Savoi Homan, Jalan Braga dan Ricuh tiket Air Asia

1 Agustus 2018

Hari kedelapan belas

Savoi \nHoman

Akhirnya kesampaian juga aku menginap di hotel Savoi Homan Bandung. Hotel yang terkenal karena menjadi hotel yang ditempati para tamu negara pada saat KTT Asia Afrika tahun 1955 berlangsung. Saat aku kecil dulu setiap lewat hotel Homan, aku selalu teringat akan cerita ayahku tentang hotel Homan. Tempat dimana Presiden pertama RI menginap. Rasanya mustahil aku bisa menginap disana, pikirku saat itu.

Beranjak remaja, ketertarikanku mengenai hotel yang pernah menjadi tempat menginap Presiden pertama RI tidak lagi menjadi daya tarik bagiku, saat melewati hotel Homan tempat disebrang hotel Homanlah yang menjadi daya tarikku untuk melirik dan bahkan mampir kesana. Nasi goreng pinggir jalan di depan kantor surat kabar Pikiran Rakyat atau yang lebih dikenal dengan nama nasgor PR.

Jika hari menjelang malam sekitar 10 malam barulah tukang nasgor pinggir jalan ini penuh, kami sampai duduk di trotoar karena tidak kebagian kursi plastik yang disediakan. Hanya kursi, tidak ada mejanya. Nah aku sudah mewanti wanti Luc bahwa tengah malam nanti aku akan keluar hotel untuk membeli nasgor legendaris tersebut (yang ternyata tidak kesampaian karena aku sudah kenyang dan cape hingga tidak mampu memuaskan hasratku yang rakus). Oh ya, kini nasgor PR tidak mangkal di depan kantor PR lg di jalan Asia Adrika tapi tepat berada di jalan kecil pinggir hotel Homan. Pemindahan ini dikarenakan kota Bandung yang berbenah setelah dikomando oleh Ridwan Kamil kala itu. Jadi lebih cantik dan rapih.

Ternyata begitu kami sampai di Savoi Homan, begitu masuk lobi kami sudah mendengar bahasa yang tidak asing ditelinga kami. Bahasa Belanda. Olala alamat Luc manyun sepanjang masa. Dan benar saja begitu kami berada di kolam renang, bahkan di lift sekalipun orang orang yang berkeliaran rasanya menggunakan bahasa Belanda semua. Ahhhhhhhh Nederlander dimana mana. Saat dimana kau menceritakan tentang riwayat hotel Homan pada si kembar tentang konfrensi Asia Afrika, tentang pemimpin dunia yang menginap di hotel yang sama dengan kita menginap sekarang, kemudian Luc menyela bahwa cukup sekali saja kami meningap disini. Dia selalu merasa tak nyaman jika saat liburan tapi menemukan orang sebangsanya di tempat yang sama. Untunglah saat sarapan kami tidak terlalu menemukan orang Belanda disana, mungkin mereka melewati sarapan karena harus ikut tour mulai pagi buta.

Jalan Braga

Nah ini termasuk jalan yang wajib dikunjungi para turis jika sedang menginap di Bandung. Apalagi jika menginap di daerah yang tidak jauh dari jalan Braga jadi tinggal jalan kaki saja.

Dulu sewaktu aku masih tinggal di Bandung, Braga tidak terasa istimewa biasa saja. Tentu saja jalan tersebut jalan yang sering dilewati jika aku berkendaraan, juga termasuk trotoar yang sering dipijaki saat aku berjalan kai disana, ada saja keperluan ke daerah Braga, entah itu saat melwati jalan ABC, cari pernik pernik cantik dari kayu di toko Sin Sin atau membeli roti di french Bakery yang ada di paling awal jalan Braga, atau kalau ibuku sering mampir ke toko roti sumber hidayangan untuk membeli kue bolu marjipan kesukaanku.

Kini restauran Braga Permai bukan satu satunya restauran primadona di jalan Braga, (walau tetap menjadi primadona bagi Nederlander)! ada tempat makan lainnya yang banyak didatangi para turis, salah satunya adalah Braga Art cafe. Dari luar terlihat sepi, membuat Luc tertarik untuk masuk kesana. Sementara si kembar menarik narik tanganku untuk masuk ke Braga Permai yang ditolak mentah mentah oleh Luc. Berdasarkan pengalaman Luc (bukan sekali saja) jika dia masuk ke restauran tersebut maka dipastikan akan terdengar bahasa yang dia kenal sejak masih orok dari para pengunjung yang tengah menyantap makanan disana dan kebanyakan dari mereka adalah oma dan opa.

