Mother is the best

Karena Cahaya sesaat setelah lahir harus masuk inkubator, karena berat badannya yang sedikit kurang, jadilah tumbuh kembang Cahaya berada dalam pemantauan dokter di rumah sakit Erasmus. Pertama kali dia harus balik ke rumah sakit saat usinya 6 bulan, satu tahun, dua tahun dan tiga tahun. Apa yang dilakukan dokter hanya bermain main saja dengan Cahaya, melihat setiap gerak Cahaya, menyusun puzzel, menggambar hingga ngobrol. Walau semuanya normal dan hasilnya baik tapi pemantauan tersebut akan dilakukan hingga Cahaya berumur tujuh tahun, kata dokter ga ada sesuatu yang mencemaskan mereka melakukan ini karena prosedur saja.

Disaat itulah aku suka mengobrol dengan dokter, bercerita apa saja yang aku khawatirkan atas mereka, kadang pertanyaanku mengada ada saking bingungnya harus bertanya apa tentang anak anak selain berkeluh kesah soal makan. Dokter muda yang menangani Cahaya ini sangat lemah lembut, walaupun dia dokter laki laki tapi sikapnya sangat keibuan. Di suatu kesempatan bertemu, aku mengutarakan kecemasanku pada sang dokter bahwa aku khawatir anak anakku akan sulit berbicara, hal tersebut karena hasil tes Cahaya pada saat berumur dua tahun, kosa kata yang digunakan sangat minim sekali. Dari 20 macam benda yang ditunjukan pada Cahaya, dia hanya mampu menjawab 4 buah, sedangkan anak lainnya berdasarkan penelitian hampir bisa menjawab semuanya. Tapi sang dokter bijaksana itu berkata bahwa aku tak perlu khawatir. Semuanya akan berproses.

Ada pesan dia yang sangat aku ingat, katanya… setiap anak berbeda dengan anak lainnya, mereka mempunyai keistimewaan masing masing. Anak tidak bisa diperbandingkan dengan anak lainnya. Pak dokter juga berkata bahwa banyak ibu Belanda yang sangat melindungi anak anaknya, juga membanggakannya, termasuk membuat pernyataan yang tak masuk akal sekalipun contohnya….. anakku umur lima tahun sudah masuk universitas. Hahaha gurauan pak dokter itu aku sambut dengan tawa yang lebar. Intinya aku disarankan untuk tidak terlalu membandingkan anakku dengan anak lainnya, karena mereka berbeda selain itu jangan merasa tersaingi jika ibu yang lain berkata fantasis tentang anaknnya, itu dilakukan karena kebanggaan seorang ibu akan anaknya, maklumi saja kata pak dokter dengan santainya.

Hari minggu, tiga hari yang lalu, aku melihat seorang ibu yang marah saat membela anaknya. Seorang ibu yang marah pada suamiku, karena suamiku memarahi anak si ibu tersebut (pun karena suamiku sedang membela anaknya).

Kami sedang berada di Monkey town, tempat permainan anak anak yang berada di dalam ruangan, aku dan Luc duduk di restauran yang berada di arena tersebut sementara Cinta dan Cahaya bermain. Tak berapa lama Cahaya datang menghampiri kami, berkata bahwa Cinta sedang berada dalam masalah katanya, yang membuat kami tertawa dengan pernyataannya, ada apa? Tanya Luc. Seorang anak laki laki menendang Cinta, Cinta menangis karena balok balok yang disusunnya juga dibuat rusak oleh anak laki laki tersebut. Aku yang malas beranjak dari tempat dudukku mengutus Luc untuk mendatangi Cinta.

Di kejauhan aku melihat Luc sedang berkata pada seorang anak kecil kira kira dua atau tiga tahun an, betapa kagetnya aku karena  si anak tersebut tiba tiba menyepak muka Luc yang sedang berjongkok dan sepakan kedua langsung ditangkis oleh Luc. Kemudian Luc mengeluarkan telunjuknya menggoyangkan di muka anak tersebut. Terlihat Luc sedang memarahinya. Dan anak tersebutpun menangis. Tapi Luc masih tetap berkata kata. Tiba tiba datang seorang ibu, meraih anak yang menangis dan Luc pun berdiri, kemudian si ibu pergi tanpa berkata apa apa. Aku melihat saja dari kejauhan. Si ibu pergi melewati tempatku duduk tapi kemudian berbalik setengah berlari sambil menggendong anaknya, kembali mendatangi Luc dan berbicara tak senang pada Luc, aku melihat Luc menjelaskan sesuatu pada si ibu. Yang kemudian pergi dengan muka tak senang.

Luc datang padaku, menceritakan apa yang telah terjadi. Versi Luc adalah sebagai berikut, di tempat perkara dimana permainan balok berada, Cinta dan beberapa anak lainnya sedang menyusun balok membuat kastil katanya, seorang bocah datang menghancurkan balok yang sedang dibuat, mereka marah tapi si anak tersebut malah menendang anak anak yang berada disitu satu persatu, saat Luc datang si anak masih menendangi seorang anak perempuan yang langsung dicegah Luc, dan Luc memperingati untuk tidak menendang, eh si anak tersebut malah datang ke Luc dan menendang juga, tendangan kedua ditangkis Luc, tentu saja Luc jadi murka dan memarahi si anak, si anak itu malah nangis kemudian meluncur kata kata Luc yang berkata… bagus ya kamu menangis, aku tak merasa kasian kamu menangis. Begitu ucap Luc yang Luc sendiri akui bahwa itu tak pantas diucapkan pada seorang anak kecil. Kata Luc si ibu itu mendengar ucapan Luc dan  anehnya kata Luc si ibu juga melihat saat anak tersebut sedang menendang anak perempuan hingga menangis karena pada saat itu Luc dan si ibu hampir datang pada saat yang bersamaan. Kata si ibu, tak sepantasnya Luc berkata seperti itu pada anak yang masih berusia dua tahun, tapi Luc berkata bahwa tak sepantasnya anak umur berapapun menendang muka orang, atau merusak apa yang tengah dibuat anak lainnya, dan dia sebaiknya mengerti sejak kecil. Begitu penjelasan Luc. Dan si ibu tak terima tanpa berkata apa apa lagi di pergi meninggalkan Luc.

Teringat pada dokter yang dulu berkata padaku, bahwa seorang ibu akan melindungi anaknya, dan hari itu aku melihat seorang ibu yang membela anaknya pun ketika si anak melakukan sesuatu yang salah. Menendang. Apakah si ibu membenarkan tindakan menendang sebagaii bentuk pembelaan diri dari anaknya karena diperingati oleh Luc? Ah akan begitu jugakah aku?

Ibuku, akan mengatakan salah jika aku salah. Walaupun aku merasa benar dan kesal sekali padaku. Aku disuruh minta maaf jika aku berbuat nakal pada kakakku begitu pun kakakku meminta maaf jika dia tak baik padaku atau pada orang lain.

