Semua ada ganjarannya

Let’s talk about fine!
Tadi sore kami kena denda, Luc tepatnya! Gondoknya masih terasa hingga kini.
Sebelum ke mushola, aku minta diantar ke toko daging di pusat kota. Sialnya setelah dua kali putaran, kami tak juga menemukan tempat parkir, hujan yang rintik rintik kini semakin deras hingg akhirnya Luc menyuruhku turun sendirian dan dia akan menurunkanku tepat di pintu masuk toko daging sehingga aku tak perlu basah kuyup sementara Luc bersama Cinta Cahaya akan menunggu di mobil saja.

Tak sampai lima menit aku di dalam toko daging, begitu keluar aku melihat petugas berseragam tengah mencatat mobil kami.
Tidaaaaaaaakkkkkkkkk! Seruku dalam hati. Luc kena tilang! Aku segera masuk mobil, mendapati Luc yang bermuka masam. Kena tilang Luc? Tanyaku yang langsung di iyakan. Kenapa kamu ga maju terus begitu melihat petugas datang? Ingin aku bertanya seperti itu pada Luc, tapi aku urungkan pertanyaan itu, tak ada gunanya. Dan kami menunggu dalam diam sementara petugas berseragam tersebut sibuk mencatat di sebuah alat yang mirip handphone jaman dulu yang besar. Kemudian dia memotret mobil kami. Aku yang ada di mobil melongokkan wajahku dan menempelkan dua jari dan tersenyum lebar ke arah kamera. Konyol memang, tapi aku melihat Luc terkikik melihat apa yang aku lakukan.

Kemudian sang petugas memberikan print out berupa kertas kecil serupa struk belanjaan dari supermarket. Luc menyerahkan padaku. Mataku terbelalak kaget, sekaget kagetnya. What????? 90 euro darling……..!!! Seruku.

What’s up Luc? Tolong ceritakan apa yang terjadi begitu aku keluar mobil tadi?
Begitu kamu keluar, aku menyalakan dua lampu richting, aku melihat petugas menghampiriku, bertanya mengapa berhenti? Aku menjawab, hanya berhenti sebentar saja, aku menunggu istriku beli daging. Dia tak menyuruhku maju untuk pergi, dia malah meminta SIM ku, dan kemudian kamu datang. Tak sampai lima menit darling. Dan kita menunggu lebih lama sementara dia mencatat SIM ku dan memotret mobilku daripada kamu tadi di dalam toko daging.

Batapa tak adilnya. Seruku dalam hati. Kami tadi berusaha mencari tempat parkir sampai berkeliling dua kali, sehingga Luc mengambil resiko menurunkanku di jalan. Tapi tiba tiba saja ketidak beruntungan menimpa kami.

Aku kesal, karena kami harus mengeluarkan uang yang seharusnya bisa kami tabung, teringat berkali kali ucapan Luc, yang mengingatkanku untuk tidak membeli barang yang tak terlalu penting, ucapnya berkali kali ingat kamu harus segera les mobil untuk mendapatkan SIM, dan setelah itu kami harus memikirkan mobil lain untukku.

Teringat sebulan lalu, Luc juga harus membayar denda sebanyak 250 euro akibat kelebihan kecepatan 9 dan 11 km saja dari batas yang ditentukan. Tapi waktu itu aku tak terlalu kesal begitu surat tilang datang ke rumah kami, sadar bahwa itu kesalahan kami. Tapi denda yang ini rasanya begitu mengganjal dalam hati. Tak tahu kenapa.

Sampai di mushola, dengan masih kesal aku menceritakan pada teman tentang kejadian yang baru menimpa kami, dan komentarnya sungguh membuatku prihatin juga, karena dia menceritakan juga tentang kejadian beberapa bulan lalu saat dia berkunjung ke rumah temannya, setelah berkali kali tak menemukan tempat parkir dia berteriak gembira karena melihat tempat kosong, langsung parkir, eh begitu balik lagi ke mobilnya, dia mendapatkan surat tilang. Tak tanggung tanggung 360 euro, karena dia telah parkir di tempat parkir khusus untuk orang cacat! Sungguh serunya, disitu tak ada ada tanda cross sebagaimana biasanya, dan setelah dia teliti ternyata ada plang tanda khusus untuk orang cacat, tapi karena malam hari dan terlalu gembiranya melihat tempat kosong, maka dia langsung parkir.

Masih menceritakan kejadian yang baru saja kami alami, Luc bertanya padaku mengapa aku begitu gusar? Aku berkata, entahlah. Kemudian dia menggenggam kedua tanganku sambil berkata….. Hanya perlu kamu ingat, semua ada ganjarannya. Kamu hidup di Belanda akan ada denda untuk semua yang kamu lakukan tidak semestinya. Sebelum aku menurunkanmu tadi, aku sudah tahu bahwa aku mengambil resiko, akan ada sangsi yang tidak menyenangkan, tapi aku harus menerimanya, karena itulah yang harus aku lakukan, menurunkanmu di pinggir jalan dan jika aku harus maju terus untuk berkeliling dan kemudian kembali lagi ketempatmu dimana aku meninggalkanmu, maka akan menghabiskan waktu 20 menit hingga 30 menit untuk kembali ke arahmu, sementara aku tahu kamu akan berada di toko itu tak sampai lima menit. Oleh sebab itu Yayang, kita harus menerimanya.

Aku terdiam menerima semua kata kata Luc. Bukan hanya tentang apa yang baru dikatakannya, tapi berpikir lebih jauh. Luc tahu betul bahwa semua akan ada ganjarannya, semua tindakannya sudah dia pikirkan, jika aku melakukan sesuatu yang tidak sesuai aturan maka aku akan menerima sanksi.

Dari semua itu, aku tahu banyak mengenai aturan dalam agama yang aku anut. Aku tahu banyak mengenai sanksi yang akan aku terima bila aku menyalahi aturan tersebut. Dan ternyata aku tahu banyak bahwa aku banyak melangggar aturan.

Semoga kejadian ini, benar benar menjadi pembelajaran yang berharga, mengenai suatu sebab akibat, berbuat dan akibat dari perbuatan. Benar dan salah selalu ada ganjarannya. Berbuat baik ada ganjarannya, berbuat salah ada ganjarannya. Tak perlu mengingat kebaikan yang kita lakukan karena ganjarannya bukan urusan kita, tapi keburukan yang kita tuai walau mungkin ganjarannya tidak kita rasakan sekarang tapi nanti tak mungkin dilimpahkan pada orang lain.