Design dari Braga Art Cafe dibuat senyeni mungkin, dengan ornamen kayu jati tua dengan ukiran Jeparanya. Bahkan barnya juga terlihat cantik walau terlihat seperti romelig tapi enak dipandang mata. Soal makanan, rasanya tidak terlalu istimewa, biasa saja. Porsinya bisa dibilang sangat banyak menurut ukuranku dan harganya jauh lebih murah dibandingkan jika kami makan di Braga Permai. Secara keseluruhan Braga Art Cafe tempat yang bisa kalian datangi jika datang ke jalan Braga.

Hari itu juga setelah makan malam disana, kami mengunjungi warung kopi Djawa. Aku niat banget datang kesana setelah membaca postingan Ariv yang bercerita bahwa toko buku Djawa telah berubah menjadi waring kopi. Ternyata disana membludak banget lho, tidak ada tempat duduk yang tersisa. Tapi Luc tetap menyuruhku tetap masuk karena dia mendengar nostalgiaku tentang toko buka Djawa saat aku kecil yang sering datang kesana bersama ayah dan ibu. Akhirnya aku membawa pulang es kopi Djawa yang direkomendasikan disana, kopi dengan campuran gula jawa. Sayang walaupun aku membawa pulang es kopi tersebut tapi aku tak sempat meminumnya karena masih terlalu kenyang akibat makan di Braga Art dan memberikan kopi tersebut pada orang yang aku temui (baca: tukang parkir) saat aku berjalan pulang ke hotel.

Ricuh tiket Air Asia

Hari ini kami sekeluarga ditambah ayah dan ibuku akan berangkat ke Kuala Lumpur. Rencana akan berlibur ke Malaysia dan Singapure usdah ada sejak kami masih di Belanda, dan rencanya aku akan mengajak ayah dan ibu. Biasanya jika kami mudik ke Indonesia, semuanya sudah siap. Rencana akan pergi kemana saja sudah tersusus rapi termasuk tikek pesawat atau hotel diamanpun kami akan menginap termasuk hotel di Bandung. Semuanya sudah di pesan saat masih di Belanda. Tapi liburan kali ini aku sungguh sibuk, banyak kejadian yang menyita perhatian kami sebelum kami mudik. Tentang si kembar yang akan dipisah mulai tahun ajaran baru sehingga kami harus berkali kali datang menuemui kepala sekolah untuk diberi pengarahan mempersiapkan si kembar nantinya, tentang rumah lama yang tiba tiba terjual sehingga kami harus bolak balik ke notaris untuk mengurus ini itu, tentang diriku yang tiba tiba dapat kerja part time tiga minggu sebelum kami berangkat.

Aku menelepon ibuku seminggu sebelum aku mudik untuk memastikan bahwa aku akan mengajak ayah dan ibu ke Singapure dan Malaysia. Tiga hari di Singapure dan empat hari di Malaysia. Tapi suara ibuku di ujung sana tidak tampak antusias, kemudian ibuku memintaku untuk tidak membeli tiket pesawat terlebih dahulu karena dia tidak yakin ingin ikut berlibur ke Singapure dan malaysia, alasannya dia tidak ingin merepotkan kami karena harus mengurus ayah ibu juga padahal kami sedang berlibur, nimatilah bersama suami dan anak anak, tidak usah mengurus orang tua terus. Begitu kata ibuku. Luc sedikit kecewa karena dialah yang ingin sekali mengajak ayah dan ibu liburan juga.

Ternyata kami diuntungkan dengan tidak jadi membeli tiket pesawat ke Singapure di Belanda, karena Cahaya sakit panas dan kami memutuskan tidak jadi berangkat ke Singapura guna memulihkan stamina Cahaya terlebih dahulu dan merubah tujuan kami berlibur hanya ke Kuala Lumpur saja, itupun dipersingkat karena tanggal 5 Juli nanti aku sudah mempunyai janji untuk bertemu teman lama. Akhirnya tiket dibeli dua hari sebelum keberangkatan, 6 tiket Pulang Pergi bandung Kuala Lumpur- Kuala Lumpur Bandung. Yuhuuu akhirnya ibuku jadi ikut setelah ayahku mengancam akan tetap ikut walaupun ibuku tidak ikut. Hahah dan itu ancaman paling manjur karena ibuku langsung mengiyakan untuk ikut, alasannya sederhana saja kalau ayahku yang ikut tanpa ibuku, ayahku akan lebih merepotkan diriku, hahaha. Itu teori ibuku.

Ayah dan ibu datang menjemput kami ke hotel pukul setengah enam sore dispiri adikku yang langsung membawa kami ke Bandara. Tidak ada drama nyaris ketinggalan pesawat seperti dua tahun lalu saat kami mudik dan pergi berlibur dengan ayah ibu juga. Ah bandara Bandung memang penuh kenangan. Semuanya berjalan lancar hingga kami check in. Petugas di balik meja check in berkata bahwa Luc belum membayar tiket kami!

