Make Up

IMG_20171006_140511159[1]Menurutku bermake up seperti kebiasaan yang diturunkan dari para leluhur. Ibuku tidak bermake up. Selama karirnya bermake up hanya lipstik tipis dan bedak saja. Menambahkan pelembab adalah ajaran dariku saat aku beranjak dewasa, anjuranku memakai alas bedak ditolaknya mentah mentah, seperti topeng katanya dan kulit muka jadi panas susah bernafas alasannya.

Saat aku TK aku sudah ingin dirias rias dan memakai lipstik, bagiku memakai baju ala cenderella adalah impian sejak kecil. Beberapa kali merengek minta dibelikan baju ala princess, namun ibuku selalu menolaknya. Alasannya, baju ala ala cinderella gitu bahannya kasar, harganya mahal, warnanya norak, biasanya dipakai anak anak kampung yang kayak raya yang sawahnya hektaran. Begitu kata ibuku. Juga saat aku minta pake lipstik. Stthhhh, anak anak pakai lipstik itu kampungan tau!

Sementara aku mendamba baju rok cenderlla seperti yang dipakai anak anak di kampungku dulu, ibuku malah membelikanku celana pendek dan panjang (lebih seringnya celana pendek lungsuran kakak kakakku yang semua lelaki). Setiap rambutku ingin dipanjangkan, ibuku selalu membabadnya, rambut pendek lebih praktis dan sehat begitu alasannya. Dan untunglah rambutku tak pernah sependek rambutnya. Gaya cukuran rambut ibuku adalah model rambut lelaki.

Walaupun saat dewasa aku tak setomboy ibuku, ternyata caraku bermake up hampir sama dengannya, sederhana. Kebiasaaan ini terus melekat hingga kini, namun begitu aku memiliki banyak lipstik, ada beberapa alat alat make up yang sengaja aku beli untuk berjaga jaga jika aku ingin bermake up.

Sejak CC berusia dua tahun, ibuku sering membelikan baju baju lebar, berbahan ‘ gatal’  dan lembut untuk cucunya. Koleksi baju cinderella CC sangat banyak ragamnya hingga usia mereka sebesar ini. Suatu hari aku menegurnya karena ibuku baru saja membelikan si kembar baju princess namun hari berikutnya saat mereka ke pertokoaan si kembar dibelikan lagi baju baru. Ibuku berkata sambil menahan air matanya, dia berkata padaku bahwa dia merasa bersalah padaku karena saat aku kecil aku tak pernah dibelikan baju rok bahkan saat aku memintanya sekalipun. Dan saat CC berada dipertokoan menunjuk baju cinderella, ibuku tak kuasa menahan gejolak hatinya sendiri karena teringat padaku saat kecil.

Aneh rasanya saat ibuku meminta maaf atas sikapnya dulu pada diriku saat kecil, aku tak pernah menyangka bahwa ibuku merasa bersalah, padahal bagiku sikap ibuku dulu wajar saja. Aku meminta sesuatu dan ditolak adalah hal yang wajar dan lumrah. Tapi itulah ibuku yang selalu berkali kali meminta maaf pada kami anak anaknya, terutama setelah kami semua menikah.

Kemarin aku memutuskan mengabulkan permintaan CC untuk membeli make up ‘mainan’. Kado bon yang mereka punya saat mereka berulang tahun belum juga mereka belanjakan. Empat kartu seharga masing masing 10 euro sepakat mereka gabung dan menukarkannya dengan seperangkat make up idaman mereka. Dan mereka berteriak kegirangan saat aku mengiyakannya.

Ijinku untuk mereka bukan karena untuk tidak merasa bersalah dikemudian hari, namun karena akupun ingin belajar make up bersama si kembar……… Hahaha!

Advertisements

Jarang (tidak pernah) Melihat ke Bawah

Judul di atas dalam arti yang sebenarnya.

Sebagai orang pendek, aku memang jarang sekali melihat ke bawah. Selalu ke atas. Karena lawan bicara yang aku hadapi tentu saja jauh lebih tinggi. Selalu mengenggak ke atas, bukan sombong….. tapi keadaan lah yang mengharuskan seperti itu.

