Antara Victim of crime, Inbraak (Kemalingan) dan Ceroboh

download

 

Terjadi pada hari Selasa dini hari tanggal 27 April 2011.

Sekitar pukul 7.30 pagi, anak anak belum bangun dan Luc sudah ribut mencari dompetnya kesana kemari. Dia akan berangkat bekerja, tangan kirinya sudah menggenggam kunci mobil tapi dia belum berhasil mendapatkan dompetnya. Kejadian yang sudah menjadi pemandangan di pagi hari, mencari dompet dan kunci mobil!

Kami berdua segera membereskan meja sofa, meja komputer dan melongok ke kolong sofa, tapi tak ditemukan dompet disana, tempat biasanya kami bisa menemukan barang yang kami cari, setidaknya bisa ditemukan disana. Aku segera memeriksa tas ranselku yang tergeletak begitu saja di lantai disisi sofa (juga hal yang biasa). Dan mulai berteriak cemas……..’dompetku juga tidak ada’ dan lanjutku, ‘juga handphone ku’. Setengah berlari aku ke menghampiri meja komputer, mengambil telepon disana dan memijit nomor hp ku, cara jitu menemukan dimana hp ku tergeletak. Tapi sayang tak ada bunyi tersambung di seberang sana, hp ku mati! Hal yang tak biasa.

Dan baiklah…….kami berdua menarik nafas panjang……. menyapu pandangan ke seluruh ruangan, tak ada kameraku di meja komputer, celengan porselen kucing dari Jepang juga menghilang di lemari hias….. dan menyimpulkan, seseorang telah memasuki rumah kami tadi malam antara pukul satu dini hari dan pukul setengah 7 pagi, jam Luc terakhir kali meninggalkan living room, masuk ke kamar untuk tidur dan bangun kembali keesokan harinya.

Tanpa dikomando kami segera membagi tugas, aku membangunkan anak anak, mengganti popoknya dan membawa mereka ke ruang tengah, sementara Luc menelepon polisi. Aku tau polisi akan segera datang ke rumah, aku memandang sekeliling ruangan…… agak malu melihat pemandangan di depanku, aku segera sedikit membereskan mainan Cinta Cahaya yang berhamburan dimana mana tapi segera dicegah Luc saat dia meletakan telepon sehabis menelepon polisi. Polisi bilang jangan banyak memindahkan barang yang ada sebelum polisi datang.

Tak sampai lima menit sehabis menelepon, dua polisi telah datang ke rumah. Santai saja kerja mereka, yang satu berjalan mondar mandir mengelilingi ruangan, yang satu duduk sambil mencatat dan bertanya ‘dengan santainya’ pada Luc, dan aku membantu dengan menyerahkan dua box bekas telepon yang hilang untuk dicatat nomor imei-nya. Setelah dua puluh menit mereka sibuk bertanya pada Luc, kemudian salah satu polisi mengajakku untuk bergabung pada pembicaraan karena sedari tadi aku sibuk mengurusi makan pagi Cinta dan Cahaya.

Menjelaskan kemungkinan tamu tak diundang tadi malam datang sendiri saja, tertarik pada barang kecil yang mudah dibawa yang ada di meja komputer, dan dari situ dia mengambil kamera, dompet Luc, hp dan beranjak ke ransel yang tergeletak di lantai, mengambil dompetku dari dalam ransel dan dompetku yang lain yang berisi hp dan uang receh. Kemudian polisi tersebut menjelaskan bahwa rumah kami tidak terkunci sehingga ‘tamu’ tadi malam bisa dengan mudah membuka pintu menggunakan besi pipih atau semacam kartu (credit card or bank pas) tanpa merusak pintu dan mengeluarkan suara. Pak polisi juga menyarankan (meminta) kami untuk selanjutnya:

1. Mengunci pintu rumah sebelum kami tidur
2. Segera mengganti kunci rumah kami karena satu kunci  yang ada di dompetku ikut terambil oleh ‘tamu’ tadi malam
3. Menelepon provider hp untuk segera memblokir hp kami
4. Menelepon bank untuk memblokir kartu bank pas kami
5. Menelepon visa card untuk memblokir kartu kredit Luc
6. Menelepon asuransi rumah kami untuk melaporkan bahwa seseorang telah masuk rumah dan mengambil barang ‘yg hilang’
7. Menyuruh Luc untuk datang ke kantor polisi (proces verbaal) sambil membawa laporan yang telah ditulis tangan oleh salah satu pak polisi untuk dibuat laporan tertulisnya dan diselidiki lebih lanjut

Kemudian pak polisi bertanya mengenai perasaanku saat ini, apakah aku kaget? Terpukul? Takut? Dan pertanyaan lainnya. Dia juga bertanya apakah aku membutuhkan seseorang(organisasi) untuk memulihkan perasaanku karena aku adalah ‘victim of crime’. Dan saat aku mengatakan bahwa aku hanya kaget dan bersyukur Cinta dan Cahaya baik baik saja itu sudah cukup bagiku dan aku tidak memerlukan organisasi untuk mengobati ‘luka hatiku’. Polisi juga tetap menyarankan bila aku merasa terancam, jangan ragu untuk menelepon momor darurat (112) kapanpun itu, mereka akan melayani semua orang dengan sama, tidak hanya mereka yang berbahasa belanda saja.

Tiga hari setelah kejadian, aku menerima telepon dari polisi wanita, dia menjelaskan bahwa proces verbal telah selesai dan akan siap dikirim hari itu juga via pos. Laporan proses verbal dibutuhkan untuk laporan pada pihak asuransi dan juga pengurusan VVR (KTP)ku yang ikut terambil . Polwan tersebut juga menjelaskan bahwa dengan keluarnya proces verbaal berarti juga akan dihentikannya penyelidikan pada kasus kami, dia mengatakan tidak ada saksi mata, tidak ada orang yang dicurigai dan penyelidikan melalui mobile phone yang ikut terambil tidak mungkin ditunggu lagi karena setelah ditunggu dari tiga hari, orang yang mengambil hp ku tidak menyalakan hp ku, dengan ini tidak memungkinkan dilacak melalui provider hp kami. Aku tetap tak mengerti proses tersebut. Saat aku setuju kasus kami akan dihentikan, polwan diujung sana mengingatkan kembali bahwa dia akan mengirim proses verbal tersebut hari ini dan tetap menawarkan bahwa suamiku tetap bisa bertanya jika dia belum jelas (saat itu Luc msh di kantor).

Aku tahu, hal yang mustahil untuk mendapatkan barang barang yang hilang kembali dari tangan pencuri. Yang aku petik dari kejadian ini adalah, bahwa sikap dari para petugas yang benar benar membantu kami, dari mulai datang cepat, sikap yang bersahabat tapi ga berlagak sok dekat, profesional menurut kapasitas yang wajar, dan juga jawaban dan pengarahan mereka yang memberikan kepastian mengenai kasus kami, langsung diputus tidak dilanjut dan memberikan pengarahan untuk dilanjut pihak asuransi dalam penggantian barang barang yang hilang.

Sedikit terhibur atas petugas asuransi yang bekerja cepat, penanganan yang singkat tidak bertele tele, hanya lewat telepon kemudian kami menulis barang barang yang hilang, mengeposkannya, tak sampai seminggu petugas asuransi membuat janji untuk datang ke rumah kami, dan hanya dihadapi olehku saja karena Luc sedang bekerja. Kurang dari sepuluh menit petugas berada di rumah kami tidak bertanya secara detail mengenai barang yang hilang, dia lebih tertarik pada si kembar yang waktu itu belum berusia dua tahun. Dan sim salabim semua barang yang kami nyatakan hilang dalam waktu yang tidak lama sudah kembali berupa euro dan berada di rekening Luc termasuk isi celengan porselen yang kami klaim berisi kurang lebih hampir 500 euro, ternyata uang yang hilang pun diganti.

