Fiesa – International Sand Sculpture Festival 2015

Hari kedelapan, 30 juli 2015

Hari ini rencananya kami akan mengunjungi Fiesa di kota Pera. Fiesa adalah nama dari festival patung patung yang terbuat dari pasir. Setiap kami ke Portugal, aku sama sekali tidak tertarik untuk berkunjung kesana karena setiap melewati tempat tersebut kesannya sangat gersang dan berdebu, seperti lapangan luas yang ditutupi triplek agar orang orang tak dapat melihat ada apa dibalik triplek yang tidak menarik penampilannya tersebut.

Saat Angela menawariku untuk datang kesana, aku sedikit ragu untuk menjawab iya, tapi kemudian dia menyakiniku berdasarkan pengalamannya tahun lalu berkunjung kesana, menurut mertuaku Fiesa adalah tempat yang wajib didatangi jika kalian berada di Algarve.
Baiklah kalau begitu, maka hari ini kami berempat datang ke Fiesa. Mertuaku tidak ikut karena sejak kemarin malam dia kembali ke rumahnya di Albortel dan bermaksud menghabiskan dua malam di rumahnya seorang diri, untuk beres beres dan menyiram tanaman.

Kami pergi ke Fiesa pukul 9 malam dari rumah, hari mulai berganti gelap setiba kami tiba disana setengah jam kemudian. Lampu lampu mulai menyala, mirip lapangan yang berubah menjadi tempat disko. Untuk masuk kesana dikenakan tarif 9 euro perorang untuk dewasa, dan 4,5 euro untuk anakan anak berusia 6 hingga 12 tahun. Setelah melewati pintu masuk, kami terbelalak karena tempat yang ditutupi “triplek” yang sepertinya tidak menarik ternyata di dalamnya menyimpan sesuatu yang indah.
Fiesa diadakan setiap tahunnya sejak tahun 2003 dan tahun ini adalah pemeran yang ke 13. Untuk tahun ini temanya adalah musik. Konon temanya akan berganti setiap tahunnya, tapi menurut mertuaku tahun lalupun temanya adalah musik. Fiesa International sand sculpture festval didaulat sebagai pameran patung pasir terbesar di dunia yang pernah dibangun. PAhatan patung pasir tersebut diukir oleh sekelompok pemahat dari berbagai bangsa.

Walau temanya adalah musik tapi kami melihat ada berbagai macam patung yang temanya adalah film. Cinta dan Cahaya begitu girang saat melihat patung Olaf, Elsa dan Anna. Olaf yang lucu dan ramah di film frozen berubah menjadi Olaf yang menyeringai menyeramkan menurut pendapatku saat melihat patung Olaf. Sedangkan Mary Poppins yang sosoknya tegas di film menjadi sosok yang ramah dan menawan di patung yang ada di Fiesa. Hahaha penglihatanku kah yang salah?

Disana kami melihat mulai dari tokoh musik klasik seperti Bach, Mozart, Beethoven hingga pemusik masa kini pun ada seperti Gaga dan Beiber.

Sayang aku tak dapat mengambil gambar yang indah di Fiesa, karena aku tak punya kamera hanya berbekal kamera telepon saja itupun bukan telepon keluaran baru maka aku hanya bisa mengambil gambar seadanya, dan sialnya karena batere telepon tidak mencukupi maka kamera pun tak mampu menggunakan blits. Jadi untuk kalian yang tertarik melihat indahnya patung patung dari pasir ini, maka bukalah ini.

Karena kami datang di malam hari (untuk musim panas kita bisa menikmati Fiesa hingga pukul 12 malam) jadi kesan padang pasir tidak terlalu terasa, sebagai gantinya kita disuguhi permainan lampu yang cantik disana. Tapi jika kalian ingin menikamati suasana padang pasir yang panas dan gersang maka datanglah pada hari siang bolong, dijamin panasnya pool!

Jika kalian berencana berlibur ke Algarve, maka menurutku datang ke Fiesa bukanlah hal yang sia sia, ayo marilah kemari…….

(bersambung)

Berbagai macam kartu pos yang dijual di Fiesa

Berbagai macam kartu pos yang dijual di Fiesa

Daftar patung patung yg ada di Fiesa Manakah menurutmu yang paling bagus? Pilih!