Pertumbuhan yang terhambat dimuali saat usiaku 11 tahun, kelas 5 SD. Sejak itu aku tidak lagi tumbuh tinggi, hingga saat ini. Masuk SMP, orang orang mulai mengenal diriku yang mungil. Tapi aku tidak dijuluki Yayang leutik (kecil dalam bahasa Sunda) tapi malah dikenal dengan Yayang petet. Diambil dari nama Didi Petet yang saat itu mulai terkenal. Karena mataku yang sipit.

Aku tentu saja menyadari diriku kecil dan pendek. Tapi aku tidak punya masalah rendah diri karena diriku yang pendek, biasa saja. Pernah berhayal ingin tinggi dan aku utarakan pada ibuku. Pertanyaanku sederhana. kenapa aku sendiri yang pendek di rumah? Ibu dan ayah normal. Kakakku malah lebih tinggi dari rata rata laki laki saat itu di jamannya. Dan jawaban ibuku sedikit konyol, namun melegakanku… Untung kamu yang pendek, bukan kakak kakakmu atau adikmu. lebih enak dipandang mata anak wanita yang kecil. Yang penting hati dan jiwamu yang besar. Ya, aku satu satunya anak perempuan dari empat bersaudara yang semuanya lelaki, dan kadang orang tak percaya bahwa aku adik dari si A atau B. Hah? Tapi mereka tinggi tinggi! Terus kenapa klo tinggi? Tanyaku selalu.

Walau begitu aku bukan seseorang yang terlampau percaya diri, biasa saja, malah cenderung pemalu, namun bukan karena pendek. Ini sudah bawaan saja.

Walau menyadari bahwa diriku kecil, tapi aku tak pernah menyadari seberapa kecil aku dilihat dimata orang lain. Pikirku aku tak kecil kecil amat, hingga suatu hari….

Kala itu aku berada di sebuah lift di kota Tokyo, masuk seorang wanita tua  yang menurutku ajaib banget bisa sependek itu. Wanita tersebut menyapa kami yang langsung dijawab temanku sambil menganggukkan kepala dan akupun ikut ikutan mengangguk. Kemudian aku begitu terkejut sejadi jadinya saat si wanita tua kecil itu berdiri berdampingan denganku dan bayangan kami berdua memantul dari kaca besar yang ada di dalam lift.   Aku lebih pendek dari si nenek itu! Nenek yang aku anggap ajaib bisa sependek itu!

Keluar dari lift aku segera menceritakan ke’syok’kanku tersebut pada temanku. Dia hanya tersenyum saja, sambil berkata sambil berkata aku sudah terbiasa melihat kamu sependek itu, katanya.

Kini aku terbiasa, jika teman teman yang bule, saat berfoto denganku tiba tiba mereka membungkuk atau ada yang berjongkok, mereka selalu menyamakan wajahnya sejajar denganku jika berfoto, kebiasaan tersebut tidak pernah aku dapatkan jika berfoto dengan teman teman Indonesia mereka biasa saja berdiri tidak pernah berusaha menyamakan wajahnya sejajar dengan wajahku, jadi kepalaku selalu berada dibawah mereka.

Kemaren sore, seseorang berdiri di depan pintu rumah. Saat berkata menceritakan kedatangannya (pengumpul koin untuk sumbangan tertentu, sambil membawa kaleng) dia membungkukan badannya berusaha menyawakan wajahnya sejajar dengan mukaku, aku tersenyum takjub melihat usahanya yang tak mudah. Tentu saja membungkuk berusaha mendapatkan posisi yang sejajar bagi wanita Belanda yang terkenal setinggi lemari adalah hal yang tak mudah! Aku tersenyum melihat usahanya, dan sadar betapa istimewanya diriku!

 

PS. Yayang yang selalu mengaku TB: 145 cm, padahal faktanya 144,5 cm. Semoga nanti nanti tidak berbohong setengah centi!