Tercengang setelah kejadian tersebut adalah bahwa selama ini kami tidak pernah mengunci pintu rumah kami. Aku kira selama ini sudah cukup, menutup pintu dan tidak akan bisa dibuka dari luar, saat aku bilang pada Luc bahwa ini merupakan kecerobohan kita tidak pernah mengunci pintu…… dan apa jawaban Luc?

Dia bilang, seumpamanya kita lupa juga menutup pintu, kita tidak bisa dipersalahkan atas hilangnya barang barang kita. Yang salah adalah orang yang mengambil barang barang kita. Sudah tahu bukan barangnya kenapa diambil juga? Ah jawaban tersebut adalah tipe orang sini, tidak berpikiran dan tidak mau dipersalahkan untuk sesuatu yang mengada ada. Ya, mereka bukan orang Sunda yang selalu bilang….untung saja……. walaupun sudah tertimpa tangga bertubi tubi.

Ya, banyak hikmah dari kejadian ‘tamu tak diundang’, semakin berhati hati, menyimpan barang pada tempat yang aman, meluangkan waktu untuk selalu membereskan rumah. Kejadian polisi datang di pagi hari dan menyaksikan betapa berantakannya rumah kami adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Dan tetap berharap pada orang yang telah mengambil barang (kami) atau barang orang lain semoga mereka sadar akan apa yang telah mereka lakukan. Intropeksi diri mungkin kita lupa memberikan sebagian harta kita pada mereka yang berhak (fakir miskin, anak yatim dll).

Terima kasih karena kami telah diingatkan oleh-Nya. Menerima pendapat Luc yang tidak menyalahi diri sendiri karena selama ini tidak pernah mengunci pintu rumah, karena menurutku itu sebuah kecerobohan tapi menurut Luc adalah sebuah kebiasaan, belasan tahun dia tinggal di rumah tersebut, dia tak pernah mengunci rumahnya. Sama seperti perumpamaan perempuan yang berpakaian seksi kemudian diganggu laki laki yang lewat. Jangan kemudian yang disalahkan si perempuannya tapi si laki lakinya dong yang salah karena jelas mengganggu, begitu logikanya. Bahwa orang orang yang mengambil barang kami adalah salah. Dengan dalih apapun, mengambil sesuatu yang bukan hak milik kita adalah salah. Jika saja para koruptor punya pemikiran seperti Luc…… tentunya mereka tidak akan mencoba coba mengambil sesuatu yang bukan milik mereka dengan mudahnya walaupun itu didepan matanya, walaupun itu mungkin akibat kecerobohan orang lain. Sudah seharusnya kita selalu berhati hati.

 

Rotterdam, 16 Mei 2011
Rev. 19-11-2013

Sudah tahu uang!

Baru lebaran tahun lalu Cinta dan Cahaya terbuka matanya dengan yang namanya uang, setelah mereka dapat uang THR dari oom dan tantenya. Setiap ada yang memberi uang berkali kali mengucapkan terima kasih dan langsung menghitung uang yang diterimanya kemudian memasukan ke dompet bekas yang didapatkannya dari lemari ibuku.

Ya, dengan antusias mereka menghitung jumlah uang yang diterimanya, bukan nominalnya tapi berapa lembar uang yang mereka dapat. Baik itu seribu rupiah atau seratus ribu rupiah tetap dihitung sama. Sepupunya yang usianya lebih muda dari si kembar mengerutkan dahi dan berusaha meralat cara berhitung Cinta dan Cahaya yang menghawatirkan.