Daftar patung patung yg ada di Fiesa
Manakah menurutmu yang paling bagus? Pilih!

IMG_20150730_224406012[1]

Olaf? :)

Olaf? 🙂

Advertisements

Silves Castle

Hari ketujuh, 29 Juli 2015

Langsung rapel saja nulisnya hari kelima dan keenam dilewat saja, selain yang nulisnya udah mulai kendor, hilang ide dan lain sebagainya juga karena sudah makin malas nulisnya tidak sesemangat di hari pertama. Walah apalagi yang bacanya ya…. 🙂

Hari kelima seharian di rumah saja, sampe tiga kali nyebur ke kolam renang buat ngadem sebentar, trus maen lego dengan anak anak sampe keringetan dan sore harinya kita pindah rumah ke kota Silves, ke tempat dulu mertuaku tinggal. Cinta dan Cahaya exciting banget begitu sampai di temapat baru apalagi begitu liat kolam renangnya mereka gembira sekali. Katanya lebih besar dari kolam di tempat sebelumnya dan komentarnya ini beneran kolam renang hahaha. Kita rada bingung juga karena dua tahun yang lalu Cinta dan Cahaya liburan disini pula di rumah yang sama dengan yang sekarang tapi mereka seakan akan lupa pernah kesini. Baru beberapa lama kemudian mereka ingat sebagian ketika Angela mengajak jalan jalan ke belakang rumah, disana ada dua buah karavan dimana dulu Cinta dan Cahaya selalu memberi makan pada kucing setiap pagi yang ada di karavan tersebut.

Hari ke enam, aku jalan jalan berdua saja dengan Luc ke Portimao. Berbelanja di sebuah mall kemudian jalan jalan ke (pantai) Praia da Rocha tempat favorit kami berdua di Portugal. Padahal jalan jalannya di boulevard nya saja, gak mau menginjakan kaki di pasirnya, terlalu panas menyengat!

Nah barulah hari rabu ini, kami berlima mengunjungi pusat kota Silves. Biasanya kita hanya liat liat pertokoan lokal saja disitu yang bisa dihitung dengan jari, tapi kali ini aku ingin sekali ke reruntuhan kastil yang menjadi ciri khas kota Silves. Jika kami datang ke kota Silves dari penjuru manapun juga maka kita akan disuguhi bukit yang di punncaknya ada bangunan tua bekas reruntuhan kastil di jaman dulu. Itulah Silves castle (castelo dos Mouros) yang berada di puncak bukit yang konon dibangun pada abad ke 8.

Kastil dilihat dari tempat parkir

Kastil dilihat dari tempat parkir

Walau kami berjalan tak jauh dari tempat parkir, tapi dibawah sengatan matahari 35 derajat celcius membuat kami ngos ngosan juga begitu sampai di area kastil. Setelah minum es jeruk segar yang ada di cafe sekitar kastil, kami segera masuk ke dalam kastil yang begitu masuk ruangan ternyata kita harus bayar karcis. Karcis masuk tersebut sudah termasuk tarif untuk melihat museum sejarah Silves yang berada di are tersebut.

Harrga karcis masuk

Harrga karcis masuk

Walau Cinta misuh misuh karena cemburu melihat Cahaya yang digendong papanya namun pada akhirnya dia menikmati juga pemandangan di sekitar kastil saat dia bisa melihat kota Silves dari atas benteng kastil. Apalagi saat aku menjelaskan kemungkinan jaman dulu kala ada putri yang tinggal di kastil ini, lalu mulailah mereka berimajinasi seperti apa putri yang dulu tinggal di kastil Silves ini.

wpid-img_20150729_151454125.jpg

wpid-img_20150729_150656503.jpgwpid-img_20150729_152137471.jpgwpid-img_20150729_145902734.jpg

