hampir habis, tak mungkin belanja sebanyak itu hanya untuk mendapatkan gratis handuk. Selain itu Luc tidak tertarik pada hadiah handuk yang ditawarkan.

Dan hari ini, saat aku mencari cari perangko yang tersisa untuk diberikan pada temanku yang belum terisi penuh kartunya. Aku melihat kartu perangko handuk yang sudah terisi penuh. Saat aku memeriksa di mana perangko perangko tersebut berada aku menemukan kartu perangko handuk lainnya. Dan tralaaa ada tiga kartu haduk, satu sudah terisi penuh dan dua lagi belum. Dasar Luc, pikirku sambil tersenyum getir, dia sama sekali tak menyadari bahwa dia menempel perangko di kartu yang lainnya, padahal kartu yang lainnya belum terisi penuh. Bahkan kartu yang sudah penuh sekalipun dia tidak ingat sama sekali. Huh, ada ada saja.
Image

Lihatlah di kartu (spaarkart) yang pertama hanya tertempel 12 perangko saja, begitu pun di kartu yang kedua hanya ada 12 perangko saja. Sedangkan di kartu ketiga sudah terisi seluruhnya. Setidaknya kami bisa mendapatkan satu buah handuk berkualitas dari Plus. Tapi yah… sudahlah, tidak usah kecewa kata Luc saat aku menyodorkan kartu yang sudah terisi penuh pada Luc. Tidak kecewa seruku, hanya dongkol! Hahahaha.

Super Woman

Pemandangan biasa lihat ibu ibu di Belanda yang bersepeda dengan keranjang yang penuh dengan belanjaan. Belum lagi anak balitanya yang ikut dibonceng, tak hanya satu bahkan bisa dua sekaligus.

Di Rotterdam, bangsa pendatang terutama yang dari Timur Tengah, tak banyak para ibu yang berseliweran bersepeda dengan mebawa belanjaannya, mereka lebih senang jalan kaki berbelanja di daerah sekitar yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki. Kalaupun tak bisa dijangkau kaki, mereka lebih suka naik kendaraan umum.

Aku mulai berpikir untuk bersepeda, setelah sekolah saat ini, teman sekolahku orang Spanyol dan China yang selalu menyarankan naik sepeda, karena setiap hari rabu, aku harus keluar kelas 15 menit lebih awal dari yang lainnya. Hal itu dilakukan jika aku keluar kelas seperti jam biasanya maka aku akan terlambat menjemput Cinta dan Cahaya karena setiap hari rabu mereka sekolah setengah hari saja.

Dan keinginanku untuk bersepeda semakin kuat saat aku melihat ketabahan dan kegigihan teman bahasa belandaku sewaktu di Indonesia dulu, dia sudah biasa bersepeda di Belanda ini, benar benar menyesuaikan dengan tata cara hidup di Belanda yang dianggapnya positif, bersepeda kemana mana, berbelanja tanpa menunggu suami dengan bersepeda seorang diri atau kadang bersama anak balitanya. Dan malam hari ia masih bersekolah.

Dan hari ini, inilah belanjaannya. Di tengah angin besar yang datang di hari ini, dia memperlihatkan belanjaannya di toko lengkap dengan beras 20 kg, kentang 5 kg dan lain lain.

Image

 

Tetaplah semangat para ibu, para wanita Indonesia, semoga semua yang kita jalani adalah berkah adanya.

 

Rotterdam, 9-1-2014

Den Haag and Indonesian Culinair

Memulai hari pertama di bulan januari 2014, aku ngidam makan baso tanpa harus bikin. Betul betul ingin menikmati baso keliling yang datang dari rumah ke rumah atau menikmati baso di tenda tenda pinggir jalan ataupun setidaknya menikmati baso di rumah makan. Kita tinggal datang, makan dan bayar.

