Little Asia

Kami datang ke restaurant Little Asia karena penasaran dengan rating yang sangat tinggi yang diberikan orang orang yang sudah pernah kesana. Dari mereka yang menuliskan pengalamannya makan di restaurant Little Asia mereka memberikan nilai 10 untuk makanan dan pelayanannya.

Restaurannya kecil saja, hanya dengan lima meja dengan empat kursi di setiap mejanya, dengan dekor yang biasa saja tapi restaurant tersebut mampu mendapat nilai yang sangat tinggi.

Luc secara kebetulan menemukan restaurant tersebut  minggu yang lalu saat sedang menungguku check up  di rumah sakit Sint Fransiscus, Luc yang menunggu di tempat parkir bersama Cahaya yang hari itu tidak masuk sekolah karena sakit berjalan mencari Supermarket untuk membelikan buku bagi cahaya untuk membunuh jemu selama menungguku. Mereka berjalan keluar dari rumah sakit menyusuri jalan Kleiweg dan melewati restauran Little Asia. Konon Luc teringat pada resensi yang pernah dibacanya mengenai restauran tersebut. Baca Little Asia. Maka saat kami melewati restaurant tersebut saat kembali pulang ke rumah Luc berkata bahwa dia ingin mencoba makan disitu sambil merayakan kelulusanku kursus bahasa Belanda di tingkat pertama dan mendapatkan nilai yang baik dari dosen (dan masih ada tiga tahun ke depan jika aku masih mau melanjutkan sekolah secara keseluruhan, itupun jika lulus secara tepat waktu setiap tahunnya pfffffff).

Maka hari jumat kemarin setelah Cinta dan Cahaya ditinggalkan bersama dua orang oppas yang cantik kami meluncur ke Restaurant Little Asia. Ada dua meja yang sudah terisi saat kami datang, pelayan (yang kemudian kami ketahui bahwa dialah pemiliknya) mempersilahkan kami duduk di meja yang telah Luc reservasi dua hari sebelumnya.

Untuk makanan pembuka Luc memesan dua jenis makanan pembuka sekaligus, Dimsum garnalen met bieslook (dimsum udang) dan gegrillde kwartel. Sedangkan aku memilih  pekingeend met flensjes. Ketiga makanan tersebut tidak aku foto, hhhmmmm saat itu masih tidak berpikir akan menuliskannya.

Pelayan datang padaku mengajarkan bagaimana cara menikmati pekingeend yang benar, katanya pertama oleskan sausnya pada flensjes (semacam panenkeoken kecil) kemudian taburkan sayurannya (ijsberg salade dan bawang daun) tambahkan potongan bebek pekingnya terakhir gulung panekoek nya dan makan. Dan aku menjalankan sarannya dengan teratur.

Kemudian saat kami menunggu makanan utamanya, pelayan tersebut datang lagi pada kami berbasa basi pada awalnya tapi menjadi pembicaraan yang panjang setelah dia bertanya apakah aku orang Thailand? (pertanyaan standar yang selalu mereka lontarkan padaku, mereka tak pernah menyangka aku orang Indonesia, selalu pertanyaan diawali apakah aku orang Thailand atau Filipina atau China malah tak sedikit yang menebakku berasal dari Vietnam). Saat aku menjawab bahwa aku berasal dari Indonesia kemudian senyumnya mengembang dan menjadi begitu bersemangat, dia bercerita bahwa suaminya berasal dari Malaysia dari daerah Peneng katanya, daerah malaysia yang terkenal dengan kulinernya. Sedangkan dia sendiri berasal dari Hongkong yang lahir di Belanda. Sepanjang yang aku pahami saat dia bercerita mengenai restaurannya, dia membeli restauran tersebut 15 tahun yang lalu hanya beberapa beberapa tahun kemudian bisnisnya tak dirasakan seramai dulu lagi karena banyaknya pilihan makanan yang makin beragam juga karena terimbas krisis ekonomi eropa yang berdampak mereka memutuskan untuk melepas restaurant tersebut dan dimiliki pihak lain, menurutnya hampir setiap tahun setelah itu Little asia dikelola oleh tangan yang berbeda hingga sekitar lima tahun lalu mereka mengambil alih kembali dan mulai menerapkan managemen yang berbeda, kapasitas meja dikurangi, dapur dirombak menjadi dapur terbuka sehingga pelanggan bisa melihat saat sang koki yang tak lain suaminya sedang memasak. Dan mereka hanya bekerja berdua saja. Kerja keras katanya, hanya hari senin saja restaurant tersebut tutup. Restaurant mulai buka pada pukul tiga sore dan tutup pada pukul sepuluh malam. Dan tentu saja bukan berarti mereka bekerja hanya pada jam segitu saja, karena di rumah mereka harus menyiapkan dan membuat masakan yang akan disediakan di restaurant seperti dimsum dan dessert. Semua makanan yang tersedia disitu dibuat oleh mereka sendiri. Katanya untuk memotong biaya. Pagi menyiapkan segala sesuatunya, setelah restaurant tutup mereka harus membersihkan semuanya dan membuat tata buku. Aku memandang wanita super ramah yang berdiri bercerita dihadapanku dengan takjub, aku kira umurku tak jauh berbeda dengannya, mungkin satu atau dua tahun lebih muda dariku. Mereka mempunyai tiga orang anak, dan yang paling besar berumur 15 tahun. Lanjutnya setiap tahun mereka selalu berlibur ke Malaysia dan Hongkong selain untuk bertemu keluarga juga untuk berkuliner tanpa harus memasak.

