Kasteel de Haar

Berkunjung ke kastil de Haar bagaikan berada di cerita HC Andersen yang dulu aku baca, seperti dongeng saja.

Dimulai saat liburan natal anak anak sekolah yang libur selama dua minggu, kami tak banyak merencakan liburan musim dingin seperti biasanya. Karena keungan yang harus dijaga ketat dan padatnya kunjungan di tiap weekend dalam beberapa minggu terakhir membuat kami tak ber-planning untuk mengisi liburan musim dingin dengan ‘sepatutnya’.

Kami menginap satu malam di hotel Bilderberg T’Speulderbos yang berada di Garderen, daerah yang terletak diantara Utrecht dan Amersfoort. Anak anak sangat menikmati fasilitas hotel yang bersahabat dengan anak anak, kolam renang indoor, sauna dan  banyaknya fasilitas bermain. Kami  menambah jam check out hingga pukul lima sore dengan perkiraan kami bisa berjalan jalan dulu di sekitar hotel dan tidak terburu buru saat pulang. Tapi niat awal untuk ikut aktivitas di sekitar hotel hancur berantakan saat aku mengusulkan bagaimana jika kita berkunjung ke kastil saja. Dan pilihan kami adalah mengunjungi Kastil de Haar.

Beruntung kami berhasil tiba di kastil lima belas menit sebelum tour dengan pemandu wisata (tour guide) yang terakhir, yaitu setengah empat sore. Tentu saja kami mengikuti tour wisata yng diperuntukan untuk anak anak, namanya juga liburan anak anak kan. Dengan tiket masuk rondleiding sebesar 14 euro (dewasa) dan 9 euro (anak anak 4-12 tahun) bisa aku katakan adalah harga yang tidak sia sia untuk mengikuti tour tersebut.

Sesuai namanya “Kinderrondleiding de Barones Vertelt” menceritakan kehidupan putri bangsawan saat tinggal di dalam kastil. Semuanya lengkap diceritakan, hingga membuat mulutku ternganga, detail sekali pemandu yang membawa kami bercerita pada anak anak, semua bahasa yang dikemukakan adalah bahasa yang dapat dipahami anak anak, disertai pertanyaan yang simpel, sangat khas anak anak membuat diriku mengerti, maklum kemampuan bahasa Belandaku sangat kurang, jadi mengikuti guide tour untuk anak anak sangat sesuai untukku.

Dimulai dengan sajian film yang menceritakan sejarah singkat kastil de Haar. Dimulai pada tahun 1391 keluarga de Haar menerima tanah, bangunan dan benteng dari kekuasana Hendrik van Woerden hingga tahun 1440. Benteng yang megah itu tak selamanya berdiri kokoh dan megah, beberapa tahun ke depan benteng tersebut mengalami berbagai macam peristiwa, mulai dari pembakaran hingga hancur pada masa perang dengan Prancis saat Rampjaar tahun 1672. 

Pada tahun 1887 pewaris dari reruntuhan benteng ini, Etienne van Zuylen van Nijevelt, menikah dengan Hélène de Rothschild, bangsawan paling kaya saat ditu di Eropa. Dengan keseluruhan biaya dari keluarga Rothchild maka dibangunlah reruntuhan kastil de Haar. Dengan bantuan arsitek terkenal Pierre Cuypers. Kastil yang megah dengan jumlah kamar 200 buah dan 30 kamar mandi akhirnya selesai  yang memakan waktu hampir 20 tahun.

