Rujak Macan

Jangan sedih dan tak perlu panik pemirsah sekalian. Kami tetap bisa menginap di Papandayan hotel malam itu, setelah type kamar yang kami pesan tak tersedia, si mbak ramah pegawai teladan itu menawarkan type kamar lain yang sungguh aduhai dengan budget diatas standard yang biasa kami gunakan. Dengan lemas kami meminta izin untuk duduk di lobby dan mendiskusikan langkah selanjutnya. Sementara si kembar sudah berlari kesana kemari saking bahagia nya karena akan tidur di hotel (entah kenapa mereka selalu senang jiga liburan dan menginap di hotel).Saat Luc memutuskan akan mengambil kamar yang ditawarkan, adikku yang sedari tadi sibuk duduk di lobby dan browsing dengan modal WiFi dari hotel menunjukan kamar hotel dari aplikasi booking online traveloka. Bukan family room tapi cukup nyaman untuk menampung kami berempat, twin room. Ah seperti iklan di tv saja, kemudian kami datang kembali ke meja represionist sambil menunjukan bukti booking dengan harga yang jauh dari yang ditawarkan sebelumnya.Esoknya, pagi pagi sekali kami sudah keluar Hotel, naik beca menuju jalan macam. Tempat yang dituju adalah rujak/lotek macam. Tempat tersebut belum buka saat kami datang kesana, terpaksa untuk membunuh waktu aku memenuhi permintaan Luc pergi ke salon untuk di potong rambut. Anjuran untuk menunda potong rambut setelah hari minggu nanti (Idul Adha) tak dihiraukannya. Sementara si kembar sudah duduk manis di tempat tunggu menunggu giliran dicuci dan blow saja.Dari jalan banteng dimana salon ananta berada kami berjalan kaki ke jalan macan, waktu belum menunjukan pukul 10 pagi tapi tamu diperbolehkan untuk tetap masuk dan memesan makanan. Seperti biasa Cinta yang susah makan tak mau memesan makanan, sementara cahaya seperti biasanya dia meminta lontong dan sambal kacang saja, kemudian aku memesan kan kupat tahu untuk Cahaya yang dimakan bersama sama dengan Cinta. Dan kupat tahu tersebut tandas dimakan mereka berdua (dan kini menjadi makanan kesukaan Cinta). Luc memesan rujak banci, karena tertarik dengan namanya saja. Rujak banci adalah perpaduan dari rujak uleg dan rujak cuka. Dan aku memesan siomay.Kuliner pertama di Bandung, sukses kami lalui untuk pagi ini, aku senang mendapati si kembar yang mempunyai makanan kesukaan baru, kupat tahu!

Advertisements

Datang dalam keadaan gelap gulita

Hari pertama

4 Agustus 2019

Setelah menempuh 15, 5 jam perjalanan akhirnya kami mendarat di bandara Soekarno Hatta. Tak seorang pun yang menyambut kedatangan kami. Ya, mudik kali ini benar benar sebuah kejutan untuk semua orang, termasuk diriku! Bagaimana tidak, dua minggu yang lalu orang tua ku baru meninggalkan Belanda setelah satu bulan lamanya berlibur di rumah kami. Dan selama mereka di Belanda, mereka tidak tau sama sekali bahwa kami akan berlibur ke Indonesia dua minggu setelah kepulangan mereka.

Rencana awal, kami akan naik bis primajasa menuju Bandung begitu keluar dari bandara, eh siapa sangka saat aku mendorong troli koper aku berpapasan dengan seorang bapak berseragam biru muda, aku pikir dia adalah seorang petugas bandara. Aku bertanya dimana halte primajasa berada, si bapak malah menawari ku untuk naik taksi ke Bandung. Aku malah bertanya emangnya cukup sebuah taksi dengan penumpang 4 orang yang membawa 8 koper? Si bapak menjawab bahwa akan ada berbagai macam jenis mobil yang dapat membawa kami sekaligus.

Setelah deal harga (yg ternyata 4 kali lipat dari harga jika naik travel biasa) tiga orang petugas dengan cekatan segera mendorong troli koper kami menuju mobil ‘taksi’ berada. Pak Sopir yang membawa kami bernama Suroso berasal dari Solo, dia sangat ramah dan sopan. Perjalanan menuju Bandung ditempuh dalam keadaan gelap gulita. Hari itu tanggal 4 Agustus 2019, mulai siang hari hampir seluruh bagian Jakarta dan jawa Barat bahkan konon sepulau jawa tidak ada aliran listrik!

