Nowadays

Dulu pukul 12 siang
Aku siap siap ke dapur, makan bersama sama teman kerja
Ada Nur yang sigap menyediakan piring, gelas dan menunggui kami makan
Kami bagaikan juragan yang untuk makan siang pun di tunggui oleh Nur pekerja bagian dapur, yang sigap memberikan sendok garpu, menuangkan air pada gelas kami.
Itu jaman saat aku kerja di DasaTecno

Di lain jaman, masih sama pukul 12 siang
Aku tengah berjalan bersama Pak Lukman atasanku dan Pak Dayat rekanku
Kami sama sama berjalan ke warung makan depan kantor BPL (Olympic) di Bogor
Makan bersama sama, sambil ngobrol tentang keluarga atau pekerjaan kantor yang tak ada habisnya

Today
Setelah selesai mengantarkan Cinta Cahya sekolah, aku masih disibukan dengan urusan PR buat sekolahku besok
Lalu sibuk di dapur, membereskan semua yang ada di dapur bekas pesta kemarin
Pesta rutin di hari minggu, no rule, no beres beres, bangun pagi sesukanya, tak mandi, bermalas malasan, tak masak
Dan hari senin, setelah membereskan rumah dengan segenap tenaga, untuk makan siang ‘special’ aku harus memasak
Dan ini lah hasilnya, sekejap karena bahan bahannya telah tersedia di kulkas dan frezeer, aku bisa menikmati batagor bandung dan es campur ‘special’ sambil menonton berita di metro TV lewat internet.
Image

Life is wonderful, jika kita bisa mensyukurinya!
Jadi Yayang, jangan berkeluh kesah cape dan sebagainya, nikmati sajalah…….
Ada saatnya kamu jadi upik abu, jadi nyonya, jadi upik abu, jadi upik abu lagi, lagi lagi dan lagi! Hahaha.

Rotterdam, 24-2-2014

Advertisements

Si Tutung

Mendapatkan hasil gosong masakan alias tutung bukanlah hal yang aneh dalam keluarga kami. Terus terang terutama ibuku.
Dulu waktu belum jamannya rice cooker, menanak nasi di panci bukan hal yang aneh jika hasilnya gosong bahkan saat nasi tersebut di kukus, si nasi masih bisa gosong akibat air di dandang habis dan akibatnya nasi diatasnya berbau angit karena panci yang terbakar. Lebih ekstrimnya, ibuku pernah saat ibuku merebus air, bukan hasil air mendidih yang didapat tapi air satu panci tersebut habis menguap dimakan api. Saking lupa diri!

Maka tak heran jika ayahku menjulukinya si Tutung.

Saat aku mulai tinggal terpisah dan harus mulai memasak sendiri, hal itu pulalah yang aku dapati. Berkali kali tutung. Dan Luc mulai mengenal istilah tutung!

Tapi kini aku mulai jarang sekali mendapati masakan tutung, dan kini aku mulai mengerti mengapa ibuku atau aku (bahkan kokon kaka iparku) sering mendapati masakannya gosong.

Pertama, kami tak suka berlama lama di dapur.
Kedua, kami tak suka memasak makanan yang sekedar oseng oseng saja, karena persiapan dari memotong bahan dan lain lain membutuhkan waktu yang lama. Kami menyukai masakan yang bisa di tinggal lama di dapur, misalnya memasak daging. Yang akhirnya saat kami kembali makanan tersebut sudah gosong.
Ketiga kami termasuk type yang suka mengerjakan pekerjaan secara bersamaan, misalnya dari pada menunggui tahu yang sedang di goreng, kami akan beranjak ke pekerjaan lain misalnya memasukan pakaian kotor ke mesin cuci, dan kadang bukannya kembali lagi ke dapur tapi malah ke ruang duduk dan nonton tv disana , hahaha.

Tapi sekarang tak begitu lagi, aku muali bisa berlama lama di dapur, awalnya bukan hoby sama sekali, tapi karena sekedar kebutuhan. dan acara menggoreng tahu tak pernah aku tinggalkan untuk pergi nonton lagi, tapi tetap di dapur dan membuat makanan lainnya, sehingga begitu yang satu selesai aku tetap sibuk di dapur. Dan tra laaaaaaa hasilnya masakanku jarang lagi gosong dan hasil yang aku dapatkan dari dapurpun tak sekedar satu macam, tapi beraneka rupa.

Namun tidak dengan hari kemaren.
Begitu membuka mata di pagi hari, planning ku untuk bekerja segera berhamburan, banyak yang harus aku kerjakan karena hari ini dan tiga hari berturut turut rumahku akan didatangi berbagai macam tamu, dari mulai teman temannya Cinta dan Cahaya, hingga temanku yang lama tak aku jumpai, walaipun harinya akan berbeda, tapi setidaknya aku harus menyiapakan kudapan untuk anak anak dan juga rumah yang bersih.