Aku dan Luc melongo sejadi jadinya. Saat kami membeli tiket via online aku melihat jelas ada email yang masuk bahwa tiket kami sudah terbayar. Kemudian petugas menjelaskan bahwa memang awalnya pembelian sukses dua hari yang lalu tapi hari ini ada refund di sistemnya bahwa uang yang kami bayarkan dikembalikan. Luc memakai kartu credit saat memesan tiket tersebut. Tiket dibeli melalui site momondo.

Petugas check in seorang wanita muda yang tegas yang menurutku sangat menguasai tugas dari pekerjaannya, sayang dia tidak mempunyai rasa empati sama sekali dia berkali kali mengatakan bahwa kesalahan bukan berada di pihak Air Asia, dia mengatakan itu urusan anda dengan kartu creditnya. Berkali kali Luc mengechek di laporan credit card nya bahwa pembayaran telah sukses dan didak ada pengembalian. Yang kemudian kami lakukan adalah berkomunikasi dengan pihak Visa. Luc menelepon ke nomor yang ada di balik kartu creditnya, tersambung ke Amsterdam. Dan itu bukan hal yang mudah karena HP Luc dan aku telah berganti nomor menggunakan kartu pra bayar di Indonesia, tidak tersambung mungkin karena pulsanya tidak cukup atau entah apa. Untunglah HP ku menggunakan duo kartu yang bisa langsung di switch, sehingga Luc akhirnya bisa menelepon ke Amsterdam. Tak banyak yang bisa dilakukan pihak Visa karena dari pihak sana pun tidak ada refund yang dikembalikan, kami tidak punya bukti sama sekali bahwa pembelian tiket kami dikembalikan. Aku tidak mengerti sama sekali. Sementara pihak Air Asia bersikeras bahwa pembelian tiket kami digagalkan persis di hari keberangkatan, menurut dia satu satunya yang bisa kami dilakukan agar dapat berangkat hari ini juga adalah membeli tiket kembali dengan harga yang sama yang dikembalikan. Dan harus cash!

Ibuku menarik tanganku, menyuruh diriku berpikir jernih. Jangan panik katanya, mungkin ada baiknya kita semua kembali ke rumah dan memikirkan mungkin liburan ke Malaysia kali ini akan gagal, kalaupun masih tetap bersikeras pergi, bisa ditunggu esok hari. Tapi Luc memikirkan hotel yang telah terbayar hingga empat hari kedepan. Kemudian katanya padaku, mari coba ambil uang di ATM. Uang berhasil kami ambil dari mesin ATM dari dua kartu tabungan yang berbeda, kartu Belanda tentunya. Sisanya menggunakan uang cash yang ada di dompet ibuku, karena penarikan dari kartu ada batas limit perharinya. Saat aku menyerahkan uang dan menghitungnya di meja check in, aku menatap nanar uang rupiah berwarna merah yang tergeletak di meja. Rasanya baru kali ini aku melihat uang sebanyak itu, dan transaksi yang kami lakukan seperti jajan sate di warung pinggir jalan. Beli tiket menggunakan uang cash seperti kembali kebelasan tahun yang lalu.

Aku meminta print bukti pembayaran dan juga print refund tiket sebelumnya, selain itu aku minta via email juga, semuanya untuk pengurusan jika kami kembali ke Belanda dan harus complain pada pihak Momondo atau pada pihak Visa. Semuanya akan kami pikirkan nanti.

Malam itu kami berhasil masuk ke pesawat sebagai penumpang yang terakhir, pintu imigrasi segera ditutup sesaat setelah pasport kami diperiksa. Kemudian kami duduk dalam diam, rasanya aku merasa menanggung beban berat telah melibatkan orangtua kami dalam situasi yang tidak menyenangkan. Luc duduk diantara aku dan ayahku. Sedangkan ibuku duduk diantara Cinta dan Cahaya, mereka duduk di belakang tempat aku duduk.

Ditengah perjalanan saat pesawat membelah awan yang gelap gulita, Cinta memanggil diriku….. Bunda, aku merasa mual…… Lirih Cinta. Kemudian ibuku menyentuh dahinya, sembari berkata pelan ke arahku yang membalikan badan menatap mereka diantara sela sandaran kursi pesawat. Yayang, badan Cinta panas…..

Tanpa terasa air mataku jatuh….

(bersambung)

Advertisements

Didieu Land Punclut Dago

30 Juli 2018

Hari keenam belas

Hari ini sahabatku semasa SMA menemuiku. Dia khusus datang ke rumah orang tuaku untuk menemui orang tuaku pula. Dia yang berjanji akan datang jam lima sore ternyata baru nongol pada pukul delapan malam. Luc yang sangat menantikan kedatangnnya berkali kali bertanya padaku mengapa Heidy belum sampai juga. Ya sejak Luc mengenal Heidy, setahun yang lalu Heidy pernah mengunjungiku di Rotterdam dan menginap 4 hari di rumah kami, saat itulah Luc mulai memperhatikan persahabatanku dengannya. Ikut tertawa terbahak bahak saat Heidy menceritakan kenakalan apa yang aku dan Heidy lakukan semasa SMA dulu. Menurut Luc dari Heidy lah dia dapat mengenalku di jaman dahulu kala. Luc lebih banyak terbahak bahak dibanding terbelalak kaget mendengar cerita tentangku. Ah selucu itukah aku dulu, mengakibatkan dia dapat terbahak bahak seperti itu?

