Flamenco Dancer

Hari ke duapuluh, 10 Agustus 2015

Si kembar benar benar tak mau diam, kemarin begitu masuk hotel mereka segera mencoba baju  dan sepatu yang dibeli di stad, asyik menari nari di depan cermin, minta dibukakan youtube seorang penari yang menggunakan pakaian yang mirip dengan kepunyaan mereka. Dan pagi ini saat makan pakagi aku memperbolehkan mereka memakai baju dan sepatu saat sarapan di restauran.

Mereka senang dan bangga luar biasa. Berjalan dengan percaya diri melewati lorong hotel menuju ruang makan. Saat tiba puluhan pasang mata tertuju pada si kembar. Cahay tetap percaya diri, dia semakin melangkahkan kakinya diiringi sepatu pantofelnya yang berbunyi tak tok tak tok. Sementara Cinta segera menyembunyikan wajahnya dibalik tubuhku.

Seperti hari kemarin, mereka membawa nampan makanan sendiri, mengambil roti dan memasukannya ke mesin tosti sendiri, mengambil mentega dan jam, juga mengambil minuman. Aku sedikit khawatir nampan besar yang dibawanya akan jatuh, karena mereka memakai sepatu berhak dan baju panjang. Jadi kubawa nampan punya Cahaya. Sedangkan Cinta tetap ingin membawanya sendiri tak mau mendengar perintahku, sibuk dengan rotinya dan sedang mengeluarkan dari mesin tosti. Cahaya ada disampingnya membantu Cinta.

Saat aku berada di meja minuman, tiba tiba Praangggg………. nampan dan piring yang berada di atasnya jatuh ke lantai dan piring tersebut hancur berantakan. Dan kulihat seorang Flamenco dancer cilik sedang berjongkok memunguti pecahan piring yang berhamburan dengan badan bergetar.

Ah Cintaku, my Flamenco dancer! Hari ini kembali dia belajar untuk mendengar dan menuruti perkatannku.
IMG_20150810_085426763[1]IMG_20150810_094416048[1]

Madrid City Tour

Hari ke sembilanbelas, 9 Agustus 2015

Hari ini, kami berencana bermain turis. Aku meminta Luc untuk mencari informasi sebanyak banyaknya tentang Madrid, aku berkata padanya bahwa aku mempercayakan rencana hari ini padanya. Disepakati bahwa kami akan naik tour bus, kami memilih Madrid city Tour. Tapi kok saat Luc searching berkali kali, dia hanya menggumamkan padaku dia ingin melihat mal terbesar di Madrid, agak jauh katanya dari pusat kota. Kemudian dia menawarkan padaku rencana untuk esok hari (hari ini), kami akan naik mobil ke pusat kota memarkir mobil kemudian mencari halte yang dilewati bus Madrid city tour. Usulanku untuk mencari halte terdekat dari hotel ke pusat kota ditolaknya, katanya lebih mudah membawa mobil ke pusat kota. Tak digubrisnya saat aku mengingatkan bahwa nanti parkirnya mahal.

Selesai sarapan, kami bersiap pergi, eh pas naik mobil saat aku bertanya mana alamat semalam yang telah dicari Luc untuk kami datangi, dia hanya menggeleng. Ternyata dia hanya mencari alamat mal yang dia ingin liat tersebut. Ya ampun, terpaksalah aku googling sebentar, dan secara acak aku memasukan daerah Serrano pada navigasi, setelah dilihat dari informasi bahwa Serrano daerah yang harus didatangi jika berada di Madrid.

Tiba di daerah tersebut, ternyata merupakan pertokoan dan restauran glamor. Dan hampir semuanya toko tokonya tutup, karena hari ini adalah hari minggu. Kami berhasil mendapatkan tempat parkir dibawah gedung pertokoan yang bagaikan kota mati. Hingar bingar kota Madrid yang ramai, tak kami rasakan di daerah tersebut. Kami berjalan menyusuri jalan tersebut, melihat hotel hotel yang harganya bukan berada dalam jangkauan kami. Bercanda dengan Luc jika suatu hari nanti dapat kembali lagi ke Madrid, dia ingin tidur di hotel yang abru kami lewati yang ada air mancurnya. Aku hanya tertawa saja mendengarnya.

