Praia da Rocha, Portimao

Pantai yang paling kami sukai di Algarve adalah pantai Rocha atau Praia da Rocha yang berada di kota Portimao. Portimao sendiri termasuk kota yang cukup besar jika dibanding kota kota lainnya di Provinsi Algarve, kepadatan penduduknya berada di urutan ketiga setelah Loule dan Faro.

Biasanya kami datang dari bawah menuju pertigaan yang ada pos jaga polisi tepat disamping kantor informasi kemudian kami berbelok ke sebelah kiri, dan mulai cari tempat parkir disana, kemudian berjalan dan mulai menikmati keindahan pantai dari atas tebing.
FB_IMG_1439420585978[1]IMG_20150805_193224632[1]

Saking seringnya kami berjalan kesana, aku jadi hapal urutan toko toko yang ada disana, hihihi saking seringnya aku sampai malu saat harus pamit pada Angela jika kami akan ke Portimao.

Tapi ternyata tak semua toko atau restaurant yang kami hapal, karena secara tiba tiba saat aku berjalan, aku melihat papan menu restaurant yang menghalangi langkah kami di trotoar, tak ada restaurant yang kami lihat disisi trotoar tersebut hanya ada tangga ke atas, serta tanda panah di dinding yang menuju tangga, aha restaurant yang tersembunyi. Tertarik dengan restaurant yang tersembunyi itu kami memeriksa daftar menu di papan tersebut, dilihat dari harganya aku rasa lebih mahal dibanding restaurant yang ada di sepanjang jalan tersebut. Tapi Luc melihat tanda bintang dari tripadvisor di sebelah atas papan, dan tulisan the best restaurant di praia da Rocha berdasarkan tripadvisor. Karena kami baru saja keluar restaurant kami memutuskan hari lain untuk mencobanya.

Maka tibalah hari ini. Sementara Cinta, Cahaya dan Angela kembali ke rumah. Aku dan Luc pergi ke salon karena Luc sudah ada janji untuk potong rambut pukul setengah enam sore. Dan setelah potong rambut kami langsung tancap gas ke Portimao menuju Restarante F – Food & Wine yang berada di urutan ke empat dari 53 restaurant yang ada di praia da rocha berdasarkan tripadvisor. F sendiri adalah singkatan dari Fransisca.

Pelayanannya profesional banget, sepertinya pelayan pelayannya dilatih cara melayani seperti di sekolah perhotelan gitu, karena kami tidak minum alkohol, botol air minum mineralpun diperlihatkan dulu merknya pada kami sebelum dibuka tutupnya sebelum dituangkan pada gelas kami mirip mirip di film  kalo sedang menuangkan wine, hihihi aku gak punya pengalaman dituangkan wine, jadi rasanya seperti di film film.

Saat  pesanan kami datangpun pelayan membawa makanan pake meja dorong kayak (lagi lagi di film) di hotel bintang banyak kalau pesan layanan makanan ke kamar. Dan pesanku di tuangkan dari katel di depan mataku ke piring saji.
IMG_20150805_195900972[1]

Dan ternyata pembaca sekalian, saat tagihan disodorkan pada kami. Kami berdua terbelalak tak percaya. Bukan, bukan karena tagihan yang besar tapi karena total tagihan yang hampir sama besarnya dengan jika kita makan di restauran di restauran lain yang pelayannya biasa saja karena di tempat wisata yang rame, kadang meja pun kita sendiri yang harus membereskan saking tak ada tempat untuk duduk dan terpaksa kita duduk di meja yang belum di bersihkan.

Bahkan harga dessert pun lebih murah dari restauran lain. Dan tahukah kalian? Harga segelas capucinno yang lezat rasanya dan cantik penampakannya dihargai hanya 1,5 euro saja. Rasanya cappuccino di Hema pun tak mungkin seharga itu. Begitu pun dengan teh dihargai hanya 1,5 euro.

Dan inilah penampakannya, mungkin penampakan dan rasanya hampir sama saja dengan restaurant lain tapi pelayanannya sungguh prima, bahkan saat aku akan dudukpun, pelayan menarik kursi untukku, lagi lagi kayak di film film, hahaha.

IMG_20150805_200011116[1]

Algarve Cataplana

IMG_20150805_200017111[1]

dessert pesananku

dessert pesananku

Creame brulee yang atasnya dikeraskan (di kasih api) di depan kita

Creame brulee yang atasnya dikeraskan (di kasih api) di depan kita

Setelah naik tangga, ternyata inilah resturantnya dengan view pantai favoritku, praia da rocha

Setelah naik tangga, ternyata inilah resturantnya dengan view pantai favoritku, praia da rocha

Dan menurut Luc peanannya yaitu steak bebek, rasanya biasa saja, jelas lebih lezat duck cripsy (bebek kremes? lupa judul) yang pernah dia santap di bebek bengil-nya Bali. Hidup masakan Indonesia, kau adalah seleraku.

(bersambung)

Umami

IMAG3068Tanggal 3 kemaren Luc ulang tahun, mau makan makan dimana nih? Di Umami kata Luc. Restauran Umami ditemukan secara tidak sengaja. Kami sedang jalan jalan di pasar Blaak dan kelaparan, tak jauh dari situ kami melihat restaurant kecil berlampu terang, biasanya kalo berlampu terang paling snack bar atau sebangsa restauran siap saji yang tak mahal, bukan cafe cafe gitu lah. Saat melewati Umami kami membaca daftar menu di jendela restaurant dari luar. Saat itu sekitar pukul lima sore sudah gelap karena musim dingin. Tak seorangpun kami lihat di dalam restaurant. Tutup pikir kami. Tapi Luc melihat opening tijd, dan melihat restaurant itu sudah buka. Ah ga laku, pasti ga enak, tuduhku.

Akhirnya kami melewati saja restaurant tersebut dan mencari restaurant Italy yang pasti aman buat anak anak karena mereka suka pizza.