Karena ternyata Heidy datang saat hari telah larut, dia mengajak kami menginap di rumahnya, awalnya aku menolak. Tapi akhirnya menyetujui mengingat esok hari kami akan menginap di hotel, lebih mudah jika esok hari Heidy lah yang mengantarkan kami ke hotel karena jarak hotel dari rumahnya jauh lebih dekat daripada rumah orangtuaku di Cibiru. Setelah Cinda dan Cahaya bertanya apakah disana toiletnya normal atau tidak! Ahhhh dasar bocah masih urusan toilet juga.

31 Juli 2018

Hari ketujuh belas

Kami telah keluar rumah Heidy sejak pukul 11 pagi. Heidy akan mengajak kami bermain ke daerah Punclut. Ternyata lewat jalan belakang komplek rumahnya yang berada di Setiabudhi kami tiba tiba saja melintasi daerah Ciumbuleuit dan naik ke atas ke Punclut. Jalannya cukup sempit dan terjal. Kami menggunakan mobil yang tidak terlalu besar, sehingga memudahkan jika berpapasan dengan motor (klo berpapasan dengan mobil lain entahlah apakah masih muat atau tidak).

Berpuluh tahun yang lalu daerah Punclut hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki atau kuda, aku masih ingat saat SMP dulu, daerah Punclut mulai ramai dihari minggu. Orang orang berbondong bondong berjalan kali ke atas. Saat itulah cikal bakal nasi hitam menjadi beken. Saat para pendaki/pejalan kaki tiba di atas, kami akan mampir untuk makan nasi hitam bersam ikan asin, lalapan dan makanan Sunda lainnya. Menurut ayahku nasi hitam enak karena pulen dan lebih sehat. Tapi menurutku keras dan tidak seenak nasi putih.

Heidy membelokkan mobilnya ke temapt wisata DIDIEU LAND. Didieui artinya disini dalam bahasa Sunda. Heidy bermaksud mengajak kami makan di Dago Bakery Punclut yang tempatnya bersebelahan dengan Didieu Land. Tapi Cinta Cahaya langsung bersemangat begitu melihat arena outbond yang ada disana. Untuk masuk ke tempat wisata ada tiket masuk yang tidak mahal. Harga yang bersahabat. Ternyata disana selain bisa menikmati bermacam makanan, orang orang juga sibuk berfoto ria.

Tempat ini bisa dijadikan alternatif liburan jika sedang ke Bandung. Karena kami datang sebelum jam makan siang, tempatnya masih kosong. Anak anak bisa bermain sepuasnya. Tak banyaknya pengunjung mungkin juga karena saat itu bukan hari libur atau weekend. Tapi menurut Heidy jika hari menjelang sore, tempat ini akan dipenuhi anak muda yang pacaran. Ah untunglah aku tak datang sore hari, jadi tak usah nonton mereka, hihihi.

Keluar dari tempat parkir, si kembar melihat dua ekor kuda, jadinya sebelum Heidy mengantarkan kami ke hotel, si kembar masih sempat naik kuda di Punclut. Lumayanlah menghibur kekecewaan saat mereka naik kuda di The Ranch yang sekejap.

(bersambung)

Toilet

29 Juli 2018

Hari keenam belas

Liburan kali ini, aku dihadapkan dengan kenyataan bahwa kini si kembar hampir sama dengan kebanyakan anak lainnya yang agak pemilih masalah toilet. Dulu waktu ponakanku masih kecil dia rela menahan pipis atau pup jika toiletnya tidak bersih. Tapi ponakanku itu tidak pernah bilang alasan sebenarnya, dia dengan sopannya bilang pada tuan rumah bahwa dia gak jadi pipis dan bilang nanti saja di rumah. Berbeda dengan si kembar dia dengan tegas bilang pada tuan rumah bahwa mereka tidak bisa pipis jika toiletnya tidak normal. Bukan masalah kebersihan atau apa, tapi toilet tidak normal!