Pada saat Luc akan menyantap makanan utama  yaitu Rog met curry sauce yaitu ikan pari dengan bumbu kare, si pelayan melompat tergesa ke arah Luc dan langsung memngambil alih sendok dan garpu yang tengah dipegang Luc, terus terang aku sungguh terkejut dengan tindakannya. Kemudian sambil mengerok ikan pari ke arah bawah dan atas dia menjelaskan pada Luc bahwa begitulah seharusnya cara memakan ikan pari, jangan sampai tulang cucuk ikan tersebut berantakan. Sambil berkata terima kasih dan mengambil alih kembali sendok dan garpu yang dipegang wanita itu Luc tertawa nyengir. Haha ada ada saja.

Dan inilah ikan rog yang tak lupa aku foto.Image

Dan yang paling sukses hari itu dengan makanan utama adalah yang aku pesan, jika kalian bermaksud makan di Little Asia cobalah crunchy beef yang aku pesan. Sungguh aku belum pernah menemukannya di restauran china manapun, dan menurut sang pemilik makanan ini adalah spesial dari restauran mereka.Image

Sementara dessert yang kami pesan adalah Pandan speckoek met ijs en warm Amendel sauce yaitu irisan kue lapis legit pandan beserta es krim yang dituangkan pada saus panas  Amandel dan untukku adalah Panakota met lychee yaitu poeding rasa lychee beserta es krim lychee. Kedua dessert tersebut berasa biasa saja, tidak istimewa sama sekali.

Image

Image

Kesimpulan kami saat kami keluar dari restaurant tersebut adalah jika kami ingin makan masakan china secara tenang dan nyaman maka kami akan datang ke restauran Little Asia untuk menikmati crunchy beef dan menikmati percakan nyaman dan penuh canda tawa dengan Luc dan menikmati atmosfir yang ramah dari pemilik restauran Little Asia yang bertugas sebagai pelayan.

Marhaban ya Ramadhan

Sambil menyeruput kuah baso yang super lezat, pikiranku berjalan menerawang.
Hari terhakhir makan disiang hari sebelum esok hari menjalankan puasa.
Kubereskan isi freezer sebaik mungkin, kupikirkan baik baik apa saja yang seharusnya ada disitu untuk mempersiapkan hari hari menjelang bulan Ramadhan.

Dan hari ini, sambil menikmati baso yang mewah menurut standar ukuranku, aku begitu puas, gaji yang berlimpah, baso super besar yang hampir memenuhi mangkuk, isi baso yang dipadati daging cincang yang menggoda, sambal rawit yang pedas ditambah cuka yang menyengat, taburan bawang goreng… ah ah nikmatnya.

Sementara di lain rumah, dilain kepala, ada yang mempersiapkan bulan suci ini dengan target target yang ingin dicapainya, mempersiapkan dirinya baik baik untuk menjalankan perintah Tuhannya dengan sebaiknya. Hati yang bersih, iklas dan ridho. Yang begitu bergembira menyambut datangnya bulan suci dan selalu berdoa untuk selalu dipertemukan dengannya pada tahun tahun berikutnya.