Kami berhasil menemukan halte yang diberi tanda dilewati bis Madrid city tour. Kami naik di halte 10  Serrano 61, bis route 2. Bis Route 2 dilewati sebanyak 16 halte. Di setiap halte yang dilewati kami bisa turun untuk melihat tempat yang menarik, kemudian bisa kembali naik dengan bis berikutnya yang datang setiap 9 menit. Ada rute lain yang dilewati bis Route 1. Bis Route 1 dilewati 21 halte. Kami bisa bertukar bis antara bis Route 1 dan bis Route 2, ada beberapa halte yang keduanya bertemu, kami bisa melihat dari tanda yang dibuat di map yang kami dapatkan saat pertama kali naik bis.

Tiket bisa dibeli saat kami naik bis, bisa menggunakan kartu jika kita tak membawa uang cash. Harga tiket adalah 21 euro untuk dewasa dan 10 euro untuk anak anak berumur 7-15 tahun perorang perhari. Jika kita berada disana dua hari, kita bisa membeli tiket perdua hari seharga 25 euro untuk dewasa dan 13 euro untuk anak anak.
IMG_20150816_210550171[1]

Ini kali kedua, kami naik turis bus model begini bersama anak anak. Pada tahun lalu kami naik bis tour juga di Kopenhagen Denmark. Pengalaman kami naik bis tour bersama anak anak sebetulnya cukup nyaman juga karena kami punya waktu bercerita dan menjelaskan bersama sama, tapi untuk explore lebih jauh tentang kota itu sendiri ternyata sulit jika bersama anak anak. Mereka tak bisa berjalan jauh, jadi untuk turun dan anik bis kembali rasanya lama sekali, selain lebih banyak untuk duduk makan eskrim juga mereka banyak mengeluh cape, jadi kami memilih tidak turun dari bis dan hanya bercerita dan menunjukan dari atas bis saja pada anak anak tempat yang menarik untuk diceritakan. Beda jika kami pergi berdua saja, naik bis tour model begini rasanya dapat kami pakai semaksimal mungkin, seperti pengalaman kami di Budapest dan Lisabon. Kami bisa sering turun dari bis dan berjalan untuk melihat tempat yang menarik.

Dari bis Route 2 kami turun di Puerta Del Sol, di tempat ini pula kami bisa menaiki bis Route 1. Barulah disini kami bisa berjalan jalan dan serasa berada di kawasan pariwisata, karena tempat yang ramai, pertokoan disana sini yang tentunya terjangkau dengan kantong kami (musim discount) dan bukan merk merk yang diburu beberapa artis di Indonesia, hehehe.

Disini pula si kembar berhasil mendapatkan sepatu dan baju Flaminco, ternyata sehari sebelum kami menuju Madrid, Angela sedikit bercerita mengenai Spanyol pada si kembar, beliau pun memperlihatkan tarian Flaminco dari youtube pada si kembar. Maka begitu bahagianya si kembar saat melihat pakaian dan sepatu Flaminco di toko sauvenir.

Mereka berjalan dengan semangat menuju halte bis Route 1, mendekap erat barang belanjaannya. Sementara Luc berjalan lunglai menenteng belanjaanku, sambil bergumam sehari saja di Madrid telah membuatku bangkrut, ujarnya.
IMG_20150809_182236024[1]

Anak anak beberpa kali melongok belanjaannya saat berada di dalam bis, berkali kali mereka bilang tak sabar ingin segera memakainya. Namun perhatian mereka sedikit teralihkan saat ada segerombolan orang yang naik ke atas bis, ke tingkat dua dimana kami duduk dan mereka dengan hebohnya berbicara bahasa Indonesia.

Cinta langsung menghampiriku, sambil berbisik mereka orang Indonesia bunda, yang langsung aku iyakan. Seorang ibu muda yang cantik yang rasanya wajahnya aku kenal, putri Indonesiakah? Artiskah? Disusul eorang lelaki muda tampan usia awal dua puluhan, bersama sorang gadis remaja, disusul seorang bapak bersama anak kecil sepantaran si kembar.

