Didieu Land Punclut Dago

30 Juli 2018

Hari keenam belas

Hari ini sahabatku semasa SMA menemuiku. Dia khusus datang ke rumah orang tuaku untuk menemui orang tuaku pula. Dia yang berjanji akan datang jam lima sore ternyata baru nongol pada pukul delapan malam. Luc yang sangat menantikan kedatangnnya berkali kali bertanya padaku mengapa Heidy belum sampai juga. Ya sejak Luc mengenal Heidy, setahun yang lalu Heidy pernah mengunjungiku di Rotterdam dan menginap 4 hari di rumah kami, saat itulah Luc mulai memperhatikan persahabatanku dengannya. Ikut tertawa terbahak bahak saat Heidy menceritakan kenakalan apa yang aku dan Heidy lakukan semasa SMA dulu. Menurut Luc dari Heidy lah dia dapat mengenalku di jaman dahulu kala. Luc lebih banyak terbahak bahak dibanding terbelalak kaget mendengar cerita tentangku. Ah selucu itukah aku dulu, mengakibatkan dia dapat terbahak bahak seperti itu?

Karena ternyata Heidy datang saat hari telah larut, dia mengajak kami menginap di rumahnya, awalnya aku menolak. Tapi akhirnya menyetujui mengingat esok hari kami akan menginap di hotel, lebih mudah jika esok hari Heidy lah yang mengantarkan kami ke hotel karena jarak hotel dari rumahnya jauh lebih dekat daripada rumah orangtuaku di Cibiru. Setelah Cinda dan Cahaya bertanya apakah disana toiletnya normal atau tidak! Ahhhh dasar bocah masih urusan toilet juga.

31 Juli 2018

Hari ketujuh belas

Kami telah keluar rumah Heidy sejak pukul 11 pagi. Heidy akan mengajak kami bermain ke daerah Punclut. Ternyata lewat jalan belakang komplek rumahnya yang berada di Setiabudhi kami tiba tiba saja melintasi daerah Ciumbuleuit dan naik ke atas ke Punclut. Jalannya cukup sempit dan terjal. Kami menggunakan mobil yang tidak terlalu besar, sehingga memudahkan jika berpapasan dengan motor (klo berpapasan dengan mobil lain entahlah apakah masih muat atau tidak).

Berpuluh tahun yang lalu daerah Punclut hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki atau kuda, aku masih ingat saat SMP dulu, daerah Punclut mulai ramai dihari minggu. Orang orang berbondong bondong berjalan kali ke atas. Saat itulah cikal bakal nasi hitam menjadi beken. Saat para pendaki/pejalan kaki tiba di atas, kami akan mampir untuk makan nasi hitam bersam ikan asin, lalapan dan makanan Sunda lainnya. Menurut ayahku nasi hitam enak karena pulen dan lebih sehat. Tapi menurutku keras dan tidak seenak nasi putih.

Heidy membelokkan mobilnya ke temapt wisata DIDIEU LAND. Didieui artinya disini dalam bahasa Sunda. Heidy bermaksud mengajak kami makan di Dago Bakery Punclut yang tempatnya bersebelahan dengan Didieu Land. Tapi Cinta Cahaya langsung bersemangat begitu melihat arena outbond yang ada disana. Untuk masuk ke tempat wisata ada tiket masuk yang tidak mahal. Harga yang bersahabat. Ternyata disana selain bisa menikmati bermacam makanan, orang orang juga sibuk berfoto ria.

Tempat ini bisa dijadikan alternatif liburan jika sedang ke Bandung. Karena kami datang sebelum jam makan siang, tempatnya masih kosong. Anak anak bisa bermain sepuasnya. Tak banyaknya pengunjung mungkin juga karena saat itu bukan hari libur atau weekend. Tapi menurut Heidy jika hari menjelang sore, tempat ini akan dipenuhi anak muda yang pacaran. Ah untunglah aku tak datang sore hari, jadi tak usah nonton mereka, hihihi.

