Living on One Dollar

Kemarin malam aku nonton film dokumenter berdurasi hampir satu jam saja.
Menceritakan tentang empat pemuda yang ingin merasakan bagaimana rasanya sebanyak 1,1 milyar orang di seluruh dunia hidup hanya dengan kurang dari satu dollar saja sehari. Maka untuk merasakan itu semua, keempat pemuda itu pergi ke desa Pena Blanca di Guatemala berbekal kamera dan uang 56 dollar perorang untuk menghabisakn 56 hari di desa tersebut.
http://www.imdb.com/title/tt2625598/?ref_=fn_al_tt_1

Melihat film tersebut aku tidak hanya kagum akan keberanian Chris, Zaht, Rian dan Sean. Akan tetepi juga mengikuti penceritaan mereka dalam film yang sungguh mengguggah perasaan, tak hanya penceritaan bagaimana orang orang tersebut tetap berpikir untuk dapat hidup dengan satu dollar saja perhari, dimana mereka belum pernah mengalaminya, berjuang dalam berpikir untuk tetap survive tapi juga menyuguhkan persahabatan dengan penduduk setempat.

Jadi jangan heran, jika setelah melihat film tersebut hatipun terasa lebih damai dan bahagia. Dan juga pensyukuran yang tiada henti atas semua rizki yang telah aku terima selama ini.

Dan tentunya selalu ada penghayalan dalam hatiku, bisakah para generasi muda Indonesia seperti keempat pemuda tersebut? Yang dengan keberaniannya pergi dan bisa menginspirasi banyak orang dengan pengalamannya? Yang dengan begitu seriusnya menuliskan seluruh pengalamannya, menelitinya, mempelajarinya dan berusaha menemukan solusi, yang menurut mereka tidak mudah.

Begitu miris dengan banyak berita yang aku dengar tentang generasi muda bangsaku yang kini lebih banyak demo di jalan dibanding mencari solusi dengan cara penelitian seperti mereka.

Miris dengan maraknya berita tawuran antar pelajar di tanah air. Kenapa mereka melakukan itu semua? Kenapa tak giat belajar saja? Sementara di belahan dunia lain begitu banyak orang yang menginginkan sekolah dengan damai. Bahkan seorang Malala pun begitu gigih berjuang untuk sekolah walau berada dalam todongan senjata? Tak dapatkah kalian mencontoh hal hal positif saja?

Jempol pada mereka yang berusaha mengadakan perbedaan di dunia ini untuk menciptakan dunia yang damai dan sejahtera.

Rotterdam, 31- 10 – 2013

Living on one dollar

Living on one dollar

Tujuh – Lima

Suatu siang di tempat ngetem angkot Gedebage- Station (lebih jelasnya di pasar gedebage)

Aku dan Luc sudah berada di dalam angkot gedebage menunggu penumpang lainnya, tak berapa lama angkot mulai penuh, deretan kanan sudah terisi 5 orang dan deretan kiri sudah terisi 4 orang. Dan Luc tentu saja mengira angkot sudah penuh, dan bertanya keheranan ke arah sang sopir, yang masih belum juga menjalankan angkotnya.

Naon nu diantosan kang? Tanyanya ramah. (Dalam bahasa Inggris tentunya)

Aku menjawab karena sang supir minta diterjemahkan. Masih nunggu penumpang. (Juga dalam bahasa Inggris)

Dan muncullah seorang ibu gemuk, Ayo geser dikit, kataku. Karena tempat yg masih tersisa ada di deretan kanan dimana kami duduk.

Kemudian angkot segera melaju, kami semua senang, juga sang supir tentunya karena terbebas dari penumpang bule cerewet dengan pertanyaan pertanyaan konyolnya. Tapi belum lima menit melaju, angkot kembali menepi……….

Seorang ibu hamil tua siap siap akan segera naek itu angkot, sontak Luc menjerit.