Cinta Cahaya semakin tertarik, Cinta bertanya padaku bolehkah dia mendekati mereka? Aku mengangguk saja. Cinta mendekati ibu muda tersebut, kemudian bertanya… Are you Indonesian? Si wanita menatap Cinta keheranan, detik berikutnya dia menggeleng. Wajah Cinta dan Cahaya berubah, mengkerut, berpikir sejenak, bukan Cinta namanya klo tak bertanya lagi, dengan mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan perempuan itu dia kembali bertanya. Are you Indonesia?

Si ibu muda itu tercengang sambil berkata gugup, oh ya ya ya Indonesia. Kemudian pemuda tampan itu mendekat pada Cinta dan Cahaya dan bertanya bersahabat. Kami saling bertukar cerita, sementara si bapak lebih banyak diam dan senyum saja, menjaga jarak dan tak mauterlibat dalam percakapan kami. Si anak kecil sepantaran Cinta dan Cahaya mudah sekali berteman dan ngobrol dengan hebohnya, si anak itu berbica bahasa Inggris yang lancar dengan logat American, dia berbahasa Inggris dengan anggota keluarga yang lainnya pula. Sementara Cinta dan Cahaya lebih banyak menyimak dan terkagum kagum pada si anak tersebut, mereka duduk bersama sama.

Berkali kali sang ayah turun ke bawah dan membawakan permintaan mainan yang diminta putrinya, sepertinya ada anggota keluarga lain yang duduk di bawah. Berkali kali aku berpikir keras, siapa lelaki itu, seperti seorang politikus yang dulu sering muncul di TV. Tapi aku tak menemukan sepotong namanya di kepalaku. Sementara si ibu muda lebih fokus pada camera profesional yang ada di tangannya, memotret bangunan bangunan yang menarik perhatiannya, membuat handphone ku tau diri dan masuk ke tas mungilku saking malunya, hahaha. Tak sebanding untuk duduk berdampingan!

Kekakuan lelaki itu mulai mencair, dia mulai bertanya pada kami tentang si kembar. Cahaya pun tak sungkan untuk duduk di pangkuan lelaki itu dan bertanya banyak hal pada camera yang ada di genggaman lelaki itu, si bapak mencelaskan dengan detail apa yang ditanyakan Cahaya. Kami segera memanggil Cahaya saat dia mulai berani menyentuh camera si bapak itu. Luc menjelaskan untuk menjaga kesopanan pada Cahaya, menyuruhnya duduk kembali bersama Cinta dan anak si bapak itu.

Kami harus turun di halte berikutnya, saling mengucapkan salam perpisahan. Begitu kami turun ke lantai satu, seseorang menyata denagn ramahnya pada Cinta dan Cahaya. Seorang wanita cantik yang wajahnya aku kenali, juga namanya! Tapi mulutku terkunci untuk bertanya. Malah jawaban konyolku yang muncul saat wanita tersebut menyatakan bahwa dia senang melihat anak kembar, aku menyambar perkatannya dengan … Ayok mbak punya anak lagi, siapa tau nanti kembar. Kemudian dia berkata bahwa dia tak ingin hamil lagi, sudah tua katanya sambil menambahkan bahwa anaknya sudah tiga, semua anak yang ada di atas bis itu adalah anak anaknya. Jadi pemuda tampan yang super ramahitu? Yang usianya mungkin 25 tahun, gadis remaja yang cantik dan lincah? Nah kalau anak yang seumuran Cinta dan cahaya pantaslah anaknya.

Kami turun dari bis sambil melambaikan tangan pada wanita yang mengenakan mut yang biasa dikenakan di musim dingin yang dia fungsikan sebagai penutup kepala sebagai ciri khas seorang muslimah.

Sesaat setelah berada di atas tanah, setengah berteriak ke arah Luc aku berkata EEP SAEFULLOH!!! Ya wanita cantik yang ramah yang tengah melambaikan tangannnya ke arah kami adalah Sandrina Malakiano!

