Beunghar Kagok

Bagi yang mengerti bahasa Sunda pasti tau artinya beunghar kagok yaitu orang kaya tapi nanggung. Kok ada istilah begitu? Menurut temanku orang seperti itu banyak ditemui di jaman sekarang ini. Mereka yang dikatagorikan beunghar kagok adalah mereka yang suka banyak wara wiri ke luar negri dan dipost foto fotonya di sosial media, memakai barang barang merk terkenal dan mahal. Model model sosialita lah. Mohon maaf bukan berarti mereka yang begitu kaya boongan, atau semuanya seperti itu. Tentu saja hanya sebagian saja dan mungkin saja pengamatan temanku yang kemudian aku benarkan adalah salah.

Semuanya berawal  saat teman lamaku (benar benar teman masa lampau, kami satu kelas selama dua tahun saat kami di bangku SMA sekitar 24 tahun yang lalu) berlibur ke Eropa dan menemuiku di Rotterdam dua minggu yang lalu. Kami hanya berjumpa mungkin satu atau dua kali sejak kami berpisah dari SMA, persahabatan kami di SMA dikalahkan oleh kesibukan kami saat kuliah dan kegiatan serta pergaulan  yang berbeda. Hingga beberapa tahun yang lalu aku mendapat kabarnya kembali di sebuah group BBM teman SMA, namun tak berlangsung lama karena aku menghapus BBM di mobielku dan aku belum sempat menyimpan nomor teleponnya begitupun dirinya. Untunglah dia dapat menghubungiku melalui kakakku.

Singkat cerita dia mengabarkan bahwa dia akan berada di Belanda selama lima hari setelah dia berada terlebih dahulu di Prancis dan Jerman. Dia bertanya dikota mana aku tinggal. Akhirnya diputuskan dia akan berada di Amsterdam dua hari menginap di hotel di Schiphol kemudian ke Rotterdam dua hari dan kembali ke hotel di Schiphol satu hari sebelum mereka kembali ke Indonesia. Mengingat persahabatan jaman dulu yang penuh tawa antara aku dan dirinya tiba tiba saja aku bertanya pada suamiku apakah dia mengijinkna jika aku menawarkan dirinya untuk menginap di rumah kami selama mereka berada di Rotterdam (dia akan datang bersama suami dan satu anaknya). Kuceritakan bahwa dia sahabatku saat SMA, dia hampir tiap hari datang ke rumahku sepulang sekolah. Selama SMA dia tidak satu rumah dengan orangtuanya, orangtuanya tinggal di sebuah kota kecil di pelosok Jawa Barat. Dia dibelikan sebuah rumah di Bandung saat dia sekolah dan tinggal bersama kakak satu satunya yang berbeda satu tahun dengannya dan bersekolah di sekolah yang sama dengan kami, mereka ditemani oleh pengasuhnya yang mengurusnya sejak lahir.

Aku menjemputnya di centraal station di hari sabtu tanggal 20 Mei bertepatan dengan hari ulang tahun pernikahan kami yang ke 9. Pertemuan yang menggembirakan! Tidak ada rasa canggung sama sekali, sama seperti puluhan tahun yang lalu, masih menggunakan bahasa Sunda kasar yang akan mengagetkan para priyayi Sunda jika mendengarnya. Dia masih sederhana seperti dulu. Aku bertanya padanya apakah dia masih jenius seperti dulu? Yang langsung dia jawab bahwa dia tak sejenius dulu lagi tapi masih tetap lucu seperti dulu katanya.

Itu tak kami ragukan lagi. Suamiku sampai tercengang melihat tingkah polahnya, sesaat setelah berkenalan sang suami langsung menyukai kawanku itu, Suasana penuh canda tawa. Cinta Cahaya langsung nempel dengan anaknya yang sudah berusia 15 tahun. Dari mulutnya aku mendengar cerita kemana saja dia setamat SMA, kuliah di universitas top di kota Bandung mengambil jurusan Teknik Sipil sesuai cita citanya, bekerja di perusahaan pamannya yang aku kenal juga. Di usia 21 tahun dia sudah berpenghasilan antara 20 hingga 30 juta perbulan saat dia masih kuliah, dan itu sekitar 20 tahun yang lalu. Berhasil membuat proyek perumahan besar di kota Bandung pada usia 21 tahun dan menikah juga di usia 21 tahun. Kukatakan padanya bahwa aku pun bercita cita  menikah di usia 21 tahun, namun sayang di usia 21 tahun tak ada yang melamarku! Barulah 13 tahun kemudian ada orang yang berani melamarku.

Kutinggalkan kawanku sekeluarga di hari pertama pertemuan dirumah kami bersama si kembar, karena aku dan suami sudah reservasi tempat untuk makan di restaurant merayakan ulang tahun pernikahan kami. Dan topik kencan aku dan suami saat dinner di restaurant  adalah tertawa tawa menceritakan kembali pertemuan kami dengan kawanku, suami tercengang saat menyadari bahwa dia bisa begitu akrab dengan kawanku seolah sudah bertemu berkali kali.

Keesokan harinya aku membawanya ke kota Maastrich, kota kenanganku karena di kota inilah aku belasan tahun yang lalu pernah datang dan tinggal sesaat di kota ini  sebelum mengenal suamiku. Kuajak seorang teman yang tinggal di kota Maastrich untuk bergabung bersama kami. Dengan bergabungnya temanku suasana semakin seru. Sebelum ke kota Maastrich kami ke outlet Roermond terlebih dahulu, seperti yang sudah sudah biasanya turis Indonesia suka kalap belanja disini. Tapi tidak dengan temanku. Dia hanya mendatangi toko sepatu Tod’s yang menurutnya susah didapat di Indonesia, membeli dua buah sepatu untuk dua putrinya. Sambil berkata bahwa sebelum pulang ke Indonesia dia akan membeli koper terlebih dahulu. Merk Rimowa katanya yang terus terang aku baru saja mendengar nama merek tersebut darinya, dan cukup tercengang saat harganya berada di kisaran 600 euro dia membeli dua pula. Lucunya begitu keluar dari toko dia langsung mengisi nya dengan belgian coklat buatan supermarket, untuk para karyawannya katanya. Membeli koffer dia lakukan sesaat sebelum dia naik kereta dari centraal Rotterdam ke schiphol dan kami membongkar isi belanjaannya untuk dimasukan ke koffer baru di pinggir jalan!