Please, don’t do that! It’s dangerous! Serunya dilontarkan ke arah sang supir.

Masih ceukap mister, jawab sang supir.  Dan lanjutnya, Eta nu kiri masih opat!

Muhun, nu kanan oge masih geunep, can tujuh…….Tiba tiba seorang pelajar SMA ikut menimpali, membuat kita semua terpingkal pingkal.

Untunglah Luc segera turun dan mempersilahkan si ibu duduk di deretan kanan, dan dia duduk di sebelah kiri dekat pintu, dan tentu saja badan besarnya menutupi pintu masuk, sehingga jiga ongkot tersebut oleng ke kiri, Luc bisa dengan mudahnya terlontar ke luar.

Dan begitu angkot melaju lagi sambil menggeleng gelengkan kepala Luc berujar………..

Jangan jangan sapi di pinggir jalan bakal dimasukin juga ke angkot. (Kali ini Luc berkata dalama bahasa belanda). Sambil menunjuk sapi yang tengah dituntun si empunya di pinggir jalan.

Hahaha, aku tertawa terpingkal pingkal, tapi masih terdengar sang supir bertanya

Naon deui saurna neng?

Masih tertawa aku menjawab……

Bapak hebat, jiga tukang sulap, angkotna alit penumpangna seuer, jawabku asal (maksudnya tak mau menyakiti hati pak supir hehehe)

 

Rotterdam, 18 Januari 2011

You are beautiful, kamu hanya berada di negara yang salah

Setelah Luc berhasil memindahkan TV online yang biasanya hanya bisa aku tonton di komputer, sekarang bisa di tonton di TV, makin lengkaplah acara TV di Indonesia yg berhasil aku tonton di Belanda, dan sekarang saat Cinta Cahaya tidur tibalah diriku jadi upik abu buat beres beres ditemani acara TV mulai Opini TV One, Kabar kabari dan Cek n Rechek di RCTI disambung  Metro atau Trans buat liat berita dan diteruskan Insert.

Masih sama seperti dulu, dunia selibritis selalu menampakan ke glamoran para artis Indonesia bukan artis jaman dulu yang benar2 artis tapi ga tau siapa yang muncul di TV (mungkin karena pengaruh usia juga yg lebih tertarik melihat orang orang seusiaku dibanding yg jauh lebih muda) dan tadi pagi Opini membahas tentang operasi plastik dan kiat kiat mempertahankan kemudaan, eh begitu juga kabar kabari yang membahas Dewi persik melakukan suntik sana suntik sini biar pipinya lebih tirus dan hidung mancung katanya.

Karena acara TV itulah, yang membuat diriku teringat di masa muda dulu, entah waktu SD atau SMP saat aku membaca artikel di majalah Gadis dengan judul “Kamu bukannya tidak cantik, tapi kamu berada di negara yang salah”, sebagai ABG waktu itu dimana kulit putih mulus adalah ukuran cantik seseorang dan sebagai remaja kecil waktu itu aku mempercayai opini tersebut, sehingga selalu berkali kali keluar pertanyaan pada ibu, “Bu kenapa kulitku tak seputih ayah dan ibu atau kakak2ku?” Dan selalu jawaban ibu, karena kau special……..kenapa ingin kulit putih? toh kulitmu lebih putih dari teman2mu yang lain…….. atau warna kulit bukan ukuran kecantikan seseorang, cowok akan melihat kita klo kita pintar atau  kata kata mujarab lainnya yang biasa dikeluarkan seorang ibu buat anak gadis kecilnya. Dan sebagai seorang anak yang dilahirkan dari orang tua yang berkulit putih, aku berharap kulitku putih seperti mereka.

Dan dari artikel yang aku baca itu sungguh membuka mataku, agak terheran heran membacanya bahwa perempuan di negara yang berkulit putih (eropa) menginginkan berkulit coklat seperti orang asia, mereka melakukan berbagai cara agar bisa mempunyai kulit coklat.