Sampai disitu anak anak termasuk aku hanya mendengar penjelasan mengenai kastil sambil lalu saja, hingga kemudian rondleiding sesungguhnya pun dimulai. Dimulai dengan menadatangi dapur yang besar, kami dibuat ternganga dengan kelengkapan dapur, panci panci yang mengkilat dan berwarna kuning, kompor besar yang berjajar, seperrti awal dapur modern yang dimiliki keluarga kaya, dapur island istilah. Sang guide menjelaskan bahwa satu panci yang ada dihapan kami beratnya (tanpa soep) sekitar 25 kilo! Untuk menyalakan kompor hingga mencapai temperatur yang diinginkan membutuhkan waktu satu minggu lamanya. Busyet! Bayangkan klo pingin masak indomie harus menunggu satu minggu untuk menyalakan kompor saja, mati deh! Itulah sebabnya jaman itu kompor dibiarkan menyala sepanjang hari. Selain itu sang pemandu menjelaskan sistem lemari es pada saat itu. Lemari besar yang ada di sebelah kiri dari pintu masuk ke dapur adalah kulkas tanpa listrik . Ada bak besar diatas lemari yang diisi es, hingga uap es yang ada di atas mengalir ke bawah dan membuat sayuran yang ada di lemari tetap terjaga kwalitasnya.

Dari dapur kami berjalan ke kamar tamu untuk baron (bangsawan laki laki) menginap. Pemandu menunjukan kamar untuk bangsawan laki laki akan mudah dikenali karena disetiap sudut langit langit terdapat semacam tombak kecil yang menjulur. Pemandu bertanya pada anak anak tahukah kalian untuk apakah fungsi benda tersebut? Tak ada seorang anakpun yang memberikan jawaban, termasuk kami para orang tua yang mengekor dari belakang anak anak, tak menjawab pertanyaan sang pemandu. Kemudia dia berkata, bahwa benda tajam yang menjalas seperti penangkap petir disetiap pojok langit langit kamar adalah berfungsi untuk menangkap hantu. Sambil bercanda sang pemandu berkata bahwa penangkap hantu hanya ada di kamar bangsawan laki laki saja dan tidak dipasang di kamar bangsawan putri, artinya hantu hanya mengganggu laki laki saja. Aha! Yes kebetulan pemandu kami saat itu adalah seorang perumpuan. Anak anak mulai terdiam, apalagi anak laki laki. Namun tiba tiba Cahaya mengacungkan tangannya sebagai tanda dia minta izin untuk berkata, setelah milihat tanda bahwa pemandu mempersilahkan Cahaya untuk bicara, dia berkata dengan lantang ‘hantu itu tidak ada’ niet bestaat! Wih para orang tua tertawa mengiringi ucapan Cahaya.

Dari situ kami menuju kamar Helene, sang bangsawan kaya yang berhasil mengubah kastil ini dengan indah. Karena dia yang mempunayi uang, maka dialah yang menentukan ingin seperti apa kamarnya, warnanya pink. Hahaha persis kamar barbie yang ada di film film, membuat kami tak percaya melihatnya. di jaman itu? Dan hanya kamar dia saja yang berwarna lain dengan deatil yang lain dari ruangan lainnya. Kamar tersebut disertai kamar mandi yang besar, dengan kaca yang banyak yang jika kita bercermin disana maka tubuh kita akan sedikit terlihat kurus (ya, barones Helene bukan bangsawan yang langsing, jadi dia memakai trik untuk membuat dirinya terlihat langsing dimatanya). Dengan badtab yang sejajar dengan lantai memudahkan sang bangsawan tinggal nyemplung saja saat dia akan mandi.

Kemudian diperlihatkan pula ruang makan untuk jamuan para tamu, lengkap dengan sendok garpu yang terbuat dari perak, dijelaskan pula bagaimana pelayan melayani para tamu saat jamuan makan, pakain seperti apa yang dikenakan para pelayan, posisi duduk untuk para tamu undangan, juga kartu menu, seperti di restaoran saja, para tamu bisa memilih makanan yang dinginkannya.

Kami diajak pula ke ruangan dansa, ada balkon yang tertutup yang diperuntukan para pemusik, ada ruangan bermain catur, juga ruangan kerja, istimewanya di meja yang ada di ruangan tersebut kami bisa melihat buku besar yang berisi catatan biaya pengeluaran rumah tangga untuk jamuan makan, lengkap. Dan semuanya tercatat dengan tulisan yang rapih. Oh  ya kastil yang bertingkat tingkat itu terdapat lift juga, tentu saja kami tak bisa menggunakannya. Para pengunjung tetap memnggunakan tangga berkelok kelok yang sempit.