Hari ini aku menonton tayangan di youtube tentang seorang ibu lawan pengasuh anaknya. Dalam video tersebut dibuktikan bahwa seorang pengasuh mengetahui lebih banyak tentang anak yang diasuhnya daripada ibu kandungnya sendiri. Aku melihat hal tersebut dengan linangan air mata. Aku adalah produk yang dibesarkan oleh pengasuh, tante oom dan nenek kakek, walau itu tak semuanya benar, ayah ibuku bekerja, ada seorang pengasuh bersama kami, tapi aku selalu merasa ibu selalu ada untukku, dia memasak untukku, mencuci bajuku dan memilihkan pakaianku. Saat aku dewasa, ibuku meminta maaf padaku (pada kami anak anaknya) bahwa dia merasa membiarkan kami beranjak dewasa sendiri tak banyak campur tangan dari ibuku, ibuku berkata bahwa dia bangga atas kami semuanya, dia bangga telah menjadi ibu dari kami. Padahal kamilah yang bangga mempunyai ibu seperti beliau.

Ibuku berkata, tak apa kini aku tak bekerja, ini kesempatan diriku untuk mengenal dan membimbing anakku. Walau ibuku tetep mendukung  berkeinginanku untuk bekerja suatu hari nanti seperti dulu saat aku belum menikah.

Dan hingga kini aku lebih merasa bahwa Luc lah yang lebih mengenal anak anakku, dia melakukan banyak hal dan kegiatan bersama anak anak, lebih banyak dari ayah yang aku kenal. Semoga anak anakku mengerti diriku.

Berikut video yang membuat air mataku meleleh.

Natural History Museum Rotterdam

IMG-20150428-WA0002[1]

Mulai hari ini hingga dua minggu kedepan, anak SD di Rotterdam libur. Mei Vakantie. Sementara aku hanya libur selama satu minggu saja mulai minggu depan. Jadi sejak minggu kemarin aku dan beberapa teman sekelas yang mempunyai anak sudah minta izin untuk tak masuk sekolah selama seminggu karena tak mungkin meninggalkan anak anak di rumah selama kita sekolah.

Awalnya Mirelle dosen utama kami memberikan ide untuk membawa anak anak kami kesekolah, sementara kami belajar anak anak kami akan diasuh oleh salah satu anak Mirelle yang berusia lima belas tahun di ruangan kelas yang lain, kita seneng dong, tetapi ternyata pihak sekolah ga setuju. Jadi rencana lain kami diskusikan. Dan disepakatilah hari ini kami pergi ke Natuurhistorich, yang jaraknya tak jauh dari sekolah kita tinggal jalan kaki saja kesana.

Di musium Natuur ini  ditekankan bahwa kota juga adalah alam. Hewan dan tumbuhan akan menyesuaikan habitatnya dengan keadaan kota. Jika kota yang ramah lingkungan maka hewan hewan pun banyak yang mampir di kota tersebut.  http://www.hetnatuurhistorisch.nl/

Selama tour di musium Natuur ini, anak anak kami dilibatkan untuk ikut serta dalam tour tersebut, setelah kami menerima buku yang berisi pertanyaan, kami berjalan mengikuti petunjuk yang ada di buku, pertanyaan dibacakan oleh anak seorang teman kami, seorang anak yang berusia 7 tahun. Sementara Cinta dan Cahaya yang belum bisa membaca sibik mengintil sambil sok tau dan mereka ikut ikutan menulis.

Secara umum acaranya lumayan seru, karena anak anakpun terlibat, mereka mampu menyusun puzzel sehingga kami bisa menemukan jawaban dari pertanyaan yang diajukan.  Walaupun yang turut serta hanya setengah dari peserta cursus saja tapi kita tetap bisa heboh seperti biasanya. Saat foto foto kami beredar di group whats app, beberapa teman yang tak hadir hanya bisa memberikan jempolnya saja, mengomentari foto foto kami hahaha.

Acara jalan jalan ke musium kali ini diakhiri dengan makan dan minum ringan di café Wester Paviljoen yang berada di jalan yang sama dengan sekolah kami. Konon  café Wester Paviljoen termasuk café yang harus didatangi para turis yang meloncong ke Rotterdam. Coba deh liat di brosur brosur yang ada di Rotterdam airport, aku pernah baca bahwa café ini termasuk yang harus didatangi di Rotterdam. Ga tau apa daya tariknya, padahal dari bangunannya  biasa baisa aja,  sedikit aja ada matahari ramenya minta ampun. Tapi berdasarkan pengalamanku setiap kemari, atmostfir di café Paviljoen selalu hangat dan nyaman disamping para pelayannya yang cekatan dan ramah. Nih intip sitenya http://www.westerpaviljoen.nl/

burung yang  bermuka/mempunya lidah seperti manusia

burung yang bermuka/mempunya lidah seperti manusia

Anak anak mejeng dulu

Anak anak mejeng dulu

Berfoto sambil jalan pulang ke sekolah

IMG-20150428-WA0001[1]

Koningsdag – Hari Raja

Hari ini seluruh penduduk Belanda merayakan hari jadi sang raja. Koning Willem Alexander. Ini tahun kedua sang raja berkuasa, setelah sang ratu lengser dari tahtanya dan menyerahkan kekuasannya pada generasi berikutnya. Kontra sekali dengan Ratu Elizabeth yang masih enggan melepas kekuasannya.

Sebelun tahun 2014, pesta rakyat ini disebut hari Ratu atau Koninginedag yang diperingati setiap tanggal 30 April, yaitu hari kelahiran ratu Juliana.Juliana adalah nenek dari raja Willem yang berkuasa sekarang, ketika kekuasaan turun ke  Beatrix, Beatrix memutuskan menggunakan tanggal kelahiran ibunya untuk memperingati kelahirannya, Hal tersebut dilakukan karena alasan cuaca. Ulang tahun sesuanggunya adalah tanggal 31 Januari, ga seru rasanya kalau pesta rakyat dirayakan di tengah cuaca dingin. Nah beruntunglah Willem yang berulang tahun di musim semi, sehingga dia bisa benar benar merayakan ulang tahunnya bersama rakyat di hari yang sebenarnya.

Di Belanda setiap hari ulang tahun raja atau ratu maka akan dirayakan oleh seluruh rakyatnya. Para rakyat di hari itu semua libur, tak ada toko atau kantor yang buka (tapi hari ini aku melihat beberapa supermarket buka setengah hari). Di hari ini semua orang dibebaskan untuk berjualan semau mereka. Nah apa yang dijual? Tentu saja barang barang yang sudah tak terpakai lagi alias barang bekas.

