My Dad is A Liar

Weeks ago i was camping in Ardenen Belgium with some friend. Nice? Of course, it’s the great weekend. I was happy cause having me time just a moment without kids and husband. And of course Luc support me a lot. He brought and pick me up at station.

We told each other every single story about everything we miss. About what happen in  camping, at home, over the kids doing thing without me, everything! Messy house? Yes! Everywhere, living room, kitchen, Ohhh My God, i don’t know how to clean. Yesterday, when i lied on the couch, Luc show me an emotional commercial. It’s really touched me. I cried! Not just because of the commercial but because of i am thinking over my father and also Luc. They both are doing such a good for their kids.

I hope people who read this blog also see this video. Maybe you also cry like me when see and thinking somebody who take care of you, doing the best for you……….

He lies about having a job
He lies about having money
He lies that he is not tired
He lies that he is not hungry
He lies that we have everything
He lies about he’s happiness

He lies because of me

I love you ayah, the sweetest daddy in the world. Ayah Juara sedunia!

Poitiers dan Akhir Perjalan Tour Algarve (Tamat)

Best Western Le Bois De Marche

Akhirnya kami menepi sebentar, membuka internet melihat google map menyamakan dengan navigasi dan ternyata si kandang kuda itu tak jauh dari hotel yang kami cari. Luc segera menjalankan mobil lagi, aku berdoa semoga Best Western itu segera ditemukan. Sepuluh menit kemudian kami telah berhasil keluar dari jalan kecil berkelok, kembali turun ke bawah, dan mobil kami berhenti di sebuah jalan besar di depan sebuah restaurant yang sepertinya bangkrut.

Kembali kami menarik nafas kecewa, Luc segera keluar dan mengecek restaurant tersebut. Inikah hotelnya?

Hotel?

Hotel?

Betul, hanya sebuah restaurant kecil yang tutup, dan sepertinya sudah tutup dalam jangka waktu yang lama. Kehilangan akal kami terdiam sebentar, aku menyarankan Luc untuk menelepon hotel tersebut dan bertanya dimana alamat jelasnya. Luc menolak. Percuma katanya, dia juga tak dapat menjelaskan dimana kami sekrang berada, dan mendapat pengarahan dari telepon untuk menunjukan tempat adalah sesuatu yang tak mau dia coba. Sementara Luc mengecek internet untuk mencari hotel yang lain, aku mengecek kertas print yang berisi tanda bukti bahwa Luc telah membooking hotel Best Western, aku melihat keterangan bahwa peng-cancel-an dapat dilakukan sebelum tanggal 9 Agustus pukul empat sore. Ah berarti kami akan kehilangan uang, gak terima!

Tiba tiba ada sebuah conteiner yang menepi dan sang supir keluar dari truk nya, sebelum aku mengutarakan isi pikiranku pada Luc, Luc sudah melompat keluar dari mobil menarik kertas yang tengah aku pegang, yes dia akan bertanya pada supir truk itu.

Sang supir mengamati kertas yang ditunjukan oleh Luc, kenek truk tersebut ikut nimbrung, aku melihat kejadian ini dari dalam mobil, mereka saling memberikan isyarat dengan tubuh dan tangan, kemudian luc menepuk kedua orang tersebut mukanya sumringah berkalai kali Luc mengucapkan merci merci pada kedua orang tersebut.

Dan gelak tawa pecah saat dia masuk ke mobil, Yayang, serunya… Hotel nya ada diseberang jalan ini. Serunya riang. What???!!! Di sebrang mobil kami ada bunderan yang besar yang ditumbuhi pohon yang sangat besar, aku tak dapat melihat ada apa di balik bunderan tersebut. Mobil melaju melewati bunderan besar itu, saat dibelokkan ke kanan kami segera dapat melihat jalan  lain menuju hotel, rimbun asri dan cantik dihiasi lampu kerlap kerlip bertuliskan Best Western! Aahhhhhhhhh leganya hati kami.

Best Western Le Bois De Marche (foto kepunyaan hotel tersebut)

Best Western Le Bois De Marche
(foto kepunyaan hotel tersebut)

Hotelnya tak terlalu besar, dilihat dari jumlah kamar yang tersedia, sepertinya hotel yang cukup tua, tapi aku senang luar biasa karena dikelilingi pohon yang rimbun dan kamar yang kami dapatkan luas bahkan wc dan kamar mandinya pun terpisah, ada walking closet nya segala, walah mau nyimpen baju berpa banyak? Aku hanya mengeluarkan satu ransel saja dari mobil untuk kami berempat besok pagi ganti baju.