Masalah mulai ada saat sudah berada di dalam kota Bandung, aku kesulitan menunjukan jalan yang benar pada pak supir ke arah jalan Nilem sementara keadaan jalan gelap gulita dan Google maps tidak berfungsi karena koneksi Internet terganggu akibat tidak adanya aliran listrik, untung lah aku segera mengenali jalan setelah melewati jalan buah batu. Aku turun dari mobil bersama si kembar, menekan bel yang tidak berfungsi kemudian memukul mukul pintu pagar dengan batu sambil berteriak permisi. Kulihat seseorang membawa lilin di balik kaca jendela, adik iparku muncul, meletakan lilin yang tengah dibawanya, menjerit jerit kecil melihat Cinta Cahaya, aku masih bersembunyi di balik pagar, kemudian muncul adikku, terbengong bengong mendapati istrinya tengah memeluk si kembar. Dia segera melihat ku yang tengah mematung di balik tembok pagar, datang dan kami berpelukan. Sambil melepas pelukannya adikku bertanya dimana Luc dan mengapa kami hanya bertiga. Senyumnya mengembang saat aku menunjuk mobil yang berada di sebrang rumah, kemudian Luc muncul.

Setelah menjelaskan pada adikku, bahwa tak seorang pun yang mengetahui kedatangan kami sekeluarga, dia menyanggupi bahwa kini dia akan menjadi bagian dalam menjaga rencana kami untuk membuat kejutan pada anggota keluarga lainnya. Besok adalah waktunya kami mengunjungi orang tua untuk membuat kejutan kedatangan kami. Setelah menurunkan 7 koper di rumah adikku, kami segera meneruskan perjalanan ke arah jalan jalan Gatot Subroto dimana hotel Papandayan berada, disana kami berencana menginap satu hari. Adikku dengan mengendari motor mendampingi taksi yang kami tumpangi menuju hotel, sementara Cinta dengan suka cita telah berada di boncengan motor bersama adikku.

Setelah memberikan passport Luc dan memberitahukan bahwa dia telah memesan satu kamar di hotel tersebut secara online, petugas hotel yang melayani kami memberitahukan bahwa nama Luc tak tercantum di hotel tersebut, dengan sigap aku mengeluarkan bukti booking yang telah aku print di rumah dan menyerah ka nya pada petugas tersebut. Si mbak yang ramah itu kemudian sambil tersenyum menunjukan tanggal yang tertera di kertas itu untuk check in dan check out adalah tanggal 18 dan tanggal 19 agustus. Aku melirik Luc yang tengah terbengong bengong kaget disampingku.

Dengan memelas aku bertanya pada si mbak yang ramah dan cantik itu, apakah ada kamar kosong lainnya untuk hari ini?

Kemudian kami berdua mematung saat si mbak menggeleng……

(bersambung)

Sepuluh Tahun

Hari jumat tanggal 26 Juli, si kembar tepat berulang tahun yang ke sepuluh. Berbeda dengan tahun tahun sebelumnya yang selalu meributkan tentang membuat pesta bersama teman teman teman sekolahnya, kali ini mereka tidak meributkan tentang pesta bersama teman teman. Hanya Cinta berkata padaku, mengapa saat mereka tepat berulang tahun, kami tidak pernah mengundang orang untuk datang ke rumah, sementara Sophie (anak sahabatku) selalu mengundang kami setiap kali dia berulang tahun, padahal yang diundangnya adalah oma opa dan tante serta oomnya dan keluarga kami karena kami sangat dekat.

Baiklah kalau begitu, karena ini ulang tahun mereka yang kesepuluh, aku merencanakan mengundang teman temanku dihari jadi si kembar, awalnya aku berencana mengundang teman dekat saja, tiga keluarga, makan malam yang istimewa. Tapi dua keluarga tidak ada di Belanda saat hari ultah si kembar. Rencana awalpun dirubah, aku mengundang teman teman yang biasanya kumpul kira kira sebulan sekali setiap jumat siang, kumpulan bapak bapak yang berkumpul makan siang setiap selesai saat jumat. Selain mereka aku mengundang Deny dan Mauren yang aku kenal karena saling berbalas pantun jika mengomentari tulisan kami di blog. Aku juga mengundang temanku dari Amsterdam yang aku kenal sebelum kami sama sama ke Belanda, dia datang terburu buru setelah dia selesai kerja dan menjadi penyanyi dadakan di acara si kembar.