Jika kalian beruntung dan teliti mencari, maka kalian bisa mendapatkan barang barang yang masih berkualitas atau yang bermerk bisa didapaktkan dengan harga miring, nyaris gratis malah.

Di pesta rakyat ini adalah kesempatan rakyat melihat keluarga kerajaan turun ke jalan, setiap tahunnya keluarga kerajaan datang ke kota yang berbeda. Tahun ini mereka datang ke Dordrecht kota kecil tak jauh dari Rotterdam. Aku datang ke Dordrecht? Tidak! Seperti tahun lalu aku merayakannya di Ridderkerk, juga kota kecil yang tak jauh dari Rotterdam. Di rumah teman yang sudah kuanggap keluarga sendiri. Berdasarkan pengalaman tahun lalu, datang ke Ridderkerk lebih menyenangkan dari pada merayakan di kota besar. Mengapa begitu? Alasan utama tentu saja tak terlalu ramai dan yang paling penting untukku adalah yang jualannya nyaris semuanya penduduk asli Belanda, menurut pengamatanku mereka sangat apik pada barang barang miliknya, jadi aku bisa melihat banyak pilihan mencari barang yang masih bagus dengan harga yang murah.

Tapi sayang sekali tahun ini aku tak seberuntung tahun kemari. Berikut cerita pilunya.

Kami berangkat dari rumah sekitar pukul setengah satu. Tiba disana sekitar pukul satu setelah Luc memarkir mobil, kami memijit bel rumah teman kami (teh Neni), dua kali tak ada orang yang membukan pintu. Curiga aku segera mengecek HP, betul saja ada dua miscall disitu beserta whatsapp yang mengabarkan temanku sudah pergi ke centrum sekitar 15 menit yang lalu. Setelah aku telpon balik, kami janjian untuk bertemu di toko sepatu Van Haren, aku, Luc dan anak anak hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit untuk mendapatkan temanku disana. Cinta dan Cahaya yang melihat permainan anak anak berupa luchtkussen yaitu plastik udara yang berupa bantal sehingga anak anak bisa meloncat loncat disana. Tentu saja Cinta dan Cahaya tak mau beranjak dari sana sehingga aku memutuskan untuk berpisah dengan Cinta dan Cahaya yang dijaga Luc dan jika anak anak sudah bosan bermain Luc akan langsung ke rumah temanku dengan harapan suami teh Neni sudah pulang ke rumah saat Luc selesai menemani Cinta dan Cahaya (sang suami sudah pergi meninggalkan sang istri karena sang istri sibuk liat liat di suatu tempat sementara dia sudah tak sabar lagi menunggu, maka berpisahlah mereka hahaha biasalah suami mana tahan harus menemani istri yang sedang berbelanja, ini barang baekas lagi yang diburu hihih) sehingga aku bisa bebas melihat lihat barang barang bekas dengan teh Neni.

Rasanya tak lama dari aku meninggalkan Luc, rencana konigsdag tahun ini adalah berburu Lego untuk Cinta dan Cahaya, mereka ingin Lego princess, lego belum didapat sementara tanganku sudah penuh karena aku membeli tiga pot yang cukup besar dan aku harus menentengnya dibantu teh Neni, tak lama dari membeli pot HP teh neni berdering nomorku yang muncul disana, ya aku memberikannya pada Luc saat berpisah karena Luc tidak membawa HP (selalu!!!) untuk berjaga jaga jika rumah teh neni masih terkunci karena sang suami belum kembali jika Luc memutuskan untuk pulang ke rumah teh Neni. Karena yang muncul nomorku, teh Neni langsung memberikannya padaku. Suara Luc terdengar tegang, katanya… kembali kalian sekarang ke rumah teh Neni, rumahnya kemalingan. What? Disiang bolong begini?

Kembali ke rumah temanku itu, kami mendapatkan pemandangan mengenaskan, lemari buffet besar yang ada di ruang duduk semuanya sudah terbuka. Ada tiga kamar tidur disana, satu kamar tidur anaknya pintu lemari pakaian hanya terbuka tapi tidak dibongkar, sementara kamar yang lain tidak dijamah. Kamar temanku yang paling parah, nyaris tak bisa dilalui karena semua isi lemari berhamburan keluar, laci laci seudah bertebaran kemana mana, aku kaget sejadii jadinya banyak tas yang berhamburan baru aku tau temanku itu mengoleksi banyak tas, tentu saja bukan tas sekelas Syahrini. Semuanya berhamburan tak karuan, kasurpun ditarik, mencari sesuatu dibawah kasur. Sementara laptop anaknya yang tergeletak di kursi tidak disentuh. Sang maling mencari uang dan perhiasan!

Polisi datang lima belas menit setelah Luc menelepon. Dua orang polisi datang, bertanya kronologis kejadian seperti kapan meninggalkan rumah dan datang ke rumah. Suami teh neni menjelaskan mereka meninggalkan rumah pukul setengah satu siang, dan sang suami pulang ke rumah pukul dua diikuti Luc beberpa menit kemudian. Kami mengira ngira bisa jadi sang maling tengah berada di rumah saat aku memijit bel pukul satu siang. Si maling membobol pintu depan dan lari lewat pintu belakang karena pintu belakang terbuka lebar.

Ada pertanyaan polisi yang membuatku nyengir, sang polisi bertanya pada suami temanku, apakah kamu ingin pelakunya tertangkap? Sang empunya rumah tentu saja menjawab iya yang kemudian dilanjutkan pertanyaan berikutnya, jika tertangkap apa yang kamu inginkan dari si pelaku kejahatan? Mengembalikan barang yang hilang? Atau diberi hukuman? Dengan tegas suami temanku menjawab kalau bisa barang kembali tapi yang jelas sipelaku harus diberi hukuman.

Ingat pertanyaan tersebut, mengingatkan kejadian yang menimpa kami tiga tahun yang lalu, juga di musim semi. Kami pun pernah kemalingan. Sang polisi berkata bahwa kemungkinan kecil sekali menemukan si pelaku, kecuali si pelaku menyalakan HP yang dicuri dari situ polisi bisa mencari jejak. Bedanya polisi yang datang ke rumah kami selain bertanya kronologis kejadian diapun bertanya tentang perasaanku, apakah aku mengalami trauma karena rumahku dimasuki maling saat kami berada dirumah(kami sedang tidur)? Saat itu juga polisi banyak menganalisa, kata polisi si maling bisa masuk rumah kami karena rumah kami tak terkunci. Hah???? Ya ternyata saudara saudara sebelum kejadian maling masuk rumah, rumah kami ternyata tak pernah dikunci dari dalam. Saat aku melotot pada Luc karena selama itu aku tak tahu, Luc malah balik menangkis kecerobohannya… jawabnya selama aku tinggal di rumah ini hampir 10 tahun lamanya belum pernah aku mengunci rumah, lagian kenapa aku yang disalahkan karena tak mengunci rumah? Harusnya si maling yang disalhkan, kenapa masuk ke rumah orang tanpa izin? Pake ambil barang segala? Ya ampun Luc…. namanya juga maling!