Dan begitu aku masuk dapur, aku segera membuat menggiling bumbu di blender, memotong tempe, memasukannya di panci, menuangkan bumbu yang telah aku giling, menambahkan air hingga setengah panci, menyalakan api di kompor. Dan segera meninggalkan dapur, masuk ke ruang makan, sibuk menyetrika pakaian yang bertumpuk.

Kemudian memberi makan cinta cahaya yang tak lama bangun pagi, kembali lagi pada setrikaan, kemudian ikut merumpi di whats Aap, sedikit mencium bau gosong, aku segera mengecilkan volume setrikaan, kembali setrika sambil sesekali melirik lirik teleon dan tablet yang terpasang berita di Indonesia yang sedang heboh, apalagi kalo bukan soal korupsi. Kemudian saat Cinta dan Cahay yang sedikit bertengkar aku segera melerai, dan alangkah kagetnya saat aku melihat asap mengepul.

Ya, Tuhan! Apa itu seruku, berlari dan mendapati panci yang berisi tempe, yang awalnya akan dibuat tempe bacem tengah mengepul mengeluarkan asap yang tebal. Hampir tiga jam lamanya aku membiarkan panci berisi tempe itu diatas api!
Image
Image

Bagaimana bisa aku lupa diri seperti itu?

Perkara menghilangkan bau gosong dalam rumah yang mungil tertutup, bukanlah perkara mudah. Aku harus membuka seluruh jendela. Membuka jendela di musim dingin dengan angin besar yang gila bergelora? Ya, aku harus melakukannya. Maka sepanjang hari itu aku harus membungkus tubuhku di dalam rumah dengan winter jas, menyelimuti Cinta dan Cahaya yang tak mau memakai jakte tebal, walau aku sudah memakaikannya sweater tebal.
Image

Saat Luc datang ke rumah, yang dilakukannya bukan menciumku seperti biasanya, tapi langsung bekata denga wajah kocaknya, Aha tutung!!!

Yayayaya, itulah akbatnya kalau lupa diri, dan ingin mengerjakan banyak pekerjaan selama bersamaan. Pesan kawanku saat aku mengirimkan hasil tempe bacemku di WA, dia hanya berkata bijak…. Yayang kerjakan pekerjaan satu satu, nikmati setiap pekerjaan itu, toch pekarjaan tak akan ada habisnya. Setelah mendapat pesan itu, aku membuat se-mug besar teh, menikmatinya bersama kue kering sambil melihat Cinta Cahya yang sedang bermain. Sementara pikiranku melayang pada panci gosong yang belum aku bersihkan….. Hhhhmmmmmmmmmmm, betapa aku merindukan si bibi!

Mom and Daughter Shopping Together!

Minggu siang, aku harus shopping bersama Cinta. Kata harus, memang itulah yang pantas disandang saat aku berniat shopping haru itu bersama Cinta. Aku harus membeli sepatu Cinta dan Cahaya untuk sekolah untuk mengganti sepatu mereka yang sudah bolong, tak bisa dinantikan lagi karena setiap hujan tiba, mereka akan datang ke rumah dengan kaos kaki basah, dan rasanya aku malu melihat kondisi sepatu anak anak. Walau mereka punya sepatu lain yang bisa dipakai untuk sekolah, entah kenapa terutama Cahaya, dia selalu memakai sepatu lars bututnya, tak mau digantikan, nah jika hujan tiba dan sepatu larsnya belum kering keesokan harinya, dia terpaksa memakai sepatu lain dengan muka cemberut.

Hari minggu tanggal 16 Feb, aku mendengar kabar dari seorang kawan bahwa toko sepatu van den Assem sedang mengadakan sale hingga 75%, maka dengan hati riang aku mendatangi toko tersebut, setelah melihat di internet bahwa di hari minggu toko tersebut akan buka pukul 12.00. Dan tepat pukul 12 aku keluar rumah dengan diantar Luc yang hanya menurunkan aku dan Cinta di depan toko tersebut, sedangkan dia dan Cahaya kembali pulang ke rumah. Sedikit bingung karena aku melihat orang berkerumun di depan toko tersebut, aku segera menghampiri pintu masuk dan melihat tanda bahwa toko belum dibuka dan jam buka toko adalah 12.30, wah masih 7 menit lagi pikirku. Dan aku tetap bertahan seperti orang orang yang bergerombol di sekitar pintu.
http://www.assem.nl/

Tepat pukul 12.30, dan pintu toko dibuka, bagai semut menemukan gula, kami segera meringsek masuk ke dala toko. Lupa diri melihat sepatu sepatu yang sedang obral besar besaran aku melirik sepatu nomor 35 dan 36 mencoba coba sebentar, sebelum akhirnya sadar diri kembali, bahwa hari ini aku datang untuk membelikan sepatu Cinta dan Cahaya. Aku berhasil melihat sepatu lars untuk Cinta hanya ada satu nomor, tak mungkin aku memaksakan satu nomor lebih besar untuk Cahaya. Cinta ogah ogahan melihat sepatu yang aku pilihkan, niet mooi bunda… rajuknya. Bagus, sayang, lihat ini untuk sekolah dan ini untuk pesta seruku menunjukan sepatu lainnya pada Cinta. Dan sepatu teplek model balet langsung dikagumi Cinta dengan antusias, Mooi bunda, heel erg mooi…. dan rengekan rengekan ingin segera memakai sepatu teplek tersebut dengan bertubi tubi terus dilontarkan. Dengan kesepakan bahwa aku akan membelikan sepatu teplek tersebut dengan perjanjian dia harus memakai sepatu lars yang aku pilihkan untuk sekolah dan pergi ke toko lain untuk mencari sepatu lars lainnya untuk Cahaya. Dengan tanpa ba bi bu lagi Cinta langsung menyanggupinya.