Rotterdam, 9-11-2013

Ibu Mertua

Setelah menikah akhirnya aku punya ibu mertua juga.
Cerita tentang ibu mertua sudah menjadi cerita yang sepertinya bagai gelombang samudra yang bisa tenang dan bergelora.
Saat aku masih berada di Indonesia, aku selalu menjadi orang yang mendengarkan cerita tentang ibu mertua ini dari beberapa teman kerjaku dulu, rasanya ada saja salah satu yang bercerita tentang tingkah polah ibu mertuanya. Hampir bisa ditarik kesimpulan walaupun mereka kadang kesal dengan ucapan ibu mertua tapi mereka semua sepertinya sayang pada ibu mertua ini. Kadang kalau sedang kesal tingkat tinggi pada si ibu mertua, aku hanya bisa menenangkan mereka sambil berkata, seharusnya kalian juga merasakan seperti apa ibu mertua terhadap kalian, mungkin saja mertua pun merasa kalian menantu menyebalkan. Yang langsung disambut huuuuuuuuuuhhhhhh panjang dari teman kerjaku, sambil menjawab, kamu belum tau rasanya punya mertua.

Oeps! Memangnya bagaimana rasanya punya mertua?

Dalam keluargaku akulah satu satunya anak perempuan diantara tiga anak laki laki. Jadi ibuku adalah ibu mertua dari tiga menantu perempuannya. Selama aku di Indonesia kedua kakakku sudah menikah jauh sebelum aku (ya aku yg terlambat menikah) rasanya tak ada keluhan dari kedua menantu ibuku ataupun dari ibuku sang mertua. Mereka semua terlihat baik baik saja.

Namun setelah aku tinggal jauh dari Indonesia, sedikit sedikit aku mendengar curhat dari ibuku tentang menantu mereka, dari curhat ibuku ternyata aku malah membela sang menantu ibuku. Hahaha. Apa sih yang dicurhatkan ibuku? Biasanya tentang rumah yang berantakan,  terlalu keras atau terlalu lemah pada cucu ibuku. Seputaran itulah. Tapi ibuku selalu tak lupa memuji mereka jika mereka berada diatas standar yang diharapkan ibuku.

Kini aku di Belanda, punya teman dekat yang mempunyai ibu mertua yang menurutku pendiam. Dan temanku selama bertahun tahun tak pernah bercerita tentang ibu mertuanya itu hingga beberapa waktu yang lalu dia berkeluh kesah juga dan menyampaikan bahwa dia iri sekali padaku yang mempunyai ibu mertua yang jauh sehingga si ibu mertua tak banyak mencampuri kehidupan rumah tanggaku.

Angela. Dia adalah mertuaku. Aku berbicara padanya satu hari setalah aku tiba di Belanda untuk tinggal permanen. Artinya beberapa bulan setelah pernikahan di Indonesia. Dia tak datang pada pernikahan kami. Konon dia hanya memberikan restunya (dan sumbangan untuk biaya resepsi) saja. Satu hari setelah datang ke Belanda, aku menerima buket bunga yang sangat cantik, sesaat setelah menerima buket itu aku meminta suamiku untuk menyambungkan telepon untuk berbicara dengan ibunya, sebagai ucapan terma kasih. Dan meneleponlah aku ke Portugal dimana ibu mertuaku tinggal. Dia mengundang kami untuk mengunjungi vilanya di Portugal. Maka sibuklah kami menyiapkan liburan kesana yang kemudian harus ditunda karena aku tiba tiba hamil dan kondisinya sangat tidak memungkinkan untuk terbang.

Pertemuan pertama dengan Angela terjadi saat aku tak sadarkan diri di rumah sakit. Dia datang dari Portugal untuk mengambil kedua anak kembar kami dari rumah sakit sebelum mereka diberikan pada foster parent karena ketidakmampuan kami untuk merawat mereka. Saat itu aku terbaring di rumah sakit, suamiku memutuskan merawatku dan menyerahkan perawatan anak anak kami pada rumah sakit dimana rumah sakit akan mencari orangtua sementara untuk Cinta dan Cahaya. Angela datang pada saat yang tepat untuk menjadi orang yang bertanggung jawab atas anak anak kami.

Untuk pertama kalinya aku bertemu dengan Angela saat aku hanya bisa sedikit berkomunikasi (saat aku sakit suaraku sempat hilang) hal yang aku katakan padanya adalah perutku gendut sekali, kataku sambil mengusap perutku yang masih gendut tapi tak ada Cinta dan Cahaya disitu. Dan Angela menjawab dengan cepat, tapi kamu masih wanita tercantik seantero dunia, sahutnya. Di ujung tempat tidur Luc tersenyum trenyuh. Baru dikemudian hari saat aku dan suamiku mengingat pertemuan pertama antara aku dan Angela, kami berdua selalu tersenyum getir. Masa masa tersulit yang pernah kami lalui.

Orangtuaku datang dari Indonesia untuk membantu merawat diriku, saat mereka kembali ke Indonesia kata kata ibuku padaku adalah, kamu beruntung punya ibu mertua yang sangat baik, ibuku berkata tentang besannya bahwa dia wanita yang luarbiasa.

Sembilan bulan kemudian kami berempat melanjutkan rencana kami untuk mengunjunginya di Portugal, jika dulu kami berencana datang berdua, kini kami datang berempat. Di saat liburan itulah aku mengerti mengapa ibuku berkata demikian tentang Angela. Ya dia super baik pada diriku. Dia menjaga Cinta dan Cahaya, membiarkan kami pergi saja berdua padahal saat ibu si kembar masih bayi umur 9 bulan. Dia mencucikan baju baju kami dan yang lebih kaget lagi dia menyetrikakan baju baju kami juga.

Setelah kedatangan kami yang pertama kami mengulanginya selalu setiap tahun, dan perlakuannya pada kami tak pernah berubah. Rumor yang aku dengar dari suamiku sendiri bahwa ibunya termasuk orang yang bisa sedikit ikut campur pada urusan rumah tangga anak anaknya tak terbukti pada diriku. Perang dingin antara Angela dan menantu satunya lagi (istri dari adiknya Luc) tak pernah bisa aku mengerti. Ibuku memberikan jawaban yang membuat hidungku mengembang, karena kamu juga baik. Hahaha. Apakah begitu?

*****

Sejak Cinta dan Cahaya berusia dua tahun mereka sudah masuk sekolah. Di tahun kedua sekolah playgroup itu Cahaya mempunyai sahabat namanya Daisy. Mereka masuk sekolah dasar yang sama saat mereka berusia empat  tahun. Daisy masuk tiga bulan lebih awal dibandingkan Cahaya karena dia berusia tiga bulan lebih tua dari Cahaya. Di Belanda anak anak akan masuk Sekolah Dasar tepat pada umur 4 tahun, kapanpun mereka berusia empat tahun maka mereka akan masuk SD. Maka tak heran murid baru bisa datang kapan saja. Persahabatan Cahaya terjalin hingga kini. Tapi tak pernah sekalipun aku melihat Daisy diantarkan oleh ibunya, selalu oleh ayahnya atau neneknya atau orang lain yang aku tau adalah masih kerabat Daisy. Aku tak pernah bertanya pada Daisy jika Daisy bermain di rumah kami tentang ibunya. Barulah setelah Cahaya bercerita bahwa ibunya Daisy kini tinggal dirumahnya setelah lama tinggal di rumah sakit, tapi dia tidak bisa berjalan, Cahaya bilang dia duduk di kursi roda yang keren yang bisa berjalan sendiri.