Yang menarik setiap datang ke pusat kota Silves adalah suasananya yang bersahabat. Di sisi jalan besar Silves ada sebuah sungai yang menjadi ciri kota Silves dengan jembatannya dan diseberang sungai tersebut ada beberpa restaurant yang tenang dan kita bisa mendapatkan pemandangan yang indah, disitu pula ada bangku tua yang biasanya ditempati oleh para manula, dulu aku pernah ikut nongkrong di bangku itu saat menunggu perahu yang bisa membawa kita ke Portimao, suasananya yang ramah dan tenang membuat aku merasa nyaman jika datang ke pusat kota Silves. Kita bisa benar benar berinteraksi dengan penduduk disana.
Karena jalan jalan di pusat kota Silves hampir keseluruhannya berbatu (bukan aspal) maka kita harus hati hati berjakan karena batu ratusan tahun yang lalu tersebut sebagian licin karena saking seringnya dilalui. Sangat indah, kinclong cemerlang. Itulah sebabnya dianjurkan memakai alas kaki yang anti slip, karena kekinclongan jalan jalan di Silves dan juga karena saat kita kembali ke jalan raya maka kita akan mendapati jalan yang menurun, menambah kelicinan saat jalan menurun.

Jalan bebatuan di pusat kota Silves yang sempit dilalui oleh mobil juga

Jalan bebatuan di pusat kota Silves yang sempit dilalui oleh mobil juga

IMG_20150729_171506669[1]IMG_20150729_171634954[1]IMG_20150729_170950712[1]

IMG_20150729_174942361

wpid-img_20150729_174648164.jpg
Jika aku berjalan di Silves aku selalu merasa berada di kota jaman dulu seperti cerita dongeng kerajaan jaman dulu, satria berbaju besi, raja Athur, putri berambut pirang dan bergelombang, cerita putri dan pangeran yang dikejar raja yang berkuasa, cinta terlarang dan lain sebagainya, hahaha.

(bersambung )

OMG😂😂😂

OMG😂😂😂

Jam makan orang Portugis

Hari keempat, 26 Juli 2015

Karena ini liburan kami yang keempat kalinya di negara Portugis, maka aku sedikit mengetahui kebiasaan orang sini tentang jam makan. Jika Belanda hanya makan panas pada saat makan malam saja, maka orang Portugis biasanya makan panas juga di siang hari, sama dengan kebiasaan orang Indonesia. Dan yang berbeda lagi adalah jam makan yang sangat terlambat untuk ukuranku. Jika kebiasaan orang Belanda makan malam pada pukul enam sore (dan ada seorang istri yang aku tahu, jika suaminya belum tiba pada pukul enam sore di rumah, maka dia tak mendapatkan makan malam! Catat itu bukan aku, aku bukan orang Belanda, natuurlijk!) Maka makan malam orang Portugis adalah pukul 8 malam!

Jika kalian tidak berada di daerah turis, jangan harap ada restaurant yang buka pada pukul diluar jam makan siang (pukul 12.30 -15.00) dan jam makan malam karena di luar jam tersebut para restaurant tutup. Kalaupun ada yang buka, mereka hanya akan menjual minuman saja. Beberapa tahun yang lalu aku dan Luc kelaparan dan kami sedang duduk di restaurant pada pukul 5 sore di daerah Silves, tempat yang terkenal karena castil tua yang bersejarah (tentunya banyak turis yang datang) menghiba hiba untuk dibuatkan makanan, tapi orang yang bekerja di restaurant tersebut tentu saja menolak kami.
Dari situ kami belajar, dapur buka pada jam makan siang dari pukul 12.30 dan pada pukul 15.00 dapur tutup. Dan akan buka kembali sekitar setengah delapan malam.

Saat tiba di Portugal hari jumat dua hari yang lalu, aku dan Luc sudah berjaga jaga apakah kami harus ke kota Faro terlebih dahulu sebelum ke kota sao Bras Albortel hanya untuk makan? Tapi karena kami ingin makan bersama Angela maka niat makan di Faro harus kami lupakan. Dan tentu saja saat Angela datang menjemput kami di supermarket, dia bilang tak ada satu tempat makanpun yang buka pada saat kami datang (sekitar pukul setengah enam sore). Jadi setelah kami tiba di rumah Angela, sementara Cinta dan Cahaya langsung nyebur ke kolam renang, aku dan Luc harus menahan lapar. Barulah pada pukul sembilan malam kami datang ke rumah makan tak jauh dari rumah. Disitu rumah makan sudah penuh, dan seperti biasanya jika Luc melihat rumah makan yang dipadati pengunjung dia langsung keder duluan, dan melirik rumah makan cina di sebelahnya yang tanpa pengunjung sama sekali. Tapi karena aku sudah membayangkan kip piri piri sejak dalam perjalan siang tadi, aku memaksa Luc untuk tetap makan di rumah makan tujuan awal.