Menurutku acaranya berjalan dengan baik, aku senang anak anakpun bahagia. Lucunya tak ada persiapan ku taart karena aku membuat konsep makan siang saja, untungnya Luc berinisiatif membeli kue taart di supermarket sebelum dia berangkat kerja, oh ya Luc tidak ikut acara ultah si kembar dia harus bekerja, untunglah sebelum para tamu pulang dia masih bertemu dengan para tamu walau hanya sesaat.

Makanan yang aku sajikan, hampir keseluruhan aku yang memasaknya sendiri, masakan Indonesia. Menunya, baso plus kikil dan pangsit. nasi tumpeng dengan isian rendang, kering tempe, ayam goreng, sambal goreng telor dan urap sayuran. Oh ya Mauren membantuku dengan menghias tumpeng tersebut dengan mentimun, terima kasih.

Selain itu aku membuat cendol, asinan bogor, risoles, lumpia, martabak asin, dan putri noong. Aku sempat khawatir makanan tersebut tidak cukup untuk para tamu yang hadir, ternyata makanan lebih dari cukup. Bahkan asinan atau rujak cuka tak ada seorangpun yang menyentuhnya hingga tamu terakahir pulang.

Pada pukul enam sore, aku masih sempat memberi sepiring makanan pada para tetangga kami. Karena kami tinggal di rumah yang baru dibangun, kami menempati rumah secara hampir secara bersamaan, rumah yang sejajar dengan rumah kami membuat App grup sebanyak 7 rumah. Seperti biasanya jika aku akan mengirim makanan aku selalu memberi tahu dulu di App tersebut bahwa si kembar akan berkeliling mengirimkan makanan, karena ada 6 rumah yang lainnya maka aku mebuat 6 piring, salah satu tetangga mengabarkan bahwa dia tidak ada di rumah dan akan berada di rumah dua jam kemudian, dan aku tetap mengirimkan mereka besek tersebut dua jam kemudian. Semua senang dan terutama diriku akhirnya para tetangga bisa mencicipi nasi kuning buatanku, walau aku campur dengan nasi putih karena tidak cukup.

Si kembar yang aku tugaskan menjadi orang yang menawarkan minuman pada para tamu tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Barulah setelah Luc datang ke rumah dia menawarkan minuman pada para tamu dengan seharusnya, dibuatkan teh, kopi, capucinno atau minuman yang lainnya, dan seperti biasanya Luc tidak meberikan para tamu minuman dari gelas plastik seperti yang aku lakukan sebelum Luc datang.

Bagaimana aku bisa memasak semua itu/ Sementara aku bekerja? Aku membuat semua makanan mulai hari rabu malam, dilanjutkan hari kamis sepulang kerja dan baru berakhir pukul sepulah malam. dua hari tersebut adalah hari panas terekstrim di Belanda, bahkan di negara nergara Eropa lainnya. Saat aku melihat perangkat suhu udara yang ada di rumah, aku melihat udara di luar 37 derajat sementara di dalam rumah 28 derajat. Rumah kami tidak mempunyai AC. Yang aku lakukan adalah menutup semua jendela, lumayan di dalam rumah sedikit adem daripada di luar. Setelah memasak seharian yang sangat menguras tenaga di hari yang terik, pukul sepulh malam aku masuk ke bathub dan merendam diri dengan air garam beraroma lavender disana hingga pukul sebelas malam kemudian segera tidur untuk keesokan harinya membereskan dapur dan menata rumah untuk menyambut para tamu Cinta dan Cahaya.

Selamat ulang tahun anakku, semoga menjadi anak yang sholehah, sehat dan bahagia dan tentunya bisa membuat orang bahagia dan menjadi lebih baik.

Berenang bersama lumba-lumba

Sepertinya sudah jadi kebiasaan si kembar, setiap liburan seringkali mengunjungi tempat wisata yang ada hubungan nya dengan air, baik itu kolam renang, aquarium atau pun atraksi binatang air. Nah yang paling sering di kunjungi selain Taman Safari di Bogor (juga pernah di Prigen) adalah zoomarine di Algrave Portugal.

Liburan bulan Mei (mei vakantie) yang baru lalu, untuk kali ketiga si kembar berlibur berdua saja (tanpa orang tua) mengunjungi neneknya di Algarve Portugal. Dan kali ini tentu saja ritual mengunjungi zoomarine tak mereka lewatkan. Ada yg berbeda dengan kunjungan kali ini, mereka berencana berenang bersama lumba lumba.

Keinginan untuk berenang bersama lumba lumba memang sudah ada sejak dulu, namun selalu terhalang oleh batas usia yang telah ditetapkan, umur mereka belum mencukupi untuk berenang bersama lumba lumba.