Dan disinilah aku berada, di salah satu negara Eropa, dimana ukuran kecantikan tidak diukur dari kulit putih, dan benar adanya bahwa sebagian dari mereka melakukan usaha untuk membuat kulit mereka sedikit gelap, mulai dari cara natural berjemur hingga kulit gosong atau melakukan sinar seluruh badan atau juga mandi air coklat dan hasilnya begitu keluar dari shower badan kita kayak dicat. Ada ada aja usaha mereka, dan bagi kita orang asia kita cukup percaya diri dan bisa sedikit sombong, hey aku ga bule seperti kamu walau dalam hati mungkin mereka bisa juga menjawab…hey aku ga kate kayak kamu hehehe.

Masih tentang Dewi Persik yang berapi api menjelaskan bahwa dia ingin punya pipi seperti Paris Hilton dan dia menjelaskan dengan gayanya yang sangat antusias, aku malah teringat akan Jessica Simpson saat dia bicara tentang Paris Hilton. Dulu waktu Jessica masih jaya jayanya, ada acara TV yang mengungkap kehidupan Jessica dan suaminya  Nick Lachey (sekarang dah mantan suami) sampai Sophia Latjuba saat akan menikah dengan siapa(lupa lagi namanya, bule amerika yang ninggalin istrinya demi Sophia) dia bilang akan bikin acara opera soup seperti Jessica, menguntit selama tiga hari persiapan pernikahannya sampai hari pernikahannya dan akan disiarkan secara eksklusif oleh salah satu station TV di Indonesia, Sophia bilang ya mirip mirip seperti Jessica Simpon lah ucapnya bangga. Kalau Sophia yang begitu antusias akan Jessica Simpson, hampir sama antuasiasnya dengan suamiku saat bicara mengenai Jessica Simpson (dalam konteks yg berbeda)…….. she is sooooooooooooooooooooo stupid, oh oh i can not imagine gimana bisa orang mengidolakan orang sebodoh dia? Hey hati hati klo bicara, aku sedikit membela sang bintang, dia cantik, baik dan menyenangkan belaku sambil menambahkan, toh dia bisa menjawab dan berbicara dengan lancarnya saat menceritakan sesuatu, dan langsung jawabanku menjadi skak mati buatku….. yah dari jawaban dialah dan dari apa apa yang dia bicarakan lah yang membuat kita tahu sebodoh apakah dia……..klo dia bicara tentang nothing dengan semenarik apapun dia membawakannya tetap saja menggambarkan otaknya yang kosong, begitu ungkap suamiku. Dan bagaimana dengan Paris Hilton yang menjadi idola Dewi Persik? Dia menjadi icon anak muda saat ini? Pendapatku, dia berhasil membangun icon tersebut, dia menciptakan keglamoran dari ayahnya seorang Hilton dan di America kesuksesan dan ke glamoran para selebritis yang banyak dibidik anak muda saat ini yang membuat Paris begitu terlihat istimewa, dan sepertinya itu juga yang terjadi dengan Indonesia saat ini. So sesuatu yang glomor akan terlihat indah. Dan menurut pendapat Luc dan satu temannya (Belanda asli) tentang Paris Hilton….not pretty at all!

Dan saat nonton acara Jon and Kate plus eight, acara kegemaran kami berdua karena menceritakan kesibukan keluarga dengan 8 anak dari dua kali melahirkan (satu kali kembar dan yang kedua kali sixplet), aku bercanda pada suamiku……..hmmmmmmm mungkin aku mesti memikirkan operasi perut seperti Kate, lihatlah dia setelah melahirkan berperut sepertiku jadi gendut tapi setelah operasi dia langsing kembali seperti belum melahirkan…….. dan langsung diteriaki Luc……No! Tidak boleh operasi! Why? rajukku, dengan operasi jadi cantik kan…….. dan jawabnya…..your belly is beautiful, itu tempat dulu Cinta dan Cahaya tinggal…….kelak bila mereka besar mereka ingin mengelus juga tempat tinggalnya………sambil berkata bangga, kami bangga pernah dilahirkan dari perut Bunda………