Tapi untunglah kejadian yang menimpa kami bisa diselesaikan semuanya bisa diganti oleh pihak asuransi. Ceritanya ada disini 

Jadi di Ulang tahun raja tahun ini akau hanya mendapatkan pot bunga saja.

Tiga pot bunga kenang kenangan konisngsdag 2015

Tiga pot bunga kenang kenangan konisngsdag 2015

Kontainer sampah, biasanya barang yang tak laku dijual, barang tersebut dibuang ke tempat sampah yang sudah disediakan, termasuk tempat sampah ini yang sduah berisi sepeda, orang yang mau ambil boleh bawa sepeda ini gratis

Kontainer sampah, biasanya barang yang tak laku dijual, barang tersebut dibuang ke tempat sampah yang sudah disediakan, termasuk tempat sampah ini yang sduah berisi sepeda, orang yang mau ambil boleh bawa sepeda ini gratis

Barang barang bekas yang dijual, diantaranya seperti ini

Barang barang bekas yang dijual, diantaranya seperti ini

IMG_20150427_153205108[1]

IMG-20150427-WA0026[1]

IMG-20150427-WA0028[1]

Konvoi puluhan truk container ikut meramaikan perayaan ultah sang raja

IMG-20150427-WA0029[1]

seorang anak yang sedang berjualan bergagaya pipi lang kaos

Waar blijf de tijd?

Ada sesuatu yang aku pikirkan, dan hampir seminggu ini aku memendamnya seorang diri. Enggan rasanya aku menceritakan sesuatu yang mengganjal di pikiranku itu pada Luc. Pikirku karena itu tak terlalu penting dan itu bukan hal yang baru.

Tapi tadi pagi, aku sudah tak tahan lagi. Dimobil saat Luc membawaku ke sekolah, aku ceritakan ganjalan hatiku. Luc mendengarkan dengan prihatin, kemudian memberi saran. Menguatkan diriku seperti biasanya agar aku berani.

Tak sampai disitu, curhatku menjalar. Yang asalnya hanya curhat tentang seorang kawan, kini curhat tentang keadaan diriku sendiri. Mulai dari rutinitas setiap hari hingga keluhan keluhan yang lainnya. Sehingga Luc harus memarkirkan mobilnya (yang biasanya hanya menurunkanku saja) untuk mendengarkan keluhanku, hingga mataku berkaca kaca. Duh cengengnya……

Akhirnya setelah menyeka air mata  itu,  aku keluar juga dari mobil, karena dua menit lagi pelajaran akan dimulai. Dan tralaaaaa, begitu sampai di kelas, pak dosen sedang membagikan kertas ke setiap bangku. Aku segera duduk. Dan layar proyektor di depan kelas segera menyala. Disitu terpampang tulisan Waar blijf de tijd- Herman van Veen. Pak dosen menjelaskan bahwa kami harus mengisi kata kata yang kosong dengan bait yang akan dinyanyikan Opa Herman ini.

Musik diputar, di layar proyektor terpampang foto jadul, sepasang manusia. Foto perkawinan. Bait pertama tak sempat kuisi, aku malah terpana dengan foto tersebut dan melupakan tugasku untuk mengisi kata yang hilang. Untunglah konsentrasiku kembali muncul dan mampu mengisi kata kata selanjutnya yang hilang walau tak sempurna karena si opa menurutku nyanyinya ga jelas, terlalu nge bas malah membuat tak jelas ditelingaku yang sedikit budek ini.

Dan kemudian saat pak dosen mengulang lagu tersbut untuk kedua kalinya dengan cara menghentikan beberapa saat  (pause) setiap kata yang kosong, aku jadi bisa mencerna isi lagu tersebut. Astaga kok persis banget dengan apa yang tadi aku keluhkan pada Luc. Mungkin karena momennya aku sedang galau, eh si air mata meleleh lagi.

Cobalah simak beberpa arti dari bait bai tersebut.
Kamu menikah muda ketika kamu dua puluh (aku enggak, hehe)
Beberapa tahun kemudian kamu begitu sibuk
Dengan tiga, empat anak,
Ga ada banyak waktu kebahagiaan untuk dirimu sendiri 
kamu berada dia antara membersihkan lantai dan mencuci
Cucian kotor dan kompor
Kamu tak diam, bahkan saat dunia matipun
Kamu tetap sibuk di rumah

Trus ada bait bait yang lain yang tak kalah getirnya… anak anak yang ribut bermain sementara kamu sibuk berada di antara letupan kopi dan sang suami berada di balik koran sambil duduk santai. Hahaha ini lagu ajaib sekali. Dan ironisnya aku terbawa suasana memikirkan, oohhh inikah kehidupan kaum wanita?

Ternyata cobaanku tak sampai disitu, dari sekolah aku harus langsung ke tempat les renang, di bis aku iseng memeriksa tas yang berisi perlengkapan renangku, dan benar saja aku tak membawa baju renang. Semalam aku hanya memasukan baju lengan panjang, celana jins dan sepatu renang saja. Ya sejak minggu yang lalu aku harus menggunakan pakaian lengkap saat berenang termasuk sepatu, karena aku sedang sibuk meraih sertifikat B. Tapi tentu saja aku harus memakai baju renang juga karena saat menyelam nanti semua pakaian lengkap harus ditanggalkan dan aku hanya boleh menggunakan baju renang saja. Tak akan cukup waktu jika aku harus kembali ke rumah untuk mengambil baju renang, solusinya adalah aku terpaksa mampir ke toko baju yang terletak tak jauh dari kolam renang, tak ada baju renang untuk dewasa, sialnya di tempat anak anak pun tak ada nomor yang pas untukku, semuanya kecil. Dengan sedikit was was aku mengambil nomor yang paling besar yang ada di rak. Dan betul saja baju renang tersebut tak muat di tubuhku. Dengan bantuan instruktur renang, dia menggunting sedikit baju renang tersebut yang berada di bagian ketiak sehingga aku bisa menggerakan tanganku. Aaahhhhhh leganya.

Dari tempat berenang aku berjalan ke rumah, hari ini Cinta Cahaya mengikuti les tentang nature selama lima minggu, dan hari ini adalah hari terakhir, jadi aku bisa santai sejenak di rumah sebelum pukul 16.30 tiba. Saat merebahkan diriku di kursi, mengintip HP, kulihat ada whats app yang muncul dari seorang temanku. Aku tertawa membaca pesannya. Rasanya ringan sekali pikiranku setelah tertawa panjang.