Tentu saja si kembar bercerita dengan antusias mengenai pengalaman mereka hari itu pada ku via telephone, katanya pengalaman yang begitu menakjubkan, aku ikut membayangkan apa saja yang mereka alami disana. Dan cerita mereka kian jelas saat aku melihat videonya setelah mereka kembali ke Belanda. Durasi berenang dan memberi pengarahan tentang lumba lumba sekitar 30 menit. Mereka terbagi menjadi dua grup, dimana setiap grupnya terdiri dari lima pesarta dengan seorang pelatih lumba lumba. Dan si kembar menjadi peserta termuda, umumnya peserta lain adalah orang dewasa. Mereka diajari bagaimana mengenal lumba lumba hingga memberi perintah dasar.

Harga tiket untuk berenang sekitar 20 menit bersama lumba lumba adalah 135 euro per orang, harga tersebut sudah termasuk flash disc berisi foto dan video kegiatan tersebut, sandal jepit dan handuk bertuliskan zoomarine Algrave.

Ruang kerjaku!

Klo boleh berkata lebay, Inilah mungkin yang akan menjadi saksiku kelak. Kau gunakan dimana waktu ‘luang’ mu?

Ah mungkin ini salah satu jawabannya😜😁. Dan aku bahagia kok mengerjakannya. Di tempat itu akan muncul ide brilliant (ehemm) untuk me nulis, di situ pula sambil setrika baju aku bisa me reviews apa apa yg telah aku lakukan, berjanji pada diri sendiri untuk tidak melakukan kesalahan yg sama, memaafkan mereka yg membuat diriku sakit hati, bahkan bisa juga sambil video call pada orang tua ku di Bandung, mendoakan si kembar di tempat ini juga bisa, trus disini juga aku bisa meredamkan diri untuk tidak mencekik Luc klo sedang kesal luar biasa padanya. Hahaha. 😂😂😂

Fijne Pinksteren!

Selamat menikmati suasana liburan lebaran teman teman semua❤️😘.

Siapa yang suka beres beres rumah?

Ibuku paling tau kalau aku paling malas beres beres rumah. Tapi itu dulu saat aku masih tinggal di Indonesia. Seiring waktu aku jadi tau bahwa hidup di suatu ruangan itu dan jika ingin ruangan itu tetap rapih maka harus ada seseorang yang membereskan barang barang yang telah kita gunakan.

Pertanyaan nya siapa kah orang tersebut? Saat aku memutuskan hidup bersama suami maka yang ada dipikiranku saat itu adalah bahwa kami berdua yang bertanggung jawab akan kebersihan dan kerapihan rumah. Apalagi ibuku menasihati agar aku bisa menyeimbangi Luc yang saat itu selalu keliatan rapih dan bersih dimata ibuku.

Kemudian berbagai keterkejutanku mengenai image Luc yang menurut ibuku selalu rapih di mulai. Di minggu pertama aku tinggal dengannya, setiap dia pergi ke kantor di pagi hari kemudian aku masuk ke kamar mandi aku selalu terkaget kaget melihat pemandangan disana, ada dua handuk basah di lantai, baju dalam dan lain lainnya. Predikatku di rumah saat aku masih di Indonesia adalah aku satu satunya yg tidak bisa beres beres, tapi rasanya belum pernah sekali pun aku meninggalkan pakaian dalam di lantai kamar mandi dan membiarkannya begitu saja.

Tiga kali berturut turut aku harus memunguti pakaian kotor tersebut dari kamar mandi dan memindahkannya ke keranjang cucian yang berada diruang cuci tepat di depan kamar mandi. Saat itu kamar mandi di rumah lama kami termasuk kamar mandi yang baik dan cukup mewah buat bujangan seperti Luc. Bathtub berwarna coklat sewarna dengan wastafelnya yang dihiasi cermin bulat bergerigi klasik. Dan kamar mandi tersebut cukup luas karena dulunya adalah sebuah kamar tidur yang disulap menjadi kamar mandi. Terdapat pula lemari terbuka yang berisi handuk handuk putih yang pada ujungnya terdapat bordiran binatang, ada kuda, jerapah, gajah dan anjing. Dan handuk handuk mewah menurutku tersebut diinjak injak begitu saja oleh Luc setiap dia selesai mengeringkan badan.