Berjalan dengan riang ke arah kassa, berceloteh pada penjaga toko yang melayani kami, bahwa dia ingin menenteng sepatu tepleknya sendiri, sehingga orang dibalik kassa menempatkan sepatu yang kami beli di kantung yang berbeda, dan aku harus menenteng sepatu lars baru Cinta dan dan dia sendiri menenteng sepatu teplek baletnya.

Dengan rasa penasaran yang masih nyata, aku harus meninggalkan toko tersebut dan dengan terpaksa harus melupakan sepatu yang baru aku lihat tadi di etalase, sepatu lars yang cantik, tanpa hak, datar saja seperti kesukaanku, tak lelah dibawa jalan lama, harga yang tertera disitu sekitar 350 euro dan akan menjadi sekotar 90 euro setelah dikorting 75%. Dan yang lebih fantastis lagi nomor sepatu tersebut adalah nomor 35, nomor yang jarang aku temui disini. Beli jangan beli jangan seperti irama yang menggelora di dadaku. Beli saja toch Luc tak akan marah, dia akan mentertawakan seperti biasanya, tapi tak pernah marah, bisikku. Tapi disaat yang lain aku berkata, anak anakku yang butuh sepatu, bukan aku. Dan berita para pengungsi gunung kelud kembali terbayang dalam pikiranku. Mereka boro boro ingin sepatu kedua atau ketiga, jangankan sepatu yang  mungkin tak penting bagi mereka, untuk makan pun mereka menunggu bantuan dari para relawan. dUh jika sudah ingat kesitu, aku bisa dengan sedikit tenang meninggalkan toko tersebut.

Tapi ya hanya sedikit, ketika aku melewati toko Manfield, yang konon orang bilang salah satu toko sepatu terbaik di Belanda, aku segera membelokan langkahku. Dan derita pengungsi gunung kelud hilang dalam ingatanku.
http://www.manfield.com/

Aku tengah memegang sepatu engkel lars yang hampir serupa yang aku punya, sepatu yang sudah tiga tahun aku pakai itu sekarang kondisinya sudah tak berbentuk dan salah satu sol sepatu kanan sudah tak utuh lagi, tergerus oleh seringnya aku berjalan. Melirik sebentar ke harga yang tertera 132 euro koma sekian cent. Otakku segera bekerja, aku tak tau berapa persen sepatu tersebut di korting, dan aku segera bertanya pada pekerja di toko tersebut, jadi 31,19 euro katanya, yang langsung disambut dengan senyumku, rasanya jika aku beli sepatu ini tak mengapa bathinku, para pengungsi di gunung kelud akan maklum dan merestui pembelianku, bisikku dalam hati. Dan dengan luapan kegembiraan aku berkata pada orang yang melayaniku bahwa aku ingin mencoba pasangannya. Dia segera membawa kotak sepatu dan menunjukannya padaku, alangkah kecewanya aku saat aku melihat pasangan sepatu yang ada di dalam kotak kondisinya sangat bersih, sehingga kontras dengan sepatu yang ada di tanganku yang sedikit lecek. Ada yang lain mevrouw tanyaku, walau aku tau jawabannya tak mungkin ada, disini sepatu kortingan adalah sepatu yang tersisa, yang ada di pajangan itulah yang ada, tak mungkin minta yang lain ataupun nomor yang lain karena tak mungkin ada. Dia menggeleng, dan segera memintaku tunggu sebentar, mungkin dia bisa mengakalinya katanya, dia bergegas meninggalkanku dan datang kembali dengan sepatu yang sudah digosok dan ketika kembali dan kami sama sama membandingkan sepatu tersebut aku masih melihat perbedaan warna yang walau tak begitu kentara, tapi ada sedikit beda. Aku tersenyum bimbang, sebentar katanya, mungkin aku bisa meminta pertimbangan kolegaku, katanya sambil bergegas pergi.

Aha, inilah yang aku tunggu, aku pernah mengalami kejadian serupa, juga dengan kasus sepatu kortingan, saat aku mendapati sepatu yang akan aku beli sedikit tergores, dan jelas jelas tak nyata, tapi secara kebetulan aku memeriksanya dan penjaga toko tersebut segera beranjak pergi dan datang kembali dengan seorang manager, dan managaer tersebut memohon maaf karena sepatu yang aku inginkan tak sempurna, dan kalaupun aku masih keukeuh membelinya dia bersedia menurunkan setengah harga lagi dari sepatu yang telah di korting tersebut. Dan tentu saja akan  aku sambut penawarannya dengan suka cita.

