Jajan apa di Jogya?

Lima hari di jogya

(19-23 Agustus 2019)

Yang paling di damba jajan pecel yang jualannya si mbok trus pake bakul gitu. Tapi, liburan kali ini aku belum menemukannya. Entah ngumpet dimana itu si mbok.

Jadi dah jajan apa dong?

Kopi klotok

Pulang dari MGM (museum gunung semeru), ponakan ku yang sedang kuliah di UGM dan yang siap siaga mengantarkan kami jika tidak ada jadwal kuliah membelokan mobil nya ke jalan sempit dimana di belokan jalan terdapat penunjuk jalan bertuliskan kopi klotok.

Ngopi dulu, teu! Serunya. Aku makin tertarik saat dia merekomendasikan tempat ini sedang menjadi tempat kekinian sebagai tempat nongkrong anak muda di jogya dan para turis lokal yang sedang berkunjung ke jogya.

Eitss benar saja apa kata ponakanku, di tempat parkir yg seadanya, sudah berjejer mobil mobil juga di jalanan menuju kopi klotok. Begitu aku berjalan menuju tempat tersebut dan melihat tempatnya, aku kian terpana melihat penampilan nya. Jangan berharap kalian akan melihat tempat makan mewah yang modern, yang kesohorannya telah memanggil para pecinta kuliner dari pelosok dunia (ya ya terlalu hiperbola sih๐Ÿ˜).

Tempatnya adalah rumah sederhana khas jogya yang tua dan antik. Melihat ini semua, aku makin penasaran untuk merasuk ke dalam, ponakan ku mengarahkanku untuk berbaris di antrian yg panjang, ini prasmanan teu, kata ponakanku menjelaskan.Tiba giliran kami menyendokan nasi ke piring, sang ponakan memperingatkan Luc untuk mengingat makanan yg dia taruh di piring, gunanya untuk menghitung saat pembayaran nanti. Aku tertawa pelan sambil berkata pasti inget lah, karena menu yg tersedia tak banyak pilihan nya.

Sementara si kembar menolak untuk ikut makan saat melihat menu yang tersaji.

Selesai melewati fase pengambilan nasi dilanjutkan fase pencarian tempat duduk. Ini yg agak susah apalagi buat aku yang pertama kali kesana. Akhirnya kami mendarat di selembar tikar, tentu saja meneer Luc kesulitan saat aku harus bersila.

Peluh bercucuran saat dia menyantap nasi yg bermenu sayur lodeh, tahu goreng dan telur dadar yang mirip telor ceplok. Aku dan dia sama sama kepedasan akibat sayur lodeh yang dimasak ala rumah an ternyata pedas sekali sehingga sambal rawit merah yang aku serta kan di piring tak aku sentuh. Sungguh pemandangan yang memilukan melihat Luc tersiksa seperti itu sementara air minum yang kami pesan tak kunjung tiba juga. Sementara kami berdua tak kuasa menghabiskan makanan kami, ponakan ku dengan gilang gemilang makan dengan nikmatnya sementung nasi berlauk telor dan tahu goreng.

Saat aku membayar apa yang kami makan, di lorong menuju pintu keluar kulihat beberapa pigira bertanda tangan artis terkenal diantaranya Meriam Bellina. Oh ya, saat kami makan aku melihat sosok cantik semampai bersama seorang pria yang tak kalah ‘menggiurkannya’ dengan sang wanita. Apakah sang wanita itu Luna M? Aha, sayangnya aku bukan lambe lambe yang ada di medsos untuk mencari tau.

Je Jamuran

Tak sengaja aku melihatnya saat kami pulang dari arah Magelang menuju hotel di Jogya. Dan kami sungguh bersyukur bisa mampir kesana. Makanannya cocok di lidah ku dan aku adalah penggemar jamur. Semua makanan yang ada disana hampir semuanya mengandung unsur jamur, bahkan es cendol yang di pesan Luc sekali pun.