Aku masih begini saja.
Hanya berselorohnya, oh ya…. besok puasa, wah makan apa ya buat sahur nanti?
Kemudian berstrategi dengan Luc untuk menyambut satu bulan ke depan, aku masak kalau aku mau ya….. Pintaku. Ok, jawab Luc.
Kewajiban yang kasih makan anak anak kamu ya…Pintaku. Ok, kembali itu jawaban Luc.

Sembilan belas jam di hari pertama, sepertinya hal yang menakutkan untuk dijalani.
Tapi percayalah, tidak semenakutkan yang dibayangkan.
Pintaku, semoga aku dimudahkan seperti tahun tahun sebelumnya.
Dilancarkan, diberi kesabaran yang berlebih, menjalani dengan iklas dan suka cita.
Suka cita?
Ya, tentu saja, bukankah aku sudah menyantap baso istimewa yang super lezat?
Mungkin masih dangkal pikiranku dalam menyambut bulan suci ini, tapi inilah aku.
Jalani dengan santai, semoga bisa tertib.
Soal urusan diterima atau tidak, itu juga belum termasuk dalam alam pikiranku.
Hanya berharap, semoga bulan suci ini bukan hanya haus dan lapar saja yang aku dapatkan, semoga menjadi orang yang sabar dan iklas bisa aku dapatkan juga dengan latihan ini.

Ayo nikmati makanan favoritmu di siang hari sebelum esok hari untuk menjalankan puasa, jika ternyata puasanya diundurkan jadi hari minggu, berarti kalian masih punya waktu sehari lagi untuk menyantap makanan favoritmu.

Selamat menjalankan ibadah puasa kawan,
Marhaban ya Ramadhan

 

Rotterdam, 27 juni 2014
Image 

 

Durbuy Belgium – The smallest Town on Earth

Image
Datang ke Durbuy bagiku menjadi amat sangat menyenangkan karena aku dapat menikmati banyak hal dalam sekali kunjungan.
Hawa sejuk, pemandangan indah luar biasa, penduduk yang super ramah tamah, dan juga banyaknya aktifitas outdoor untuk anak anak. Baca 7 great reasons to visit Durbuy

Durbuy merupakan kampung kecil yang berarea total 156.61 km², rasanya berkeliling di centrum Durbuy tak akan membuat kita lelah, semuanya menarik perhatian, dari toko toko yang kecil yang ditata rapih dan menarik membuat aku terpesona. Disana banyak  dijual produk produk lokal seperti teh, madu, bir, selai buatan Durbuy. Konon selai buatan Durbuy adalah yang terbaik karena dipilih dari bahan bahan yang baik dan tak ditambah gula alias asli dari buah yang dibuat selai tersebut. Kebetulan aku datang ke toko yang tepat yaitu toko selai yang merupakan pabrik selai terbaik di Durbuy yaitu  Confituerie Saint Amour.
Image
Image

Yang paling menarik di Durbuy adalah sungai yang panjang dan tidak dalam maka cocok sekali bagi mereka yang ingin mencoba menaiki kano atau kayak dengan biaya 15 euro bagi dewasa, 10 euro untuk anak 6 – 12 tahun dan gratis bagi mereka yang berusia kurang dari 6 tahun, maka kita dapat bermain kano sambil menikmati keindahan alam selama 2 jam.

Dua jam menurut tempat penyewaan kano yang kami datangi, ternyata pada prakteknya Luc dan yang lainnya hampir menghabiskan waktu 4 jam, tentunya ditambah waktu mengantri dan menunggu jemputan bis dari tempat terakhir kano, mereka berlayar (berkano) sejauh 8 km, maka untuk kembali ke tempat awal pihak penyewaan kano menyediakan bis untuk mengangkut mereka kembali ke garis awal. Dan menurut Luc pemandangannya sangat fantastis.

Jalan jalan ke Durbuy merupakan pengalaman yang menyenangkan untukku, aku datang tak hanya dengan Luc, Cinta dan Cahaya saja, tapi kami datang bersama empat keluarga lainnya yang sudah akrab satu dengan lainnya. Maka tak heran kalau jalan jalan kali ini merupakan jalan jalan terheboh karena diselingi tingkah polah anak anak kami, dan tentu saja acara favorit kami semua adalah piknik yang menyenangkan. Canda tawa dan rasa kekeluargaan diantara kami adalah hal yang paling istimewa yang kami punya.

