Anakku, maafkan bundamu

Anakku,

Bunda baru saja membaca artikel dengan judul ‘terbukti manusia’

Manusia seringkali membutuhkan bukti sebelum benar-benar yakin. Butuh sakit sebelum yakin untuk meninggalkan kebiasaan buruk. Butuh nilai buruk untuk yakin belajar lebih giat. Butuh kehilangan sebelum yakin untuk menjaga apapun yang (ternyata) dicintainya dengan sungguh-sungguh. (by aafuady.wordpress.com)

Dan itu adalah benar anakku,

Kadang bunda lupa, akan ada moment penyesalan setelah bunda memarahi kalian, setelah bunda berlaku tak sabar pada kalian, setelah bunda sibuk berceramah panjang pendek tak karuan. Dan bunda kadang makin geleng geleng kepala saat kalian tak mengerti juga.

Maafkan bundamu anakku, akan tak berdayaan bundamu dalam mengatur emosi. Tapi percayalah anakku, bundamu tak akan pernah berhenti belajar.

Kau tahu anakku, bahwa bundamu tak pandai menyusun kata dengan indah, kadang tak tau harus bagaimana bercerita dengan heboh agar orang lain bisa memperhatikan kita. Dan anakku, kadang bundamu selalu bertanya pada diri sendiri apakah bundamu telah mengajarkan yang terbaik pada kalian?

Anakku dengan membaca artikel tersebut bunda seakan diingatkan untuk selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk kalian, bunda tak ingin bukti yang menyakitkan untuk membuat bunda menjadi lebih menghargai atas apa yang telah Tuhan titipkan pada bunda.

Anakku, i love youImage

Dictee

Image

Luc : fout, fout en fout!!!

Me: Haaaaaaahhhhhhh, please deh… cuma kurang huruf ‘t’

Kemudian,

yang ini ‘e’ nya kurang satu

yang ini maksudnya jamak

ahhhhh cuma kurang ‘het’ maksudnya kan tetap sama!

dll

dst…..

PS. Disaat yang lain sibuk membuat thesis buat S3, disaat para ilmuan berusaha mencari solusi agar para mahluk hidup bisa hidup lebih mudah, aku masih belajar MENGEJA!

Rotterdam, 3-10-2012

Cukuran

Si kembar saling cukur

Si kembar saling cukur

Akhirnya tragedi itu terjadi juga.
Cinta Cahaya potong rambut sendiri!

Reaksiku saat mendapati mereka dengan rambut kacau akibat guntingan sekenanya adalah berbanding terbalik dengan reaksi ibuku saat mendapatiku melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Cinta Cahaya.

Ibuku, tertawa terbahak bahak kemudian bersyukur karena aku tidak terluka karena memainkan gunting. Waktu itu aku saling pangkas rambut dengan Opik temanku semasa kecil. Usiaku empat tahun saat itu sedangkan Opik lima tahun. Rambutku habis dipangkas Opik, begitupun Opik habis rambutnya hasil cukuran karyaku yang aduhai.

Mamanya Opik, yang biasa dipanggil tante Payun (karena rumahnya persis di depan rumah kami) marah luar biasa terhadap Opik. Sedangkan ibuku segera membawaku saat itu juga ke tukang cukur.
Dan habislah rambutku. Persis tak bersisa, dicukur gundul ala tentara.

Reaksiku terhadap Cinta Cahaya selain marah juga sedikit gelisah. Luc selalu ingin Cinta Cahaya berambut panjang, hingga di usia empat tahun ini akhirnya mereka bisa berambut panjang, aku tahu pasti dia akan kecewa berat dengan apa yang dilakukan Cinta Cahaya.

Maka sebelum Luc sampai rumah aku telah mengirimkan email berisi kronologis kejadian, hingga gunting yang mereka sembunyikan. Hari itu aku bertanya dimana mereka menyimpan gunting yang mereka pakai, tapi tak sepatah katapun yang mereka ungkapkan, Mereka seakan bersekongkol tak mau menunjukan dimana gunting yang mereka pakai disimpan.

Luc, datang ke rumah, menasehati mereka sama dengan yang aku lakukan di siang hari pada mereka, bertanya baik baik dimana gunting tersebut mereka simpan, dan mereka tetap bungkam. Tak tahu lagi apa yang mesti kami lakukan untuk menemukan gunting tersebut, akhirnya Luc sepakat dengan Cinta Cahaya akan mencari gunting tersebut hingga ketemu, dan tak boleh tidur sebelum gunting itu ditemukan.

