Antwerpen

The days of Yayang

Ini kali kedua aku datang ke kota Antwerpen. Masih tetap menarik dimataku.
Bangunan tua yang selalu menjadi daya tarik para turis dari manapun, kuliner yang lebih bervariasi dari pada di Belanda, hingga orang yang berlalu lalang di Antwerpen bisa begitu menarik perhatianku.

Maka Antwerpen adalah termasuk kota yang akan aku kunjungi kembali, selain jarak yang bisa ditempuh tak lebih satu jam dari Rotterdam, kota ini bisa begitu menawarkan berbagai macam pilihan. Seperti hari ini kami berencana menjadi tourist di Antwerpen. Pejalanan di mulai dari Grote Markt, dimana City Hall berada atau stadhuis dalam istilah Belanda dimana tempat layanan untuk rakyat (balai kota) berada.

Seperti kota kota lainnya di eropa, jika berdiri gedung City Hall maka (selalu) ada lapangan (main square) di depannya. Ada yang menarik di halaman stadhuis di Antwerpen yaitu berdirinya patung  Silvius Brabo.
http://nl.wikipedia.org/wiki/Brabofontein
Image

Dari Balai kota kami segera berjalan menyusuri jalan jalan yang berpencar ke berbagai arah…

View original post 568 more words

Fiesa – International Sand Sculpture Festival 2015

Hari kedelapan, 30 juli 2015

Hari ini rencananya kami akan mengunjungi Fiesa di kota Pera. Fiesa adalah nama dari festival patung patung yang terbuat dari pasir. Setiap kami ke Portugal, aku sama sekali tidak tertarik untuk berkunjung kesana karena setiap melewati tempat tersebut kesannya sangat gersang dan berdebu, seperti lapangan luas yang ditutupi triplek agar orang orang tak dapat melihat ada apa dibalik triplek yang tidak menarik penampilannya tersebut.

Saat Angela menawariku untuk datang kesana, aku sedikit ragu untuk menjawab iya, tapi kemudian dia menyakiniku berdasarkan pengalamannya tahun lalu berkunjung kesana, menurut mertuaku Fiesa adalah tempat yang wajib didatangi jika kalian berada di Algarve.
Baiklah kalau begitu, maka hari ini kami berempat datang ke Fiesa. Mertuaku tidak ikut karena sejak kemarin malam dia kembali ke rumahnya di Albortel dan bermaksud menghabiskan dua malam di rumahnya seorang diri, untuk beres beres dan menyiram tanaman.

Kami pergi ke Fiesa pukul 9 malam dari rumah, hari mulai berganti gelap setiba kami tiba disana setengah jam kemudian. Lampu lampu mulai menyala, mirip lapangan yang berubah menjadi tempat disko. Untuk masuk kesana dikenakan tarif 9 euro perorang untuk dewasa, dan 4,5 euro untuk anakan anak berusia 6 hingga 12 tahun. Setelah melewati pintu masuk, kami terbelalak karena tempat yang ditutupi “triplek” yang sepertinya tidak menarik ternyata di dalamnya menyimpan sesuatu yang indah.
Fiesa diadakan setiap tahunnya sejak tahun 2003 dan tahun ini adalah pemeran yang ke 13. Untuk tahun ini temanya adalah musik. Konon temanya akan berganti setiap tahunnya, tapi menurut mertuaku tahun lalupun temanya adalah musik. Fiesa International sand sculpture festval didaulat sebagai pameran patung pasir terbesar di dunia yang pernah dibangun. PAhatan patung pasir tersebut diukir oleh sekelompok pemahat dari berbagai bangsa.

Walau temanya adalah musik tapi kami melihat ada berbagai macam patung yang temanya adalah film. Cinta dan Cahaya begitu girang saat melihat patung Olaf, Elsa dan Anna. Olaf yang lucu dan ramah di film frozen berubah menjadi Olaf yang menyeringai menyeramkan menurut pendapatku saat melihat patung Olaf. Sedangkan Mary Poppins yang sosoknya tegas di film menjadi sosok yang ramah dan menawan di patung yang ada di Fiesa. Hahaha penglihatanku kah yang salah?

Disana kami melihat mulai dari tokoh musik klasik seperti Bach, Mozart, Beethoven hingga pemusik masa kini pun ada seperti Gaga dan Beiber.

Sayang aku tak dapat mengambil gambar yang indah di Fiesa, karena aku tak punya kamera hanya berbekal kamera telepon saja itupun bukan telepon keluaran baru maka aku hanya bisa mengambil gambar seadanya, dan sialnya karena batere telepon tidak mencukupi maka kamera pun tak mampu menggunakan blits. Jadi untuk kalian yang tertarik melihat indahnya patung patung dari pasir ini, maka bukalah ini.

Karena kami datang di malam hari (untuk musim panas kita bisa menikmati Fiesa hingga pukul 12 malam) jadi kesan padang pasir tidak terlalu terasa, sebagai gantinya kita disuguhi permainan lampu yang cantik disana. Tapi jika kalian ingin menikamati suasana padang pasir yang panas dan gersang maka datanglah pada hari siang bolong, dijamin panasnya pool!

Jika kalian berencana berlibur ke Algarve, maka menurutku datang ke Fiesa bukanlah hal yang sia sia, ayo marilah kemari…….

(bersambung)

Berbagai macam kartu pos yang dijual di Fiesa

Berbagai macam kartu pos yang dijual di Fiesa

Daftar patung patung yg ada di Fiesa Manakah menurutmu yang paling bagus? Pilih!

Daftar patung patung yg ada di Fiesa
Manakah menurutmu yang paling bagus? Pilih!