Lamanya tour barones ini hampir memakan waktu satu jam setengah dan waktu tersebut tak terasa sama sekali, semuanya asyik dan menyenangkan. Tentu saja foto dan camera tak diperkenankan di dalam kastil, bahkan tas pun harus disimpan di loker.

Tak hanya si kembar saja yang menikmati tour ini, aku dan Luc pun sangat puas. Beberpa hari sejak kami pulang dari kastil, si kembar hanya bercerita tentang kastil saja, hingga mereka menambahkan nama de Haar dibelakang nama mereka. Hahaha si kembar kini tak bernama Neville lagi.

DSC00522DSC00528

DSC00532DSC00533DSC00520DSC00530

Advertisements

Link

Tulisan kali ini hanya sebagai pelengkap saja dari tulisan dua tahun yang lalu tentang Perpustakaan di Belanda, untuk lebih jelasnya aku pernah menuliskannya disini. Jika sebelumnya aku lebih sering datang ke perpustakaan daerah dimana kami tinggal, kini setidaknya aku lebih sering datang ke perpustakaan pusat dibandingkan ke perpustakaan daerah. Sebabnya adalah karena dua kali dalam seminggu aku mempunyai kegiatan conversatie groep yang keduanya diadakan di perpustakaan.

Setiap hari selasa aku mengikuti conversatie groep dibawah naungan cvd yaitu sebuah organisasi sosial yang salah satunya membantu melancarkan bahasa Belanda. Pada prinsipnya conversatie groep ini adalah gratis, kita hanya dikenakan biaya 10 euro pada saat kita mendaftar. Kemudian kita hanya memngganti ongkos transportasi guru yang mengajar kita setiap kali kita datang. Jika kalian tertarik , kalian bisa melihat site nya disini.

Sedangkan setiap hari rabu pagi mulai pukul 10.00 – 11.30 ada taal cafe. Juga wadah bagi mereka yang ingin bisa berbahasa Belanda. Bedanya taal cafe tidak terikat, kita bisa datang tanpa mendaftar lebih dulu dan kalaupun minggu depan kita tidak bisa datang, kita tak perlu melapor. Sesuai namanya cafe, tentu saja kita disuguhi kue kue dan minuman selama kita berbincang bincang. Sebagai informasi mulai bulan Januari 2016, taal cafe akan ditambah jam tayangnya menjadi dua kali seminggu yaitu hari senin pada pukul 13.30 – 15.00. Berminat? Tinggal datang saja ke perpustaakan pusat Rotterdam.

Hari rabu tanggal 23 kemaren, aku tetap datang ke taal cafe dengan membawa serta si kembar, minggu lalu petugas informasi perpustakaan yang telah aku kenal dengan baik berjanji akan menjaga anak anakku selama aku duduk di taal cafe, tapi ternyata petugas perpustaan itu harus duduk di meja informasi karena rekannya sakit dan dia harus menggantikannya, saat aku mengurungkan niatku untuk bergabung ke taal cafe, Oddete instrukturku memperbolehkan si kembar duduk bersama, tapi keduanya menolak dan tetap memilih ke lantai dua dimana buku anak anak untuk usia mereka berada. Dan menyuruhku kembali ke lantai satu untuk bergabung bersama Oddete.

Si kembar dengan bersemangat memilih buku buku yang akan dia baca, aku mewanti wanti agar mereka duduk dengan tenang, dan aku berjanji setiap setengah jam aku akan mengecek mereka keatas.

Saat aku mengecek mereka, aku terbelalak tak percaya, sekaligus bahagia dan terharu. Aku mendapati anak anakku antusias membaca. Melihat tumpukan buku yang telah dibacanya. Mereka bercerita dengan antusias menunjuk buku yang telah dibacanya, memperlihatkan tulisan yang telah dia tulis di kertas yang aku persiapkan dari rumah.