Nah toilet apa yang tidak normal? Yaitu toilet jongkok. Padahal dua tahun yang lalu mereka masih bisa menerima jika harus jongkok saat pipis, mereka nurut saja tapi sekarang mereka selalu menolak, bahkan rela menahan pipis. Puncaknya saat perjalan dari Bogor ke Bandung melalui jalur Puncak, saat di daerah Rajamandala keduanya sudah tidak bisa menahan pipis, sopir dah berusaha nyari tempat dimana sekiranya mereka bisa pipis, akhirnya sejam kemudian di daerah Padalarang kami menemukan toko alfa. WC nya bersih hanya tempat pipisnya harus jongkok. Cahaya masih bisa pipis, begitu giliran Cinta pipis, aku sampai harus menekan pundaknya agar dia mau jongkok, eh dia malah berdiri lagi, dan akhirnya dia pipis sambil berdiri! Ampun drama banget, aku sampe marah marah dan ngamuk di tempat. Terus keluar dong ceramah panjang lebar bahwa dimanapun mereka berada harusnya bisa menyesuaikan dengan keadaan sekitar.

Nah rencana kami, jika kami berada di Bandung, kami akan membagi menjadi tiga diamana kami menginap, di hotel, rumah orangtuaku di Cibiru dan di rumah adikku di Jongjolong. Hari kedua setiba di Bandung kami siap mengungsi ke rumah adikku, baru satu hari mereka meminta balik lagi ke Cibiru dengan alasan disana toiletnya tidak normal.

Selama liburan di Indonesia kali ini, jika kami pipis di rest area si kembar akan gembira saat menemukan WC duduk, berbeda denganku aku lebih memilih WC jongkok jika di tempat umum, lebih aman menurutku dan tidak repot mesti membersihkan dudukannya dengan tisu berkali kali.

Jika kalian memilih yang mana?

Cuanki Serayu (Here we go again)

28 juli 2018

Hari kelima belas

Si kembar kembali protes setiap kali aku bersenandung intro soundtrack Mission: Impossible. Mereka menagih janji untuk nonton film Mama Mia 2. Sebelum kami berlibur, kami telah melihat thriller Mama Mia Here we go again. Aku mengatakan pada si kembar bahwa aku nonton film Mama Mia pertama pada bulan juli 2008 di bioskop berdua ibuku. Dan inilah film terakhir yang aku tonton bersama ibuku sebelum aku meninggalkan Belanda. Rasanya nonton film kala itu seperti perpisahan antara ibu dan putrinya apalagi film tersebut bercerita antara ibu dan anak gadisnya ditambah lagu lagu dari ABBA favorit ibuku. Aku bercerita pada si kembar bahwa jika kami nonton film Mama Mia 2 saat liburan di Indonesia akan menjadi hari antara ibu dan anak perempuannya, dan aku berencana mengajak ibuku. Akan ada tiga generasi.

Ternyata hari itu tanteku datang berkunjung, dia mengajakku makan cuanki Serayu. Aku setuju. Tanteku yang datang dengan anak perempuannya tiba pukul sepuluh pagi, kami bermaksud nonton Mama Mia terlebih dahulu di Paskal Square sebuah mall di Pasir Kaliki. Sayang setelah melihat jalanan yang macet, kami berganti haluan ke arah jalan Serayu terlebih dahulu. Dan astaga aku terbelalak begitu sampai disana dan melihat antriannya yang mengular.

Sepupuku yang masih berusia 23 tahun menenangkanku saat aku tak yakin haruskah kami jadi makan cuanki disana. Namun dia dengan sigap menenangkanku bahwa semuanya akan berjalan dengan lancar. kami yang membawa rombongan sebanyak sembilan orang, digiring ke meja di sebuah halaman rumah yang nyaman, kami duduk di bawah pohon rindang. Aku dan sepupuku ikut dalam antrian. Uci (sepupu) menerangkan bahwa yang berdiri di barisan kiri adalah mereka yang akan makan cuanki di tempat, sedangkan orang yang mengantri di sebelah kanan adalah mereka yang akan membawa pulang pesanannya.

Cuanki yang legendaris itu ternyata tak sesuai harapanku. Hanya oke! Dan aku masih bingung mengapa begitu banyak orang hingga antri luar biasa. Tapi menurut Uci dan tanteku, inilah satu satuanya cuanki yang sesuai dengan lidahnya. Dia tak merasa aneh jika orang orang rela antri seperti ini.

Selesai makan cuanki Serayu kami melanjutkan perjalanan ke Paris van Java. PVJ adalah mall besar di Bandung yang menjadi favorit Luc sejak pertama kali dia datang ke Bandung. Dan kali ini dialah yang menjadi guide kami di mall tersebut. Dialah yang menunjukan dimana mushola berada, tempat anak anak bermain ice skating bahkan mesin ATM pun dialah yang menunjakannya. Dia juga berkata bahwa ada toko yang menghilang terakhir kali dia datang dua tahun yang lalu tapi muncul toko toko lain yang dulu tidak dia lihat. Oh ya saking seringnya dia datang seorang diri ke PVJ, seorang teman pernah mengirim wa kepadaku, bahwa dia suatu hari melihat Luc seorang diri di PVJ, dan aku langsung membenarkannya bahwa dia datang ke PVJ untuk nonton film.