Karena aku tau porsi makanan Portugis amat sangat besar, aku berkata bahwa pesananku dan anak anak cukup satu porsi saja dibagi tiga dan kalau aku masih lapar aku akan menyomot dari piring Luc, yang langsung mendapat lirikan tajam dari mata Luc saat aku menyampaikan ide brilian tersebut. Dan sebagai gantinya Cinta dan Cahaya memesan satu porsi kip piri piri dan akan dibagi dua, sementara aku, Luc dan Angela masing masing memesan satu porsi kip piri piri.

Dan para pemirsa seperti dalam bayanganku, saat pesanan ayam datang setiap orang mendapatkan setengah ayam utuh (bakakak) beserta kentang goreng disetiap piringnya. Nah Luc makan sampai habis itu ayam. Candaku pada Luc, Hahahaha. Dan seperti biasanya yang mampu makan paling banyak adalah aku, hahaha. Walaupun tak sampai tandas tapi setidaknya akulah orang yang dapat makan lebih banyak dari mereka yang ada di meja makan saat itu.

Ayam piri piri

Ayam piri piri

Dan esoknya kami datang ke restaurant yang berada sejajar dengan rumah makan Portugis kemarin, tapi bukan bersebelahan. Seakan lupa dengan kejadian semalam dimana kami semua kekenyangan, Luc memesan makanan pembuka hingga tiga macam untuk kami semua katanya, karena aku dan Angela sama sekali tak memesan makanan pembuka. Untuk Cinta dan Cahaya mereka masing masing memesan menu anak anak yang berbeda. Dan saat makanan datang, lagi lagi kami berlima tak sanggup memakan habis, bahkan aku yang biasanya mampu makan paling banyak (karena diajarkan untuk menghabiskan makanan yang ada di piring) saat itu hanya mampu menghabiskan setengahnya saja.
IMG_20150725_211706358[1]
IMG_20150725_214828339[1]
IMG_20150725_213638062[1]

Seperti hari kemarin, makanan yang tak habis dimeja makan diminta oleh Angela untuk dibungkus dan dibawa pulang untuk Sally anjing tetangganya yg kini diurusnya. Tapi kali ini saat Angela meminta makanan sisa untuk dibungkuskan, aku bilang pada pelayan restauran bahwa makanan dipiringku tidak perlu dibungkus karena pedas, mungkin akan bikin Sally sakit perut jika turut dibawa pulang. Yang kontan disambut pertanyaan dari pelayannya jadi makanan sisa ini benar benar untuk anjing? Hahaha. Kami bertiga mengangguk. Harap dicatat jika aku yang meminta makanan yang tak habis dipesan maka makanan tersebut untuk aku habiskan di rumah. Tapi jika Angela yang meminta maka istilah doggy bag memang itulah yang sebenarnya. Benar benar untuk anjing.
Jika di rumah makan Portugis pengunjung yang datang kebanyakan orang lokal dan rumah makan benar benar dipenuhi pengunjung, maka restaurant India dimana kami makan selain kami yang datang hanya ada dua pengunjung lainnya, yang ketika kami mendengar mereka berbicara, mereka berbicara bahasa Belanda, aha! Turis yang terdampar pula.

Dan hari ketiga di Sao Bras de Aportel, kami makan di restauran China. Agar adil, ketiga restauran yang saling sejajar itu kami datangi, hihihi. Padahal karena ga ada pilihan lagi harus datang kemana. Dan hari ini tepat Cinta dan Cahaya ulang tahun, dan Cinta senang sekali dibawa makan di restaurant Cina, karena yang dia tau berarti dia bisa pesan mie goreng. Dan seperti biasanya dia pesan mie goreng polos, untuk Cahaya karena hari ini mereka berdua berulang tahun, aku memesankan juga mie goreng untuk Cahaya, biar pada panjang umur. Sesuai kebiasaan sebagian orang Cina yang makan mie panjang umur jika berulang tahun. Selamat ulang tahun Cinta dan Cahaya, keselamatan, kebahagian kesehatan, semoga selalu menyertai kalian.