Si kembar sudah suka buku sejak mereka bayi, dan aku bukan ibu yang mengajarkan mereka membaca. Si kembar baru bisa baca baru baru ini, belajar dari bu guru di sekolah. Menurut metoda belajar di Belanda yaitu pada saat mereka duduk di groep tiga. Pada bulan september mereka belajar mengeja dan kini di bulan desember mereka telah berhasil berada di posisi kern 5 (metoda belajar membaca disini) sama dengan teman teman sekelas lainnya. Beruntung aku tidak direpotkan seperti halnya ibu ibu di Indonesia yang harus mempersiapkan anak anaknya belajar membaca sebelum masuk SD. Ataupun seperti seorang kenalanku yang sama sama orang Indonesia yang membangga banggakan anaknya karena sudah bisa membaca sejak groep satu atas bimbingan dia, dan selalu memproklamirkan bahwa anaknya paling pintar diantara anak anak seusianya. Jika mendengar itu aku cuma diam, ga berkutik karena semuanya benar! Si kembar saat itu belum bisa baca. Jika dia sedang berkicau aku cuma bisa berdoa dalam hati, nak….bunda selalu mendoakan semoga kalian menjadi anak yang baik budi pekertinya, sayang pada sesama, tak apa apa bukan nomor satu dalam akademis. Huhuhu jadi curhat.

Kini setelah bisa membaca buku sendiri mereka makin bersemangat dengan buku, hari itu mereka membawa pulang masing masing 4 buku pilihannya ke rumah, dan sepanjang jalan seperti biasanya mereka tak mau melepaskan buku yang tengah dibacanya. Saat keluar dari perpustakaan, di supermarket asia (karena aku harus belanja dulu di Markthal), di halte, di bus dan juga saat berjalan pulang menuju rumah.

Terima kasih Cinta dan Cahaya, hari rabu itu hari yang menyenangkan buatku, melihat kalian begitu bergembira dengan buku dan bersikap sangat dewasa saat aku meninggalkan kalian di lantai dua sedangkan aku berada di lantai satu untuk mengikuti taal cafe. Kerst vakantie kali ini begitu lain dan menyenangkan walau sederhana saja.

Berikut foto foto si kembar saat di perpustakaan pusat.

Asyik membaca

Asyik membaca

memilih buku buat dibawa pulang

memilih buku buat dibawa pulang

men-scan buku yang dipinjam dengan kartu perpustakaan mereka sendiri. Semua dialakukan sendiri

men-scan buku yang dipinjam dengan kartu perpustakaan mereka sendiri. Semua dialakukan sendiri

IMG_20151223_130326078

di lantai dasar, kalian bisa main piano

di lantai dasar, kalian bisa main piano

atau sekedar bermain catur raksasa sambil menunggu jemu atau berlindung dari udara dingin di luar

atau sekedar bermain catur raksasa sambil menunggu jemu atau berlindung dari udara dingin di luar

Taal cafe

Taal cafe

mejejng di papan informasi lantai satu

mejeng di papan informasi lantai satu

Mejengg di depan Markthall yang berada tepat di depan perpustakaan

Mejengg di depan Markthall yang berada tepat di depan perpustakaan

Tetap membaca di dalam toko, sementara aku berbelanja

Tetap membaca di dalam toko, sementara aku berbelanja

Membaca di halte bus, saat menunggu bus

Membaca di halte bus, saat menunggu bus

dan tentu saja di dalam bus!

dan tentu saja di dalam bus!

 

5 Desember

Delapan tahun lalu di bulan Desember aku menerima kiriman buku buku pelajaran bahasa Belanda bagi pemula dari Luc, yang dikirim langsung dari Belanda ke Indonesia. Buku yang berjumlah tiga buah itu disertai beberapa batang coklat, yang dikemudian hari aku mengenalnya dengan sebutan chocolade letter. Seluruh keluarga intiku mendapatkan coklat yang berbentuk alfabeth sesuai huruf depan nama mereka, tak ketinggalan seluruh ponakanku mendapat coklat tersebut. Luc menyebutkan di dalam surat singkatnya, kado dari Sinterklaas.