Setelah tiga hari pertama bersama Luc sang suami, akhirnya aku membuka pembicaraan mengenai kegiatan ku memunguti kolor tiap pagi, kuungkapkan dengan jelas bahwa aku datang ke Belanda bukan untuk jadi pemulung kolor😁. Kujelaskan pula bahwa menggunakan handuk bersih tiap hari dan dua helai pula adalah suatu pemborosan apalagi kemudian dilempar begitu saja di lantai kamar mandi dan diinjak pula begitu dia keluar dari bathtub.

Kemudian aku yg dikenal tidak bisa beres beres ternyata jadi orang yang paling cerewet tentang kebersihan dan kerapihan rumah. Hingga kini, hingga lahir si kembar dan mereka berdualah yang paling sering aku suruh suruh untuk mengembalikan barang barang untuk diletakan kembali ke tempatnya setelah di gunakan.

Walau begitu jika dibandingkan dengan rumah orang lain, rumah kami tetap lah bukan rumah yang rapih, tapi tetap rumah yang berantakan! Padahal rasanya aku setiap hari cerewet luar biasa.

Oh ya sang suami juga suka buka kaos kaki seenaknya dan membiarkan bergelimpangan begitu saja dekat sofa, kini aku punya beberapa trik yang membuat dia agak tertib untuk beberapa hari, aku tidak menyuruhnya menyimpan kaos kaki kotor ke keranjang cucian, aku membiarkan nya begitu saja, setelah tiga hari aku tak kuat lagi melihat tiga pasang kaos kaki kotor di lantai. Maka sebelum aku berangkat kerja di pagi buta (05.30). Aku menggantungkan ketiga pasang kaos kaki itu di layar komputer Luc. Luc, akan bangun pukul 6 pagi, mandi kemudian duduk di depan komputer selama setengah jam untuk mengikuti kursus secara online, yg kemudian akan membangunkannya anak anak dan mengantar kan mereka sekolah sembari dia pergi kerja.

Kubayangkan tawanya akan pecah begitu melihat kaos kaki bergelantungan di layar komputer. Dua jam kemudian aku menerima pesan singkat darinya melalui telpon…

Hai istri ku sayang, aku dengan gagah berani telah membawa kaos kaki kaos kaki itu ke atas, ke keranjang cucian! Tapi bisa kah kau beritahu dimana sepatu ku? Aku dan anak anak sudah mencari nya kemana mana….

I love you,

Groetjes, suamimu!

Dan tawaku meledak saat itu, saat aku akan berangkat kerja aku nyaris terjatuh di Hall (gang) pintu depan dimana tempat sepatu berada, aku tersandung sepatu Luc. Saking kesalnya keisenganku timbul, aku melempar sepatu Luc ketempat sampah!

Lotek di Hari Jumat Siang

Sejak aku kecil dulu, saat ayah pulang sholat jum’at beliau selalu membawa pulang lotek. Jadi menu di jumat siang adalah menu lotek. Eh siapa sangka, saat aku kerja di Bandung, bos ku punya kebiasaan yang sama dengan ayah ku, makan lotek sepulang sholat jum’at. (Oom Djoedjoen apa kabarnya? 😘)

Kini Sepertinya kebiasaan makan lotek di jumat siang akan menjadi kebiasaan baru kami di Belanda. Seperti hari ini, Cahaya datang pada ku sepulang sekolah, menanyakan makan siang apa yg aku siap kan hari ini, aku menawarkan tosti kesukaan nya, tapi dia melihat diriku yang tengah merebus ubi dan sayur sayuran. Bunda bikin gado gado? Tanyanya. Lotek, jawab ku. Dia bersorak girang, mendengar jawabanku. Walau dia harus menunggu sejam kemudian hingga lotek siap disantap, dia tetap antusias menemaniku di dapur selama proses pembuatan lotek.

Setelah lotek tersaji, kami bertiga menikmatinya dengan antusias di luar, dibawah sinar matahari yang bersinar mewah dan berlimpah.

Fijne weekend allemaal bersama orang terkasih ❤️❤️❤️❤️

Oh ya, bagi kalian yang belum kenal dengan lotek, makanan ini berasal dari jawa Barat, di Bandung hampir di tiap sudut ada😁. Ada dua jenis lotek, lotek mentah (sayurannya tanpa di masak lebih dahulu) dan ada lotek masak. Dibuat langsung di cobek besar, dibuat langsung bumbunya di cobek tersebut hingga sayurannya yang langsung di campur di cobek, karena fresh jadi terasa lebih nikmat. Oh ya ternyata buatnya gampang aja dan rasanya tak kalah dengan yang ada di Bandung. Pokoknya lotek jalan macan kalah deh!