Mendengar cerita Cahaya aku menebak nebak apa yang terjadi dengan ibunya Daisy. Aku tak pernah melihatnya dia menjemput aatau mengantar anaknya ke sekolah. Setiap ke sekolah Daisy selalu diantar ayahnya dan pulangnya dijemput neneknya yang selalu mendorong kereta bayi kembar yang berisi dua bayi perempuan lucu. Kini bayi lucu itu sudah berusia tiga tahun dan sudah sekolah di playgroup. Cahaya bilang bayi kembar itu adalah adiknya Daisy. Mungkinkah ibunya Daisy sakit seperti diriku? Sakit karena melahirkan bayi kembar?

Aku adalah orang yang didatangi banyak dokter setelah aku sembuh, sebagian dari mereka tak percaya bahwa aku bisa sembuh hingga kini. Setiap aku datang control dokter yang menanganiku selalu menyalamiku dengan ucapan awal “hallo superwomen”, kata kata seperti itu selalu dia katakan setiap memeriksaku….hingga kini!

Sekitar satu bulan yang lalu aku melihat ibunya Daisy untuk pertama kalinya, dia datang menjemput anak anaknya didampingi suaminya, menggunakan kursi roda. Beberapa orangtua yang lainnya menyalaminya, tentunya mereka yang saling kenal. Aku baru berbicara beberapa hari setelahnya. Saat itu Cahaya diajak merayakan ulang tahun Daisy di sebuah tempat hiburan anak, hanya Cahaya saja. Saat aku menjemput Cahaya dari rumah Daisy, untuk pertama kalinya aku berbicara dangan ibunya Daisy, Chantal. Dia berkata bahwa Cahaya anak yang baik dan dia berkata bahwa di senang bisa melihat Daisy having fun bersama Cahaya.

Kemarin sore, Daisy bermain ke rumah kami. Tiba tiba saja aku teringat ucapan Cahaya bahwa Daisy pernah masuk TV. Aku bertanya padanya dalam acara apa? Daisy tak bisa menjelaskan secara detail nama acaranya, dia hanya menyebutkan ada di TV SBS6, Channel nasional Belanda. Daisy hanya menyebutkan bahwa dia memberikan kejutan untuk ibunya  dengan menanam pohon yang diberi nama Joey, Daisy, Abby dan Jessy.

Kemudian aku bertanya pada Daisy, apakah ibunya berada di rumah sakit setelah dia melahirkan Abby dan Jessy? Daisy mengangguk. Aku terdiam teringat lukaku sendiri. Kemudian aku mencari informasi di internet, aku berhasil menemukan cerita tentang mereka di koran lokal. Dan airmataku membanjir saat membaca ceritanya.

Chantal ibu dari empat orang anak perempuan berusia 7, 5 dan 3 tahun didiagnosa leukimia akut sesaat setalh melahirkan. Berada di ruang isolasi lebih dari setengah tahun, menjalani beberapa pengobatan dan kemo, setelah berkali kali berada dalam kondisi hampir dinyatakan meninggal. Berkali kali! Kasusku, aku dinyatakan dua kali dalam posisi nyaris meninggal. Tidak berkali kali seperti kasusnya ibunya Daisy.

Kini dia diperbolehkan keluar dari rumah sakit hanya untuk memberikan untuk menikmati sisa hidupnya bersama anak anaknya, sehingga dia bisa melihat anak anaknya disaat saat terakhirnya. She is dying! Suprise suprise acara yang dimotori Henny Huisman salah satu presenter terkenal di Belanda, mendokumentasikan kehidupan Chantal. Dia memberikan kursi roda baru bagi Chantal yang didekorasi oleh keempat anaknya, kemudian dia dibawa dengan menggunakan bus yang berisi keluarga terdekatnya ke sebuah tempat, diaman akan ditanam empat buah pohon yang diberi nama keempat anaknya. Tempat tersebut adalah tempat yang selalu dihabiskan oleh suami Chantal untuk membawa keempat anaknya setelah mereka menengok Chantal di rumah sakit. Di tempat itu Chantal ingin keempat anaknya mengingat dirinya.

Aku melihat film tersebut (dari uitzending gemist) dengan mata bercucuran, sama seperti Chantal yang bercucuran saat melihat suami dan keempat anaknya menanam pohon secara simbolis. Kemudian suaminya dan beberapa kerabatnya mengucapkan beberapa kata mengenai Chantal. Mijn inspiration, superwomen, sterk vrouw, dan lain lain.

Kemudian Chantal yang berkata, bahwa dia sangat berterima kasih pada seluruh keluarganya atas dukungannya hingga saat itu dan terakhir dia berkata, terima kasih pada ibu mertuaku yang telah menjada anak anakku………..

Ibu Mertua! Omanya Daisy yang selama ini mendorong kereta kembar Abby dan Jessy, yang selalu menjemput Daisy dan kakaknya dari sekolah, yang memijit bel rumah kami untuk menjemput Daisy saat dia selesai bermain di rumah kami adalah ibu mertua Chantal.

Kematian adalah milik semua mahluk hidup. Tak ada seorangpun yang tau kapan saat itu akan datang, tak dapat dibayangkan bahwa kini aku mengenal seseorang yang sedang menikmati saat saat kebersamaan bersama anak anaknya. Tiba tiba perkataan dokter setiap kami bertemu ‘hallo superwomen’ kini tak ada artinya lagi buatku, aku tak sekuat Chantal, apa yang terjadi pada diriku jika aku dinyatakan tinggal menunggu hari saja?

Tapi diatas semua itu, bukankah kita semua sama dengan Chantal….. menunggu saatnya tiba

Aku melirik pada buku friendship kepunyaan Cahaya, disitu Daisy menulis (orang dewasa di rumahnya tentunya yang menuliskannya)…. semoga persahabatan kita abadi selamanya…………

Cinta Cahaya bersama Daisy 9 juni 2015

Cinta Cahaya bersama Daisy
9 juni 2015

Diamond Ring

IMG_35504276554761

Sambil menggenggam jari manisku Cinta bertanya lirih padaku,
Bunda, apakah kamu menikah dengan papa?
Sambil tersenyum aku menjawab dan membelai kepalanya, tentu saja sayang…. Jawabku.
Tapi mengapa kau tak memakai cincin? Tanya nya kembali.