Satu tahun kemudian, setengah bulan semenjak kedatanganku ke Belanda aku merayakan Sinterklaas di rumah Sandra dan keluarganya. Luc membeli kado untuk seluruh anggota keluarga sahabatnya itu, kemudian drama pun dimulai, aku yang saat itu tak bisa berbahasa Belanda hanya mengikuti saja, ikut terbelakak saat Ferdinand membuka pintu dan disitu ada karung yang berisi kado kado di depan pintu. Anak anak berteriak heboh. Hanya Tibo saja yang nyengir seperti mengerti bahwa itu drama belaka, sedangkan kedua adiknya menjerit jerit kegirangan. Hari itu aku mendapat beberapa kado kecil dari Sinterklaas. Hmmmm tentu saja dari Sandra dan Ferdinand! Acara di rumah Sandra itu namanya Pakjesavond.

Pakjesavond adalah tradisi Belanda yang diadakan pada tanggal 5 Desember di malam hari. Sinterklaas datang ke rumah rumah dan menyerahkan kado kado di malam itu, dan di pagi harinya pada tanggal 6 desember Sinterklaas akan kembali ke Spanje untuk berlibur demikian  menurut adat yang dipercayai oleh anak anak. Tentu saja semua itu hanya bohong karena orang tualah yang menyiapkan segalnya.

Tahun pertama, kedua dan ketiga sejak anak anak lahir, kami tak merayakan Sinterklaas. Anak anak pun kemudian mengerti dari sekolah dan teman teman, bahwa jika mereka menempatkan sepatu yang diisi wortel, apel atau gambar untuk Sinterklaas di depan perapian, maka keesokan harinya mereka akan mendapatkan hadiah. Hampir aku mengatakan bahwa itu hanya dongeng belaka, tapi kemudian aku menyetujui  usulan Luc untuk membiarkan mereka menebak sendiri apakah itu hanya sekedar dongeng atau bukan.

Desember 2013, anak anak mengisi sepatu mereka. Dan setiap pagi mereka kecewa mendapatkan sepatu mereka kosong, kemudian Luc berkata bahwa Sinterklaas hanya datang pada tanggal 5 Desember saja ke rumah ini pada saat pakjesavond, atau malam tanggal lima Desember saat Sinterklaas membagi bagikan hadiah buat anak anak yang baik dan tidak nakal.

Dan janji Luc pada anak anak dipenuhi, hari itu pada tanggal 5 Desember 2013 satu jam setelah anak anak masuk kamar, Luc membuat kegaduhan, berteriak teriak bahwa ada Sinterklaas, terus terang aku saat itu hanya tertawa saja tak ikut heboh seperti Luc, karena aku tahu anak anak benar benar sudah tertidur. Tak ada reaksi sama sekali dari kamar mereka akhirnya kami membangunkan mereka. Hahaha drama konyol Luc menyambut kedatangan ‘Sinterklaas’ sama sekali tak diketahui anak anak. Tapi untunglah usaha Luc dibayar maksimal oleh Cinta dan Cahaya mereka benar benar kegirangan menerima limpahan kado yang banyak melebihi saat mereka berulang tahun.

Pakjesavond 2013

Pakjesavond 2013

Satu tahun kemudian, ritual menempatkan sepatu di depan perapian terulang kembali. Tak hanya Cinta dan Cahaya yang tambah bersemangat tapi papanya pun tak kalah bersemangat, dia mulai menempatkan hadiah kecil disepatu mereka saat mereka telah tidur. Dan pesta besar pada pakjesavond kali ini tak hanya untuk Cinta dan Cahaya saja karena Luc pun membelikan kado kado kejutan untuk diriku dan juga untuk dirinya. Mendapat kado seperti itu malah mengurungkan niatku untuk tutup mulut pada anak anak bahwa kamilah yang menyiapkan kado kado itu bukan Sinterklaas. Aha!