Mie panjang umur buat Cahaya

Mie panjang umur buat Cahaya

mi panjang umur buat Cinta

mi panjang umur buat Cinta

Ada kesamaan di tiga hotel yang kami datangi, saat kami meminta menu dessert mereka mengeluarkan menu yang sama, hanya ice cream dari satu merk yang sama. Dan tentu saja karena ini liburan, wlaupun anak anak tidak mampu menghabiskan makan mereka tapi tetap saja mereka boleh makan dessert.
IMG_20150726_215050134[1]
Untuk kali ini, kami semua bisa dibilang sukses menghabiskan makanan masing masing, walaupun mie gorengnya masih bersisa tapi setidaknya makanan lain habis tak bersisa. Tak ada jatah untuk Sally.

(bersambung)

Feira da Serra, Festival di Sao Bras de Alportel

Hari ketiga, 25 Juli 2015

Kota kecil yang berada di provinsi Algarve letaknya tak jauh dari kota Faro. Namanya tak pernah aku dengar sebelumnya, walau dua tahun lalu aku pernah ke SB de Aportel untuk melihat rumah mertuaku yg dulu belum ditempati. Mertuaku sudah hampir sepuluh tahun tinggal di Portugal di Silves, dan baru setahun yang lalu menempati rumah yang lain di SB Aportel. Dan untuk liburan kali ini, kami akan tinggal di SB de Aportel selama empat hari dan selanjutnya akan tinggal di Silves.

Hari sabtu ini, kami mengunjungi festival di pusat kota namanya festival Feira da Serra. Festival tahunan ini sangat dipadati pengunjung, mungkin karena ini hiburan yang mencakup semua umur, ada unsur budaya, botani (ada stand tanaman), kerajinan tangan, makanan khas daerah sinipun tersedia bahkan pertunjukan kuda pun ada. Pokoknya komplit. Untuk Cinta dan Cahaya mereka menikmati beberapa permainan yang ada dan juga outbond dalam bentuk mini.

Untuk masuk ke sana dikenakan biaya 3,5 euro per orang bagi mereka yag berumur diatas 12 tahun, dibawah umur 12 tahun. Festival yang berlangsung tiga hari ini dimulai mulai pukul 7 malam hingga pukul 2 pagi.

(bersambung)

Antri karcis..... panjang amat

Antri karcis….. panjang amat

IMG_20150725_231404884[1]
IMG_20150725_235140036[1]
IMG_20150726_010527490[1]

Bersama Elsa jadi jadian

Bersama Elsa jadi jadian

Burgos, Spanje

Hari kedua, 24 juli 2015

Burgos termasuk salah satu kota wisata di Spanyol. Disana ada katedral yang menurutku mirip Sagrada Familia dalam bentuk mini. Karena ingin melihat Katedral tersebut kami memutuskan tidak makan pagi di hotel tapi langsung menuju ke pusat kota untuk membeli kartu pos (aku mengoleksi kartu pos dari kota yang aku kunjungi minimal menginap semalam disana), makan pagi dan tentunya melihat katedral.

Tak banyak wisatawan disana, karena hari masih pagi. Kami tiba disekitar katedral pukul 9 pagi setelah memarkir mobil di depan kantor yang cantik dan nyaman tanpa bayar parkir karena berkali kali Luc mencoba mesin parkir tapi tak berhasil memasukan uang ke mesin parkir entah mesinnya yang rusak atau tak mengerti cara penggunaan mesin parkir tersebut karena tak ada petunjuk dalam bahasa Inggris. Yang setelah kami melewati kantor yang cantik tersebut tertulis di gedung tersebut adalah kantor hukum. Hahaha jika petugas kantor tersebut melihat mobil kami yang tanpa bayar parkir bisa bisa kami bayar denda di tempat.

Kantor Pengadilan di Burgos

Kantor Pengadilan di Burgos

Kami makan pagi di depan katedral, dari teras cafe aku bisa melihat kemegahan dan keindahan Katedral dengan jelas. Dan suasana liburan pun mulai terasa menyentuh kalbuku. Duduk santai, menikamati cappucino, mendengar celoteh anak anak yang riang gembira bahkan melihat wisatawan yang sedang memotret katedral pun sudah membuat hatiku nyaman.
IMG_20150724_092604223[1]

Katedral

Katedral

IMG_20150724_091131857[1]

Belanja kartu pos, tanda bukti pernah menginap di Burgos!