Aku teringat pada cincin kawinku, yang kulepaskan sehari sebelum melahirkan anak anakku dan hingga kini tak kukenakan lagi.
Dilepaskan atas permintaan suster yang membawaku ke ruang bersalin, dan kutitipkan saat itu juga pada Luc.
Cincin emas bermata berlian, yang disebutkan dalan janji pernikahan kami sebagai mahar dari Luc.
Diamond ring dengen cerita seru sebelumnya, dua kali dibawa kembali ke Belanda karena terlalu longgar di jariku, sedangkan Luc benar benar ingin cincin yang perfect dan pas di jari manisku. Cincin yang menjadi cerita tak menyenangkan saat datang yang kedua kalinya di bandara Soekarno Hatta, karena Luc harus berurusan dengan pihak imigrasi di bandara karena membawa cincin tersebut. Kata pihak imigrasi Luc harus membayar pajak barang mewah, dan Luc tak begitu saja mau menerima apa yang disampaikan petugas imigrasi, alasan Luc bagaimana mungkin dia harus membayar pajak untuk kedua kalinya untuk barang yang sama? Mengherankan sekali harus membayar pajak sedangkan di Belanda dia juga sudah membayar pajak saat membeli cincin tersebut, dan cincin itu akan kembali dibawa ke Belanda karena akan berada di jari manisku.

Tapi sudahlah, cerita tertahannya Luc satu jam lamanya di bandara menjadi cerita yang mengasyikan saat kami mengingatnya kembali, pengalaman seru!

Pertanyaan Cinta akan cincin perkawinanku, mengingatkan aku pada cerita yang pernah aku baca saat aku kecil dulu, melekat erat dalam ingatanku. Cerita pendek dalam majalah Gadis di kolom Percikan yang aku baca saat aku masih duduk di bangku SMP, tak tau siapa pengarangnya tapi yang aku ingat cerita tersebut merupakan terjemahan dari sebuah cerita asing.

Dan inilah kira kira yang aku ingat ceritanya……… disertai hayalan dan pengurangan atau tambahan dalam imajinasiku……..

Laki laki muda itu masuk ke dalam toko perhiasan dimana aku tengah bertugas.
Nampak ragu ragu dan sedikit tak percaya diri.
Aku menyapanya, mempersilahkan masuk, dan bertanya dengan sapaan seramah mungkin. Ada yang bisa saya bantu, mas….
Pemuda itu tersenyum membalas senyumanku dan berkata lirih, aku ingin membeli cincin berlian yang ada di etalase depan sana. Katanya sambil menunjuk ke arah depan toko kami, dimana barang barang istimewa terpajang, sehinggga orang yang lalu lalang di depan toko kami bisa dengan mudah melirik barang pajangan yang bereda di etalase depan.
Aku beranjak menghampirinya, memeriksa cincin berlian yang dia maksud. Agak ragu ragu juga aku mengeluarkan cincin tersebut dalam etalase dan menunjukannya pada pemuda tersebut.
Dengan sumringan dia memandang takjub pada cincin yang aku sodorkan kepadanya. Binar berlian yang terpancar seolah ikut menyilaukan matanya, beberapa kali aku memergoki matanya yang terbelalak bahagia.
Aku ingin membeli cincin tersebut, ucapnya mantap.

Aku memeriksa harga yang tertera pada cincin tersebut, sedikit ragu ragu untuk mengucapkan harganya pada pemuda yang tengah berbahagia.
Hhmmmm, cincin ini memang yang paling indah yang ada pada toko kami, dan tentunya harganya juga ‘indah’. Kataku disertai kata pembuka untuk menyebutkan jumlah yang fantastis untuk cincin tersebut.
Sekonyong konyong, pemuda tersebut menyambar perkataanku dengan cepat.
Aku tahu harganya, aku sudah tahu dari beberapa bulan sebelumnya, aku sudah mengincarnya hampir tujuh bulan lamanya, aku setengah mati ketakutan, takut cincin tersebut sudah dibeli orang sebelum aku sanggup membelinya. Kini aku sudah mempunyai uang yang cukup untuk membeli cincin berlian tersebut, dari uang seluruh tabunganku ditambah kerja tambahan selama beberapa bulan terakhir untuk segera dapat membeli cincin itu.

Aku memandang pemuda tersebut, menyimak paras wajahnya yang biasa saja, dia bukan pemuda tampan, tak ada tampang keren atau dandanan necis dalam tubuhnya, tapi aku melihat paras wajahnya yang lembut, sejuk dan lugu. Tingkah lakunya yang sopan dan sangat antusias akan penceritaan perjuangan untuk membeli cincin itu sangat menarik perhatianku.

Tanyaku, tanpa bermaksud mengorek pada siapa cincin tersebut akan diberikan telah menoreh alam pikiranku untuk berpikir menebaknya.

Tentu akan sangat beruntung dan berbahagia sekali siapapun yang akan memakai cincin ini kelak, jika tahu begitu gigihnya anda untuk mendapatkan cincin ini. Kataku ikut berbahagia.

Yeaahh, aku bermaksud melamar kekasihku setelah berhasil membeli cincin ini. Katanya dengan muka yang langsung berubah merah.

Oohhh, seruku ikut merasakan kegembiraan yang ada dalam diri pemuda itu, selamat mas… Lanjutku. Tentunya dia seorang gadis yang sangat istimewa, sungguh aku ikut berbahagia untuk anda.

Yeah, dia gadis yang sangat cantik dan aku sangat mencintainya, aku ingin selalu membahagiakannya, dan aku tahu cincin ini akan semakin cantik di jari manisnya. Ucapnya menggebu gebu.

Tak terasa keharuan segera menjalar dalam diriku, sambil mengemas cincin tersebut aku ikut mendoakan semoga pernikahan mereka langgeng. Kubayangkan gadis cantik kekasih si pemuda tentunya gadis yang ramah dan lugu seperti pemuda tersebut.

Dan cerita pemuda yang datang ke toko kami hampir saja aku lupakan, jika tak ada kejadian hari ini.  Hari ini, dengan udara sejuk di musim semi, aku membuka toko di pagi hari yang tak berapa lama seorang perempuan cantik yang menor memasuki toko kami. Dandanannya begitu menggoda, dengan sepatu lars tinggi dia berjalan dengan lincah, bak pragawati di atas catwalk. Wangi parfum langsung tercium saat dia mendekatiku, bibirnya yang bergincu merah tersenyum genit ke arahku.

Aku ingin menjual sesuatu di tokomu. Ucapnya dengan suara yang dibuat seseksi mungkin.