Maka sibuklah mereka bertiga hingga hampir dua jam lamanya mencari cari gunting di setiap sudut rumah. Hingga kasur diperiksa tak ada guntung disana, Cinta Cahaya selalu kompak berkata, gunting itu hilang tak mungkin ditemukan!

Walau akhirnya gunting tersebut berhasil ditemukan Luc, hingga kini masih selalu ada tanya di hati kami, apakah mereka sengaja? atau benar benar lupa?

Dan malam itu mereka dihadiahi Luc cerita mengenai anak kembar yang saling mencukur rambut sendiri, tepat sehari sebelum mereka merayakan pesta ulang tahun, dan akibatnya mereka harus dicukur gundul dan menanggung malu karena merayakan pesta ultah dengan rambut gundul.

Karena cerita itu juga, keesokan harinya Cinta berkata dengan sopan pada tukang cukur…. tolong rapihkan rambut saya, Meneer. Tolong jangan dicukur botak seperti bayi.
Hahaha.

Ternyata cerita tak berhenti sampai disitu.
Hari kemarin, saat aku sibuk membuat pola pakaian Cinta menghampiriku dan bertanya apakah dia boleh juga membuat pola. Boleh, jawabku.
Maka sibuklah dia menggaris, kemudian menggunting kertas koran, persis sama dengan apa yang aku lakukan, kemudian memintaku berdiri, berlagak bagaikan tukang jahit mengukur kakiku, persis seperti yang aku lakukan jika sedang membuat baju mereka.

Kemudian aku duduk di belakang mesin jahit, mulai sibuk menjahit, sementara Cinta masih sibuk memotong kertas pola disampingku dan dibawah pengawasanku, kemudian beralih menghampiriku, naik ke kursi dan memegang rambutku.

Aku berkata, jangan pegang rambut bunda, sayang. Ayo lepaskan. Tapi jawabnya, saya mau bikin rambut bunda jadi bagus seperti yang dilakukan tikang cukur, katanya.

Aku meliriknya, melihat tangannya tengah memegang gunting yang dia gunakan untuk memoting kertas pola. Bergidik kaget, aku segera ke kamar mandi…..

Dan yes! Rambutku telah menjadi korban juga…..

dicukur tukang cukur jadi gundul

dicukur tukang cukur jadi gundul

 

hasil cukuran Cinta

hasil cukuran Cinta

 

hasil cukuran Cahaya

hasil cukuran Cahaya

 

Rambut Cinta cahaya yang tercecer

Rambut Cinta cahaya yang tercecer

 

Rambutku pun jadi korban 'percobaan'Cinta

Rambutku pun jadi korban ‘percobaan’Cinta

 

Yayang 4th and half years old, with army hair cut!

Yayang 4th and half years old, with army hair cut!

 

 

 

Dasar Anak Monyet!

Kami (aku dan Luc) membaca pengalaman ini di forum expatriat “living in Indonesia”, sebuah forum yang diperuntukan bagi warga asing yang tinggal di Indonesia.

 

Ceritanya begini, Mister A (seseorang yang menulis pengalamannya), dia berada di pesawat yang membawanya dari jakarta ke Australi untuk sebuah pidato. Karena dalam beberapa hari ini dia kurang tidur karena kesibukannya dan kini tiba tiba dia harus terbang ke Australi untuk sebuah ”speech”. Dengan angan angan yang tinggi, akhirnya dia berharap dapat tidur nyenyak di pesawat menggantikan hari hari kemaren, dan juga untuk membuat kondisinya bugar karena dia harus pidato pada hari dia sampai di Australia.

 

Tapi harapan tinggal harapan, dia duduk berdampingan dengan seorang anak usia sekitar 5 tahun yang sepanjang perjalanan bermain games tapi diiringi teriakan khas anak anak yang kegirangan setiap kali dia menang. Dengan frustasi yang amat sangat karena dia sama sekali tdk bisa tidur selama perjalanan, dia melontarkan kata kata…. Dasar anak monyet! Anak tersebut diam saja tidak mengerti, dia tersenyum lega dan gembira karena telah mengungkapkan kekesalannya dalam bahasa Indonesia, anak tersebut berkulit putih, sama dengan dirinya alias bule.