Tak selalu sama

13906926_10209154520356646_7247533151526540772_n

Seperti halnya Ashton dan Michael, kembar tak selamanya serupa. Mereka adalah jiwa jiwa yg berbeda, bukan kesamaan yg menjadikan mereka istimewa tapi karena perbedaan itu.

Dear Cinta and Cahaya, be yourself! I am proud of you guys!

Sebagai seorang ibu aku tak selamanya memanggil nama Cinta dan Cahaya dengan benar. Kadang masih salah juga apalagi kalau mereka baru bangun pagi, mirip sekali. Jika aku melakukan kesalahan itu di depan kenalan, mereka selalu tertawa gembira sambil menggodaku, tuh kan ibunya aja salah sebut!

Setelah perkiraan dokter terbukti benar bahwa mereka adalah kembar identik, hal tersebut dikuatkan oleh tes DNA yang dilakukan oleh Universitas Tweente Amsterdam terhadap si kembar termasuk kami orang tuanya. Hasil tes tersebut menyebutkan bahwa 99% mereka adalah kembar identik.

Copot gigi termasuk urutan copotnya di hari yang sama hanya beda jam saja, sampai gurunya terpana saat membungkus gigi yang tanggal si kembar untuk diserahkan padaku. Ajaib bisa bersamaan, seru bu guru padaku. Jangan tanya kalalu mereka ingin ke belakang, satu kebelakang maka akan disusul yang satunya ngantri di depan pintu WC.

Itu hanya persamaan fisik saja. Namun karakter dan kebiasan mereka tentu saja berbeda. Selera makan dan berpakaian juga berbeda.

Dan kemarin siang, biasanya keranjang pakaian mereka yang telah aku lipat / setrika akan aku letakan begitu saja  di kamar mereka, tugas memasukan ke lemari (kini ke laci karena saat ini mereka belum punya lemari pakaian) adalah tugas mereka namun hari itu aku membuka laci tempat pakaian mereka, melihat isi laci yang berbeda cara penyimpanannya aku langsung bisa menebak kepunyaan siapa laci yang kiri dan kepunyaan siapa laci yang kanan.

IMG_20170908_102425740[1]

Hahaha tentu saja laci yang satu rapih sedangkan lacinya yang lainnya ‘berantakan’! Tak bisa kuberitahukan pada publik laci siapa yang rapi, kami bertiga hanya tertawa saat aku memperlihatkan laci berantakan pada si empunya. Sambil menggoda aku berkata pada si tersangka, aku tak akan membandingkan dengan laci yang disebalahnya, aku hanya menunjukan kamu harus membereskannya dan membuktikan bahwa lacimu bisa serapih atau lebih rapih dari laci sebelah.

Tentu saja langsung diprotes oleh si tersangka dengan cerdas…. Bunda itu sama saja dengan membandingkan, sedangkan dirimu selalu berkata tak akan pernah membandingkan kami berdua, karena kami berdua sama istimewanya!

Hahaha, dasar bocah!

Terbang berdua (lagi)

IMG_20170713_130000804[1]

Ya ini untuk kali kedua si kembar terbang berdua lagi tanpa kami, hanya berselang kurang dari tiga bulan dari penerbangan perdana berdua mereka. Tiket pesawat langsung dibooking sehari setelah mereka mendarat di Rotterdam di penerbangan berdua yang pertama. Yang langsung disambut sumringah begitu kami memberitahukan bahwa mereka akan kembali ke Portugal berdua saja di liburan musim panas nanti (yang sudah lewat).

Jika penerbangan  berdua si kembar yang pertama adalah liburan untuk aku dan suami juga (begitu si kembar terbang ke Portugal, aku dan Luc pun ngacir ke negara tetangga 🙂 ) tapi tidak untuk kali ini. Luc seperti biasa bekerja dan aku sibuk packing barang barang yang tidak sering dipakai untuk dibawa ke rumah baru. Jadi begitu terasa bahwa aku kangen si kembar untuk liburan mereka yang kedua ini.