Nah minggu lalu, saat aku bertanya pada Luc mau makan dimana saat nanti berulang tahun? Dia langsung menjawab bahwa dia ingin makan di Umami. Ternyata Luc langsung searching di internet setelah kami pulang ke rumah sesaat setelah kami secara kebetulan menemukan restaurant umami yang penampakannya seperti snack bar itu. Kata Luc sepertinya restauran yang menarik karena restaurant itu adalah restauran masakan Asia yang dikombinasikan dengan masakan Prancis. Entahlah apakah hanya penampilannya saja atau rasanya yang disesuaikan dengan lidah Eropa atau bahannya yang di campurkan. Pokoknya informasinya seperti itu.

Sebelum pergi Luc berkali kali mengingatkan Cinta dan Cahaya untuk duduk manis selama di restaurant nanti karena konon termasuk restaurant berkelas pula. Masa sih? Kok penampilan nya biasa aja malah berkesan kayak snack bar? Hahaha.

Saat di mobil Luc langsung bilang bahwa dia tidak memesan tempat terlebih dahalu, jadi jika kami ditolak maka kami akan makan di restaurant Pho, restauran Vietnam favorite kami.

Kami tiba lima belas menit setalah pukul 5 sore, tak ada serang pengunjungpun disana (selain kami tentunya). Pelayan bertanya apakah kami sudah memesan tempat, saat Luc menggeleng, si pelayan bertanya apakah kami akan makan lebih dari pukul delapan malam? Jika kami tak akan menghabiskan waktu lebih dari pukul delapan malam, maka dia punya tempat untuk kami, Luc mengiyakan sambil berseloroh jika lebih dari pukul delapan malam kami masih makan maka usirlah kami.

Maka duduklah kami berempat dengan tenang ditempat yang ditunjukan setelah tanda reserved disingkirkan terlebih dahulu, saat aku memandang ke meja lain aku hanya mendapati setiap meja sudah dipesan. Aha, laku juga ini restaurant. Pelayan datang kembali sambil membawa dua buah menu, kemudian bertanya pada kami apakah kami pernah datang ke tempat ini? Kemudian dia menjelaskan aturan mainnya, bahwa ada dua opsih, pertama kami bisa memilih menu 3 gangen yang telah ditentukan juru masaknya hari ini, atau kami bisa makan all can eat gitu, dengan aturan yang berbeda dari restauran Sumo, restauran yang sudah familier bagiku.

Di umami di sediakan tiga babak yang setiap babaknyanya kami hanya boleh memilih maksimal dua makanan saja, dan tiga babak tersebut harus kami isi secara langsung. Karena disini tidak dibedakan harga untuk dewasa dan anak anak, maka si pelayan langsung memberikan kebijaksanaan bahwa Cinta dan Cahaya boleh berbagi, artinya mereka berdua akan dihitung satu saja.

Baiklah kalau begitu artinya kami bisa memilih enam macam menu untuk setiap babaknya. Saat aku mengisi ketiga babak menu tersebut aku sedikit khawatir kami tak mampu menghabiskan makanan tersebut. Apakah akan kena denda jika meninggalkan makanan yang tidak dihabiskan seperti di restaurant Sumo? Mengingat kami bukan termasuk yang banyak makan.

Dan inilah makanan yang kami pesan
IMAG3067

Untuk babak pertama kami memesan Vinai beef, peanut chicken, manggo prawns, gado gado, umami sushi mix dan umami veggie roll. Begitu keenam makanan tersebut datang, aku gembira dengann penampilannya, menggoda sekali, dan traalaaaaaaaaa melihat porsinya aku tak kuatir untuk melahap semuanya, porsinya kecil. Ya mirip di restaurant Prancis yang masakannya seuprit disajikan di piring besar dengan dekorasi minimalis tapi cantik. Umami hampir mirip mirip gitu lah walau penyajiannya ga di piring super lebar dan cantik. Tapi di tempat atau piring yang sesuai dengan kapasitas isi makanannya.

PhotoGrid_1420401857414[1]

Babak I

Manggo prawns adalah makanan paling enak untuk babak pertama. Aku mengira akan menyerupai manggo thai salad, ternyata salah besar. Disitu hanya tersaji empat buah udang diatas daun daun salade mix itali yang biasa. Lalu dimana mangganya? ternyata hanya ada empat buah tutik sauce yang setelah aku colek itu sauce mangga, weleh weleh…. Tapi mak enaknya luar biasa. Untuk gado gado karena porsinya mini sekali maka rasanya terasa luar biasa hahaha, hanya ada tauge rebus yang dilumuri minyak olive kemudian ditutupi oleh satu telr rebus yang diiris tipis dan dibubuhu sauce kacang dan dihiasi dua buah kerupuk singkong pedas biasa yang bisa kita dapatkan secara mudah di supermarket dan ditaburi daun koriander. Dengan tiga kali hap menggunakan sumpit maka habislah gado gado tersebut ke perutku, sementara dua kerupuk mungil sudah sedari tadi dicolong Cinta daj Cahaya.

Setelah semua habis, pelayan mengangkut semua piring kotor. Sekitar sepuluh menit kemudian babak kedua sudah tersaji di meja. Makanan yang kami pesan adalah Orange chicken, Lamb skewer, tempura prawns, lemon fish, mini springroll, tempura enoki.

Dan jagoan untuk babak dua adalah lemon fish. Ikan putih yang aku sendiri tak tau jenisnya (karena menunya sudah diambil) itu dibalut terigu dan diboreng begitu saja kemudian di hiasi oleh saus lemon yang creamy dan lembut, wah enak pokoknya. Lamb skewer berupa daging kambing yang digoreng dengan dibalut tepung terigu juga dan disajikan dalam bentuk sate dan ditambahi kecap manis. Enak dagingnya lembut dan berasa bumbunya. Untuk mini springroll tak ada menariknya sama sekali dan aku curiga kemungkinan lumpia mini itu hanya diambil dari frezzer saja dan banyak dijual di supermarket hahaha secara aku tak tau persis rasanya karena empat buah mini springroll tersebut habis dibabat si kembar. Untuk tempura prawn rasanya biasalah seperti tempura pada umumnya sedangkan tempura enoki yaitu gorengan jamur tak begitu istimewa karena terlalu banyak minyak yang aku rasakan saat mengunyahnya di mulut. Oh ya yang menarik untuk anak anak adalah chicken orange, ayam itu diolah seperti chicken katsu di hokben hanya dibubuhi saus creamy orange.

