Mother is the best

Karena Cahaya sesaat setelah lahir harus masuk inkubator, karena berat badannya yang sedikit kurang, jadilah tumbuh kembang Cahaya berada dalam pemantauan dokter di rumah sakit Erasmus. Pertama kali dia harus balik ke rumah sakit saat usinya 6 bulan, satu tahun, dua tahun dan tiga tahun. Apa yang dilakukan dokter hanya bermain main saja dengan Cahaya, melihat setiap gerak Cahaya, menyusun puzzel, menggambar hingga ngobrol. Walau semuanya normal dan hasilnya baik tapi pemantauan tersebut akan dilakukan hingga Cahaya berumur tujuh tahun, kata dokter ga ada sesuatu yang mencemaskan mereka melakukan ini karena prosedur saja.

Disaat itulah aku suka mengobrol dengan dokter, bercerita apa saja yang aku khawatirkan atas mereka, kadang pertanyaanku mengada ada saking bingungnya harus bertanya apa tentang anak anak selain berkeluh kesah soal makan. Dokter muda yang menangani Cahaya ini sangat lemah lembut, walaupun dia dokter laki laki tapi sikapnya sangat keibuan. Di suatu kesempatan bertemu, aku mengutarakan kecemasanku pada sang dokter bahwa aku khawatir anak anakku akan sulit berbicara, hal tersebut karena hasil tes Cahaya pada saat berumur dua tahun, kosa kata yang digunakan sangat minim sekali. Dari 20 macam benda yang ditunjukan pada Cahaya, dia hanya mampu menjawab 4 buah, sedangkan anak lainnya berdasarkan penelitian hampir bisa menjawab semuanya. Tapi sang dokter bijaksana itu berkata bahwa aku tak perlu khawatir. Semuanya akan berproses.

Ada pesan dia yang sangat aku ingat, katanya… setiap anak berbeda dengan anak lainnya, mereka mempunyai keistimewaan masing masing. Anak tidak bisa diperbandingkan dengan anak lainnya. Pak dokter juga berkata bahwa banyak ibu Belanda yang sangat melindungi anak anaknya, juga membanggakannya, termasuk membuat pernyataan yang tak masuk akal sekalipun contohnya….. anakku umur lima tahun sudah masuk universitas. Hahaha gurauan pak dokter itu aku sambut dengan tawa yang lebar. Intinya aku disarankan untuk tidak terlalu membandingkan anakku dengan anak lainnya, karena mereka berbeda selain itu jangan merasa tersaingi jika ibu yang lain berkata fantasis tentang anaknnya, itu dilakukan karena kebanggaan seorang ibu akan anaknya, maklumi saja kata pak dokter dengan santainya.

Hari minggu, tiga hari yang lalu, aku melihat seorang ibu yang marah saat membela anaknya. Seorang ibu yang marah pada suamiku, karena suamiku memarahi anak si ibu tersebut (pun karena suamiku sedang membela anaknya).

Kami sedang berada di Monkey town, tempat permainan anak anak yang berada di dalam ruangan, aku dan Luc duduk di restauran yang berada di arena tersebut sementara Cinta dan Cahaya bermain. Tak berapa lama Cahaya datang menghampiri kami, berkata bahwa Cinta sedang berada dalam masalah katanya, yang membuat kami tertawa dengan pernyataannya, ada apa? Tanya Luc. Seorang anak laki laki menendang Cinta, Cinta menangis karena balok balok yang disusunnya juga dibuat rusak oleh anak laki laki tersebut. Aku yang malas beranjak dari tempat dudukku mengutus Luc untuk mendatangi Cinta.

Di kejauhan aku melihat Luc sedang berkata pada seorang anak kecil kira kira dua atau tiga tahun an, betapa kagetnya aku karena  si anak tersebut tiba tiba menyepak muka Luc yang sedang berjongkok dan sepakan kedua langsung ditangkis oleh Luc. Kemudian Luc mengeluarkan telunjuknya menggoyangkan di muka anak tersebut. Terlihat Luc sedang memarahinya. Dan anak tersebutpun menangis. Tapi Luc masih tetap berkata kata. Tiba tiba datang seorang ibu, meraih anak yang menangis dan Luc pun berdiri, kemudian si ibu pergi tanpa berkata apa apa. Aku melihat saja dari kejauhan. Si ibu pergi melewati tempatku duduk tapi kemudian berbalik setengah berlari sambil menggendong anaknya, kembali mendatangi Luc dan berbicara tak senang pada Luc, aku melihat Luc menjelaskan sesuatu pada si ibu. Yang kemudian pergi dengan muka tak senang.

