Etalase

Aku adalah orang yang masih memelototi FB hingga saat ini. Masih sesekali posting foto dan kasih jempol untuk postingan yang lain yang aku anggap menarik. Seperti tulisan penuh makna berikut ini, ada di Wall nya Catur H Yulianti, salah satu perempuan inspiratif favoritku……

Tembok FB itu ibarat etalase.. tembus pandang dengan tujuan terlihat banyak orang.. jadi apa yang dipamerkan ya akan menggoda orang lain untuk melirik, melihat, menengok, menyukai atau membenci. Dan itu sepenuhnya pilihan yang melihat untuk menentukan bagaimana reaksi mereka.

Agak lucu sebenarnya .. atau mungkin sedikit sadis menurut saya, ketika orang sudah tergoda untuk bereaksi kemudian diminta untuk tutup mata atau menyingkir dengan paksa.. “pilih saja unfollow dan unfriend, tapi jangan ganggu isi etalase saya”
😄😄

Fitur ini tidak lagi jadi pilihan merdeka untuk digunakan secara sukarela. Padahal sebelumnya bisa dipakai tanpa membuat orang lain terluka.

Ah….tapi pemilik tidak pernah salah kan..? Toh ini tembok kita… suka-suka kita mau pamer apa, “abaikan saja kalau tidak suka” 😂😂

Yang salah itu .. pengaturan “privacy” kenapa juga tidak dibuat bisa menseleksi otomatis siapa yang bisa mengintip dan siapa yang hanya melihat pantulan kaca bening setiap sebuah status dibuat. kan kalau semudah itu potensi konflik tidak mencuat dan “silaturahmi” tetap terjaga 😄😄

#nikmatnyanemukambinghitam

😂😂

Dan ini adalah foto ku hari ini,
Foto apa ini? Si kaki satu? Sepatu baru merah yg cantik? Celana kulot favorite baru ku?
Ah apa pun yg ingin aku pamerkan, ini adalah etalaseku😉

#bahagia punya sepatu baru, hahaha.

Advertisements

Menyikapi Lelucon dan Kejutan

 

Tidak semua niat baik/pertolongan yang kita lakukan akan diterima baik oleh yang kita tolong. Banya contoh yang kita lihat dikehidupan sehari sehari. Begitupun jika kita memberikan kejutan yang kita anggap menyenangkan, bisa jadi tidak menyenangkan pada yang diberi kejutan. Juga jika kita memberi lelucon pada seseorang belum tentu orang tersebut suka dan tertawa malah bisa jadi murka.

Jadi harus bagaimana kita seharusnya, jika semua yang kita kira anggap akan menyenangkan ternyata tidak berakhir baik?

Untuk itu aku selalu ingat akan pesan ayahku (jika sedang eling) berbuatlah tanpa berlebihan! Mencintai, mengagumi, membuat lelucon dan lain lainnya tanpa berlebihan, alias sedang sedang saja (tetap dengan konsep lagu Vetty Vera, Yang sedang sedang saja!). Begitupun dalam menyikapi sesuatu, tak perlu berlebihan!

Aku ada beberapa contoh, saat aku membuat lelocon dan kejutan yang sama pada dua orang yang berbeda.

Lelucon

Ponakanku berulang tahun yang ke 17, seorang gadis remaja. Aku mengirimkan kartu pos bergambar foto bule bule telanjang yang sedang mengelilingi kram (warung) ikan kebeling yang berada di pantai, sepertinya foto tersebut diambil di sebuah pantai/area khusus Nudies. Semua laki laki yang membelakangi kamera tersebut telanjang bulat.

Ponakanku mengabariku via wa saat mendapat kartu pos tersebut, terimakasih Ateu! Tulisnya diiringi tiga icon terpingkal pingkal. Tak lama kemudian ibunya, yaitu kakak iparku, mengirimkan aku wa yang intinya aku keterlaluan dalam becanda, namun diiringi untunglah kartu tersebut tidak disita kantor pos, katanya. Karena bisa dikatagorikan dalam unsur pornografi. Ya ampun, masa sih!

Sahabatku aku kirim kartu dengan gambar yang sama. Dia orangnya pendiam, jarang ngomong, gak bermake up atau berpakaian macam macam, pakai hijab yang sederhana ga genjreng. Pokoknya bukan orang yang diperhatikan dalam suatu acara misalnya, tapi menurutku sekalinya dia ngomong aku selalu merasa nyaman dan terhibur, dia lucu menurutku tapi tidak kata orang orang. Nah tanggapan dia saat menerima kartu pos itu adalah jawaban singkat yang membuatku terpingkal, pingkal. Nanti kirim kartu pos yang gambarnya tampak muka! Begitu tulisnya. Hahaha.

Suatu kali saat aku mudik, aku membawa sekotak coklat yang Luc pesan secara online untuk sahabatku ini, coklat berbentuk alat kelamin laki laki (maaf). Saat dia membukanya, dia langsung menjerit kemudian ditutupnya kembali. Aku dan Luc tertawa, kemudian kami mendengar jawaban spontan dari mulutnya…. Lain kali bawalah aslinya jangan berupa coklat. Gumamnya. Saat itu dia belum menikah!

Kejutan

Suatu hari (berapa bulan yang lalu) kami (aku, Luc dan Kadek salah satu teman akrabku di Belanda, aku mempunyai dua teman yang cukup akrab sejak aku tinggal di Belanda) mengobrol tentang bahwa akulah satu satunya dari kami bertiga aku lah satu satunya yang selalu menerima buket bunga dari suami. Setidaknya aku menerima tiga atau empat kali dalam setahun. Saat ulang tahun, hari ibu, hari valentine dan hari perkawinan. Dan Luc selalu membeli bunga terbaik yang ada di toko bunga saat itu. Menyadari hal tersebut aku berseloroh pada Luc dihadapan temanku itu, mungkin ada baiknya kita mengirim bunga untukmu bertuliskan nama suamimu! Yang langsung disambut gelak tawa dan diiyahkan oleh Luc.