 

Tak lama anak tersebut meminta ayahnya untuk menemaninya ke toilet, ayah dan anak bicara dalam bahasa Inggris. Kemudia sang ayah melewati Mr A yg duduk di paling pinggir dekat jalan lewat, sambil melewatinya sang ayah berkata……..Permisi, anak monyet mau lewat!

 

Hahaha, cerita yang sama pernah aku dengar dari cerita ibuku sewaktu aku kecil, dan ibuku mendapat cerita tersebut dari kakekku dalam versi lain, karena kakekku berkata dasar monyet bodas, dan kemudian bule yang disangka tidak mengerti bahasa Sunda tersebut berkata…..punteun monyet bodas bade ngalangkung!

 

Cerita konyol lainnya yang aku dapatkan dari kakekku adalah, cerita seorang pak haji dan penggembala kerbau. Tau kan pada jaman ibuku kecil, seorang haji adalah orang yang sangat dipuja karena arif dan berwibawa, tapi kakakke menceritakan sisi humor pak haji yang fantastis, saat pak haji berpapasan dengan seorang penggaembala kerbau yang sedang menuntun kerbaunya dia berkata,

“Jang, naha munding teh dituntun? Lolong?”

Si Ujang tak menjawabnya tapi melontarkan dengan pertanyaan lain,

“Pak Haji, naha sirah teh di beungkeur? Beulah?”

 

Hahaha, Haji jaman itu identik dengan sorban yang melilit kepalanya. Dan lucunya waktu aku kecil, setiap aku berkunjung ke kampung kakekku di singaparna, aku selalu meminta ibuku untuk membawaku menemui Pak Haji dan Si Ujang, tentu saja ibuku berkali kali menjelaskan bahwa itu hanya cerita rekaan dari kakekku saja. Bagiku orang yang bisa mengungkapkan selera humornya dengan ekspresi datar dan lugas, adalah orang orang yang briliant. Yah, contohnya ayah yang berada di pesawat tadi, Pak Haji dan Si Ujang.

 

 

Rotterdam, 8-4-2011

Aku anak sholeh? Tanya nya

Beberapa hari ini,

mereka tak merengek lagi tiap pagi minta ke sekolah.

Aku tak perlu lagi berkali kali menjelaskan, sekolah tutup nak, kalian libur hampir dua bulan lamanya, berapa malam lagi harus tidur hingga masuk sekolah? Masih banyak sayang….

Beberapa hari ini juga,

mereka sibuk di kamarnya.

Bikin projekt mewarnai, menggunting kertas koran iklan, menempel hingga membuat surat dan kartu. Untuk nenek, untuk nenek, untuk oma Angela, untuk kake, untuk Anemone, untuk Anemone, untuk Anemone lagi, lagi Anemone. Dan serunya, bunda aku harus mengeposkan kartu ini buat Anemone. Ya, sayang biar bunda yang simpan nanti kalo kita keluar rumah kita poskan bersama ok?

Mereka senang, tak tau bahwa bundanya tak mengirimkan kartu kartu yg mereka buat seluruhnya, hanya beberapa saja, jika tahun baru tiba atau special moment penting lainnya.

Dan beberapa hari ini juga,

mereka banyak tertawa berdua, betul betul have fun berdua, menari sampe jumpalitan, main dokter dokteran, bongkar pasang baju baju barbie, masak masakan, semuanya selalu diiringi ketawa ketiwi.

Begitu waktu tidur tiba, mereka bertanya sambil memegang pipiku erat,

Bunda, hari ini aku baik ya? Tak menyebalkan?  Niet nakal, bunda? Aku anak sholeh?

 

Ya Tuhan, kadang aku lupa untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah engkau berikan. Kenapa mereka kadang bertanya seperti itu padaku? Ya, jika emosiku dalam puncak yang tak dapat ku kontrol kadang aku berkata… kenapa kalian nakal sekali?

Bukankah tugasmu Yayang sebagai orang tua yang harus mengarahkan mereka untuk berjalan di dalam track yang benar? Harus mengajarkan jujur dalam segala hal? Karena kini sudah banyak orang pintar dan hebat, tapi ternyata tak jujur. Bukankah sekarang kita semakin menyadari bahwa kita lebih kagum pada mereka yang menjaga kejujurannya.