Luc datang padaku, menceritakan apa yang telah terjadi. Versi Luc adalah sebagai berikut, di tempat perkara dimana permainan balok berada, Cinta dan beberapa anak lainnya sedang menyusun balok membuat kastil katanya, seorang bocah datang menghancurkan balok yang sedang dibuat, mereka marah tapi si anak tersebut malah menendang anak anak yang berada disitu satu persatu, saat Luc datang si anak masih menendangi seorang anak perempuan yang langsung dicegah Luc, dan Luc memperingati untuk tidak menendang, eh si anak tersebut malah datang ke Luc dan menendang juga, tendangan kedua ditangkis Luc, tentu saja Luc jadi murka dan memarahi si anak, si anak itu malah nangis kemudian meluncur kata kata Luc yang berkata… bagus ya kamu menangis, aku tak merasa kasian kamu menangis. Begitu ucap Luc yang Luc sendiri akui bahwa itu tak pantas diucapkan pada seorang anak kecil. Kata Luc si ibu itu mendengar ucapan Luc dan  anehnya kata Luc si ibu juga melihat saat anak tersebut sedang menendang anak perempuan hingga menangis karena pada saat itu Luc dan si ibu hampir datang pada saat yang bersamaan. Kata si ibu, tak sepantasnya Luc berkata seperti itu pada anak yang masih berusia dua tahun, tapi Luc berkata bahwa tak sepantasnya anak umur berapapun menendang muka orang, atau merusak apa yang tengah dibuat anak lainnya, dan dia sebaiknya mengerti sejak kecil. Begitu penjelasan Luc. Dan si ibu tak terima tanpa berkata apa apa lagi di pergi meninggalkan Luc.

Teringat pada dokter yang dulu berkata padaku, bahwa seorang ibu akan melindungi anaknya, dan hari itu aku melihat seorang ibu yang membela anaknya pun ketika si anak melakukan sesuatu yang salah. Menendang. Apakah si ibu membenarkan tindakan menendang sebagaii bentuk pembelaan diri dari anaknya karena diperingati oleh Luc? Ah akan begitu jugakah aku?

Ibuku, akan mengatakan salah jika aku salah. Walaupun aku merasa benar dan kesal sekali padaku. Aku disuruh minta maaf jika aku berbuat nakal pada kakakku begitu pun kakakku meminta maaf jika dia tak baik padaku atau pada orang lain.

Hari ini aku menonton tayangan di youtube tentang seorang ibu lawan pengasuh anaknya. Dalam video tersebut dibuktikan bahwa seorang pengasuh mengetahui lebih banyak tentang anak yang diasuhnya daripada ibu kandungnya sendiri. Aku melihat hal tersebut dengan linangan air mata. Aku adalah produk yang dibesarkan oleh pengasuh, tante oom dan nenek kakek, walau itu tak semuanya benar, ayah ibuku bekerja, ada seorang pengasuh bersama kami, tapi aku selalu merasa ibu selalu ada untukku, dia memasak untukku, mencuci bajuku dan memilihkan pakaianku. Saat aku dewasa, ibuku meminta maaf padaku (pada kami anak anaknya) bahwa dia merasa membiarkan kami beranjak dewasa sendiri tak banyak campur tangan dari ibuku, ibuku berkata bahwa dia bangga atas kami semuanya, dia bangga telah menjadi ibu dari kami. Padahal kamilah yang bangga mempunyai ibu seperti beliau.

Ibuku berkata, tak apa kini aku tak bekerja, ini kesempatan diriku untuk mengenal dan membimbing anakku. Walau ibuku tetep mendukung  berkeinginanku untuk bekerja suatu hari nanti seperti dulu saat aku belum menikah.

Dan hingga kini aku lebih merasa bahwa Luc lah yang lebih mengenal anak anakku, dia melakukan banyak hal dan kegiatan bersama anak anak, lebih banyak dari ayah yang aku kenal. Semoga anak anakku mengerti diriku.

Berikut video yang membuat air mataku meleleh.

Advertisements

I Love You…. All my beloved children

Kemarin pagi aku tercenung membaca tulisan ibuku. Tidak menulis menggunakan bahasa Inggris seperti biasanya, beliau menulis dalam bahasa Indonesia.

Aku terharu membacanya.

Dia, ibuku adalah seorang ibu yang tak mudah berkata kata untuk mengungkapkan segala perasaannya kepada kami. Sepanjang ingatan kami beliau jarang sekali marah, selalu menyetujui kegilaan kami anak anaknya, dan fatwanya yang selalu membuatku tergetar adalah…. jalanilah hidupmu Yang, dengan jalan yang diridhoi Allah, carilah jalan Itu. Inshaa Allah Yang Maha Kuasa akan melindungimu. Dan aku ibumu akan selalu mendoakanmu!

Hari kemarin itu, saat aku membaca tulisannya, aku tak pernah tahu bahwa ibuku selalu ingat sekecil apapun pemberian yang kami pernah berikan. Terbayang olehku apakah ini karena dasyatnya kasih sayang seorang ibu? Ibuku hanya mampu mengingat kebaikan sekecil apapun yang kami pernah lakukan dan dia tak mampu mengingat kesalahan kesalahan kami yang begitu banyak.

Seperti komentar adikku yang mengomentari tulisanmu… Ibu, terimakasih atas semua kasih sayang yang telah diberikan kepada kami, Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah….