Saking ngidamnya, aku sampai googeling dengan cukup serius. Dan tak kutemukan satupun penjual baso di Rotterdam, mulai dari penjual type warung hingga berskala restauran. Selalu pencarian kembali  di kota Den Haag. Heran luar biasa mengapa pembisnis makanan tak membuka warung baso di Rotterdam? Atau akukah yang kuper?

Dan rengekanku mulai berhasil terdengar di telinga Luc, ikut prihatin dan mulai membantu pencarian tukang baso di internet. Hingga katanya…. Nee, helaas pindakaas, ga ada tukang baso di Rotterdam. Tetap kamu harus pergi ke Den Haag. Ujarnya kemudian.

Dan mulailah Luc menandai kalender di tgl 5 jan hari minggu dengan tulisan Den Haag, Baso!

Atas anjuran seorang teman satu hari sebelum hari H, aku mengganti keinginanku makan baso menjadi makan bakwan malang. Advisnya, datang saja ke warung Si Des, depan warung Minkee, parkir di Markthof.

Rencana akan berangkat jam 12 siang, kami baru keluar rumah hampir pukul 2 siang. Biasa hari minggu dan juga di musim dingin, siapa yang ingin cepat beranjak dari tempat tidur? Bahkan Cinta Cahaya yang biasanya paling getol bangun pagi pun bisa bangun pukul sepuluh di hari minggu.

Setelah masuk tempat parkir, kami masih kebingungan karena di depan Minkee hanyalah berupa gedung besar tak ada tanda tanda warung makan disana. Cara cepat menemukan warung tersebut adalah menelepon temanku dan menanyakan dimana letaknya warung Si Des itu. Ternyata dari tempat parkir aku tak harus keluar gedung, tapi masuk ke lorong antara warung Minkee dan grillbar Arena. Lurus masuk sedikit dan berbelok ke kanan disitulah Si Des berada disebelah kanan sementara di depannya adalah toko Amazing Oriental. Warung kecil hanya dilengkapai kurang dari sepuluh meja kecil saja, dengan kapasitas meja untuk dua orang saja.

Tentu saja tak sesuai imajinasiku, terlebih kami baru melewati warung Minkee yang sudah amat sangat terkenal, dengan aroma membangkitkan selera dan ruangan yang luas. Sedikit berpikir akankah aku membalikkan badan dan beralih ke Minkee? Tapi Minkee hanya nasi saja. Tolak pikiranku dan tetap bersikukuh untuk tetap berada di Si Des. Dengan sedikit was was aku bertanya pada pelayan toko yang sedang berdiri di kassa, adakah kiranya tempat yang kosong, karena aku melihat semua meja telah terisi. Untunglah tepat saat aku bertanya, dua orang meninggalkan meja, dan akmi segera duduk disana tentu saja dengan protes dari Cinta, harus dimana dia duduk karena kursi yang tersedia hanya dua buah saja. Problem segera teratasi ketika pelayan tersebut menyodorkan dua buah kursi tambahan. Dan dia segera memberitahukanku bahwa aku harus datang ke kassa untuk memesan makanan.

Aku bertanya bisakah aku melihat menu? Pelayan toko tersebut berkata menu bisa dilihat di tulisan di dinding.

Aku meminta dua porsi bakwan, dan langsung dijawab, bahwa bakwan nya belum datang. Hah??? Belum datang? Dan dengan polosnya aku bertanya, kapan datangnya? Dan dijawab dengan polos juga, hari ini tak datang. Ingat tak datang! Bukan tidak ada bakwan untuk hari ini, tapi tak datang. Hahaha, but anyway okelah, aku tak ingin hariku menjengkelkan dengan tidak adanya bakwan di hari ini, segera menawarkan menu lain pada Luc, laksa? Rawaon? dan dijawa siomai oleh Luc.
Image

Oke, satu porsi mie ayam untuk Cinta, satu porsi sate untuk Cahaya, satu porsi siomai untuk Luc dan untukku satu porsi pempek. Dengan minum, satu coca cola, dua chocola melk dan satu teh botol. Total dari semua nya hanya 28 euro saja. Tentunya harga yang tak mungkin kami dapat jika makan di pasar tongtong dengan makanan yang sama.
Image

