Happy Italy – The fastest restaurant ever

Tiga minggu yang lalu aku mendapatkan pesan suara di HP dari seorang teman, Claudia. Dia mengajak kami makan siang di Happy Italy, pesan yang berduarasi satu setengah menit itu membuat aku tersenyum sekaligus penasaran, katanya….. aku kangen banget ama kalian semua (aku, Luc dan anak-anak), mari kita ketemuan hari ini juga, aku berencana ke restaurant Happy Italy pukul dua siang nanti, restauran yang menyenangkan buat anak anak dan membuat kita happy juga karena harganya yang super murah.

Aku tertawa mendengar kata katanya yang terakhir, saat itu juga aku menelepon Claudia dan berkata bahwa aku tak dapat bergabung dengan dirinya karena saat itu aku sedang berada di Roermond dan berkata mungkin Luc dan anak anak tertarik akan ajakannya karena pada saat aku di Roermond Luc berada di rumah menjaga anak anak, Claudia setuju dia akan menghubungi Luc saat itu juga.

Baru aku tahu setelah aku datang ke rumah, bahwa Luc, Cinta dan Cahaya tak dapat bertemu dengan Claudia hari itu karena Cinta dan Cahaya menolak makan di Happy Italy dan tetap  bersikeras  ke rencana semula pergi ke indoor fun park Jungle di Vlardingen.

Dan kemarin kami memaksakan pergi ke centrum karena masih harus membeli kado buat acara pakje avond tgl 5 Desember nanti. Karena Cinta baru pulih dari sakit, tak mungkin kami mengajak jalan di luar, aku dan Luc berstrategi bahwa kami akan gantian mencari kado murah meriah untuk anak anak di Hema, karena Cinta dan Cahaya suka sekali main kasir kasiran di Hema Beurs Rotterdam, jadi cara termudah untuk membuat mereka asyik bermain adalah mengajak mereka ke Hema, mereka bisa makan alakadarnya sambil bermain, dan aku bisa belanja secara bergantian dengan Luc ke bawah.

Berhasil membeli beberapa mainan untuk mereka, kami segera berjalan menuju tempat parkir. Secara tak sengaja aku melihat restauran Happy Italy, teringat pada ajakan Claudia dan sangat tertarik dengan informasinya mengenai harganya yang super murah, aku dan Luc langsung berbelok masuk. Cinta dan Cahaya bersorak, karena mereka masih menagih ice cream yang tak aku belikan saat kami masih di Hema, melihat kami masuk ke restaurant dengan suara lantang Cinta berujar, kalau kami makannya pinter (dalam ari kata makannya habis) kita boleh pesan ice cream kaann……. We’ll see! Ujar Luc tegas.

Saat kami dipersilahkan duduk di tempat yang telah ditunjuk oleh pelayan restauran, Cinta dan Cahaya langsung bersorak saat melihat tak jauh dari tempat kami duduk terdapat arena bermain untuk anak anak, ada mandi bola, dan arena memanjat balok yang dilapisi busa mirip mirip dengan yang ada di Jungle hanya dalam skala yang lebih kecil. Kami mengizinkan mereka bermain disana. Kemudian aku dan Luc segera melihat menu dan benar benar terbelalak melihat harganya yang super murah, Luc memesan satu buah pizza Fiama untuk Cinta dan Cahaya seperti biasanya memesan pizza margarita untuk mereka sedangkan aku yang saat itu memang benar benar lapar mengingat di Hema aku hanya memesan capacino saja aku memasan pasta spagety. Untuk minumnya aku memesan munt thee fresh sedangkan Luc memesan teh biasa, untuk Cinta dan Cahaya tetap tak pernah berubah apapun makannannya minumnya susu coklat panas with whip cream.

Selesai memesan, pelayan yang super ramah mendatangi meja yang lain yang belum dilayaninya, dan tak sampai lima menit minuman pesanan kami datang diikuti pelayan yang lain yang mengantar makanan pesanan kami. Pertama tama datang pasta pesanku diikuti pizza untuk Cinta dan Cahaya, kemudian pelayan yang membawa pizza anaka anak datang kembali membawa kan pesanan Luc.

Saat pasta datang, spontan Luc berseru pada pelayan  bahwa dia tak menyangka akan datang secepat itu. Benar benar tak sampai lima menit. Selain pesanan yang datang secara cepat, yang membuat kami merasa nyaman adalah personil yang melayani kami yang sungguh sungguh super ramah, rasanya aku tak merasa berada di negara Belanda, tapi merasa berada di negara eropa yang iklim  panas, hangat dan ramah.