Belanja kartu pos, tanda bukti pernah menginap di Burgos!

Hanya satu jam kami di pusat kota Burgos, untuk selanjutnya kembali melanjutkan perjalanan menuju Portugal. Kami memulai perjalanan sekitar pukul sepuluh pagi. Jarak tempuh dari Burgos ke kota Sao Bras de Alportel Portugal sepanjang 885 km yang menurut navigasi bisa ditempuh sekitar 8 jam ternyata tak jauh meleset. Kami berhasil tiba di Alportel pada pukul 5 sore, karena adanya perbedaan waktu satu jam antara Spanyol dan Portugal dimana jam tanganku menunjukan pukul 6 sore. Itu artinya kami menghabiskan waktu delapan jam. Yeeyyyy berhasil berhasil, sambil jingkrak jingkrak kayak Dora. Kami hanya berhenti tiga kali untuk membeli bensin yang dikombinasikan dengan pipis dan membeli minuman dingin, itu saja!

Kami tak bisa langsung menuju rumah Angela (mertuaku) di Sao Bras de Aportel karena navigasi di mobil kami tak berhasil menemukan alamat rumahnya. Kami menunggu di tempat parkir sebuah supermart selama lima belas menit sebelum Angela datang menjemput kami.

Dan tahukah kalian apa yang didapat Luc setelah seharian menyetir mobil dengan jarak tempuh yang fantastis? Seorang penggemar memperhatikannya dari tempat duduknya di sebuah mobil minibus. Melambaikan tangan anggunnya ke arah Luc yang sedang berdiri di depan mobil. Luc berjalan ke arahnya dan berdiri di samping pintu bus dimana wanita anggun itu duduk. Wanita tersebut berbicara dalam bahasa Portugis, mengambil lengan Luc dan menggenggamnya. Cinta dan Cahaya tertawa terkikik melihatnya dan bertanya padaku, ada apa dengan wanita itu? Aku menjawab dengan senyum mengembang, wanita itu jatuh cinta pada papa. Hehehe.

Di jok belakang dimana wanita tersebut duduk, ada seorang pemuda dan seorang anak laki laki yang menjelaskan pada Luc, bahwa ibunya sedang belanja di supermarket dan ibunya bekerja (menjaga dan mengurus) wanita yang tak mau melepaskan tangan Luc. Wanita sepuh yang cantik dan anggun tersebut menderita penyakit Alzaimer. Dan Luc saling menggenggam tangan selama 15 menit hingga Angela datang menjemput kami.

(bersambung)

Genggamlah tanganku ini!

Genggamlah tanganku ini!

Berapa lama lagi kita sampai?

Hari pertama, 23 Juli

Bangun pukul 3 dini hari dan baru bisa berangkat pukul 04.26. Dan perjalanan menuju Portugal pun dimulai hari ini. Bukan naik pesawat terbang seperti tiga liburan sebelumnya ke Portugal, ya tapi kita naik
Menegangkan? Tentu saja. Ide naik mobil malah muncul sebulan sebelumnya, dan kemudian dibulatkan tekad untuk mencoba naik mobil kesana.

Rencananya hari pertama kita pergi dari rumah sepagi mungkin dan menginap semalam di Burgos. Perjalan cukup lancar walau sedikit cemas karena ada demo dari para petani di Prancis yang memblokkade jalan, tapi untunglah demo berakhir satu hari sebelumnya.
Dari Belgia menuju Prancis perjalanan didominasi oleh pintu tol yang meminta uang kami dan juga kemacetan (karena aku tidak menghitung berapa kali kami harus membayar tol di Prancis maka total biaya tol di Prancis baru bisa kami ketahui setelah tagihan kartu kredit keluar hahaha). Sedangkan dari Prancis menuju Burgos, Spanyol kami disuguhi oleh pemandangan yang indah dengan berkali kali masuk terowongan. Dan tentu saja pertanyaan dari Cinta Cahaya yang berkali kali bertanya, kita hampir sampai, Bunda? Berapa menit lagi kita sampai? Dan pertanyaan pertanyaan serupa seperti itu.