Disana kami memesan paket menu 1, paket ini diperuntukan untuk 4 orang, walau pun kami datang berlima (bersama Sopir) tapi toh paket yang untuk 4 orang tersebut tak seluruhnya mampu kami habis kan, mungkin krn si kembar hanya makan nasi saja dan kerupuk hihihi, sehingga menu yang tersedia tak habis.

Nuansa rumah makan nya pun cukup nyaman, ada sinden yang nenyanyi diiringi gamelan Jawa. Seperti biasanya Luc selalu terpana melihat mereka yang memainkan musik tradisional Indonesia.

Lumpia Samijaya

Adanya di trotoar malioboro dan sepertinya terkenal dikalangan orang lokal yang tinggal disana.

Penampilannya mirip lumpia semarang tapi lumpia yang ini bukan berisi rebung namun berisi irisan bengkuang. Harga satuannya 5000 sedangkan yang special (diisi telur puyuh) seharga 6000.

Jika kita membeli minimal 10 biji untuk dibawa pulang maka lumpia yg telah digoreng itu akan dimasukan ke besek bambu, berpenampilan tradisional dan tentunya ramah lingkungan.

Advertisements

Memories of Dieng

Hari ke 18

21 Agustus 2019

Ternyata berbeda dari ingatanku saat aku pertama kali mengenal Dieng. 16 tahun yg lalu. Dulu sunyi senyap disana, udara dingin terasa menggigit. Suasana alam yang tentram membius hatiku, aku jatuh cinta!

Kawah Sikidang yg dulu terasa sulit dijamah, kini dengan mudah didaki, ada jalan setapak bersemen yang membantu kita mencapai ke kawah. Bahkan sebelum mencapai tujuan, kita harus melewati tenda tenda penjual makanan dan oleh oleh di kanan kiri. Mereka gembira saat kami melirik dagangannya kemudian membelinya. Tak perlu gundah gulana saat menyadari tangan sudah penuh oleh tentengan, ada tangan lain yg bisa menerima perpindahan tentengan ke tangan lain di sepanjang perjalanan pulang nanti, tukang parkir yg gembira menerima kentang untuk di masak istrinya di rumah nanti. Ada petani kentang yg sumringah saat carica yg kami beli bisa dia bawa pulang untuk anaknya.
Walau begitu saat kami tiba diatas, kami cukup ‘terpana’ melihat pemandangan dibawah, kok jadi seperti melihat rumah bedeng yg merusak pemandangan alam. Kalau dalam bahasa Sunda nys, jadi ‘sareukseuk’ atau romelig dalam istilah lainnya. Namun disisi lain mungkin Inilah yg disebut meningkatkan perekonomian daerah.

Saat memasuki kawasan komplek candi Arjuna, pemandangan sudah tertata rapi, yang berbeda kini pengunjung diharuskan memakai kain batik saat memasuki kawasan tersebut, jika dahulu dapat masuk begitu saja. Dan tentu saja kini semuanya berbayar mulai dari bawah saat kami masih berada di Mobil, tiket masuk yg berlapis lapis.

But anyway, kami dalam keadaan liburan, menikmati hari ini, sambil tetap bersyukur tentunya.

Dan ini bonus video๐Ÿ˜

Pengalaman seorang bule nyetir di Bandung

Jangan cemas jangan takut dan tak perlu khawatir jika butuh grab atau ojol, ada mamang Luc yang siap mengantarkan anda kemanapun!

Seminggu sebelum kami terbang ke Indonesia, tiba tiba Luc memutuskan untuk membuat SIM International untuk di gunakan di Indonesia. Prosesnya gampang;

1. Datang ke kantor/toko Anwb sambil membawa pas photo

2. Memperlihatkan SIM Belanda

3. Tralaa SIM segera di tangan dalam hitungan menit, setelah membayar tentunya.

Masa berlaku SIM hanya tiga tahun lamanya.

Seorang sahabat bertanya pada Luc apakah dia akan berani nyetir di Bandung dengan lalu lintas yang aduhai? Luc menjawab bahwa sesuangguhnya dia pun ragu, tapi setidaknya dia ingin mencoba terlebih dahulu.