Terus terang walaupun selama tiga hari kami tertawa tawa bersama, ternyata sulit pula melepas dia saat meninggalkanku di station, dia menitikkan air mata begitu juga diriku. Terus terang tiga hari bersamanya rasanya aku kembali ke masa remaja yang penuh canda tawa, mengingat kenakalan yang kami buat. Tercekat bagaimana mungkin dia bisa menjadi ibu yang baik, aku kagum melihat anaknya yang cekatan, ramah dan sopan. Tak terbayangkan jika membandingkan dia saat SMA dulu, karena aku tau betul dia dahulu, saat makan tiba,  dia  tinggal makan dari piring yang disediakan pengasuhnya dan saat selesai makan dia akan menaruhnya begitu saja dimanapun dia suka.

Aku mengambil gambar dirinya saat berpisah, dia tertawa sambil berkata bahwa dia tidak mempunyai foto selama liburan kali ini, aku terpengarah saat dia berkata bahwa dia tak punya foto saat di disneyland Paris sekalipun. Selama dia di Amsterdam aku merekomendasikan tempat yang harus dia datangi diantaranya ke Volendam dan berfoto disana, ternyata dia tak melakukan foto itu. Ucapnya semua memori di Belanda sudah dia simpan di otaknya, aku tertawa mendengar jawabannya, sambil memelukku dia berkata bahwa dia akan kembali di bulan September ini sebagai alasan untuk bisa berfoto di Volendam. Ahhh, aku tertawa mendengar jawaban konyolnya.

Mengingat dirinya kini aku hanya bisa menyukuri bisa bertemu kembali dengan dirinya setelah puluhan tahun lamanya tak berjumpa, melihat dirinya sekarang yang tak berubah tetap sederhana dan kocak, juga saat aku menyikut tangannya karena dia tetap sibuk dengan teleponnya saat seorang pelayan datang bertanya padanya untuk menanyakan pesanan makanannya. Dia cukup berkata maaf, dan berkata padaku bahwa dia baru saja mengecek laporan keuangan bisnisnya yang dilaporkan oleh anaknya di Indonesia.

Balik lagi ke istilah beunghar kagok menurut versi dirinya. Aku bertanya, jadi kamu orang kaya jenis mana? Dia malah melotot padaku. Hah aku sama sekali bukan orang kaya, serunya. Jika aku kaya mungkin aku tidak seperti ini, aku rasa kamu cukup cerdas untuk tidak mengelompokan seseorang dari uang atau harta yang dimilikinya.

Sekali lagi aku terpana mendengar jawabannya. Dan saat itu juga aku merasa lebih kaya darinya. Aku masih bisa berdebar debar saat menanti liburan tiba, mempersiapkan koffer dengan baik, berpikir jangan sampai barang pribadi terlewat tak terbawa, menyusun tempat wisata yang akan dikunjungi, menimang nimang hotel yang terjangkau harganya namun nyaman, semuanya. Dia, temanku ini saking sibuknya menurut cerita dia saat akan berangkat dia hanya punya waktu 10 menit untuk memasukan pakaiannya ke koffer dan langsung berangkat ke bandara. Dia baru melihat nomor dan jam penerbangan sesaat sebelum berangkat ke bandara.

Duh Heidy belum sebulan kita berpisah, aku sudah merindukan tawamu……….

 

 

NB; Ppffff aku nulis apaan sih? Hahaha ga pede abis setelah lama gak nulis. Ini mengalir begitu saja dari pikiran dan dituangkan dalam tulisan, semoga ga banyak salah ngetik.

Advertisements

Saat Anak-anak Terbang Sendiri

IMG_20170424_173901282[1]

Children traveling alone? Pernah berpikir tentang membiarkan anak anak terbang sendiri saat mereka dibawah umur? Dulu tak pernah berpikir sampai kesana, hingga dua tahun lalu….. Aku dan suami mulai memikirkan untuk membiarkan si kembar terbang berdua tanpa kami. Hal itu diawali saat aku bilang pada ibu mertua bahwa kami tak bisa tiap tahun menengok beliau di  Portugal. Beliau langsung melontarkan penawaran untuk mengirimkan si kembar tanpa kami, sehingga kami bisa pergi ke tempat lain tanpa anak anak. Luc langsung menyetujui ide itu sebagai usulan yang baik tapi tidak denganku. Rasanya berat sekali membiarkan si kembar terbang berdua saja.

Bulan Oktober tahun lalu rencana sudah dibuat, si kembar sudah siap dikirim saat liburan musim gugur. Namun tiba tiba aku tidak bisa tidur, gelisah luar biasa, beberapa pikiran buruk berseliweran dalam benakku. Hingga aku harus menelepon ibu mertua dan bilang bahwa kepergian si kembar kami mundurkan hingga liburan di bulai mei sebelum liburan musim panas.

Dan panduan inilah yang membuat diriku semakin percaya diri untuk mengirimkan si kembar berdua saja, karena beberapa point dalam artikel tersebut dimiliki pula oleh si kemabr seperti point yang menyebutkan perkembangan emosi dan kemampuan si kembar dalam beradaptasi sangat baik.

Seperti biasa, kami selalu memilih maskapai penerbangan transavia jika akan terbang ke Faro. Dengan alasan praktis, transavia bisa terbang dari Rotterdam Airport dan itu hanya lima menit saja berkendarran dari rumah, penerbangan ini adalah penerbangan langsung dari Rotterdam ke Faro, tidak usah transit dulu di Lisabon seperti beberapa penerbangan lainnya.

Batas minimal untuk terbang sendiri di beberapa maskapai penerbangan berbeda beda. Untuk Transavia anak umur 5 hingga 11 tahun wajib  menggunakan jasa pengantar/pendamping atau disebut begeleider. Biaya yang dikenakan  adalah 50 euro per anak per satu tujuan. Jadi total biaya pendamping untuk dua anak adalah 200 euro pp.