Persiapan yang kedua lebih santai, aku tak perlu lagi brousing artikel artikel untuk mempersiapkan si kembar terbang sendiri, tanggung jawab isi koper pun diserahkan langsung pada si kembar, sehari sebelum berangkat aku hanya menanyakan daftar yang aku buat apakah semuanya sudah ada di koper dan langsung dijawab mantap semua beres oleh si kembar, aku tak perlu membuka dan mengeceknya lagi.

Selama sebelas hari di rumah oma di Algarve Portugal adalah liburan yang menyenangkan bagi si kembar, mereka beberapa kali meneleponku di malam hari untuk menceritakan hari yang dilalui dengan penuh semangat, aku turut bahagia mendengar cerita ceria mereka. Tentu ada rindu di hati yang tak semua orang bisa tahu. Hingga tibalah seorang teman yang bertanya padaku secara serius tentang keputusanku mengirim si kembar naik pesawat terbang tanpa kami orang tuanya.

Bagaimana perasaanmu? Kenapa bisa setega itu? Mereka masih tujuh tahun!

Baiklah, aku menjelaskan secara singkat pada seorang teman yang melontarkan pertanyaan seperti itu. Jawabanku, tentu saja perasaanku was was melepaskan mereka berdua, tapi mereka dibekali ilmu, tanggung jawab dan keberanian untuk menjaga dirinya sendiri. Tentu saja ada rasa khawatir, tapi aku harus mengikisnya dengan mempercayakan pada sistem yang akan membawa mereka berdua. Aku telah berkali kali mengecek kelengkapan surat mereka, memastikan bahwa aku telah mengikuti prosedur dengan benar termasuk mental kesiapan (kemandirian) si kembar dan mereka paham apa yang harus dilakukan jika sesuatu terjadi diluar rencana.

Bagiku melepas mereka kesekolahpun selalu diiringi jampe jampe seorang ibu. Maka aku begitu terharu  saat seorang sahabat berbisik padaku…. Bukan hanya si kembar saja yang hebat tapi terlebih kalian orang tuanya terutama kamu ibunya yang telah percaya si kembar mampu menjalankanya…. bukankah dengan memberikan kepercayaan semuanya akan baik baik saja?

Jika penerbangan sebelumnya mereka bercerita bahwa uang jajan untuk membeli fanta atau ice tea yang aku bekali dari rumah kurang hingga penumpang disebelahnya harus nombokin kini ceita mereka dipesawat masih tentang uang jajan yang kurang, Cahaya bercerita bahwa Cinta membeli hingga dua kali roti sandwich hingga Cahaya harus menambah kekurangan uangnya, dan aku sekarang tak punya uang di dompetku gara gara Cinta! Hhhmmmm aku benar benar ingin cepat cepat berumur 15 tahun agar bisa seperti Irish bisa kerja di supermarket! Ujar Cahaya.

Oh ya mereka juga kembali tanpa menyeret koper, karena koper yang mereka bawa hilang dan tidak bersama mereka saat mereka mendarat. Dan baru bisa datang dua hari kemudian. Aha!

 

Rindu Rumah (Overschie)

Baru kemarin malam aku bisa tidur super nyenyak sejak lima hari yang lalu aku menempati rumah baru. Semuanya tiba tiba! Tiba tiba saja Luc berkata tanpa memandangku, tatapannya masih tetap pada layar komputer dihadapannya.

Yayang, kita pindah esok hari. Katanya tenang. Dan aku benar benar terperanjat. Hanya tidur disana selama weekend kan? Senin balik lagi kesini kan? Tanyaku. Tapi penjelasan Luc tidak menyiratkan bahwa kami hanya menginap sementara di rumah baru, tapi untuk selamanya.

Maka pagi itu di hari jumat tanggal 25 Agustus 2017, Luc membereskan peralatan komputernya semuanya di packing termasuk kabel kabel menyebalkan yang tidak aku suka. Tiga monitor super gaban adalah harta tak terhingga bagi dia, belasan hardisc hitam mirip kaset video jaman kuda gigit jari adalah perhiasan Luc. Tentu saja TV juga harus ikut serta karena tanpanya, dia tak dapat menyambungkan komputernya ke TV dimana dia bisa menonton film hiburannya.