Boleh aku liat. Pintaku ramah.
Dia menyodorkan kotak cincin yang rasanya aku kenal. Aku segera membukanya. Dan tiba tiba kepalaku pening, perutku mual, rasanya aku ingin muntah saat itu juga. Masih kudengar sayup sayup suaranya yang diiringi tawanya yang cekikikan.
Cincin ini hadiah dari seorang pemuda bodoh, haahhh pemuda yang begitu gila mencintaiku, dan dengan cincin ini dia melamarku….. hahahahaha. Ah pemuda bodoh yang malang, tapi aku tak kuasa menolak hadiahnya, bukankah akan membuat hatinya semakin sakit jika menolak pemberiannya, bukan? Jadi kuterima saja cincin yang indah in tapi kutolak lamarannya. Itu yang terbaik bukan? Tanyanya meminta pembenaran pada diriku.
Dan lanjutnya,
Aku senang saja menerima hadiahnya, aku toch bisa menjualnya dan mendapatkan cincin lain dari lelaki lain hahahaha.

Sempoyongan aku menggenggang cincin itu dengan erat, membayangkan pemuda lugu tersebut saat datang ke toko kami sebulan yang lalu dengan muka sumringah penuh kebahagian.

Tidak! Tidak pantas, seruku berkali kali dalam hati dengan amarah yang tak dapat aku perlihatkan di depan tamu di toko kami di musim semi yang berubah panas.

PS. Menghitung mundur, memperingati hari perkawinan kami yang beberapa hari lagi.

Waar blijf de tijd?

Ada sesuatu yang aku pikirkan, dan hampir seminggu ini aku memendamnya seorang diri. Enggan rasanya aku menceritakan sesuatu yang mengganjal di pikiranku itu pada Luc. Pikirku karena itu tak terlalu penting dan itu bukan hal yang baru.

Tapi tadi pagi, aku sudah tak tahan lagi. Dimobil saat Luc membawaku ke sekolah, aku ceritakan ganjalan hatiku. Luc mendengarkan dengan prihatin, kemudian memberi saran. Menguatkan diriku seperti biasanya agar aku berani.

Tak sampai disitu, curhatku menjalar. Yang asalnya hanya curhat tentang seorang kawan, kini curhat tentang keadaan diriku sendiri. Mulai dari rutinitas setiap hari hingga keluhan keluhan yang lainnya. Sehingga Luc harus memarkirkan mobilnya (yang biasanya hanya menurunkanku saja) untuk mendengarkan keluhanku, hingga mataku berkaca kaca. Duh cengengnya……

Akhirnya setelah menyeka air mata  itu,  aku keluar juga dari mobil, karena dua menit lagi pelajaran akan dimulai. Dan tralaaaaa, begitu sampai di kelas, pak dosen sedang membagikan kertas ke setiap bangku. Aku segera duduk. Dan layar proyektor di depan kelas segera menyala. Disitu terpampang tulisan Waar blijf de tijd- Herman van Veen. Pak dosen menjelaskan bahwa kami harus mengisi kata kata yang kosong dengan bait yang akan dinyanyikan Opa Herman ini.

Musik diputar, di layar proyektor terpampang foto jadul, sepasang manusia. Foto perkawinan. Bait pertama tak sempat kuisi, aku malah terpana dengan foto tersebut dan melupakan tugasku untuk mengisi kata yang hilang. Untunglah konsentrasiku kembali muncul dan mampu mengisi kata kata selanjutnya yang hilang walau tak sempurna karena si opa menurutku nyanyinya ga jelas, terlalu nge bas malah membuat tak jelas ditelingaku yang sedikit budek ini.

Dan kemudian saat pak dosen mengulang lagu tersbut untuk kedua kalinya dengan cara menghentikan beberapa saat  (pause) setiap kata yang kosong, aku jadi bisa mencerna isi lagu tersebut. Astaga kok persis banget dengan apa yang tadi aku keluhkan pada Luc. Mungkin karena momennya aku sedang galau, eh si air mata meleleh lagi.

Cobalah simak beberpa arti dari bait bai tersebut.
Kamu menikah muda ketika kamu dua puluh (aku enggak, hehe)
Beberapa tahun kemudian kamu begitu sibuk
Dengan tiga, empat anak,
Ga ada banyak waktu kebahagiaan untuk dirimu sendiri 
kamu berada dia antara membersihkan lantai dan mencuci
Cucian kotor dan kompor
Kamu tak diam, bahkan saat dunia matipun
Kamu tetap sibuk di rumah

Trus ada bait bait yang lain yang tak kalah getirnya… anak anak yang ribut bermain sementara kamu sibuk berada di antara letupan kopi dan sang suami berada di balik koran sambil duduk santai. Hahaha ini lagu ajaib sekali. Dan ironisnya aku terbawa suasana memikirkan, oohhh inikah kehidupan kaum wanita?

Ternyata cobaanku tak sampai disitu, dari sekolah aku harus langsung ke tempat les renang, di bis aku iseng memeriksa tas yang berisi perlengkapan renangku, dan benar saja aku tak membawa baju renang. Semalam aku hanya memasukan baju lengan panjang, celana jins dan sepatu renang saja. Ya sejak minggu yang lalu aku harus menggunakan pakaian lengkap saat berenang termasuk sepatu, karena aku sedang sibuk meraih sertifikat B. Tapi tentu saja aku harus memakai baju renang juga karena saat menyelam nanti semua pakaian lengkap harus ditanggalkan dan aku hanya boleh menggunakan baju renang saja. Tak akan cukup waktu jika aku harus kembali ke rumah untuk mengambil baju renang, solusinya adalah aku terpaksa mampir ke toko baju yang terletak tak jauh dari kolam renang, tak ada baju renang untuk dewasa, sialnya di tempat anak anak pun tak ada nomor yang pas untukku, semuanya kecil. Dengan sedikit was was aku mengambil nomor yang paling besar yang ada di rak. Dan betul saja baju renang tersebut tak muat di tubuhku. Dengan bantuan instruktur renang, dia menggunting sedikit baju renang tersebut yang berada di bagian ketiak sehingga aku bisa menggerakan tanganku. Aaahhhhhh leganya.

Dari tempat berenang aku berjalan ke rumah, hari ini Cinta Cahaya mengikuti les tentang nature selama lima minggu, dan hari ini adalah hari terakhir, jadi aku bisa santai sejenak di rumah sebelum pukul 16.30 tiba. Saat merebahkan diriku di kursi, mengintip HP, kulihat ada whats app yang muncul dari seorang temanku. Aku tertawa membaca pesannya. Rasanya ringan sekali pikiranku setelah tertawa panjang.

Pedan tersebut berisi dalam bahasa sunda, tapi aku akan coba menterjemahkannya:
Seorang suami  berdoa pada Tuhan,
Ya Tuhan, aku cape sekali bekerja sampai banting tulang, hingga bermandi peluh. Begitu sampai dirumah aku menyaksikan istriku yang sedang minum teh sambil menonton TV, selonjoran. Ingin aku memberi pelajaran padanya, tolonglah aku Tuhan, rubah istriku jadi aku dan aku jadi dia.