Upsss, aku memandang tumpukan kartu kartu buatan Cinta Cahaya untuk Anemone. Katakan dengan jujur bahwa kartu kartu tersebut masih bertumpuk di lemari.

Anak anakku, bunda akan selalu melafalkan…. anak sholeh anak sholeh anak sholeh pada kalian … agar seperti itulah kalian.

 

Image

Welcome dan hati yang bersih

Bersihkan hatimu, maka kau akan memandang dunia ini begitu indah.

Itu kata si A.

Kau akan merasa damai jika tak ada prasangka buruk dalam pikiranmu.

Begitu kata si B.

Tersenyumlah dan sebarkan cinta kasih melalui perkataan dan perbuatanmu.

Lanjut si A.

Tahukah kau, hidup akan lebih mudah jika hatimu bersih.

Timpal si B.

Dan hari lebaran kamis kemarin, teman SMA-ku datang dari Jerman, bertanya dengan antusias bahwa dia ingin merasakan suasana lebaran di Rotterdam, bertanya harus kemana dia singgah untuk ikut shalat Ied. Dan aku memberi tahu lokasi dimana aku biasa shalat Ied selama ini di Rotterdam.

Temanku datang bersama suaminya yg orang Belanda dan seorang temannya asal Indonesia ke zaal dimana shalat Ied diadakan. Aku melihat mereka menikmati berada di tempat itu, berbaur dan bercengkrama dengan mereka yang hadir, hingga acara tersebut berakhir.

Sore hari mereka bertiga mengunjungiku dan menginap satu malam di rumahku. Suaminya bercerita dengan antusias bahwa dia senang luar biasa berada di antara mereka yang hadir di zaal untuk merayakan lebaran. Kagum bahwa mereka bertiga diterima dengan ramah dan hangat. Istilah yang dilontarkan olehnya adalah semua orang yang ada disitu sungguh welcome, katanya.

Mendengar komentarnya yang positif tentu saja membuat diriku senang dan nyaman, ikut merasakan kebahagian yang mereka rasakan. Tak sia sia mereka menempuh ratusan kilometer.

Terlintas dalam pikiranku tiba tiba, mengapa mereka begitu merasa nyaman? Mungkin benar apa kata suami temanku bahwa kami semua begitu welcome pada mereka tapi yang mungkin tepat adalah karena mereka mempunyai hati yang bersih, tak memandang negatif pada kami, tak ada prasangka buruk dan muncullah hati yang damai.

Seperti apa yang selalu Cinta ajarkan padaku, dia anakku selalu memandang semua orang begitu fantastis dan menakjubkan. Dia selalu berkata bahwa semua orang adalah baik dan menyenangkan, dia bisa begitu menerima orang paling ‘menjengkelkan’ sekalipun dengan gurauannya yang khas…. bunda orang itu ‘gek’ tapi aku menyukainya dan mencintainya, orang itu lucu sekali bunda… lucu bisa bikin bunda jengkel.

Kembali pada temanku dan suaminya, setelah mereka kembali ke Jerman, mereka mengirimkan pesan singkat hatur nuhun diiringi tulisan for the most two beautiful days of the year.

Pesan yang membuatku terharu.

Image

News

Saat seputar Indonesia pertama kali muncul di RCTI, kami termasuk keluarga yang mengikuti berita tersebut selain dunia dalam berita, bahkan sepupuku sampai rebutan channel dengan pembantunya karena konon pembantunya suka memindahkan channel saat dia sedang menonton seputar Indonesia ke channel lain yang sedang menyajikan senetron.

Kini setelah bermunculan banyak station TV swasta di Indonesia, menonton banyak berita malahan jadi bikin stress, entah karena kelebihan dosis atau karena begitu banyak berita ngeri yang disajikan.

Penyajian berita di TV Indonesia dengan penyajian berita di TV belanda sangat berbeda sekali.

Di Belanda, berita disajikan secara singkat dan padat dan bisa diulang setiap satu jam sekali tapi hanya dengan pengambilan satu kali. Di Indonesia banyak berita yang disajikan dengan berbagai kemasan tapi isinya tetap sama, hanya narasi, pembawa acara dan nama acara yang dibuat berbeda. Lucunya banyak berita yang dibuat seheboh mungkin sehingga menjadi seperti drama bersambung, belum lagi jika sudah disajikan dengan menampilkan orang orang yang saling komen sana komen sini, sehingga jadi acara talk show yang penuh dramatisir, walau yang dibahas umpamanya hanya Nazarudin sakit di tahanan. Maka jangan heran jika dari pengacara sangat terkenal hingga orang yang belum pernah kita kenal sebelumnya bisa jadi jadi tamu di acara bincang bincang tersebut.