IMG_20150730_224406012[1]

Olaf? :)

Olaf? 🙂

Silves Castle

Hari ketujuh, 29 Juli 2015

Langsung rapel saja nulisnya hari kelima dan keenam dilewat saja, selain yang nulisnya udah mulai kendor, hilang ide dan lain sebagainya juga karena sudah makin malas nulisnya tidak sesemangat di hari pertama. Walah apalagi yang bacanya ya…. 🙂

Hari kelima seharian di rumah saja, sampe tiga kali nyebur ke kolam renang buat ngadem sebentar, trus maen lego dengan anak anak sampe keringetan dan sore harinya kita pindah rumah ke kota Silves, ke tempat dulu mertuaku tinggal. Cinta dan Cahaya exciting banget begitu sampai di temapat baru apalagi begitu liat kolam renangnya mereka gembira sekali. Katanya lebih besar dari kolam di tempat sebelumnya dan komentarnya ini beneran kolam renang hahaha. Kita rada bingung juga karena dua tahun yang lalu Cinta dan Cahaya liburan disini pula di rumah yang sama dengan yang sekarang tapi mereka seakan akan lupa pernah kesini. Baru beberapa lama kemudian mereka ingat sebagian ketika Angela mengajak jalan jalan ke belakang rumah, disana ada dua buah karavan dimana dulu Cinta dan Cahaya selalu memberi makan pada kucing setiap pagi yang ada di karavan tersebut.

Hari ke enam, aku jalan jalan berdua saja dengan Luc ke Portimao. Berbelanja di sebuah mall kemudian jalan jalan ke (pantai) Praia da Rocha tempat favorit kami berdua di Portugal. Padahal jalan jalannya di boulevard nya saja, gak mau menginjakan kaki di pasirnya, terlalu panas menyengat!

Nah barulah hari rabu ini, kami berlima mengunjungi pusat kota Silves. Biasanya kita hanya liat liat pertokoan lokal saja disitu yang bisa dihitung dengan jari, tapi kali ini aku ingin sekali ke reruntuhan kastil yang menjadi ciri khas kota Silves. Jika kami datang ke kota Silves dari penjuru manapun juga maka kita akan disuguhi bukit yang di punncaknya ada bangunan tua bekas reruntuhan kastil di jaman dulu. Itulah Silves castle (castelo dos Mouros) yang berada di puncak bukit yang konon dibangun pada abad ke 8.

Kastil dilihat dari tempat parkir

Kastil dilihat dari tempat parkir

Walau kami berjalan tak jauh dari tempat parkir, tapi dibawah sengatan matahari 35 derajat celcius membuat kami ngos ngosan juga begitu sampai di area kastil. Setelah minum es jeruk segar yang ada di cafe sekitar kastil, kami segera masuk ke dalam kastil yang begitu masuk ruangan ternyata kita harus bayar karcis. Karcis masuk tersebut sudah termasuk tarif untuk melihat museum sejarah Silves yang berada di are tersebut.

Harrga karcis masuk

Harrga karcis masuk

Walau Cinta misuh misuh karena cemburu melihat Cahaya yang digendong papanya namun pada akhirnya dia menikmati juga pemandangan di sekitar kastil saat dia bisa melihat kota Silves dari atas benteng kastil. Apalagi saat aku menjelaskan kemungkinan jaman dulu kala ada putri yang tinggal di kastil ini, lalu mulailah mereka berimajinasi seperti apa putri yang dulu tinggal di kastil Silves ini.

wpid-img_20150729_151454125.jpg

wpid-img_20150729_150656503.jpgwpid-img_20150729_152137471.jpgwpid-img_20150729_145902734.jpg

Yang menarik setiap datang ke pusat kota Silves adalah suasananya yang bersahabat. Di sisi jalan besar Silves ada sebuah sungai yang menjadi ciri kota Silves dengan jembatannya dan diseberang sungai tersebut ada beberpa restaurant yang tenang dan kita bisa mendapatkan pemandangan yang indah, disitu pula ada bangku tua yang biasanya ditempati oleh para manula, dulu aku pernah ikut nongkrong di bangku itu saat menunggu perahu yang bisa membawa kita ke Portimao, suasananya yang ramah dan tenang membuat aku merasa nyaman jika datang ke pusat kota Silves. Kita bisa benar benar berinteraksi dengan penduduk disana.
Karena jalan jalan di pusat kota Silves hampir keseluruhannya berbatu (bukan aspal) maka kita harus hati hati berjakan karena batu ratusan tahun yang lalu tersebut sebagian licin karena saking seringnya dilalui. Sangat indah, kinclong cemerlang. Itulah sebabnya dianjurkan memakai alas kaki yang anti slip, karena kekinclongan jalan jalan di Silves dan juga karena saat kita kembali ke jalan raya maka kita akan mendapati jalan yang menurun, menambah kelicinan saat jalan menurun.

Jalan bebatuan di pusat kota Silves yang sempit dilalui oleh mobil juga

Jalan bebatuan di pusat kota Silves yang sempit dilalui oleh mobil juga

IMG_20150729_171506669[1]IMG_20150729_171634954[1]IMG_20150729_170950712[1]

IMG_20150729_174942361

wpid-img_20150729_174648164.jpg
Jika aku berjalan di Silves aku selalu merasa berada di kota jaman dulu seperti cerita dongeng kerajaan jaman dulu, satria berbaju besi, raja Athur, putri berambut pirang dan bergelombang, cerita putri dan pangeran yang dikejar raja yang berkuasa, cinta terlarang dan lain sebagainya, hahaha.

(bersambung )

OMG😂😂😂

OMG😂😂😂

Burgos, Spanje

Hari kedua, 24 juli 2015

Burgos termasuk salah satu kota wisata di Spanyol. Disana ada katedral yang menurutku mirip Sagrada Familia dalam bentuk mini. Karena ingin melihat Katedral tersebut kami memutuskan tidak makan pagi di hotel tapi langsung menuju ke pusat kota untuk membeli kartu pos (aku mengoleksi kartu pos dari kota yang aku kunjungi minimal menginap semalam disana), makan pagi dan tentunya melihat katedral.

Tak banyak wisatawan disana, karena hari masih pagi. Kami tiba disekitar katedral pukul 9 pagi setelah memarkir mobil di depan kantor yang cantik dan nyaman tanpa bayar parkir karena berkali kali Luc mencoba mesin parkir tapi tak berhasil memasukan uang ke mesin parkir entah mesinnya yang rusak atau tak mengerti cara penggunaan mesin parkir tersebut karena tak ada petunjuk dalam bahasa Inggris. Yang setelah kami melewati kantor yang cantik tersebut tertulis di gedung tersebut adalah kantor hukum. Hahaha jika petugas kantor tersebut melihat mobil kami yang tanpa bayar parkir bisa bisa kami bayar denda di tempat.

