Ga weg! Pergi kamu!

Rasanya jika ingat kejadian ini aku tak bisa berhenti tertawa.

Suatu siang di bulan Februari tahun 2008, tanggal sudah lupa.
Kami (aku dan Luc) duduk di pantai Kuta, sepi, udara panas, dan entah kenapa kami sama sama tak banyak bicara. Malas saja rasanya. Begitu juga seorang ibu yang datang pada kami untuk menjajakan barang dagangannya, dia datang dengan langkah gontai, kaki telanjangnya diseret begitu saja, kemudian duduk disebelahku, memperlihatkan beraneka kalung.

Ayo mba, dibeli kalungnya, bagus mba, murah mba. Rayunya padaku sambil menyodorkan kalung kalung dari kerang yang ada di tangannya. Aku tersenyum dan menggeleng sambil meraba dadaku dan menyodorkan kalung kerang yang sama yang dia tawarkan padaku.

Oh, sudah punya ya mba, gantungan kuncinya mba. Si ibu tetap duduk disampingku sambil membuka kantung plastik kresek yang sedari tadi ada di pergelangan tangannya.

Sudah beli juga bu. Ucapku singkat.

Beli lagi toh mba, buat oleh oleh.

Aku menggeleng.

Kalo gitu dikepang rambutnya mba?

Aku tetap menggeleng.

Dan si ibu inipun mulai melirik Luc. Pijat mister, massage mister. Katanya, dan mulai beralih menghampiri Luc.

No, no, noooooo. Seru Luc.

Ayo mister. Si ibu tak kalah gesit dan telah duduk disamping Luc kini. Tapi tiba tiba Luc bangkit dan berkata dengan tegas.

Neeeeeeeee, ga weg!

Dan tiba tiba saja si ibu nyerocos menjawab dalam bahasa Belanda campur jawa bali yang tak aku mengerti. Kemudian diteruskan dengan bahasa Indonesia. Yang kira kira begini amarahnya…..

Kamu yang ga weg, ini negaraku, ini tanahku, ini pantaiku, kamu yang pergi, bukan aku!

Hahaha, aku tak dapat menahan tawaku saat itu. Rasakan kau bule Belanda! Jangan sembarangan dan seenaknya ngomong.

Dan setiap kami mengingat kejadian tersebut, kami selalu tertawa terbahak bahak bersama.

Advertisements