Aku membeli tiket film sebanyak 9 buah. Dan sedikit terpana saat total biaya tiket, popcorn, soft drink dan coffee hampir mencapai 1 juta rupiah. Mahal kataku pada Luc sambil memperlihatkan jumlah bill saat aku membawa minuman dibantu Uci. Murah. Jawab Luc. Kamu harus ingat kita nonton bersembilan. Oh ya ternyata kami tidak jadi menonton hanya para wanita saja. Karena Luc dan ayahku memutuskan menonton film yang sama dengan kami dan juga saat itu aku menculik ponakanku yang seumur dengan si kembar untuk ikut berjalan jalan dengan kami dan dia adalah seorang anak laki laki.

Diluar dugaanku setelah keluar dari bioskop semuanya begitu bersemangat berdiskusi tentang film yang baru kami tonton. Bagi ibu, ayah dan tanteku melihat film mama mia adalah menyenangkan karena mengingatkan masa muda mereka yang tumbuh bersam lagu lagu ABBA, sedangkan bagi si kembar adalah karena mereka menyukai musik dan film yang bernuansa girly. Tak heran jika sesudah kami tiba di rumah, si kembar sibuk browsing mengenai film Mama Mia 2 dan ingin tahu tentang film Mama Mia sebelumnya.

Satu satunya yang kurang menikmati film tersebut adalah ponakanku Ghaly, dia berkali kali mendapat lirikan tajam dari Luc karena berkali kali mengajak ngobrol Cinta yang duduk di sebelahnya terutama saat popcornya telah habis. Dia juga satu satunya yang keluar ke toilet saat film sedang berlangsung dan Luc lah yang harus mengantarkannya ke toilet. Menurutku film Mama Mia 2 lebih menarik dari film Mama Mia sebelumnya. Tak percuma kami harus menunggu sepuluh tahun kemudian untuk dapat melihat lanjutan film Mama Mia. Mama Mia Here we go again.

(bersambung)

Mijn Tommetje, Mission: Impossible

tommetje fallout

Hari keempat belas

27 juli 2018

Cahaya belum juga membaik, walau hari ini sudah tidak muntah muntah tapi tubuhnya masih lemas. Hari ini setelah para lelaki shalat jumát, Luc dan ayahku ikut menemaniku bertemu dengan kekasihku, Tom Cruise!

Jaman dahulu kala Luc pernah bertanya padaku siapa aktor favoritku. Tentu saja dengan tegas aku menjawab Tom Cruise. Sejak aku melihat dia bermain di film Top Gun saat itu juga aku menetapkan dia adalah aktor terhebat di mataku. Begitu film Top Gun akan ditayangkan di bioskop di kota Bandung untuk pertam akali, aku sudah meminta ayahku untuk menemaniku pergi ke bioskop. Sayang sekali karcis telah terjual habis saat kami tiba di bioskop. Esoknya aku pergi dengan kedua kakakku siang ahri setelah pulang sekolah. Nonton di bioskop Nusantara di gedung Palaguna, bioskop termahal saat itu. OMG aku masih ingat sekali harga tiketnya seharga 3000 rupiah!

Luc yang mendengar alasanku mengapa aku saat itu memuja Tom Cruise (karena tampan) langsung terbahak bahak. Dia tidak terlalu tinggi lho! Tometje! Arti dari Tommetje adalah Tom kecil, namun tje berarti pula adalah panggilan kesayangan. Biasanya yang mendapat akhiran tje adalah nama anak kecil.  Terus kenapa? Tanyaku. Apakah kamu tahu bahwa dia penganut Scientology? Lanjutnya. Apakah salah? Aku balik bertanya. Dan Luc semakin terbahak mendengar jawabanku. Sejak tau siapa favoritku, setiap kami menemukan film terbaru Tom Cruise, Luc selalu memberitahukanku… Yayang, film terbaru Tommetje akan segera tayang. Sejak itulah kami menyebut Tom Cruise menjadi Tommetje.

Setelah aku menonton Top Gun, aku nonton film Coctail. Tidak terlalu berkesan tapi tetap aku ingat jalan ceritanya termasuk lagu la bamba yang jadi soundtrack film coctail. Setelah menonton film Rain man, aku jadi mengagumi akting Dustin Hofman. Barulah setelah melihat film A few good man dan Jerry Maguire aku kian menyadari bahwa Tom Cruise adalah salah satu aktor hebat. Di film Vanila Sky aku kurang bisa menikmati filmnya, entah karena terlalu rumit atau karena kala itu aku nonton berdua dengan calon pacar yang tidak pernah menjadi pacar. Padahal film tersebut ditaburi banyak bintang terkenal. Kasus sama terjadi padaku saat nonton Minority Report. Rumit sekali menurutku. Oh ya apakah karena aku nontonnya dengan pacar gelap? Hihihi.