Oh Luc, you are so sweet, dan masih penasaran aku memburu dengan pertanyaan lain, so kamu jatuh cinta padaku karena aku berkulit coklat? tantangku, dan jawabnya tidak seromantis yang aku kira………No,  bukan karena kamu berkulit coklat…….tapi because you are smart woman…………..hahaha sekali lagi ibuku benar, aku dipertemukan dengan orang yang tidak melihat warna kulit atau rasku, tapi dia melihat diriku dari sudut yang lain, even aku tidak sepintar Sri Mulyati, hanya staff biasa sewaktu aku kerja dulu, bukan juara kelas sewaktu aku sekolah (tapi tetap berada di lima besar “dgn sedikit bangga”), tapi setidaknya dia melihat diriku bukan yang tampak dari luar…….

Rotterdam, 30 September 2010

Afspraak Alias Appointment

Image

Dulu jaman aku kecil jika kami mengundang seseorang kemudian dia menjawab ‘Insya Allah’ maka kebanyakan dari kami mengasumsikannya bisa jadi yang bersangkutan akan datang atau tidak.

Tapi tidak dengan jaman kini, mereka sudah lebih mengerti bahwa dengan menjawab dengan kata tersebut kita harus dengan sekuat tenaga untuk menepati janji tersebut.

Pastinya bagi kami yang hidup di sini afspraak alias appointment sudah menjadi keharusan yang harus dijalani.
Ya, semuanya harus sesuai janji yang telah disepakati.
Jika sakit dan harus ke dokter maka kita harus afspraak dulu dengan huisart. Sudah janji tapi tidak datang maka denda yang muncul. Judulnya sudah sakit eh tertimpa denda pula.

Telepon dan surat sudah menjadi hal yang tak asing lagi. Jika kita sakit maka kita yang telepon duluan, tapi jika kasusnya seperti aku dan Cahaya yang pernah berda di IC maka yang membuat afspraak untruk control dilayangkan oleh Rumah sakit terlebih dahulu. Tak lupa di situ dicantumkan dengan jelas…jika anda tidak bisa datang pada hari dan jam yang telah ditentukan maka diharuskan membuat appointment yang baru… kalau tidak denda menanti anda! Begitu kira kira hahaha.

Jika akan berkunjung ke rumah teman atau famili maka kita harus buat janji terlebih dulu ga bisa datang semaunya.
Bahkan ada temanku yang menelepon tiga bulan sebelumnnya untuk mengundang kami di acara ulang tahun anaknya dengan gaya yang lucu sekali…. coba lihat agendamu sekarang, apakah tanggal sekian bulan sekian di agendamu sudah terisi? Saat aku menjawab belum dengan girangnya dia menjawab isi sekarang juga ‘party my kid’ Ujarnya dan kau harus datang, hahaha. Sip!

Dan hari ini kejadian paling memalukan terjadi pada kami (aku dan Luc).
Hari ini (menurut kami) kami sudah ada janji dengan Consultatie beurau alias Pos yandunya Belanda, aku sudah mencatatnya dari setengah tahun yang lalu di kalender sesaat setelah pulang dari pos yandu setengah tahun yang lalu pada saat afspraak dibuat, dan minggu yang lalu surat panggilan peringatan sudah datang pada kami untuk tidak lupa datang pada (hari ini).

Kemarin aku sudah minta izin pada bu guru (juff nya Cinta dan Cahaya) bahwa mereka tidak akan masuk hari selasa karena harus ke Pos Yandu, dan bu guru menulisnya dengan baik.

Kemarin malam aku bertanya apakah Luc sudah minta izin bahwa hari selasa besok dia akan masuk kantor terlambat karena harus mengantar anak anak ke Pos yandu terlebih dahulu? Dan langsung di jawab dengan baik oleh Luc bahwa dia sudah minta izin sejak awal bulan, saat agenda bulanan dibuat.