Dan hari itu, hal tersebut kembali lagi menghampiriku, orang yang melayaniku kembali datang dengan koleganya, dan dia menurunkan lagi sepatu tersebut menjadi 20 euro saja, aha sepatu yang awalnya seharga 132 euro kini bisa aku dapatkan dengan harga 20 euro saja. Tralalalaaaaaaaaaaa dengan amat gembira aku segera mendatangi kassa, dan saat itu pula derita pengungsi gunung kelud sudah benar benar hilang dalam ingatanku. Duh Gusti……
Image

Kami segera berjalan dengan riang gembira, tinggal sepatu untuk Cahaya pikirku. Cinta segera mengeluh bahwa dia ingin makan dan minum, aku segera membelokkan langkah kaki kami ke sebuah cafe yang langsung ditolak oleh Cinta, bukan yang ini bunda, katanya. Itu lho tempat yang biasa yang ada banyak anak anaknya. Hahaha aku tahu yang dimaksud Cinta, ke Hema kan? Iya bunda, betul… Hema. Teriaknya gembira. Akupun tentu saja gembira, karena dengan pergi ke Hema uangku tak akan keluar banyak, aku senang Cinta pun senang.
http://www.hema.nl/nieuws/ontbijt.aspx
Image

Keluar dari Hema, kami segera mendatangi toko sepatu langgananku, toko sepatu murah meriah, sepatu Cinta dan Cahaya sering aku temukan disitu. Tak berapa lama seperti biasanya aku bisa menemukan sepatu untuk Cahaya tanpa kesulitan.

Dan perjalanan masih disibukan dengan mendatangi toko kosmetik, recanaku membeli lipstick akhirnya aku niatkan juga. Pesan teman sekelasku untuk tidak malu bertanya pada penjaga toko, akhirnya aku laksanakan. Hari itu aku bertanya pada penjaga toko dan dia memberikan advis untukku, dan sebuah lipstik merah berhasil aku bawa pulang di hari itu. Di toko itu pula Cinta ditawari untuk sedikit di make up. Tentunya setelah penjaga toko tersebut bertanya dulu padaku, dan setelah aku mengiyakan dan penjaga toko itu bertanya pada Cintaa yang langsung disambut dengan suka cita oleh Cinta, dia segera menaiki kursi untuk pelanggan yang tinggi tanpa bantuanku, dan dia berhasil duduk di kursi tersebut dengan bangganya.
Image
Image

Berjalan pulang menuju haltu bus, kami masih sempat berfoto bersama di dekat Beurs. Cisssssss dan kami pun berfoto bersama yang bisa langsung di share saat itu juga oleh FB melaui http://www.koopgoot.nl
Image

Dan hari cerah ceria kami akhiri dengan bernyanyi bersama sambil menunggu bis yang datang selama hampir 15 menit lamanya. Dan perjalanan menuju rumah dengan nyaris hanya tiga penumpang saja hingga sampai rumah kami akhiri dengan gembira.
Image
Image

Ternyata tak perlu menunggu lebih lama untuk bisa menikmati shopping bareng dengan anak anak. Kami sama sama menikmatinya. Terimakasih Cinta! Next month giliranmu Cahaya!

Sampai di rumah, aku menceritakan semua cerita pada Luc. Luc tertawa waktu aku bercerita mengenai sepatu yang tertinggal di toko Assem, sedikit menggodaku bagaimana bisa aku tahan tak membeli sepatu kortingan itu tanyanya? Jawabku walau sebetulnya tak nyambung sama sekali, tapi aku sedikit bercerita mengenai kontradiksi hatiku, tak enak rasanya membeli barang yang sebetulnya tak begitu aku butuhkan sementara banyak ribuan orang di negaraku begitu susah, dan seperti biasanya Luc menentramkan hatiku dengan kata katanya, kalau kemampuanmu menolong hanya bisa dengan menahan keinginanmu untuk tidak membeli barang yang tidak kamu butuhkan, setidaknya kamu sudah membantu mereka dengan tidak hidup secara berlebihan karena inilah yang kita mampu.

Hahaha tidak hidup berlebihan karena inilah kemampuan kita. Ya, mau berlebihan bagaimana, wong mampunya segini! Terima kasih Tuhan.

Ten to Three Cafe and Bakery

Beberapa bulan yang lalu saat aku ke pasar kaget di Overschie, dimana kami tinggal aku melihat toko baru, sepertinya toko roti.
Baru hari rabu kemaren saat aku menjemput anak anak dari sekolah dan bermaksud mentraktir minum teh di luar, biasanya kami sebut koffie drinken, walau ternyata yang kami minum adalah air teh, aku mengajak mereka ke toko roti tersebut.

Alasan pertama aku merasa ingin mensupport saja jika ada toko baru di lingkungan rumah kami, dan dari pertama aku melihat toko tersebut sepertinya sepi sekali. Alasan kedua, ya karena ingin mengajak anak anak jajan di luar. Itu saja.