Saat kami kembali dari Durbuy dan melanjutkan perjalanan ke rumah salah seorang teman di Hazelt, Luc berkata padaku bahwa dia merasa nyaman berkumpul kali ini. Tentu saja aku bahagia mendengarnya.

Berikut foto foto yang terkumpul dari beberapa camera telepon kami.

Image
Puri Durbuy  adalah milik pribadi oleh keluarga d’Ursel. Yang menjadi ciri khas Durbuy dan menjadi pemandangan yang menakjubkan di kota ini.  Berasal dari abad ke-9, telah dihancurkan dan dibangun kembali berkali-kali. Foto yang berhasil di jepret kamera telepon bang Indra ini adalah puri yang berhasil di pugar pada tahun 1880-an.

Image

Image

ImageBangunan bangunan di centrum Durbuy.

Image

Image

Image
Petualangan kano yang menyenangkan.

Image
P
ara bocah yang cerah ceria dan sedang berkampanye no. 2, hahaha.

Image
Lapangan parkir yang luas dan nyaman, hanya dengan membayar 5 euro saja kami bisa memarkir mobil kami seharian. Dan entah ada rejeki apa hari itu palang parkir ke arah luar sudah terbuka lebar, sehingga kami tidak perlu membayar biaya parkir.

Image
Dapat kado dari tuan rumah.

Image
Yang kelaparan setelah naik kano. Berangkat pukul 15.30 datang pukul 19.15. Cape tapi fun, begitu katanya.

Image

Image

Image

Matahariku

Pukul 18.15 aku duduk di depan TV sambil sibuk mengupas mangga muda kemudian memotongnya dadu dilanjutkan dengan memotong paprika, bawang dan buncis.
Cinta datang menghampiriku membawa buku Ariel, menunjukannya padaku sambil berkata, bunda maukah kau membacakan buku untukku?
Aku memandangnya, menunjukan mangga yang tengah aku potong sambil menjawab, tak kau lihat aku sibuk, Cinta?

Cinta tetap berada disisiku, tak beranjak pergi.
Cahaya datang padaku duduk disebalah sisi yang lain, bertanya perlahan padaku. Bunda, bolehkah aku membantumu?
Tidak! Jawabku tegas, sambil dilanjutkan, sudah berapa kali bunda bilang, tidak jika bunda sedang bekerja dengan pisau.
Tapi bunda, aku bisa membantu pakai pisau kecil. Sela Cinta yang tertarik dengan usul Cahaya.

Kemudian aku beranjak ke dapur. Dua anak itu pun ikut ke dapur. Cinta masih merengek ingin dibacakan buku, saat aku bilang tidak dia kemudian berkata. Aku yang akan membaca untukmu bunda. Ujarnya dengan bersemangat, yang kemudian dilanjutkan…. Kau boleh memilih buku yang akan aku bacakan. Serunya sambil menunjukan dua buku yang tengah dipegangnya.
Tidak! Aku sedang memasak, Cinta.
Kau memasak sambil mendengarkan aku membaca. Ok, bunda! Ujar Cinta dan langsung membaca buku berdasarkan gambar dengan cerita versi dirinya.

Dan hari itu seperti biasanya setelah selesai makan tak banyak waktu untuk Cinta dan Cahaya. Aku sibuk membereskan dapur dan anak anak hanya bersama Luc saja, kemudian ritual cuci tangan, muka gosok gigi, pakai piyama, pipis dan membaca cerita menjelang tidur adalah tugas Luc, aku hanya datang sebentar ke kamarnya untuk berdoa bersama. Dan kemudian kembali ke ruang duduk untuk merebahkan diri sambil menonton TV atau chat bersama teman atau apalagi kalau bukan komputer.