Pedan tersebut berisi dalam bahasa sunda, tapi aku akan coba menterjemahkannya:
Seorang suami  berdoa pada Tuhan,
Ya Tuhan, aku cape sekali bekerja sampai banting tulang, hingga bermandi peluh. Begitu sampai dirumah aku menyaksikan istriku yang sedang minum teh sambil menonton TV, selonjoran. Ingin aku memberi pelajaran padanya, tolonglah aku Tuhan, rubah istriku jadi aku dan aku jadi dia.

Tuhan mendengar doa sang suami, besoknya sumi teresebut berubah jadi si istri. Begitu bangun tidur dengan tergesa dia langsung ke dapur, menyiapkan sarapan, terus membangunkan kedua anaknya untuk bersiap ke sekolah. Langsung memasukan baju baju kotor ke mesin cuci, setelah anaknya yang besar pergi sekolah, dia mengantar anaknya yang TK ke sekolah, mampir ke pasar, kembali ke rumah, mengeluarkan cucian dari mesin cuci, menjemur pakaian. Setekah beres dia langsung ke dapur memasak, kembali ke sekolah menjemput si kecil. Kembali ke rumah langsung mencuci peralatan yang kotor habis memasak, membersihkan dapur. Setelah anak yang besar datang ke rumah, mereka bertiga makan, saat makan dia ingat bahwa dia harus bayar listrik dan telepon yang sudah waktunya dibayar. Setelah makan dia langsung pergi ke bank untuk membayar tagihan tersebut.

Pulang dari bank dia terus menyetrika baju sambil nonton TV, sore hari dia memandikan anak anaknya, terus membantu mereka belajar, memeriksa PR mereka dari sekolah. Jam sembilan malam dia sudah merasa kecapean dan langsung tidur pulas.

Dua hari dia menjalani perasa sebagai istri, hingga dia tak kuat lagi dan memohon pada Tuhan: Tuhan, aku minta maaf, ternyata aku salah, selama ini aku salah sangka! Aku tak tahan menjalani peran sebagai istri, tolong maafkan aku dan kembalikan aku jadi suami seperti semula.

Tuhan menjawab: Bisa aja, tapi kamu harus menunggu sembilan bulan kedepan, karena saat ini kamu sedang hamil!

Hahahaha, disitu aku tertawa lega. Lega karena aku tidak harus sampai seperti wanita itu, walau ditengah sibuknya aku, aku masih bisa duduk manis didepan komputer untuk menulis, menelepon ibuku atau pergi ke kota seorang diri atau bersama teman untuk melihat barang yang aku mau, atau hal lainnya yang menentramkan hatiku.

Tuhan maha adil, Dia tak akan memberi beban hambanya terkecuali sesuai kemampuanya.

PS: Yayang, jangan lupa kamu bersyukur ya………………… ayo nikmati lagi lagu dari opa Herman, tanpa air mata! Seperti tersurat dalam lagu tersebut…. ini bukan sesuatu yang harus ditangisi…………

Dan Polisi pun Protes

Pada pukul 9 pagi aku melihat berita sekilas di TV bahwa hari ini para polisi akan melakukan aksi demonstrasi dengan cara konvoi di jalan tol mulai dari Groningen ujung paling atas kota di Belanda hingga ke kota Maastrich, kota paling bawah di Belanda.

Pukul dua siang aku dikagetkan dengan suara sirene yang tiada henti, penasaran aku melongok ke jendela depan, dan pemandangan di jalan tol yang ada diseberang jendela rumahku adalah konvoi polisi yang tiada henti. Sementara Cinta dan cahaya berteriak teriak kegirangan disuguhi pemandangan konvoi polisi di depan mata mereka. Ya rumah kami berada di dekat jalan tol A13, salah satu jalan tol yang dilewati konvoi polisi tersebut.

Para polisi ini menginginkan kondisi kerja yang lebih baik dan kenaikan upah sebesar 3,3 persen. Aksi konvoi ini dimulai pada pukul 7 pagi dan berakhir pukul 8 malam, selama aksi di jalan ini para polisi mengendari mobil polisi dengan membunyikan sirene dan kecepatan mereka rata rata 60 km perjam. Aksi para polisi ini akan berlangsung juga besok hari kamis, serikat polisi telah meminta anggotanya untuk menutup kantor polisi selama dua jam.

Aha polisi Belanda tenyata bisa protes juga, bagaimana dengan polisi Indonesia?

Flip maakt donuts


Hoi allemaal,

Eindelijk mag ik nog een keer logeren bij Cinta. Ik ben altijd blij als ik bij kinderen van de Albert Schweitzer school mag logeren. Op zaterdag gingen we naar een Maleisisch restaurant: Kampoeng Kita. dat was leuk. Ik heb geproefd van de vegetarische laksa soep. Cinta heeft niet van de soep gegeten omdat zij zich niet lekker voelde. Zij was een beetje ziek. Dus mocht ik het eten van Cinta op eten.

Toen we klaar waren met eten, hebben we een lekker ijsje gekregen. Ooohhh dat was heerlijk. Maar jammer genoeg wilde Cinta ook dit niet eten.

Op zondag zijn we thuis gebleven. Samen met Cahaya de tweeling zus van Cinta hebben we videos gekeken. dat waren nieuw video van Ever After High, dat lijk een beetje op Monster High. De moeder van Cinta zegt dat Cinta nog steeds beetje ziek dus mocht ik een dag logeren bij Cinta. 
PhotoGrid_1429559572492[1]

Maandag middag hebben ik, Cinta en de moeder van Cinta in de keuken gestaan. We hebben donuts gemaakt, ja, natuurlijk op zijn indonesisch. Donuts van aardappels. Okay hier heb ik het recept voor jullie, mischien kunnen jullie dit samen met jullie ouders maken.

Ingredienten:
500 gr gekookte aardappels
500 gr bakmeel
100 gr boter
1 zakje gist
1/2 theelepel zout
4x eigeel
100 ml melk
100 gr suiker

Hoe:
Maak van de aardappels pureé, gooi eieren, melk en boter in de kom. Roer dit door de aardappel pureé.
Doe in een andere kom bakmeel,gist, suiker en zout. Goed doorroeren. Daarna kan de kom met de bakmeelmix in de kom van de aardappels gedaan worden.Net zolang doorroeren tot het deegmengsel niet meer plakkerig is.
Laat het deeg 30 minuten rijzen op kamer temperatuur.
Dan mogen jullie het deeg in een donut vorm maken.
Tenslotte frituur je de donuts in veel olie tot er een mooie lichtbruine kleurtje op de donuts komt.

Eet smakelijk allemaal.
Wojoh, De donuts zijn errug lekkah.

Groetjes,

Flip de Bear
PhotoGrid_1429559137974[1]

It’s your choice: Beautiful or Average!