Tiket tidak bisa langsung dibeli online. Karena saat kami mencoba membeli tiket online system selalu saja menolak, mereka selalau menanyakan berapa jumlah orang dewasa yang akan pergi, untuk itu kami segera menelepon pihak maskapai, sehingga merekalah yang menuliskannya di system dan langsung dikirim saat itu juga via email. Ada beberapa formulir yang harus kami isi dan harus kami bawa saat  check in nanti. Dan trala ternyata formulir itu harus dibuat sebanyak 5 copy per satu keberangkatan, alhasil karena dua anak kami harus mengcopy (print out) sebanyak 20 lembar pulang pergi.

Dan tibalah hari keberangkatan, si kembar heboh luar biasa. Aku menyiapkan dua handbagage yang muat dibawa ke cabin, sengaja tidak menyediakan koffer besar dengan tujuan mereka tak perlu mengambil di bagian pengambilan bagage tujunnya agar mereka cepat keluar bandara sehingga nenek mereka tak lama menunggu. (Yang pada akhirnya tetap saja handbagage tersebut tidak dibawa ke cabin untuk memudahkan anak anak berjalan ke atas pesawat, koffer mereka dimasukan ke penyimpanan koffer seperti biasa).

Selain membawa baju seperlunya, mereka juga membawa tutup plastik minuman untuk disumbangkan pada organisasi yang menangani anak anak sakit kanker di Portugal. Kebiasaan ini sudah aku lakukan sejak pertama kali melihat ibu mertuaku selalu menyimpan tutup minuman bekas, saat aku tau alasannya maka sejak itu pula aku ikut mengumpulkan tutup plastik bekas susu dll. Dan salah satu teman sekelas Cahaya, diapun ikut ikutan mengumpulkan tutup bekas minuman juga dan selalu dia serahkan pada Cahaya secara berkala. Tentu saja tutup platik itu tak bisa seluruhnya meraka bawa ke Portugal karena tak ada ruang di koffer mereka.
img_20170504_1007099471.jpg

Tibalah kami di bandara, saat check in dan memasukan koffer, petugas memberikan dua buah tas kecil yang dikalungkan pada leher si kembar. Tas kecil tersebut berisi tiket, passport dan kertas kertas yang telah kami print sebelumnya di rumah, kertas tersebut harus aku tandatangani di depan petugas saat menyerahkan si kembar, tentu saja akupun harus memperlihatkan passportku pada petugas.

Tiga puluh lima menit sebelum pesawat take off kami sudah harus berada di dekat pintu  ruang boarding, saat itu juga ada petugas bandara yang membawa si kembar ke dalam, kami tidak boleh masuk kedalam sehingga kami hanya bisa melihat dari kejauhan saja saat mereka diperiksa seluruh badannya oleh petugas. Ada 4 orang anak dalam penerbangan tersebut yang terbang tanpa orang dewasa.

Setelah mereka masuk ke ruang boarding, aku dan Luc segera berlari ke tempat panorama sehingga kami bisa melihat saat pesawat take off. Oh ya salah satu syarat dari transavia, pengantar tidak boleh meninggalkan airport sebelum pesawat lepas landas. Ternyata anak anak langsung dibawa ke pesawat saat itu juga, kami bisa melihat mereka berjalan didampingi petugas yang membawa mereka dari kami, barulah dua puluh menit setelah anak anak masuk, rombongan penumpang lain baru bisa memasuki pesawat berbondong bondong.
IMG_20170424_194322211[1]

Mereka akan berada di pesawat selama 3 jam lamanya. Setelah anak anak berada di tangan ibu mertua, Angela (ibu mertua) segera menelepon kami mengabarkan si kembar sudah di tangannya. Si kembar datang paling akhir setelah semua penumpang turun, saat penyerahan petugas memeriksa passport Angela dan meminta Angela menandatangi surat surat.

Kini anak anak sudah kembali ke rumah dengan cerita seru selama liburan di provinsi Algarve yang dikenal sebagai  Balinya Portugal,  hanya 7 hari saja. Mereka membawa hasil karya mereka selama berada di club Mozaik dimana Angela terdaftar sebagi anggotanya. Mengunjungi berbagai perkumpulan yang kebanyakan anggotanya kakek dan nenek (begitu cerita si kembar), berbahasa Inggris dengan para anggota, pergi ke toko mainan, dan tak lupa tiap hari nyemplung ke kolam renang yang ada di rumah omanya.

IMG_20170504_114955000[1].jpg

Hasil karya si kembar di club mozaik. Yang atas buatan Cinta (penggemar warna ungu) yang bawah buata Cahaya (pengemar warna pink)

Selama berada di pesawat si kembar menunjukan sikap yang menyenangkan (laporan petugas bandara). Mereka membeli minuman di pesawat setelah sebelumnya aku memberikan uang sebanyak masing masing 3 euro untuk berjaga jaga jika mereka kehausan (setelah sebelumnya aku mengecek terlebih dahulu berapa harga satu minuman ice tea kaleng di dalam pesawat 2,8 euro. Kami orang tua yang pelit, hahaha. Dan ternyata kono uang yang aku berikan tidak mencukupi harga minuman yang mereka beli sehingga penumpang lain yang duduk disamping mereka harus mengeluarkan uang 20 cent untuk membantu si kembar. Hihihi maafkan bunda sayang…. dan terimakasih pada penumpang berhati mulia tersebut.

Saat kembali ke Rotterdam, uang saku yang diberikan Angela pada si kembar ternyata lebih manusiawi, selain bisa membeli ice tea si kembar pun bisa membeli tosti dan masih ada kembaliannya pula yang mereka tunjukan padaku dengan bangga, beberapa cent yang tak mencapai satu euro. 🙂 🙂

Cinta pun menunjukan kertas yang dia warnai selama di pesawat, sambil cemberut dia berkata … masa aku hanya diberikan kertas mewarnai untuk anak dua tahun! Tanya Cinta: mengapa kami tak boleh mempunyai tablet seperti anak lainnya, dan hanya boleh meminjam punya bunda saja itu pun hanya weekend? Anak lain bisa bermain dengan tablet mereka di pesawat, dan kami hanya mewarnai ini? Oohhh…..