Hari senin kemarin, akhirnya aku dan Luc melaksanakan kejutan yang ingin kami beri pada teman baikku di Belanda. Aku memesan bunga secara online disertai kartu dengan tulisan Love, diikuti nama suami yang akan menerima buket bunga tersebut. Sengaja aku memilih jam pengiriman disesuaikan saat mereka sudah ada di rumah. Pada Kadek akuan dikirim siang hari, pada Hanny akan dikirim malam hari.

Sekitar pukul 4 sore, Kadek dengan hebohnya meneleponku, menceritakan dengan suka cita bahwa dia telah menerima bunga yang tertulis nama suaminya sebagai pengirim yang dia yakini bahwa bunga tersebut dari kami, kemudian dia mejerit jerit memanggil suaminya yang kala itu hampir terlelap tidur di kursi taman, memperlihatkan buket bunga ditangannya kemudian menciumi suaminya sambil berterima kasih kasih. Suaminya yang masih antara sadar dan tidak sadar akibat kantuk yang menyerangnya langsung terjaga, mengambil kacamatanya dan tak percaya. Dengan terbata bata dia mengatakan bahwa dia tak mengirim bunga itu, kemudian tanya tanda besar bersarang di pikirannya, dari siapa bunga tersebut? Setelah Kadek puas membuat suaminya termenung, barulah dia berkata bahwa aku dan Luc lah tersangka dari permainan ini, dan dia segera mengkonfirmasikan padaku dengan cerita heboh diatas. Sambil tertawa aku bertanya pada suami Kadek, kamu dapat menahan lelucon ini dengan baik bukan? Kami mengirim bunga untuk kalian berdua karena kami sedang berbahagia, kataku. Tentu saja mereka berdua bahagia dan berterima kasih atas bunga yang kami kirim. Echt goede grapjes, katanya.

Lain lagi cerita Hanny, dia menerima bunga tersebut pukul 9 malam. Suaminya yang membukakan pintu saat menerima dus besar berisi buket bunga. Ada paket untukmu, katanya dengan muka berseri seri. hanny membuka dus tersebut, terkaget kaget melihat isinya, lebih syok lagi saat membaca kartu bertulisan nama suaminya. Hah, dia sama sekali tak percaya bunga tersebut dari suaminya, pikirannya langsung berpikir ada seseorang yang sedang membuat lelucon. Namun suaminya dengan tersenyum dan meyakinkan dirinya bahwa dialah pengirim bunga tersebut, sekali kali membuat kejutan untuk istri tercinta boleh kan. Hanny masih tetap tak percaya, dia meminta untuk melihat transkasinya di bank rekening suaminya. Masih dengan sikap stoer sang suami meyakinkan bahwa benar benar dialah si pengirim bunga tersebut. Hanny segera mengabadikannya dan memasang status di IG (aku tak bisa lihat karena ga punya IG), finnaly setelah 10 tahun menikah bisa juga dia romantis!

Kadek melihat Ig tersebut, menghubungi Hanny dan berkata bahwa diapun mendapat bunga kejutan dari suaminya di hari yang sama, kemudian mengajak Hanny berpikir untuk menebak nebak siapakah pelakunya. kadek tak mau menyebutkan namaku. Hahaha.

Saat aku berbuka puasa pukul 10 malam, hp ku berdering. Video call dari Hanny. Aku segera menghampiri Luc, ternyata diujung sana ada dua wajah pula, Hanny dan suaminya. Mereka terpingkal pingkal sambil berkata terima kasih untuk bunga indahnya. Kami semua tertawa dan lebih terbahak setelah mengetahui bahwa suaminya ikut berperan serta untuk meyakinkan Hanny bahwa dialah pengirim sesungguhnya. Luc senang mendengar cerita mereka, grapjes verrasing yang kami lakukan dapat mereka terima dengan baik.

Kejutan lelucon yang kami buat berhasil dengan baik dan menyenangkan. Bagaimana dengan kalian adakah cerita mengenai kejutan yang berakhir bahagia atau sebaliknya?

This is life……

Aneh, terharu atau tepatnya tercengang, saat kata kata  ‘dit is het leven’ atau ‘inilah kehidupan’ diucapkan Cinta sambil memelukku.

Senin, 5 Maret aku datang ke sekolah si kembar untuk menonton pertunjukan anak anak di sekolah. Hari itu adalah cultuurdag (hari kebudayaan) di sekolah. Setiap anak mengambil peranan kecil dalam pertunjukan yang diadakan sekolah, semacam drama kolosal yang melibatkan semua anak di sekolah tersebut. Kelas si kembar hanya muncul sekitar dua menit, dua puluh enam anak yang berkostum hijau maju ke tengah lingkaran (panggung drama) saat suara angin berderu deru berkumandang. Mereka memerankan pohon pohon dan daun daun di hutan.  Kemudian duduk kembali di pinggir lingkaran saat suara angin berhenti.

Tempat duduk gerombolan kelas si kembar yang tak jauh dari tempatku menonton memudahkan diriku untuk saling melambai pada mereka.Cahaya tak terlalu memperdulikan kehadiranku, namun Cinta berkali kali mencuri pandang ke arahku.