PhotoGrid_1420400567797[1]

PhotoGrid_1420402797306[1]

Babak II

Nah setelah babak dua, perut mulai terisi dong, berharap babak tiga akan muncul tak secepat babak dua mengingat perut yang ingin beristirahat sejenak, sementara dua anak kembar yang duduk manis di depan kami mulai berceloteh bahwa mereka sudah selesai dengan makanan mereka dan tak mau makan lagi malah meminta ice cream seperti biasanya kalau selesai makan di restaurant sebagai

PhotoGrid_1420399945301[1]

PhotoGrid_1420403115214[1]

Babak III

Dan babak ketiga pun datang. Aku terkejut begitu porsinya lebih banyak dari babak satu dan dua, dan yang lebih membuat ku khawatir adalah makanan tersebut ditambahi dengan dua mangkuk bakmi dan satu mangkut nasi goreng. Waahhh maaltijd alias makanan utama yang datang ternyata. Untuk babak tiga ini kami memesan teriyaki chicken, green lamb, black been beef, bangkok prawn, cucumber quinoa, tofu wrap. Babak tiga ini menurut ku yang paling enak adalah tofu wrap, yang aku kira tahu biasa ternyata jamur yang dibungkus kembang tahu dalam kuah mayo yang encer. Sedangkan menurut Luc jagoan babak tiga adalah cucumber quinoa yaitu sup mentimun.

Ternyata kekhawatiranku tak terjadi, kami mampu menghabiskan makanan yang tersaji kecuali dua buah bakmi dan satu nasi goreng yang sama sekali tak mai sentuh (untunglah kami tak kena denda seperti yang aku khawatirkan).

Untuk makanan secantik dan selezat itu dihargai 34,95 euro per orang belum termasuk minuman dan ice cream. Ditotal tentu saja mahal apalagi jika dibandingkan di Sumo yang hanya 18,5 euro saja untuk lunch dan 24 euro untuk dinner per orang. Tapi menurut Luc sebandinglah dengan kelezatan dan penampilannya.

Seperti site Umami yang aku baca adalah Umami membuat anda berkenalan dengan masakan asli Asia yang disajikan dengan teknik memasak Prancis yang elegan dalam nuansa modern dan kontemporer. Restauran elegan yang fokus pada kualitas, kesehatan kuliner yang tinggi dengan harga yang terjangkau.

Apakah seperti itu? Secara kasat mata  ya! Tapi ternyata saudara saudara, satu jam setelah kami kembali ke rumah, Luc mengeluh bahwa dia merasa tenggorokannya berasa asam, kayak ingin muntah. Pukul 10 malam dia memilih tidur saja karena tenggerokannya tak menentu. Aku menyusul satu jam kemudian ke kamar, aku tiba ke kamar dia malahan lari ke WC. Dan aku mendengar dia muntah disana. Ahhh Luc tragis benar nasibmu memuntahkan makanan lezat hari ini di hari ulang tahunmu.

Dan pagi tadi, aku bangun tidur dengan tenggorokan yang tak nyaman. Luc segera membuatkan teh manis, tetap tak menolongku. Tapi aku tidak muntah seperti Luc. Hingga saat aku akan mandi pukul 12 siang, barulah aku memuntahkan makanan lezat yang aku santap kemarin. Ya Tuhan!

Kami berdua segera bertanya pada si kembar apakah mereka juga ingin muntah, mereka menggeleng. Kenapa hanya kita berdua? Aku meinta Luc untuk searching di internet apakah ada kasus yang sama seperti kami setelah makan di umami? Tak kami temukan kasus yang sama pada kami, jadi apa sebabnya? Mungkin kita terlalu banyak makan saja akhirnya itu kesimpulan kami berdua, padahal ga banyak banyak amat ya. Atau mungkin kami hanya alergi pada makanan mahal? Hahahaha, walaupun bicara soal mahal adalah hal yang relatif, tapi menurut kami itu sudah termasuk harga mahal.

Jadi apakah kamu akan ke Umami lagi? Luc menjawab iya untuk membuktikan apakah nanti akan muntah lagi atau tidak, hahahaha.


					

Happy Italy – The fastest restaurant ever

Tiga minggu yang lalu aku mendapatkan pesan suara di HP dari seorang teman, Claudia. Dia mengajak kami makan siang di Happy Italy, pesan yang berduarasi satu setengah menit itu membuat aku tersenyum sekaligus penasaran, katanya….. aku kangen banget ama kalian semua (aku, Luc dan anak-anak), mari kita ketemuan hari ini juga, aku berencana ke restaurant Happy Italy pukul dua siang nanti, restauran yang menyenangkan buat anak anak dan membuat kita happy juga karena harganya yang super murah.

Aku tertawa mendengar kata katanya yang terakhir, saat itu juga aku menelepon Claudia dan berkata bahwa aku tak dapat bergabung dengan dirinya karena saat itu aku sedang berada di Roermond dan berkata mungkin Luc dan anak anak tertarik akan ajakannya karena pada saat aku di Roermond Luc berada di rumah menjaga anak anak, Claudia setuju dia akan menghubungi Luc saat itu juga.

Baru aku tahu setelah aku datang ke rumah, bahwa Luc, Cinta dan Cahaya tak dapat bertemu dengan Claudia hari itu karena Cinta dan Cahaya menolak makan di Happy Italy dan tetap  bersikeras  ke rencana semula pergi ke indoor fun park Jungle di Vlardingen.

Dan kemarin kami memaksakan pergi ke centrum karena masih harus membeli kado buat acara pakje avond tgl 5 Desember nanti. Karena Cinta baru pulih dari sakit, tak mungkin kami mengajak jalan di luar, aku dan Luc berstrategi bahwa kami akan gantian mencari kado murah meriah untuk anak anak di Hema, karena Cinta dan Cahaya suka sekali main kasir kasiran di Hema Beurs Rotterdam, jadi cara termudah untuk membuat mereka asyik bermain adalah mengajak mereka ke Hema, mereka bisa makan alakadarnya sambil bermain, dan aku bisa belanja secara bergantian dengan Luc ke bawah.