Acara TV yang kebetulan aku lihat di TV adalah percakapan seorang anak dengan orang tuanya. Seorang anak 9 atau 10 tahun yang berkata pada ibunya bahwa dia nanti jika mempunyai anak, maka dia akan menjadi ibu yang lebih baik dari ibunya. Ibunya bertanya bagaimana caranya itu? Dan dengan lancar dan lantang seperti anak anak Belanda yang sering aku lihat si anak menerangkan dengan bersemangat. Aku akan memperlakukan anakku seperti oma memperlakukanku. Aha! Seru si ibu tersenyum dan berkata, karena oma selalu memanjakanmu bukan? Itulah sebabnya kamu merasa oma lebih baik dari mama!
Bukan itu mama! Oma selalu ada waktu untukku, dia selalu ada waktu untuk bermain denganku. Sedangkan kau? Jika aku bertanya bisakah kau menemaniku? kau selalu berkata, tunggu lima menit lagi sayang, aku sedang mengerjakan sesuatu, kemudian sepulah menit berlalu, lima belas menit, setengah jam sampai satu jam kau belum dtang juga. Sampai akhirnya tibalah jam tidurku, maka pupuslah harapanku untuk bermain denganmu hari itu, dan itu berlanjut esaknya esoknya lagi.

Ya Tuhan, itu pulalah yang kini melandaku. Aku kehilangan banyak waktu bersam untuk anak anakku.  Aku sibuk, super sibuk menurutku. Hari ini aku benar benar ingin memasak untuk Luc atau lebih tepatnya ingin memasak pula untuk diriki, ini hari kamis sedangkan sejak hari sabtu yang lalu aku belum menemukan nasi. Aku sakit. Dan jika aku sakit maka Luc lah yang memasak, dan itu berarti bukan nasi dan bukan pula makanan yang cocok untukku.

Hari ini, aku bercerita pada seorang teman bahwa aku benar benar sakit. Entahlah sepertinya banyak kejadian yang terjadi sebulan ini yang menambah perhatian dari rutinitasku yang telah padat, dan akhirnya di akhir weekend kemarin aku benar benar tumbang. Saat aku akan berpisah dengan temanku hari ini, dia berbelok bersama Cinta ke toko bunga aku hanya menunggu sebentar bersama Cahaya di luar. Cinta sudah menggondol seikat bunga mawar dan menyerahkannya padaku. Ini untukmu bunda. Seru Cinta.

Aku memandang temanku. Ya, ucapnya. Beterschap Yayang!
Kapan aku menerima bunga? Jika aku ulang tahun, jika hari valentine, hari ultah perkawinan, jika tamu yang jarang bertemu berkunjung ke rumah atau jika ada acara tertentu. Tapi menerima bunga saat yang tak disangka tentunya mengharukan hatiku. Aku hanya mampu berkata terima kasih.
Malam itu aku mengirimkan pesan singkat untuknya, je ben echt lief.
Image

Kadang kita lupa bahwa seseorang itu istimewa jika mereka sudah jauh dari kita barulah kita menyadarinya. Hari ini aku menyampaikannya langsung. Karena kini aku lebih tau bahwa tak akan ada yang abadi di dunia ini, begitu juga dengan pertemanan atau ikatan perkawinan, yang harus aku lakukan adalah tetap menjaga pertemanan itu untuk selalu baik, saat sedang dekat kita merasa bahwa dia lah yang paling baik diantara yang lainnya tapi kita suka lupa untuk menyampaikannya langsung. Ada pembelajaran yang aku dapatkan hari ini kadang jika aku mendengar keluh kesah dari orang lain tanpa sengaja kita ikut berkeluh kesah juga terhadapnya atau hanya mendengarkan saja tanpa bergerak menolongnya, atau hanya ya ya ya saja tapi lupa memberikan perhatian ekstra padanya, dan kadang dibelakang hari aku berkata pada diri sendiri (masih untuk pada diri sendiri tidak disampaikan pada orang lain) ohhhhhhhhh tidak, pasti dia akan berkeluh kesah lagi padaku. Jika aku sudah punya pikiran seperti itu aku akan mengingatkan diri sendiri untuk tidak berkeluh kesah pada orang lain. Tapi ternyata hari ini aku sedikit bercerita dan kemudian aku tau bahwa orang yang aku ajak bicara adalah orang yang tepat.

Dan hari ini pula aku menemukan kecerianku kembali, berjalan pulang sambil menuntun Cinta dan Cahaya, melewati taman, bertemu dengan dua orang kakek yang tengah duduk di taman, membiarkan Cinta Cahaya mengobrol selama sepuluh menit dengan mereka sementara aku duduk di samping mereka sesekali ikut menimpali atau mengoreksi perkatan Cinta Cahaya pada dua orang tua itu.