Barulah saat aku nonton film Jack Reacher, aku dapat berpikir dengan baik dan tak meragukan Tommetje bahwa dia adalah jagoan yang luar biasa. Aku bisa mencerna jalan ceritanya dengan baik, entahlah apakah karena aku menonton dengan milikku yang sah! Hahaha. Beberapa film Mission: Impossible aku tonton sebelum aku tinggal di Belanda. Dan dengan siapapun aku menontonnya kala itu aku dapat mengikuti jalan ceritanya dengan baik. Oh ya buat kalian yang belum nonton film Jack Reacher, tontonlah segera. Sangan intertaining. Walau seperti kebanyakan film action lainnya yang tidak begitu diingat dalam waktu yang lama (tidak melekat di hati) tapi film tersebut dapat menghiburku saat aku menontonnya. Pokoknya Tommetje the best lah di film tersebut.

Hari itu tanggal 27 juli satu hari setelah si kembar berulang tahun, aku menonton dengan dua lelaki yang sangat mencintaiku… seuamiku dan ayahku. Keduanya penggemar film, dari ayahkulah aku mengenal banyak film, beliaulah yang selalu mengajakku nonton bioskop. Saat aku masih remaja dimana teman temanku  nonton bersama pacar mereka di malam minggu, aku malah sering nonton berdua dengan ayahku. Ternyata kini aku berjodoh dengan orang yang gila film juga, Luc. Sebelum dan sesudah nonton film Mission: Impossible aku selalu menendangkan soundtrack intro film tersebut.. Teng teng teng teng teng (bacalah dengan nada film Impossible yang kalian ingat!)

Nice film. Seru ayahku sesaat kami keluar dari bioskop. Jauh lebih baik dan bermutu daripada film Escape plan 2. Seru ayahku. Beberapa hari yang lalu ayahku sudah nonton film tersebut berdua dengan Luc. Oh ya ayahku adalah orang yang paling sering menemani Luc nonton film selama di Indonesia bahkan ayahku sendirilah yang menawarkan diri agar diajak Luc nonton film. Biasanya sih nonton film action kalau merekan nonton berdua tapi kini jika Luc nonton film hororpun ayahku akan ikut serta.

Kembali lagi bicara tentang Tom Cruise, Cinta Cahaya belum mengerti sepenuhnya tentang rasa kagum seorang fans pada tokok idolanya. Berkali kali mereka selalu mengingatkanku bahwa aku menikah dengan papanya, tapi mengapa masih bisa jatuh cinta pada Tom Cruise. Itu salah, bunda. Begitu kata mereka. Jika aku secara sengaja memuji muji Tom Cruise mereka selalu bergidik jijik. Iihhhhhhh….. Begitu selalu. Jelek. Kata mereka. Ah kalian belum bisa menilai antara jelek dan tampan. Dia tua, bunda. Ah dia jauh lebih muda dari usianya. Bagiku dulu dan sekarang dia sama menariknya. Hahaha. Bahkan semakin tampan daripada dulu. Ohhhh bunda, itu salah sekali! Papa jauh lebih tampan. Teriak si kembar bersamaan.

(bersambung)

Nine years old

26 juli 2018

Hari ketigabelas

Hari ini si kembar berulang tahun yg ke 9. Di hari ulang tahunnya ini, aku dalam keadaan kondisi kurang fit. Mungkin akibat terlalu padat ya jadwal kami selama ini, tiada hari tanpa istirahat. Tak hanya aku yang kurang fit, Cahaya setiba di Bandung dia langsung muntah di tempat tidur. Kami tiba pukul 11 malam dari Bogor.

Sopir membawa kami melewati jalur Puncak, kami makan malam di sate Maranggi Puncak yang legendaris tersebut.

Luc bersama si kembar tidak keluar dari mobil saat aku berdesak desakan mengantri sate, mereka sama sekali tak mau makan malam, apalagi Luc yang tengah diare.

Entah karena perut kosong atau masuk angin, Cahaya muntah saat dia akan tidur. Esoknya kondisi bukannya membaik namun bertambah buruk, di hari ulang tahunnya itu dia muntah hingga 4 kali disertai demam. Aku yang sejak bangun pagi merasa mual tambah panik melihat kondisi Cahaya. Ditambah lagi hari ini adalah jadwal aku akan mengurus pembuatan e ktp.

Setelah mereka bangun pagi, aku mengucapkan selamat ulang tahun di tempat tidur, trenyuh melihat kondisi Cahaya yg lemas. Hari itu tak ada kue ulang tahun, tak ada tiup lilin. Aku dan Luc memberikan kado ulang tahun yang aku beli di Belanda. Cinta bertanya apakah sepupunya akan datang di hari ulang tahunnya. Aku menjawab bahwa aku dan Luc tak merencanakan apa pun untuk hari ulang tahun si kembar, hanya makan di restaurant seperti hari hari sebelumnya selama liburan.