Ada satu adegan dalam drama tersebut yang menarik perhatianku, saat kelas yang lebih kecil  (kelas satu) maju ke tengah lingkaran. Semua anak yang bertopi kertas dan memegang bendera kertas menari nari sambil sesekali membungkukan badan pada raja yang ada di hadapannya. Dari tiga kali membungkukan badan, tiga kali pula topi kertas salah satu anak  terjatuh. Si anak memungutnya kembali, menaruhnya dikepalanya, namun terjatuh lagi saat dia kembali membungkukkan badannya.

Tiba tiba airmataku meleleh menyaksikan adegan tersebut. Bukan, bukan merasa kasian pada anak yang tiga kali pula memungut topinya tapi pada pikiranku yang melanglang buana menyaksikan si anak yang berkepala plontos tersebut. Dia seorang anak perempuan….

Aku teringat pada cerita si kembar saat mereka baru beberapa minggu di sekolah baru tersebut, mereka bercerita bahwa ada seorang anak kecil perempuan yang menangis di tangga sekolah,  dia tak mempunyai rambut sama sekali. Si kembar menyapanya, bertanya apakah kamu baik baik saja? Ada yang bisa kami lakukan untukmu? Namun si anak tersebut menggeleng, yang tak lama berselang seorang guru melihatnya dan membawa anak tersebut ke kelasnya. Di kemudian hari si kembar bercerita padaku bahwa ternyata anak tersebut menderita kanker.

Saat aku melihat anak yang terjatuh topinya dan dia tidak memiliki rambut, tiba tiba saja aku menebak pasti inilah anak yang dulu diceritakan si kembar. Aku memandang dirinya, berpikir jauh betapa tabahnya dia, membayangkan orang tuanya yang harus sama sama berjuang. Dan aku tiba tiba merasa malu saat aku mendapati diriku bergumam…. untunglah dia bukan anakku. Dan air mataku meleleh antara malu dan bersyukur.

Usai pertunjukan, si kembar menghampiriku dan bertanya apakah mereka boleh bermain ke rumah temannya. Aku mengizinkan namun aku harus mencari orangtua si anak tersebut, apakah dia setuju pula. Ayah si anak yang akan dikunjungi si kembar langsung berkata setuju dan bertanya padaku jam berapa si kembar akan dijemput di rumahnya. Tiba tiba Cinta berkata, bahwa dia tidak ingin bermain ke rumah temannya dan membiarkan hanya Cahaya yang ikut mereka.

Sambil berjalan pulang, aku bertanya mengapa Cinta tiba tiba tak ingin bermain. Dia menjawab santai bahwa dia ingin berdua saja denganku di rumah. Sampai di rumah, tiba tiba Cinta berkata bahwa dia melihat air mataku saat pertunjukan barusan, dia bertanya, mengapa.

Lalu meluncurlah ceritaku bahwa aku bersedih pada anak kecil yang topinya berkali kali jatuh, dan bertanya apakah dia yang menderita kanker. Cinta mengiyakan, sekaligus menghampiriku dan berkata bahwa aku tak perlu bersedih, karena anak tersebut semakin hari semakin membaik. Kemudian Cinta memelukku sambil berkata…. tapi itulah kehidupan, ada yang sakit kanker ada yang tidak, dan aku beruntung bahwa aku tidak kanker, bunda tidak, Cahaya tidak, dan papa juga tidak. Tutur Cinta lembut. Tapi bunda, percayalah jika kamu sakit aku akan menjagamu….

Dan air mataku semakin deras mengalir………..

Karena kalian bukan biji kopi yang buruk

IMG_20180218_133924145[1]

Awalnya kami sekeluarga ingin melihat perayaan tahun baru China Di kruiskade, ternyata perayaan tersebut telah berakhir sehari yang lalu. Akhirnya kami mengelilingi centrum Rotterdam layaknya turis.

Dimulai dari Rotterdam centraal station, begitu keluar tempat parkir mata kami disuguhi jajaran spanduk berisi foto foto wajah petani Indonesia. Ternyata jepretan Sascha de Boer membuat kami terpana (yang pada akhirnya setelah sampai di rumah kami mengunjungi nespresso.com/nl/deboer dan menikmati film perjalanan Sascha di Jawa Barat mengenai perkebunan kopi dan para petani kopi disana, ada lima video).

Dari Rotterdam centraal kami berjalan ke arah Lijnbaan, melewati Beurs hingga akhirnya sampai di Markthall. Menikmati sajian ikan kibeling, sarden, calimary dan lain lainnya di kios Andalus.  Tak lupa dalam perjalan kembali ke tempat parkir si kembar mampir Di kios stropwaffel langganan. Dengan membeli remeh stropwaffel seharga 50 cent mereka berulang kali mengucapkan terima kasih padaku.

Hari minggu yang cerah (karena matahari bersinar terik) membawa kebahagian bagi kami sekeluarga dan juga pensyukuran. Sambil berjalan pulang aku berpikir mengenai tulisan dalam foto tersebut…..  Hidup layaknya seperti salah satu foto Sascha yang memperlihatkan  sekumpulan wanita Indonesia yg sedang menyortir jutaan butiran biji kopi, mereka memisahkan biji yang baik dengan yg buruk. Satu biji kopi yang buruk jika tercampur di dalam sebuah karung akan mempengaruhi semua isi karung tersebut menjadi buruk (aromanya menjadi rusak).

Yayang bersinarlah, karena kau adalah seorang ibu yang sedang berjuang membesarkan dua orang anak yang akan hidup di generasi yang akan datang yang lebih besar tantangan nya. Namun percaya lah nak, kalian akan memberi manfaat yang baik dalam kehidupan kalian dimanapun.