Kemudian yang dilakukannya adalah memastikan orang orang yang dapat membantunya esok hari, laki laki dewasa berbadan kekar setelah itu barulah dia menghubungi perusahaan penyewaan mobil untuk menyewa bus khusus.

Dan sambil tersenyum riang Luc berkata lirih padaku, Yayang kita secara official per hari ini telah berganti alamat. Olala ternyata sebelum komputer dimatikan Luc masih sempat mendaftarkan nama kami di gementee baru secara online.

Anak anak bergembira saat aku memberitahukan pada mereka bahwa hari ini kami semua akan tidur di rumah baru, kamar mereka telah jadi sejak beberapa minggu yang lalu, semuanya telah terpasang rapih, tempat tidur, meja belajar dan sebagian mainannya. Sementara aku dan Luc tidur seadanya, di atas matras yang digelar di kamar tamu beserta kotak kotas dus yang telah menghuni kamar tamu ini sejak bulan juli. Kutulisi setiap dus tersebut dengan spidol kecil saja, takut terbaca oleh Luc karena dus pindahan tersebut hanya bertulisan SEPATU! Luc hanya mempunyai dua pasang sepatu saja, jika secara kebetulan dia melihat tumpukan dus sepatu dia selalu menggeleng gelengkan kepala sambil berkata lirih….. Imelda Marcos! Tentu saja ditujukan padaku. Hmmmm saat menyebutkan nama tersebut aku selalu teringat ayahku, karena beliau juga menggeleng gelengkan kepala saat melihat lemari khusus sepatu kepunyaan ibuku sambil menyebut ibuku mirip Imelda Marcos karena sepatu sepatunya yang selalu dijawab ibuku secar telak pada ayahku…. untunglah ayah bukan Marcos. Hahaha.

Dan keesokan harinya tanggal 26 agustus hari bersejarah pun tiba, Luc datang dengan mobil besar pada pukul 10 pagi tak lama kemudian dua rombongan mobil lainnya datang, teman temanku! Satu keluarga dari Venlo! Mereka dalah keluargaku di Belanda.

Sofa diturunkan melalui balkon, dikerek pakai tali. Ya mirip mirip adegan film film barat lah 🙂 untunglah ga ada adegan komedinya. Semuanya lancar. Kloter pertama hanya berisi sofa saja, kloter kedua berisi mesin cuci, pengering, tempat tidur kami yang menurut para bapak sangat menakjubkan beratnya.

Rasanya aku merasa keren sendiri saat melihat Luc mengendalikan bus yang menurutku super besar, tapi hanya sekejap karena aku tertawa terbahak saat aku melihat tetangga sebelahku datang dengan truk kontainer mini (20 feet mungkin), saat itu juga bus yang dikendarai Luc jadi mirip bus liliput, hahaha. Sorry darling tapi rumput tetangga selalu lebih hijau bukan? Kami sedikit bercengkrama tetangga baruku tak menyangka bahwa kami pindah di hari yang sama, karena kami selalu menyebutkan bahwa kami akan pindah pada bulan oktober setelah dapur kami terpasang. Ya kami menempati rumah baru saat ini tanpa dapur!

Empat malam pertama aku tak bisa tidur, berkali kali terbangun di malam hari. Merasa bukan tidur di rumah, tapi seperti di vakantie huis (rumah liburan). Pagi hari, matahari muncul dengan indahnya, sinarnya oranye diantara langit yang putih abu abu, udara segar bercampur bau sapi. Ya kini aku berada di kampung. Ku tinggalkan Rotterdam kota cantik favoritku. Berjuta kenangan ada disana, rumah Overschie! Sebutan untuk rumah lamaku. Yang kini statusnya belum di daftarkan pada makelar, kami sepakat menjualnya tidak disewakan seperti saran financial adviser kami. Ada rasa sesak saat ini, rencana untuk pindah ke rumah baru telah ada sejak dua tahun yang lalu, saat proses pembelian rumah baru dilakukan, namun kini aku merasakan sesak saat harus meninggalkan rumah, aku kira aku masih bisa tidur di rumah lama sesekali, namun sejak komputer ikut dipindahkan Luc selalu menolak saat aku mengajak menginap di rumah lama, termasuk hari ini, aku sedikit merengek ingin tidur disana. Luc hanya tertawa menanggapi rengekanku.