Yang membedakan dari restauran yang lainnya adalah, personil yang berseliweran, Happy Italia sepertinya royal sekali memperkerjakan orang, ada empat orang yang berbeda yang datang menyajikan pesanan kami, mungkin itulah mengapa restauran ini cepat sekali pelayanannya. Dan seperti restauran lain yang ada disini para personilnya adalah orang orang yang cekatan.

Yang menambah poin plus makan disini adalah, di meja kami tertulis bahwa restauran ini melayani membungkus makanan yang tak bisa kami habiskan di restauran, alias doggy bag. Mendapat tulisan tersebut membuat aku semakin nyaman untuk membungkus makanan yang tak habis. Hari itu kami membawa pizza margarita ke rumah karena anak anak hanya memakan sepotong kecil saja. Tentu saja mereka tak tertarik makan jika arena permainan terhampar di depan matanya.

Menyediakan jasa pembungkusan makanan sisa alias doggy bag

Menyediakan jasa pembungkusan makanan sisa alias doggy bag

Dan slogan yang ditawarkan di restauran ini benar benar sesuai dengan kenyataan yaitu… the fast Italian…. dan tentu saja membuat bahagia. Happy at Happy Italy? Yes!

Saat kami melangkah keluar restaurant, aku terkaget kaget dengan antrian yang panjang di depan restaurant, menanti meja yang yang kosong, dan tentu saja dari mereka adalah muda mudi yang akan bermalam minggu……
IMAG2939

Pintu masuk yang dijejali orang orang yang mengantri

Pintu masuk yang dijejali orang orang yang mengantri

Pasta Del Giardino

Pasta Del Giardino

Pizza Fiama

Pizza Fiama

IMAG2936   IMAG2937 IMAG2938  IMAG2945IMAG2932IMAG2933IMAG2929

Advertisements

Seminggu ga nemu nasi ;)

Sepertinya sudah biasa dari kebanyakan orang. Juga untukku, bahkan  sebelum datang ke Belandapun, aku bisa berhari hari makan tanpa nasi (maksudnya nasi yang dimasak normal, karena aku masih makan bubur atau lontong dan tetap bilang belum makan nasi!). Menikah dengan Luc datang ke Belanda, menjadikan aku sebagai ibu rumah tangga, artinya masak di dapur. Kalo dulu, uh boro boro, udah cape kerja lebih gampang makan diluar atau bawa masakan yang sudah jadi dan disantap di rumah.

Mengenali kebiasaan Luc sebelumnya, dia sebelum menikah ternyata orang yang tak suka masak juga, beli makanan yang tinggal dipanaskan di magnetron saja, atau hanya makan roti saja dan kadang kadang dia pesan dari internet yang langsung diantarkan ke rumah. Dari cara makannya, aku tahu dia bisa makan apa saja, tidak seperti orang Belanda totok yang biasanya hanya menyukai makanan yang dikenalnya sebelumnya. Luc termasuk orang yang suka eksplore terhadap makanan. Mencoba makanan baru adalah hobinya.. Itulah sebabnya dia begitu bergembira mendapati masakan Indonesia yang beraneka ragam dan hampir semua masakan yang aku masak dia suka.

Tapi kira kira dua minggu yang lalu, aku mencoba masak masakan yang gampang ala Barat, tapi tetap dari bahan bahan yang fresh (bukan dari frezzer) dan hasilnya tidak terlalu mengecewakan, selain masak nya cepet sekali, dan rasanya kami di minggu itu berasa menjadi orang yang sehat, karena ga terlalu masak pakai banyak garam dan minyak, aha.

Dan inilah hasilnya, masak selama seminggu yang bukan masakan Indonesia

IMAG2818

Lamchop met brokoli stampot

IMAG2831

Beefstuk

IMAG2824

Beefstuk, champions, spinazi stampot

IMAG2652

ikan, bayam, perkedel kentang 😉

DSCF6182

Lassagna (foto lama)

DSCF6942Bagaimana dengan kalian? Sekali kali masak yang gampang, sangat sangat menyenangkan……

Antri ke dokter

Hari selasa, saat jemput Cinta di sekolah gurunya laporan bahwa Cinta sangat pendiam di sekolah dan badannya sedikit panas.
Malamnya Cinta ternyata sakit panas badannya mencapai 39,1 derajat Celcius.