IMG_20180218_133501520[1]

Rotterdam coret, 18 02 2018

Semua ada ganjarannya

Let’s talk about fine!
Tadi sore kami kena denda, Luc tepatnya! Gondoknya masih terasa hingga kini.
Sebelum ke mushola, aku minta diantar ke toko daging di pusat kota. Sialnya setelah dua kali putaran, kami tak juga menemukan tempat parkir, hujan yang rintik rintik kini semakin deras hingg akhirnya Luc menyuruhku turun sendirian dan dia akan menurunkanku tepat di pintu masuk toko daging sehingga aku tak perlu basah kuyup sementara Luc bersama Cinta Cahaya akan menunggu di mobil saja.

Tak sampai lima menit aku di dalam toko daging, begitu keluar aku melihat petugas berseragam tengah mencatat mobil kami.
Tidaaaaaaaakkkkkkkkk! Seruku dalam hati. Luc kena tilang! Aku segera masuk mobil, mendapati Luc yang bermuka masam. Kena tilang Luc? Tanyaku yang langsung di iyakan. Kenapa kamu ga maju terus begitu melihat petugas datang? Ingin aku bertanya seperti itu pada Luc, tapi aku urungkan pertanyaan itu, tak ada gunanya. Dan kami menunggu dalam diam sementara petugas berseragam tersebut sibuk mencatat di sebuah alat yang mirip handphone jaman dulu yang besar. Kemudian dia memotret mobil kami. Aku yang ada di mobil melongokkan wajahku dan menempelkan dua jari dan tersenyum lebar ke arah kamera. Konyol memang, tapi aku melihat Luc terkikik melihat apa yang aku lakukan.

Kemudian sang petugas memberikan print out berupa kertas kecil serupa struk belanjaan dari supermarket. Luc menyerahkan padaku. Mataku terbelalak kaget, sekaget kagetnya. What????? 90 euro darling……..!!! Seruku.

What’s up Luc? Tolong ceritakan apa yang terjadi begitu aku keluar mobil tadi?
Begitu kamu keluar, aku menyalakan dua lampu richting, aku melihat petugas menghampiriku, bertanya mengapa berhenti? Aku menjawab, hanya berhenti sebentar saja, aku menunggu istriku beli daging. Dia tak menyuruhku maju untuk pergi, dia malah meminta SIM ku, dan kemudian kamu datang. Tak sampai lima menit darling. Dan kita menunggu lebih lama sementara dia mencatat SIM ku dan memotret mobilku daripada kamu tadi di dalam toko daging.

Batapa tak adilnya. Seruku dalam hati. Kami tadi berusaha mencari tempat parkir sampai berkeliling dua kali, sehingga Luc mengambil resiko menurunkanku di jalan. Tapi tiba tiba saja ketidak beruntungan menimpa kami.

Aku kesal, karena kami harus mengeluarkan uang yang seharusnya bisa kami tabung, teringat berkali kali ucapan Luc, yang mengingatkanku untuk tidak membeli barang yang tak terlalu penting, ucapnya berkali kali ingat kamu harus segera les mobil untuk mendapatkan SIM, dan setelah itu kami harus memikirkan mobil lain untukku.

Teringat sebulan lalu, Luc juga harus membayar denda sebanyak 250 euro akibat kelebihan kecepatan 9 dan 11 km saja dari batas yang ditentukan. Tapi waktu itu aku tak terlalu kesal begitu surat tilang datang ke rumah kami, sadar bahwa itu kesalahan kami. Tapi denda yang ini rasanya begitu mengganjal dalam hati. Tak tahu kenapa.

Sampai di mushola, dengan masih kesal aku menceritakan pada teman tentang kejadian yang baru menimpa kami, dan komentarnya sungguh membuatku prihatin juga, karena dia menceritakan juga tentang kejadian beberapa bulan lalu saat dia berkunjung ke rumah temannya, setelah berkali kali tak menemukan tempat parkir dia berteriak gembira karena melihat tempat kosong, langsung parkir, eh begitu balik lagi ke mobilnya, dia mendapatkan surat tilang. Tak tanggung tanggung 360 euro, karena dia telah parkir di tempat parkir khusus untuk orang cacat! Sungguh serunya, disitu tak ada ada tanda cross sebagaimana biasanya, dan setelah dia teliti ternyata ada plang tanda khusus untuk orang cacat, tapi karena malam hari dan terlalu gembiranya melihat tempat kosong, maka dia langsung parkir.

Masih menceritakan kejadian yang baru saja kami alami, Luc bertanya padaku mengapa aku begitu gusar? Aku berkata, entahlah. Kemudian dia menggenggam kedua tanganku sambil berkata….. Hanya perlu kamu ingat, semua ada ganjarannya. Kamu hidup di Belanda akan ada denda untuk semua yang kamu lakukan tidak semestinya. Sebelum aku menurunkanmu tadi, aku sudah tahu bahwa aku mengambil resiko, akan ada sangsi yang tidak menyenangkan, tapi aku harus menerimanya, karena itulah yang harus aku lakukan, menurunkanmu di pinggir jalan dan jika aku harus maju terus untuk berkeliling dan kemudian kembali lagi ketempatmu dimana aku meninggalkanmu, maka akan menghabiskan waktu 20 menit hingga 30 menit untuk kembali ke arahmu, sementara aku tahu kamu akan berada di toko itu tak sampai lima menit. Oleh sebab itu Yayang, kita harus menerimanya.

Aku terdiam menerima semua kata kata Luc. Bukan hanya tentang apa yang baru dikatakannya, tapi berpikir lebih jauh. Luc tahu betul bahwa semua akan ada ganjarannya, semua tindakannya sudah dia pikirkan, jika aku melakukan sesuatu yang tidak sesuai aturan maka aku akan menerima sanksi.