Setelah menyantap makanan tersebut (aku tak jadi makan pempek dan membawanya pulang, karena Cinta tak mau mie ayam yang aku sodarkan dia lebeih tertarik berbagi sate dengan Cahaya, sehingga akulah sebagai juru sikat, emnyantap habis mie ayam Cinta yang tidak disentuhnya), Luc minta bubur sumsum sebagai dessert, untuk kedua kalinya pelayan yang melayani kami berkata bubur sumsumnya habis, oke ganti menu yang lain, bubur candil seru Luc dan lagi lagi dijawan habis, hingga aku harus bertanya apa saja yang masih tersisa. Akhirnya pilihan kembali ke menu seperti biasa di pasar tongtong, apalagi kalo bukan es cendol dan es dawet.
Image

Keluar dari Si Des, dan mengevaluasi ulang bersama Luc, ternyata kami punya satu suara yang sama. Kembali ke Si Des suatu hari nanti. Alasan Luc adalah makananya tidak mengecewakan sedangkan alasanku adalah aku masih penasawan dengan bakwan malang yang tak kujumpai di hari ini.

Jika kalian kangen akan food street di  Indonesia, datang ke si Des adalah cara jitu pengobat rindu makan makanan Indonesia yang tak pake bikin. Seperti ulasan dari Belindomag mengenai Si Des.  http://belindomag.nl/id/tokoresto/ulasan-si-des

Selamat menikmati.

Rotterdam, 5-1-2014

Pizza Hut

Duluuuuuuuu, jaman dahulu kala, Luc pernah bertanya pada ibuku, restaurant mana kesukaan ibuku. Ibuku menjawab pizza hut, yang langsung mendapat kerutan heran di kening Luc. Hingga ibuku harus bertanya sambil tertawa tawa ke arahku, jawaban ibu salah ya? Lucu ya? Aneh ya? Tanyanya.

Bukan jawaban benar atau salah, jika menyangkut kesukaan alias favorit, jawabku.
Dan ibuku menjawab alasannya padaku. Habis ibu taunya cuma pizza hut aja, restaurant yang bisa nyambung di lidah dan perut ibu.
Ibu ga suka steak, rasanya tersiksa kalo makan daging seperti itu.
Ibu juga ga begitu suka kalo makan di tempat sebangsa kampung daun, udah jauh tempatnya, nunggu makannanya lama, penuh trus harganya mahal lagi. Eh yang dipesan cuma yang gitu gitu juga keluarnya ga seaneh nama di menunya, sama aja kayak makan di Sindang reret, Panyileukan atau Ampera. Hahaha.

Hingga saat ini, Luc sudah empat kali datang ke Indonesia. Tiga kali dia dijemput dari bandara Soekarno hatta menuju Bandung oleh kakak pertamaku, dan tiga kali pula mereka mampir ke pizza hut di jalan tol antara jakarta dan Bandung, sehingga Luc hapal betul tempatnya, karena menurutnya selalu di pizza hut yang sama. Hingga Luc berujar, sepertinya pizza hut merupakan favorit keluargamu. Hhmmmmmm ‘mu’ disini berarti keluargamu juga Luc.

Waktu aku mulai hidup baru dengan Luc, aku melihat pola hidup Luc dalam soal makanan adalah dia jarang sekali ke dapur, kalo ga makan roti berarti dia akan pesan makanan lewat internet yang kemuadian langsung diantar ke rumah, bestel istilahnya.
Bisa dibilang begitu aku datang ke Belanda aku langsung hamil, dan tak bisa turun ke dapur juga karena rasa mual yang amat sangat. Empat bulan pertama kehamilanku, aku hanya bisa makan kentang rebus, telur rebus dan minum coca cola. Ketiga jenis makanan dan minuman itu yang dulu paling tidak aku sukai. Karena itulah Luc lebih sering bestel diantaranya bestel pizza.
Ternyata pizza disini berbeda sekali dengan pizza hut yang aku kenal. Pizza langganan Luc adalah New York Pizza dan kadang Domino Pizza. Menurutku kedua jenis pizza tersebut tak enak sama sekali.