Berkali kali masuk keluar pintu tol. Prancis juaranya! Gime me your maney hehehe

Berkali kali masuk keluar pintu tol. Prancis juaranya!
Gime me your maney hehehe

Terowongan di Spanyol

Terowongan di Spanyol

IMG_20150723_194214139[1]

Jika tanpa berhenti perjalanan menuju Burgos sepanjang 1478 km akan memakan waktu 13 jam 19 menit (jika rata rata kecepatan mobil 110 km/jam). Tapi karena kita harus berhenti untuk isi bensin sebanyak 4 kali dan juga pipis tentunya, maka total berhenti sebanyak 8 kali, yang setiap berhenti hanya cukup 5 hingga 10 menit saja untuk membeli minuman dingin atau kopi, kita tidak jajan makanan berat sama sekali. Juga ditambah macet maka total perjalanan kurang lebih memakan waktu 17 jam. Kami sampai dengan selamat pada pukul 21.38 di sebuah hotel di Burgos, Spanyol. Itupun tertolong dengan kecepatan yang bisa mencapai 160 km/jam di Sponyol, karena jalanan yang kosong dan juga kecapatan yang tidak dibatasi. Berbeda dengan di Belanda yang boleh memacu kendaran hanya sampai 120 km /jam dan 130 km/jam dibeberapa tempat.

(bersambung)

Tentang Lebaran 2015

Satu hari sebelum lebaran aku terlibat percakapan dengan istri adikku alias adik iparku. Tanyanya, apa saja yang telah aku siapkan untuk lebaran? Aku harus berpikir sejenak untuk memberikan jawaban padanya. Kemudian jawabku… Aku  tak membeli baju lebaran, tak membuat opor ayam, tak ada juga tape ketan hitam, apalagi ku nastar. Dan tragisnya aku tak punya ketupat! (Tentu saja mana ada ketupat di Belanda? Sebagai gantinya kita membuat lontong dari bungkus plastik).

Ah, merananya diriku yang tidak pulang kampung. Baiklah kalau begitu, mari kita sedikit usaha sebentar. Maka di hari terakhir puasaku ini, aku bertandang ke dapurku yang dalam sebulan terakhir tak lagi menarik perhatianku, akibat malasnya aku menyiapkan makanan di bulan puasa ini. Ku tengok laci besar persedian kerupuk yang selalu ibuku kirim ke mari menggunakan jasa pos kapal laut. Dan begitu gembiranya hatiku menemukan harta karun yang berlimpah.

Dan inilah hasilnya setelah digoreng!

Aneka kerupuk, rangginang, dan opak sampeu

Aneka kerupuk, rangginang, dan opak sampeu

Kemudian kutengok frezerku, aha ada daging kambing, untuk tahun ini kita membuat gule saja ya….. Dan inilah hasilnya gule super lezat ala ceu Yayang! Gule Hadori di Cibiru boleh menangis histeris karena lezatnya terkalahkan oelh gule buatanku yang jika seseorang menyuruhku membuat untuk kedua kalinya aku tak akan bisa mengulanginya dengan rasa yang sama. Alias kebetulan bisa membuat gule super lezat!

Gule kambing

Gule kambing

Penampakan gule setelah berada di mangkuk saji

Penampakan gule setelah berada di mangkuk saji

Kemudian aku memasak lontong, tinggal beli di Toko Oriental, kita hanya cukup merebusnya saja. Berdasarkan advis dari temanku, untuk menghasilkan lontong yang kenyal sehingga berasa ketupat di Indonesia, belilah lontong broken rice jangan yang long rice, kemudian sebelum masuk ke air rebusan, hekter dulu ujung plastik dengan maksud memperkecil plastik yang telah ada. Dan hasilnya tralaaa lebih kenyal dan mantap.

Lontong yang dihekter dulu :)

Lontong yang dihekter dulu 🙂

Dan hari lebaran pun tiba. Hari jumat pagi aku bersama Cinta dan Cahaya diantar ke mushola Luc, kemudian dia berangkat kerja (yang kemudian aku tau Luc kembali pulang ke rumah karena sakit).

Berikut foto foto di mushola.