Berikut tulisan ibuku yang aku copy paste;

    Sekitar 28 tahun yang lalu, saat itu aku sedang asyik membaca, yah membaca sebagai kepuasan hati, hiburan dan pengisi waktu yang luang. Tiba tiba datang  anak muda umur sekolahan smp, anak muda cakap dengan sedikit senyum dan gerak yang manja menghampiriku…dan langsung duduk disampingku.. tiba tiba dia mengepalkan sesuatu pada tanganku dan langsung pergi lagi sambil tak lepas dengan senyumnya. kuhentikan bacaanku dan kuliahat apa yang ada ditanganku… dan ternyata dua butir buah anggur merah yang ranum, kupandangi anggur itu dengan penuh rasa tak terperikan, dan aku langsung bertanya dalam hati dari mana dia dapat buah anggur itu. Yang menjadi pikirku kenapa tidak dia langsung saja makan buah anggur itu dan malahan dia berikan padaku dengan suka hati dan penuh cinta tentunya, karena dengan sampainya anggur itu padaku, tentulah memerlukan pengorbanan, cinta dan perhatiannya padaku. Kupandangi punggung anak muda itu kupanjatkan doa untuknya: Kau telah berikan buah anggur untukku dan insyaAllah kau telah merintis jalan untukmu kelak dapat memetik anggur ditempat buah anggur itu datang sendirinya kala kita menginginkannya. Terimakasih Rul…Tapakilah terus jalan itu dengan ridhoNya.

     Dan beberapa  saat yang lalu, aku baru saja siap siap buka puasa sunatku, tiba tiba datang anak muda lain tidak berbeda jauh kegantengannya dengan anak muda pertama dia memberikan bungkusan kecil seraya berucap itu dari teman, dia ingin itu untukku dan kubuka…. sebuah kue bulan …. kupandang kue itu dan kupikir betapa dia menahan perasaannya untuk tidak makan kue itu bersama temannya dan malahan dia simpan untuk disampaikan lepadaku sebagai rasa kasih sayang dan perhatiannya.Ah kau telah menghilangkan rasa dahagaku, berbuka dengan dengan cucuran limpahan kebahagiaan yang kau datangkan, kugigit kue itu dengan iringan doa untukmu : insyaAllah kau selamanya tidak akan merasa kehausan, selalu dalam kecukupan,dalam ketenangan karena sifat syukurmu. Terimakasih Ri…. Yah berjalanlah terus  menapaki jalan itu dan raihlah ridhoNya.

     Hari hariku kini aku lalui dengan keseharin yang cukup normal dan secara rutin  datang kiriman dari tempat yang jauh melalui pos paket. Selalu kuterima kiriman itu penuh haru dan penuh rasa rindu, bagaimana tidak terbayangkan pengirim paket itu, orangnya yang mungil dan cantik cantik dan seorangnya lagi ganteng, ramai ramai penuh semangat  memikirkan,  mencari, mengumpulkan, segala sesuatu  dan mengirimkannya agar bisa sampai pada kami sebagai rasa limpahan kasih sayang ,rindu dan perhatian tanda hati yang selalu bersatu. kubuka satu persatu kiriman itu, setiap jenisnya kau bungkus dengan kantong kantong plastik pengaman, dan yang kubayangkan…. tangan mungilmu bersama tangan tangan  mungil yang lainnya sibuk memasukkan jenis kirimanmu itu kedalam kantong kantong plastik itu dan mengikatnya, kuraba bungkusan bungkusan itu berapa ratus berapa ribu…. dan tentu saja tak akan terhitung banyaknya sidik jari sidik jari tangan tangan mungil yang menempel pada setiap bungkusan bungkusan itu…tak terhitung dan  sepertinya tak nampak dalam penglihatan. Yah tak terhitung rasa cintamu pada kami dan sebanyak itu pula ridho kami untuk kalian…. tak kan terhitung tak kan terlihat. Terimakasih  Yang ! Teruslah kalian rintis jalan kemenangan…. tapakilah  dan raih ridhoNya. 

     Ada  kisah lain kira kira 5 tahun yang lalu, akupun dapat sesuatu bingkisan  yang langsung aku terima dari pengirimnya seorang yang cakap juga dan lebih kalm, seraya berkata itu untukku, dan …. kutahu…dari penjelasannya dia baru saja mendapat  gaji pertamanya, kubuka hadiah itu dan….sepasang sepatu  diperuntukkan untukku,…. sepatu sesuai dengan seleraku, Kau tahan segala keinginanmu dari hasil gaji pertamamu, , dengan …..penuh perhatian dan kasihmu kau dahulukan persembahan padaku, kau telah mengamankan surgamu, kau tahu dimana surgamu….ada dalam ridhoku. Terima kasih Bay ….Jalanlah terus menjaga dan mengamankan ridhoku…. sebagai ridhoNya

     Kalian mungkin telah banyak  berbuat yang besar besar hebat, mengagumkan, membanggakan ….tapi apa yang kalian perbuat untukku dengan penuh rasa hormat, kasih sayang dan baktimu penuh keikhlasan,  sungguh mempunyai nilai yang besar dan balasan  disisi Allah. Aamiin