Belum lama ini Dove mengeluarkan kampanye yang mengajak para wanita untuk meyakini bahwa dirinya ‘cantik’. Dalam survai mereka, bahwa 96% wanita tidak menggunakan kata ‘cantik’ untuk menggambarkan diri mereka.
http://www.boredpanda.com/self-esteem-social-experiment-choose-beautiful-dove/

Kampanye yang dilakukan Dove adalah bertajuk ChooseBeautiful yang menantang wanita di seluruh dunia untuk memutuskan untuk menjadi cantik dan mengevaluasi kembali citra diri mereka – menjadi lebih baik. Eksperimen tersebut dilakukan di  stasiun di Sao Paulo, Delhi, Shanghai, San Francisco dan London. Para wanita diberi pilihan sederhana untuk masuk melalui pintu “Cantik ”  atau pintu “Rata-rata”.

Nah sekarang pertanyaannya, pintu mana yang akan aku masuki jika aku diberi pilihan seperti itu? Jika secara spontan aku sepertinya aku akan masuk ke pintu rata rata. Secara aku memang sadar bahwa aku tidak berada dalam  standar kecantikan yang diciptakan manusia (tinggi, kurus, berdada alias seksoy). Tapi kok rasanya aku juga akan dengan sangat bergembira dan antusias jika memasuki pintu yang bertulisan kata cantik tersebut.

Tentu saja saat ini aku bukan gadis remaja yang mempermasalahkan tentang bentuk tubuh dan kecantikan, akan tetapi melihat video kampanye Dove ini setidaknya menyadarkan diriku sendiri bahwa setiap harinya kita dihadapakan pada ribuan pilihan, entah apapun itu,  yang pasti diantaranya kita bisa memilih untuk menyatakan atau merasa bahwa aku cantik dan bisa menjadi lebih baik.

Seperti apa yang pernah aku ceritakan disini bahwa You are beautiful, kamu hanya berada di negara yang salah, bukan berarti aku merasa istimewa karena memiliki kulit yang banyak diingini wanita disini pada umumnya. Tapi disini aku  belajar bahwa perbedaan tidak ditentukan oleh warna kulit, perbedaan ditentukan oleh hal lain salah satunya adalah apakah kita bisa menghargai orang lain atau tidak. Jika aku melihat seseorang tidak menghargai orang lain, kita bisa langsung melihat seperti apa orang tersebut. Benar seperti apa kata ibuku, menghargai seseorang tidak akan membuat dirimu menjadi kecil.

Balik lagi ke iklan Dove, mari kita nikmati sama sama video ekperimen dari Dove ini, apa yang mereka pilih?

Awug Bandung

Waktu kecil aku suka sekali jajan awug. Hampir tiap pagi beli di si mbok yang jualan dengan menggunakan bakul gendong yang datang ke setiap rumah. Pesanannya selalu sama awug dan lupis.

Nah sekarang kangen dong makan awug, setelah serching di internet dari tiga resep semuanya sama yaitu menggunakan tepung beras dan tepung ketan yang dicampur dengan komposisi yang sama. Nah dengan berbekal keyakinan resep tersebut akan sama persis dengan awug idaman, mulailah aku mulai menemukan kendala pertama yaitu aku ga punya ‘aseupan’ atau wadah berbentuk segitiga kerucut yang biasanya digunakan untuk menanak nasi di jaman dulu.

Maka jadilah besek yang dijadikan percobaan, masalah bentuk bolehlah berbeda, asalkan rasa sama kan? Ini nih besek yang aku maksud, besek bekas tape singkong yang aku beli di Oriental toko.

Besek alias pipiti ;)

Besek alias pipiti 😉

Nah ternyata resep yang aku dapatkan sama sekali berbeda dengan awug jaman dulu yang aku kenang, kok jadi mirip kue bugis ya? Lengket dan basah.

Beberapa waktu yang lalu aku melihat postingan teman yang bikin awug juga, wih gambarnya persis awug idaman. Langsung dong aku App dia, berikut resep ala Catur temanku yang rasanya dan bentuknya mirip dengan awug masa kecilku.

Bahan:
* 400 gr tepung beras, kukus selama 20 menit
* 250 gr gula merah, iris hingga halus
* 100 gr kelapa parut

Caranya:
* Setelah tepung beras dikukus satukan dengan kelapa parut kira kira 75 gr, sisa kelapa parut untuk taburan setelah awug tersebut jadi.
* Susun selang seling campuran tepung beras dan kelapa parut dengan irisan gula merah.
Ingat tepung beras tersebut harus diciprati air yang telah dicampur garam, secukupnya saja, kemudian taburi gula merah kemudian tepung beras, ciprati lagi, begitu seterusnya hingga bahan habis.
* Nah kukus deh kurang lebih satu jam

Dan inilah hasilnya, selamat menikmati dan mencoba bagi yang doyan awug. Oh ya bagi teman teman yang tinggal di Belanda, mungkin tau dimana toko yang menjual aseupan? Duh aku ga tau apa bahasa Indonesia nya aseupan 😉
IMG_20150405_230613065[1]

Pesta Ulang tahun

Hasil karya Cinta dan Cahaya di sebuah pesta ulang tahun

Hasil karya Cinta dan Cahaya di sebuah pesta ulang tahun

Di bulan April ini Cahaya mendapat undangan ulang tahun sebanyak tiga pesta. Ini tahun kedua mereka sekolah di sekolah dasar, dan tentunya aku semakin berpengalaman menyiapkan anak anak ke pesta ulang tahun. Jadi ga ada istilah terbelalak heran seperti tahun kemarin, atau tangisan salah satu anak yang kecewa karena tak diundang, seperti cerita disini.

Berikut adalah pengalaman yang aku dapatkan tentang ulang tahun anak anak di Belanda.

* Biasanya kartu undangan di sebar  kurang lebih dua minggu sebelumnya, si anak yang mengundang langsung memberikan kartu tersebut pada anak yang diundang didampingi orangtua si anak.

* Seperti kartu undangan pada umumnya, disitu dicantumkan tempat, waktu dan juga catatan yang menyebutkan jika anak yang diundang alergi terhadap makanan tertentu maka si orangtua harus menginformasikannya.

* Setelah kita menerima kartu undangan biasanya kita harus mengconfirm apakah kita akan datang ke pesta itu atau tidak. Confirm dari pihak yang diundang sangat penting karena urusannya berkaitan dengan pemesanan tempat. Biasanya ulang tahun anak anak diadakan di Fun Park Indoor (seperti Kid Plyaground) atau di restaurant yang disukai anak anak seperti di Pannenkoeken Boat.

* Disini pesta ulang tahun teman teman sekolah biasanya diadakan pada hari rabu, karena hari tersebut anak anak sekolah setengah hari saja. Biasanya pihak pengundang akan memeberitahukan guru kelas siapa saja yang akan datang ke pesta ulang tahun, hal itu memudahkan pihak orangtua untuk tidak menjemput anaknya disekolah, karena anak anak tersebut akan diambil alih oleh orangtua si pengundang. Biasanya seusai pesta anak anak akan diantarkan ke rumah.