Lebaran tahun ini (2016) si kembar mulai mengerti akan uang dibandingkan tahun tahun sebelumnya, bahwa dengan uang mereka bisa membeli sesuatu, untuk urusan berapa jumlah dan harganya mereka belum mengerti. Dulu setiap ada yang kasih uang THR mereka langsung memberikannya padaku.

Dan untuk pertama kalinya mereka dengan bangga dan suka cita membawa dompet dari ibuku yang berisi uang THR ke gramedia. Mereka memilih maianan lego dengan sumringah dan antusias. Berembuk dengan serius, mengambil kemudian mengembalikan lagi ke rak, begitu berkali kali. Hingga akhirnya mereka sepakat memilih salah satu lego yang ada. Aku menjelaskan bahwa lego tersebut bisa dibeli karena uang yang mereka punya bila digabungkan jumlahnya  melebihi harga dari lego tersebut. Kenyataannya mereka tidak tertarik dengan penjelasanku, mereka hanya tertarik saat aku menunjuk lego mana saja yang bisa dibeli.

Dengan bangga mereka mendatangi kassa, menyerahkan seluruh uang yang mereka punya.
img_20160715_120305716

Beberapa minggu yang lalu, aku mengikuti inloop di kelas si kembar. Inloop adalah diperbolehkannya orang tua atau  wali murid berada di kelas untuk melihat anak anak mereka belajar di kelas. Saat si kembar berada di groep 1 dan 2 (kelas TK) inloop diadakan sekali seminggu. Kini mereka duduk di groep 4 (kelas 2 SD) inloop hanya diadakan dua kali sebulan. Saat itu mereka belajar tentang nilai tukar alias uang. Mulai penjelasan dari film yang tersaji di layar yang menceritakan bagaimana uang dibuat, peragaan bagaimana terjadianya transaksi menggunakan uang nyata ataupun transaksi menggunakan kartu debit (pinpas) hingga cara mengambil uang melalui mesin ATM. Tak ketinggalan simulasi bu guru dan murid di depan kelas dalam bertransaksi. Hingga aku berasumsi mereka sudah cukup dalam mengenal uang. Tapi ternyata tidak begitu. Saat aku menyuruh Cahaya membayar belanjaan di supermarket, Cahaya kegirangan saat si kasir memberikan kembalian 10 cent, 10 euro Bunda! Teriaknya padaku, yang diikuti tatapan si kasir yang tersenyum prihatin padaku melihat Cahaya yang antusias menerima kembalian 10 cent!

Nah hari selasa yang lalu temanku secara mendadak menyuruhku untuk makan malam di rumahnya karena anaknya hari itu berulang tahun.  Maka hari itu juga sambil menjemput Cinta dan Cahaya pulang dari sekolah kami mampir ke Priemera toko buku yang juga menjual kado bon . Untuk pertama kalinya si kembar mengetahui kegunaan kado bon, mereka sepakat memberikan kado bon dari toko mainan Bart Smit untuk Sophie. Sorenya setelah Luc pulang kerja kami berangkat ke rumah Sophie. Cahaya dan Cinta bersemangat menjelaskan pada Sophie yang berulang tahun ke lima mengenai kado bon untuknya, kamu bisa datang ke Bart smit dan membeli apapun yang kamu suka disana, kamu tak perlu pakai uang, cukup dengan kartu ini saja, kartu ini sama ajaibnya dengan kartu pinpas! Begitu penjelasan Cinta pada Sophie.

Aku dan Luc bukan type orang tua yang mudah memberikan hadiah pada anak, sejak peristiwa kado bon si kembar sepanjang hari ingin membeli kado bon. Akhirnya Luc memberi solusi, mereka bisa membeli kado bon dari jerih payah mereka selama ini.