Kemudian tak melarang saat Cinta memungut dua buah ranting, aku memperhatikan apa yang dilakukan Cinta, dia menyobek plastik bunga yang tadi dibawanya, kemudian menyerahkan bunga tersebut pada Cahaya sementara dia kembali sibuk dengan plastik kecil yang berhasil dia sobek dari pembungkus bunga mawar tadi, menggulungnya di tengah tengah ranting yang lebih pendek, kemudian dia berjongkok dan berjalan merangkak. Bunda serunya padaku yang sudah berjalan beberapa meter meninggalkannya, aku menoleh kebelakang terbahak melihat apa yang dilakukan Cinta. Dan dia merangkak seperti itu hingga mencapai pintu rumah.
Waf waf serunya!
Image
Cinta Cahaya kalian adalah matahariku.

Roparun

Jadwal hari ini adalah berburu sepeda bekas. Kami bermaksud mendatangi toko sepeda di pusat kota.
Setelah berhasil parkir, kami sedikit bertanya tanya akan banyak nya jalan jalan yang ditutup. Aha ternyata hari ini ada lari marathon. Ada kegiatan Roparun.

Apa sih Roparun?
Roparun adalah lari estafet sekitar 520 kilometer dari Paris dan 560 kilometer dari Hamburg ke Rotterdam, mereka yang mengikuti lari roparun merupakan gabungan dari beberapa tim yang mengajak masyarakat untuk mengumpulkan dana bagi mereka yang menderita kanker.

Sebuah tim Roparun terdiri dari maksimal delapan pelari, yang masing-masing menjalankan rata-rata sekitar 65 kilometer. Sebuah tim juga harus memiliki minimal dua pengendara sepeda dan sejumlah orang membentuk tim dukungan. Ini termasuk supir, petugas medis, katering dan ketua tim. Satu tim rata rata berjumlah 25 orang.
Selain tantangan fisik, tim juga harus berusaha untuk mengumpulkan dana. Mereka menyelenggarakan berbagai kegiatan. Misalnya mencuci mobil, melelang berbagai koleksi atau mencari mencari sponsor. Para anggota tim juga harus menjual Roparun tiket undian, Tentu saja hasilnya akan diserahkan  ke badan amal. Baca disini
 
Tiga tim yang mengumpulkan uang paling banyak dan enam tim yang memenangkan hadiah untuk sampai di garis finish tentu saja akan mendapatkan penghargaan di akhir perayaan Roparun, yang berlangsung beberapa minggu setelah selesai. Pada malam itu, jumlah total uang yang diajukan oleh Roparun juga akan diumumkan. Selama dua puluh dua edisi terakhir dari Roparun, lebih dari 57 juta Euro telah berhasil dikumpulkan untuk disumbangkan pada mereka yang menderita kanker.

Roparun adalah singkatan dari Rotterdam Paris Run. Pertama kali dilaksanakan pada tahun 1992, dengan jalur dari Rotterdam ke Paris dengan jumlah peserta 13 tim saja. Dengan beriringnya waktu jumlah peserta lomba kian bertambah tentunya dengan jumlah dana yang semakin banyak dikumpulkan pula.

Sejak tahun 2012 route Roparun menjadi dibalik yaitu dari Paris ke Rotterdam dan juga dengan penambahan tempat start tyang baru yaitu kota Hamburg Jerman. Dan garis finish berakhir di jalan Coolsingel Rotterdam. Tempat kami meneonton tadi siang.

Coba resapi di hati slogan dari Roparun….. “Add life to the days, where often days can no longer be added to the life”
Menambahkan kehidupan ke hari, di mana hari tidak bisa lagi sering ditambahkan ke kehidupan. 

Berikut beberapa foto yang berhasil aku abadikan melalui kamera telepon.

Image
ImageImage
Image

Dan ini para penontonnya, 
Image
Image
Image

Rotterdam, 9 juni 2014
 

 

Poscard

Tadi pagi ponakanku minta dibelikan beberapa poscard dari Belanda.
Yg gambarnya lucu dan bagus, tema bisa apa saja. Katanya.
Lalu dia bercerita untuk kado ulang tahun temannya, dia udah keliling kota Bogor dan hanya menemukan di toko buku Gramedia saja, keluhnya.
Saking semangatnya besok dia mau ke Jakarta esok hari untuk berburu poscard.
Walah nak, sebegitu sulitnya kartu pos di Indonesia?