Berhasil membeli beberapa mainan untuk mereka, kami segera berjalan menuju tempat parkir. Secara tak sengaja aku melihat restauran Happy Italy, teringat pada ajakan Claudia dan sangat tertarik dengan informasinya mengenai harganya yang super murah, aku dan Luc langsung berbelok masuk. Cinta dan Cahaya bersorak, karena mereka masih menagih ice cream yang tak aku belikan saat kami masih di Hema, melihat kami masuk ke restaurant dengan suara lantang Cinta berujar, kalau kami makannya pinter (dalam ari kata makannya habis) kita boleh pesan ice cream kaann……. We’ll see! Ujar Luc tegas.

Saat kami dipersilahkan duduk di tempat yang telah ditunjuk oleh pelayan restauran, Cinta dan Cahaya langsung bersorak saat melihat tak jauh dari tempat kami duduk terdapat arena bermain untuk anak anak, ada mandi bola, dan arena memanjat balok yang dilapisi busa mirip mirip dengan yang ada di Jungle hanya dalam skala yang lebih kecil. Kami mengizinkan mereka bermain disana. Kemudian aku dan Luc segera melihat menu dan benar benar terbelalak melihat harganya yang super murah, Luc memesan satu buah pizza Fiama untuk Cinta dan Cahaya seperti biasanya memesan pizza margarita untuk mereka sedangkan aku yang saat itu memang benar benar lapar mengingat di Hema aku hanya memesan capacino saja aku memasan pasta spagety. Untuk minumnya aku memesan munt thee fresh sedangkan Luc memesan teh biasa, untuk Cinta dan Cahaya tetap tak pernah berubah apapun makannannya minumnya susu coklat panas with whip cream.

Selesai memesan, pelayan yang super ramah mendatangi meja yang lain yang belum dilayaninya, dan tak sampai lima menit minuman pesanan kami datang diikuti pelayan yang lain yang mengantar makanan pesanan kami. Pertama tama datang pasta pesanku diikuti pizza untuk Cinta dan Cahaya, kemudian pelayan yang membawa pizza anaka anak datang kembali membawa kan pesanan Luc.

Saat pasta datang, spontan Luc berseru pada pelayan  bahwa dia tak menyangka akan datang secepat itu. Benar benar tak sampai lima menit. Selain pesanan yang datang secara cepat, yang membuat kami merasa nyaman adalah personil yang melayani kami yang sungguh sungguh super ramah, rasanya aku tak merasa berada di negara Belanda, tapi merasa berada di negara eropa yang iklim  panas, hangat dan ramah.

Yang membedakan dari restauran yang lainnya adalah, personil yang berseliweran, Happy Italia sepertinya royal sekali memperkerjakan orang, ada empat orang yang berbeda yang datang menyajikan pesanan kami, mungkin itulah mengapa restauran ini cepat sekali pelayanannya. Dan seperti restauran lain yang ada disini para personilnya adalah orang orang yang cekatan.

Yang menambah poin plus makan disini adalah, di meja kami tertulis bahwa restauran ini melayani membungkus makanan yang tak bisa kami habiskan di restauran, alias doggy bag. Mendapat tulisan tersebut membuat aku semakin nyaman untuk membungkus makanan yang tak habis. Hari itu kami membawa pizza margarita ke rumah karena anak anak hanya memakan sepotong kecil saja. Tentu saja mereka tak tertarik makan jika arena permainan terhampar di depan matanya.

Menyediakan jasa pembungkusan makanan sisa alias doggy bag

Menyediakan jasa pembungkusan makanan sisa alias doggy bag

Dan slogan yang ditawarkan di restauran ini benar benar sesuai dengan kenyataan yaitu… the fast Italian…. dan tentu saja membuat bahagia. Happy at Happy Italy? Yes!

Saat kami melangkah keluar restaurant, aku terkaget kaget dengan antrian yang panjang di depan restaurant, menanti meja yang yang kosong, dan tentu saja dari mereka adalah muda mudi yang akan bermalam minggu……
IMAG2939

Pintu masuk yang dijejali orang orang yang mengantri

Pintu masuk yang dijejali orang orang yang mengantri

Pasta Del Giardino

Pasta Del Giardino

Pizza Fiama

Pizza Fiama

IMAG2936   IMAG2937 IMAG2938  IMAG2945IMAG2932IMAG2933IMAG2929

Little Asia

Kami datang ke restaurant Little Asia karena penasaran dengan rating yang sangat tinggi yang diberikan orang orang yang sudah pernah kesana. Dari mereka yang menuliskan pengalamannya makan di restaurant Little Asia mereka memberikan nilai 10 untuk makanan dan pelayanannya.

Restaurannya kecil saja, hanya dengan lima meja dengan empat kursi di setiap mejanya, dengan dekor yang biasa saja tapi restaurant tersebut mampu mendapat nilai yang sangat tinggi.

Luc secara kebetulan menemukan restaurant tersebut  minggu yang lalu saat sedang menungguku check up  di rumah sakit Sint Fransiscus, Luc yang menunggu di tempat parkir bersama Cahaya yang hari itu tidak masuk sekolah karena sakit berjalan mencari Supermarket untuk membelikan buku bagi cahaya untuk membunuh jemu selama menungguku. Mereka berjalan keluar dari rumah sakit menyusuri jalan Kleiweg dan melewati restauran Little Asia. Konon Luc teringat pada resensi yang pernah dibacanya mengenai restauran tersebut. Baca Little Asia. Maka saat kami melewati restaurant tersebut saat kembali pulang ke rumah Luc berkata bahwa dia ingin mencoba makan disitu sambil merayakan kelulusanku kursus bahasa Belanda di tingkat pertama dan mendapatkan nilai yang baik dari dosen (dan masih ada tiga tahun ke depan jika aku masih mau melanjutkan sekolah secara keseluruhan, itupun jika lulus secara tepat waktu setiap tahunnya pfffffff).