     Untuk  anakku yang lain yang telah menemaniku dengan  penuh kebaikan kesabaran dan ikhlas. Terima kasih apa yang kalian perbuat tidak akan sia sia, ridhoNya bersamamu. Aamiin

 

Aku diantara kakak kakaku dan adikku, tanpa sengaja kami duduk berjajar berdasarkan yang paling tua hingga yang paling kecil (des 2011)

Aku diantara kakak kakaku dan adikku, tanpa sengaja kami duduk berjajar berdasarkan yang paling tua hingga yang paling kecil (des 2011)

Ayah dan ibuku, ciri khas mereka adalah mereka selalu bergandeng tangan

Ayah dan ibuku, ciri khas mereka adalah mereka selalu bergandeng tangan

Matahariku

Pukul 18.15 aku duduk di depan TV sambil sibuk mengupas mangga muda kemudian memotongnya dadu dilanjutkan dengan memotong paprika, bawang dan buncis.
Cinta datang menghampiriku membawa buku Ariel, menunjukannya padaku sambil berkata, bunda maukah kau membacakan buku untukku?
Aku memandangnya, menunjukan mangga yang tengah aku potong sambil menjawab, tak kau lihat aku sibuk, Cinta?

Cinta tetap berada disisiku, tak beranjak pergi.
Cahaya datang padaku duduk disebalah sisi yang lain, bertanya perlahan padaku. Bunda, bolehkah aku membantumu?
Tidak! Jawabku tegas, sambil dilanjutkan, sudah berapa kali bunda bilang, tidak jika bunda sedang bekerja dengan pisau.
Tapi bunda, aku bisa membantu pakai pisau kecil. Sela Cinta yang tertarik dengan usul Cahaya.

Kemudian aku beranjak ke dapur. Dua anak itu pun ikut ke dapur. Cinta masih merengek ingin dibacakan buku, saat aku bilang tidak dia kemudian berkata. Aku yang akan membaca untukmu bunda. Ujarnya dengan bersemangat, yang kemudian dilanjutkan…. Kau boleh memilih buku yang akan aku bacakan. Serunya sambil menunjukan dua buku yang tengah dipegangnya.
Tidak! Aku sedang memasak, Cinta.
Kau memasak sambil mendengarkan aku membaca. Ok, bunda! Ujar Cinta dan langsung membaca buku berdasarkan gambar dengan cerita versi dirinya.

Dan hari itu seperti biasanya setelah selesai makan tak banyak waktu untuk Cinta dan Cahaya. Aku sibuk membereskan dapur dan anak anak hanya bersama Luc saja, kemudian ritual cuci tangan, muka gosok gigi, pakai piyama, pipis dan membaca cerita menjelang tidur adalah tugas Luc, aku hanya datang sebentar ke kamarnya untuk berdoa bersama. Dan kemudian kembali ke ruang duduk untuk merebahkan diri sambil menonton TV atau chat bersama teman atau apalagi kalau bukan komputer.

Acara TV yang kebetulan aku lihat di TV adalah percakapan seorang anak dengan orang tuanya. Seorang anak 9 atau 10 tahun yang berkata pada ibunya bahwa dia nanti jika mempunyai anak, maka dia akan menjadi ibu yang lebih baik dari ibunya. Ibunya bertanya bagaimana caranya itu? Dan dengan lancar dan lantang seperti anak anak Belanda yang sering aku lihat si anak menerangkan dengan bersemangat. Aku akan memperlakukan anakku seperti oma memperlakukanku. Aha! Seru si ibu tersenyum dan berkata, karena oma selalu memanjakanmu bukan? Itulah sebabnya kamu merasa oma lebih baik dari mama!
Bukan itu mama! Oma selalu ada waktu untukku, dia selalu ada waktu untuk bermain denganku. Sedangkan kau? Jika aku bertanya bisakah kau menemaniku? kau selalu berkata, tunggu lima menit lagi sayang, aku sedang mengerjakan sesuatu, kemudian sepulah menit berlalu, lima belas menit, setengah jam sampai satu jam kau belum dtang juga. Sampai akhirnya tibalah jam tidurku, maka pupuslah harapanku untuk bermain denganmu hari itu, dan itu berlanjut esaknya esoknya lagi.

Ya Tuhan, itu pulalah yang kini melandaku. Aku kehilangan banyak waktu bersam untuk anak anakku.  Aku sibuk, super sibuk menurutku. Hari ini aku benar benar ingin memasak untuk Luc atau lebih tepatnya ingin memasak pula untuk diriki, ini hari kamis sedangkan sejak hari sabtu yang lalu aku belum menemukan nasi. Aku sakit. Dan jika aku sakit maka Luc lah yang memasak, dan itu berarti bukan nasi dan bukan pula makanan yang cocok untukku.

Hari ini, aku bercerita pada seorang teman bahwa aku benar benar sakit. Entahlah sepertinya banyak kejadian yang terjadi sebulan ini yang menambah perhatian dari rutinitasku yang telah padat, dan akhirnya di akhir weekend kemarin aku benar benar tumbang. Saat aku akan berpisah dengan temanku hari ini, dia berbelok bersama Cinta ke toko bunga aku hanya menunggu sebentar bersama Cahaya di luar. Cinta sudah menggondol seikat bunga mawar dan menyerahkannya padaku. Ini untukmu bunda. Seru Cinta.