* Jika pesta diadakan di Fun Park atau Restauran biasanya jumlah anak yang diundang tak sebanyak jika pesta diadakan di rumah, biasanya 4 hingga 8 anak saja.

Nah untuk urasan kado, kisaran harga berapa sih kado yang harus diberikan? Untuk urusan ini aku tak banyak tahu, secara hingga saat ini aku belum pernah membuat pesta untuk Cinta dan Cahaya di Belanda (apalagi untuk aku dan Luc) Jadinya aku tak banyak tahu ukuran kado yang diterima. Menurut Luc sebaiknya kado yang diberikan pada anak yang berulang tahun bukanlah kado yang mahal, karena menurutnya ‘kasian’ kalo kado yang diterima dari temannya lebih fantastis atau mahal dari kado yang diberikan orangtua si yang berulang tahun, karena kado dari orangtua haruslah menjadi raja. Hahaha entahlah apakah itu kata lain bahwa kita cukup pelit untuk urusan kado? Tapi aku pernah menerima keluhan dari salah satu orang tua yang yang berulang tahun, sambil datang padaku si ibu berkata bahwa kado yang diberikan Cahaya untuk anaknya terlalu mahal. Saat itu aku memberikan boneka mermaid yang harga awalnya 30 euro tapi aku membelinya seharga 15 euro saja alias sedang korting! Kalo si ibu itu tau aku beli kado dengan harga korting pastinya tak akan ada keluhan hahaha.

Berdasarkan pengalaman itu, aku dan Luc sepakat memberikan kado ulang tahun seharga kisaran 10 euro saja (jika aku berhitung uang yang dikeluarkan si pemberi pesta tentunya lebih besar untuk setiap anak yang diundang, untuk masuk fun park saja biasanya kena harga tiket masuk 7 hingga 8 euro per anak, belum makanan dan minuman yang harus dipesan, biasanya patat dan frikandel/kroket plus apel mouse.

Oh ya yang harus diingat, jangan memberikan kartu tersebut di kelas saat anak anak masuk kelas, usahakan jangan terlihat anak lainnya. Hal tersebut pernah terjadi padaku, saat seorang anak memberikan kartu pada Cahaya ada anak lain yang berkata pada ibunya….. Cahaya sering sekali di undang ke pesta ulang tahun, sedangkan aku tidak! Mendengar ocehan anak kecil umur 5 tahun tentu saja tak hanya merobek hati si ibu, tapi aku dan juga mungkin si ibu yang memberikan kartu undangan pada Cahaya.

Dan ingat walaupun mereka anak kembar, tak selalu keduanya diundang, dan karena Cahaya lebih sering di undang, aku dan Luc selalu mengingatkan bahwa tak baik membuat Cinta bersedih, karena kadang Cahaya mengejek Cinta dengan memperlihatkan kartu undangan pada Cinta berkali kali, sementara Cinta hanya melirik menegarkan diri…. aaih sayangku.

Biasanya setiap pesta mempunyai tema, jika pesta tersebut diadakan di rumah, anak anak akan membawa hasil prakarya yang dibuat selama pesta berlangsung, misalnya Tshirt yang digambari sendiri, membuat tempat pinsil dari gelas yang cantik dan semua itu akan mereka bawa pulang.

Tshirt yang digambari sendiri,  warnanya sudah pudar ;)

Tshirt yang digambari sendiri,
warnanya sudah pudar 😉

Dan yang paling penting adalah untuk memberi makan dulu sebelum anak tersebut ke pesta (jika pesta tersebut diadakan di jam bukan makan siang atau malam), seperti kejadian tanggal 4 april yang lalu… Dalam undangan disebutkan bahwa anak anak akan dibawa ke studio balet, pesta diadakan mulai pukul 2 siang hingga pukul 5 sore, itu artinya anak anak tak akan diberi makan siang, perkiraanku mungkin hanya taart dan chips saja. Dan betul saja, begitu anak anak datang ke rumah mereka berteriak teriak diantara gembira dan penderitaan….bunda bunda, aku lapar, aku haus. Saat aku menyodorkan minuman dan meminta mereka duduk tenang untuk menceritakan apa saja yang mereka kerjakan di pesta tersebut, secara berebutan mereka menjawab… kita bikin tempat pinsil, kita nonton balet, kita gak lari lari lho dirumahnya Fe, kita rustig lho! Trus kamu makan apa saja sampai kelaparan gitu? Kita makan taart saja seru Cinta, aku ga makan apa apa seru Cahaya. Kenapa? Tanyaku. Taartnya ga enak! Aku dan Luc menahan senyum, kemudian Luc berkata tapi kamu tak mengatakan itu kan pada orangtuanya Fe? Hhmmmmmm…. aku cuma bilang aku ga suka taartnya. Kata Cahaya lirih.

Belajar (Tidak Cukup Hanya Dengan Marah)

IMG_20150402_200401776[1]
Catur, salah satu teman sekelasku sewaktu SMA.
Tak banyak yang aku ketahui tentang dirinya, padahal dua tahun aku sekelas dengannya. Walau dulu rumahku dijadikan markas tempat anak anak berkumpul karena tempatnya yang strategis, di jalan besar buah batu. Tapi Catur bukan termasuk yang sering nongkrong di rumahku, ya lebih banyak teman laki laki yang dulu suka nongkrong di jalan buah batu.

Tapi kini, setelah ribuan mil jauhnya antara aku dengan dirinya, aku jadi semakin mengenalnya. Ya, mengenal dirinya dari tulisan tulisannya. Jadi terkaget kaget sendiri saat mengetahui kesukaannya dan tingkah lakunya ternyata tak jauh beda dengan diriku. Juga kegemarannya akan menulis.

Hari ini kembali aku membaca tulisannya, terdiam sejenak dan kemudian mengagumi kegigihannya. Ternyata ada ketidaksamaan antara aku dan dirinya. Dia, seorang Catur begitu tabah, sabar dan gigih mengajarkan anak anak membaca, sementara aku jangankan mengajarkan anak orang lain, mengajarkan Cinta Cahaya pun aku kadang menyerah.

Saat awal anak anak masuk sekolah aku sudah berkata pada Luc, bahwa aku akan menyerahkan cara pengajaran seluruhnya pada sekolah, aku tak akan mengajarkan Cinta Cahaya membaca atau berhitung kecuali mereka yang minta, aku akan melihat seperti apa metoda yang diberikan pada anak anak di sekolah, kemudian mengcopy cara pengajaran tersebut dengan tujuan aku tak ingin membuat Cinta Cahaya menjadi bingung jika cara yang aku ajarkan tidak sama dengan yang diberikan disekolah. Karena aku pernah membaca cara mengenalkan alfabeth pada anak anak umur 4-6 tahun (kleuteur) bukan A B C D seperti untuk anak umur 7 tahun keatas tapi dengan cara mengikuti suara seberti yang dikeluarkan huruf tersebut misalnya b dibaca beu, c seu d deu begitu seterusnya.