Keluar dari tempat parkir, si kembar melihat dua ekor kuda, jadinya sebelum Heidy mengantarkan kami ke hotel, si kembar masih sempat naik kuda di Punclut. Lumayanlah menghibur kekecewaan saat mereka naik kuda di The Ranch yang sekejap.

(bersambung)

Advertisements

Toilet

29 Juli 2018

Hari keenam belas

Liburan kali ini, aku dihadapkan dengan kenyataan bahwa kini si kembar hampir sama dengan kebanyakan anak lainnya yang agak pemilih masalah toilet. Dulu waktu ponakanku masih kecil dia rela menahan pipis atau pup jika toiletnya tidak bersih. Tapi ponakanku itu tidak pernah bilang alasan sebenarnya, dia dengan sopannya bilang pada tuan rumah bahwa dia gak jadi pipis dan bilang nanti saja di rumah. Berbeda dengan si kembar dia dengan tegas bilang pada tuan rumah bahwa mereka tidak bisa pipis jika toiletnya tidak normal. Bukan masalah kebersihan atau apa, tapi toilet tidak normal!

Nah toilet apa yang tidak normal? Yaitu toilet jongkok. Padahal dua tahun yang lalu mereka masih bisa menerima jika harus jongkok saat pipis, mereka nurut saja tapi sekarang mereka selalu menolak, bahkan rela menahan pipis. Puncaknya saat perjalan dari Bogor ke Bandung melalui jalur Puncak, saat di daerah Rajamandala keduanya sudah tidak bisa menahan pipis, sopir dah berusaha nyari tempat dimana sekiranya mereka bisa pipis, akhirnya sejam kemudian di daerah Padalarang kami menemukan toko alfa. WC nya bersih hanya tempat pipisnya harus jongkok. Cahaya masih bisa pipis, begitu giliran Cinta pipis, aku sampai harus menekan pundaknya agar dia mau jongkok, eh dia malah berdiri lagi, dan akhirnya dia pipis sambil berdiri! Ampun drama banget, aku sampe marah marah dan ngamuk di tempat. Terus keluar dong ceramah panjang lebar bahwa dimanapun mereka berada harusnya bisa menyesuaikan dengan keadaan sekitar.

Nah rencana kami, jika kami berada di Bandung, kami akan membagi menjadi tiga diamana kami menginap, di hotel, rumah orangtuaku di Cibiru dan di rumah adikku di Jongjolong. Hari kedua setiba di Bandung kami siap mengungsi ke rumah adikku, baru satu hari mereka meminta balik lagi ke Cibiru dengan alasan disana toiletnya tidak normal.

Selama liburan di Indonesia kali ini, jika kami pipis di rest area si kembar akan gembira saat menemukan WC duduk, berbeda denganku aku lebih memilih WC jongkok jika di tempat umum, lebih aman menurutku dan tidak repot mesti membersihkan dudukannya dengan tisu berkali kali.

Jika kalian memilih yang mana?

Cuanki Serayu (Here we go again)

28 juli 2018

Hari kelima belas

Si kembar kembali protes setiap kali aku bersenandung intro soundtrack Mission: Impossible. Mereka menagih janji untuk nonton film Mama Mia 2. Sebelum kami berlibur, kami telah melihat thriller Mama Mia Here we go again. Aku mengatakan pada si kembar bahwa aku nonton film Mama Mia pertama pada bulan juli 2008 di bioskop berdua ibuku. Dan inilah film terakhir yang aku tonton bersama ibuku sebelum aku meninggalkan Belanda. Rasanya nonton film kala itu seperti perpisahan antara ibu dan putrinya apalagi film tersebut bercerita antara ibu dan anak gadisnya ditambah lagu lagu dari ABBA favorit ibuku. Aku bercerita pada si kembar bahwa jika kami nonton film Mama Mia 2 saat liburan di Indonesia akan menjadi hari antara ibu dan anak perempuannya, dan aku berencana mengajak ibuku. Akan ada tiga generasi.