Keputusan berkendaraan sendiri di Bandung mengingat rumah orangtuaku jauh dari pusat kota, ayah ibuku tinggal di Cibiru daerah Bandung selatan sedangkan daerah ‘jajahan’ Luc selama liburan berada di Bandung utara. Biasanya kami membagi dua dimana kami menginap antara hotel dan rumah orangtuaku, kadang Luc membooking satu kamar lainnya untuk ayah ibu agar aku tetap dekat dengan mereka.

Dua hari setelah kami tiba di Bandung, Luc mulai mencoba keberaniannya nyetir didampingi ayahku. Beliau yg mengajarkan trik trik jalur yang harus dilewati. Pengalaman perdana yang lancar jaya tersebut membuatnya gembira. Hari berikutnya dan seterusnya akulah yang menjadi navigasinya dibantu Google maps.

Aku cukup takjub dengan kemampuannya, handal, tidak ragu ragu dan kadang mirip supir angkot nyeruduk terus. Bahkan kakakku yang kami sebut hidup di jalanan (krn rumah di bogor dan kerja di jakarta, weekend masih juga bolak balik ke Bandung ngecek ayah ibu) memuji Luc dengan kemampuannya nyetir. Bahkan dia berseloroh sepertinya Luc dilahirkan untuk menjadi supir angkat. Ya ampun, tidak!!!

Hingga suatu hari ibuku harus mengambil obat ke rumah sakit, beliau diantar Luc. Pulang dari rumah sakit ibuku bercerita bahwa dia tak mau duduk di samping Luc yang sedang mengendarai mobil, ngeri karena ngebut katanya. Eh tak berapa lama Luc langsung menimpali bahwa diapun trauma jika ibuku yang menjadi navigasinya, banyak bilang aduh… Aduuuhhhh! Dan banyak kritik. Hahaha. Ah, aku jadi teringat cara ibuku nyetir dulu saat aku masih kecil, dia terkenal tukang ngebut. Tahun 80 an saat aku SD rasanya ibuku adalah satu satunya ibu ibu yang mengendarai mobil, di zaman itu kebanyakan hanya kaum lelaki yang mengendarai mobil. Masih terngiang dalam ingatanku saat seorang teman bertanya padaku, apakah ibumu seorang perempuan? Karena ibuku sangat tomboy saat jaman dulu kala.

Oh ya, kehandalan Luc mengendarai mobil teruji pada hari jumat kemaren lalu. Di pagi hari aku meminta adikku via app untuk membooking tiket kereta api jurusan jogya, aku memilih jalan pintas dengan minta tolong melalui adikku, pikirku tinggal transfer saja. Pukul 11.20 adikku me nelepon bahwa aku punya waktu hingga pukul 12.13 untuk membayar tiket kereta api tersebut, jika melewati pukul tersebut maka harus booking ulang. What?!!! Untung lah saat itu kami memang bersiap siap keluar rumah untuk berbagai urusan.

Dan fast and furious pun di mulai. Mobil segera keluar kompleks, tempat tinggal ayah ibu yang berada di batas kota Bandung (cibiru-cileunyi) segera membelah jalan Soekarno Hatta menuju komplek margahayu dimana atm langgananku berada (padahal atm lain juga ada sih, tapi aku mau nya disana๐Ÿ˜). Sementara Luc mencari tempat parkir aku sudah keluar dari mobil, transaksi berhasil beberapa menit sebelum waktu habis.

Kami tersenyum lega, tapi tak sampai situ ketegangan kembali teruji karena kami ingin memburu jam bioskop pada pukul 13.00 di jln Purnawarman, si kembar ingin nonton Lion King. Ajaib kami berhasil tiba di gedung bec pada pukul 12.50. Bahagia dong ga ketinggalan nonton, bahkan aku masih sempat sholat duhur di mushola bec sebelum film di putar. Keluar dari bioskop kami harus menjalankan tugas penting lainnya, yaitu menutup asuransi kesehatan prudential kepunyaanku. Setiap aku mudik ke Indonesia selalu direncanakan untuk menutup asuransi tersebut karena kurang bermanfaat untukku disebabkan kini aku kini tidak berdomisili di Indonesia. Tapi keinginan tersebut hanya wacana saja setiap aku mudik selalu ada kesibukan lain yang menyebabkan penutupan asuransi terbengkalai.