Ka Endjat dan teh Neni

Ka Endjat dan teh Neni

Pa hamdi sedang ngasih kuthbah Ied

Pa hamdi sedang ngasih 

Kue kue, yang hampir tak terjamah sehingga saat bubaran kita harus membawanya pulang

Kue kue, yang hampir tak terjamah sehingga saat bubaran kita harus membawanya pulang

Masakan hasil karya ibu ibu mushola

Masakan hasil karya ibu ibu mushola

Aha kerupuk! Saat bubaran aku membawanya pulang satu plastik besar karena masih berlimpah dan tak ada seorangpun yang tertarik membawa kerupuk, para ibu lebih suka membawa pulang rendang :)

Aha kerupuk! Saat bubaran aku membawanya pulang satu plastik besar karena masih berlimpah dan tak ada seorangpun yang tertarik membawa kerupuk, para ibu lebih suka membawa pulang rendang 🙂

Setelah shalat Ied bubar, aku masih harus beres beres. Sementara bapak bapak membereskan meja kursi ke tempat semula dan tentu saja nyapu dan ngepel. Para ibu diharuskan beres beres dapur dan makanan. Saking banyaknya makanan kita mesti dipaksa paksa membawa pulang makanan. Dan aku membawa pulang makanan yang kira kira disukai Luc yaitu sambal goreng tempe pedas dan telur balado, oseng tempe manis dan kerupuk buat Cinta dan Cahaya, dan untukku lontong sayur!

Pulang dari mushola jam tiga siang kami (aku dan temanku) sudah makan lontong lagi. Ada seorang teman yang datang berkunjung sepulang aku dari mushola. Dan pukul delapan malam kembali aku menikmati lontong menu lebaran hari ini.

Hari kedua lebaran, kami berkunjung ke seorang teman dekat yang mengadakan open house. Lima keluarga yang datang. Dan tralaa aku membawa bolu pandan sponge buatanku (eh yang tinggal tuang saja dari kemasannya dijamin tak akan gagal)!
IMG_20150716_155159168[1]

Minta difoto dulu didepan rumah sebelum pergi ke acara open house, Luc sampai cekikikan saat aku minta fota, ga seperti biasanya katanya hahaha

Minta difoto dulu didepan rumah sebelum pergi ke acara open house, Luc sampai cekikikan saat aku minta fota, ga seperti biasanya katanya hahaha

Disana tentu saja kembali menunya lontong dan teman temannya. Kali ini super lengkap, sampai sate pun ada. Dan yang datang ke rumah temanku karena para ibu yang termasuk menjaga badan (kecuali aku) maka makanan berlimpah bersisa banyak, bahkan Luc tak mau makan sama sekali karena dia tak enak badan, dalam kondisi seperti itu Luc memang tak tertarik makan. Dan lagi lagi aku dibungkuskan makanan. Sampai rumah aku harus menelepon tetanggaku yang juga orang Indonesia tapi tak merayakan Lebaran untuk membawa makanan tersebut, dan dia menyambut gembira.

Dan kembali untuk menyicil habis menu lebaran, malamnya aku harus makan lontong lagi. Untungnya Cinta dan Cahaya doyan dengan menu lebaran. Berkali kali mereka bilang lekker!

Dan hari ini, hari ketiga lebaran, makan siang dan malam kembali lontong! Yang aku variasikan siangnyalontong dan gule dan makan malam lontong sayur. Setelah itu aku beres beres dapur memasukan gule ke freezer, memasukan tempe ke wadah plastik, telur ke tempat yang lebih kecil. Ketiganya aku masukan ke lemari es. Sunguh aku tak sanggup jika besok harus makan  makanan itu lagi. Berharap semoga tetanggaku meneriwa tawaranku atas makanan tersebut. Hahaha.

Kakaren lebaran dari mushola

Kakaren lebaran dari mushola

Terima kasih Tuhan atas semua limpahan makanan dan rizki yang tak pernah putus pada kami, semoga kami termasuk dalam golongan orang yang dapat bersyukur.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H, kepada semua yang merayakannya.
Taqabbalallahu minna wa minkum, syiyamana wa shiyamikum wa ahallahu alaik.

Dan juga kepada semua umat manusia semoga selalu damai, sejahtera dan bahagia.

Salam,
C&C beserta mama papanya juga!
PhotoGrid_1437235790822[1]