Ternyata untuk makan malam pun kami tak sempat makan diluar, selain aku kembali ke rumah melebihi jam makan malam (setelah seharian mengurus e ktp di kecamatan, mengurus urusan per-Bank-an yang untuk berbicara dengan CS pun aku harus menunggu hingga satu setengah jam!) juga kondisi Cahaya yang panas dan juga tak mau makan apa apa, membuat kami yang ada di rumah tak berselera untuk pergi ke restaurant malam itu.

Dan bayangkanlah untuk mengurus segala birokrasi di hari itu, aku harus menjalankan nya dalam keadaan diare ringan, mual dan penciuman ditenggorokan (eh apa pula ini😁) akibat sate Maranggi semalam yang masih terasa di kerongkongan membuat diriku merasa mual. Ah inilah akibat aku kebanyakan makan sate. Kamerkaan klo istilah Sunda nya.

Walau tak ada pesta hari itu(bahkan foto yg aku buat di hari ulang tahunnya adalah foto mereka di tempat tidur saat aku mengucapkan selamat), namun doa akan tetap hadir setiap saat untuk kalian…. Semoga Cinta dan Cahaya selalu berada dalam lindungan Nya, selalu sehat dan bahagia….. Juga selalu bisa memberikan cahaya serta cinta untuk sesama mahluk….

Happy birthday cahaya hati ku…

Jungle land Bogor

Hari keduabelas

25 juli 2018

Pukul 8 pagi, aku dan si kembar susah siap siap akan turun ke bawah buat sarapan, tapi Luc masih tampak tertidur. Saat aku membangunkannya dia tetap tak mau bangun dari tempat tidur, perutnya sakit. Kemaren malam kami berencana diajak makan malam oleh kakak ku, tapi tiba tiba sepulang kerja (dia kerja di jakarta tapi rumah di bogor) dia harus mengurus ibu mertuanya di rumah sakit. Jadi lah aku berempat makan malam di mall Botanical Square depan Hotel, aku makan baso malang Luc ikut ikutan pesan baso malang. Saat kami kembali ke hotel, kakak ku mengabarkan dia akan mampir ke hotel untuk menemui ku. Dia tiba pukul 10 malam dan mengajak makan wedang Ronde kesukaan Luc. Tak hanya wedang ronde yang di lahap Luc dia juga makan ketan duren. Sepertinya perpafuan ketan dan wedang ronde itulah yang menyebabkan dia tumbang hari ini.

Luc benar benar menyerah dengan sakit perutnya, dia tak mampu turun ke bawah untuk sarapan. Hari ini kami akan kembali ke Bandung, sebelum meninggalkan kota Bogor kami berencana ke jungle land. Sopir yg diutus ayah ku dari Bandung sudah duduk manis di lobby hotel pukul 10 pagi, dan surprise surprise ayah ku sudah duduk juga disana. Katanya dari pada duduk saja di rumah lebih baik ikut jalan jalan ke bogor.

Luc meminta kami membatalkan acara ke jungle land, dia ingin segera kembali ke rumah orang tua ku di Bandung. Akhirnya aku mengambil jalan tengah, aku dan anak anak tetap pergi ke jungle land sedangkan luc akan tetap di hotel, hingga kami selesai bermain dari Jungle Land dan kembali ke hotel untuk menjemput Luc. Untuk itu kami dikenakan charges karena melebihi waktu dari check in.

Anak anak begitu suka cita saat tiba di jungle land. Mirip Dufan dalam versi mini. Tapi aku lebih menyukai jungle land karena sepi. Dan yang membuatku lebih bahagia karena karcis masuknya terjangkau (185 ribu) ditambah kortingan 25 persen karena hotel tempat kami menginap memberi voucher discounts. Ayah ku dapat masuk gratis karena diberi karcis manula. Dari mulai kami masuk gerbang petugas disana ramah ramah. Bahkan ada yg minta welfi segala dengan si kembar.

Saking sepinya beberapa atraksi harus menunggu penumpang hingga 4 penumpang agar atraksi bisa dijalankan. Semua atraksi nyaris kosong, saking kosongnya aku beranggapan bahwa lebih banyak petugas dari pada pengunjung. Lebih dari itu kita tidak usah khawatir kelaparan karena banyaknya kios makanan di dalam sana.

Selain itu jalan menuju jangle land sungguh menyenangkan, tidak macet seperti ke Puncak. Jungle land berlokasi di daerah sentul.

Hari itu untuk pertama kalinya, aku bisa bercerita banyak dengan ayah ku. Dia sabar sekali mendampingi si kembar, ayah ku telah sepuh telah berusia 76 tahun, semangat nya masih tinggi. Kami anak anak nya selalu menyebut beliau our hero.

Terima kasih ayah, terima kasih kakek tercinta

(bersambung)