Semuanya sudah terlihat sempurna,
hingga tadi pagi.

Mederwerker di Pos Yandu gembira saat kami datang dan berbicara kesana kemari pada si kembar, setelah mengukur dan menimbang si kembar kemudian dia duduk di balik komputer siap mengirimkan kami  ke kamar dokter yang kosong (ada tiga dokter di pos Yandu daerah kami).

Tapi kemudian dia mengeryikkan kening sambil berujar… hari ini tak ada asfpraak untuk kalian, tapi minggu depan……..

Ya Tuhan, sebegitu kacaunya kami, aku yakin sekali bahwa Cinta Cahaya harus ke Pos Yandu hari selasa ini tanggal 4 september 2012, aha tanggal 4 september. Dan tanggal berapa hari ini? Hari ini adalah tepat seminggu sebelum tanggal 4 September 2012. Yang sama adalah hanya harinya, hari selasa. HAHAHA

PS. Kami hanya manusia biasa yang terkadang lupa
Itu permohonan maaf yang aku lontarkan pada mederwerker di Pos Yandu, hihihi

 

Rotterdam, 28-8-2012 (bukan 4-9-2012)

Image      Image

Another Royal Weding

Image

Tiga hari berturut turut (21, 22, 23 oktober 2013) berjuta pasang mata mengikuti pernikahan agung keraton Yogyakarta.
Ribuan Warga Antusias Ikuti Kirab Kereta Kencana.
Ribuan Angkringan Makanan Ikut Memeriahkan Kirab Kereta Kencana.
12 Tahap Prosesi Pernikahan Agung Keraton Yogyakarta.
Kesakralan Selimuti Kirab Kereta Kencana Kerapon Yogyakarta.
Pernikahan GKR Hayu – KPH Notonegoro Hiasi Media Asing.

Itu sebagian judul headline di koran online yang aku baca.
Kalau sudah membaca soal kebahagian dan kegembiraan, hatiku akan selalu ikut berbahagia. Senyumku akan mengembang, aku juga menikmati wawancara antara kedua mempelai dengan presenter berita di TV one kemarin sore. Sedikit membuka tabir siapa sebenarnya GKR Hayu dan KPH Notonegoro. GKR Hayu puteri keempat dari lima puteri pasangan  Hemengku Buwono X dan GKR Hemas konon adalah gadis yang pendiam namun tomboy, yang hobi main game yang bersekolah di Amerika. Dalam wawancara antara keduanya dengan TV One, jelas sudah terlihat sang pendamping pria adalah seorang yang cerdas, dan aku setuju saat sang putri melontarkan pujian pada pasangannya…. he is a charming person! Juga saat pewawancara bertanya, apa kalian akan melupakan Indonesia beserta budayanya karena sehabis pernikahan mereka harus kembali ke New York? Dan sang arjuna berkata dengan berada di luar negri bukan berarti mereka lupa akan budaya Indonesia dan apa apa yang berbau Indonesia justru dengan ada di luar negeri mereka mersa semakin cinta akan budaya Indonesia.

Dan itu pulalah yang terjadi pada diriku. Rasanya aku semakin cinta mati Indonesia. Semakin menghargai bahwa Indonesia terdiri dari macam suku, semakin cinta pada suku suku yang lain, dulu rasanya hanya suku Sunda dan Jawa yang paling oke. Walaupun tak pernah membenci suku suku yang lain, namun ada rasa bahagia karena dilahirkan di tanah Sunda, pun ketika meruntut bahwa aku hanya punya seperempat darah Sunda di tubuhku. Kini aku melihat semua suku adalah istemewa. Lebih open mind, istilahnya.

Sebagai penyuka cerita dongeng, aku bahagia dengan pernikahan mereka. Semoga menjadi pasangan yang langgeng dan bahagia.