Hari ini aku rindu rumah Overchie! Rindu tukang daging kesayanganku, taman tempat aku piknik bersama si kembar, rindu supermarket Plus. Tempat latihan senam si kembar, tempat menari si kembar oh ya tanggal 9 september nanti mereka masih ada pertunjukan.

Dan untuk mengobati rinduku, aku hanya bisa melihat videonya.

Jadian

Bukan, bukan menceritakan kapan pertama kali aku jadian dengan suami atau jadian dengan para mantan atau (hanya mantan) karena hanya satu itu, tapi menceritakan jadiannya versi si kembar.

Tepat umur 4 tahun si kembar masuk SD groep satu atau kalau di Indonesia TK nol kecil, setelah dua tahun sebelumnya mereka masuk pra sekolah atau disini disebut peuterspeelzaal (usia 2-4 tahun). Di sekolah si kembar groep satu dan dua disatukan kelasnya mereka belajar bersama sama, begitu tahun baru ajaran maka sebagian murid yang telah cukup umur dan siap (mereka yang dikatagorikan groep dua) akan naik kelas ke groep tiga dimana sekolah yang sesungguhnya akan dimulai.

Tak berapa lama setelah si kembar masuk SD, ada beberapa orangtua murid yang datang padaku dan menceritakan bahwa anaknya jatuh cinta pada Cahaya atau Cinta, si kembar saat itu tidak sekelas. Kami mengobrol sambil tertawa tawa, menceritakan kelakauan anak anak bau kencur tersebut. Di akhir groep satu tiba tiba Cinta bercerita bahwa dia akan bersedih karena Hidde salah satu temannya akan masuk groep tiga, itu artinya akan keluar dari kelasnya. Ik ben verliefd! Hah? Jatuh cinta?!!!!!

Cerita Hidde memudar dengan beriringnya waktu, awal berpisah konon Cinta masih berusaha saat istirahat untuk mencari Hidde ke area bermain groep tiga, ingin bermain bersama lagi seperti dulu tapi katanya tidak berhasil, sang arjuna sibuk bermain dengan gerombolan anak laki laki lainnya main bola, bukan main pasir atau main boneka lagi.

Hidde adalah cerita fenomenal Cinta sekitar tiga tahun lalu, kemudian tak terdengar lagi Cinta jatuh cinta lagi, hingga bulan february tahun ini, aku mendengar cerita mendebarkan tentang ‘kisah asamara’ Cinta kembali.

Kala itu Cinta memegang gulungan kertas warna merah berpita, diacungkan padaku. Ini dari Rafael, Bunda! Kami sama sama membuka gulungan kertas tersebut, dan sama sama terkejut saat membaca nama yang tertera disitu, bukan dari Rafael namun dari Saffa, teman sekelas Cinta yang jarang diceritakan Cinta. Dengan merenggut kecewa, Cinta menghempaskan kertas tersebut. Lalu mengertilah aku, dalam rangka valentine day si ibu guru di kelas membuat tema valentine, anak anak dibagikan kertas merah cantik yang boleh digambar atau ditulisi sesukanya pokoknya dibuat cantik, setelah selesai kertas tersebut disimpan secara sembunyi sembunyi di laci meja anak anak yang dituju, boleh juga dilaci sendiri jika tertas merah itu ditujukan untuk orangtua atau saudara di rumah, jadi nanti bisa dibawa pulang. Si bu guru memastikan si anak akan mendapat kertas merah tersebut, jika anak yang tidak mendapat kertas merah dilacinya si bu gurulah yang akan membuat surat cinta tersebut untuk si anak, tentu saja hasil karya bu guru lebih dinilai special oleh anak anak.