Kantor Pengadilan di Burgos

Kantor Pengadilan di Burgos

Kami makan pagi di depan katedral, dari teras cafe aku bisa melihat kemegahan dan keindahan Katedral dengan jelas. Dan suasana liburan pun mulai terasa menyentuh kalbuku. Duduk santai, menikamati cappucino, mendengar celoteh anak anak yang riang gembira bahkan melihat wisatawan yang sedang memotret katedral pun sudah membuat hatiku nyaman.
IMG_20150724_092604223[1]

Katedral

Katedral

IMG_20150724_091131857[1]

Belanja kartu pos, tanda bukti pernah menginap di Burgos!

Belanja kartu pos, tanda bukti pernah menginap di Burgos!

Hanya satu jam kami di pusat kota Burgos, untuk selanjutnya kembali melanjutkan perjalanan menuju Portugal. Kami memulai perjalanan sekitar pukul sepuluh pagi. Jarak tempuh dari Burgos ke kota Sao Bras de Alportel Portugal sepanjang 885 km yang menurut navigasi bisa ditempuh sekitar 8 jam ternyata tak jauh meleset. Kami berhasil tiba di Alportel pada pukul 5 sore, karena adanya perbedaan waktu satu jam antara Spanyol dan Portugal dimana jam tanganku menunjukan pukul 6 sore. Itu artinya kami menghabiskan waktu delapan jam. Yeeyyyy berhasil berhasil, sambil jingkrak jingkrak kayak Dora. Kami hanya berhenti tiga kali untuk membeli bensin yang dikombinasikan dengan pipis dan membeli minuman dingin, itu saja!

Kami tak bisa langsung menuju rumah Angela (mertuaku) di Sao Bras de Aportel karena navigasi di mobil kami tak berhasil menemukan alamat rumahnya. Kami menunggu di tempat parkir sebuah supermart selama lima belas menit sebelum Angela datang menjemput kami.

Dan tahukah kalian apa yang didapat Luc setelah seharian menyetir mobil dengan jarak tempuh yang fantastis? Seorang penggemar memperhatikannya dari tempat duduknya di sebuah mobil minibus. Melambaikan tangan anggunnya ke arah Luc yang sedang berdiri di depan mobil. Luc berjalan ke arahnya dan berdiri di samping pintu bus dimana wanita anggun itu duduk. Wanita tersebut berbicara dalam bahasa Portugis, mengambil lengan Luc dan menggenggamnya. Cinta dan Cahaya tertawa terkikik melihatnya dan bertanya padaku, ada apa dengan wanita itu? Aku menjawab dengan senyum mengembang, wanita itu jatuh cinta pada papa. Hehehe.

Di jok belakang dimana wanita tersebut duduk, ada seorang pemuda dan seorang anak laki laki yang menjelaskan pada Luc, bahwa ibunya sedang belanja di supermarket dan ibunya bekerja (menjaga dan mengurus) wanita yang tak mau melepaskan tangan Luc. Wanita sepuh yang cantik dan anggun tersebut menderita penyakit Alzaimer. Dan Luc saling menggenggam tangan selama 15 menit hingga Angela datang menjemput kami.

(bersambung)

Genggamlah tanganku ini!

Genggamlah tanganku ini!

Efteling

IMG_20150605_185313725 Efteling adalah sebuah taman hiburan terbesar di Belanda. Efteling identik dengan taman yang berisi fairy tales, cerita anak anak, legenda ataupun mitos. Anak anak di Belanda jika ditanya tentang Efteling maka yang terpikir di benak mereka adalah cerita Lange neck. Kini taman yang di rancang oleh ilustrator terkenal Belanda Anton Pieck dari taman alam berkembang menjadi taman alam yang dilengkapi berbagai wahana hiburan anak anak yang cukup lengkap. Secara official Efteling dibuka pada tanggal 31 Mei 1952. Kini Efteling dilengkapi dengan hotel, teather, lapangan golf dan desa hiburan. Tentu saja taman ini menjadi salah satu kebanggan Belanda, terutama bagi anak anak. Untuk mengetahui sejarah Efteling lebih lengkapnya silahkan buka disini. Hari jumat tanggal 5 Juni yang baru lalu, udara cerah dan spektakuler karena bersuhu 31 derajat Celcius dan kebetulan hari itu anak anak libur satu hari (studiedag), Luc tiba tiba saja mengambil cuti satu hari dan kami berpikir untuk pergi ke Efteling di hari Jumat itu. Cinta dan Cahaya yang baru kami beritahu sesaat sebelum mereka tidur disambut dengan antusias. Keantusiasan tersebut berdampak mereka tidak bisa tidur nyenyak dan pindah ke kamar kami pada pukul setengah tiga dini hari hanya untuk bertanya apakah sekarang sudah pagi? Pagi hari saat kami berangkat udara masih sejuk, perjalan dari rumah hingga ke tempat tujuan lancar jaya. Karena kami membeli ticket dari supermarket Albert Heijn sehari sebelumnya jadi kami lolos dari antri ticket yang cukup panjang di pagi hari itu, Oh ya Harga tiket masuk Efteling adalah 36 euro perorang, anak anak dari umur nol hingga tiga tahun gratis, sayang Cinta dan Cahaya sudah tidak gratis lagi jadi kami harus membeli empat tiket, untunglah kami mempunyai kortingan seharga 10 euro perorang karena kami punya stiker dari Albert Heijn yang dikumpulkan setiap berbelanja, setiap berbelanja dengan jumlah tertentu akan mendapatkan satu stiker (dan kelipatannya). Satu kartu yang berisi lima stiker akan mendapatkan korting Efteling sebanyak 10 euro. Karena kami punya empat kartu yang sudah terisi penuh, maka kami hanya membayar 104 euro saja untuk 4 ticket. Oh ya ditambah biaya parkir sebesar 10 euro sehari.