Maka di hari rabu itu, aku berjalan bersama mereka setelah menjemput mereka, aku bilang aku harus membeli roti dan aku bilang pada mereka, sepertinya aku pernah lihat toko roti di dekat pasar Overschie (pasar yang hanya ada setiap hari jumat saja). Sambil berjalan kesana tak henti hentinya Cahaya berkata padaku, tak ada toko roti di jalan itu bunda, katanya. Yang langsung dibenarkan oleh Cinta. Dan aku harus tetap meyakinkan mereka bahwa aku pernah melihatnya.

Sampai di jalan yang aku maksud, aku mulai mencari toko yang aku maksud, tapi betapa kecewanya saat aku berada di depan toko tersebut, aku seperti melihat tanda tanda toko tersebut bangkrut, tak ada tulisan open, tapi aku bisa melihat kedalam toko tersebut dari balik jendela kaca yang besar. Tutup, bunda! Seri Cinta. Masih penasaran kami hanya melihat lihat dari luar saja, dan secara tidak sengaja aku melihat ada seorang laki laki yang berpakaian koki di balik ruangan yang mungkin dapur yang masih bisa terlihat dari luar. Aku melambaikan tangan. Dan Cinta segera berlari menuju pintu dan secara otomatis pintu tersebut terbuka. Kami gembira karena ternyata toko tersebut buka.
http://www.tentothreebakery.nl/nl/info.html
Image

Ada roti, menneer? Tanyaku.
Nee, sorry. Katanya. Hanya cup cake saja, lanjutnya. Yang langsung disambut sorak soray Cinta dan Cahaya.
Mau bunda, mauuuuuuuuu cup cake.

Kemudian aku memesan dua buah cup cake dan untuk diriku hanya cappucinno saja.
Anak anak segera membuka jaket mereka, duduk dengan riang gembira. Dan segera menikmati cup cake pilihan mereka yang rasanya biasa saja, tak istimewa dan jelas lebih lezat buatan Luc di rumah. Walau begitu anak anak mendapat kegembiraan dan suka cita yang mendalam.
Image
Dan toko cup cake yang sepi dan hanya kami sebagai pengunjungnya, berubah meriah oleh celoteh dua anak kembar yang selalu riang gembira.

Dan hari ini tanggal 14 February, yang konon katanya hari kasih sayang, hari penuh cinta, ingin ku ucapkan denagn penuh cinta pada semua orang, dan juga pada kalian yang setia membaca catatanku ini, catatan ringan dan sederhana.
Salam cinta dariku……

Image
Image

Antara Pinggiran Roti dan Bebek, Bebek yang Terpanah, dan PVV wil allochtone vogelvoerder keihard aanpakken

Image
Image
Kini aku tahu mengapa di Belanda sulit sekali menemukan roti yang telah dipotong pinggirannya.
Karena kami harus berbagi dengan bebek!
Hahaha tentu saja alasanku yang mengada ada untuk membungkam mulut Luc yang selalu protes saat aku memotong pinggiran roti untuk bekal Cinta dan Cahaya.
Zonder alias sayang, ujarnya. Kenapa harus menyisakan pinggiran roti.
Tak baik membiarkan kelakuan anak yang salah dengan membiarkan tak memakan pinggiran roti dan kini aku malah mensupport-nya untuk membenarkan tindakan mereka tidak memakan pinggiran roti mereka.

Alasan Luc aku setuju sekali.
Tapi, aku seorang ibu yang tak tega membiarkan mereka kelaparan. CInta dan Cahaya terutama Cahaya dia selalu menyisakan pinggiran rotinya di bekal sekolahnya, jadi saat aku memeriksa bekal sekolahnya setelah mereka pulang, selalu saja hanya dua gigitan saja disetiap lembar roti. Aku selalu memberikan tiga lembar roti untuk makan siang mereka. Sementara aku melihat teman teman yang lainnya dibekali 4 lembar roti  atau setara dengan dua tangkup roti.

Kini dengan cara memotong pinggiran roti untuk bekal mereka, mereka secara fantastis selalu berhasil menghabiskan bekal mereka dan aku mendapat pujian indah dari mereka…. Lekker Bunda! Nah fantastis kan?

Kini hampir setiap hari saat aku menjemput anak anak dari sekolah aku selalu memberi makan bebek di taman yang berada di sebelah sekolah mereka.
Inilah potongan roti yang selalu aku bawa, selain pinggiran roti kadang kami harus membuang roti yang terlalu banyak kami beli sehingga roti tersebut sudah tua dan kadang ada sedikit jamur. Pernah suatu hari saat aku memberikan roti berjamur pada bebek, Luc menjegahku katanya lebih baik masuk tempat saja, dia khawatir bebeknya mati. Jawabku dengan singkat, tak usah khawatir jangankan bebek manusiapun masih bisa makan roti yang sedikit berjamur hahaha.
Image