Karena aku keukeuh berpendapat bahwa Pizza hut lebih enak dari kedua jenis pizza tadi, maka waktu usia kandunganku sudah tua, kami pergi ke pizza hut di centrum. Dan hanya itulah satu satunya pizza hut yang pernah aku lihat di Rotterdam.
http://www.pizzahut.nl/index-3.html
Tak seperti halnya di Bandung yang banyak ditemui hampir di seluruh penjuru Bandung.

Aku masih ingat betul, saat kami kesana di hari sabtu siang menjelang sore, tak banyak orang yang makan disana, kosong dan lenggang. Belumnya jam makan, kata Luc.
Komentarku saat itu, tetap rasanya tak seperti pizza hut di Indonesia, walau lebih menyerupai dibanding pizza pizza yang lainnya.
Tapi penasaranku pupus, cukup sudah satu kali saja, ujarku.

Dulu sewaktu di Bandung, jika makan di pizza hut, satu pizza bisa unttuk dua atau tiga orang itupun ukuran medium. Tapi disini ukuran besar untuk satu orang. Dan betul betul bisa dimakan habis. Persis seperti di film film pikirku saat itu, apalagi jika Richard temannya Luc datang di selasa malam untuk nonton film di rumah kami, kami bisa pesan sampai 5 pizza karena Cinta dan Cahaya pun masuk dalam hitungan. Tetap tak mengerti mengapa bisa makan sebanyak itu, sedangkan aku hanya kuat setengahnya saja, itupun sudah kemampuan makan yang paling maksimal, istilahnya jika seharian tak makan baru bisa menghabiskan pizza setengah lingkaran ukuran diameter 30 cm.

Dan hari ini, kami mengulang sejarah hampir lima tahun yang lalu. Kami kembali ke pizza hut di Rotterdam tapi kini Cinta dan Cahaya sudah keluar dari perutku sehingga bisa makan sendiri.
Ternyata Cinta tak mau pesan pizza, dia memilih kip nugget yang satu porsinya berisi 12 buah. Cahaya memilih pizza margarita (seperti biasanya) ukuran medium dengan bottom klasik alias tipis, Luc memilih pan pizza taco special ukuran medium dan aku memilih pan pizza hot n spicy ukuran kecil.
Image

Ada yang menarik begitu kami melangkahkan kaki ke restaurant, kami dipersilahkan duduk menunggu di bangku tunggu sebelum akhirnya dipersilahkan ke tempat yang disediakan, persis daftar antri di pizza hut di Bandung. Pelayan yang melayani kami, mengingatkan diriku pada Ivan Gunawan, persis abis, hanya ini lebih kemayu dan moleg hehe, dan super ramah.

Kami memulai dengan pembuka makanan berupa roti koflok, yang datang cukup lama stelah kami duduk, sehingga capucino yang aku pesan pun tandas.
Tak lama setelah capucinoku habis, chiken croq alias nuggetnya Cinta datang, hanya itu tak disusul atau dibarengi pesanan kami yang lain. Aku mulai curiga terutama saat pesanan para meja tetangga yang datangnya belakangan dari kami telah berdatangan, hingga meja kami lah yang masih kosong. Cahaya mulai gelisah melihat Cinta yang tengah melahap makanannya. Aku menawarkan makanan Cinta pada Cahaya, tapi dia menolaknya.

Dan kebosanan tak hanya menyerang Cahaya, aku dan Luc pun mulai merasa tak nyaman, saat Cahaya minta ke toilet pada Luc, aku mulai meminta pinsil warna dan kertas mewarnai pada pelayan, karena itulah cara jitu untuk membuat anak anak melupakan rasa bosannya. Cahaya tersenyum gembira ketika melihat kertas mewarnai sudah tersedia di mejanya saat dia kembali bersama Luc dari toilet.