Dari jalan Purnawarman kami menuju jalan banda, perjalanan lancar dan tidak me akan waktu yang lama, yang lama adalah saat aku menunggu giliran dipanggil CS. Akhirnya urusan ku disana berakhir pada pukul 16.06 wib. Rencananya dari situ kami akan ke BIP di jalan merdeka. Namun tiba tiba aku mempunyai ide untuk pergi ke money changer mengingat perbekalan kami sudah menipis apalagi senin besok kami akan ke jogya.

Nothing to lose, kami segera pergi menuju jalan dago, syukur syukur kami bisa tiba disana sebelum pukul 16.30. Kami tiba disana pukul 16.28, security segera membawaku ke loket nomor 9 sementara luc dan anak anak segera duduk di bangku tunggu dan security lainnya menutup pintu masuk.

Semua berjalan dengan lancar, sambil menepuk bahu Luc aku memujinya, kamu telah lulus nyetir di Bandung, di tengah kemacetan dan dibawah tekanan waktu. Selamat Luc, anda berhak menjadi supir ku seumur hidup! Eh ๐Ÿคช!

Idul Adha 2019

Hari ke 7 dan 8

10 dan 11 Agustus 2019

Idul Adha tahun ini sangat special karena kami sekeluarga dapat merayakan bersama keluarga di Indonesia.

Si kembar bersama para sepupu membantu nenek membuat ketupat. Menyaksikan sapi yang silih berganti datang ke mesjid di depan rumah kami, tahun ini di lingkungan rumah orangtuaku ada 9 ekor sapi dan 1 ekor kambing yg siap di qurban kan. Menurutku cukup banyak, mengingat komplek rumah orang tua kami tidak luas.

Malam takbiran sekitar pukul 8 malam kami berangkat ke Singaparna ke kampung nenekku, karena Cinta ikut ber qurban sapi disana karena disana lebih banyak yg membutuhkan.

Perjalanan mudik ke kampung ternyata luar biasa, perjalanan yg biasa di tempuh 3 jam kini mencapai 6 jam, kami tiba di sana mendekati pukul 2 pagi. Untungnya tak banyak keluh kesah, seperti nostalgia saat aku kecil dulu saat berlebaran ke rumah nenek.

Ayah ibuku tak ikut dalam perjalanan ke singaparna, karena mereka ber qurban di Bandung, dari mereka aku mendengar kabar bahwa salah satu sapi yg akan di potong (sapi terakhir) kabur ke sisi mesjid.

Oh ya di Singaparna kami disuguhi makan siang, dan hebatnya meneer Luc berhasil menghabiskan satu piring nasi bermenu jengkol, mentimun, lalaban dan sambal. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Selamat hari raya Idul Adha, semoga kita semua selalu dalam keadaan baik, damai dan sejahtera, dan tentu saja bahagia dan sehat!

Pasar Cihapit

Hari ke 5

8 Agustus 2019

Masa kecil ku setidaknya banyak dihabiskan di daerah Cihapit dan sekitarnya (taman pramuka, jalan citarum) disebabkan dahulu tempat ayahku bekerja di jalan citarum. Hampir setiap minggu pagi pukul 6 aku sudah duduk di bonceng ayahku naik sepeda motor menuju jalan citarum, dari pukul 6 hingga 9 pagi ayah berolah raga di badminton di gor dimana ayah bekerja dulu.

Kegiatan ayah berolah raga di gor tersebut di lakukan sejak aku belum lahir hingga awal aku tinggal di Belanda. Bayangkan lebih dari 40 tahun. Setelah itu ayah tak kuat lagi bermain bulu tangkis.