Belanda menurutku sangat identik dengan bebek dan burung, taman selalu dilengkapi dengan kolam dan tentu saja lengkap dengan bebeknya. Kemarin saat aku turun dari bis dan berjalan menuju rumah aku melihat seorang ibu yang sedang dikerubuti bebek, kemudian si ibu berusaha melemparkan beberapa roti yang ada disekitar kakinya ke kolam, tapi aku sedikit terkaget kaget saat melihat kolam dipenuhi roti yang masih utuh, roti jenis surinam brood yang besar, maka iring iringan roti yang mengapung di kolam layaknya kapal kapal dari kertas yang menjadi permainan favoritku sewaktu kecil. Saat aku melewati si ibu yang sedang sibuk dengan roti roti yang berserakan di rumput, tiba tiba saja aku terbelalak sekaget kagetnya, ibu tersebut membawa roti sebanyak kantung plastik sampah hitam yang besar, bisa jadi sebesar ukuran plastik isi 60 lt, tak heran roti roti yang di lemparkan ke kolam seperti arak arakan kapal kertas.
Image
Image

Hidup di Belanda, menjadikanku mengerti akan kehidupan si bebek, misalnya pada musim panas si bebek selalu cuek bebek padaku. Jika aku datang menaburkan remahan roti mereka akan pura pura tak melihatku dan sibuk berenang kesana kemari atau duduk duduk di rumput di bawah naungan pohon yang rindang. Namun jika musim dingin tiba, saat aku berjalan di kejauhan mereka sudah beranjak dari air dan berlari lari menghampiriku. Kadang mereka harus melirik kecewa karena aku tak membawa remahan roti untuk mereka.

Tahun yang lalu, aku pernah melihat berita di TV saat  seorang burgemeester atau walikota melepas bebek ke kolam dengan disaksikan masyarakat sekitar, saat pelepasan bebek tersebut ke air, masyarakat sekitar bertepuk tangan dengan gembira, ternyata upacara pelepasan bebek ke kolam diawali kejadian beberapa bulan sebelumnya, bebek tersebut dipanah dikepalanya oleh orang yang tak bertanggung jawab, dua panah sekaligus. Untunglah ada orang yang melihat bebek malang yang tengah berenang dengan dua panah dikepalanya, satu menembus pinggir kepalanya dan satu menempel diatas kepalanya sehingga dia menelepon pihak tertentu. Siapapun yang melihatnya akan mengutuk orang yang melakukan keisengan atau kejahatan tersebut.
Image
Berikut site, yang memuat kejadian itu.
http://www.ad.nl/ad/nl/1012/Nederland/article/detail/3458030/2013/06/13/Beschoten-eend-eindelijk-van-pijlen-verlost.dhtml

Masih berbicara mengenai memberi makan bebek. Beberapa waktu yang lalu aku dikejutkan dengan berita yang diserukan pihak PVV (partai politik) yang menyerukan larangan memberi makan burung (dan tentunya bebek juga karena temasuk leluarga burung) oleh bangsa pendatang. Usut punya usut PVV tak suka dengan banyaknya bangsa pendatang yang memberikan makan bebek secara berlebihan sehingga mengotori taman sekitar. Seruan ini seperti hanya ditujukan pada orang orang muslim, karena menurut sepengetahuan  PVV, orang muslim tak boleh membuang makan secara sia sia, oleh sebab itu daripada terbuang percuma lebih baik diberikan pada orang lain yang memerlukan atau diberikan pada sesama mahluk hidup, maka berserakanlah makanan sisa di sekitar kolam kolam bebek sehingga mengganggu pemandangan mereka. Peringatan dari PVV itu pernah membuat aku dan Luc berdiskusi panjang, Luc meminta aku menunjukan ayat di AlQurán yang memerintahkan tak boleh membuang makanan. Tentu saja aku harus menyikapinya dengan bijaksana. Aku tak bisa sembarangan bicara apa apa mengenai Islam tanpa dibarengi pengetahuan yang benar, sembarangan bicara akan membuat aku berada di posisi yang lemah, maka ujarku… yang aku tahu ada sebuah hadist yang pernah aku baca berisi kira kira seprti ini…. makanlah sebelum kami lapar dan berhentilah sebelum kamu kenyang, lanjutku, itu dimaksud agar kita tak membeli makanan secara berlebihan sehingga menyisakan makanan yang banyak dan akhirnya harus dibuang, banyak orang yang masih kelaparan sementara kita disini dengan seenaknya membuang makanan, mungkin banyak dari kami yang memberi makanan sisa ke bebek karena tak ada tetangga yang bisa kita bagi makanan jika kita berlebihan memasak. Terus terang pertama kali aku hidup disini, aku selalu mengurut dada berkali kali, aku melihat kelakuan Luc yang membuang makanan seenaknya ke tempat sampah. Orang sini kebanyakan mereka memasak secukupnya saja, tak lebih tak kurang, satu kali makan satu kali masak, mereka berhitung secara akurat berapa banyak yang harus mereka buat, tak heran jika mereka mengundang kami mereka selalu bertanya terlebih dahulu berapa banyak aku makan satu porsi atau setengah porsi atau dua porti? Mereka akan mengukur seberapa banyak aku akan makan, sehingga dulu aku selalu berpikir mereka pelit, menjatah makan yang akan aku makan, hahaha. Padahal aku harus mengambil pelajaran dari kebudayaan mereka, mereka sudah mengikuti sunah Rosul, makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Hanya makan secukupnya kebutuhan perut.