Malam itu kami masih bisa makan malam, dinner dibuka pada pukul 9 malam dan kami datang sekitar pukul setengah sepuluh setelah acara mandi kilat, sementara ada sebagian tamu hotel yang berpakaian sepantasnya dinner, sementara kami menggunakan pakaian layaknya siap ke tempat tidur. Hanya kaos dan celana pendek saja, sementara Cinta dan Cahaya sudah mengenakan piyama, hahaha. Dan sajian makan malam hari ini benar benar istimewa.

After getting lost twice, we finally found the hotel with a little help of two French truckers pointing us to the other side of the road, ohhhj yeaahhhhh!

Hari ke duapuluh satu, 11 Agustus 2015

Hari ini kami bersiap akan kembali ke Rotterdam, sebelum pukul delapan pagi aku sudah membangunkan si kembar yang masih malas bangun, aku ingatkan jika ingin berenang mereka harus bangun dan langsung disambut dengan antusias segera mengganti piama dengan baju renang. Mereka hanya bertahan lima belas menit saja di kolam renang dan segera kembali ke kamar. Kami berhasil keluar dari hotel sekitar pukul sembilan pagi tak menghiraukan rengekan si kembar yang ingin sarapan pagi di hotel. Rencanaku dan Luc adalah kami ingin melihat barang sejenak kota Poitiers dan kami akan makan pagi disana. Jika kami harus makan pagi di hotel bersama si kembar maka setidaknya kami akan menghabiskan waktu kurang lebih satu jam hingga sejam setengah, sementara Luc tak ingin tiba di Rotterdam tengah malam karena keesokan harinya dia harus kembali bekerja setelah tiga minggu liburan dan tentunya setelah menyetir mobil dalam jangka waktu yang panjang. Hihihi hebat ya dan dia tak mengeluh sama sekali, malah istrinya yang mengeluh kecapaian selama perjalanan, padahal aku tinggal duduk manis saja di samping pak kusir.

Baiklah mengapa kami memilih kota Poitiers sebagai tempat bermalam sebelum melanjutkan perjalanan pulang? Selain jaraknya yang ideal antara Madrid dan  Rotterdam, juga karena sejarahnya dan keindahan kotanya.

Di kota ini seorang filsuf Prancis yang berpengaruh pada abad ke 20 lahir, dialah  Michel Foucault. Di sini pula terjadi perang  Perang Seratus Tahun pada tanggal 19 September 1356 yang dikenal dengan nama  Pertempuran Poitiers. Sebuah perang terjadi sebelumnya pada tanggal 10 Oktober 732 yaitu  Pertempuran Tours yaitu kemenangan yang menentukan orang Kristen atas orang Muslim. Dan pada tahun 1432 berdirinya  Universitas Poitiers atas prakarsa Raja Charles VII. (Semua sejarah tersebut diambil disini).

Tuh kan dari banyaknya peristiwa yang terjadi, kesempatan untuk melihat kota Poitiers sebaiknya jangan disia siakan. Maka berangkatlah kami ke tempat sejarah kota ini dimulai.

Dan inilah foto fotonya.
IMG_20150811_102458320[1]IMG_20150811_111456090[1]

Toko souvenir dimana aku membeli kartu pos

Toko souvenir dimana aku membeli kartu pos

Pasar tradisional di dalam gedung di depan gereja

Pasar tradisional di dalam gedung di depan gereja

IMG_20150811_103836362[1]IMG_20150811_111830603[1]IMG_20150811_111207354[1]

Sebelum memasuki pusat kota kami disuguhi pemandangan tebing tebing yang cantik

Sebelum memasuki pusat kota kami disuguhi pemandangan tebing tebing yang cantik

IMG_20150811_111438876[1]

Setelah kami makan pagi di kota Poitiers dilayani oleh seorang pelayan Prancis yang menggugurkan teori Luc bahwa kebanyakan orang Prancis tak bersahabat dan sedikit angkuh, kami mendapatkan pelayan restaurant yang super ramah dan bersahabat dengan si kembar, bahkan si kembar sampai mengikuti si pelayan itu ke meja lain dan ikut membantu memberikan kembailan uang dari kaleng yang dibawa pelayan yang dia gunakan sebagai tempat menyimpan uang. Keren kan pertemanan mereka walau sesaat tapi membwa kesan yang mendalam bagi si kembar.