(bersambung)

# Berikut foto foto yang dapat aku abadikan sebelum, handphoneku menyembunyikan diri, karena tak mau bersaing dengan camera profesional 🙂

IMG_20150809_160557157[1]IMG_20150809_161420769[1]IMG_20150809_121811907[1]IMG_20150809_122312844[1]IMG_20150809_170838789[1]IMG_20150809_123312498[1]IMG_20150809_173928919[1]IMG_20150809_122647494[1]IMG_20150809_170923092[1]IMG_20150809_173802916[1]

Madrid, We are Coming!

Hari ke delapanbelas, 8 Agustus 2015

Rencana jalan pukul tujuh pagi, molor  setengah jam kemudian. Rasanya sedih juga meninggalkan Angela seorang diri. Sebelum kami berangkat masih sempat dia mencucikan mobil Luc yang berdebu, langsung disemprot jadi mengkilat. Bukan anaknya yang bersihih mobil ibunya, malah ibunya yang bersihin mobil anaknnya. Ah dunia yang terbalik, hihihi.

Perjalan sedikit was was setelah memasuki negara Spanyol. Sehari sebelumnya kami mendengar berita bahwa banyak hutan yang terbakar di Spayol karena cuaca yang sangat panas. Kami takut jangan jangan jalan yang kami lewati, termasuk daerah berbahaya, maka kemungkinan jalan akan diarahkan ke jalan lain. Tapi untunglah hal yang kami takutkan tak terjadi. Walaupun beberapa kali kami melihat papan peringatan di jalan tentang waspada pada adanya hutan yang terbakar.
IMG_20150808_135906259[1]

Udara yang sedikit mendung membantu perjalanan kali ini tak begitu panas, hanya sesekali kami dikagetkan dengan adanya kabut dikejauhan, bertanya tanya apakah itu gumpalan awan hitam atau kepulan asap.

Jarak dari Silves menuju Madrid adalah 791 km, yang konon dapat ditempuh sekitar tujuh jam setengah tanpa berhenti. Tapi tidak dengan kami, perjalanan ditempuh sekitar delapan jam setengah, setelah kami berada di belakang traktor yang berjalan lambat dan Luc tak bisa menyusulnya karena jalan yang sempit, beberapa kali kami terjebak di jalan yang yang sedang diperbaiki, sehingga Luc harus menurunkan kecepatan.

Tiba di hotel, setelah semuanya mandi dan berganti pakaian. Luc segera mencari informasi untuk makan malam di mal terdekat sekaligus untuk memenuhi janjinya padaku. Shoping!

(bersambung)

Setengah tahun di Portugal, setengah tahun di Belanda

Hari ke tujuhbelas

Rencananya hari ini dis rumah saja, beres beres karena hari sabtu esok kami harus melanjutkan perjalan lagi. Tidak mengambil tute saat kami datang tapi mampir dulu ke Madrid Spanyol.

Sejak kemarin Angela tidak ada bersama kami, pagi pagi sekali dia menjemput temannya di airport di kota Faro. Sebelum diantar kerumahnya Inez akan mampir ke tempat kami dulu untuk bertemu. Sejak si kembar lahir, Inez temannya Angela selalu berencana bertemu kami, tapi tak pernah berhasil. Selalu waktunya tak tepat. Saat kami ke Portugal, dia sedang berada di Belanda. Jadwalnya adalah saat musim panas dia tinggal di Belanda, dan saat musim dingin dia tinggal di Portugal.

Penampilannya sedikit tomboy seperti Angela, tubuhnya yang jangkungnya harus membungkuk setengahnya demi dapat mencium pipiku. Orangnya spontan tanpa basa basi. Katanya akhirnya dia gembira bisa bertemu dengan kami terutama dengan si kembar yang terkenal itu katanya, hahaha. Kami mengobrol sebentar, benar benar sebentar. bahkan saat aku menawarkan minumpun dia menolak. Mungkin hanya sekitar lima belas menit dan dia pamit diantar Angela ke rumahnya.

Seperti kebanyakan orang Belanda atau Inggris yang tinggal di Algarve, sebagian dari mereka memilih hidup setengah tahun di Portugal dan setengah tahun di negara asalnya. namun banyak pula yang memilih seperti Angela, pindah untuk selamanya. cuaca adalah alasan yang mereka pilih mengapa mereka hidup di dua negara, dengan begitu mereka dapat menikmati musim dingin yang tidak terlalu dingin di negara Portugal demi menghindari musim dingin yang ekstrim di negaranya.