Ternyata hari itu tanteku datang berkunjung, dia mengajakku makan cuanki Serayu. Aku setuju. Tanteku yang datang dengan anak perempuannya tiba pukul sepuluh pagi, kami bermaksud nonton Mama Mia terlebih dahulu di Paskal Square sebuah mall di Pasir Kaliki. Sayang setelah melihat jalanan yang macet, kami berganti haluan ke arah jalan Serayu terlebih dahulu. Dan astaga aku terbelalak begitu sampai disana dan melihat antriannya yang mengular.

Sepupuku yang masih berusia 23 tahun menenangkanku saat aku tak yakin haruskah kami jadi makan cuanki disana. Namun dia dengan sigap menenangkanku bahwa semuanya akan berjalan dengan lancar. kami yang membawa rombongan sebanyak sembilan orang, digiring ke meja di sebuah halaman rumah yang nyaman, kami duduk di bawah pohon rindang. Aku dan sepupuku ikut dalam antrian. Uci (sepupu) menerangkan bahwa yang berdiri di barisan kiri adalah mereka yang akan makan cuanki di tempat, sedangkan orang yang mengantri di sebelah kanan adalah mereka yang akan membawa pulang pesanannya.

Cuanki yang legendaris itu ternyata tak sesuai harapanku. Hanya oke! Dan aku masih bingung mengapa begitu banyak orang hingga antri luar biasa. Tapi menurut Uci dan tanteku, inilah satu satuanya cuanki yang sesuai dengan lidahnya. Dia tak merasa aneh jika orang orang rela antri seperti ini.

Selesai makan cuanki Serayu kami melanjutkan perjalanan ke Paris van Java. PVJ adalah mall besar di Bandung yang menjadi favorit Luc sejak pertama kali dia datang ke Bandung. Dan kali ini dialah yang menjadi guide kami di mall tersebut. Dialah yang menunjukan dimana mushola berada, tempat anak anak bermain ice skating bahkan mesin ATM pun dialah yang menunjakannya. Dia juga berkata bahwa ada toko yang menghilang terakhir kali dia datang dua tahun yang lalu tapi muncul toko toko lain yang dulu tidak dia lihat. Oh ya saking seringnya dia datang seorang diri ke PVJ, seorang teman pernah mengirim wa kepadaku, bahwa dia suatu hari melihat Luc seorang diri di PVJ, dan aku langsung membenarkannya bahwa dia datang ke PVJ untuk nonton film.

Aku membeli tiket film sebanyak 9 buah. Dan sedikit terpana saat total biaya tiket, popcorn, soft drink dan coffee hampir mencapai 1 juta rupiah. Mahal kataku pada Luc sambil memperlihatkan jumlah bill saat aku membawa minuman dibantu Uci. Murah. Jawab Luc. Kamu harus ingat kita nonton bersembilan. Oh ya ternyata kami tidak jadi menonton hanya para wanita saja. Karena Luc dan ayahku memutuskan menonton film yang sama dengan kami dan juga saat itu aku menculik ponakanku yang seumur dengan si kembar untuk ikut berjalan jalan dengan kami dan dia adalah seorang anak laki laki.

Diluar dugaanku setelah keluar dari bioskop semuanya begitu bersemangat berdiskusi tentang film yang baru kami tonton. Bagi ibu, ayah dan tanteku melihat film mama mia adalah menyenangkan karena mengingatkan masa muda mereka yang tumbuh bersam lagu lagu ABBA, sedangkan bagi si kembar adalah karena mereka menyukai musik dan film yang bernuansa girly. Tak heran jika sesudah kami tiba di rumah, si kembar sibuk browsing mengenai film Mama Mia 2 dan ingin tahu tentang film Mama Mia sebelumnya.

Satu satunya yang kurang menikmati film tersebut adalah ponakanku Ghaly, dia berkali kali mendapat lirikan tajam dari Luc karena berkali kali mengajak ngobrol Cinta yang duduk di sebelahnya terutama saat popcornya telah habis. Dia juga satu satunya yang keluar ke toilet saat film sedang berlangsung dan Luc lah yang harus mengantarkannya ke toilet. Menurutku film Mama Mia 2 lebih menarik dari film Mama Mia sebelumnya. Tak percuma kami harus menunggu sepuluh tahun kemudian untuk dapat melihat lanjutan film Mama Mia. Mama Mia Here we go again.