IMG_20170504_112622078[1]

Captain Cinta! 🙂 🙂

Cerita Angela sangat positif mengenai si kembar, mereka sangat ramah dan penolong pada orang orang, bahkan  mereka membantu pekerjaan rumah  seperti menjemur baju, mencuci piring sehabis makan dan membereskan mainan mereka dengan baik. Tanpa diminta! Inisiatif sendiri.  Aha!

Dan drama seru lainnya adalah saat penjemputan anak anak di bandara. Mereka berjalan dengan gagah ke arahku, aku peluk Cahaya denagn erat namun dia menangis sesenggukan…. Ohhh mungkin anak ini rindu sekali padaku…. dan ternyata kata kata yang keluar dari mulutnya adalah…. Aku tak mau pulang, aku rindu pada oma Angela hiks hiks hiks. Dan aku pun menangis patah hati! Sepanjang perjalanan di mobil Cahaya benar benar menangis hebat, dia meminta berbicara dengan omanya saat kami tiba di rumah, dan dia tak bisa bercerita dengan jelas pada omanya karena tangisnya menghalangi perkataannya. Omanya berjanji untuk menelepon si kembar keesokan harinya. Esok harinya Angela memang menelepon sekaligus meminta pada kami untuk kembali mengirim si kembar di musim panas tahun ini. Baik aku maupun Luc tak langsung mengiyakan, kami hanya memberikan jawaban…. akan kami pikirkan…..

# Adakah diantara kalian yang pernah  mengalami mengirim anak anaknya terbang sendiri? Atau mungkin kalian sendrilah yang pernah mengalaminya?

 

What are you most looking forward to in the next six months?

Donkere-houten-keuken

photos van keuken inspiratie

Dapur baru!

Akhirnya, setelah pencarian dalam satu setengah tahun ini, kami memutuskan membeli dapur pada perusahaan yang sama sekali baru kali ini kami dengar namanya.

Ternyata membeli dapur disini tak segampang yang kami kira, butuh waktu yang lama hingga akhirnya kami menjatuhkan pilihan. Setelah  searching sana sini, baca vieuw dari banyak orang, kemudian kami memutuskan membuat janji untuk datang ke toko dapur yang terkenal akan kualitasnya. Hampir dua jam kami disana, dibuatkan sketsa dapur seperti yang kami inginkan, kemudian memilih warna lemari dan bahannya, memilih alat alat elektonik seperti oven, kompor, mesin cuci piring hingga keran air pun kita yang memilih.

Dan tibalah kalkulasi harga dari dapur yang kita inginkan, dan percayalah aku sampai sakit kepala dan ingin muntah saat mendengar harga yang diperlihatkan. Kemudian si penjual bertanya sebetulnya berapa budget yang kita siapkan, saat kami menyebutkan budget kami dan ajaib si penjual dengan cepat bisa menyamakan harga dapur dengan budget yang kami punya. Caranya? Merk alat alat yang kami pilih diganti, bahan meja dan lemari diganti hanya warna yang tetap sama, biaya pasang/kerja dihilangkan. Semua itu dengan syarat bahwa kita mau menandatangi kontrak hari ini juga!

Hah??? Tentu saja kami langsung mundur teratur, Luc paling tidak suka dipaksa paksa seperti itu. Membeli dapur baru adalah salah satu keputusan penting dalam hidup kami dan melibatkan euro yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya.

Strategi berikutnya kami ubah, kami tak langsung mengirim email uantuk membuat janji datang ke tempat, tapi kami mengirim email kesekitar sepuluh toko dapur se Belanda untuk meminta brosur atau majalah dapur dari toko mereka. Tak sampai seminggu rumah kami dibanjiri pos dari berbagai toko dapur yang mengirimi majalah dapur mereka. Kemudian beberpa toko tersebut ada yang menelepon kami menanyakan apakah kami sudah mempunyai ide dari dapur idaman kami? Bertanya apakah kami ingin datang ke toko mereka dan membuat janji? Hanya dua dari sepuluh toko yang pada akhirnya kami datangi untuk dibuatkan sketsa dan bernegosiasi. Dan kedua toko terakhirpun gagal memenuhi kemampuan  ‘kantong’ kami.

Beberapa kenalan menyodorkan nama nama toko dari Jerman, lebih bagus dan jauh lebih murah kabarnya. Sudah ada dalam agenda kami untuk membuat janji dengan salah satu toko di Jerman. Belum lagi hal itu terlaksana, hari kamis dua minggu yang lalu Luc mengambil cuti dari tempat kerjanya karena akan menghadiri concert Cinta dan Cahaya di sore hari, memanfaatkan waktu yang ada kami mendatangi sebuah toko dapur yang tak jauh dari kota Rotterdam (dengan membuat janji terlebih dahulu tentunya). Seorang pria setengah abad yang tengah duduk di balik komputer menyapa kami, sedikit mengernyit sambil memandangi komputer saat Luc menyebutkan bahwa kami telah membuat afspraak pukul 10 dengan orang yang bernama A, yang ternyata dirinya. Berkali kali dia mengecek komputernya dan bersikukuh bahwa dia tidak punya janji dengan kami, aku segera menangkap sinyal di wajah Luc yang mulai tak nyaman. Hingga kemudian wajah si pria itu tiba tiba sumringah dan berubah drastis menjadi super ramah. Aha Lucas! Serunya. Hhmmm saat Luc menyebutkan nama belakangnya ternyata yang tertera di komputer adalah nama depan.