Rotterdam. 24 Oktober 2013

Image

Kate – William * A Fairy Tale *

Kata siapa dunia sudah berubah ganas?

Hari ini istilah tersebut seharusnya tidak ada lagi. Semua mata dunia tertuju pada pernikahan salah seorang pewaris tahta Inggris yaitu Pangeran William.

Sejak berminggu minggu sebelumnya, penduduk dunia menantikan pernikahan yang konon dikatakan pernikahan termegah abad ini. Dan hari ini banyak status di FB yang saling bercanda dan berhayal seolah olah mereka berada di tengah kemegahan perkawinan tersebut.

Dan tadi pagi Luc, masih sempat menanyakan padaku, makanan apa yang akan menemaniku saat nonton acara pernikahan nanti dan mengingatkanku untuk tidak menitikan air mata saat mereka berciuman di balkon istana. Hahaha dan aku menjawab tak kalah konyol, mungkin suatu saat aku akan berada di istana juga, menyaksikan Cinta Cahaya menikah dengan pangeran. Ja ja ja, tentu saja mereka akan menikah dengan pangeran karena dulu juga ibunya menikahi seorang pangeran, Pangeran Luc. Jawab Luc tak kalah gila.

Ja, bahkan Luc yang dikenal bukan tipe penggemar fairy tale, bisa juga berhayal seperti itu. See, dunia masih nyaman dengan cerita sprookjes. Menurutku itu lebih baik daripada berita berita menyeramkan tentang kekerasan.

Jadi satu hari berhayal jadi putri dan pangeran ga ada salahnya kan?

Rotterdam, 29 April 2011

Lupa

Faktor U!
Alias faktor usia katanya kalau kita seringkali lupa akan apa yang baru kita kerjakan.
Seperti itulah hari hariku belakangan ini.
Bukan hal yang aneh, begitu aku melangkahkan kaki keluar pintu rumah tiba tiba aku berbalik lagi hanya untuk memastikan apakah pintu rumah telah aku tutup. Hal paling konyol tak mau terulang lagi, seperti empat tahun yang lalu karena kami semua lupa menutup pintu dan mendapatkan secarik kertas dari tetangga sebelah rumah yang menuliskan bahwa dia mendapatkan pintu rumah kami terbuka lebar dan dengan keiklasannya dia telah menutup pintu rumah kami. Tentu saja hal yang aneh jika rumah kami terbuka lebar karena rumah kami tak mempunyai halaman, begitu kita membuka pintu rumah maka kita akan melangkahkan kaki ke trotoar, dimana orang orang berlalu lalang.

Urutan nomor dua, dimana aku kadang ragu dengan apa yang telah aku lakukan adalah mematikan kompor setelah memasak. Aku pernah balik lagi ke rumah setelah jauh berjalan hanya untuk memastikan apakah kompor sudah dimatikan atau belum. Dengan kejadian tersebut aku selalu berkata pada diri sendiri dengan suara yang telah dikeraskan…. lihat api telah padam! Aku juga tak jarang meminta tolong pada Luc untuk turun ke bawah setelah kami  siap di  tidur hanya untuk melihat apakah kompor telah mati.

Dan hari senin kemarin aku membuat ketan lupis, aku kasih kabar pada tetanggaku bahwa aku akan membawakan ketan lupis untuknya, dan jawabannya membuatku lemas luar biasa…… Ja, lekker! Cocok untuk buka puasa nanti!

Seketika itu juga mulutku terasa seret, aku melihat jam di dinding, menunjukan pukul 10 pagi, dari bangun tidur aku baru minum air teh seteguk saat ketan lupis telah selesai aku mencobanya, dan ketan lupis yang tengah aku makan seketika tersangkut di tenggorokanku.