Dari semua itu, aku tahu banyak mengenai aturan dalam agama yang aku anut. Aku tahu banyak mengenai sanksi yang akan aku terima bila aku menyalahi aturan tersebut. Dan ternyata aku tahu banyak bahwa aku banyak melangggar aturan.

Semoga kejadian ini, benar benar menjadi pembelajaran yang berharga, mengenai suatu sebab akibat, berbuat dan akibat dari perbuatan. Benar dan salah selalu ada ganjarannya. Berbuat baik ada ganjarannya, berbuat salah ada ganjarannya. Tak perlu mengingat kebaikan yang kita lakukan karena ganjarannya bukan urusan kita, tapi keburukan yang kita tuai walau mungkin ganjarannya tidak kita rasakan sekarang tapi nanti tak mungkin dilimpahkan pada orang lain.

Rotterdam, 9-11-2013

Ibu Mertua

Setelah menikah akhirnya aku punya ibu mertua juga.
Cerita tentang ibu mertua sudah menjadi cerita yang sepertinya bagai gelombang samudra yang bisa tenang dan bergelora.
Saat aku masih berada di Indonesia, aku selalu menjadi orang yang mendengarkan cerita tentang ibu mertua ini dari beberapa teman kerjaku dulu, rasanya ada saja salah satu yang bercerita tentang tingkah polah ibu mertuanya. Hampir bisa ditarik kesimpulan walaupun mereka kadang kesal dengan ucapan ibu mertua tapi mereka semua sepertinya sayang pada ibu mertua ini. Kadang kalau sedang kesal tingkat tinggi pada si ibu mertua, aku hanya bisa menenangkan mereka sambil berkata, seharusnya kalian juga merasakan seperti apa ibu mertua terhadap kalian, mungkin saja mertua pun merasa kalian menantu menyebalkan. Yang langsung disambut huuuuuuuuuuhhhhhh panjang dari teman kerjaku, sambil menjawab, kamu belum tau rasanya punya mertua.

Oeps! Memangnya bagaimana rasanya punya mertua?

Dalam keluargaku akulah satu satunya anak perempuan diantara tiga anak laki laki. Jadi ibuku adalah ibu mertua dari tiga menantu perempuannya. Selama aku di Indonesia kedua kakakku sudah menikah jauh sebelum aku (ya aku yg terlambat menikah) rasanya tak ada keluhan dari kedua menantu ibuku ataupun dari ibuku sang mertua. Mereka semua terlihat baik baik saja.

Namun setelah aku tinggal jauh dari Indonesia, sedikit sedikit aku mendengar curhat dari ibuku tentang menantu mereka, dari curhat ibuku ternyata aku malah membela sang menantu ibuku. Hahaha. Apa sih yang dicurhatkan ibuku? Biasanya tentang rumah yang berantakan,  terlalu keras atau terlalu lemah pada cucu ibuku. Seputaran itulah. Tapi ibuku selalu tak lupa memuji mereka jika mereka berada diatas standar yang diharapkan ibuku.

Kini aku di Belanda, punya teman dekat yang mempunyai ibu mertua yang menurutku pendiam. Dan temanku selama bertahun tahun tak pernah bercerita tentang ibu mertuanya itu hingga beberapa waktu yang lalu dia berkeluh kesah juga dan menyampaikan bahwa dia iri sekali padaku yang mempunyai ibu mertua yang jauh sehingga si ibu mertua tak banyak mencampuri kehidupan rumah tanggaku.

Angela. Dia adalah mertuaku. Aku berbicara padanya satu hari setalah aku tiba di Belanda untuk tinggal permanen. Artinya beberapa bulan setelah pernikahan di Indonesia. Dia tak datang pada pernikahan kami. Konon dia hanya memberikan restunya (dan sumbangan untuk biaya resepsi) saja. Satu hari setelah datang ke Belanda, aku menerima buket bunga yang sangat cantik, sesaat setelah menerima buket itu aku meminta suamiku untuk menyambungkan telepon untuk berbicara dengan ibunya, sebagai ucapan terma kasih. Dan meneleponlah aku ke Portugal dimana ibu mertuaku tinggal. Dia mengundang kami untuk mengunjungi vilanya di Portugal. Maka sibuklah kami menyiapkan liburan kesana yang kemudian harus ditunda karena aku tiba tiba hamil dan kondisinya sangat tidak memungkinkan untuk terbang.

Pertemuan pertama dengan Angela terjadi saat aku tak sadarkan diri di rumah sakit. Dia datang dari Portugal untuk mengambil kedua anak kembar kami dari rumah sakit sebelum mereka diberikan pada foster parent karena ketidakmampuan kami untuk merawat mereka. Saat itu aku terbaring di rumah sakit, suamiku memutuskan merawatku dan menyerahkan perawatan anak anak kami pada rumah sakit dimana rumah sakit akan mencari orangtua sementara untuk Cinta dan Cahaya. Angela datang pada saat yang tepat untuk menjadi orang yang bertanggung jawab atas anak anak kami.

Untuk pertama kalinya aku bertemu dengan Angela saat aku hanya bisa sedikit berkomunikasi (saat aku sakit suaraku sempat hilang) hal yang aku katakan padanya adalah perutku gendut sekali, kataku sambil mengusap perutku yang masih gendut tapi tak ada Cinta dan Cahaya disitu. Dan Angela menjawab dengan cepat, tapi kamu masih wanita tercantik seantero dunia, sahutnya. Di ujung tempat tidur Luc tersenyum trenyuh. Baru dikemudian hari saat aku dan suamiku mengingat pertemuan pertama antara aku dan Angela, kami berdua selalu tersenyum getir. Masa masa tersulit yang pernah kami lalui.