(bersambung)

Mijn Tommetje, Mission: Impossible

tommetje fallout

Hari keempat belas

27 juli 2018

Cahaya belum juga membaik, walau hari ini sudah tidak muntah muntah tapi tubuhnya masih lemas. Hari ini setelah para lelaki shalat jumát, Luc dan ayahku ikut menemaniku bertemu dengan kekasihku, Tom Cruise!

Jaman dahulu kala Luc pernah bertanya padaku siapa aktor favoritku. Tentu saja dengan tegas aku menjawab Tom Cruise. Sejak aku melihat dia bermain di film Top Gun saat itu juga aku menetapkan dia adalah aktor terhebat di mataku. Begitu film Top Gun akan ditayangkan di bioskop di kota Bandung untuk pertam akali, aku sudah meminta ayahku untuk menemaniku pergi ke bioskop. Sayang sekali karcis telah terjual habis saat kami tiba di bioskop. Esoknya aku pergi dengan kedua kakakku siang ahri setelah pulang sekolah. Nonton di bioskop Nusantara di gedung Palaguna, bioskop termahal saat itu. OMG aku masih ingat sekali harga tiketnya seharga 3000 rupiah!

Luc yang mendengar alasanku mengapa aku saat itu memuja Tom Cruise (karena tampan) langsung terbahak bahak. Dia tidak terlalu tinggi lho! Tometje! Arti dari Tommetje adalah Tom kecil, namun tje berarti pula adalah panggilan kesayangan. Biasanya yang mendapat akhiran tje adalah nama anak kecil.  Terus kenapa? Tanyaku. Apakah kamu tahu bahwa dia penganut Scientology? Lanjutnya. Apakah salah? Aku balik bertanya. Dan Luc semakin terbahak mendengar jawabanku. Sejak tau siapa favoritku, setiap kami menemukan film terbaru Tom Cruise, Luc selalu memberitahukanku… Yayang, film terbaru Tommetje akan segera tayang. Sejak itulah kami menyebut Tom Cruise menjadi Tommetje.

Setelah aku menonton Top Gun, aku nonton film Coctail. Tidak terlalu berkesan tapi tetap aku ingat jalan ceritanya termasuk lagu la bamba yang jadi soundtrack film coctail. Setelah menonton film Rain man, aku jadi mengagumi akting Dustin Hofman. Barulah setelah melihat film A few good man dan Jerry Maguire aku kian menyadari bahwa Tom Cruise adalah salah satu aktor hebat. Di film Vanila Sky aku kurang bisa menikmati filmnya, entah karena terlalu rumit atau karena kala itu aku nonton berdua dengan calon pacar yang tidak pernah menjadi pacar. Padahal film tersebut ditaburi banyak bintang terkenal. Kasus sama terjadi padaku saat nonton Minority Report. Rumit sekali menurutku. Oh ya apakah karena aku nontonnya dengan pacar gelap? Hihihi.

Barulah saat aku nonton film Jack Reacher, aku dapat berpikir dengan baik dan tak meragukan Tommetje bahwa dia adalah jagoan yang luar biasa. Aku bisa mencerna jalan ceritanya dengan baik, entahlah apakah karena aku menonton dengan milikku yang sah! Hahaha. Beberapa film Mission: Impossible aku tonton sebelum aku tinggal di Belanda. Dan dengan siapapun aku menontonnya kala itu aku dapat mengikuti jalan ceritanya dengan baik. Oh ya buat kalian yang belum nonton film Jack Reacher, tontonlah segera. Sangan intertaining. Walau seperti kebanyakan film action lainnya yang tidak begitu diingat dalam waktu yang lama (tidak melekat di hati) tapi film tersebut dapat menghiburku saat aku menontonnya. Pokoknya Tommetje the best lah di film tersebut.