Hari rabu panas badannya turun, dia bersikeras tetap ke sekolah karena hari rabu ada Zwarte Piet ke sekolah.
Pukul 10 pagi, gurunya memintaku datang menjemput Cinta karena Cinta bebar benar sakit, dia mengeluh sakit telinga.

Tadi pagi, Cinta dengan panas badan yang masih tinggi dia laporan bahwa dia lapar dan ingin sekali makan, Tentu aku gembira setelah sehari kemarin tak ada makanan yang berhasil masuk ke perutnya, setelah Cahaya berangkat ke sekolah diantar papanya, aku segera menyiapkan makan pagi untuk Cinta, dia makan beberapa sendok sereal. Tak berapa lama dia muntah, mengotori karpet rumah kami. Setelah memandikan dia membereskan muntahannya, aku segera mengambil telepon dan menelepon dokter.

Di ujung sana saat aku meminta janji untuk bertemu dengan dokter, si assisten berkata bahwa jadwal hari ini sudah penuh, aku bertanya apakah besok masih ada tempat yang kosong untuk Cinta? Dan dengan santainya si assiten menjawab, ….. aku akan membuatkan janji untuk hari selasa, karena hari senin pun sudah penuh!

Whaaaatttttttttttttttt?????
Selasa??? Aku harus menunggu lima hari lagi untuk memeriksakan Cinta?

Saat aku masih berbicara dengan assisten dokter, Cinta kembali muntah dan kali ini aku melihat rambutnyapun terkena muntahan karena dia muntah saat masih berbaring.

Oh My God!

Cinta Asmara

Sewaktu aku hamil, aku dan Luc sibuk mencari nama untuk si jabang bayi. Kami sepakat menggunakan dua nama dalam nama mereka, satu nama Indonesia dan yang satunya boleh nama belanda atau nama internasional.

Aku ingin mereka punya nama yg puitis, nama dari bahasa sansekerta, nama dari bahasa Jawa atau nama yang diambil dari cerita pewayangan.

Dan nama nama yang aku ajukan beberapa kali ditolak Luc.

Dia tak suka nama yang berderet panjang.

Dia ingin nama yang ada huruf vokal u atau i.

Maka munculah nama Puji, Muji, Uci, Suci.

Dan giliran diriku menolaknya.

Hingga muncul nama Lucu, yang membuat diriku tersenyum tapi Luc tetap menempatkannya di kandidat paling atas.

Yang kemudian mendapat dukungan dari ibuku. Perpaduan nama Luc dan Atju (baca: Acu) katanya, nama ibuku! Hahaha.

Nama Cinta muncul, justru karena tidak diperhitungkan.

Terdengar gimana gitu……….. Kurang menggigit. Terdengar seperti cantika dan sebangsanya.

Kata Luc, dia ingin nama yang tidak biasa.

Apakah Cinta nama yang biasa? Tanyanya.

Tak banyak yang punya jawabku, yang aku tau Cinta Laura.

Kemudian aku menampilkan fotonya.

Dan haaahhhhhh. Luc suka sekali, cantik katanya, dan dia makin terbahak ketika aku menceritakan bahwa Cinta Laura terkenal dengan cara bicaranya.

Jadi benar adanya kalau nama Cinta terinpirasi juga dari nama Cinta Laura. Ojek dan Becek ada diantaranya.

Dan jadilah Cinta Amarantha. Amarantha yang dalam bahasa spanyol adalah nama dari salah satu nama bunga. Dan dalam bahasa Yunani yang berati abadi.

Cinta yang abadi.

Nama Cahaya justru diambil dari dari semua nama yang aku, ibuku, dan Luc ajukan. Ketika semua artinya dilihat semuanyan menunjukan arti yang sama. Cahaya!

Namaku Nurul, diambil dari kata nur yang artinya cahaya. Kataku.

Namaku Lucas, yang artinya pemberi cahaya. Ujar Luc.

Dan jadilah Kyla Cahaya. Kyla yang diambil dari bahasa Skotlandia (asal Kakeknya Luc) yang berarti menawan, memikat.

Cahaya yang menawan.

PS. Shakespeare bilang, apalah arti sebuah nama…
Dan aku bilang…. Cahaya dan Cinta adalah nama anak anakku, dimana ada cahaya dan cinta disetiap langkah kami dan orang orang disekeliling kami.