Tapi dia benar, dulu aku pun kesulitan mencari kartu pos.
Kartu pos di Indonesia biasanya hanya berwarna kuning sedikit oranye keluaran kantor pos. Berkualitas seadanya.
Jikalau ingin kartu pos bagus, hanya bisa didapatkan di toko buku besar saja.

Jaman aku sekolah dasar dulu, ayahku suka menerima kartu pos dari teman teman luar negerinya, gambarnya bagus bagus. Ada tulisan kota dimana kartu pos itu berasal. 
Hingga tibalah kesempatan untuk ayahke ke luar negri, dalam urusan pekerjaan tentunya, apalagi kalau bukan buat kesempatan menuntut ilmu dari instansi tempatnya bekerja. Ayahku seorang guru. Negara yang pertama di kunjunginya setelah aku lahir adalah Prancis, pada jaman itu belum banyak anak yang ayahnya dapat kesempatan ke luar negri, dan tentu saja aku bangga saat ayahku mengirimkan beberapa kartu pos ditujukan pada diriku.

Dari situlah aku mulai menggemari kartu pos. Saat SMP aku suka jalan di jalan braga hanya untuk mengecek toko buku tua yang biasanya menjual kartu pos bergambar kebudayaan dan daerah, biasa Bali yang paling banyak dan ada juga yang bergambar batik.

Kini setelah aku tinggal di Belanda, rasanya hampir disetiap pojok toko akan dengan mudah dijumpai kartu pos. Terutama tentu saja toko buku atau toko souvenir.

Mula mula aku selalu membeli kartu pos tersebut jika aku sedang berada di luar negri, dan sekalian mengeposkannya di negara yang aku kunjungi, tujuannya selalu ke Indonesia, siapa lagi kalo bukan untuk ayah atau ibuku. Aku melakukannya tidak setiap kali mengunjungi negara tertentu, tapi hanya kadang kadang saja jika banyak waktu luang di suatu negara tertentu.
Yang membahagiakan dari mengirimkan kartu pos ke ayah dan ibuku adalah mereka selalu bersuka cita jika mendapat kartu pos dari kami, walaupun kadang kadang kartu pos yang aku kirimkan tak sampai ke tangan mereka, entahlah nyangkut dimana.

Dan dua tahun belakangan ini, kegemaranku mengirimkan kartu pos dari setiap negara yang aku kunjungi bertambah dengan membli kartu pos untuk diriku sendiri. Kartu pos dari setiap kota yang aku kunjungi, tak peduli jika kota itu pun berada di Belanda, dan di belakang kartu pos tersebut aku menuliskan tanggal kapan aku mengunjungi kota tersebut maka tak heran jika kemudian aku mendapatkan masih di kartu pos yang sama aku menuliskan berkali kali tanggal yang berbeda.

Ternyata seru mengumpulkan kartu pos untuk diri sendiri. Baru satu negara saja aku sudah mendapatkan lebih dari hitungan sepuluh jari. Contohnya saat aku berada di Spayol wilayah andalusia. Ada Cordoba, Seville, Malaga, dan Huelva. Dari kartu ps tersebut kita bisa tahu kota bersejarah apa saja yang belum aku kunjungi di wilayah Andalusia. Dan kota Almera, Cadiz, Granada dan Jaen menjadi catatanku berikutnya untuk kami kunjungi.

Dari Jerman aku sudah mengantongi kartu pos dari Koln, Dresden, Leipzig dan Hamburg. Dari Portugal yang paling seru karena kami sudah tiga kali kesana dan akan ada tahun tahun berikutnya untuk kembali berkunjung kesana. Ada postcard dari Budapest, kartu pos dari beberapa kota di Cekoslowakia dan yang terakhir tentu saja dari negara Denmark dan Swedia, karena minggu lalu kami baru menghabiskan long weekend kami di dua negara tersebut.

Permintaan ponakanku akan kartu pos membuatku berpikir untuk menambah daftar catatan yang akan aku lakukan jika berlibur di Indonesia.
Apalagi kalau bukan berburu Poscard!
Image

 

Aku penduduk dunia!