Aku memandang temanku. Ya, ucapnya. Beterschap Yayang!
Kapan aku menerima bunga? Jika aku ulang tahun, jika hari valentine, hari ultah perkawinan, jika tamu yang jarang bertemu berkunjung ke rumah atau jika ada acara tertentu. Tapi menerima bunga saat yang tak disangka tentunya mengharukan hatiku. Aku hanya mampu berkata terima kasih.
Malam itu aku mengirimkan pesan singkat untuknya, je ben echt lief.
Image

Kadang kita lupa bahwa seseorang itu istimewa jika mereka sudah jauh dari kita barulah kita menyadarinya. Hari ini aku menyampaikannya langsung. Karena kini aku lebih tau bahwa tak akan ada yang abadi di dunia ini, begitu juga dengan pertemanan atau ikatan perkawinan, yang harus aku lakukan adalah tetap menjaga pertemanan itu untuk selalu baik, saat sedang dekat kita merasa bahwa dia lah yang paling baik diantara yang lainnya tapi kita suka lupa untuk menyampaikannya langsung. Ada pembelajaran yang aku dapatkan hari ini kadang jika aku mendengar keluh kesah dari orang lain tanpa sengaja kita ikut berkeluh kesah juga terhadapnya atau hanya mendengarkan saja tanpa bergerak menolongnya, atau hanya ya ya ya saja tapi lupa memberikan perhatian ekstra padanya, dan kadang dibelakang hari aku berkata pada diri sendiri (masih untuk pada diri sendiri tidak disampaikan pada orang lain) ohhhhhhhhh tidak, pasti dia akan berkeluh kesah lagi padaku. Jika aku sudah punya pikiran seperti itu aku akan mengingatkan diri sendiri untuk tidak berkeluh kesah pada orang lain. Tapi ternyata hari ini aku sedikit bercerita dan kemudian aku tau bahwa orang yang aku ajak bicara adalah orang yang tepat.

Dan hari ini pula aku menemukan kecerianku kembali, berjalan pulang sambil menuntun Cinta dan Cahaya, melewati taman, bertemu dengan dua orang kakek yang tengah duduk di taman, membiarkan Cinta Cahaya mengobrol selama sepuluh menit dengan mereka sementara aku duduk di samping mereka sesekali ikut menimpali atau mengoreksi perkatan Cinta Cahaya pada dua orang tua itu.

Kemudian tak melarang saat Cinta memungut dua buah ranting, aku memperhatikan apa yang dilakukan Cinta, dia menyobek plastik bunga yang tadi dibawanya, kemudian menyerahkan bunga tersebut pada Cahaya sementara dia kembali sibuk dengan plastik kecil yang berhasil dia sobek dari pembungkus bunga mawar tadi, menggulungnya di tengah tengah ranting yang lebih pendek, kemudian dia berjongkok dan berjalan merangkak. Bunda serunya padaku yang sudah berjalan beberapa meter meninggalkannya, aku menoleh kebelakang terbahak melihat apa yang dilakukan Cinta. Dan dia merangkak seperti itu hingga mencapai pintu rumah.
Waf waf serunya!
Image
Cinta Cahaya kalian adalah matahariku.

Cintaku

Cinta, sejak pertama kali aku memandangmu aku sangat yakin bahwa kau adalah istimewa.
Celotehmu, tingkah polahmu adalah penunjukan bahwa kau adalah seorang yang special.
Kau dapat meruntuhkan gunung es di wajah seseorang dengan candamu.
Semakin hari aku kian mengenalmu bahwa kau adalah seorang pemaaf yang berjiwa besar.
Dan kejadian hari kemarin itu, saat aku mendapati dirimu tengah berdiri menantiku, mamandangku, tersenyum dan melangkah pelan ke arahku, keyakinanku akan istimewanya dirimu tergambar jelas hari itu…..
Dengan rambut dan pakaian yang basah kuyup kau memandangku meminta maaf.
Tak akan putus doaku padamu sayang……
Semoga kau akan selalu seperti itu, kuat tangguh dan berjiwa pemaaf.
Sehat rohani dan jasmani
Bahagia selamanya
Selalu dalam lindungan Tuhan

Mother’s day 2014

Heehhh Yang, Gefeliciteerd!
Ujar Luc, saat aku selesai salam dan menengok ke arah kiri, tanda usai sholat subuh.

Matahari belum muncul, dan sepertinya tak akan muncul seharian. Cinta Cahaya masih meringkuk di kasurnya.
Hari ibu kali ini berbeda sekali dengan hari ibu tahun sebelumnya.
Tak ada sarapan di tempat tidur dari Luc, juga saat aku sambil bercanda ke arah Luc, mana kadonya?
Dan langsung disambut celoteh Luc tak kalah seru, bukankah anak anak sudah memberikannya dua minggu yang lalu?
Hahaha kado kepagian! Cahaya tak sabar ingin memberikan kado yang dibuatnya di sekolah untukku tepat keesokan harinya setelah kado itu dibuat, tak digubrisnya larangan gurunya untuk memberikannya padaku dua minggu kemudian. Siapa yang tahan untuk tak memberikannya langsung? Jangankan anak empat tahun, akupun yang sudah menebak apa isinya ingin segera membukanya! Yang ternyata berisi centong kayu yang telah dihias sana sini. Selalu kado yang spektakuler, hehehe. Hanya Cinta yang bertahan dan akan memberikannya padaku dua minggu yang akan datang, yaitu hari ini.