Aku sedikit tak paham saat Inez berkata bahwa di bulan september dia akan kembali ke Portugal bersama suami dan anjingnyanya yang saat ini keduanya masih di Belanda, nanti mereka akan menggunakan mobil minibus yang lengkap dengan tempat tidur,  seperti halnya saat mereka kembali ke Belanda menggunakan jalan darat.

Tapi ini masih musim panas dan dia sudah kembali ke Portugal? Seorang diri pula. Bukankah sebulan yang lalu dia baru meninggalkan Portugal dan seharusnya kembali nanti bulan  September? Dan saat aku tanyakan pada Angela berapa lama Inez akan tinggal di Portugal, dia menjawab hanya seminggu saja.

Kemudian Luc berkata, jangan jangan dia ingin balik ke Portugal hanya untuk bertemu dengan kami? Angela dan aku hanya tertawa mendengar gurauan Luc. Tapi betapa terkejutnya aku dan Luc saat Angela, mengangguk. Hahahaha mevrouw bukankah kita bisa bertemu di Belanda?

(bersambung)

Slide & Splash

Hari ke enambelas, 6 Agustus 2015

Hari ini, Luc memenuhi janjinya pada anak anak untuk mengunjungi atraksi (wahana) berenang, mirip mirip Atlantis Water Adventure yang di Ancol. Aku dan Angela adalah jajaran orang orang yang tidak tertarik untuk datang ke sana. Maka saat anak anak menagih janji pada papanya, Angela dengan tegas berkata bahwa dia tidak akan ikut kesana lagi pula dia akan pulang ke rumahnya di Albortel dan menginap sehari disana karena pagi pagi buta dia harus menjemput temannya yang datang dari Belanda yang mendarat di airport Faro, dan kota Albortel lebih dekat jaraknya dari kota Faro daripada dari kota Silves.

Sebelum membeli tiket online, aku memastikan lagi pada Luc apakah kita perlu pergi kesana? Aku tidak suka meluncur dari ketinggian yang menurutku terlalu tinggi, harus berkelok kelok melewati perosotan hingga nyebur di kolam, apalagi ini di tempat terbuka yang panasnya minta ampun. Tapi Luc tetap bersikukuh karena dia sudah berjanji pada anak anak, betapa tidak setiap kami pulang ke rumah berkali kali kami melewati tempat tersebut, dari kejauhan kami bisa melihat perosotan yang berkelok kelok yang membuat Cinta dan Cahaya antusias.

Sambil tetap mencoba untuk merubah keputusan Luc, aku berkata bahwa aku hanya menemani saja, tidak akan ikut berenang. Luc setuju bahwa dialah yang akan bermain bersama anak anak sedangkan aku hanya duduk berteduh saja. Sambil melirik harga tiket yang (lagi lagi) menurutku sangat mahal, akhirnya kami berangkat juga.

Ternyata begitu sampai disana tempat parkir sudah penuh, sehingga kami harus parkir di di tempat parkir tambahan yang sepertinya sengaja dibuat untuk musim liburan saja. Dan begitu masuk ke dalam tak hanya aku dan Luc yang terpana tapi Cinta dan Cahaya pun terbengong bengong.

Lautan manusia sudah memenuhi di semua kolam renang yang ada, antrian menuju perosotan bagai ular naga panjangnya bukan kepalang, menjalar jalar selalu kian kemari *eh kok nyanyi :), dan hamparan rumputpun tak nampak lagi hilang ditelan hamparan handuk. Kami harus mencari cari tempat yang kosong untuk menggelar handuk. Hingga aku akhirnya menemukan tempat yang sedikit kosong disamping seorang ibu muda yang sedang duduk diantara tiga handuk yang dihamparkannya, hanya satu handuk yang berhasil aku hamparkan, karena disebelah tempat kosong ada baju yang digeletakan seperti tanda bahwa tempat ini sudah ditempati, tapi aku pura pura tak mengerti tanda itu, daripada harus berkeliling kembali mencari tempat kosong. Eh ternyata beberapa saat kemudian baju yang ada disebelahku ditarik oleh wanita disebelahku, ternyata punya dia hahaha. Mungkin si ibu muda ini mengutukku karena menyerobot tempatnya, tapi kan bu anda sudah punya tiga handuk besar yang dihamparkan sedangkan aku hanya handuk kecil, belaku dalam hati.