Pengunjung yang berjalan dari tempat parkir menuju pintu masuk Efteling

Pengunjung yang berjalan dari tempat parkir menuju pintu masuk Efteling

Berdasarkan peta (plaatgroand) yang kami dapatkan di dekat pintu masuk, kami segera memasuki hutan cerita (sprookjesbos) yang disambut dengan suka cita oleh Cinta dan Cahaya. Masuk ke kastil putri tidur, mengunjungi kampung kurcaci, mendatangi sang legendaris di Efteling yaitu Lange neck, Little mermaid, dan lain lain. IMG_20150605_110551381

Rapunzel

Rapunzel

Lange neck

Lange neck

Perkampungan liliput

Perkampungan liliput

Perkampungan liliput

Perkampungan liliput

Masih di perkampungan liliput Seorang nenek yang sedang mencuci baju, gerakan tangannya naik turun

Masih di perkampungan liliput
Seorang nenek yang sedang mencuci baju, gerakan tangannya naik turun

Putri tidur

Putri tidur

Penjaga kastil yang tidur di istana putri tidur

Penjaga kastil yang tidur di istana putri tidur

Yang menarik di Efteling adalah, adanya beberapa patung yang yang mulutnya terbuka dan mengeluarkan bunyi untuk memanggil siapa saja untuk memasukan kertas ke mulutnya yang disebut Holle Bolle Gijs.

Pemakan kertas

Pemakan kertas/ Paper Gobbler

Kuda nil yang makan kertas juga

Holle Bolle Gijs…… Papier hier………papier hier……..

IMG_20150605_153746767

Kuda nil pemakan kertas

Dari hutan sprokjes kami istirahat sebentar, Cinta yang kondisinya tidak terlalu fit karena bangun setengah tiga pagi dan sulit tidur setelahnya, tiba tiba muntah saat kami duduk di bangku sambil menyantap bekal yang dibawa dari rumah. Luc memanggil petugas untuk meminta maaf karena kami sudah mnegotori lantai dengan muntahan yang cukup banyak, personil Efteling yang ramah yang hampir semuanya service oriented yang menurut Luc bukan tipikal orang Belanda, menyarankan agar Cinta dibawa ke EHBO atau semacam klineik pertolongan pertama.

pintu masuk EHBO

pintu masuk EHBO

Di klinik Cinta disarankan untuk diberi drop saja, semacam permen yang konon bisa menyembuhkan batuk. Karena saat itu kami tak membawa drop, maka mampirlah kami ke toko permen yang tak jauh dari klinik EHBO. Dan keduanya kembali segar bugar begitu kami memperbolehkan mereka memilih beberapa permen dan boleh menimbang permennya masing masing di kassa.

Toko permen

Toko permen

Tak hanya klinik EHBO yang cukup lengkap, petugas medis di Efteling ternyata berkeliling pula dengan menggunakan sepeda, selama di Efteling kami berpapasan dual kali dengan petugas medis yang sedang berkeliling.

Petugas medis di Efteling

Petugas medis di Efteling

IMG_20150605_155247495

Yang satu minta gendong, yang satunya ditarik. Nasib jadi ayah 😉

Di Efteling disediakan juga penyewaan kursi roda bagi kalian yang kecapean, seperti halnya Cinta yang kondisinya tidak terlalu baik saat itu, dia hanya duduk di kereta yang Luc tarik bahkan berkali kali Cahaya lah yang menarik kereta Cinta, untuk penyewaan kereta seperti yang dipakai Cinta dikenakan biaya 4 euro. IMG_20150605_105945005 Dan inilah beberpa foto yang sempat aku ambil saat kami menjajal beberapa atraksi yang sesuai untuk anak anak seumuran Cinta dan Cahaya. IMG_20150605_131359455IMG_20150605_132825603 IMG_20150605_144259032 IMG_20150605_144536425 IMG_20150605_145249466 IMG_20150605_145735438 IMG_20150605_160343382 IMG_20150605_162559223 IMG_20150605_162625295 IMG_20150605_172951580 IMG_20150605_173210850 IMG_20150605_175719685IMG_20150605_124149452 IMG_20150605_124532552 Hari menyenangkan tersebut kami tutup dengan makan di station Oost Restaurant. Station ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, sayang sekali aku lupa mengambil foto station Oost yang dibawahnya ada tulisan Station Timur. IMG_20150605_103915545

Giethoorn – Venice of The Nederlands

Giethoorn - Venice of The Nederlands

Giethoorn – Venice of The Nederlands

I am back! Akhirnya setelah hampir tiga minggu gak buka buka blog, aku kembali menemui kalian…. hehehe.

Long weekend yang baru saja berlalu kemarin itu kami habiskan di kampung Giethoorn. Bermula di pertengahan tahun 2013, kakak iparku yang tinggal di Bogor bermaksud mengirimkan kedua anaknya untuk berlibur di Belanda, dia berkata … ajak ya mereka ke Giethoorn. Saat itu aku sama sekali gak tau ada tempat wisata di Belanda yang dikatakan mirip kota Venice di Italy, karena aku sama sekali gak tau akhirnya aku googling juga mengenai Giethoorn ini. dan alangkah takjubnya aku melihat foto foto yang ada di internet tersebut.

Hingga dua bulan yang lalu, saat kami mengunjungi Sandra sahabatnya Luc, kami tak mendapatkan anak tertua mereka di rumah, hal yang belum pernah terjadi karena setiap kami berkunjung (dengan janji terlebih dahulu tentunya) mereka sekeluarga selalu komplit menyambut kedatangan kami. Sandra berkata bahwa Tibo anak tertua mereka sedang main kano di Giethoorn. Denger nama Giethoorn langsung saja telingaku berdiri. Aku berkata padanya bahwa aku belum pernah ke Giethoorn dan ingin sekali bisa kesana. Mereka terkejut mendengar perkataanku yang belum pernah ke sana dan langsung merencanakan akan mengajakku liburan satu atau dua hari di Giethoorn.