Cahaya mendapat dua kertas merah, dari sahabatnya dan dari anak cowok yang sejak pertama mereka sekelas di groep tiga sudah dikenal sebagai anak yang memuja Cahaya secara nyata. Menurut Cahaya dan cerita beberapa temannya, Cahaya sering dikejar kejar olehnya kemudian diciumi pipinya. Hal yang terakhir itu sempat membuat Luc naik darah, bahkan ada satu kejadian (yang tidak bisa saya ceritakan disini) membuat Luc harus menulis surat pada kepala sekolah, yang kemudian kami didudukan bersama orangtua si anak tersebut. Orang tua anak tersebut sampai meminta maaf pada kami dan memastikan tidak akan ada peristiwa itu lagi pada Cahaya.

Diluar kejadian tersebut, aku dan Luc sangat menyukai Delencio anak yang menyukai Cahaya tersebut, anaknya lucu dan super ramah, spontan dan antusias. Beberapa hari sebelum liburan musim panas ini, Delencio menangis dan memeluk Cahaya karena akan berpisah dengan Cahaya. Si kembar mulai tahun ajaran depan akan pindah sekolah! (Ssssstttthhhh karena kami akan pindah rumah).

Jiga disinggung tentang Delencio, Cahaya selalu cemberut katanya dia sama sekali tidak nyaman karena hampir semua anak di sekolah tau bahwa Delencio menyukainya, kadang mereka mengejeknya dengan cara menyanyikan guyonan bahwa mereka sepasang kekasih. Cahaya memastikan padaku bahwa dia tak mau menikah dengan Delencio jika dewasa nanti, alasannya karena dia makannya cepat. Anak lain belum selesai makan dia sudah habis dalam hitungan menit dan yang lebih menyeramkan bagi Cahaya adalah karena Delincio jika makan apel dia menghabiskannya sampai bijinya ikut dimakan juga (klokhuis appel/bagian tengah apel).

Hari terakhir sekolah sebelum musim panas, hari jumat minggu lalu. Cinta bercerita padaku bahwa Cahaya jadian dengan anak yang bernama Thiago. Hah???? Saat aku bertanya dengan senyum dikulum, Cahaya menceritakan bahwa Thiago bertanya padanya apakah Cahaya mau menjadi pacarnya? Cahaya menjawab singkat ‘oke’. Alasannya kan ini hari terakhir, aku kan tidak akan bertemu dia lagi, apa salahnya menjawab setuju. Jawan Cahaya dengan polosnya.

Aku tak bisa tertawa terbahak bahak, tentu saja didepan mereka aku berusaha menyelami pikiran mereka dengan bijaksana walau kadang menggodanya juga. Sebelum aku berkata kata, Cinta sudah menimpali bahwa dia jadi mendadak tak suka dengan Thiago, karena ulah Thiago jadinya Cinta keduluan yang bisa jadian, bukan dirinya. Aku bertanya, apakah Rafael mengajak Cinta jadian? Cinta menjawab cepat, aku yang bertanya pada Rafael tapi Rafael menolaknya……. Oh noooo!

Oh ya, Cahaya pun pernah menerima kartu Valentine saat umur 4,5 tahun saat dia duduk di groep 1 yang diserahkan langsung padaku dari oppasnya (baby sitter). Kata oppasnya, ibunya Pascal yang menuliskannya langsung karena Pascal memintanya, tulisannya Ik hou van je, Chahaja. Hihihihi, rumah Pascal tak jauh dari rumah kami, kadang Cinta dan Cahaya bermain ke rumahnya begitupun sebaliknya, dan yang mengatur urusan main saat pulang sekolah adalah aku dan oppasnya, aku hanya satu kali bertemu dengan ibunya saat ada acara Holloween di lingkungan rumah kami, saat itu aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena dia berkostum dan bermake up nenek sihir. Kata kata yang pertama kali dia ucapkan saat kami berkenalan adalah, oh ini Cinta dan Cahaya yang sudah beken namanya di telingaku. Aha!

Kalau kalian umur berapa kalian pertama kali jadian?

***

Note: Nama teman teman si kembar dalam tulisan ini sedikit disamarkan, hanya sama huruf depannya saja. 🙂

 

 

 

 

Katakan dengan bunga

IMG_20170520_111042410[1]

Minggu lalu, aku menerima kiriman foto foto saat aku berada di Jepang lewat email dari adikku. Agak bernostalgia sekaligus terpana melihat foto fotoku jaman dulu, terpikir dalam hatiku betapa muda dan energiknya diriku kala itu, dan aku merasa cantik! Ehhemmmm!