Tuhan mendengar doa sang suami, besoknya sumi teresebut berubah jadi si istri. Begitu bangun tidur dengan tergesa dia langsung ke dapur, menyiapkan sarapan, terus membangunkan kedua anaknya untuk bersiap ke sekolah. Langsung memasukan baju baju kotor ke mesin cuci, setelah anaknya yang besar pergi sekolah, dia mengantar anaknya yang TK ke sekolah, mampir ke pasar, kembali ke rumah, mengeluarkan cucian dari mesin cuci, menjemur pakaian. Setekah beres dia langsung ke dapur memasak, kembali ke sekolah menjemput si kecil. Kembali ke rumah langsung mencuci peralatan yang kotor habis memasak, membersihkan dapur. Setelah anak yang besar datang ke rumah, mereka bertiga makan, saat makan dia ingat bahwa dia harus bayar listrik dan telepon yang sudah waktunya dibayar. Setelah makan dia langsung pergi ke bank untuk membayar tagihan tersebut.

Pulang dari bank dia terus menyetrika baju sambil nonton TV, sore hari dia memandikan anak anaknya, terus membantu mereka belajar, memeriksa PR mereka dari sekolah. Jam sembilan malam dia sudah merasa kecapean dan langsung tidur pulas.

Dua hari dia menjalani perasa sebagai istri, hingga dia tak kuat lagi dan memohon pada Tuhan: Tuhan, aku minta maaf, ternyata aku salah, selama ini aku salah sangka! Aku tak tahan menjalani peran sebagai istri, tolong maafkan aku dan kembalikan aku jadi suami seperti semula.

Tuhan menjawab: Bisa aja, tapi kamu harus menunggu sembilan bulan kedepan, karena saat ini kamu sedang hamil!

Hahahaha, disitu aku tertawa lega. Lega karena aku tidak harus sampai seperti wanita itu, walau ditengah sibuknya aku, aku masih bisa duduk manis didepan komputer untuk menulis, menelepon ibuku atau pergi ke kota seorang diri atau bersama teman untuk melihat barang yang aku mau, atau hal lainnya yang menentramkan hatiku.

Tuhan maha adil, Dia tak akan memberi beban hambanya terkecuali sesuai kemampuanya.

PS: Yayang, jangan lupa kamu bersyukur ya………………… ayo nikmati lagi lagu dari opa Herman, tanpa air mata! Seperti tersurat dalam lagu tersebut…. ini bukan sesuatu yang harus ditangisi…………

It’s your choice: Beautiful or Average!

Belum lama ini Dove mengeluarkan kampanye yang mengajak para wanita untuk meyakini bahwa dirinya ‘cantik’. Dalam survai mereka, bahwa 96% wanita tidak menggunakan kata ‘cantik’ untuk menggambarkan diri mereka.
http://www.boredpanda.com/self-esteem-social-experiment-choose-beautiful-dove/

Kampanye yang dilakukan Dove adalah bertajuk ChooseBeautiful yang menantang wanita di seluruh dunia untuk memutuskan untuk menjadi cantik dan mengevaluasi kembali citra diri mereka – menjadi lebih baik. Eksperimen tersebut dilakukan di  stasiun di Sao Paulo, Delhi, Shanghai, San Francisco dan London. Para wanita diberi pilihan sederhana untuk masuk melalui pintu “Cantik ”  atau pintu “Rata-rata”.

Nah sekarang pertanyaannya, pintu mana yang akan aku masuki jika aku diberi pilihan seperti itu? Jika secara spontan aku sepertinya aku akan masuk ke pintu rata rata. Secara aku memang sadar bahwa aku tidak berada dalam  standar kecantikan yang diciptakan manusia (tinggi, kurus, berdada alias seksoy). Tapi kok rasanya aku juga akan dengan sangat bergembira dan antusias jika memasuki pintu yang bertulisan kata cantik tersebut.

Tentu saja saat ini aku bukan gadis remaja yang mempermasalahkan tentang bentuk tubuh dan kecantikan, akan tetapi melihat video kampanye Dove ini setidaknya menyadarkan diriku sendiri bahwa setiap harinya kita dihadapakan pada ribuan pilihan, entah apapun itu,  yang pasti diantaranya kita bisa memilih untuk menyatakan atau merasa bahwa aku cantik dan bisa menjadi lebih baik.

Seperti apa yang pernah aku ceritakan disini bahwa You are beautiful, kamu hanya berada di negara yang salah, bukan berarti aku merasa istimewa karena memiliki kulit yang banyak diingini wanita disini pada umumnya. Tapi disini aku  belajar bahwa perbedaan tidak ditentukan oleh warna kulit, perbedaan ditentukan oleh hal lain salah satunya adalah apakah kita bisa menghargai orang lain atau tidak. Jika aku melihat seseorang tidak menghargai orang lain, kita bisa langsung melihat seperti apa orang tersebut. Benar seperti apa kata ibuku, menghargai seseorang tidak akan membuat dirimu menjadi kecil.

Balik lagi ke iklan Dove, mari kita nikmati sama sama video ekperimen dari Dove ini, apa yang mereka pilih?

Belajar (Tidak Cukup Hanya Dengan Marah)

IMG_20150402_200401776[1]
Catur, salah satu teman sekelasku sewaktu SMA.
Tak banyak yang aku ketahui tentang dirinya, padahal dua tahun aku sekelas dengannya. Walau dulu rumahku dijadikan markas tempat anak anak berkumpul karena tempatnya yang strategis, di jalan besar buah batu. Tapi Catur bukan termasuk yang sering nongkrong di rumahku, ya lebih banyak teman laki laki yang dulu suka nongkrong di jalan buah batu.

Tapi kini, setelah ribuan mil jauhnya antara aku dengan dirinya, aku jadi semakin mengenalnya. Ya, mengenal dirinya dari tulisan tulisannya. Jadi terkaget kaget sendiri saat mengetahui kesukaannya dan tingkah lakunya ternyata tak jauh beda dengan diriku. Juga kegemarannya akan menulis.

Hari ini kembali aku membaca tulisannya, terdiam sejenak dan kemudian mengagumi kegigihannya. Ternyata ada ketidaksamaan antara aku dan dirinya. Dia, seorang Catur begitu tabah, sabar dan gigih mengajarkan anak anak membaca, sementara aku jangankan mengajarkan anak orang lain, mengajarkan Cinta Cahaya pun aku kadang menyerah.

Saat awal anak anak masuk sekolah aku sudah berkata pada Luc, bahwa aku akan menyerahkan cara pengajaran seluruhnya pada sekolah, aku tak akan mengajarkan Cinta Cahaya membaca atau berhitung kecuali mereka yang minta, aku akan melihat seperti apa metoda yang diberikan pada anak anak di sekolah, kemudian mengcopy cara pengajaran tersebut dengan tujuan aku tak ingin membuat Cinta Cahaya menjadi bingung jika cara yang aku ajarkan tidak sama dengan yang diberikan disekolah. Karena aku pernah membaca cara mengenalkan alfabeth pada anak anak umur 4-6 tahun (kleuteur) bukan A B C D seperti untuk anak umur 7 tahun keatas tapi dengan cara mengikuti suara seberti yang dikeluarkan huruf tersebut misalnya b dibaca beu, c seu d deu begitu seterusnya.