Saat berita larangan dari PVV, tentu saja membuat aku dan Luc geram, kenapa  Wilder selalu mengdiskriditkan umat Islam? Ujar Luc jika larangan memberi makan bebek atau burung tak sepantasnya PVV melarang hanya satu golongan saja, jika harus melarang maka laranglah seluruh penduduk Belanda misalanya, atau di daerah ini dilarang memberi makan bebek, atau peringatan peringatan netral seperti itu, bukan seruan pada buitenlander saja alias pendatang. Dan mengapa larangan tersebut hanya seperti mengejar orang bangsa lain (muslim) saja? Sedangkan orang belanda yang memberi makanan burung secara berlebihan tak kena sangsi?
Berikut berita yang berisi langaran menggelikan dari PVV ini,
http://www.elsevier.nl/Nederland/nieuws/2011/3/PVV-wil-allochtone-vogelvoerder-keihard-aanpakken-ELSEVIER291497W/
Tentu saja seruan dari PVV tersebut menimbulkan banyak reaksi seperti biasanya. Dasar Wilder, aya aya wae lah kamu mah!!!

Perpustakaan – Library – Bibliotheek

Buku adalah jendela dunia.
Begitu pepatah yang sering kita temui di perpustakaan jaman sekolah dulu.

Konon orang yang sering nongkrong di perpustakaan adalah mereka yang pendiam dan ‘sedikit aneh’.
Tapi rasanya aku tak pantas digolongkan pada mereka yang pendiam, apalagi pada jaman SD dulu. Komplotanku, mereka yang tergolong petualang dalam mencari toko buku walau harus dijalani dengan berkali kali ganti bis kota atau angkot. Sayang jaman dulu tak banyak perpustakaan yang dapat kami temui, walaupun kita datang ke perpustakaan komersial tapi rasanya buku kesenangan kita sudah habis kami pinjam, hingga kami harus mencari perpustakaan lainnya atau mencari buku loakan.

Kegemaran membaca, ditulari ibuku sejak aku belum bisa baca jaman dahulu kala. Tahun kemarin saat kedua orang tuaku liburan kemari, maka tempat yang membuat mereka kagum salah satunya adalah perpustakaan. Mereka terkagum kagum kala aku menunjukan cara meminjam buku dan mengembalikan buku tanpa dilayani pegawai perpustakaan. Mereka takjub dengan mesin otomatif yang ada di perpustakaan. Hiburku pada mereka, siapa tahu di Indonesia pun telah menggunakan mesin otomatis. Mereka juga mengagumi kenyamanan dan kelengkapan di perpustakaan.

Aku dan si kembar termasuk orang yang sering datang ke perpustakaan daerah dimana kami tinggal. Letaknya yang berada di sebrang sekolah si kembar, memungkinkan mereka setiap hari mendatangi perpustakaan setelah pulang sekolah.

Untuk mereka yang berumur kurang dari 18 tahun, menjadi anggota perpustakaan adalah gratis, walau begitu akupun menjadi anggota perpustakaan secara gratis karena sekolahku memberikan kartu perpustakaan pada kami, jadi setidaknya aku bisa menghemat uang sebanyak 39,5 euro pertahun untuk menjadi anggota perpustakaan di Belanda.

Banyak kemudahan yang bisa kita dapatkan dengan menjadi anggota perpustakaan, karena kita bisa meminjam buku secara online, jika kita tak punya waktu untuk mencari buku di perpustakaan kita bisa mencari di internet tinggal pesan buku apa saja yang akan kita pinjam, disana akan terlihat apakah perpustakaan mempunyai buku yang kita cari, apakah buku yang kita cari ada di tempat, dan kita bisa meminta kapan buku tersebut yang kita pesan akan kita ambil dan dimana tempat yang kita inginkan untuk mengambil buku tersebut, misalnya di perpustakaan dekat rumah atau di ambil di perpustakaan central.

Perpustakaan cabang walau tak sebesar perpustakaan pusat, tapi aku lebih menyukai datang ke perpustakaan di dekat rumah kami, lebih nyaman, tidak banyak orang dan penuh kekeluargaan. Di meja besar yang terdapat di sisi perpustakaan, kita hanya bisa melihat para orang tua yang selalu datang itu itu saja, kami bisa bercengkrama sambil membaca koran, di sisi lain berderet komputer yang lagi lagi diisi oleh para orang tua, di tengah tengah perpustakaan ada tempat khusus untuk anak anak dilengkapi kursi kerajaan yang selalu diduduki oleh Cinta setiap datang ke perpustakaan dan disisi yang lain ada meja khusus untuk anak anak yang dilengkapi komputer. Sedangkan perpustakaan pusat yang sangat luas terdiri dari 6 lantai dan dilengkapi dengan cafe, sehingga tak jarang jika aku janjian akan bertemu di pusat kota dengan beberpa teman, kami lebih sering bertemu di perpustakaan terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke tempat selanjutnya.