Kenalan si kembar di Poitiers :)

Kenalan si kembar di Poitiers 🙂

Akhirnya kami berjalan ke arah mobil kami di parkir. Dan perjalan pulang pun segera dimulai, Luc harus menyetir mobil sejauh 784 km. Kami tiba di rumah pada pukul delapan malam. Melanjutkan aktifitas seperti biasanya, dan herannya setelah berlibur selama hampir tiga minggu lamanya, menggunakan mobil pula aku masih sanggup membongkar cucian dan memasukannya ke mesin cuci pada malam itu. Sementara Luc, Cinta dan Cahaya langsung nongkrong di depan akuarium mungil kami berbicara dengan hebohnya pada Ariel dan Jasmine dua ikan koi emas peliharaan si kembar.

Terima kasih pada pembaca semua, yang telah mengikuti perjalanan Tour Algarve 2015 ini, sampai jumpa dan terima kasih. Salam.

TAMAT 

IMG_20150811_111901150[1]

Nyasar

Hari ini senin tanggal 10 Agustus, kami meneruskan perjalanan. Masih harus menginap satu hari di kota Poitiers Prancis. Jarak dari Madrid ke Poitiers kurang lebih 937 km, dan menurut navigasi akan memakan waktu 9 jam jika kami mengendarai mobil tanpa berhenti sama sekali. Tentu saja tak mungkin! Walau kami berusaha pergi sepagi mungkin, tapi toh kami baru bisa keluar dari hotel pada pukul setengah sepuluh pagi, setelah kejadian piring flaminco dancer jatuh berantakan saat makan pagi.

Perjalan cukup mengasyikan, anak anak bersahabat duduk di belakang, bermain bersama, gak banyak nanya kapan sampai dam sang supir pun anteng dibalik kemudi, hanya berhenti saat isi bensin atau salah satu penumpang ingin ke wc saja, untuk makan kami cukup menghabiskan makanan yang ada di mobil saja, roti dan kue kering saja.

Makin mendekati kota Poitiers diperkirakan kami akan nyampe pukul setengah delapan malam, artinya bisa dikatakan perjalanan sesuai dengan navigasi lebih satu jam anggaplah karena berhenti isi bensin dan beberapa kali berhenti untuk ke wc. Memasuki kota Poitiers maka kami terbelalak dengan pemandangan yang indah. Pegunungan yang hijau jalan yang berkelok, hingga dua puluh menit kemudian kami curiga betulkah ini jalan ke arah hotel? Kok kayaknya seperti nyempil ke tengah hutan belantara. Hingga akhirnya mobil masuk ke jalan buntu, barulah kami sama sama berteriak ini navigasi lagi ngambek, kok error sih?

Luc mengambil jalan lain, si navigasi mulai kembali ke track nya, pemandangan indah kembali kami lalui namun sekarang dengan hati dag dig dug, bener ga ya?

Dan tralaa, setelah melewati jalan yang sempit, si navigasi bilang bahwa inilah tempatnya, di depan mata kami terhampar lapangan yang luas dan asri dengan rumah tua yang lebih mirip istal  yang sepertinya tak berpenghuni. Kami melongo, sepuluh jam lebih kami berada di mobil dalam perjalanan dari Madrid menuju hotel di Poiteirs. Hotel yang kami booking untuk family room di kota ini yang berhasil kami temukan (termurah) adalah Best Western Le Bois De La Marche yang tarifnya dua kali lipat dari hotel Holiday In di Madrid (dimana kami menginap sebelumnya) adalah istal tak berpenghuni? Apakah malam ini kami akan menginap di kandang kuda? Yang tentunya akan disambut gembira oleh Cinta dan Cahaya karena mereka sangat suka kuda.

Sementara Luc mencari jalan keluar dari daerah tersebut, aku mulai panik saat melihat waktu menunjukan hampir jam sembilan malam.

(bersambung)

Best Western Hotel?????

Best Western Hotel?????

Flamenco Dancer

Hari ke duapuluh, 10 Agustus 2015

Si kembar benar benar tak mau diam, kemarin begitu masuk hotel mereka segera mencoba baju  dan sepatu yang dibeli di stad, asyik menari nari di depan cermin, minta dibukakan youtube seorang penari yang menggunakan pakaian yang mirip dengan kepunyaan mereka. Dan pagi ini saat makan pakagi aku memperbolehkan mereka memakai baju dan sepatu saat sarapan di restauran.