Pakjesavond 2014

Pakjesavond 2014

Dan tahun ini, temanku merencakan memanggil Sinterklaas ke rumahnya, tiga minggu sebelum tanggal lima dia sudah mengontak Sinterklaas dan membuat deal bahwa Sinterklaas akan datang ke rumahnya pada tanggal 4 desember, tak bisa tanggal lima karena fullbook! Akan ada lima orang anak yang hadir, si kembar, anaknya dan dua ponakannya.

Aku mulai sibuk membeli kado kado kecil buat anak anak. Begitupun temanku. Rencana tinggal rencana, seminggu sebelum hari H, temanku masuk rumah sakit! Aku menawarkan padanya untuk membatalkan Sinterklaas. Tapi dia berkata bahwa mengundang Sinterklaas adalah impian suaminya untuk membuat suprise untuk anaknya. Maka acarapun tetap berjalan, aku mengambil alih. Berusaha semuanya tetap berjalan seperti rencana semula. Dan acarapun sukses luar biasa. Anak anak benar benar mendapat banyak kado. Akupun ikut duduk di pangkuan Sinterklaas dan tentu saja mendapat kado, good girl! Hahaha. Sementara temanku terbaring di rumah sakit dan hanya menerima foto foto dan video singkat yang aku kirim langsung dari rumahnya. Ooohh dear Hanny get wel soon!

Yang membuatku terpana adalah saat Sinterklaas masuk rumah, dia seperti Sinterklaas yang ada di TV, begitulah sosoknya, tinggi, kurus dan silent! Tapi yang lebih mencengangkan adalah saat mendengar komentar Cahaya, Sinterklaas adalah orang yang pake kostum menyerupai Sinterklaas, ini Sinterklaas palsu katanya.

Dipangkuan Sinterklaas

Dipangkuan Sinterklaas

IMG_20151204_182338318

Barulah beberapa hari sesudahnya temanku yang lain berkata padaku bahwa dia pernah mengobrol dengannya bahwa Sinterklaas tidak ada, mereka hanya orang biasa yang memakai kostum Sinterklaas. Bagaimana mungkin Cahaya bisa berkata seperti itu karena pada pakjesavond dia begitu percaya bahwa kado yang dia terima adalah dari Sinterklaas? Hahaha, entahlah.

Pakjesavond 2015

Pakjesavond 2015

Jika tahun depan mereka sudah tak percaya pada cerita Sinterklaas, bisa jadi bahwa pakjesavond tahun ini adalah pakjesavond terakhir di rumah kami. Who knows!

Kalo kalian dapet kado apa tanggal 5 desember kemarin? 🙂 😉 😉

Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat

Kira kira pepatah seperti itu yang dulu sering aku dengar dari guruku waktu SD. Ibuku pun sering bilang begitu, katanya kalau kamu rajin berolah raga atau bergerak maka kamu akan pintar. Walaupun sudah diiming imingi kata ‘akan pintar’  tapi toh aku tak suka olah raga, tapi untunglah aku suka bergerak kesana kemari, main di luar rumah, lari lari di lapangan kampung waktu aku kecil, main galah.

Masih juga kata ibuku saat aku kecil, negara besar adalah negara yang olah raganya maju, contohnya China, negara negara di Eropa dan juga Amerika, kala itu aku membenarkan juga kata kata ibuku.

Kini saat Cinta dan cahaya masuk sekolah dasar, aku melihat dan memahami mengapa negara Indonesia yang berpenduduk banyak bisa dikalahkan oleh negara negara yang jumlah penduduknya jauh lebih kecil dari Indonesia. Ternyata disini anak anak sudah berolah raga tiap hari sejak kecil. Contohnya si kembar ini.

Begitu masuk sekolah dasar saat mereka berusia empat tahun, olah raga senam dilakukan tiap hari. Selama dua tahun (saat mereka berada di kelas groep 1 dan 2 kalau di Indonesia pada usia TK). Kini saat mereka berusia 6 tahun dan duduk di di groep 3, senam dilakukan 6 kali dalam sebulan (setiap hari senin dan hari selasa tiap dua minggu sekali).