Singkat, kami langsung dipersilahkan duduk. Seperti biasa ditanya minuman apa yang kami inginkan. Aku segera menyodorkan sketsa dapur buatanku padanya. Dia terbelalak dan melihatnya, berkomentar positif saat melihat akupun mencantumkan jarak stopkontak dan ukuran ukuran meja dan lemari, bahkan ukuran meja wastafel dan kompor pun aku cantumkan. Dia gembira karena hari itu berjalan menyenangkan, kami hanya memilih bahan saja, tak seperti toko dapur lainnya, kunjungan kami dia sudahi setelah kami memilih bahan, katanya kami diminta datang di hari minggu setelah hari kamis itu untuk membicarakan harga. Dia menjanjikan di pertemuan berikutnya dia sudah membuat gambar tiga dimensi dari dapur yang kita inginkan, sementara aku dirumah pun diberi tugas untuk memilih merk barang barang beserta harganya dari toko manapun yang dapat kami cari di internet. Ini lain dengan yang lain, kami diberi kebebasan untuk mencari barang barang yang kami inginkan.

Dan hari itupun tiba, kami menandatangi kontrak pembelian dapur, setelah sebelumnya si penjual tak percaya kami mengiyakan harga yang dia sodorkan. Dia sampai menjabat tangan kami berkali kali dan bertanya apakah kami akan merayakan pembelian dapur baru ini setelah pulang dari sini? Aku menjawab sambil bercanda, bukan kami yang akan merayakan seharusnya anda yang merayakan, kami bangkrut sekarang, tak ada uang!

Dalam perjalan pulang, kami bersiul senang. Impian mempunyai dapur baru akan terlaksana dalam waktu yang tak lama lagi. Aku senang karena nanti akan ada American koelkast dan laci laci cantik untuk menyimpan bumbu bumbu Indonesiaku. Sedangkan Luc bergembira karena impiannya untuk mempunya keran air Quooker dan oven berkualitas akan terlaksana. Akan aku buat kue taart terenak dan teh yang langsung keluar air panas dari keran. Serunya padaku. Ja ja ja Luc, kita lihat saja nanti hingga berapa lama kehebohan berkutat di dapur baru akan berlangsung.

What’s one thing that you would never change about yourself

Tetap menjadi seorang perempuan. Hmmm itu takdir ya? Setelah aku menjalani hidup hingga sekarang ini, sesuatu yang tidak ingin berubah atau hilang dalam diriku adalah rasa sayang dan kasih pada sesama.

Tentang salah satu sifat aku ini, pernah ada seseorang dalam hidupku memberi saran dan nasihat karena menurut dia sifatku yang ini harus sedikit dikurangi, menurutnya super ramah pada orang lain itu baik asal jangan kebablasan seperti diriku. Menurutnya harus ada sikap pertahanan diri sehingga orang tidak menginjak diriku seenaknya, atau rasa kasihan yang berlebihan pada orang lain sehingga menyebabkan diriku sedih berkepanjangan dan melakukan segala cara untuk menolong orang yang aku kashihani namun ternyata membawa masalah pada diriku.

Menurut ‘penasihatku’ ini sifat ku yang selalu merasa kasihan pada orang lain adalah sifat baik yang menjadikan diriku lemah. Lalu baiklah, aku mencoba sarannya. Aku belajar tega pada orang lain, aku bersikap lebih tidak peduli jika melihat seseorang dalam kesusahan. Aku tidak lagi berlama lama bertatapan dengan orang yang menjajakan koran jalanan/ straat krant di depan supermarket. Hanya sesekali saja aku membelinya, tidak sesering dulu. Aku mulai menegarkan diri jika orang menghiba hiba meminta pertolonganku, aku mulai menakar dan mimilah mana yang lebih penting menolongnya atau membiarkannya.

Perubahan ini mulai berdampak pada diriku, aku mulai terlihat kaku, langsung berpikir hati hati jika ada orang minta tolong padaku, aku akan berpikir apakah dia memanfaatkanku saja? Pokoknya serba hati hati. Mulai memilih orang yang akan aku ajak senyum (sstthhh aku dikenal orang sebagai orang yang tukang senyum, ini sebenarnya karena aku pemalu).

Hingga beberapa bulan yang lalu, saat aku sadar bahwa aku merasa ada sesuatu yang hilang, aku memiliki jawaban apakah karena aku ingin  berubah, namun sesuatu yang aku ubah sebenarnya malah melemahkanku? Aku jadi bukan merasa diriku lagi. Aku menarik kesimpulan apa yang dikatakan sahabatku  memang baik, namun ternyata tak cocok denganku. Mungkin sudah begini diriku….. agak lebay kata ponakanku mah…….

Jadi inilah aku, yang bisa dengan tegas menolak keinginan Cinta yang minta dibelikan kibeling atau patat, tapi segera meyodorkan uang untuk membeli straat krant dan begitu sampai rumah dipelototi Luc sampai berkata…. Yayang ini koran yang sama dengan hari yang lalu…. Dan aku dengan cueknya akan berkata… Tapi Luc, yang jualannya beda orang kok! Hahaha.

What’s your most embarrassing moment?

Apa ya? Pake acara berpikir keras. Dan setelah pake acara berpikir keras, akhirnya aku menyuguhkan cerita ini….

Kejadiannya lebih dari  20 tahun yang lalu. Aku tidak bisa naik sepeda motor, dan temanku berkata bahwa naik motor itu gampang, asal bisa naik sepeda maka bisa langsung lancar. Tergoda aku menuruti ajakannya saat dia menawarkan akan mengajariku, karena dia sendiri tak punya motor maka aku meminjam motor kakakku, motor baru untuk pergi kuliah kakakku.

Benar saja dengan intruksi dari Airin (kawanku) aku bisa langsung naik motor, hari itu kami menjelajahi jalan buah batu, jalan dimana rumahku berada dan  terus menyusuri jalan bypass masuk komplek Batu nunggal dan kembali ke jalan cijagra I dimana rumah Airin berada, sebelum kami sampai ke rumahnya kami melihat tukang durian di pinggir jalan, kami sepakat untuk membeli dua buah durian. Setelah Airin duduk di belakang punggungku, aku memberikan aba aba padanya untuk duduk dengan benar, karena kedua tangannya penuh membawa durian di kiri dan kanan. Saat Airin berkata bahwa dia telah siap sekonyong konyong aku terkesima saat ada motor besar keren, dikenderai cowok ganteng.