Hari itu tanggal 27 juli satu hari setelah si kembar berulang tahun, aku menonton dengan dua lelaki yang sangat mencintaiku… seuamiku dan ayahku. Keduanya penggemar film, dari ayahkulah aku mengenal banyak film, beliaulah yang selalu mengajakku nonton bioskop. Saat aku masih remaja dimana teman temanku  nonton bersama pacar mereka di malam minggu, aku malah sering nonton berdua dengan ayahku. Ternyata kini aku berjodoh dengan orang yang gila film juga, Luc. Sebelum dan sesudah nonton film Mission: Impossible aku selalu menendangkan soundtrack intro film tersebut.. Teng teng teng teng teng (bacalah dengan nada film Impossible yang kalian ingat!)

Nice film. Seru ayahku sesaat kami keluar dari bioskop. Jauh lebih baik dan bermutu daripada film Escape plan 2. Seru ayahku. Beberapa hari yang lalu ayahku sudah nonton film tersebut berdua dengan Luc. Oh ya ayahku adalah orang yang paling sering menemani Luc nonton film selama di Indonesia bahkan ayahku sendirilah yang menawarkan diri agar diajak Luc nonton film. Biasanya sih nonton film action kalau merekan nonton berdua tapi kini jika Luc nonton film hororpun ayahku akan ikut serta.

Kembali lagi bicara tentang Tom Cruise, Cinta Cahaya belum mengerti sepenuhnya tentang rasa kagum seorang fans pada tokok idolanya. Berkali kali mereka selalu mengingatkanku bahwa aku menikah dengan papanya, tapi mengapa masih bisa jatuh cinta pada Tom Cruise. Itu salah, bunda. Begitu kata mereka. Jika aku secara sengaja memuji muji Tom Cruise mereka selalu bergidik jijik. Iihhhhhhh….. Begitu selalu. Jelek. Kata mereka. Ah kalian belum bisa menilai antara jelek dan tampan. Dia tua, bunda. Ah dia jauh lebih muda dari usianya. Bagiku dulu dan sekarang dia sama menariknya. Hahaha. Bahkan semakin tampan daripada dulu. Ohhhh bunda, itu salah sekali! Papa jauh lebih tampan. Teriak si kembar bersamaan.

(bersambung)

Nine years old

26 juli 2018

Hari ketigabelas

Hari ini si kembar berulang tahun yg ke 9. Di hari ulang tahunnya ini, aku dalam keadaan kondisi kurang fit. Mungkin akibat terlalu padat ya jadwal kami selama ini, tiada hari tanpa istirahat. Tak hanya aku yang kurang fit, Cahaya setiba di Bandung dia langsung muntah di tempat tidur. Kami tiba pukul 11 malam dari Bogor.

Sopir membawa kami melewati jalur Puncak, kami makan malam di sate Maranggi Puncak yang legendaris tersebut.

Luc bersama si kembar tidak keluar dari mobil saat aku berdesak desakan mengantri sate, mereka sama sekali tak mau makan malam, apalagi Luc yang tengah diare.

Entah karena perut kosong atau masuk angin, Cahaya muntah saat dia akan tidur. Esoknya kondisi bukannya membaik namun bertambah buruk, di hari ulang tahunnya itu dia muntah hingga 4 kali disertai demam. Aku yang sejak bangun pagi merasa mual tambah panik melihat kondisi Cahaya. Ditambah lagi hari ini adalah jadwal aku akan mengurus pembuatan e ktp.

Setelah mereka bangun pagi, aku mengucapkan selamat ulang tahun di tempat tidur, trenyuh melihat kondisi Cahaya yg lemas. Hari itu tak ada kue ulang tahun, tak ada tiup lilin. Aku dan Luc memberikan kado ulang tahun yang aku beli di Belanda. Cinta bertanya apakah sepupunya akan datang di hari ulang tahunnya. Aku menjawab bahwa aku dan Luc tak merencanakan apa pun untuk hari ulang tahun si kembar, hanya makan di restaurant seperti hari hari sebelumnya selama liburan.

Ternyata untuk makan malam pun kami tak sempat makan diluar, selain aku kembali ke rumah melebihi jam makan malam (setelah seharian mengurus e ktp di kecamatan, mengurus urusan per-Bank-an yang untuk berbicara dengan CS pun aku harus menunggu hingga satu setengah jam!) juga kondisi Cahaya yang panas dan juga tak mau makan apa apa, membuat kami yang ada di rumah tak berselera untuk pergi ke restaurant malam itu.