Hanya berselang satu minggu setelah percakapan tersebut, Sandra mengirim email padaku, dia bertanya apakah kami bisa datang ke sebuah vakantie huis (semacam rumah untuk liburan) di Giethoorn pada tanggal 24 dan 25 Mei. Karena tanggal tersebut agenda kami masih kosong tanpa bertanya dulu pada kepala rumah tangga, aku langsung menjawab email dari Sandra bahwa kami setuju, dan aku pun bertanya bahwa tentu saja kami ingin membayar sebagian uang sewa vakantie huis tersebut, dibagi dua maksudku biar adil. Dan Sandra langsung membalas bahwa kami tak tak perlu memikirkan biaya rumah tersebut, hanya menyebutkan jika kami ingin makan malam di restaurant barulah kami boleh ikutan patungan. Yang langsung aku setujui dengan gembira.

Dan hari yang ditunggupun tiba, Cinta dan Cahaya sudah heboh dari seminggu sebelumnya mereka senang luar biasa karena akan bertemu dengan anak anak Sandra, mereka sudah bersahabat selagi Cinta dan Cahaya masih ada di dalam kandungan, dan hingga kini mereka selalu bergembira bila bertemu.

Kami datang tepat waktu pukul satu siang di restaurant ‘t Vonder dimana Sandra dan keluarga akan menjemput menggunakan perahu. Restauran yang ada di depan kanal tersebut ramai dikunjungi orang saat itu. Setelah kami heboh berjumpa dan sun pipi kiri kanan dan kiri lagi kami segera melanjutkan perjalanan ke rumah liburan tersebut. Karena jalur perahu di minggu yang cerah tersebut sangat padat, beberapa kali kami harus menunggu antrian perahi perahu lainnya. Perahu yang kami gunakan adalah perahu tua yang cukup besar, berbeda sekali dengan perahu sewaan lainnya yang banyak hilir mudik.

Sampai di tempat tujuan aku senang luar biasa, karena vakantie huis yang kami tempati benar benar ideal untuk berlibur. Tempatnya berada di pulau yang terpisah dengan vakantie huis lainnya, di tempat tersebut ada dok pribadi yang tak bisa ditempati perahu lainnya, rumah tersebut juga mempunyai lapangan (tanah darat) yang luas diaman anak anak bisa leluasa bermain dan kami bisa mengawasi dari teras rumah. Jika kami memutar lewat ke bagian belakang rumah tersebut maka akan didapati garasi perahu lainnya, disitu ada dua buah kano dua kapal layar besar dan kecil dan beberapa papan surfing.

Saat kami memasuki rumah aku mendapatkan beberapa foto yang terpajang di atas meja kecil, Sandra menunjukan siapa saja yang terpajang disitu, ada Jelte suaminya disitu saat kecil dulu. Hahaha barulah aku mengerti mengapa rumah liburan tersebut bisa kami tempati tanpa biaya setelaht Sandra menjelaskan bahwa rumah liburan yang kami tempati saat ini adalah kepunyaan orang tua Jelte suami Sandra. Dan ternyata saudara saudara Jelte dibesarkan di sebuah rumah yang kini banyak dilalui turis turis yang sedang berperahu di Giethoorn, dan hingga saat ini kedua orangtuanya masih tinggal disana yang konon usia rumah tersebut diperkirakan lebih dari seratus tahun.

Hari pertama kami datang, kami sudah mengelilingi Giethoorn, Tibo anak tertua yang masih berusia 14 tahun menjadi nahkoda perahu, sementara Cahaya yang ngefans berat pada Tibo sedari orok tak mau ketinggalan ikut mengemudikan kapal ceritanya. Sementara anak kedua Anemone berada di belakang perahu dengan surfingnya.

Di tempat yang kosong yang tak banyak dilalui perahu lainnya, kami menepi. Di tempat itu semua anak menceburkan diri termasuk Cinta dan Cahaya. Seru sekali. Udara yang bagus sangat mendukung acara hari ini, walaupun mereka menggigil kedingan begitu keluar dari air tapi Cinta dan Cahaya begitu antusias bahwa esok hari mereka ingin berenang kembali.

Di Giethoorn ada museum yang sekaligus merangkap toko yang menjual berbagai macam perhiasan dari batu, mungkin bagi masyarakat Indonesia yang sedang demam batu akik wajib mengunjungi museum tersebut. Namanya De Oude Aarde. Di museum ini Luc dan anak anak betah sekali, beberapa kali aku mengajak Luc untuk segera pergi tapi dia tak mau juga keluar dari tempat tersebut, sementara aku menunggu Luc yang masih juga berada di dalam aku memanfaatkan waktu dengan foto foto, tentu saja hahaha. Akhirnya Luc keluar juga dengan menjingjing belanjaan batu, entah apa jenisnya tapi berbeda dengan jenis batu yang dia beli di Indonesia beberapa tahun lalu.

Berikut beberapa foto yang berhasil aku abadikan, dan foto kesukaanku adalah foto saat Cinta meloncat ke air.

Jump Cinta!

Jump Cinta!

IMG_20150524_133443639[1]

IMG_20150524_210921223_HDR[1]

Halaman depan rumah vakantie huis, anak anak bisa asyik bermain bola sementara kami mengawasi dari atas

IMG_20150524_163252026_HDR[1]IMG_20150524_160548678[1]IMG_20150524_160259067[1]IMG_20150525_104156420_HDR[1]

With Photos!

With Photos!

Breakfast di teras rumah

Breakfast di teras rumah

IMG_20150524_192113682_HDR[1]IMG_20150525_111310996_HDR[1]

De oude Aarde

De oude Aarde

Cahaya dan Tibo

Cahaya dan Tibo

menyiapkan perahu layar kecil

menyiapkan perahu layar kecil

Anemone berlayar seorang diri

Anemone berlayar seorang diri

Masih foto Cahaya  yang ceritanya ikut mengendalikan perahu ;)

Masih foto Cahaya yang ceritanya ikut mengendalikan perahu 😉

IMG_20150524_140732042_HDR[1]

Anemone Cinta

Joris dan dibelakannya Oude Aarde

Joris dan dibelakannya Oude Aarde

IMG_20150525_112805609_HDR[1]

Cahaya Rossa Cinta

Cahaya Rossa Cinta

tempat parkir perahu bagian depan

tempat parkir perahu bagian depan

Gent

Menyempatkan sedikit menulis di hari terakhir tahun 2014.