Biasanya setelah main bulu tangkis, ayah membawa ku ke pasar cihapit, berbelanja pesanan ibuku, menurutku pasar cihapit walau pun kecil tapi segala kebutuhan dapur komplit tersedia disana dan pasar cihapit menurutku pasar terbersih yang pernah aku temui saat itu dan yang lebih membuatku bahagia adalah setelah selesai berbelanja ayah selalu membawaku jajan disana.

Dilain kesempatan kadang kami jajan di ujung jalan citarum, disebrang Bank nisp kini berada. Disana ada tukang cendol kesukaan ku. Cara penyajian cendolnya berbeda dari pedagang lain umumnya. Cendol disimpan di panci besar yang diketakan di tengah gerobaknya, cendol tersebut sudah tercampur dengan gula putih, es batu remuk sebesar kerikil kecil yg tajam, air santan (yang dulu aku kira susu). Sudah begitu saja, tapi bagiku rasanya luar biasa.

Kegiatan bersama ayah di minggu pagi berlangsung saat aku belum sekolah hingga akhir usia sekolah dasar, setelah itu aku semakin jarang menemaninya. Namun begitu aku sesekali mengunjungi ayah di tempat beliau bermain buku tangkis.

Entah mudik yang pertama atau kedua, aku membawa Luc mendatangi tukang cendol masa kecil ku. Senang rasanya bisa bernostalgia. Kira kira dua jam setelah itu, kepala Luc pusing, keringat dingin bercucuran disertai mulas yang amat sangat, dia minta mobil segera dibelokan untuk mencari toilet.

Sejak kejadian tersebut setiap melihat tukang cendol di taman citarum, Luc selalu tersenyum penuh makna dan tak pernah mau mencobanya kembali.

Hari ini (kamis tanggal 8 agustus) kami berkesempatan mengunjungi pasar cihapit, pukul 9 pagi kami berempat didampingi sepupuku sudah ada disana setelah menikmati sarapan di hotel secara kilat, awalnya si kembar menolak mendatangi pasar tradisional tapi setelah aku menjelaskan bahwa pasar cihapit tidak menyeramkan seperti pasar tradisional yang mereka kenal sebelum nya, akhirnya mereka sepakat untuk masuk ke dalam, ternyata di dalam pasar mereka senang luar biasa.

Setelah kami memasuki lorong /pintu masuk pasar, kami berhenti di jongko penjual kolang kaling. Telah menjadi tradisi jika aku pulang ke Indonesia bibiku selalu mengoleh olehiku kolang kaling buatannya.

Sementara sepupuku memilih kolang kaling, kami berempat merasuk ke dalam pasar. Si kembar tertarik akan proses penjualan kelapa parut. Kami sampai berdiri kurang lebih 5 hingga 7 menit untuk melihat si penjual memperagakan pekerjaan nya, di mulai dengan mengupas kelapa, mengeluarkan airnya, kemudian memasukan kalapa ke mesin parut yg menurut si kembar fantastic.

Di bagian akhir/belakang ada satu tukang ayam, dengan bergidik si kembar memandangi ayam potong yg bergelantungan, tiba tiba kami melihat di pojokan meja seseorang sedang memegangi ayam hidup dan siap disembelih, sementara aku segera menggiring Cahaya untuk secepatnya melewati tukang ayam, Cinta meminta papanya untuk sebentar menemaninya melihat penyembelihan ayam. Aku sampai takjub melihat keberaniannya. (Tapi ternyata siangnya saat kami makan sate ayam dua menolak sate ayam kesukaan nya, dan saat itu Cahaya memutuskan tidak akan makan ayam lagi karena teringat saat ayam disembelih, kasihan katanya. Aha, aku berharap keputusan itu hanya temporary saja).

Didalam pasar pula, aku meligat warung nasi ibu Eha yang legendaris tersebut. Hingga kini aku belum pernah mencoba makan di warung tersebut, padahal sesekali aku ingin sekali makan disana.