Dari awal mereka bersekolah si kembar terutama Cinta paling suka pelajaran olah raga, yang diceritakan sepulang sekolah hanya meester Bart, juf Jolanda atau juf Mandy guru olah raganya. Hingga pada suatu hari Cinta berkata bahwa kelak dia ingin menjadi akrobatik dan ingin masuk sirkus. Ada suatu masa dimana aku harus duduk di depan tempat tidur mereka yang bertingkat, disitu mereka berakrobatik. Kemudian aku harus bertepuk tangan setiap mereka selesai mengadakan pertunjukan khusus untukku. Disitu aku harus mengelus dada melihat anak anakku jumpalitan.

Suatu hari aku melihat berita di TV yang membuat ku tertarik, disitu tersaji anak anak yang sedang belajar di dalam kelas, mereka berdiri di samping meja mereka kemudian melompat lompat sambil meneriakan angka angka, misalnya dua dikali tida sama dengan enam, sambil melompat lompat. Kemudian pembaca berita menjelaskan bahwa berdasarkan penelitian anak anak yang belajar membaca dan berhitung sambil bergerak (melompat lompat) hasilnya akan lebih cepat lima bulan dibandingkan anak anak yang belajar dengan cara duduk rapi di bangkunya.

Satu hari serelah aku melihat tayangan di TV secara tak sengaja aku membaca koran Metro yang aku ambil di bis sehabis pulang dari pasar dan artikel yang menarik perhatianku adalah artikel mengenai cara belajar sambil melompat itu. Berikut bunyi artikelnya:  http://www.metronieuws.nl/binnenland/2015/11/springend-in-de-klas-leert-kind-beter

Satu minggu yang lalu aku dikirimi foto oleh guru kelasnya Cinta dan Cahaya, beberapa kegitan anak anak saat mereka senam di aula dan juga saat mereka belajar membaca di kelas. Oh ya sekarang Cinta dan Cahaya sudah bisa membaca, senangnya hatiku. Karena mereka sama sekali tidak aku ajari membaca, mereka benar benar belajar membaca dari sekolah begitu mereka duduk di groep 3, benar benar mulai huruf perhuruf, mulai bulan September 2015 dan kini tiga bulan kemudian mereka telah berhasil ‘lulus’ membaca tingkat lezen Kern 3 artinya mereka telah bisa mengeja dan membaca setiap kata kata singkat. Dan dalam satu menit Cahaya berhasil membaca 23 buah suku kata artinya dia telah bisa membaca dengan lancar, sedangkan Cinta hanya berhasil membaca 16 suku kata dalam satu menit.

Dan ini lah foto fotonya:

20151105_093853[1]

Cinta menclok di jendela, gaya bebas anak anak saat membaca di kelas, lucu ya…..

20151105_093902[1]20151105_093904[1]

IMG-20151116-WA0007[1]

Cinta jungkir balik

IMG-20151116-WA0004[1]

Di hadapan mereka tersedia kertas petunjuk, anak anak harus mengikuti gerakan seperti yang tersaji atau diperlihatkan dalam gambar.

IMG-20151116-WA0003[1]FB_IMG_1448914816120[1]FB_IMG_1448914805652[1]

FB_IMG_1448914689199[1]

Anak enam tahun sudah terbiasa bergelantungan dengan seutas tambang

FB_IMG_1448914649493[1]

Aha mereka harus berlomba untuk naik ke atas. Kalau Cinta atau Cahaya menang, tentu saja sepanjang jalan pulang ke rumah mereka hanya bercerita padaku tentang betapa hebatnya mereka di kelas senam, hahaha.

Jika melihat foto foto mereka, aku berusaha mengingat ngingat apa yang aku lakukan saat berusia enam tahun atau saat duduk di kelas satu SD. Berenang tanpa orang tua? Mengganti baju dan memakai baju sendiri di sekolah setiap hari setiap selesai berolah raga? Jungkir balik di atas matras? Seingatku tidak! Tapi Cinta dan Cahaya dan puluhan ribu anak lainnya disini sudah melakukannya setidaknya sejak mereka berusia empat tahun.

PS. Foto foto diatas kepunyaan guru Cinta dan Cahaya.