Tentang kota Gent di Belgia.
Setelah beberapa kali tak jadi juga untuk mengunjungi kota Gent, akhirnya tanggal 20 Desember 2014 kami berhasil berada disana. Benar benar liburan yang benar benar direncanakan, kami membooking hotel seminggu sebelum keberangkatan dan langsung mengabarkan pada Cinta dan Cahaya yang langsung disambut dengan suka cita oleh mereka.

Dan tentu saja begitu mendengar bahwa kami akan menginap di hotel, mereka langsung berkata apakah naik pesawat? Bolehkan mereka membawa koper?  Mereka sedikit kecewa saat aku jawab bahwa kita akan naik mobil saja. Pertanyaan kedua aku iyakan untuk membuat mereka senang, maka hari itu juga mereka sudah memasukan barang barang yang menurut mereka harus turut serta.

Dalam kurun waktu seminggu menuju hari H, Cinta dan Cahaya tak henti hentinya mengabarkan pada orang yang mereka kenal bahwa mereka akan berlibur, mereka menghitung dengan baik berapa hari lagi mereka harus tidur hingga tiba saatnya untuk berlibur, setiap bangun tidur kata kata yang mereka ucapkan adalah tinggal empat hari lagi tidur, tinggal tiga hari lagi tidur, tinggal dua hari lagi tidur….Hmmmm metoda itu membantu mereka belajar menghitung mundur, ada baiknya juga.

Dan tibalah hari itu, pukul 11 pagi kami sudah meluncur ke arah Gent, kurang lebih satu jam setengah kami sudah berada disana. Udara dingin, membuat kami tak nyaman berlama lama berada di luar.

Tak salah jika banyak orang mengabarkan tota Gent ini kota yang indah, kota ini dikelilingi oleh banyak bangunan tua, diantaranya adalah  gereja. Kota ini adalah kota berpenduduk kedua terbanyak di Belgia setelah kota Antwerpen.

Saat kami menaiki perahu barulah aku mengerti saat mendengar penjelasan  dari guide menjeleaskan dalam empat bahasa, Belanda, Spanyol, France dan Inggris tentunya. Gent adalah kota yang didominasi oleh “tiga menara, juga disebut menara Ghent: dengan tinggi 95 meter menara lonceng bergantung ,  Cathedral Bavo Saint (awalnya Gereja St John) dengan altar yang terkenal Anak Domba Allah dari Jan van Eyck dan St. -Niklaaskerk .

*****
Berhubung di luar sudah ramai kembang api maka dis top dulu ya nulisnya hehehe, kalo ga malas besok besok di edit ulang hahahaha.

Happy New Year 2015,

Selamat menikmati foto foto di Gent ini

naik korsel

naik korsel

IMG_20141220_185950389[1]IMG_20141220_164050259_HDR[1]IMG_20141220_155210153_HDR[1]IMG_20141220_162842422_HDR[1]

Vlees huis Vlees hangen te rijpen

Vlees huis
Vlees hangen te rijpen

IMG_20141221_115941154[1]IMG_20141221_120128742[1]IMG_20141221_120407901[1]IMG_20141221_131605273_HDR[1]

Dalam hitungan menit berada di tiga negara

IMG_11770467442734[1]

Jalan jalan kemaren sungguh mengesankan. Kami pergi ke puncak tertinggi di Belanda dimana puncak tertinggi tersebut berada di gunung Vaals (Vaalserberg).

http://en.wikipedia.org/wiki/Vaalserberg

Tak banyak yang aku ketahui sebelumnya tentang Vaals, aku hanya diajak seorang teman untuk naik kereta api ke kota Maastrich setelah itu perjalanan akan dilanjutkan ke Vaals dengan menggunakan bus. Aku hanya menyetujui saja sambil berkata aku akan membawa Cinta meloncong ke Vaals. Tapi begitu kagetnya aku setelah check and recheck di internet dari Maastrich saja perjalanan sampai halte bus Vaals akan memakan waktu 52 menit, tak terbayangkan harus berangkat jam berapa dari Rotterdam dan kembali memperhitungkan pukul berapa aku akan kembali ke rumah. Di musim gugur berpergian seharian menggunakan kendaran umum dengan menuntun anak balita sungguh sesuatu sekali pikirku.

Maka tralaaaaaaa aku meminta Luc untuk menemaniku dengan persiapan jawaban yang mungkin tak sesuai dengan keinginanku. Tapi ternyata dia bersedia. Dan senyumku mengembang senang. Lebih terkaget kaget lagi karena aku mendapati tiga temanku disana, karena menurut komunikasi yang singkat sebelumnya aku hanya tahu akan ada dua temanku disana. Dengan tertawa tawa karena kaget dan senang maka mulailah rombongan yang kini berjumlah 7 orang (termasuk Luc, Cinta dan Cahaya) mulai menyusuri pusat kota Vaals.

Disana ada rotonde (jalan berupa lingkaran atau lebih dikenal bunderan) dengan papan penunjuk berbagai arah. Jika kau ambil jalan ini maka kamu ada di begara Jerman, jika kamu ambil arah yang lain kamu akan berada di Belgia, dan tentu saja rotonde itu berada di Belanda.

Dari pusat kota Vaals dengan mengendarai mobil Luc yang mungil yang berkapasitas lima orang saja dengan mantra sim salabim, kini mobil itu mampu mengangkut manusia sebanyak tujuh orang. Entahlah dari mana ide itu muncul untuk menumpuk tujuh orang dalam mobil mini kami, tapi yang jelas kami sudah berada di puncak tertinggi negara Belanda, di gunung Vaals, dimana titik tiga negara berada.

http://nl.wikipedia.org/wiki/Drielandenpunt_(Vaals)

Dan jika kalian ingin mencoba tersesat di labirin, cobalah datang ke Vaals antara 1 april hingga 1 november, karena waktu tersebutlah labirin dibuka untuk umum dengan harga tiket 5 euro untuk orang dewasa dan 4 euro untuk anak anak.