Tapi kemarin sore aku bertemu dengan anak Indonesia, berusia empat tahun sama dengan Cinta Cahaya, dia sudah bisa membaca dengan lancar, berhitung dengan baik, dan menurut ibunya, anak tersebut belajar dibawah bimbingannya setiap hari.
Tentu aku tak akan seperti dia yang begitu telaten mengajarkan anaknya, hari itu aku mencoba mengenalkan huruf huruf pada Cinta Cahaya dengan sebelumnya membaca panduan terlebih dahulu bagaimana cara mengenalkan hurf dengan benar pada anak umur 4 tahun.
http://www.veiliglerenlezen.nl/
Hanya berhasil 10 menit, tak apa apa pikirku dalam hati lumayan.

Sambil menghibur diri, aku berkata dalam hari, tentu setiap orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anak anaknya. Jika aku seperti membiarkan Cinta Cahaya selalu bermain, karena itulah yang ingin aku lihat pada anak anakku, bergembira. Mereka sudah bersekolah dari pagi hingga pukul 3 sore, datang ke rumah, waktunya bermain dan rileks pikirku. Untuk saat ini. Tentunya nanti jika semakin bertambah usia aku harus memberikan jam belajar pada mereka. Untuk saat ini, aku hanya memberikan jam belajar setiap hari rabu saja sepulang sekolah untuk belajar iqro. Di bawah bimbinganku. Dan ternyata mereka belajar cepat.

Kembali pada Catur temanku, kami pernah berdiskusi masalah bagaimana menerapkan cara menyampaikan pelajaran matematika dasar pada anak anak. Dia yang aku tahu bukan seorang guru, tapi dia mencari metoda terbaik untuk anak anak didiknya, anak anak tetangga di lingkungan rumahnya yang datang tiap malam ke rumahnya untuk belajar padanya. Dia, mengajarkan dengan sungguh sungguh dan gigih. Dia, tak dibayar barang serupiahpun……

Katanya padaku, aku prihatin pada anak anak masa depan….dan aku ingin mereka menjadi generasi yang baik.

Yayang, banyak yang dapat kau pelajari dari dirinya. Iklas, adalah kunci utama untuk meraih segalnya. Sesulit apapun, jika kita iklas akan selalu ada jalan.

Terimakasih Catur, hari ini setelah aku membaca blogmu, aku akan lebih sabar lagi jika sedang mengajarkan Cinta Cahaya mengaji… Tak cukup hanya dengan marah, seperti katamu…. Terima kasih kawan….

23 Januari 2014

Berikut tulisan Catur; Tidak Cukup Hanya Dengan Marah

Be a ba ha u hu … hahu

Ge a ga je i ji… baji

Es euseu p e pe de a da …segala

Em e me m pe u pu en ye a i hanya di eja saja dan tidak berhasil dirangkai. Aku menghela nafas. M anak kelas empat Sekolah Dasar yang sudah empat malam ini datang ke rumahku untuk belajar matematika, ternyata belum bisa membaca. Mungkin lain tanggapanku kalau dia masih duduk di kelas satu atau kelas dua, tapi ini kelas empat ??

Tidak.. aku tidak marah ataupun kesal pada M. bukan kesalahan dia sehingga dia belum bisa membaca. Aku menebak orang dewasa di rumahnya mungkin tidak paham dengan kondisi ini. Atau kalaupun paham mereka memiliki keterbatasan dalam mengajarkan M membaca. Seperti ketika beberapa waktu yang lalu aku mengundang para ibu dari anak-anak yang belajar di rumah untuk melaporkan perkembangan anak-anak dan memberi tahu metode yang aku gunakan, mereka langsung menyerahkan pengasuhan anak-anaknya padaku. “Terserah Bundalah mau dikumahakeun, yang penting anak-anak bisa belajar. Di rumah mah tara belajar da saya na oge teu ngarti. Tepok jidat deh..

Tapi aku juga tidak menyalahkan ibu-ibu ini. Ketidakmampuan mereka memahami materi yang dipelajari anak-anaknya dikarenakan mereka hanya sedikit saja belajar di sekolah. Seperti ribuan perempuan lain di Negara ini, drop out dari Sekolah dasar dan menikah muda menjadi bagian dalam perjalanan hidup mereka.

Tapi tidak untuk M !

Bukan masa depan itu yang ingin aku lihat dari anak cantik tetanggaku ini. M generasi lebih lanjut dari kami. Dan kalau dia tetap dalam kondisi seperti sekarang, bagaimana dia menghadapi tantangan nanti?

Bicara mengenai rasa kesal, tentu saja aku masih kesal. Aku kesal pada pihak-pihak yang memiliki kompetensi lebih dibandingkan masyarakat banyak tapi tidak memanfaatkannya, aku kesal pada institusi yang diberikan wewenang untuk mendidik tetapi bisa dengan mudahnya meloloskan M setiap tahunnya untuk naik kelas padahal sudah jelas-jelas kemampuan membacanya parah sekali. Jadi nilai di raport yang dijadikan acuan seorang anak menguasai bidang pelajaran yang dia pelajari selama satu tahun di tingkatnya sehingga boleh naik ke tingkat diatasnya itu datangnya dari mana ??? pulpen yang kepeleset ???

Ketika prestise lebih penting dari prestasi. Kebohongan lebih berarti dari kebenaran, menyelundupkan anak untuk naik tingkat lebih keren dibandingkan membiarkannya tinggal kelas untuk menyatakan bahwa dia belum cukup mampu, pada saat itulah anak-anak diajarkan bahwa curang itu tidak salah!

Menyedihkan… ketika arti “belajar” tergelincir menjadi rutinitas palsu lainnya. Menyedihkan ketika anak-anak ini hanya menjadi obyek dari target pencapaian angka di atas kertas.

Tapi sudahlah…

Cukup bersedihnya, sudah cukup kesalnya. Hanya bersedih dan merasa kesal tidak akan merubah keadaan.

Jadi, maaf M, kalau aku agak galak mulai malam ini. Mari berbalik sebentar, mengenal huruf demi huruf. Tak akan kubiarkan engkau meloncat pindah ke kata berikutnya jika kata yang kau eja belum tepat. Tak akan kubiarkan pula engkau pindah ke halaman berikutnya, jika kau hanya menghapal. Kau boleh tidak suka padaku, sekarang ataupun nanti. Tapi percayalah, usaha kita sama sekali bukan buang-buang waktu.