Dan minggu yang lalu aku melihat berita yang biasanya disiarkan di Indonesia muncul di Jeugdjournaal-nya Nederland drie. Agak terkaget kaget juga, bukan karena berita yang disajikan bikin miris orang yang melihatnya tapi kok bisa berita seperti itu muncul di TV anak2 Belanda. Gambar yang disajikan di depan mataku adalah kereta api di Jakarta yang atapnya penuh dengan orang orang yang duduk diatasnya kemudian diperlihatkan di suatu titik perjalanan bergelantungan bandul pemecah bangunan yang sengaja dipasang untuk mengantisipasi orang orang yang duduk di atas kereta.

Dan kemudian keesokan harinya, Luc terheboh heboh bercerita dengan antusias bahwa dia semalam baru melihat berita mengenai ‘sang kereta api tersebut’. Dengan hati hati aku harus menjelaskan, bahwa hal tersebut dimaksudkan untuk membuat orang tidak berani naik ke atap kereta api, sehingga hal yang lebih membahayakan seperti jatuh dari kereta api akan terhindarkan. Aku juga menjelaskan bahwa sebelumnya sudah dilakukan dengan berbagai cara dengan memasang besi berjeruji tajam di atap kereta api, melapisi atap kereta api dengan aspal yang tebal hingga menembakkan cairan berwarna pada orang yang naik di atap kereta api, tapi tetap saja cara cara tersebut tidak jitu. Orang masih saja berani bertarung nyawa untuk tetap duduk di atas kereta api.

Aku tau dengan persis, bahwa penjelasanku akan membuat percakapan kami semakin panjang, seperti pertanyaan Luc berikutnya, apakan mereka yang duduk di atap kereta api tak punya tiket? Apa masalahnya? Tak punya uang untuk membeli tiket? Tak ada waktu untuk membeli tiket? Karena terburu buru berangkat kerja? Apakah kapasitas kereta api tak memadai? Berapa banyak kereta api yang beroperasi? Berapa banyak orang yang menggunakan jasa kereta api?

Kemudian pertanyaan berikutnya…..

Sudahkan kereta api yang beroperasi sesuai dengan kebutuhan orang orang yang ada? Sudahkah harga tiket disesuaikan dengan kemampuan orang orang yang menggunakannya?

Kemudian pertanyaan yang bertubi tubi diakhiri dengan pernyataan yang dilontarkan secara serius,

I hope they put a lot of matras along the railroad, so people who sitting on the train can jump as it pass trough the death trap. Dan langsung aku jawab, ya PJKA menempatkan ribuan matras disepanjang jalan kereta api, hingga mereka bisa melompat dengan selamat begitu milihat bandul pemecah bangunan. Hahaha tentu saja aku menjawab pertanyaan Luc karena sudah frustasi tak tau harus menjawab apa lagi dan anehnya Luc menarik nafas lega sambil bergumam…… ah gelukig! (untunglah) Hahay dia mengira memang disediakan matras disepanjang rel kereta api.

Sungguh aku hanya bisa menarik nafas sesak, melihat semua berita miris, sungguh tak habis pikir begitu banyak orang Indonesia yang terlahir menjadi akrobatik, dari mereka yang naik di atas kereta api hingga anak anak yang meniti jembatan runtuh untuk berangkat dan pulang dari sekolah.

Malu pada diri sendiri yang tak bisa berbuat apa apa melihat semua itu, malu karena masih banyak keluh yang aku lontarkan hanya karena sepanjang hari menjaga anak anak di rumah, mendorong buggy melawan ganasnya angin saat mengantarkan mereka ke sekolah. Semua yang aku kerjakan tiap hari tak bisa dibandingkan dengan mereka yang menaiki atap kereta api atau yang meniti jembatan runtuh. Aku tak harus menantang bahaya seperti mereka!

Rotterdam, 23-1-2012

ka

bandul ka

bandul ka

Bandul besar yang akan di pasang diatas rel kereta api