Orangtuaku datang dari Indonesia untuk membantu merawat diriku, saat mereka kembali ke Indonesia kata kata ibuku padaku adalah, kamu beruntung punya ibu mertua yang sangat baik, ibuku berkata tentang besannya bahwa dia wanita yang luarbiasa.

Sembilan bulan kemudian kami berempat melanjutkan rencana kami untuk mengunjunginya di Portugal, jika dulu kami berencana datang berdua, kini kami datang berempat. Di saat liburan itulah aku mengerti mengapa ibuku berkata demikian tentang Angela. Ya dia super baik pada diriku. Dia menjaga Cinta dan Cahaya, membiarkan kami pergi saja berdua padahal saat ibu si kembar masih bayi umur 9 bulan. Dia mencucikan baju baju kami dan yang lebih kaget lagi dia menyetrikakan baju baju kami juga.

Setelah kedatangan kami yang pertama kami mengulanginya selalu setiap tahun, dan perlakuannya pada kami tak pernah berubah. Rumor yang aku dengar dari suamiku sendiri bahwa ibunya termasuk orang yang bisa sedikit ikut campur pada urusan rumah tangga anak anaknya tak terbukti pada diriku. Perang dingin antara Angela dan menantu satunya lagi (istri dari adiknya Luc) tak pernah bisa aku mengerti. Ibuku memberikan jawaban yang membuat hidungku mengembang, karena kamu juga baik. Hahaha. Apakah begitu?

*****

Sejak Cinta dan Cahaya berusia dua tahun mereka sudah masuk sekolah. Di tahun kedua sekolah playgroup itu Cahaya mempunyai sahabat namanya Daisy. Mereka masuk sekolah dasar yang sama saat mereka berusia empat  tahun. Daisy masuk tiga bulan lebih awal dibandingkan Cahaya karena dia berusia tiga bulan lebih tua dari Cahaya. Di Belanda anak anak akan masuk Sekolah Dasar tepat pada umur 4 tahun, kapanpun mereka berusia empat tahun maka mereka akan masuk SD. Maka tak heran murid baru bisa datang kapan saja. Persahabatan Cahaya terjalin hingga kini. Tapi tak pernah sekalipun aku melihat Daisy diantarkan oleh ibunya, selalu oleh ayahnya atau neneknya atau orang lain yang aku tau adalah masih kerabat Daisy. Aku tak pernah bertanya pada Daisy jika Daisy bermain di rumah kami tentang ibunya. Barulah setelah Cahaya bercerita bahwa ibunya Daisy kini tinggal dirumahnya setelah lama tinggal di rumah sakit, tapi dia tidak bisa berjalan, Cahaya bilang dia duduk di kursi roda yang keren yang bisa berjalan sendiri.

Mendengar cerita Cahaya aku menebak nebak apa yang terjadi dengan ibunya Daisy. Aku tak pernah melihatnya dia menjemput aatau mengantar anaknya ke sekolah. Setiap ke sekolah Daisy selalu diantar ayahnya dan pulangnya dijemput neneknya yang selalu mendorong kereta bayi kembar yang berisi dua bayi perempuan lucu. Kini bayi lucu itu sudah berusia tiga tahun dan sudah sekolah di playgroup. Cahaya bilang bayi kembar itu adalah adiknya Daisy. Mungkinkah ibunya Daisy sakit seperti diriku? Sakit karena melahirkan bayi kembar?

Aku adalah orang yang didatangi banyak dokter setelah aku sembuh, sebagian dari mereka tak percaya bahwa aku bisa sembuh hingga kini. Setiap aku datang control dokter yang menanganiku selalu menyalamiku dengan ucapan awal “hallo superwomen”, kata kata seperti itu selalu dia katakan setiap memeriksaku….hingga kini!

Sekitar satu bulan yang lalu aku melihat ibunya Daisy untuk pertama kalinya, dia datang menjemput anak anaknya didampingi suaminya, menggunakan kursi roda. Beberapa orangtua yang lainnya menyalaminya, tentunya mereka yang saling kenal. Aku baru berbicara beberapa hari setelahnya. Saat itu Cahaya diajak merayakan ulang tahun Daisy di sebuah tempat hiburan anak, hanya Cahaya saja. Saat aku menjemput Cahaya dari rumah Daisy, untuk pertama kalinya aku berbicara dangan ibunya Daisy, Chantal. Dia berkata bahwa Cahaya anak yang baik dan dia berkata bahwa di senang bisa melihat Daisy having fun bersama Cahaya.

Kemarin sore, Daisy bermain ke rumah kami. Tiba tiba saja aku teringat ucapan Cahaya bahwa Daisy pernah masuk TV. Aku bertanya padanya dalam acara apa? Daisy tak bisa menjelaskan secara detail nama acaranya, dia hanya menyebutkan ada di TV SBS6, Channel nasional Belanda. Daisy hanya menyebutkan bahwa dia memberikan kejutan untuk ibunya  dengan menanam pohon yang diberi nama Joey, Daisy, Abby dan Jessy.

Kemudian aku bertanya pada Daisy, apakah ibunya berada di rumah sakit setelah dia melahirkan Abby dan Jessy? Daisy mengangguk. Aku terdiam teringat lukaku sendiri. Kemudian aku mencari informasi di internet, aku berhasil menemukan cerita tentang mereka di koran lokal. Dan airmataku membanjir saat membaca ceritanya.

Chantal ibu dari empat orang anak perempuan berusia 7, 5 dan 3 tahun didiagnosa leukimia akut sesaat setalh melahirkan. Berada di ruang isolasi lebih dari setengah tahun, menjalani beberapa pengobatan dan kemo, setelah berkali kali berada dalam kondisi hampir dinyatakan meninggal. Berkali kali! Kasusku, aku dinyatakan dua kali dalam posisi nyaris meninggal. Tidak berkali kali seperti kasusnya ibunya Daisy.