Tak tau naluri penyerang atau terkesima dengan kegantengan cowok yang bak artis itu, motor yang tengah aku kendarai  langsung aku belokan menuju arah si ganteng tadi, namun karena kemampuan mengendarai motor belum terlatih, setelah belok sebanyak 90 derajak aku malah tancap gas dan motor meluncur terus ke arah selokan cukup besar. Motor beserta dua anak manusia dan dua buah durian ranum tergelincir dengan mengenaskan di selokan.

Orang berdatangan menolong kami, motor diangkat, kami diselamatkan. Dan durian juga tentunya tak ketinggalan ikut diangkat dalam keadaan tak muungkin dimakan karena masuk ke ari selokan. Aku berdiri dengan pakaian basah, untungnya hanya luka baret saja, begitupun Airin.

Saat kami masih dalam keadaan tak tau apa yang terjadi antara shock dan malu, tiba tiba aku melihat si ganteng ada di depan kami. Sudah turun dari motor besarnya, mengenakan celana jins dengan kaos oblong putih dan sepatu mengkilat, persis di film film telenovela, pria gagah tampan dan bersih menyelamatkan gadis kucel dan kotor.

Kalian tidak apa apa? Tanyanya ramah. Tangannya berlepotan air selokan, dialah yang menyelamatkan motor kakakku, bukan aku! Hahaha. Jadi tak perlu kuceritakan seperti apa mukaku saat itu. Aku malu luar biasa. Rasanya aku jatuh cinta pada pandangan pertama, entah cinta atau merasa diri konyol, entahlah. Aku menelepon ayahku, beliau datang dengan kakakku ke rumah Airin,  membawa baju salin sesuai permintaanku. Tak kuketahui kabar si lelaku ganteng itu, namun ada kabar baik yang bisa aku sampaikan pada kalian semua…..

Yakni aku dan Airin masih bisa menikmati buah durian yang telah nyemplung ke selokan, setelah durian tersebut dimandikan ternyata jadi cantik kembali dan kami membukanya bersama sama dan memakannya dengan lahap diiringi cerita tentang si ganteng.

 

 

Note: Kepada Airin dimanapun kamu berada, aku rindu padamu. Terakhir kali kami berkirim kabar, kau telah kembali ke daerah asalmu, telah menikah dengan seorang pegawai BRI, memiliki dua orang anak perempuan dan tinggal di Parigi Sulawesi. Mimpiku, kau membaca cerita kenangan kita kemudian mengontakku.

 

The Best Day of Your Life to Date

Jujur aku tak tahu kapan tepatnya hari terbaik yang aku rasakan hingga saat ini.  Apakah hari perkawinan? Saat orang yang aku keceng ternyata bilang suka juga padaku? Saat pertama kali pergi ke Eropa seorang diri dan pake uang sendiri (hasil kerja) tanpa dibiayai satu euro pun oleh orang tua? Mungkin  saat pertama kali pergi ke luar negri  dan itu seorang diri ke negara yang diidamkan pula, Jepang? Atau saat kelahiran si kembar?

Sepertinya yang terakhir bukan! Ya, hari kelahiran si kembar bukan hari favoritku. Ternyata hari yang  aku kira bukan  hari favoritku ternyata membawa dampak pembelajaran bagi kami semua. Betul kata orang bijak, Tuhan akan menunjukan jalan terbaik untuk kita, walaupun awalnya itu bukan yang kita inginkan tapi sejatinya itulah yang terbaik untuk kita.

Dan hari terbaik hingga saat ini menurut versiku hari ini ini adalah, saat aku bertemu kembali dengan dokter Verhulsdonk, seorang dokter kandungan yang membantu kelahiran Cinta dan Cahaya. Hari itu di awal bulan November, aku sama sekali tak ingat hari apa atau tanggal berapa, untuk pertama kalinya aku ikut, aku masih mengenakan kursi roda, Cahaya ada di pangkuanku sementara Luc sambil menggendong Cinta menggunakan gendongan bayi di dadanya, dia harus pula mendorong kursi rodaku.  Kami datang khusus ke rumah sakit sambil membawa tiga buah kue taart yang sengaja di pesan Luc, untuk tiga departemen di rumah sakit, IC Thorax, IC dan high care Kinder Sophia. Tiga departemen di rumah sakit Erasmus dimana aku dirawat selama dua bulan lamanya.

Di Kinder Sophia lah kami bertemu dokter Verhulsdonk. Dia memeluk erat diriku, berbicara dengan antusias pada Luc menggunakan bahasa Belanda yang tak aku mengerti saat itu, bercerita kesana kemari mengucapkan berkali kali selamat pada diriku dan bersyukur bisa bertemu kembali dengan diriku dalam keadaan sehat. Dia bersikukuh akan mempertemukan ku dengan dokter Cornet, dokter kepala yang menangani kasusku saat itu, namun pada saat di chek dimana biasanya dokter Cornet berada, beliau tidak ada di tempat.

Kemudian sebulan kemudian aku bertemu dokter Cornet untuk control. Beliau tidak mengecek kesehatanku sama sekali, karena pertemuan kali ini hanya prosedur rutin bagi pasein yang pernah lama berada di rumah sakit dan sakit parah, kami hanya berbincang bincang saja. Pembicaraan yang berkali kali membuat kami (aku dan Luc berkaca kaca) saat dokter Cornet bercerita akan ketidak percayaannya saat melihat diriku bisa berjalan. Tak pernah dia sangka sebelumnya. Menurut perkiraan dokter di Erasmus termakut 17 dokter paru paru yang menangani kasusku mereka berkata, sekalipun aku bisa sembuh, aku hanya bisa duduk di kursi roda saja tak mungkin bisa berjalan! Sambil berkaca kaca aku berkata pada dokter Cornet bahwa ini semua adalah sebuah keajaiban yang lansung disambut dengan tegas oleh dokter Cornet. Yes, it is a miracle! Namun dalam hati aku berkata semuanya sudah diatur oleh Yang Maha Pengatur. Tak ada sesuatupun yang berupa kebetulan, semuanya sudah ada jalannya.