Dan bayangkanlah untuk mengurus segala birokrasi di hari itu, aku harus menjalankan nya dalam keadaan diare ringan, mual dan penciuman ditenggorokan (eh apa pula ini😁) akibat sate Maranggi semalam yang masih terasa di kerongkongan membuat diriku merasa mual. Ah inilah akibat aku kebanyakan makan sate. Kamerkaan klo istilah Sunda nya.

Walau tak ada pesta hari itu(bahkan foto yg aku buat di hari ulang tahunnya adalah foto mereka di tempat tidur saat aku mengucapkan selamat), namun doa akan tetap hadir setiap saat untuk kalian…. Semoga Cinta dan Cahaya selalu berada dalam lindungan Nya, selalu sehat dan bahagia….. Juga selalu bisa memberikan cahaya serta cinta untuk sesama mahluk….

Happy birthday cahaya hati ku…

Jungle land Bogor

Hari keduabelas

25 juli 2018

Pukul 8 pagi, aku dan si kembar susah siap siap akan turun ke bawah buat sarapan, tapi Luc masih tampak tertidur. Saat aku membangunkannya dia tetap tak mau bangun dari tempat tidur, perutnya sakit. Kemaren malam kami berencana diajak makan malam oleh kakak ku, tapi tiba tiba sepulang kerja (dia kerja di jakarta tapi rumah di bogor) dia harus mengurus ibu mertuanya di rumah sakit. Jadi lah aku berempat makan malam di mall Botanical Square depan Hotel, aku makan baso malang Luc ikut ikutan pesan baso malang. Saat kami kembali ke hotel, kakak ku mengabarkan dia akan mampir ke hotel untuk menemui ku. Dia tiba pukul 10 malam dan mengajak makan wedang Ronde kesukaan Luc. Tak hanya wedang ronde yang di lahap Luc dia juga makan ketan duren. Sepertinya perpafuan ketan dan wedang ronde itulah yang menyebabkan dia tumbang hari ini.

Luc benar benar menyerah dengan sakit perutnya, dia tak mampu turun ke bawah untuk sarapan. Hari ini kami akan kembali ke Bandung, sebelum meninggalkan kota Bogor kami berencana ke jungle land. Sopir yg diutus ayah ku dari Bandung sudah duduk manis di lobby hotel pukul 10 pagi, dan surprise surprise ayah ku sudah duduk juga disana. Katanya dari pada duduk saja di rumah lebih baik ikut jalan jalan ke bogor.

Luc meminta kami membatalkan acara ke jungle land, dia ingin segera kembali ke rumah orang tua ku di Bandung. Akhirnya aku mengambil jalan tengah, aku dan anak anak tetap pergi ke jungle land sedangkan luc akan tetap di hotel, hingga kami selesai bermain dari Jungle Land dan kembali ke hotel untuk menjemput Luc. Untuk itu kami dikenakan charges karena melebihi waktu dari check in.

Anak anak begitu suka cita saat tiba di jungle land. Mirip Dufan dalam versi mini. Tapi aku lebih menyukai jungle land karena sepi. Dan yang membuatku lebih bahagia karena karcis masuknya terjangkau (185 ribu) ditambah kortingan 25 persen karena hotel tempat kami menginap memberi voucher discounts. Ayah ku dapat masuk gratis karena diberi karcis manula. Dari mulai kami masuk gerbang petugas disana ramah ramah. Bahkan ada yg minta welfi segala dengan si kembar.

Saking sepinya beberapa atraksi harus menunggu penumpang hingga 4 penumpang agar atraksi bisa dijalankan. Semua atraksi nyaris kosong, saking kosongnya aku beranggapan bahwa lebih banyak petugas dari pada pengunjung. Lebih dari itu kita tidak usah khawatir kelaparan karena banyaknya kios makanan di dalam sana.

Selain itu jalan menuju jangle land sungguh menyenangkan, tidak macet seperti ke Puncak. Jungle land berlokasi di daerah sentul.