Mereka senang dan bangga luar biasa. Berjalan dengan percaya diri melewati lorong hotel menuju ruang makan. Saat tiba puluhan pasang mata tertuju pada si kembar. Cahay tetap percaya diri, dia semakin melangkahkan kakinya diiringi sepatu pantofelnya yang berbunyi tak tok tak tok. Sementara Cinta segera menyembunyikan wajahnya dibalik tubuhku.

Seperti hari kemarin, mereka membawa nampan makanan sendiri, mengambil roti dan memasukannya ke mesin tosti sendiri, mengambil mentega dan jam, juga mengambil minuman. Aku sedikit khawatir nampan besar yang dibawanya akan jatuh, karena mereka memakai sepatu berhak dan baju panjang. Jadi kubawa nampan punya Cahaya. Sedangkan Cinta tetap ingin membawanya sendiri tak mau mendengar perintahku, sibuk dengan rotinya dan sedang mengeluarkan dari mesin tosti. Cahaya ada disampingnya membantu Cinta.

Saat aku berada di meja minuman, tiba tiba Praangggg………. nampan dan piring yang berada di atasnya jatuh ke lantai dan piring tersebut hancur berantakan. Dan kulihat seorang Flamenco dancer cilik sedang berjongkok memunguti pecahan piring yang berhamburan dengan badan bergetar.

Ah Cintaku, my Flamenco dancer! Hari ini kembali dia belajar untuk mendengar dan menuruti perkatannku.
IMG_20150810_085426763[1]IMG_20150810_094416048[1]

Madrid City Tour

Hari ke sembilanbelas, 9 Agustus 2015

Hari ini, kami berencana bermain turis. Aku meminta Luc untuk mencari informasi sebanyak banyaknya tentang Madrid, aku berkata padanya bahwa aku mempercayakan rencana hari ini padanya. Disepakati bahwa kami akan naik tour bus, kami memilih Madrid city Tour. Tapi kok saat Luc searching berkali kali, dia hanya menggumamkan padaku dia ingin melihat mal terbesar di Madrid, agak jauh katanya dari pusat kota. Kemudian dia menawarkan padaku rencana untuk esok hari (hari ini), kami akan naik mobil ke pusat kota memarkir mobil kemudian mencari halte yang dilewati bus Madrid city tour. Usulanku untuk mencari halte terdekat dari hotel ke pusat kota ditolaknya, katanya lebih mudah membawa mobil ke pusat kota. Tak digubrisnya saat aku mengingatkan bahwa nanti parkirnya mahal.

Selesai sarapan, kami bersiap pergi, eh pas naik mobil saat aku bertanya mana alamat semalam yang telah dicari Luc untuk kami datangi, dia hanya menggeleng. Ternyata dia hanya mencari alamat mal yang dia ingin liat tersebut. Ya ampun, terpaksalah aku googling sebentar, dan secara acak aku memasukan daerah Serrano pada navigasi, setelah dilihat dari informasi bahwa Serrano daerah yang harus didatangi jika berada di Madrid.

Tiba di daerah tersebut, ternyata merupakan pertokoan dan restauran glamor. Dan hampir semuanya toko tokonya tutup, karena hari ini adalah hari minggu. Kami berhasil mendapatkan tempat parkir dibawah gedung pertokoan yang bagaikan kota mati. Hingar bingar kota Madrid yang ramai, tak kami rasakan di daerah tersebut. Kami berjalan menyusuri jalan tersebut, melihat hotel hotel yang harganya bukan berada dalam jangkauan kami. Bercanda dengan Luc jika suatu hari nanti dapat kembali lagi ke Madrid, dia ingin tidur di hotel yang abru kami lewati yang ada air mancurnya. Aku hanya tertawa saja mendengarnya.

Kami berhasil menemukan halte yang diberi tanda dilewati bis Madrid city tour. Kami naik di halte 10  Serrano 61, bis route 2. Bis Route 2 dilewati sebanyak 16 halte. Di setiap halte yang dilewati kami bisa turun untuk melihat tempat yang menarik, kemudian bisa kembali naik dengan bis berikutnya yang datang setiap 9 menit. Ada rute lain yang dilewati bis Route 1. Bis Route 1 dilewati 21 halte. Kami bisa bertukar bis antara bis Route 1 dan bis Route 2, ada beberapa halte yang keduanya bertemu, kami bisa melihat dari tanda yang dibuat di map yang kami dapatkan saat pertama kali naik bis.