Untuk lebih jelasnya, kalian bisa melihat site berikut ini
http://www.bibliotheek.rotterdam.nl/pagina/17051.engelsepagina.html

Oh ya, aku juga pernah mengalami kejadian lucu. Saat aku akan mengembalikan buku (buku yang akan kita kembalikan tinggal kita masukan saja seperti kotak surat yang dapat membuka secara otomatis saat kita meletakan buku yang akan kita kembalikan), saat itu lubang di kotak tersebut tak mau terbuka, aku sudah membalikan posisi buku beberpa kali, tapi tetap saja kotak tersebut tak terbuka, hingga akhirnya aku meminta bantuan pegawai perpustakaan, dan hanya dengan lirikan sekilas pada buku yang tengah aku pegang, dia berkata dengan santainya itu bukan buku milik perpustakaan. Hahay ternyata aku mencoba mengembalikan buku milikku sendiri ke perpustakaan. Tentu saja sampai lebaran tahun kudapun si kotak tak akan terbuka, rupanya menerima bukan haknya bukanlah tipykal orang sini buktinya perpustakaanpun tak mau menerima milik orang lain, hahaha.

Berikut aku sertakan beberapa foto saat Cinta dan Cahaya berada  di perpustakaan.
Image
Ini yang biasa dilakukan Cinta setiap kali keluar dari perpustakaan, membaca buku dalam perjalanan pulang ke rumah.

Image
Gaya Cinta jika sedang membaca buku di perpustakaan

Image

Image

Image
Mesin yang mencatat buku yang kita pinjam, buku tinggal diletakan di kotak putih yang ada di meja tersebut, setelahh kita sebelumnya menempelkan (scan) kartu anggota perpustakaan ke tempat yg telah disediakan, kemudian di layar komputer akan tertera nama kita dan buku apa saja yang akan kita pinjam setelah kita meletakan buku yang akan kita pinjam satu persatu di kotak putih, di akhir transaksi selalu ada pertanyaan apakan anda mau print (ketas bon berisi apa saja buku yang kita pinjam) atau tidak. Maka selesailan transaksi di perpustakaan dan kita bisa membawa buku yang kita pinjam.

Image
Image
Ini mesin pengembalian buku. Buku yang akan kita kembalikan tinggal kita masukan ke lubang kotak yanga ada di dinding. Praktis bukan?

Ayo, selama buku adalah benar benar jendela dunia tak ada salahnya kita menggemari datang ke ke perpustakaan, nyaman, mudah dan gratis, hahahaha.

Blood Brother

Image
Setelah anak anak tidur, tiba saat nya bagi kami sedikit rileks.
Biasanya aku dan Luc nonton film, ngobrol atau baca buku.
Alam pikiranku sudah dipenuhi kata kata nan cantik untuk diungkapkan pada Luc, tentang rencana esok hari untuk mendatangi toko meubel untuk melihat sofa seperti yang tertera di koran reklame yang kami terima hari ini, tentang keingannku membicarakan rencana teman temanku untuk berlibur ke Barcelona atau Roma di bulan juni nanti dan aku tengah mempersiapkan kata kata untuk Luc apakah aku boleh ikut serta, tentang ajakan kawanku yang lainnya untuk ikut arisan.

Tapi obrolan penting yang sudah aku persiapkan gagal aku ungkapkan pada Luc malam ini, mulutku tiba tiba terkunci saat Luc memutar film dokumenter mengenai seorang pemuda yang ingin menemukan dan membangun sebuah keluarga, dan nuraninya membawanya ke sebuah asrama Aids di India.

Penyajian film dokumenter ini yang diawali dengan narasi yang baik dan nyaman di kuping, membuat aku bisa menikmati walau mataku membelakangi TV. Adegan demi adegan yang sebetulnya tragis bisa begitu nyaman aku tonton tanpa rasa takut. Dan sepanjang film itu diputar air mataku mengalir tak terbendung. Aku tak pernah melihat Luc menitikan air mata saat melihat film, tapi kali ini air matanya mengalir juga. Di akhir film ini, aku hanya mampu berguman …. Hij is lieve jonge man.

Tak banyak yang bisa aku ungkapkan betapa istimewanya film dokumenter ini, saranku kalian harus menontonnya, akan banyak rasa penyukuran setelah melihatnya, kekaguman yang luar biasa bagaimana bisa seseorang mencintai dengan begitu luar biasa pada sesamanya. Percayalah kalian akan lupa pada mimpi mimpi kenyamanan materi setelah lihat film ini.
Seperti halnya diriku, tiga point penting yang ingin aku sampaikan pada Luc malam ini tak lagi mengusik pikiranku.

Semoga kalian juga bisa melihat film ini, dan juga seperti halnya diriku dan Luc aku berani bertaruh kalian akan jatuh hati pula pada sosok Rocky Baart.
http://www.imdb.com/title/tt2265179/