Mereka boleh membeli kado bon dari perolehan score yang mereka kumpulkan selama ini dari Squla. Squla adalah sebuah proglam latihan soal soal secara online. Semakin sering mereka menjawab pertanyaan maka score yang mereka kumpulkan semakin banyak. Biasanya setiap selesai makan malam si kembar akan begiliran berada di depan komputer selama 15 menit hingga 30 menit untuk menjawab pertanyaan. Tentu saja untuk terdaftar di program Squla tiap anak dikenakan biaya pertahunnya. Ternyata baik Cinta maupun Cahaya hanya bisa menukarkan score yang mereka miliki dengan kado bon dari bart smit sejumlah masing masing 10 euro saja.  Dua hari kemudian kado bon bart smit datang ke rumah melalui pos.

Tentu saja ada drama lanjutan lagi saat mereka datang ke toko bart smit, awalnya kami membiarkan mereka yang hilir mudik di toko, mencocokan nilai kado bon yang mereka punya dengan mainan yang mereka suka, selalu tidak ada titik temu. Betapa kecewanya mereka melihat mainan yang ingin mereka miliki ternyata harganya jauh di atas 10 euro. Setelah berembuk akhirnya mereka sepakat menggabungkan uang milik mereka sehingga mereka bisa bersama sama membeli barang seharga 20 euro. Kembali mereka hilir mudik tak tentu arah. Dan kembali menyerah pada kami, Cahaya berpikir untuk kembali pulang dan menyimpan kado bon nya untuk dibelikan suatu saat nanti jika dia bisa mengumpulkan scrore  dari squla sehingga bisa membeli kado bon lagi. Tapi Cinta tak mau, dia ingin membawa pulang mainan hari itu juga.

Akhirnya Luc memberikan tambahan 10 euro pada mereka berdua setelah hampir satu jam lamanya kami tak bisa keluar dari toko mainan tersebut, dan dengan cukup puas mereka berdua mendatangi kassa dan menyerahkan dua buah kado bon dan uang 10 euro.
img_20170211_1315156661

Sepanjang jalan tak henti hentinya mereka berceloteh pada kami;
Bunda, nanti aku akan rajin belajar Squla! Tutur Cinta
Papa, Lego hadiah ulang tahun dari oma Angela ternyata harga nya lebih dari 100 euro! Seru Cahaya.
Kemudian mereka saling menimpali, yang dari Sinterklaas juga mahal… lebih dari 60 euro!
Bunda berapa lama lagi Sinterlaas datang? Tanya Cinta yang langsung disambut gelak tawa Luc. Dengan masam aku menjawab, tahun ini Sinterklaas tidak datang!
Cinta, aku ada ide, usahakan kita selalu baik sepanjang hari, tentu saja Sinterklaas akan datang ke rumah kita membawa lego Moana! Seru Cahaya yakin!

img_20170211_1245028201

Senyum bahagia si kembar di depan toko mainan sambil membawa dompet hibah dari neneknya yang berisi kado bon hasil usaha mereka


					

Ada yang hilang

Sebetulnya agak ragu ragu juga untuk curhat secara publik, tapi semoga bisa menjadi awal yang baik dengan mulai bercerita.

Jadi begini…. Rasanya sejak berakhirnya liburan musim panas 2015 bawaanya malas terus, kangen ibu dan keluarga besar di kampung halaman yang amat sangat. Kabar dari Luc yang memperlihatkan bukti bahwa dia telah membeli tiket pulang untuk tahun berikutnya tak membuat rasa malas dan sedih hilang begitu saja. Akhir tahun 2015 puncak puncaknya aku begitu tak bergairah, di bulan itu juga seluruh kegiatanku di sekolah selesai, aku tak ambil kursus apa apa lagi, niat mencari kerja hanya di mulut saja, usaha tidak kunjung juga dilakukan. Musim dingin yang datang menambah deritaku.