Tiket bisa dibeli saat kami naik bis, bisa menggunakan kartu jika kita tak membawa uang cash. Harga tiket adalah 21 euro untuk dewasa dan 10 euro untuk anak anak berumur 7-15 tahun perorang perhari. Jika kita berada disana dua hari, kita bisa membeli tiket perdua hari seharga 25 euro untuk dewasa dan 13 euro untuk anak anak.
IMG_20150816_210550171[1]

Ini kali kedua, kami naik turis bus model begini bersama anak anak. Pada tahun lalu kami naik bis tour juga di Kopenhagen Denmark. Pengalaman kami naik bis tour bersama anak anak sebetulnya cukup nyaman juga karena kami punya waktu bercerita dan menjelaskan bersama sama, tapi untuk explore lebih jauh tentang kota itu sendiri ternyata sulit jika bersama anak anak. Mereka tak bisa berjalan jauh, jadi untuk turun dan anik bis kembali rasanya lama sekali, selain lebih banyak untuk duduk makan eskrim juga mereka banyak mengeluh cape, jadi kami memilih tidak turun dari bis dan hanya bercerita dan menunjukan dari atas bis saja pada anak anak tempat yang menarik untuk diceritakan. Beda jika kami pergi berdua saja, naik bis tour model begini rasanya dapat kami pakai semaksimal mungkin, seperti pengalaman kami di Budapest dan Lisabon. Kami bisa sering turun dari bis dan berjalan untuk melihat tempat yang menarik.

Dari bis Route 2 kami turun di Puerta Del Sol, di tempat ini pula kami bisa menaiki bis Route 1. Barulah disini kami bisa berjalan jalan dan serasa berada di kawasan pariwisata, karena tempat yang ramai, pertokoan disana sini yang tentunya terjangkau dengan kantong kami (musim discount) dan bukan merk merk yang diburu beberapa artis di Indonesia, hehehe.

Disini pula si kembar berhasil mendapatkan sepatu dan baju Flaminco, ternyata sehari sebelum kami menuju Madrid, Angela sedikit bercerita mengenai Spanyol pada si kembar, beliau pun memperlihatkan tarian Flaminco dari youtube pada si kembar. Maka begitu bahagianya si kembar saat melihat pakaian dan sepatu Flaminco di toko sauvenir.

Mereka berjalan dengan semangat menuju halte bis Route 1, mendekap erat barang belanjaannya. Sementara Luc berjalan lunglai menenteng belanjaanku, sambil bergumam sehari saja di Madrid telah membuatku bangkrut, ujarnya.
IMG_20150809_182236024[1]

Anak anak beberpa kali melongok belanjaannya saat berada di dalam bis, berkali kali mereka bilang tak sabar ingin segera memakainya. Namun perhatian mereka sedikit teralihkan saat ada segerombolan orang yang naik ke atas bis, ke tingkat dua dimana kami duduk dan mereka dengan hebohnya berbicara bahasa Indonesia.

Cinta langsung menghampiriku, sambil berbisik mereka orang Indonesia bunda, yang langsung aku iyakan. Seorang ibu muda yang cantik yang rasanya wajahnya aku kenal, putri Indonesiakah? Artiskah? Disusul eorang lelaki muda tampan usia awal dua puluhan, bersama sorang gadis remaja, disusul seorang bapak bersama anak kecil sepantaran si kembar.

Cinta Cahaya semakin tertarik, Cinta bertanya padaku bolehkah dia mendekati mereka? Aku mengangguk saja. Cinta mendekati ibu muda tersebut, kemudian bertanya… Are you Indonesian? Si wanita menatap Cinta keheranan, detik berikutnya dia menggeleng. Wajah Cinta dan Cahaya berubah, mengkerut, berpikir sejenak, bukan Cinta namanya klo tak bertanya lagi, dengan mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan perempuan itu dia kembali bertanya. Are you Indonesia?