Melihat penuhnya tempat ini, bahkan untuk beli minum pun harus antri,  Luc berkata bahwa dia akan menemani anak anak bermain air kemudian nonton atraksi burung yang ada di wahana ini kemudian pulang, begitu rencana kami.

Tapi ternyata walau mereka harus mengantri hampir dua puluh menit untuk sekali luncur, tapi Cinta dan cahaya tetap tangguh mengantri, dan mereka adalah anak satu satunya (eh dua duanya) yang paling kecil yang berani meluncur di tempat orang dewasa.

Saat tiba atraksi burung, aku segera memanggil mereka untuk mendatangi tempat atraksi yang ternyata masih kosong melompong, padahal pertunjukan akan dimulai lima belas menit lagi. Sambil menunggu pertunjukan kami makan hotdog dulu dan minum ice cream yang ada di kedai sebelah lapangan pertunjukan.

Pertunjukan dijelaskan dalam dua bahasa, bahasa Portugis dan Inggris. Cinta dan Cahaya ikut berlari ke panggung, saat pelatih burung meminta bantuan dari penonton. Pelatih burung berkata dalam bahasa Portugis yang aku kira kira mungkin dia bertanya, apakah kamu berbahasa Portugis? Saat pelatih burung itu berkata oohhh You  speak English….Yang ternyata aku ketahui setelah mereka datang ke arahku Cinta berkata We don’t understand you, hehehe.

Anak anak sangat senang pada pertunjukan kali ini, karena mereka ikut tampil di atas panggung dua kali. Yes dua kali, karena saat si pelatih meminta bantuan lagi, kedua anak yang tak mau duduk diam ini langsung berlari lagi kea atas panggung dengan cepatnya, mengalahkan seorang anak lain yang baru mengangkat tangannya, dan tanpa menhiraukan teriakanku yang meminta mereka kembali, tapi Cinta dan cahaya tetap berlari.

Dan pada saat pertunjukan berakhir, keduanya pun berfoto bersama burung. Kemudian kembali bermain air, kini tanpa Luc karena Luc kelelahan, jadilah anak anak bermain perosotan di kolam renang yang khusus untuk anak anak. Sementara kami duduk selonjoran di sebuah batu sambil ngobrol dan sesekali aku memoto muka Luc yang bagai kepiting rebus kepanasan.

(bersambung)

IMG_20150806_131924508[1]

Rumput pun dipenuhi hamparan handuk

Apakah foto yang ini yang ada Cinta dan Cahya di ats panggung? ;)

Apakah foto yang ini yang ada Cinta dan Cahya di ats panggung? 😉

IMG_20150806_163721517[1]

Aha akhirnya Cinta dan Cahay di atas panggung!

Just as pretty Afghan girl? Berpose dulu sambil menunggu anak anak bermain air :)

Just as pretty Afghan girl?
Berpose dulu sambil menunggu anak anak bermain air 🙂

Ah nikmatnya kembali ke rumah, pamer coca cola seember :) tanpa antri dulu

Ah nikmatnya kembali ke rumah, pamer coca cola seember 🙂 tanpa antri dulu hahaha

IMG_20150805_124303561[1]

Pilih berenang disini? yang bisa langsung nyebur begitu bangun tidur, juga nyemplung lagi sesuka kita bahkan sebelum tidur, atau di slide& splash yang penuh dan mahal pula?

Pilih berenang disini? yang bisa langsung nyebur begitu bangun tidur, juga nyemplung lagi sesuka kita bahkan sebelum tidur, atau di slide& splash yang penuh dan mahal pula?