Selera makanku semakin berkurang saat Luc mulai mengeluhkan lamanya pesanan datang, wajah tak senang mulai dia munculkan, sehingga aku berinisiatif menanyakan pesanan kami pada pelayan. Dan aku pun mulai melihat mimik panik di wajah pelayan super ramah tersebut, sibuk membicarakan sesuatu di layar komputer bersama dua rekannya, kemudian satu diantaranya kembali ke belakang. Dan tra laaaaa hingga ke 12 nugget Cinta habis, pesanan kami belum muncul juga.
Untunglah dua bocah kecil ini sedang dalam kondisi senang, tak sedikitpun berkeluh kesah, sibuk mewarnai sambil mengobrol sana sini.

Dan kedongkolan kami semakin menjadi, saat orang yang datang bersama kami beranjak pergi, maksudnya mereka telah selesai makan sedangkan kami belum mendapatkan pesanan kami. Saat Luc akan beranjak membatalkan pesanan  tiba tiba saja pesanan kami muncul, dan selera makanku yang telah hilang beranjak muncul kembali saat melihat Cahaya girang, segera meletakkan pinsil warnanya dan menikmati pizza dengan lahap.  Sementara Cinta tak tertarik untuk mencoba barang segigitpun pizza yang aku tawarkan, dia sudah kekenyangan dengan nuggetnya.

Aku dan Cahaya berhasil menghabiskan sepotong lingkaran pizza, sementara Luc berhasil menghabiskan seluruh pizzanya. Kami menjanjikan setelah selesai makan, Cinta Cahay dibolehkan memesan es krim. Walau aku trauma pesanan akan datang lama tapi janji tetaplah janji, dan untuk menyiasati hal keterlambatan untuk kedua kalinya, aku segera memesan es krim untuk anak anak sebelum Cahaya selesai makan. Walau dengan cara itupun pesanan ternyata masih pake lama juga.

Image

Menyebalkan gerutu Luc, dan dia melakukan hal yang sama sepertiku, saat es krim anak anak belum selesai dia segera beranjak dari meja dan segera membayar makanan kami.

Keluar dari situ, hal yang pertama diucapkan Luc adalah cukup ini yang terakhir makan disini. Aku tergelak. Teringat lima tahun yang lalu hal itu pulalah yang aku ungkapkan kepada Luc, cukuplah ini yang terakhir makan di pizza hut, saat itu karena menurutku pizza yang aku harapkan sama dengan di Bandung tak sesuai dengan harapanku.

Ah mungkin, walau sekecewa apapun, berjanji untuk tak datang ke pizza hut di Rotterdam lagi, mungkin saja kami akan lupa pada janji kami. Hahaha jika sampai lupa, pantaslah disebutkan jika pizza hut adalah restaurant favorit keluarga kami.
Image

Level 42

Image

Teman paling serius dan juga paling kocak
Paling rewel dan juga paling nrimo
Paling terorganisir dan juga paling berantakan
Paling sopan dan juga paling kurang ajar

Jika sesuatu yang saling berlawanan bisa disatukan dalam kata sambung ‘dan’ bukankah sesuatu yang tak mungkin?
Tak begitu dengan dirimu, kau memiliki ‘keistimewaan itu’

Selalu berharap yang terbaik untuk dirimu
Selalu berdoa semoga kebaikan, ketakwaan, keberkahan akan selalu berada dalam dirimu

Tak akan putus doaku untukmu selalu
Seperti halnya doa yang selalu aku panjatkan untuk selalu mencintaimu
Tak perduli akan berada di level berapapun usiamu

Happy Birthday, Luc….
Kekasihku, my best friend………..

Hey, gekste man van  de hele wereld……. I love you so much

Rotterdam, 3-1-2014

Image