Pagi ini,
Di dalam kelas temanku Amna asal Pakistan bercerita tentang negerinya yang dijatuhi drone oleh Amerika. Konon menurut Amerika daerah tersebut adalah sarang Taliban, jadi perlu diwaspadai tentang kegiatan Taliban yang membahayakan. Kata Temanku Amerika sebetulnya menjatuhi alat spion itu bukan untuk memantau kegiatan Taliban, tapi untuk menyelidiki kandungan emas yang ada di daerah tersebut.
Dan kami sebagai pendengar hanya bisa mendecakan lidah…. aih aih Amerika……

Saat istirahat, Fati masih temanku sekelas bercerita, dia sedang berdebar debar sudah beberapa hari ini menantikan istrinya yang sedang hamil akan melahirkan putri pertama mereka, menarik nafas panjang saat aku bertanya apakah dia akan melanjutkan sekolah seperti rencanaku dan beberapa teman yang lain jika kelas kami berakhir akhir juli ini dan masuk ke kelas lebih tinggi bulan september ini? Jawabnya sebagai kepala keluarga yang sedang menantikan putri pertama mereka sulit sekali untuk saling berbagi waktu antara bekerja dan sekolah. Dia masih bingung…..

Setelah istirahat, aku dan Maria temanku asal Portugal masuk ke ruang meeting di lantai 6, kami berdua terpilih untuk mewakili kelas kami menerima tamu dari negara Finlandia yang datang ke kampus kami (Albeda College). Tamu dari Finland tersebut akan mengadakan studi banding tentang metoda pendidikan yang ada di negara Belanda, mereka akan mengadakan tanya jawab dengan kami. Sedikit terheran heran aku mempunyai tanya dalam hati, mengapa pula negara Finland yang terkenal memiliki metoda paling berhasil dalam pendidikan masih ingin belajar pada negara yang berada di bawah standar negaranya?

Dan tentu saja acara diskusi tersebut sangat aku nikmati, aku bersama tujuh siswa Albeda lainnya saling bercerita tentang pengalaman kami, dan kami berdelapan berasal dari negara yang berbeda (Indonesia, Armenia, Irak, Ghana, Portugal, Spanyol, Polland, Brasil). Sementara tamu kami dari Finland sangat antusias mendengar dan bertanya tentang kami. Ternyata mereka ingin belajar pada Negara Belanda yang konon sebagai negara yang berhasil ‘mentraining’ para imigran sehingga bisa survive berada di negara yang baru. Dan seperti sama sama kita ketahui bahwa Belanda termasuk negara yang banyak dihuni oleh para imigran.

Siang ini, saat aku pulang sekolah dan langsung menjemput anak anak dari sekolah, secara tak sengaja aku mengobrol dengan orang tua murid yang sedang berdiri sepertiku menanti anak anak kami keluar kelas.
Dia berasal dari Afganistan, sudah lima belas tahun berada di Belanda. Mengungsi ke Belanda apalagi kalau bukan karena  negaranya yang kala itu dalam keadaan tidak aman, dia melihat ayahnya dibunuh pasukan Taliban di depan matanya, desanya diserang. Dan tentu saja aku tak mau mendengar ceritanya lebih lanjut.
Aku selalu tak enak hati jika memikirkan masalah seperti itu, disuatu saat aku mendengar kebengisan Taliban, disaat lain aku mendengar media Barat terlalu menyudutkan Taliban. Seolah olah banyak keanehan yang dilakukan Taliban, padahal belum tentu. Dan semua kekacauan itu selalu ditimpakan pada Taliban. Tak tahulah aku….

Pulang ke rumah, aku membuka komputer, melihat ada pesan yang masuk dari komenku di sebuah blog seorang professor di Bandung, komenku di bully oleh orang yang beridentitas tak jelas. Oleh seseorang yang berbeda pendapat denganku.
Pikirku, mengapa perbedaan pendapat dan pikiran menjadi masalah? Kenapa aku tak boleh menyuarakan pendapat yang berbeda? Sedangkan pemilik blog pun fine fine saja walaupun pendapatnya berbeda denganku. Lha ini orang yang tak jelas malah sampai memaki diriku. Walah!

Sore ini,
Sebelum aku mengantarkan Cinta dan Cahaya ke tempat les renang masih sempat kubalas ajakan seorang teman  yang memintaku bertemu denganku, pesannya singkat saja….. aku hanya ingin bercerita, dan kau seperti biasanya adalah orang yang tepat untuk mendengarkan…. Hahaha dan seperti yang aku tahu dia akan menumpahkan segala keluh kesahnya, seperti diriku padanya.