Nanti setelah anak anak bangun, akan kuberikan kado dariku. Ucap Luc diiringi tawanya.

Membuka media sosial hari ini, masih diramaikan oleh ucapan hari ibu, pasang foto kado dari anak dan suami, juga pesan BBM dan Whats App. Begitu pun aku, ikut berbahagia dan membalas dengan tulus ucapan selamat dari beberapa kawan, berharap merekapun mendapat hari bahagia di hari ibu. Dan seperti biasanya kami para ibu tetap berkutat pada kerjaan di rumah yang tak ada habisnya, kami hanya dapat senyum dikulum membaca komentar teman yang mengira hari ibu bisa sedikit relax, tapi nyatanya sama saja!

Baiklah kalau begitu, mumpung masih pagi ujarku kemudian, mari sambut hari ibu ini dengan hari relax. Dan jadilah Cinta Cahaya yang tiba tiba bisa menyiapkan makan paginya sendiri, sementara aku segera masuk kamar mandi dan segera mengisi bathtub dengan air panas, memasukan tablet sehingga air panas di bak mandi meletup letup seperti kawah berbelerang dengan wangi yang berbeda. Dan wangi aroma terapi segera menyebar keseluruh ruangan. Hhmmmm.

Setelah air penuh di bak mandi, aku segera membenamkan diriku disana. Membuat sandaran empuk dari handuk untuk kepalaku, sementara kakiku kunaikan ke sisi yang lain di bak mandi. Anak anak masuk ke kamar mandi dan ingin bergabung denganku yang langsung segera di halau oleh Luc. Biarkan bunda seorang diri disana. Perintahnya, yang langsung disambut sikap protes dari Cinta. Luc menawarkan kopi dan buku untuk menemaniku berendam, aku hanya meminta kopi saja. Tak ingin membaca, tak ingin mendengar berita, tak ingin berpikir,  sambil sesekali menyeruput kopi aku  hanya memejamkan mata. Relax.
Image

Hampir satu jam disana, tanpa gangguan siapapun, dan rasanya legaaaaaaaaaaaa sekali.
Aku tahu, walau ada saja kudengar para ibu mengeluh tentang rutinitas sehari hari, kelelahan dari pekerjaan yang tak ada habisnya, tapi tetap selalu mereka merasa bahagia diantara keluarganya, diantara orang orang yang mengasihinya, dan kelelahan dan kejenuhan bisa langsung saja sirna begitu melihat senyum dan tawa anak anaknya.

Sederhana, tak usah berkecil hati jika kita belum merasa mampu untuk selalu membuat bahagia orang tua kita, cukup kita tersenyum dan bahagia itu adalah hadiah yang tak ternilai untuk mereka. Setidaknya itu yang aku rasakan saat ini, kebahagian bisa datang dengan melihat orang orang disekitar kita bahagia.

Image

Mom and Daughter Shopping Together!

Minggu siang, aku harus shopping bersama Cinta. Kata harus, memang itulah yang pantas disandang saat aku berniat shopping haru itu bersama Cinta. Aku harus membeli sepatu Cinta dan Cahaya untuk sekolah untuk mengganti sepatu mereka yang sudah bolong, tak bisa dinantikan lagi karena setiap hujan tiba, mereka akan datang ke rumah dengan kaos kaki basah, dan rasanya aku malu melihat kondisi sepatu anak anak. Walau mereka punya sepatu lain yang bisa dipakai untuk sekolah, entah kenapa terutama Cahaya, dia selalu memakai sepatu lars bututnya, tak mau digantikan, nah jika hujan tiba dan sepatu larsnya belum kering keesokan harinya, dia terpaksa memakai sepatu lain dengan muka cemberut.

Hari minggu tanggal 16 Feb, aku mendengar kabar dari seorang kawan bahwa toko sepatu van den Assem sedang mengadakan sale hingga 75%, maka dengan hati riang aku mendatangi toko tersebut, setelah melihat di internet bahwa di hari minggu toko tersebut akan buka pukul 12.00. Dan tepat pukul 12 aku keluar rumah dengan diantar Luc yang hanya menurunkan aku dan Cinta di depan toko tersebut, sedangkan dia dan Cahaya kembali pulang ke rumah. Sedikit bingung karena aku melihat orang berkerumun di depan toko tersebut, aku segera menghampiri pintu masuk dan melihat tanda bahwa toko belum dibuka dan jam buka toko adalah 12.30, wah masih 7 menit lagi pikirku. Dan aku tetap bertahan seperti orang orang yang bergerombol di sekitar pintu.
http://www.assem.nl/