Dan moment pertemuan dengan dokter Cornet saat aku sudah bisa berjalan adalah moment terbaikku saat itu, hari terbaikku hingga saat ini. Hari itu aku melihat wajah Luc yang menahan emosi bahagia, menahan air matanya supaya tidak jatuh saat dokter Cornet mengucapkan terima kasih pernah menjadi bagian dalam menangani kasusku, berterima kasih karena mengenal kami. Dia berkata bahwa aku adalah seorang wanita yang kuat, namun saat dokter Cornet berkata begitu aku malah teringat ucapan huisartku saat datang ke rumah untuk mengontrol kesehatanku, dia berkata bahwa aku seorang wanita yang kuat bukan saja karena kuat fisiknya tapi kuat secara mental. Dan tentu saja perkataan dokter keluarga ini membuat aku ternganga.

Dan itu membuat aku selalu bersyukur telah diberi nikmat sehat.

 

Pengalaman jadi petugas penghitung suara Pemilu (Verkiezingen) di Belanda

Pada tanggal 15 Maret 2017 di Belanda dilakukan pemilihan umum untuk Tweede Kamer (parlemen). Pemilu kali ini melibatkan 28 partai yang ikut bertarung. Ada 150 kursi yang diperebutkan. Setiap partai akan mencantumkan para kandidat yang dapat dipilih. Karena banyaknya para kandidat bahkan ada partai yang mencantumkan 80 orang kandidatnya dibawah partai yang diusungnya, maka  setiap rumah dikirimi contoh surat suara agar kita dapat membaca/tahu siapa siapa saja para kandidat yang akan bertarung dan setidaknya para pemilih bisa mencari tahu di internet orang seperti apa yang akan kita pilih.

IMG_20170315_194805584[1]

Seperti ini contoh surat suaranya. Nama partai ditulis paling atas, kemudian berurutan (kebawah) tercantum nama kandidatnya. Contohnya: Partai no. 1 VVD yang diikuti nama Mark Rutte di urutan pertama. Nomor dan nama partai berjejer dari kiri ke kanan. (lupakan wajah suami yang berakting kaget tapi tak berhasil)

Sekitar dua bulan yang lalu, suami secara tak sengaja membaca lowongan untuk menjadi petugas penghitung suara pemilu, dia berseloroh padaku via email… mungkin ini cocok buat kamu berhitung secara kamu dulu seorang cost control. Aku hanya tersenyum membaca suratnya namun tetap membuka link ini dan mengisi biodata diri untuk diikutkan menjadi petugas penghitung suara. Dan memilih sendiri dimana aku ingin ditempatkan, tentu saja aku memilih tempat pemilihan yang paling dekat dengan rumah.

Dua hari berselang aku mendapat email balasan dari panitia pemilu bahwa aku dinyatakan layak untuk jadi petugas penghitung (artinya tidak punya catatan kriminal hihihi) dan diminta untuk mengisi data tambahan setelah diberi kode untuk masuk ke site yang lain. Ada isian nomor rekening (untuk honor yang akan diterima) dan nomor plat mobil untuk memastikan biaya parkir akan ditanggung pula.

Setelah aku dinyatakan pasti akan datang membantu di stembureau no. 127, pihak panitia mengirim email yang berisi folder yang harus aku baca dan  video training yang harus aku pelajari sendiri di rumah. Membaca tahapan yang akan terjadi di tempat pemilihan yang berlembar lembar, aku langsung gak pede, ada sedikit takut gak bener dalam berhitung yang langsung disemangati oleh Luc…. Oh came on…. masa ngitung gitu aja takut, itu itungan yang bisa dilakukan anak anak seumuran Cinta Cahaya, oh lalala. Dan aku pun nyengir menyadari betapa penakutnya diriku.

Dan hari H pun tiba, aku akan bertugas dari pukul 9 malam hingga pukul 2 pagi. Tepat setelah pintu tempat pemilu (stembureau) ditutup, dimana tak seorangpun diperbolehkan untuk  mencoblos melebihi jam 21:00.Tempat pemilihan dibuka dari pukul 7.30 hingga pukul 21.00, yang terdiri dari dua shift. Pukul 15.30 shift pertama akan digantikan oleh shift 2 yang bertugas hingga selesainya perhitungan suara. Kemudian pada pukul 21.00 datang dua orang ekstra teller untuk membantu proses penghitungan, satu diantaranya adalah diriku.

Pukul setengah 9 malam, aku sudah keluar berjalan kaki ditemani Luc dan si kembar. Luc akan datang untuk memberikan suaranya dalam pemilihan ini, tak lupa dia membawa kertas undangan yang telah dikirim beberapa minggu sebelumnya via pos dan juga identitas diri. Pemilu Parlemen (Tweedekamer) hanya berlaku pada pemegang paspoort merah alias mereka yang berkebangsaan Belanda, sedangkan diriku yang bukan warga negara Belanda tidak punya hak suara untuk ikut dalam pemilu ini, namun hanya sebatas pemilihan daerah atau gemeenteraadsverkiezingen. Keikutsertaanku pada pemilihan daeran pernah aku tulis disini.

Aku duduk di kursi yang tersedia saat Luc masuk ke bilik suara sedangkan Cinta dan Cahaya asyik memilih coklat yang ditawarkan oleh petugas disana (yang pada akhirnya keresek coklat itu diberikan padaku saat tugas penghitungan usai). Saat aku duduk menunggu, datang seorang lelaki muda yang dandananya rapi sekali, mengenakan coat hitam panjang dan syal hitam glamour mirip artis artis yang ada di TV, dia wangi sekali. Saat mengulurkan tangannya padaku dan menyebutkan namanya dengan gaya anggun dan kemayu seperti dokter Boyke aku langsung nyaman akan bekerjasama dengannya, dia adalah petugas penghitung suara tambahan juga seperti diriku.