Sebaiknya saat kalian berencana ke titik tiga negara di Vaals, usahakan menggunakan mobil pribadi, karena untuk mencapai kesana jika mengandalkan kendaraan umum akan memakan waktu yang lama. Dan ternyata datang ke gunung di musim gugur, maka kalian akan disuguhi pemandangan yang fantastis. Daun daun berwarna warni, kabut yang turun tipis tipis dan dinginnya udara segar di pegunungan menambah suasana hati dalam misteri yang yang nyaman.

Berikut gambar gambar yang berhasil diabadikan seorang teman kami, terimakasih  my beautiful Sukanda untuk semua foto fotonya!

Selamat menikmati pemandangan musim gugur, dan segera agendakan untuk mengunjungi Vaals. Salam musim

Rotterdam, 17-11-2013

Tanda disinilah puncak tertinggi negara Belanda. Bukit setinggi 322,5 meter

Tanda disinilah puncak tertinggi negara Belanda. Bukit setinggi 322,5 meter

IMG_11863452798613[1]Papan nama memasuki permainan LabiryntIMG_11872774621242[1]IMG_11886074585498[1]IMG_11958730135825[1]IMG_11921888127182[1]IMG_12014958917685[1]IMG_13436169359154[1]IMG_13557258218670[1]IMG_13653313457799[1]IMG_13675598535810[1]IMG_13720449623581[1]IMG_13732979135296[1]IMG_13789882502614[1]IMG_13376362480834[1]

Durbuy Belgium – The smallest Town on Earth

Image
Datang ke Durbuy bagiku menjadi amat sangat menyenangkan karena aku dapat menikmati banyak hal dalam sekali kunjungan.
Hawa sejuk, pemandangan indah luar biasa, penduduk yang super ramah tamah, dan juga banyaknya aktifitas outdoor untuk anak anak. Baca 7 great reasons to visit Durbuy

Durbuy merupakan kampung kecil yang berarea total 156.61 km², rasanya berkeliling di centrum Durbuy tak akan membuat kita lelah, semuanya menarik perhatian, dari toko toko yang kecil yang ditata rapih dan menarik membuat aku terpesona. Disana banyak  dijual produk produk lokal seperti teh, madu, bir, selai buatan Durbuy. Konon selai buatan Durbuy adalah yang terbaik karena dipilih dari bahan bahan yang baik dan tak ditambah gula alias asli dari buah yang dibuat selai tersebut. Kebetulan aku datang ke toko yang tepat yaitu toko selai yang merupakan pabrik selai terbaik di Durbuy yaitu  Confituerie Saint Amour.
Image
Image

Yang paling menarik di Durbuy adalah sungai yang panjang dan tidak dalam maka cocok sekali bagi mereka yang ingin mencoba menaiki kano atau kayak dengan biaya 15 euro bagi dewasa, 10 euro untuk anak 6 – 12 tahun dan gratis bagi mereka yang berusia kurang dari 6 tahun, maka kita dapat bermain kano sambil menikmati keindahan alam selama 2 jam.

Dua jam menurut tempat penyewaan kano yang kami datangi, ternyata pada prakteknya Luc dan yang lainnya hampir menghabiskan waktu 4 jam, tentunya ditambah waktu mengantri dan menunggu jemputan bis dari tempat terakhir kano, mereka berlayar (berkano) sejauh 8 km, maka untuk kembali ke tempat awal pihak penyewaan kano menyediakan bis untuk mengangkut mereka kembali ke garis awal. Dan menurut Luc pemandangannya sangat fantastis.

Jalan jalan ke Durbuy merupakan pengalaman yang menyenangkan untukku, aku datang tak hanya dengan Luc, Cinta dan Cahaya saja, tapi kami datang bersama empat keluarga lainnya yang sudah akrab satu dengan lainnya. Maka tak heran kalau jalan jalan kali ini merupakan jalan jalan terheboh karena diselingi tingkah polah anak anak kami, dan tentu saja acara favorit kami semua adalah piknik yang menyenangkan. Canda tawa dan rasa kekeluargaan diantara kami adalah hal yang paling istimewa yang kami punya.

Saat kami kembali dari Durbuy dan melanjutkan perjalanan ke rumah salah seorang teman di Hazelt, Luc berkata padaku bahwa dia merasa nyaman berkumpul kali ini. Tentu saja aku bahagia mendengarnya.

Berikut foto foto yang terkumpul dari beberapa camera telepon kami.

Image
Puri Durbuy  adalah milik pribadi oleh keluarga d’Ursel. Yang menjadi ciri khas Durbuy dan menjadi pemandangan yang menakjubkan di kota ini.  Berasal dari abad ke-9, telah dihancurkan dan dibangun kembali berkali-kali. Foto yang berhasil di jepret kamera telepon bang Indra ini adalah puri yang berhasil di pugar pada tahun 1880-an.

Image

Image

ImageBangunan bangunan di centrum Durbuy.

Image

Image

Image
Petualangan kano yang menyenangkan.

Image
P
ara bocah yang cerah ceria dan sedang berkampanye no. 2, hahaha.

Image
Lapangan parkir yang luas dan nyaman, hanya dengan membayar 5 euro saja kami bisa memarkir mobil kami seharian. Dan entah ada rejeki apa hari itu palang parkir ke arah luar sudah terbuka lebar, sehingga kami tidak perlu membayar biaya parkir.

Image
Dapat kado dari tuan rumah.

Image
Yang kelaparan setelah naik kano. Berangkat pukul 15.30 datang pukul 19.15. Cape tapi fun, begitu katanya.

Image

Image

Image

Nationaal Park de Biesbosch

Image
Akhirnya diantara cucian yang menggunung dan rencana membersihkan rumah secara besar besaran kembali ditunda karena adanya hari minggu yang diselimuti matahari yang terik.
Blame it on the sunny day rasanya bakal dikutuk banyak orang jika menyalahkan hari yang cerah.
Yes, karena hari yang cerah lupakan kegiatan di rumah, mari sama sama keluar ruamh untuk menikmati sinar matahari.
Dari mulai ajakan seorang teman yang jauh jauh datang dari Limburg untuk makan di Denhaag, ajakan sahabat yang bersikukuh menikmati di Kinderdijk hingga rengekan Cinta Cahaya yang ingin melihat sirkus, gara gara kemaren melihat tenda sirkus.
Akhirnya aku dan Luc sepakat menunda (kembali) acara bersih bersih rumah, digantikan acara jalan jalan ke Nationaal Park de Biesbosch sebuah  hutan lindung di daerah Dordrecht. Baca Nationaal Park de Biesboch.