Tepat pukul 12.30, dan pintu toko dibuka, bagai semut menemukan gula, kami segera meringsek masuk ke dala toko. Lupa diri melihat sepatu sepatu yang sedang obral besar besaran aku melirik sepatu nomor 35 dan 36 mencoba coba sebentar, sebelum akhirnya sadar diri kembali, bahwa hari ini aku datang untuk membelikan sepatu Cinta dan Cahaya. Aku berhasil melihat sepatu lars untuk Cinta hanya ada satu nomor, tak mungkin aku memaksakan satu nomor lebih besar untuk Cahaya. Cinta ogah ogahan melihat sepatu yang aku pilihkan, niet mooi bunda… rajuknya. Bagus, sayang, lihat ini untuk sekolah dan ini untuk pesta seruku menunjukan sepatu lainnya pada Cinta. Dan sepatu teplek model balet langsung dikagumi Cinta dengan antusias, Mooi bunda, heel erg mooi…. dan rengekan rengekan ingin segera memakai sepatu teplek tersebut dengan bertubi tubi terus dilontarkan. Dengan kesepakan bahwa aku akan membelikan sepatu teplek tersebut dengan perjanjian dia harus memakai sepatu lars yang aku pilihkan untuk sekolah dan pergi ke toko lain untuk mencari sepatu lars lainnya untuk Cahaya. Dengan tanpa ba bi bu lagi Cinta langsung menyanggupinya.

Berjalan dengan riang ke arah kassa, berceloteh pada penjaga toko yang melayani kami, bahwa dia ingin menenteng sepatu tepleknya sendiri, sehingga orang dibalik kassa menempatkan sepatu yang kami beli di kantung yang berbeda, dan aku harus menenteng sepatu lars baru Cinta dan dan dia sendiri menenteng sepatu teplek baletnya.

Dengan rasa penasaran yang masih nyata, aku harus meninggalkan toko tersebut dan dengan terpaksa harus melupakan sepatu yang baru aku lihat tadi di etalase, sepatu lars yang cantik, tanpa hak, datar saja seperti kesukaanku, tak lelah dibawa jalan lama, harga yang tertera disitu sekitar 350 euro dan akan menjadi sekotar 90 euro setelah dikorting 75%. Dan yang lebih fantastis lagi nomor sepatu tersebut adalah nomor 35, nomor yang jarang aku temui disini. Beli jangan beli jangan seperti irama yang menggelora di dadaku. Beli saja toch Luc tak akan marah, dia akan mentertawakan seperti biasanya, tapi tak pernah marah, bisikku. Tapi disaat yang lain aku berkata, anak anakku yang butuh sepatu, bukan aku. Dan berita para pengungsi gunung kelud kembali terbayang dalam pikiranku. Mereka boro boro ingin sepatu kedua atau ketiga, jangankan sepatu yang  mungkin tak penting bagi mereka, untuk makan pun mereka menunggu bantuan dari para relawan. dUh jika sudah ingat kesitu, aku bisa dengan sedikit tenang meninggalkan toko tersebut.

Tapi ya hanya sedikit, ketika aku melewati toko Manfield, yang konon orang bilang salah satu toko sepatu terbaik di Belanda, aku segera membelokan langkahku. Dan derita pengungsi gunung kelud hilang dalam ingatanku.
http://www.manfield.com/

Aku tengah memegang sepatu engkel lars yang hampir serupa yang aku punya, sepatu yang sudah tiga tahun aku pakai itu sekarang kondisinya sudah tak berbentuk dan salah satu sol sepatu kanan sudah tak utuh lagi, tergerus oleh seringnya aku berjalan. Melirik sebentar ke harga yang tertera 132 euro koma sekian cent. Otakku segera bekerja, aku tak tau berapa persen sepatu tersebut di korting, dan aku segera bertanya pada pekerja di toko tersebut, jadi 31,19 euro katanya, yang langsung disambut dengan senyumku, rasanya jika aku beli sepatu ini tak mengapa bathinku, para pengungsi di gunung kelud akan maklum dan merestui pembelianku, bisikku dalam hati. Dan dengan luapan kegembiraan aku berkata pada orang yang melayaniku bahwa aku ingin mencoba pasangannya. Dia segera membawa kotak sepatu dan menunjukannya padaku, alangkah kecewanya aku saat aku melihat pasangan sepatu yang ada di dalam kotak kondisinya sangat bersih, sehingga kontras dengan sepatu yang ada di tanganku yang sedikit lecek. Ada yang lain mevrouw tanyaku, walau aku tau jawabannya tak mungkin ada, disini sepatu kortingan adalah sepatu yang tersisa, yang ada di pajangan itulah yang ada, tak mungkin minta yang lain ataupun nomor yang lain karena tak mungkin ada. Dia menggeleng, dan segera memintaku tunggu sebentar, mungkin dia bisa mengakalinya katanya, dia bergegas meninggalkanku dan datang kembali dengan sepatu yang sudah digosok dan ketika kembali dan kami sama sama membandingkan sepatu tersebut aku masih melihat perbedaan warna yang walau tak begitu kentara, tapi ada sedikit beda. Aku tersenyum bimbang, sebentar katanya, mungkin aku bisa meminta pertimbangan kolegaku, katanya sambil bergegas pergi.