Praia da Rocha, Portimao

Pantai yang paling kami sukai di Algarve adalah pantai Rocha atau Praia da Rocha yang berada di kota Portimao. Portimao sendiri termasuk kota yang cukup besar jika dibanding kota kota lainnya di Provinsi Algarve, kepadatan penduduknya berada di urutan ketiga setelah Loule dan Faro.

Biasanya kami datang dari bawah menuju pertigaan yang ada pos jaga polisi tepat disamping kantor informasi kemudian kami berbelok ke sebelah kiri, dan mulai cari tempat parkir disana, kemudian berjalan dan mulai menikmati keindahan pantai dari atas tebing.
FB_IMG_1439420585978[1]IMG_20150805_193224632[1]

Saking seringnya kami berjalan kesana, aku jadi hapal urutan toko toko yang ada disana, hihihi saking seringnya aku sampai malu saat harus pamit pada Angela jika kami akan ke Portimao.

Tapi ternyata tak semua toko atau restaurant yang kami hapal, karena secara tiba tiba saat aku berjalan, aku melihat papan menu restaurant yang menghalangi langkah kami di trotoar, tak ada restaurant yang kami lihat disisi trotoar tersebut hanya ada tangga ke atas, serta tanda panah di dinding yang menuju tangga, aha restaurant yang tersembunyi. Tertarik dengan restaurant yang tersembunyi itu kami memeriksa daftar menu di papan tersebut, dilihat dari harganya aku rasa lebih mahal dibanding restaurant yang ada di sepanjang jalan tersebut. Tapi Luc melihat tanda bintang dari tripadvisor di sebelah atas papan, dan tulisan the best restaurant di praia da Rocha berdasarkan tripadvisor. Karena kami baru saja keluar restaurant kami memutuskan hari lain untuk mencobanya.

Maka tibalah hari ini. Sementara Cinta, Cahaya dan Angela kembali ke rumah. Aku dan Luc pergi ke salon karena Luc sudah ada janji untuk potong rambut pukul setengah enam sore. Dan setelah potong rambut kami langsung tancap gas ke Portimao menuju Restarante F – Food & Wine yang berada di urutan ke empat dari 53 restaurant yang ada di praia da rocha berdasarkan tripadvisor. F sendiri adalah singkatan dari Fransisca.

Pelayanannya profesional banget, sepertinya pelayan pelayannya dilatih cara melayani seperti di sekolah perhotelan gitu, karena kami tidak minum alkohol, botol air minum mineralpun diperlihatkan dulu merknya pada kami sebelum dibuka tutupnya sebelum dituangkan pada gelas kami mirip mirip di film  kalo sedang menuangkan wine, hihihi aku gak punya pengalaman dituangkan wine, jadi rasanya seperti di film film.

Saat  pesanan kami datangpun pelayan membawa makanan pake meja dorong kayak (lagi lagi di film) di hotel bintang banyak kalau pesan layanan makanan ke kamar. Dan pesanku di tuangkan dari katel di depan mataku ke piring saji.
IMG_20150805_195900972[1]

Dan ternyata pembaca sekalian, saat tagihan disodorkan pada kami. Kami berdua terbelalak tak percaya. Bukan, bukan karena tagihan yang besar tapi karena total tagihan yang hampir sama besarnya dengan jika kita makan di restauran di restauran lain yang pelayannya biasa saja karena di tempat wisata yang rame, kadang meja pun kita sendiri yang harus membereskan saking tak ada tempat untuk duduk dan terpaksa kita duduk di meja yang belum di bersihkan.

Bahkan harga dessert pun lebih murah dari restauran lain. Dan tahukah kalian? Harga segelas capucinno yang lezat rasanya dan cantik penampakannya dihargai hanya 1,5 euro saja. Rasanya cappuccino di Hema pun tak mungkin seharga itu. Begitu pun dengan teh dihargai hanya 1,5 euro.

Dan inilah penampakannya, mungkin penampakan dan rasanya hampir sama saja dengan restaurant lain tapi pelayanannya sungguh prima, bahkan saat aku akan dudukpun, pelayan menarik kursi untukku, lagi lagi kayak di film film, hahaha.