Kini dia diperbolehkan keluar dari rumah sakit hanya untuk memberikan untuk menikmati sisa hidupnya bersama anak anaknya, sehingga dia bisa melihat anak anaknya disaat saat terakhirnya. She is dying! Suprise suprise acara yang dimotori Henny Huisman salah satu presenter terkenal di Belanda, mendokumentasikan kehidupan Chantal. Dia memberikan kursi roda baru bagi Chantal yang didekorasi oleh keempat anaknya, kemudian dia dibawa dengan menggunakan bus yang berisi keluarga terdekatnya ke sebuah tempat, diaman akan ditanam empat buah pohon yang diberi nama keempat anaknya. Tempat tersebut adalah tempat yang selalu dihabiskan oleh suami Chantal untuk membawa keempat anaknya setelah mereka menengok Chantal di rumah sakit. Di tempat itu Chantal ingin keempat anaknya mengingat dirinya.

Aku melihat film tersebut (dari uitzending gemist) dengan mata bercucuran, sama seperti Chantal yang bercucuran saat melihat suami dan keempat anaknya menanam pohon secara simbolis. Kemudian suaminya dan beberapa kerabatnya mengucapkan beberapa kata mengenai Chantal. Mijn inspiration, superwomen, sterk vrouw, dan lain lain.

Kemudian Chantal yang berkata, bahwa dia sangat berterima kasih pada seluruh keluarganya atas dukungannya hingga saat itu dan terakhir dia berkata, terima kasih pada ibu mertuaku yang telah menjada anak anakku………..

Ibu Mertua! Omanya Daisy yang selama ini mendorong kereta kembar Abby dan Jessy, yang selalu menjemput Daisy dan kakaknya dari sekolah, yang memijit bel rumah kami untuk menjemput Daisy saat dia selesai bermain di rumah kami adalah ibu mertua Chantal.

Kematian adalah milik semua mahluk hidup. Tak ada seorangpun yang tau kapan saat itu akan datang, tak dapat dibayangkan bahwa kini aku mengenal seseorang yang sedang menikmati saat saat kebersamaan bersama anak anaknya. Tiba tiba perkataan dokter setiap kami bertemu ‘hallo superwomen’ kini tak ada artinya lagi buatku, aku tak sekuat Chantal, apa yang terjadi pada diriku jika aku dinyatakan tinggal menunggu hari saja?

Tapi diatas semua itu, bukankah kita semua sama dengan Chantal….. menunggu saatnya tiba

Aku melirik pada buku friendship kepunyaan Cahaya, disitu Daisy menulis (orang dewasa di rumahnya tentunya yang menuliskannya)…. semoga persahabatan kita abadi selamanya…………

Cinta Cahaya bersama Daisy 9 juni 2015

Cinta Cahaya bersama Daisy
9 juni 2015

Diamond Ring

IMG_35504276554761

Sambil menggenggam jari manisku Cinta bertanya lirih padaku,
Bunda, apakah kamu menikah dengan papa?
Sambil tersenyum aku menjawab dan membelai kepalanya, tentu saja sayang…. Jawabku.
Tapi mengapa kau tak memakai cincin? Tanya nya kembali.

Aku teringat pada cincin kawinku, yang kulepaskan sehari sebelum melahirkan anak anakku dan hingga kini tak kukenakan lagi.
Dilepaskan atas permintaan suster yang membawaku ke ruang bersalin, dan kutitipkan saat itu juga pada Luc.
Cincin emas bermata berlian, yang disebutkan dalan janji pernikahan kami sebagai mahar dari Luc.
Diamond ring dengen cerita seru sebelumnya, dua kali dibawa kembali ke Belanda karena terlalu longgar di jariku, sedangkan Luc benar benar ingin cincin yang perfect dan pas di jari manisku. Cincin yang menjadi cerita tak menyenangkan saat datang yang kedua kalinya di bandara Soekarno Hatta, karena Luc harus berurusan dengan pihak imigrasi di bandara karena membawa cincin tersebut. Kata pihak imigrasi Luc harus membayar pajak barang mewah, dan Luc tak begitu saja mau menerima apa yang disampaikan petugas imigrasi, alasan Luc bagaimana mungkin dia harus membayar pajak untuk kedua kalinya untuk barang yang sama? Mengherankan sekali harus membayar pajak sedangkan di Belanda dia juga sudah membayar pajak saat membeli cincin tersebut, dan cincin itu akan kembali dibawa ke Belanda karena akan berada di jari manisku.

Tapi sudahlah, cerita tertahannya Luc satu jam lamanya di bandara menjadi cerita yang mengasyikan saat kami mengingatnya kembali, pengalaman seru!

Pertanyaan Cinta akan cincin perkawinanku, mengingatkan aku pada cerita yang pernah aku baca saat aku kecil dulu, melekat erat dalam ingatanku. Cerita pendek dalam majalah Gadis di kolom Percikan yang aku baca saat aku masih duduk di bangku SMP, tak tau siapa pengarangnya tapi yang aku ingat cerita tersebut merupakan terjemahan dari sebuah cerita asing.

Dan inilah kira kira yang aku ingat ceritanya……… disertai hayalan dan pengurangan atau tambahan dalam imajinasiku……..