Ada Luc yang selalu memberiku semangat, seperti biasanya dia selalu menyemangati diriku untuk selalu rajin membaca dan berlatih menulis, memberi motivasi untuk mencari kegiatan yang membuat diriku gembira. Ada beberapa buku yang berhasil aku tamatkan tapi untuk menulis rasanya jadi kagok. Berkali kali aku berpikir jika aku membaca tulisan dari bloger lain, mereka menulis dengan indah, jelas dan menarik. Ada ilmu pengetahuan yang bisa diambil. Kemudian aku membaca tulisanku sendiri…. kok tulisanku gak berbobot sama sekali. Ceritanya ya begitu begitu saja.

Ada keinginan untuk merubah blog ini, tidak menceritakan tentang hari hari Yayang lagi, ingin rasanya menulis yang sedikit bermakna, tapi apa? Hingga akhirnya Luc bertanya, mengapa aku tidak  atau jarang menulis lagi? Dan keluarlah jawabanku yang ingin mencoba sesuatu yang lain tapi masih bingung harus bagaimana. Atas saran dia dan diskusi yang panjang diraih kesimpulan bahwa aku hanya sedang bingung saja. Jika ingin menulis, menulislah jangan takut atau sungkan tentang pendapat orang lain, syukur kalau masih ada yang mau membaca kalaupun tidak itu tidak akna merugikan diriku sama sekali. Toch aku membuat blog ini awalnya  untuk menceritakan keseharianku di negara yang baru.

Jadi inilah diriku…….. Jika aku merasa ada yang hilang dalam diriku, aku berharap inilah awalnya sesuatu yang hilang itu segera kembali.

Nah lain lagi dengan cerita hilang si kembar, mereka suka sekali menghilangkan barang barang miliknya, entah itu ketinggalan di sekolah atau di rumah teman. Yang paling sering hilang adalah feestje atau sebangsa rompi. Untungnya pihak sekolah menyediakan lemari yang berisi barang barang hilang yang berhasil dikumpulkan, setiap tiga bulan sekali isi lemari tersebut akan disumbangkan, nah jika Cinta dan Cahaya menghilangkan barang barang mereka, aku suka  datang ke ruangan dimana lemari itu berada, kadang kami berhasil menemukan barang barang si kembar kembali tapi tak jarang pula barang barang mereka tak ditemukan disitu. Jika kalian melihat isi lemari tersebut maka seperti hal nya diriku saat pertama kali  melihat isi lemari tersebut pasti takjub dan tercengang, segala macam barang pribadi ada disitu, sepatu olah raga, baju olah raga, baju renang, rompi, jaket, bahkan sepatu lars! Bagaimana bisa sepatu lars ketinggalan? Apa si anak pulang tidak memakai sepatu?

Oh ya, berkali kali Cahaya tertukar pakaian renang dengan temannya, pakaian yang dibawa pulang bukan miliknya, beberapa kali berhasil kembali dengan menghubungi si anak atau orang tua yang pakaian renangnya tertukar, satu kali tak berhasil alias hilang. Dua  minggu lalu Cahaya pulang ke rumah tanpa peralatan renangnya, teringat tahun lalu dia juga pernah pulang tanpa tas renangnya, dan  tas renang bersama isinya tak pernah ditemukan lagi. Teringat pengalaman tahun lalu, hari itu juga  aku membawa Cahaya kembali ke kolam renang. Saat kami masuk ke kolam di pojok kolam renang kami melihat  baju renang, handuk dan tas nya berada di jemuran, telah kering dan bersih harum. Tas nya  mendadak kinclong, sepertinya pihak kolam renang langsung memasukan tas tersebut beserta isinya ke mesin cuci.

Dan inilah beberapa jaket dan rompi yang dihilangkan si kembar dan tidak kembali. Feestje hitam, jacket jins, baju olah raga hijau muda, rompi bulu kepunyaan Cinta. Jika biasanya pakaian mereka selalu sama, kini sebagian dari pakaian tersebut tidak dua lagi.

Mungkin ada diantara kalian yang seperti si kembar? Sering ketinggalan barang barang dan tidak kembali?

IMG_20160817_085655487

img_20161206_082238815

K