IMG_20150805_200011116[1]

Algarve Cataplana

IMG_20150805_200017111[1]

dessert pesananku

dessert pesananku

Creame brulee yang atasnya dikeraskan (di kasih api) di depan kita

Creame brulee yang atasnya dikeraskan (di kasih api) di depan kita

Setelah naik tangga, ternyata inilah resturantnya dengan view pantai favoritku, praia da rocha

Setelah naik tangga, ternyata inilah resturantnya dengan view pantai favoritku, praia da rocha

Dan menurut Luc peanannya yaitu steak bebek, rasanya biasa saja, jelas lebih lezat duck cripsy (bebek kremes? lupa judul) yang pernah dia santap di bebek bengil-nya Bali. Hidup masakan Indonesia, kau adalah seleraku.

(bersambung)

Little Missy

Hari ke limabelas, 5 Agustus 2015
Ingat serial Little Missy dengan tuan Baron Araruna? Atau Escrava Issaura? Nah serial ini tentunya hanya bakal diingat oleh generasi diriku. Jaman TVRI masih berjayalah, satu satunya channel di Indonesia saat itu. Aku adalah penggemar setia serial tersebut. Dengan proses dubbing yang pada awalnya lucu dan tidak enak didengar, tapi toh jadi sesuatu yang sangat dirindukan untuk ditonton dan didengar. Dan aku adalah satu satunya penghuni rumah yang nonton film tersebut, sampai sampai ibuku keheranan kenapa aku begitu suka luar biasa pada kedua serial itu.

Nah setiap aku ke Portugal, setiap melewati perkebunan aku selalu teringat pada seri tersebut. Ingat little Missy dengan payung renda nya, atau Isaura budak belian dengan kisah menyedihkannya. Teringat para tuan tanah yang kaya raya, budak budak yang sengsara dan para mandor yang kejam.

Dan hari ini, seperti kunjungan kunjungan ke Algarve sebelumnya, kami selalu mengunjungi keluarga Soufina, tetangga Angela yang asli orang Portugis. Nah Soufina ini punya perkebunan jeruk yang biasa dibuat untuk sap.

Biasanya kami merencanakan untuk datang ke Soufina sebelumnya, sehingga cucunya yang kembar yang seumuran Cinta dan Cahaya selalu datang dari kota lain untuk bertemu kami, tapi kali ini kami sama sekali tak mengabarkan kedantangan kami pada mereka, ohhh maafkan kami karena waktu liburan kami di Portugal hampir habis dan kami tak ada waktu lagi untuk membuat jadwal ketemu dengan mereka.

Sayang tahun ini jeruk jeruk sudah habis masa panennya, hanya tersisa beberapa pohon saja, jadi acara memetik jeruk tak seseru tahun tahun sebelumnya. Dan udara yang panas membara mengakibatkan kami ingin buru buru kembali ke rumah yang teduh. Untunglah saat kami berjalan kaki menuju kebun jeruk, disana sini kami masih bisa memetik tanaman lainnya seperti kacang amandel, buah vijg yang manis dan lezat atau pohon johannesbrood alias roti johannes atau carob tree dalam bahasa Inggrisnya yang menurut Angela jika makan satu buah saja perut terasa kenyang. Hari itu aku tak mencoba makan johannesbrood karena tak yakin melihat penampakannya, apakah benar bisa dimakan begitu saja? Tapi aku berjanji akan membawa pulang ke Rotterdam dan memakannya nanti di rumah, kebetulan di halaman rumah Angela pun ada beberapa pohonnya.

(bersambung)

Buah jeruknya sudah habis

Buah jeruknya sudah habis

Musim panen telah usai, tak ada jeruk yang tersisa

Musim panen telah usai, tak ada jeruk yang tersisa

Buah amandel yang sudah siap dimakan, tinggal dibuka cangkangnya dengan cara dikeprek pake batu, kita bisa makan langsung

Buah amandel yang sudah siap dimakan, tinggal dibuka cangkangnya dengan cara dikeprek pake batu, kita bisa makan langsung

Amandel yang belum masak

Amandel yang belum masak

buah vijg yang manis rasanya

buah vijg yang manis rasanya

johannesbrood

johannesbrood

Cinta Cahaya picking oranges (May 2011)

Cinta Cahaya picking oranges (May 2011)