Ya, Tuhan bagaimana aku lupa pada puasa satu hari sebelum Idul Adha tiba? Puasa yang selalu aku jalani semenjak aku di Indonesia, dan tetap aku jalani setelah aku tinggal di  Belanda, dan padahal beberapa hari sebelumnya aku selalu mengingatkan diri sendiri untuk tidak lupa menjalankan ibadah puasa di hari senin ini.

Di hari sabtu lalu, aku jalan berdua hanya dengan Cahaya, sementara Luc menunggu Cinta yang tengah terbaring sakit. Cahaya ingin memberikan kado untuk Cinta Yang tengah sakit, maka kami keluar masuk toko hanya untuk memilih kado yang ingin Cahaya berikan untuk Cinta, dari tiga toko yang kami datangi tak satupun ‘cocok’ menurut Cahaya, kemudian kami memutuskan makan di warung Indonesia, kami memesan satu portie makan siang yang berisi nasi kuning, dan lauk pauknya. Selesai makan tak lupa aku membungkuskan beberapa makanan Indonesia kegemaran Luc dan satu bungkus rempeyek untuk diriku sendiri. Dari situ aku masih ke toko roti, dan masih berbelok ke toko pakaian dilengkapi berbagai macam barang kelontong, hanya untuk membeli kado Cinta yang belum berhasil kami beli. Karena Cahaya tetap tak menemukan barang yang dia mau (dia ingin memberikan boneka Ariel untuk Cinta) maka aku memutuskan memberikan buku mewarnai untuk Cinta dan Cahaya dan langsung disetujui oleh Cahaya.

Kemudian kami berjalan pulang, tak henti hentinya Cahaya bercerita bahwa dia senang sekali dengan apa yang kami lakukan berdua, katanya…. Bunda, saya senang sekali berjalan jalan berdua denganmu….. Terima kasih sayangku, ucapku terharu.

Sampai rumah, Cahaya dengan antusias memberikan kado buku mewarnai untuk Cinta, sementara aku berteriak heboh karena satu tas plastik tak berhasil aku temukan, tas plastik berisi frekandel lombok untuk Luc dan sebungkus rempeyek untukku. Aku mengingat ngingat aku masih menenteng keresek plastik berisi makanan tersebut saat di toko roti karena aku ingat betul aku meletakannya di meja toko roti saat aku membayar roti, dan menentengnya kembali saat keluar dari toko roti, pikirku pastilah keresek plastik itu tertinggal di toko saat aku sibuk memilih buku mewarnai untuk Cinta.

Dan ter update kehebohanku akibat penyakit lupa terjadi pagi kemarin. Setelah kami terburu buru masuk mobil dan berhasil berada di sekolah Cinta Cahaya sebelum bel berbunyi, tiba tiba Cahaya berteriak dengan keras… Bunda mana tas sekolahku?

Aku melirik ke arah Luc, meminta kembali ke rumah untuk mengambil tas Cinta dan Cahaya. Seperti sebuah peraturan tidak tertulis, saat kami keluar rumah mengantarkan Cinta Cahaya ke sekolah, Luc akan keluar lebih dulu bersama anak anak, mendudukannya di mobil, memasangkannya safetybelt, sementara aku membawakan tas cinta cahaya dan mengunci pintu rumah.

Dan pagi itu, dalam perjalanan menuju sekolahku, aku dan Luc terbahak bahak menceritakan beberapa kejadian menyebalkan akibat penyakit lupa itu, Luc kembali mengingatkanku untuk kembali membaca buku sebelum aku tidur, karena menurutnya membaca buku menghindarkan dari penyakit lupa dan minum vitamin yang memang harus aku makan satu kapsul setiap pagi. Sementara aku kembali mengingat sebuat doa yang diberikan guru di mushola untuk dibaca setiap habis selesai sholat  untuk menghindarkan penyakit lupa, sambil kembali merasa di ingatkan akan janji pada ibuku yang pernah bilang, coba hapalkan nama nama Allah, Insya Allah akan dihindarkan dari penyakit lupa.

Rotterdam, 17-10-2013