Karena aku membuka emailku dari komputer kepunyaan Luc yang berlayar sangat lebar membuat foto foto tersebut terlihat lebih memukau, dan tanpa sengaja Luc melihat pula foto fotoku tanpa sepengetahuanku saat dia akan memakai komputer keesokan harinya.

Nah tiba tiba saja begitu aku bangun tidur, pertama yang dia ucapkan adalah…. Yayang aku melihat ratusan foto fotomu saat di Jepang, you are so beautiful! Wow baru aku tahu dulu kau begitu cantiknya!

Aku yang baru bangun tidur tak sadar sepenuhnya tapi jelas menangkap kata katanya yang antusias, dan yang terekam baik adalah…. dulu cantik, sekarang tidak!

Eheemmm dulu cantik? Berarti sekarang gak cantik ya, awas lho! kataku pura pura ngambek. Tentu saja aku tak mempermasalahkan ucapannya. Agak geli juga melihat Luc sampai minta maaf berkali kali karena ucapannya yang menurut dia sangat brutal.

Dan pagi itu, seperti biasanya setelah bangun aku segera menyiapkan bekal dan sarapan anak anak, kemudian Luc mengantarkan mereka ke sekolah sekaligus dia pergi ke kantor. Selepas mereka pergi seperti biasanya aku mengerjakan pekerjaan rumah, namun setengah jam kemudian aku mendengar pintu rumah dibuka dan mendengar langkah Luc. Dalam hati aku berpikir pasti ada sesuatu yang terlupa sehingga Luc harus balik lagi ke rumah. Aku beranjak untuk menyongsong dirinya dan pemandangan didepanku membuatku tersipu sekaligus geli. Luc berdiri sambil memegang buket bunga, diserahkan padaku dengan senyumnya yang sumringah.

Ucapnya…. Buat istriku tercinta yang paling cantik sedunia, dulu, sekarang dan yang akan datang! Hahaha rasa haruku terganti menjadi tawa terbahak bahak.

IMG_20170601_090341630[1]

*****

Sekalian bernostalgia, aku datang ke Jepang seorang diri sebelas tahun yang lalu, mengunjungi seorang teman yang sudah kami anggap bagian dari keluarga kami. Banyak pelajaran yang aku petik disana terutama tentang pelayanan seorang istri/ibu pada suami atau anaknya. Pengalaman ini membuatku takjub setiap hari.  Temanku tinggal di Tokyo, aku tinggal bersamanya selama 10 hari di Tokyo  setelah itu selama 20 hari aku tinggal di Fukuoka bersama orang tuanya, disanalah aku banyak belajar.

Pagi hari ibu menyiapkan bento untuk dibawa suaminya pergi kerja, bento yang cantik sekaligus menyiapkan sarapannya. Kami berempat makan pagi bersama sama, ibu menyiapkan semuanya sendirian, dia selalu menyucapkan terima kasih secara berlebihan padaku jika aku membantunya di dapur atau hanya menyiapkan meja makan. Setiap hari dia selalu manata meja dengan cantik, baik itu sarapan, makan siang atau makan malam, pokoknya selama kami makan di rumah dia selalu menyajikan makanan istimewa.

Berikut beberapa foto yang aku punya selama makan di rumah.

 

CIMG1428

Penampakan saat sarapan

CIMG1500

ini bukan iklan sariwangi 🙂

CIMG1508

Makan siang

CIMG1509CIMG1511CIMG1513CIMG1396CIMG1395

CIMG1541

Minum teh di rumahpun bisa cantik begini

CIMG1510CIMG1403

Sayang aku tidak memotret makanan lainnya, seperti kare yang lezat, taart coklat bahkan sushi untuk bento suaminya tak aku jepret. Hhmmm semoga mereka selalu sehat dan kita bisa bertemu kembali suatu saat seperti janjiku yang akan mengunjunginya.