Saat kami selesai dengan urusan di pasar, di dekat pintu keluar aku melihat penjual tutut (bekicot) sudah dari sejak jaman dahulu kala Luc ingin sekali makan tutut di Bandung tapi belum pernah terlaksana. Aku membeli satu bungkus tutut untuk percobaan. Hari itu kami check out dari hotel dan kembali ke rumah orang tua ku di cibiru, di malam hari Luc menikmati tutut yang aku beli di pasar, menurutnya tutut yang dia makan lebih enak dari bekicot yang dua makan di Prancis. Bumbunya enak katanya.

Aku dan ibuku yang belum pernah mencoba tutut tetap menolak saat luc beberapa kali menawari ku untuk mencobanya. Hihihi masih belum tega rasanya memakan binatang yang satu itu.

Rujak Macan

Jangan sedih dan tak perlu panik pemirsah sekalian. Kami tetap bisa menginap di Papandayan hotel malam itu, setelah type kamar yang kami pesan tak tersedia, si mbak ramah pegawai teladan itu menawarkan type kamar lain yang sungguh aduhai dengan budget diatas standard yang biasa kami gunakan. Dengan lemas kami meminta izin untuk duduk di lobby dan mendiskusikan langkah selanjutnya. Sementara si kembar sudah berlari kesana kemari saking bahagia nya karena akan tidur di hotel (entah kenapa mereka selalu senang jiga liburan dan menginap di hotel).Saat Luc memutuskan akan mengambil kamar yang ditawarkan, adikku yang sedari tadi sibuk duduk di lobby dan browsing dengan modal WiFi dari hotel menunjukan kamar hotel dari aplikasi booking online traveloka. Bukan family room tapi cukup nyaman untuk menampung kami berempat, twin room. Ah seperti iklan di tv saja, kemudian kami datang kembali ke meja represionist sambil menunjukan bukti booking dengan harga yang jauh dari yang ditawarkan sebelumnya.Esoknya, pagi pagi sekali kami sudah keluar Hotel, naik beca menuju jalan macam. Tempat yang dituju adalah rujak/lotek macam. Tempat tersebut belum buka saat kami datang kesana, terpaksa untuk membunuh waktu aku memenuhi permintaan Luc pergi ke salon untuk di potong rambut. Anjuran untuk menunda potong rambut setelah hari minggu nanti (Idul Adha) tak dihiraukannya. Sementara si kembar sudah duduk manis di tempat tunggu menunggu giliran dicuci dan blow saja.Dari jalan banteng dimana salon ananta berada kami berjalan kaki ke jalan macan, waktu belum menunjukan pukul 10 pagi tapi tamu diperbolehkan untuk tetap masuk dan memesan makanan. Seperti biasa Cinta yang susah makan tak mau memesan makanan, sementara cahaya seperti biasanya dia meminta lontong dan sambal kacang saja, kemudian aku memesan kan kupat tahu untuk Cahaya yang dimakan bersama sama dengan Cinta. Dan kupat tahu tersebut tandas dimakan mereka berdua (dan kini menjadi makanan kesukaan Cinta). Luc memesan rujak banci, karena tertarik dengan namanya saja. Rujak banci adalah perpaduan dari rujak uleg dan rujak cuka. Dan aku memesan siomay.Kuliner pertama di Bandung, sukses kami lalui untuk pagi ini, aku senang mendapati si kembar yang mempunyai makanan kesukaan baru, kupat tahu!

Datang dalam keadaan gelap gulita

Hari pertama

4 Agustus 2019

Setelah menempuh 15, 5 jam perjalanan akhirnya kami mendarat di bandara Soekarno Hatta. Tak seorang pun yang menyambut kedatangan kami. Ya, mudik kali ini benar benar sebuah kejutan untuk semua orang, termasuk diriku! Bagaimana tidak, dua minggu yang lalu orang tua ku baru meninggalkan Belanda setelah satu bulan lamanya berlibur di rumah kami. Dan selama mereka di Belanda, mereka tidak tau sama sekali bahwa kami akan berlibur ke Indonesia dua minggu setelah kepulangan mereka.