Hari itu untuk pertama kalinya, aku bisa bercerita banyak dengan ayah ku. Dia sabar sekali mendampingi si kembar, ayah ku telah sepuh telah berusia 76 tahun, semangat nya masih tinggi. Kami anak anak nya selalu menyebut beliau our hero.

Terima kasih ayah, terima kasih kakek tercinta

(bersambung)

The Ranch

24 juli 2018

Hari kesebelas

Pukul sebelas siang Heru keponakanku telah menjemput kami di hotel. Khusus hari ini ponakanku menawarkan diri untuk mengantar si kembar, seperti perpisahan karena mulai minggu depan dia sudah akan jadi mahasiswa di kota Yogya, sesuai cita citanya masuk fakultas teknik UGM. Tawaran jalan ke Taman Safari disambut antusias oleh si kembar. Tapi Luc memilih jalan ke the Ranch dengan alasan si kembar pernah ke Taman Safari baik yang di Puncak atau pun yang di Jatim. Entah kenapa setiap berlibur ke Indonesia, Taman Safari selalu menjadi hiburan terbaik bagi si kembar.

Ticket masuk The Ranch perorang adalah duapuluh ribu perorang, ticket tersebut bisa di tukar dengan sebotol kecil susu murni. Kalau kalian kebetulan datang hari senin, kita bebas bayar tiket masuk, tapi ya tidak ada kuda yang beroperasi. Ternyata kuda pun butuh istirahat.

Kami langsung menuju tempat kuda. Cinta tiba tiba saja sedikit kecewa, ternyata the ranch sama sekali berbeda dengan bayangannya. Dia berharap naik kuda tanpa didampingi si mamang, dia ingin naik kuda sambil berlari, belajar menunggang kuda, menyisir surainya. Ternyata sampai sana dia hanya mengemakan baju ala koboi, naik kuda yg berjalan pelan, hanya lima menit saja dengan tiket seharga 35 ribu sekali naik. Mana bisa si kembar hanya sekali naik! 😞 Kami hanya memperbolehkan si kembar naik dua kali.

Selesai naik kuda si kembar melihat trampoline, mereka semangat ingin naik trampoline. Disana harus bayar lagi, juga 35 ribu. Petugas kassa menjelaskan bahwa si kembar diperbolehkan meloncat sebanyak 12 loncatan. Aku terbelalak. Mahal amat. Ternyata petugas trampoline tidak menghitung berapa kali si kembar melakukan loncatan, tapi tetap menurutku mereka bermain trampoline hanya sekejap.

Kemudian si kembar memilih permainan lain setelah trampoline, bola yang mengapung di air, dimana cinta dan Cahaya masuk ke bola tersebut dan berjalan dalam bola seperti hamster.

Saat itu Luc bertanya bagaimana dengan anak anak yang tinggal sekitar sini, apakah harga tersebut terjangkau? Apakah mereka juga bisa bermain di tempat seperti ini dengan harga seperti ini? Ah, kita sama sama tau bahwa hiburan seperti ini dibuat hanya untuk mereka yang mampu saja, menyadari hal tersebut aku tiba tiba sedih.

Rasanya aku tak henti hentinya mengeluarkan uang untuk berbagai macam permainan, naik delman, main panahan, trus apa lagi ya?

Ternyata permainan yang dibayar cicilan saat naik jatuhnya lebih mahal dibandingkan tempat bermain semacam Dufan yang bayarnya sekali saja saat masuk.

Selesai bermain, Heru ponakanku memberi masukan, jika kami ingin makan siang yang tempatnya nyaman dan tenang cobalah makan di Bumi Sampireun. Belum naik ke Puncak dan ada di daerah cigadok. Masuk melalui perumahan Vimala Hills. Begitu masuk ke arah perumahan, kami sudah disuguhi pemandangan nyaman dan tenang.

Apalagi saat memasuki restaurants nya yg nyaman dan bersih, terhapus sudah rasa lelah hati memikirkan The Ranch yang mesti berkali kali keluar uang😂. Aku memesan baby ikan mas yg rangu dan gurih, makan dicocol sambal dadak, enak sekali.

(

bersambung)