Aha, inilah yang aku tunggu, aku pernah mengalami kejadian serupa, juga dengan kasus sepatu kortingan, saat aku mendapati sepatu yang akan aku beli sedikit tergores, dan jelas jelas tak nyata, tapi secara kebetulan aku memeriksanya dan penjaga toko tersebut segera beranjak pergi dan datang kembali dengan seorang manager, dan managaer tersebut memohon maaf karena sepatu yang aku inginkan tak sempurna, dan kalaupun aku masih keukeuh membelinya dia bersedia menurunkan setengah harga lagi dari sepatu yang telah di korting tersebut. Dan tentu saja akan  aku sambut penawarannya dengan suka cita.

Dan hari itu, hal tersebut kembali lagi menghampiriku, orang yang melayaniku kembali datang dengan koleganya, dan dia menurunkan lagi sepatu tersebut menjadi 20 euro saja, aha sepatu yang awalnya seharga 132 euro kini bisa aku dapatkan dengan harga 20 euro saja. Tralalalaaaaaaaaaaa dengan amat gembira aku segera mendatangi kassa, dan saat itu pula derita pengungsi gunung kelud sudah benar benar hilang dalam ingatanku. Duh Gusti……
Image

Kami segera berjalan dengan riang gembira, tinggal sepatu untuk Cahaya pikirku. Cinta segera mengeluh bahwa dia ingin makan dan minum, aku segera membelokkan langkah kaki kami ke sebuah cafe yang langsung ditolak oleh Cinta, bukan yang ini bunda, katanya. Itu lho tempat yang biasa yang ada banyak anak anaknya. Hahaha aku tahu yang dimaksud Cinta, ke Hema kan? Iya bunda, betul… Hema. Teriaknya gembira. Akupun tentu saja gembira, karena dengan pergi ke Hema uangku tak akan keluar banyak, aku senang Cinta pun senang.
http://www.hema.nl/nieuws/ontbijt.aspx
Image

Keluar dari Hema, kami segera mendatangi toko sepatu langgananku, toko sepatu murah meriah, sepatu Cinta dan Cahaya sering aku temukan disitu. Tak berapa lama seperti biasanya aku bisa menemukan sepatu untuk Cahaya tanpa kesulitan.

Dan perjalanan masih disibukan dengan mendatangi toko kosmetik, recanaku membeli lipstick akhirnya aku niatkan juga. Pesan teman sekelasku untuk tidak malu bertanya pada penjaga toko, akhirnya aku laksanakan. Hari itu aku bertanya pada penjaga toko dan dia memberikan advis untukku, dan sebuah lipstik merah berhasil aku bawa pulang di hari itu. Di toko itu pula Cinta ditawari untuk sedikit di make up. Tentunya setelah penjaga toko tersebut bertanya dulu padaku, dan setelah aku mengiyakan dan penjaga toko itu bertanya pada Cintaa yang langsung disambut dengan suka cita oleh Cinta, dia segera menaiki kursi untuk pelanggan yang tinggi tanpa bantuanku, dan dia berhasil duduk di kursi tersebut dengan bangganya.
Image
Image

Berjalan pulang menuju haltu bus, kami masih sempat berfoto bersama di dekat Beurs. Cisssssss dan kami pun berfoto bersama yang bisa langsung di share saat itu juga oleh FB melaui http://www.koopgoot.nl
Image

Dan hari cerah ceria kami akhiri dengan bernyanyi bersama sambil menunggu bis yang datang selama hampir 15 menit lamanya. Dan perjalanan menuju rumah dengan nyaris hanya tiga penumpang saja hingga sampai rumah kami akhiri dengan gembira.
Image
Image

Ternyata tak perlu menunggu lebih lama untuk bisa menikmati shopping bareng dengan anak anak. Kami sama sama menikmatinya. Terimakasih Cinta! Next month giliranmu Cahaya!

Sampai di rumah, aku menceritakan semua cerita pada Luc. Luc tertawa waktu aku bercerita mengenai sepatu yang tertinggal di toko Assem, sedikit menggodaku bagaimana bisa aku tahan tak membeli sepatu kortingan itu tanyanya? Jawabku walau sebetulnya tak nyambung sama sekali, tapi aku sedikit bercerita mengenai kontradiksi hatiku, tak enak rasanya membeli barang yang sebetulnya tak begitu aku butuhkan sementara banyak ribuan orang di negaraku begitu susah, dan seperti biasanya Luc menentramkan hatiku dengan kata katanya, kalau kemampuanmu menolong hanya bisa dengan menahan keinginanmu untuk tidak membeli barang yang tidak kamu butuhkan, setidaknya kamu sudah membantu mereka dengan tidak hidup secara berlebihan karena inilah yang kita mampu.

Hahaha tidak hidup berlebihan karena inilah kemampuan kita. Ya, mau berlebihan bagaimana, wong mampunya segini! Terima kasih Tuhan.