Tapi kemarin sore aku bertemu dengan anak Indonesia, berusia empat tahun sama dengan Cinta Cahaya, dia sudah bisa membaca dengan lancar, berhitung dengan baik, dan menurut ibunya, anak tersebut belajar dibawah bimbingannya setiap hari.
Tentu aku tak akan seperti dia yang begitu telaten mengajarkan anaknya, hari itu aku mencoba mengenalkan huruf huruf pada Cinta Cahaya dengan sebelumnya membaca panduan terlebih dahulu bagaimana cara mengenalkan hurf dengan benar pada anak umur 4 tahun.
http://www.veiliglerenlezen.nl/
Hanya berhasil 10 menit, tak apa apa pikirku dalam hati lumayan.

Sambil menghibur diri, aku berkata dalam hari, tentu setiap orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anak anaknya. Jika aku seperti membiarkan Cinta Cahaya selalu bermain, karena itulah yang ingin aku lihat pada anak anakku, bergembira. Mereka sudah bersekolah dari pagi hingga pukul 3 sore, datang ke rumah, waktunya bermain dan rileks pikirku. Untuk saat ini. Tentunya nanti jika semakin bertambah usia aku harus memberikan jam belajar pada mereka. Untuk saat ini, aku hanya memberikan jam belajar setiap hari rabu saja sepulang sekolah untuk belajar iqro. Di bawah bimbinganku. Dan ternyata mereka belajar cepat.

Kembali pada Catur temanku, kami pernah berdiskusi masalah bagaimana menerapkan cara menyampaikan pelajaran matematika dasar pada anak anak. Dia yang aku tahu bukan seorang guru, tapi dia mencari metoda terbaik untuk anak anak didiknya, anak anak tetangga di lingkungan rumahnya yang datang tiap malam ke rumahnya untuk belajar padanya. Dia, mengajarkan dengan sungguh sungguh dan gigih. Dia, tak dibayar barang serupiahpun……

Katanya padaku, aku prihatin pada anak anak masa depan….dan aku ingin mereka menjadi generasi yang baik.

Yayang, banyak yang dapat kau pelajari dari dirinya. Iklas, adalah kunci utama untuk meraih segalnya. Sesulit apapun, jika kita iklas akan selalu ada jalan.

Terimakasih Catur, hari ini setelah aku membaca blogmu, aku akan lebih sabar lagi jika sedang mengajarkan Cinta Cahaya mengaji… Tak cukup hanya dengan marah, seperti katamu…. Terima kasih kawan….

23 Januari 2014

Berikut tulisan Catur; Tidak Cukup Hanya Dengan Marah

Be a ba ha u hu … hahu

Ge a ga je i ji… baji

Es euseu p e pe de a da …segala

Em e me m pe u pu en ye a i hanya di eja saja dan tidak berhasil dirangkai. Aku menghela nafas. M anak kelas empat Sekolah Dasar yang sudah empat malam ini datang ke rumahku untuk belajar matematika, ternyata belum bisa membaca. Mungkin lain tanggapanku kalau dia masih duduk di kelas satu atau kelas dua, tapi ini kelas empat ??

Tidak.. aku tidak marah ataupun kesal pada M. bukan kesalahan dia sehingga dia belum bisa membaca. Aku menebak orang dewasa di rumahnya mungkin tidak paham dengan kondisi ini. Atau kalaupun paham mereka memiliki keterbatasan dalam mengajarkan M membaca. Seperti ketika beberapa waktu yang lalu aku mengundang para ibu dari anak-anak yang belajar di rumah untuk melaporkan perkembangan anak-anak dan memberi tahu metode yang aku gunakan, mereka langsung menyerahkan pengasuhan anak-anaknya padaku. “Terserah Bundalah mau dikumahakeun, yang penting anak-anak bisa belajar. Di rumah mah tara belajar da saya na oge teu ngarti. Tepok jidat deh..

Tapi aku juga tidak menyalahkan ibu-ibu ini. Ketidakmampuan mereka memahami materi yang dipelajari anak-anaknya dikarenakan mereka hanya sedikit saja belajar di sekolah. Seperti ribuan perempuan lain di Negara ini, drop out dari Sekolah dasar dan menikah muda menjadi bagian dalam perjalanan hidup mereka.

Tapi tidak untuk M !

Bukan masa depan itu yang ingin aku lihat dari anak cantik tetanggaku ini. M generasi lebih lanjut dari kami. Dan kalau dia tetap dalam kondisi seperti sekarang, bagaimana dia menghadapi tantangan nanti?

Bicara mengenai rasa kesal, tentu saja aku masih kesal. Aku kesal pada pihak-pihak yang memiliki kompetensi lebih dibandingkan masyarakat banyak tapi tidak memanfaatkannya, aku kesal pada institusi yang diberikan wewenang untuk mendidik tetapi bisa dengan mudahnya meloloskan M setiap tahunnya untuk naik kelas padahal sudah jelas-jelas kemampuan membacanya parah sekali. Jadi nilai di raport yang dijadikan acuan seorang anak menguasai bidang pelajaran yang dia pelajari selama satu tahun di tingkatnya sehingga boleh naik ke tingkat diatasnya itu datangnya dari mana ??? pulpen yang kepeleset ???

Ketika prestise lebih penting dari prestasi. Kebohongan lebih berarti dari kebenaran, menyelundupkan anak untuk naik tingkat lebih keren dibandingkan membiarkannya tinggal kelas untuk menyatakan bahwa dia belum cukup mampu, pada saat itulah anak-anak diajarkan bahwa curang itu tidak salah!

Menyedihkan… ketika arti “belajar” tergelincir menjadi rutinitas palsu lainnya. Menyedihkan ketika anak-anak ini hanya menjadi obyek dari target pencapaian angka di atas kertas.

Tapi sudahlah…

Cukup bersedihnya, sudah cukup kesalnya. Hanya bersedih dan merasa kesal tidak akan merubah keadaan.

Jadi, maaf M, kalau aku agak galak mulai malam ini. Mari berbalik sebentar, mengenal huruf demi huruf. Tak akan kubiarkan engkau meloncat pindah ke kata berikutnya jika kata yang kau eja belum tepat. Tak akan kubiarkan pula engkau pindah ke halaman berikutnya, jika kau hanya menghapal. Kau boleh tidak suka padaku, sekarang ataupun nanti. Tapi percayalah, usaha kita sama sekali bukan buang-buang waktu.