Si ibu muda itu tercengang sambil berkata gugup, oh ya ya ya Indonesia. Kemudian pemuda tampan itu mendekat pada Cinta dan Cahaya dan bertanya bersahabat. Kami saling bertukar cerita, sementara si bapak lebih banyak diam dan senyum saja, menjaga jarak dan tak mauterlibat dalam percakapan kami. Si anak kecil sepantaran Cinta dan Cahaya mudah sekali berteman dan ngobrol dengan hebohnya, si anak itu berbica bahasa Inggris yang lancar dengan logat American, dia berbahasa Inggris dengan anggota keluarga yang lainnya pula. Sementara Cinta dan Cahaya lebih banyak menyimak dan terkagum kagum pada si anak tersebut, mereka duduk bersama sama.

Berkali kali sang ayah turun ke bawah dan membawakan permintaan mainan yang diminta putrinya, sepertinya ada anggota keluarga lain yang duduk di bawah. Berkali kali aku berpikir keras, siapa lelaki itu, seperti seorang politikus yang dulu sering muncul di TV. Tapi aku tak menemukan sepotong namanya di kepalaku. Sementara si ibu muda lebih fokus pada camera profesional yang ada di tangannya, memotret bangunan bangunan yang menarik perhatiannya, membuat handphone ku tau diri dan masuk ke tas mungilku saking malunya, hahaha. Tak sebanding untuk duduk berdampingan!

Kekakuan lelaki itu mulai mencair, dia mulai bertanya pada kami tentang si kembar. Cahaya pun tak sungkan untuk duduk di pangkuan lelaki itu dan bertanya banyak hal pada camera yang ada di genggaman lelaki itu, si bapak mencelaskan dengan detail apa yang ditanyakan Cahaya. Kami segera memanggil Cahaya saat dia mulai berani menyentuh camera si bapak itu. Luc menjelaskan untuk menjaga kesopanan pada Cahaya, menyuruhnya duduk kembali bersama Cinta dan anak si bapak itu.

Kami harus turun di halte berikutnya, saling mengucapkan salam perpisahan. Begitu kami turun ke lantai satu, seseorang menyata denagn ramahnya pada Cinta dan Cahaya. Seorang wanita cantik yang wajahnya aku kenali, juga namanya! Tapi mulutku terkunci untuk bertanya. Malah jawaban konyolku yang muncul saat wanita tersebut menyatakan bahwa dia senang melihat anak kembar, aku menyambar perkatannya dengan … Ayok mbak punya anak lagi, siapa tau nanti kembar. Kemudian dia berkata bahwa dia tak ingin hamil lagi, sudah tua katanya sambil menambahkan bahwa anaknya sudah tiga, semua anak yang ada di atas bis itu adalah anak anaknya. Jadi pemuda tampan yang super ramahitu? Yang usianya mungkin 25 tahun, gadis remaja yang cantik dan lincah? Nah kalau anak yang seumuran Cinta dan cahaya pantaslah anaknya.

Kami turun dari bis sambil melambaikan tangan pada wanita yang mengenakan mut yang biasa dikenakan di musim dingin yang dia fungsikan sebagai penutup kepala sebagai ciri khas seorang muslimah.

Sesaat setelah berada di atas tanah, setengah berteriak ke arah Luc aku berkata EEP SAEFULLOH!!! Ya wanita cantik yang ramah yang tengah melambaikan tangannnya ke arah kami adalah Sandrina Malakiano!

(bersambung)

# Berikut foto foto yang dapat aku abadikan sebelum, handphoneku menyembunyikan diri, karena tak mau bersaing dengan camera profesional 🙂

IMG_20150809_160557157[1]IMG_20150809_161420769[1]IMG_20150809_121811907[1]IMG_20150809_122312844[1]IMG_20150809_170838789[1]IMG_20150809_123312498[1]IMG_20150809_173928919[1]IMG_20150809_122647494[1]IMG_20150809_170923092[1]IMG_20150809_173802916[1]

Madrid, We are Coming!

Hari ke delapanbelas, 8 Agustus 2015

Rencana jalan pukul tujuh pagi, molor  setengah jam kemudian. Rasanya sedih juga meninggalkan Angela seorang diri. Sebelum kami berangkat masih sempat dia mencucikan mobil Luc yang berdebu, langsung disemprot jadi mengkilat. Bukan anaknya yang bersihih mobil ibunya, malah ibunya yang bersihin mobil anaknnya. Ah dunia yang terbalik, hihihi.