Maka hari jumat kemarin setelah Cinta dan Cahaya ditinggalkan bersama dua orang oppas yang cantik kami meluncur ke Restaurant Little Asia. Ada dua meja yang sudah terisi saat kami datang, pelayan (yang kemudian kami ketahui bahwa dialah pemiliknya) mempersilahkan kami duduk di meja yang telah Luc reservasi dua hari sebelumnya.

Untuk makanan pembuka Luc memesan dua jenis makanan pembuka sekaligus, Dimsum garnalen met bieslook (dimsum udang) dan gegrillde kwartel. Sedangkan aku memilih  pekingeend met flensjes. Ketiga makanan tersebut tidak aku foto, hhhmmmm saat itu masih tidak berpikir akan menuliskannya.

Pelayan datang padaku mengajarkan bagaimana cara menikmati pekingeend yang benar, katanya pertama oleskan sausnya pada flensjes (semacam panenkeoken kecil) kemudian taburkan sayurannya (ijsberg salade dan bawang daun) tambahkan potongan bebek pekingnya terakhir gulung panekoek nya dan makan. Dan aku menjalankan sarannya dengan teratur.

Kemudian saat kami menunggu makanan utamanya, pelayan tersebut datang lagi pada kami berbasa basi pada awalnya tapi menjadi pembicaraan yang panjang setelah dia bertanya apakah aku orang Thailand? (pertanyaan standar yang selalu mereka lontarkan padaku, mereka tak pernah menyangka aku orang Indonesia, selalu pertanyaan diawali apakah aku orang Thailand atau Filipina atau China malah tak sedikit yang menebakku berasal dari Vietnam). Saat aku menjawab bahwa aku berasal dari Indonesia kemudian senyumnya mengembang dan menjadi begitu bersemangat, dia bercerita bahwa suaminya berasal dari Malaysia dari daerah Peneng katanya, daerah malaysia yang terkenal dengan kulinernya. Sedangkan dia sendiri berasal dari Hongkong yang lahir di Belanda. Sepanjang yang aku pahami saat dia bercerita mengenai restaurannya, dia membeli restauran tersebut 15 tahun yang lalu hanya beberapa beberapa tahun kemudian bisnisnya tak dirasakan seramai dulu lagi karena banyaknya pilihan makanan yang makin beragam juga karena terimbas krisis ekonomi eropa yang berdampak mereka memutuskan untuk melepas restaurant tersebut dan dimiliki pihak lain, menurutnya hampir setiap tahun setelah itu Little asia dikelola oleh tangan yang berbeda hingga sekitar lima tahun lalu mereka mengambil alih kembali dan mulai menerapkan managemen yang berbeda, kapasitas meja dikurangi, dapur dirombak menjadi dapur terbuka sehingga pelanggan bisa melihat saat sang koki yang tak lain suaminya sedang memasak. Dan mereka hanya bekerja berdua saja. Kerja keras katanya, hanya hari senin saja restaurant tersebut tutup. Restaurant mulai buka pada pukul tiga sore dan tutup pada pukul sepuluh malam. Dan tentu saja bukan berarti mereka bekerja hanya pada jam segitu saja, karena di rumah mereka harus menyiapkan dan membuat masakan yang akan disediakan di restaurant seperti dimsum dan dessert. Semua makanan yang tersedia disitu dibuat oleh mereka sendiri. Katanya untuk memotong biaya. Pagi menyiapkan segala sesuatunya, setelah restaurant tutup mereka harus membersihkan semuanya dan membuat tata buku. Aku memandang wanita super ramah yang berdiri bercerita dihadapanku dengan takjub, aku kira umurku tak jauh berbeda dengannya, mungkin satu atau dua tahun lebih muda dariku. Mereka mempunyai tiga orang anak, dan yang paling besar berumur 15 tahun. Lanjutnya setiap tahun mereka selalu berlibur ke Malaysia dan Hongkong selain untuk bertemu keluarga juga untuk berkuliner tanpa harus memasak.

Pada saat Luc akan menyantap makanan utama  yaitu Rog met curry sauce yaitu ikan pari dengan bumbu kare, si pelayan melompat tergesa ke arah Luc dan langsung memngambil alih sendok dan garpu yang tengah dipegang Luc, terus terang aku sungguh terkejut dengan tindakannya. Kemudian sambil mengerok ikan pari ke arah bawah dan atas dia menjelaskan pada Luc bahwa begitulah seharusnya cara memakan ikan pari, jangan sampai tulang cucuk ikan tersebut berantakan. Sambil berkata terima kasih dan mengambil alih kembali sendok dan garpu yang dipegang wanita itu Luc tertawa nyengir. Haha ada ada saja.

Dan inilah ikan rog yang tak lupa aku foto.Image

Dan yang paling sukses hari itu dengan makanan utama adalah yang aku pesan, jika kalian bermaksud makan di Little Asia cobalah crunchy beef yang aku pesan. Sungguh aku belum pernah menemukannya di restauran china manapun, dan menurut sang pemilik makanan ini adalah spesial dari restauran mereka.Image

Sementara dessert yang kami pesan adalah Pandan speckoek met ijs en warm Amendel sauce yaitu irisan kue lapis legit pandan beserta es krim yang dituangkan pada saus panas  Amandel dan untukku adalah Panakota met lychee yaitu poeding rasa lychee beserta es krim lychee. Kedua dessert tersebut berasa biasa saja, tidak istimewa sama sekali.

Image

Image

Kesimpulan kami saat kami keluar dari restaurant tersebut adalah jika kami ingin makan masakan china secara tenang dan nyaman maka kami akan datang ke restauran Little Asia untuk menikmati crunchy beef dan menikmati percakan nyaman dan penuh canda tawa dengan Luc dan menikmati atmosfir yang ramah dari pemilik restauran Little Asia yang bertugas sebagai pelayan.