Suami dan anakku segera pulang, kemudian lubang kotak suara ditutup karena waktu tepat menunjukan tepat pukul 9 malam, voorzitter atau ketua stembureau segera memerintahkan anggota yang bertugas dipintu masuk untuk mengunci pintu, dimana seorangpun tak boleh masuk ke ruangan tempat kami menghitungg suara. Petugas pintu masuk itu seorang wanita muda yang kemuadian saat aku mengobrol dengannya dia adalah seorang dokter yang bertugas di rumah sakit dimana aku dulu pernah dirawat.

Tahapan pertama perhitungan adalah:

1. Kotak suara dibuka, seluruh isi kertas suara dihamburkan dilantai, voorzitter memeriksa isi kotak memastikan tak ada kertas suara yang tertinggal.

2. Kami para petugas membuka satu persatu kertas suara dan mengelompokan kertas suara tersebut satu persatu ditumpuk dimeja yang telah disediakan berdasarkan nomor partai, kami membuat 11 meja yang diletakan melingkar meja nomor satu hingga sepuluh adalah meja partai yang paling banyak dipilih sedangkan meja nomor sebelas adalah meja yang berisi tumpukan kertas suara dari berbagai partai dari partai nomor 11 hingga nomor 28, yang kemudian aku meminta dipasangkan lagi satu meja untuk partai nomor 11 yaitu partai 50plus yang ternyata banyak dipilih, karena adanya meja tambahan sehingga meja ke 12 dijadikan meja untuk partai nomor 12 hingga 28.

 

IMG_20170315_212951781[1]

Ehmmm siapa dia yang orangnya lebih kecil dari kertas suara?

3. Setelah kertas suara tersusun rapi berdasarkan partai barulah kami melakukan perhitungan tahap satu yaitu perhitungan cepat. Berapa total masing masing suara dari setiap partai, kemudian disebutkan pada voorzitter yang langsung menginputnya secara online ke komputer. Dari dua belas meja aku berhasil menghitung tiga meja, sedangkan orang yang menghitung berjumlah 6 orang.

4. Setelah perhitungan secara cepat dilakukan (perhitungan tahap pertama), kemudian perhitungan tahap dua dilakukan. Dari setiap meja kami harus mengelompokan nama nama berdasarkan kandidat yang terpilih. Misalnya dari partai nomor 1 VVD, berapa orang yang memilih Rutte dan berapa orang yang memilh kandidat lainnya, semua itu kami catat di kertas yang telah disedikan. Setelah selesai mengelompokan para kandidat kami menghitung total keseluruhan dari satu partai tersebut, menulis nama kita beserta paraf dikertas yang telah kita tulis dan menyerahkannya pada vorzitter kemudian voorziter memasukannya pada komputer memeriksa apakan perhitungan kita sama dengan yang pertama, jika berbeda kami memeriksa ulang dibantu anggota lainnya..

Setelah kami selesai berhitung dan melaporkan pada voorzitter, sang ketua berteriak gembira karena tidak ada selisih antara surat suara yang telah keluar (yang telah diberikan pada pemilih) dengan surat suara yang masuk yang telah kami hitung.

Lalu dimulailah ketidaksesuaian antara video yang aku pelajari dan kejadian dilapangan. Kami semua membereskan semua peralatan yang telah dipakai, meja meja dikembalikan ke tempat semula. Kami menyortir semua barang yang harus dikembalikan pada tempatnya. Apa yang harus disimpan dikotak suara yang kemudian dikunci, apa yang harus disimpan di doos/kotak bewarna hitam, apa yang harus dimasukan ke tas voorziter (seperti laptop dan kunci kotak suara) atau apa saja yang masuk ke kotak / doos putih. Aku berkata bahwa kertas bekas tidak boleh disatukan pada kraat hitam tapi seharusnya pada doos putih. Voorzitter terbelalak keheranan saat aku berkata seperti itu, kemudian wakil ketua segera menghampiri laptop dan membaca ulang tahapan yang harus dilakukan, kemudian membacakannya pada voorzitter, sang ketua memandang ke arahku sambil berkata… kamu benar… terimakasih. Opss lega rasanya. Tapi kemudian dia berteriak panik tapi dimanakah doos putih tersebut? Aku tidak pernah melihatnya, ujarnya. Aku segera menunjuk doos putih yang berada tak jauh dari tempat dia berdiri. Semua tertawa lega, dan dengan sigap kami segera memasukan secara benar pada tempatnya.

Portier atau petugas pengangkut telah menunggu kotak suara, kami semua bersalaman saling bergembira dengan pengalaman yang baru diperoleh dan segera kembali ke rumah masing masing kecuali voorziter yang harus menyerahkan tas yang berisi laptop dan kunci kotak suara oleh dia pribadi pada petugas pusat pemilihan umum. Aku tak jadi jalan kaki ke rumah seorang diri pada pukul 2 pagi, tapi aku diantarkan oleh sang wakil sang ketua yang ternyata rumahnya berada di belakang rumahku. Dan aku telah berada di rumah pada pukul setengah duabelas malam. Hanya 2 jam setengah aku membantu penghitungan suara. Waktu singkat dengan sejuta pengalaman.

Luc belum tidur saat aku tiba di rumah, dengan setengah berteriak dan tertawa menggoda pada sang suami aku berkata…. partai perompak (Piratenpartij) pilihanmu hanya  dicoblos oleh tiga orang saja, kamu bisa bergembira karena bukan kamu satu satunya yang mencoblos partai itu. Sambil berseloroh juga Luc berkata, setidaknya ada tiga orang waras yang datang ke stembureau 127 yang menginginkan dunia lebih baik dan damai. Hahaha. Kami berdua tertawa. Shhtssss, bukan berarti yang lain gak waras lho. Disini kami bebas untuk memilih partai apapun sesuai keinginan kami, partai yang mendekati apa yang kami harapkan dari pemerintah. Tanpa saling mencaci atau menyudutkan partai pilihan yang lain. Seperti iklan di TV untuk pemilihan kali ini dimana berdatangan orang orang satu persatu yang diibaratkan partai kemudian bernyanyi dengan nada/suara yang berbeda tapi nada yang berbeda itu menghasilkan harmoni yang indah. Pesannya adalah walaupun berbeda partai namun bertujuan menghasilkan tujuan yang baik.

Bukankah ini lebih indah dan nyaman?