Perjalan sedikit was was setelah memasuki negara Spanyol. Sehari sebelumnya kami mendengar berita bahwa banyak hutan yang terbakar di Spayol karena cuaca yang sangat panas. Kami takut jangan jangan jalan yang kami lewati, termasuk daerah berbahaya, maka kemungkinan jalan akan diarahkan ke jalan lain. Tapi untunglah hal yang kami takutkan tak terjadi. Walaupun beberapa kali kami melihat papan peringatan di jalan tentang waspada pada adanya hutan yang terbakar.
IMG_20150808_135906259[1]

Udara yang sedikit mendung membantu perjalanan kali ini tak begitu panas, hanya sesekali kami dikagetkan dengan adanya kabut dikejauhan, bertanya tanya apakah itu gumpalan awan hitam atau kepulan asap.

Jarak dari Silves menuju Madrid adalah 791 km, yang konon dapat ditempuh sekitar tujuh jam setengah tanpa berhenti. Tapi tidak dengan kami, perjalanan ditempuh sekitar delapan jam setengah, setelah kami berada di belakang traktor yang berjalan lambat dan Luc tak bisa menyusulnya karena jalan yang sempit, beberapa kali kami terjebak di jalan yang yang sedang diperbaiki, sehingga Luc harus menurunkan kecepatan.

Tiba di hotel, setelah semuanya mandi dan berganti pakaian. Luc segera mencari informasi untuk makan malam di mal terdekat sekaligus untuk memenuhi janjinya padaku. Shoping!

(bersambung)

Setengah tahun di Portugal, setengah tahun di Belanda

Hari ke tujuhbelas

Rencananya hari ini dis rumah saja, beres beres karena hari sabtu esok kami harus melanjutkan perjalan lagi. Tidak mengambil tute saat kami datang tapi mampir dulu ke Madrid Spanyol.

Sejak kemarin Angela tidak ada bersama kami, pagi pagi sekali dia menjemput temannya di airport di kota Faro. Sebelum diantar kerumahnya Inez akan mampir ke tempat kami dulu untuk bertemu. Sejak si kembar lahir, Inez temannya Angela selalu berencana bertemu kami, tapi tak pernah berhasil. Selalu waktunya tak tepat. Saat kami ke Portugal, dia sedang berada di Belanda. Jadwalnya adalah saat musim panas dia tinggal di Belanda, dan saat musim dingin dia tinggal di Portugal.

Penampilannya sedikit tomboy seperti Angela, tubuhnya yang jangkungnya harus membungkuk setengahnya demi dapat mencium pipiku. Orangnya spontan tanpa basa basi. Katanya akhirnya dia gembira bisa bertemu dengan kami terutama dengan si kembar yang terkenal itu katanya, hahaha. Kami mengobrol sebentar, benar benar sebentar. bahkan saat aku menawarkan minumpun dia menolak. Mungkin hanya sekitar lima belas menit dan dia pamit diantar Angela ke rumahnya.

Seperti kebanyakan orang Belanda atau Inggris yang tinggal di Algarve, sebagian dari mereka memilih hidup setengah tahun di Portugal dan setengah tahun di negara asalnya. namun banyak pula yang memilih seperti Angela, pindah untuk selamanya. cuaca adalah alasan yang mereka pilih mengapa mereka hidup di dua negara, dengan begitu mereka dapat menikmati musim dingin yang tidak terlalu dingin di negara Portugal demi menghindari musim dingin yang ekstrim di negaranya.

Aku sedikit tak paham saat Inez berkata bahwa di bulan september dia akan kembali ke Portugal bersama suami dan anjingnyanya yang saat ini keduanya masih di Belanda, nanti mereka akan menggunakan mobil minibus yang lengkap dengan tempat tidur,  seperti halnya saat mereka kembali ke Belanda menggunakan jalan darat.

Tapi ini masih musim panas dan dia sudah kembali ke Portugal? Seorang diri pula. Bukankah sebulan yang lalu dia baru meninggalkan Portugal dan seharusnya kembali nanti bulan  September? Dan saat aku tanyakan pada Angela berapa lama Inez akan tinggal di Portugal, dia menjawab hanya seminggu saja.

Kemudian Luc berkata, jangan jangan dia ingin balik ke Portugal hanya untuk bertemu dengan kami? Angela dan aku hanya tertawa mendengar gurauan Luc. Tapi betapa terkejutnya aku dan Luc saat Angela, mengangguk. Hahahaha mevrouw bukankah kita bisa bertemu di Belanda?

(bersambung)