Ten to Three Cafe and Bakery

Beberapa bulan yang lalu saat aku ke pasar kaget di Overschie, dimana kami tinggal aku melihat toko baru, sepertinya toko roti.
Baru hari rabu kemaren saat aku menjemput anak anak dari sekolah dan bermaksud mentraktir minum teh di luar, biasanya kami sebut koffie drinken, walau ternyata yang kami minum adalah air teh, aku mengajak mereka ke toko roti tersebut.

Alasan pertama aku merasa ingin mensupport saja jika ada toko baru di lingkungan rumah kami, dan dari pertama aku melihat toko tersebut sepertinya sepi sekali. Alasan kedua, ya karena ingin mengajak anak anak jajan di luar. Itu saja.

Maka di hari rabu itu, aku berjalan bersama mereka setelah menjemput mereka, aku bilang aku harus membeli roti dan aku bilang pada mereka, sepertinya aku pernah lihat toko roti di dekat pasar Overschie (pasar yang hanya ada setiap hari jumat saja). Sambil berjalan kesana tak henti hentinya Cahaya berkata padaku, tak ada toko roti di jalan itu bunda, katanya. Yang langsung dibenarkan oleh Cinta. Dan aku harus tetap meyakinkan mereka bahwa aku pernah melihatnya.

Sampai di jalan yang aku maksud, aku mulai mencari toko yang aku maksud, tapi betapa kecewanya saat aku berada di depan toko tersebut, aku seperti melihat tanda tanda toko tersebut bangkrut, tak ada tulisan open, tapi aku bisa melihat kedalam toko tersebut dari balik jendela kaca yang besar. Tutup, bunda! Seri Cinta. Masih penasaran kami hanya melihat lihat dari luar saja, dan secara tidak sengaja aku melihat ada seorang laki laki yang berpakaian koki di balik ruangan yang mungkin dapur yang masih bisa terlihat dari luar. Aku melambaikan tangan. Dan Cinta segera berlari menuju pintu dan secara otomatis pintu tersebut terbuka. Kami gembira karena ternyata toko tersebut buka.
http://www.tentothreebakery.nl/nl/info.html
Image

Ada roti, menneer? Tanyaku.
Nee, sorry. Katanya. Hanya cup cake saja, lanjutnya. Yang langsung disambut sorak soray Cinta dan Cahaya.
Mau bunda, mauuuuuuuuu cup cake.

Kemudian aku memesan dua buah cup cake dan untuk diriku hanya cappucinno saja.
Anak anak segera membuka jaket mereka, duduk dengan riang gembira. Dan segera menikmati cup cake pilihan mereka yang rasanya biasa saja, tak istimewa dan jelas lebih lezat buatan Luc di rumah. Walau begitu anak anak mendapat kegembiraan dan suka cita yang mendalam.
Image
Dan toko cup cake yang sepi dan hanya kami sebagai pengunjungnya, berubah meriah oleh celoteh dua anak kembar yang selalu riang gembira.

Dan hari ini tanggal 14 February, yang konon katanya hari kasih sayang, hari penuh cinta, ingin ku ucapkan denagn penuh cinta pada semua orang, dan juga pada kalian yang setia membaca catatanku ini, catatan ringan dan sederhana.
Salam cinta dariku……

Image
Image

Den Haag and Indonesian Culinair

Memulai hari pertama di bulan januari 2014, aku ngidam makan baso tanpa harus bikin. Betul betul ingin menikmati baso keliling yang datang dari rumah ke rumah atau menikmati baso di tenda tenda pinggir jalan ataupun setidaknya menikmati baso di rumah makan. Kita tinggal datang, makan dan bayar.

Saking ngidamnya, aku sampai googeling dengan cukup serius. Dan tak kutemukan satupun penjual baso di Rotterdam, mulai dari penjual type warung hingga berskala restauran. Selalu pencarian kembali  di kota Den Haag. Heran luar biasa mengapa pembisnis makanan tak membuka warung baso di Rotterdam? Atau akukah yang kuper?

Dan rengekanku mulai berhasil terdengar di telinga Luc, ikut prihatin dan mulai membantu pencarian tukang baso di internet. Hingga katanya…. Nee, helaas pindakaas, ga ada tukang baso di Rotterdam. Tetap kamu harus pergi ke Den Haag. Ujarnya kemudian.

Dan mulailah Luc menandai kalender di tgl 5 jan hari minggu dengan tulisan Den Haag, Baso!

Atas anjuran seorang teman satu hari sebelum hari H, aku mengganti keinginanku makan baso menjadi makan bakwan malang. Advisnya, datang saja ke warung Si Des, depan warung Minkee, parkir di Markthof.

Rencana akan berangkat jam 12 siang, kami baru keluar rumah hampir pukul 2 siang. Biasa hari minggu dan juga di musim dingin, siapa yang ingin cepat beranjak dari tempat tidur? Bahkan Cinta Cahaya yang biasanya paling getol bangun pagi pun bisa bangun pukul sepuluh di hari minggu.

Setelah masuk tempat parkir, kami masih kebingungan karena di depan Minkee hanyalah berupa gedung besar tak ada tanda tanda warung makan disana. Cara cepat menemukan warung tersebut adalah menelepon temanku dan menanyakan dimana letaknya warung Si Des itu. Ternyata dari tempat parkir aku tak harus keluar gedung, tapi masuk ke lorong antara warung Minkee dan grillbar Arena. Lurus masuk sedikit dan berbelok ke kanan disitulah Si Des berada disebelah kanan sementara di depannya adalah toko Amazing Oriental. Warung kecil hanya dilengkapai kurang dari sepuluh meja kecil saja, dengan kapasitas meja untuk dua orang saja.

Tentu saja tak sesuai imajinasiku, terlebih kami baru melewati warung Minkee yang sudah amat sangat terkenal, dengan aroma membangkitkan selera dan ruangan yang luas. Sedikit berpikir akankah aku membalikkan badan dan beralih ke Minkee? Tapi Minkee hanya nasi saja. Tolak pikiranku dan tetap bersikukuh untuk tetap berada di Si Des. Dengan sedikit was was aku bertanya pada pelayan toko yang sedang berdiri di kassa, adakah kiranya tempat yang kosong, karena aku melihat semua meja telah terisi. Untunglah tepat saat aku bertanya, dua orang meninggalkan meja, dan akmi segera duduk disana tentu saja dengan protes dari Cinta, harus dimana dia duduk karena kursi yang tersedia hanya dua buah saja. Problem segera teratasi ketika pelayan tersebut menyodorkan dua buah kursi tambahan. Dan dia segera memberitahukanku bahwa aku harus datang ke kassa untuk memesan makanan.