Rencana awal, kami akan naik bis primajasa menuju Bandung begitu keluar dari bandara, eh siapa sangka saat aku mendorong troli koper aku berpapasan dengan seorang bapak berseragam biru muda, aku pikir dia adalah seorang petugas bandara. Aku bertanya dimana halte primajasa berada, si bapak malah menawari ku untuk naik taksi ke Bandung. Aku malah bertanya emangnya cukup sebuah taksi dengan penumpang 4 orang yang membawa 8 koper? Si bapak menjawab bahwa akan ada berbagai macam jenis mobil yang dapat membawa kami sekaligus.

Setelah deal harga (yg ternyata 4 kali lipat dari harga jika naik travel biasa) tiga orang petugas dengan cekatan segera mendorong troli koper kami menuju mobil ‘taksi’ berada. Pak Sopir yang membawa kami bernama Suroso berasal dari Solo, dia sangat ramah dan sopan. Perjalanan menuju Bandung ditempuh dalam keadaan gelap gulita. Hari itu tanggal 4 Agustus 2019, mulai siang hari hampir seluruh bagian Jakarta dan jawa Barat bahkan konon sepulau jawa tidak ada aliran listrik!

Masalah mulai ada saat sudah berada di dalam kota Bandung, aku kesulitan menunjukan jalan yang benar pada pak supir ke arah jalan Nilem sementara keadaan jalan gelap gulita dan Google maps tidak berfungsi karena koneksi Internet terganggu akibat tidak adanya aliran listrik, untung lah aku segera mengenali jalan setelah melewati jalan buah batu. Aku turun dari mobil bersama si kembar, menekan bel yang tidak berfungsi kemudian memukul mukul pintu pagar dengan batu sambil berteriak permisi. Kulihat seseorang membawa lilin di balik kaca jendela, adik iparku muncul, meletakan lilin yang tengah dibawanya, menjerit jerit kecil melihat Cinta Cahaya, aku masih bersembunyi di balik pagar, kemudian muncul adikku, terbengong bengong mendapati istrinya tengah memeluk si kembar. Dia segera melihat ku yang tengah mematung di balik tembok pagar, datang dan kami berpelukan. Sambil melepas pelukannya adikku bertanya dimana Luc dan mengapa kami hanya bertiga. Senyumnya mengembang saat aku menunjuk mobil yang berada di sebrang rumah, kemudian Luc muncul.

Setelah menjelaskan pada adikku, bahwa tak seorang pun yang mengetahui kedatangan kami sekeluarga, dia menyanggupi bahwa kini dia akan menjadi bagian dalam menjaga rencana kami untuk membuat kejutan pada anggota keluarga lainnya. Besok adalah waktunya kami mengunjungi orang tua untuk membuat kejutan kedatangan kami. Setelah menurunkan 7 koper di rumah adikku, kami segera meneruskan perjalanan ke arah jalan jalan Gatot Subroto dimana hotel Papandayan berada, disana kami berencana menginap satu hari. Adikku dengan mengendari motor mendampingi taksi yang kami tumpangi menuju hotel, sementara Cinta dengan suka cita telah berada di boncengan motor bersama adikku.

Setelah memberikan passport Luc dan memberitahukan bahwa dia telah memesan satu kamar di hotel tersebut secara online, petugas hotel yang melayani kami memberitahukan bahwa nama Luc tak tercantum di hotel tersebut, dengan sigap aku mengeluarkan bukti booking yang telah aku print di rumah dan menyerah ka nya pada petugas tersebut. Si mbak yang ramah itu kemudian sambil tersenyum menunjukan tanggal yang tertera di kertas itu untuk check in dan check out adalah tanggal 18 dan tanggal 19 agustus. Aku melirik Luc yang tengah terbengong bengong kaget disampingku.

Dengan memelas aku bertanya pada si mbak yang ramah dan cantik itu, apakah ada kamar kosong lainnya untuk hari ini?

Kemudian kami berdua mematung saat si mbak menggeleng……

(bersambung)