Banyak yang bisa dilakukan di taman hutan Biesboch, dari mulai hiking dengan atau tanpa panduan, mengunjungi museum Beaver, berlayar dengan menyewa perahu mesin dengan harga sewa 17,5 euro per jamnya, menyewa kano, menyewa sepeda atau sekedar menumpang dengan perahu wisata yang disediakan yang berlayar setiap setengah jam sekali yang disebut Rondvart yang cukup membayar 1,70 euro per orang bahkan tak sedikit yang membawa perahu karet sendiri.

Hari sudah beranjak siang saat kami memutuskan untuk pergi ke Biesboscht dan menolak tawaran tawaran dari kawan kami untuk melewatkan minggu cerah bersama sama. Dan mimpiku untuk picnik bersama keluarga akhirnya bisa aku realisasikan juga, menyiapkan makanan yang akan aku bawa dan siang itu aku masih sempat membuat nasi uduk, sambal ijo dicampur ikan asin jambal roti dan thai papaya salad. Tak lupa aku menyelipkan kue kue dan chips serta cola dan juice untuk anak anak.

Luc sedikit mengeluh karena dia tak berhasil mendapatkan sambungan telepon untuk reservasi perahu mesin, tak ada seorangpun yang mengangkat telepon diujung sana. Akhirnya aku menghibur dia untuk melupakan telepon dan lihat saja nanti disana.

Seperti perkiraan kami sebelumnya, hari yang cerah menyebabkan hampir semua orang untuk beranjak ke luar rumah, mendapati area parkir yang penuh, mendapati mereka yang berjemur matahari sambil terlentang atau sebaliknya, sehingga rumput yang hijau tak nampak lagi digantikan mereka yang berbikini.

Untunglah setelah kami berhasil memarkirkan mobil dan berjalan menuju centraal informasi di hutan tersebut, kami segera merasa lega saat tak begitu banyak orang di tempat daerah pusat informasi, walau sempat merasa kecewa saat perahu yang akan kami sewa sudah tak bersisa sehingga rencana Luc untuk menyewa perahu selama dua jam kandas sudah. Cinta dan cahaya segera melupakan kekecawaan mereka tak mendapatkan perahu saat berjalan memasuki hutan dan bertemu dengan area berang berang, tertarik mengamati yang ada di area tersebut hingga memasuki burcht beever atau kastil berang berang. Ada petunjuk dimana harus masuk dan keluar, aku segera menggeleng saat Cinta dan Cahaya meminta aku turut serta masuk ke kastil tersebut, aku sudah merasa tak nyaman di daerah situ yang terlalu rindang dan lembab ditambah kastil berang berang, yang hanya berbentuk seperti rumah iglo yang mempunyai dua pintu. Saat Luc dan anak anak masuk aku masih bisa mendengar suara Luc yang berkata dia tak bisa melihat apa apa di dalam saking gelapnya sementara Cinta dan Cahaya hanya tertawa tawa kegirangan.

Seru cerita mereka berdua, saat aku menyambutnya diluar kastil, tak kuiyakan rengekan mereka yang mengajakku ke dalam, dengan tegas aku bisa mengatakan tidak dan segera beranjak dari situ. Duduk di sebuah batang pohon yang tumbang dan segera dihampiri Luc untuk ikut duduk disampingku. Sementara Cinta dan Cahaya kembali masuk ke kastil tersebut sambil tetap berceloteh seru diantara mereka berdua. Kami berdua memperhatikan dari jauh, setelah beberapa menit membiarkan mereka having fun di dalam kastil berang berang, Luc dengan tegas memanggil mereka yang ternyata tak mereka hiraukan, akhirnya aku berkata pada Luc untuk sedikit mengagetkan mereka dengan bersembunyi di balik pepohonan saat mereka masuk ke kastil. Sambil bersembunyi kudengar mereka berteriak saat tak mendapi kami di tempat batang pohon yang tumbang, kudengar mereka menghampiri tempat kami duduk terakhir kali. Panik, mendapati kami tak disana? Tidak!!!! Mereka dengan entengnya berkata, wah papa dan bunda pergi, kalau begitu mari kita kembali masuk ke kastil. Haaaahhhhhhhhhhh

Sambil tertawa bersama mendengar perkataan Cinta dan cahaya, akhirnya kami terpaksa memanggil mereka dengan paksaan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Kami berjalan dengan suka ria, Luc tak henti hentinya menjelaskan apa apa yang ditemuinya selama kami berjalan, seperti disuguhi memeri masa sekolah dasar saat aku pramuka dulu dengan panduan kakak pembina yang menerangkan apapun yang kami lihat. Luc menjelaskan bunga yang dipetik anak anak, apa saja namanya, menjelaskan daun yang menyebabkan gatal kalau mengenai kulit kita sekaligus menunjukan daun yang harus kita gosokan jika kita terkena daun gatal tersebut.

Tiba di padang rumput yang luas dengan kali jernih di depannya, kami memutuskan untuk menggelar piknik disitu. Tak hanya aku dan Luc yang menghabiskan bekal seadanya begitupun Cinta dan Cahaya. Tak terkira senangnya hatiku mendapati bekal yang kami bawa tandas tak bersisa.
Image
Image

Usai acara piknik yang menyenangkan, kami melanjutkan langkah kaki kami kembali ke pusat informasi, memasuki museum yang ada disitu hingga sedikit melepas lelah sambil minum koffie di restaurant yang lagi lagi kami mendapati Cinta Cahaya pergi ke meja lain dan asyik bermain dengan anak kecil yang berada di meja seberang.
Image

Dalam perjalan pulang, di dalam mobil aku sedikit merenung, betapa indahnya menghabiskan waktu bersama sama dengan keluarga, bukan hanya karena mendengar seloroh Luc yang berkata, aha goedkoop uitdagje! Hahahaha.