Aku bertanya bisakah aku melihat menu? Pelayan toko tersebut berkata menu bisa dilihat di tulisan di dinding.

Aku meminta dua porsi bakwan, dan langsung dijawab, bahwa bakwan nya belum datang. Hah??? Belum datang? Dan dengan polosnya aku bertanya, kapan datangnya? Dan dijawab dengan polos juga, hari ini tak datang. Ingat tak datang! Bukan tidak ada bakwan untuk hari ini, tapi tak datang. Hahaha, but anyway okelah, aku tak ingin hariku menjengkelkan dengan tidak adanya bakwan di hari ini, segera menawarkan menu lain pada Luc, laksa? Rawaon? dan dijawa siomai oleh Luc.
Image

Oke, satu porsi mie ayam untuk Cinta, satu porsi sate untuk Cahaya, satu porsi siomai untuk Luc dan untukku satu porsi pempek. Dengan minum, satu coca cola, dua chocola melk dan satu teh botol. Total dari semua nya hanya 28 euro saja. Tentunya harga yang tak mungkin kami dapat jika makan di pasar tongtong dengan makanan yang sama.
Image

Setelah menyantap makanan tersebut (aku tak jadi makan pempek dan membawanya pulang, karena Cinta tak mau mie ayam yang aku sodarkan dia lebeih tertarik berbagi sate dengan Cahaya, sehingga akulah sebagai juru sikat, emnyantap habis mie ayam Cinta yang tidak disentuhnya), Luc minta bubur sumsum sebagai dessert, untuk kedua kalinya pelayan yang melayani kami berkata bubur sumsumnya habis, oke ganti menu yang lain, bubur candil seru Luc dan lagi lagi dijawan habis, hingga aku harus bertanya apa saja yang masih tersisa. Akhirnya pilihan kembali ke menu seperti biasa di pasar tongtong, apalagi kalo bukan es cendol dan es dawet.
Image

Keluar dari Si Des, dan mengevaluasi ulang bersama Luc, ternyata kami punya satu suara yang sama. Kembali ke Si Des suatu hari nanti. Alasan Luc adalah makananya tidak mengecewakan sedangkan alasanku adalah aku masih penasawan dengan bakwan malang yang tak kujumpai di hari ini.

Jika kalian kangen akan food street di  Indonesia, datang ke si Des adalah cara jitu pengobat rindu makan makanan Indonesia yang tak pake bikin. Seperti ulasan dari Belindomag mengenai Si Des.  http://belindomag.nl/id/tokoresto/ulasan-si-des

Selamat menikmati.

Rotterdam, 5-1-2014

Pizza Hut

Duluuuuuuuu, jaman dahulu kala, Luc pernah bertanya pada ibuku, restaurant mana kesukaan ibuku. Ibuku menjawab pizza hut, yang langsung mendapat kerutan heran di kening Luc. Hingga ibuku harus bertanya sambil tertawa tawa ke arahku, jawaban ibu salah ya? Lucu ya? Aneh ya? Tanyanya.

Bukan jawaban benar atau salah, jika menyangkut kesukaan alias favorit, jawabku.
Dan ibuku menjawab alasannya padaku. Habis ibu taunya cuma pizza hut aja, restaurant yang bisa nyambung di lidah dan perut ibu.
Ibu ga suka steak, rasanya tersiksa kalo makan daging seperti itu.
Ibu juga ga begitu suka kalo makan di tempat sebangsa kampung daun, udah jauh tempatnya, nunggu makannanya lama, penuh trus harganya mahal lagi. Eh yang dipesan cuma yang gitu gitu juga keluarnya ga seaneh nama di menunya, sama aja kayak makan di Sindang reret, Panyileukan atau Ampera. Hahaha.

Hingga saat ini, Luc sudah empat kali datang ke Indonesia. Tiga kali dia dijemput dari bandara Soekarno hatta menuju Bandung oleh kakak pertamaku, dan tiga kali pula mereka mampir ke pizza hut di jalan tol antara jakarta dan Bandung, sehingga Luc hapal betul tempatnya, karena menurutnya selalu di pizza hut yang sama. Hingga Luc berujar, sepertinya pizza hut merupakan favorit keluargamu. Hhmmmmmm ‘mu’ disini berarti keluargamu juga Luc.

Waktu aku mulai hidup baru dengan Luc, aku melihat pola hidup Luc dalam soal makanan adalah dia jarang sekali ke dapur, kalo ga makan roti berarti dia akan pesan makanan lewat internet yang kemuadian langsung diantar ke rumah, bestel istilahnya.
Bisa dibilang begitu aku datang ke Belanda aku langsung hamil, dan tak bisa turun ke dapur juga karena rasa mual yang amat sangat. Empat bulan pertama kehamilanku, aku hanya bisa makan kentang rebus, telur rebus dan minum coca cola. Ketiga jenis makanan dan minuman itu yang dulu paling tidak aku sukai. Karena itulah Luc lebih sering bestel diantaranya bestel pizza.
Ternyata pizza disini berbeda sekali dengan pizza hut yang aku kenal. Pizza langganan Luc adalah New York Pizza dan kadang Domino Pizza. Menurutku kedua jenis pizza tersebut tak enak sama sekali.

Karena aku keukeuh berpendapat bahwa Pizza hut lebih enak dari kedua jenis pizza tadi, maka waktu usia kandunganku sudah tua, kami pergi ke pizza hut di centrum. Dan hanya itulah satu satunya pizza hut yang pernah aku lihat di Rotterdam.
http://www.pizzahut.nl/index-3.html
Tak seperti halnya di Bandung yang banyak ditemui hampir di seluruh penjuru Bandung.