Sebuah cerita masa lalu

IMG-20150403-WA0008[1]

Seorang wanita bernama Lay Kim Lian yang lahir di tahun 1901, empat anak lahir dari perkawinan pertamanya, dan dia harus kehilangan suami tercinta saat keempat anaknya berusia belasan. Pertemuannya dengan seorang aktifis pergerakan Tionghoa yang datang ke Surabaya dan keduanya bertemu di sebuah kota kecil di Jawa Barat yaitu Tasikmalaya sebut saja Soe mewarnai kehidupannya hingga terjadilah pernikahan kedua dan membuahkan seorang anak lelaki yang dipanggil Thay.

Lahir seorang anak adalah berkah dan kegembiraan. Apakah begitu juga dengan sang ayah? Tentu saja, tapi jalan hidup tak selamanya sesuai rencana, sang ayah yang konon mahir beladiri kungfu dan dikenal sebagai suhu harus meninggalkan keluarganya demi melanjutkan pengembaraannya.

Sudah menjadi suratan takdir si kecil tak mengenal sosok ayahnya, hanya cerita sepihak dari sang bunda yang tak selamanya dia pahami karena tak sesuai dengan sosok ayah yang dirindukannya.

Jadi seperti apa nak sosok ayahmu menurut versimu? Tentu dia seorang yang gagah berani, yang memperjuangkan kebajikan, yang selalu membela si lemah dan memperjuangkan kebenaran.

Apa yang sang ayah pikirkan saat dia pergi meninggalkan istrinya dan bayi kecilnya? Apakah dia mempunyai misi seperti sosok Khouw Ah Soe dari cerita Anak semua Bangsa karangan Pramoedya Ananta Toer?

Telah bersumpah kami menjadi pekerja yang baik bagi gerakan Angkatan Muda….. Sebab semua percuma kalau toh harus diperintah oleh Angkatan Tua yang bodoh dan korup tapi berkuasa, dan harus ikut jadi bodoh dan korup demi mempertahankan kekuasaan. Percuma Tuan, sepandai pandainya ahli yang berada dalam kekuasaan yang bodoh ikut juga jadi bodoh, Tuan. Kepercayaan itu justru kekuatan yang menggerakan kami. Kami tak pernah dijajah oleh ras lain, kami takkan rela mendapatkan pengalaman demikian. Sebaliknya kami pun tak ada impian untuk menjajah ras lain. Itu kepercayaan. Orang tua tua kami bilang: Di langit ada sorga, di bumi ada Honchou, dan kami menambahkan: di hati ada kepercayaan…….

(Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, Dari Lentera Dipantara, hal viii, cetakan 13, 2011)

Harapan si bayi kecil itu adalah dia ingin sekali mencari jejak kehidupan sang ayah di Surabaya. Pun ketika si bayi kecil itu sudah menjadi seorang kakek dan mengantarkan anak pertamanya untuk bertugas di kota Surabaya, sambil memeluk si sulung dia berkata lirih….. Semoga suatu hari nanti kamu bisa menemukan jejak kakek moyangmu di Surabaya.

Istilah Tionghoa yang berasal dari kata zhonghua dalam Bahasa Mandarin  dibuat sendiri oleh orang Tionghoa di Indonesia. Sejarah mencatat bahwa orang Tionghoa yang datang ke Surabaya adalah mereka yang bersal dari suku Hokchia, selain Surabaya mereka juga tinggal di Bandung, Cirebon dan Barjarmasin. Sedangkan orang Tionghoa yang banyak menetap di Jakarta, Medan, Makasar dan Menado adalah mereka yang berasal dari suku Kantonis.  Selain itu ada suku suku Hokkian, Hanian, Hakka yang tersebar di seluruh bumi Indonesia.

Thay kecil tumbuh dalam didikan sang bunda yang mandiri, Hidup prihatin di zaman pergolakan adalah hal yang lumrah karena semuapun  mengalaminya, tapi toh diawal tahun 50 an dia sudah dileskan bahasa Inggris oleh sang bunda dengan bayaran yang selalu terlambat karena sang bunda harus mengumpulkan uang dari berjualan abon buatannya.

Selama Orde Baru dilakukan penerapan ketentuan tentang Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia, atau yang lebih populer disebut SBKRI, yang utamanya ditujukan kepada warga negara Indonesia (WNI) etnis Tionghoa beserta keturunan-keturunannya. Walaupun ketentuan ini bersifat administratif, secara esensi penerapan SBKRI sama artinya dengan upaya yang menempatkan WNI Tionghoa pada posisi status hukum WNI yang “masih dipertanyakan”.

Di akhir tahun 60 an Thay merubah namanya menjadi lebih Indonesia sesuai dengan ketentuan adanya pelarangan bahasa Mandarin di Indonesia.  Sejak tahun 1967, warga keturunan dianggap sebagai warga negara asing di Indonesia dan kedudukannya berada di bawah warga pribumi, yang secara tidak langsung juga menghapus hak-hak asasi mereka. Kesenian barongsai secara terbuka, perayaan hari raya Imlek, dan pemakaian Bahasa Mandarin dilarang. (Baca: Cerita Tionghoa Indonesia)

Seperti banyaknya warga Tionghoa lainnya, Thay pun mendaftarkan dirinya ke fakultas kedokteran di Unpad dan diterima. Takdir mengatakan lain karena disaat yang hampir bersamaan dia pun diterima di fakultas teknik IKIP Bandung, dan dia menetapkan pilihannya di sana. Di fakutas itu dia berjumpa dengan teman hidupnya. Yang selalu dia yakini bahwa ketentuan Tuhan adalah keputusan yang paling baik.

Menikah, memboyong dan merawat ibunya untuk tinggal bersama keluarga kecilnya adalah bakti yang dia lakukan hingga sang bunda tutup usia. Santun dan jujur adalah ciri yang melekat erat dalam dirinya selain rendah hati, hampir semua orang mengenalnya mengatakan itu akan sosoknya.

Tak seorangpun tahu apakah dia masih ingin mengetahui tentang asal usulnya? Rasanya tak mungkin sama pikiran Thay  seperti yang dituturkan Pramudya Ananta Toer,

Tempat dan waktu kelahiran, orangtua, memang hanya satu kebetulan, sama sekali bukan sesuatu yang keramat….

******

Hari rabu tanggal 18 Februari 2015, pukul 9 pagi waktu Rotterdam, aku tengah asyik mengobrol dengan ayahku di telepon secara tiba tiba dia bertanya padaku….

Yayang, besok tahun baru Imlek, apa yang akan kau lakukan? Kamu mau kemana hari itu?

Aku menjawab, bahwa tak ada acara khusus di hari itu. Aku tak pernah merayakan tahun baru Cina sejak berpuluh tahun lamanya, rasanya sejak nenekku tiada, kami tak pernah merayakannya secara khusus………

Ya, Thay yang santun, rendah hati dan jujur adalah ayahku……….

PS: Selamat ulang tahun yang ke 73 ayah paling hebat sedunia, semoga selalu bahagia dan sehat sepanjang hidupmu!