Laki laki muda itu masuk ke dalam toko perhiasan dimana aku tengah bertugas.
Nampak ragu ragu dan sedikit tak percaya diri.
Aku menyapanya, mempersilahkan masuk, dan bertanya dengan sapaan seramah mungkin. Ada yang bisa saya bantu, mas….
Pemuda itu tersenyum membalas senyumanku dan berkata lirih, aku ingin membeli cincin berlian yang ada di etalase depan sana. Katanya sambil menunjuk ke arah depan toko kami, dimana barang barang istimewa terpajang, sehinggga orang yang lalu lalang di depan toko kami bisa dengan mudah melirik barang pajangan yang bereda di etalase depan.
Aku beranjak menghampirinya, memeriksa cincin berlian yang dia maksud. Agak ragu ragu juga aku mengeluarkan cincin tersebut dalam etalase dan menunjukannya pada pemuda tersebut.
Dengan sumringan dia memandang takjub pada cincin yang aku sodorkan kepadanya. Binar berlian yang terpancar seolah ikut menyilaukan matanya, beberapa kali aku memergoki matanya yang terbelalak bahagia.
Aku ingin membeli cincin tersebut, ucapnya mantap.

Aku memeriksa harga yang tertera pada cincin tersebut, sedikit ragu ragu untuk mengucapkan harganya pada pemuda yang tengah berbahagia.
Hhmmmm, cincin ini memang yang paling indah yang ada pada toko kami, dan tentunya harganya juga ‘indah’. Kataku disertai kata pembuka untuk menyebutkan jumlah yang fantastis untuk cincin tersebut.
Sekonyong konyong, pemuda tersebut menyambar perkataanku dengan cepat.
Aku tahu harganya, aku sudah tahu dari beberapa bulan sebelumnya, aku sudah mengincarnya hampir tujuh bulan lamanya, aku setengah mati ketakutan, takut cincin tersebut sudah dibeli orang sebelum aku sanggup membelinya. Kini aku sudah mempunyai uang yang cukup untuk membeli cincin berlian tersebut, dari uang seluruh tabunganku ditambah kerja tambahan selama beberapa bulan terakhir untuk segera dapat membeli cincin itu.

Aku memandang pemuda tersebut, menyimak paras wajahnya yang biasa saja, dia bukan pemuda tampan, tak ada tampang keren atau dandanan necis dalam tubuhnya, tapi aku melihat paras wajahnya yang lembut, sejuk dan lugu. Tingkah lakunya yang sopan dan sangat antusias akan penceritaan perjuangan untuk membeli cincin itu sangat menarik perhatianku.

Tanyaku, tanpa bermaksud mengorek pada siapa cincin tersebut akan diberikan telah menoreh alam pikiranku untuk berpikir menebaknya.

Tentu akan sangat beruntung dan berbahagia sekali siapapun yang akan memakai cincin ini kelak, jika tahu begitu gigihnya anda untuk mendapatkan cincin ini. Kataku ikut berbahagia.

Yeaahh, aku bermaksud melamar kekasihku setelah berhasil membeli cincin ini. Katanya dengan muka yang langsung berubah merah.

Oohhh, seruku ikut merasakan kegembiraan yang ada dalam diri pemuda itu, selamat mas… Lanjutku. Tentunya dia seorang gadis yang sangat istimewa, sungguh aku ikut berbahagia untuk anda.

Yeah, dia gadis yang sangat cantik dan aku sangat mencintainya, aku ingin selalu membahagiakannya, dan aku tahu cincin ini akan semakin cantik di jari manisnya. Ucapnya menggebu gebu.

Tak terasa keharuan segera menjalar dalam diriku, sambil mengemas cincin tersebut aku ikut mendoakan semoga pernikahan mereka langgeng. Kubayangkan gadis cantik kekasih si pemuda tentunya gadis yang ramah dan lugu seperti pemuda tersebut.

Dan cerita pemuda yang datang ke toko kami hampir saja aku lupakan, jika tak ada kejadian hari ini.  Hari ini, dengan udara sejuk di musim semi, aku membuka toko di pagi hari yang tak berapa lama seorang perempuan cantik yang menor memasuki toko kami. Dandanannya begitu menggoda, dengan sepatu lars tinggi dia berjalan dengan lincah, bak pragawati di atas catwalk. Wangi parfum langsung tercium saat dia mendekatiku, bibirnya yang bergincu merah tersenyum genit ke arahku.

Aku ingin menjual sesuatu di tokomu. Ucapnya dengan suara yang dibuat seseksi mungkin.

Boleh aku liat. Pintaku ramah.
Dia menyodorkan kotak cincin yang rasanya aku kenal. Aku segera membukanya. Dan tiba tiba kepalaku pening, perutku mual, rasanya aku ingin muntah saat itu juga. Masih kudengar sayup sayup suaranya yang diiringi tawanya yang cekikikan.
Cincin ini hadiah dari seorang pemuda bodoh, haahhh pemuda yang begitu gila mencintaiku, dan dengan cincin ini dia melamarku….. hahahahaha. Ah pemuda bodoh yang malang, tapi aku tak kuasa menolak hadiahnya, bukankah akan membuat hatinya semakin sakit jika menolak pemberiannya, bukan? Jadi kuterima saja cincin yang indah in tapi kutolak lamarannya. Itu yang terbaik bukan? Tanyanya meminta pembenaran pada diriku.
Dan lanjutnya,
Aku senang saja menerima hadiahnya, aku toch bisa menjualnya dan mendapatkan cincin lain dari lelaki lain hahahaha.

Sempoyongan aku menggenggang cincin itu dengan erat, membayangkan pemuda lugu tersebut saat datang ke toko kami sebulan yang lalu dengan muka sumringah penuh kebahagian.

Tidak! Tidak pantas, seruku berkali kali dalam hati dengan amarah yang tak dapat aku perlihatkan di depan tamu di toko kami di musim semi yang berubah panas.

PS. Menghitung mundur, memperingati hari perkawinan kami yang beberapa hari lagi.