Aku masih ingat betul, saat kami kesana di hari sabtu siang menjelang sore, tak banyak orang yang makan disana, kosong dan lenggang. Belumnya jam makan, kata Luc.
Komentarku saat itu, tetap rasanya tak seperti pizza hut di Indonesia, walau lebih menyerupai dibanding pizza pizza yang lainnya.
Tapi penasaranku pupus, cukup sudah satu kali saja, ujarku.

Dulu sewaktu di Bandung, jika makan di pizza hut, satu pizza bisa unttuk dua atau tiga orang itupun ukuran medium. Tapi disini ukuran besar untuk satu orang. Dan betul betul bisa dimakan habis. Persis seperti di film film pikirku saat itu, apalagi jika Richard temannya Luc datang di selasa malam untuk nonton film di rumah kami, kami bisa pesan sampai 5 pizza karena Cinta dan Cahaya pun masuk dalam hitungan. Tetap tak mengerti mengapa bisa makan sebanyak itu, sedangkan aku hanya kuat setengahnya saja, itupun sudah kemampuan makan yang paling maksimal, istilahnya jika seharian tak makan baru bisa menghabiskan pizza setengah lingkaran ukuran diameter 30 cm.

Dan hari ini, kami mengulang sejarah hampir lima tahun yang lalu. Kami kembali ke pizza hut di Rotterdam tapi kini Cinta dan Cahaya sudah keluar dari perutku sehingga bisa makan sendiri.
Ternyata Cinta tak mau pesan pizza, dia memilih kip nugget yang satu porsinya berisi 12 buah. Cahaya memilih pizza margarita (seperti biasanya) ukuran medium dengan bottom klasik alias tipis, Luc memilih pan pizza taco special ukuran medium dan aku memilih pan pizza hot n spicy ukuran kecil.
Image

Ada yang menarik begitu kami melangkahkan kaki ke restaurant, kami dipersilahkan duduk menunggu di bangku tunggu sebelum akhirnya dipersilahkan ke tempat yang disediakan, persis daftar antri di pizza hut di Bandung. Pelayan yang melayani kami, mengingatkan diriku pada Ivan Gunawan, persis abis, hanya ini lebih kemayu dan moleg hehe, dan super ramah.

Kami memulai dengan pembuka makanan berupa roti koflok, yang datang cukup lama stelah kami duduk, sehingga capucino yang aku pesan pun tandas.
Tak lama setelah capucinoku habis, chiken croq alias nuggetnya Cinta datang, hanya itu tak disusul atau dibarengi pesanan kami yang lain. Aku mulai curiga terutama saat pesanan para meja tetangga yang datangnya belakangan dari kami telah berdatangan, hingga meja kami lah yang masih kosong. Cahaya mulai gelisah melihat Cinta yang tengah melahap makanannya. Aku menawarkan makanan Cinta pada Cahaya, tapi dia menolaknya.

Dan kebosanan tak hanya menyerang Cahaya, aku dan Luc pun mulai merasa tak nyaman, saat Cahaya minta ke toilet pada Luc, aku mulai meminta pinsil warna dan kertas mewarnai pada pelayan, karena itulah cara jitu untuk membuat anak anak melupakan rasa bosannya. Cahaya tersenyum gembira ketika melihat kertas mewarnai sudah tersedia di mejanya saat dia kembali bersama Luc dari toilet.

Selera makanku semakin berkurang saat Luc mulai mengeluhkan lamanya pesanan datang, wajah tak senang mulai dia munculkan, sehingga aku berinisiatif menanyakan pesanan kami pada pelayan. Dan aku pun mulai melihat mimik panik di wajah pelayan super ramah tersebut, sibuk membicarakan sesuatu di layar komputer bersama dua rekannya, kemudian satu diantaranya kembali ke belakang. Dan tra laaaaa hingga ke 12 nugget Cinta habis, pesanan kami belum muncul juga.
Untunglah dua bocah kecil ini sedang dalam kondisi senang, tak sedikitpun berkeluh kesah, sibuk mewarnai sambil mengobrol sana sini.

Dan kedongkolan kami semakin menjadi, saat orang yang datang bersama kami beranjak pergi, maksudnya mereka telah selesai makan sedangkan kami belum mendapatkan pesanan kami. Saat Luc akan beranjak membatalkan pesanan  tiba tiba saja pesanan kami muncul, dan selera makanku yang telah hilang beranjak muncul kembali saat melihat Cahaya girang, segera meletakkan pinsil warnanya dan menikmati pizza dengan lahap.  Sementara Cinta tak tertarik untuk mencoba barang segigitpun pizza yang aku tawarkan, dia sudah kekenyangan dengan nuggetnya.

Aku dan Cahaya berhasil menghabiskan sepotong lingkaran pizza, sementara Luc berhasil menghabiskan seluruh pizzanya. Kami menjanjikan setelah selesai makan, Cinta Cahay dibolehkan memesan es krim. Walau aku trauma pesanan akan datang lama tapi janji tetaplah janji, dan untuk menyiasati hal keterlambatan untuk kedua kalinya, aku segera memesan es krim untuk anak anak sebelum Cahaya selesai makan. Walau dengan cara itupun pesanan ternyata masih pake lama juga.

Image

Menyebalkan gerutu Luc, dan dia melakukan hal yang sama sepertiku, saat es krim anak anak belum selesai dia segera beranjak dari meja dan segera membayar makanan kami.

Keluar dari situ, hal yang pertama diucapkan Luc adalah cukup ini yang terakhir makan disini. Aku tergelak. Teringat lima tahun yang lalu hal itu pulalah yang aku ungkapkan kepada Luc, cukuplah ini yang terakhir makan di pizza hut, saat itu karena menurutku pizza yang aku harapkan sama dengan di Bandung tak sesuai dengan harapanku.

Ah mungkin, walau sekecewa apapun, berjanji untuk tak datang ke pizza hut di Rotterdam lagi, mungkin saja kami akan lupa pada janji kami. Hahaha jika sampai lupa, pantaslah disebutkan jika pizza hut adalah restaurant favorit keluarga kami.
Image