Cinta Amarantha and Kyla Cahaya

Cinta Amarantha and Kyla Cahaya

Sebuah renungan

Hari jumat, dua hari yang lalu. Pagi itu aku sudah berada di kelas. Musim gugur akan segera berakhir, tinggal menghitung hari saja digantikan musim dingin. Di pagi yang dingin itu aku tengah memperhatikan kaca jendela besar dihadapanku, lima belas menit lagi menuju pukul sembilan pagi, namun diluar sana matahari belum muncul terhalang kabut tebal menambah suasana terasa senyap diiringi hujan rintik rintik.

Pemandangan di luar jendela itu menghidupkan kenangan lima tahun lalu saat aku terbaring di rumah sakit. Perawat pria berkepala botak yang paling sering kena shift malam tiba tiba saja sudah bertugas di shift dua, dia datang dengan keceriaannya mengecek temperaturku, membuang air pipisku yang ditampung di plastik yang tergantung di sisi tempat tidurku, mendata berapa jumlah volumenya, dan mencatatnya di komputer yang ada di sebelah pintu. Sambil melakukan tugas tersebut dia memandang ke luar jendela sesaat, menggosok gosokkan lengannya sambil berkata musim gugur akan tiba, aku paling suka musim gugur, daun daunnya, anginnya, hujannya bahkan bau udaranya. Ujarnya.

Aku takjub mendengar penjelasannya, aku tak dapat berkomentar akan semua ucapannya, saat itu aku sudah tersadar dari koma tapi masih belum bisa bicara, aku juga tak dapat melirik jendela dan melihat angin musim gugur yang dia maksud. Jendela itu ada dibelakang kepalaku, tak mungkin aku menengok ke belakang, saat itu aku tak dapat bergerak tanpa bantuan orang lain. Tapi dari ceritanya aku seolah bisa melihat apa yang dia ceritakan.

Melihat pohon pohon yang bergoyang ditiup angin, daun berterbangan dari balik jendela kelasku, memoriku seperti kembali pada perawat berkepala plontos itu yang aku claim sebagai sahabat terbaikku saat di rumah sakit selain dokter Cornet dokter favoritku.

Dari pemandangan diluar sana, aku teringat beberapa kejadian sebelum aku terbaring koma, masih cerita di rumah sakit beberapa hari setelah melahirkan. Luc membantuku memasangkan alat pemompa air susu di dadaku. Alat elektronik berwarna kuning itu tetap tak membantu, kemudian Luc menaruh alat tersebut di pinggir tempat tidurku, dia bermaksud memanggil perawat untuk membantu menjalankan alat tersebut, tapi kabel yang masih tersambung pada stop contack menjegal kakinya, dan alat yang berada di pinggir tempat tidurku pun jatuh terguling ke lantai. Aku tau alat tersebut akan rusak, dan benar saja. Esok harinya aku mendengar kabar dari Luc bahwa dia harus mengganti alat tersebut yang dia sewa dari rumah sakit, dan uang pengganti untuk alat pompa itu tidaklah sedikit.

Aku tau bahwa ada sesuatu yang tak beres denganku setelah operasi melahirkan itu, moment ‘alat pompa susu’ itu masih membekas di ingatanku, aku melihat Luc yang kelelahan, dia yang tiba tiba menjelma menjadi seorang ayah baru, begitupun diriku seorang ibu baru, tanpa siapa siapa di Belanda, kami sepasang orang tua baru bagi bayi kembar kami. Tak ada tempat bertanya bagaimana memberikan susu bagi si kembar. Dan kemudian kejadian kejadian dramatis berturut turut silih berdatangan menimpa kami, aku tiba tiba saja harus dilarikan ke ruang operasi kembali. Operasi yang kedua, operasi yang ketiga, dan operasi yang keempat….. Tiga kali operasi yang dilakukan berturut turut (dalam tiga hari) menjadikanku tak berdaya, aku dinyatakan koma selama dua minggu!

Ada kedua orangtuaku saat aku membuka mata untuk yang pertama kali setelah tidur panjangku. Secercah harapan muncul, aku dinyatakan membaik dari hari kehari. Kemudian aku bisa bicara kembali, mendengar penjelasan Luc bahwa kedua orang tua kami dikirim kakakku ke Belanda. Di kemudian hari aku tau bahwa kakakku telah mengirim orangtua kami dengan jumlah tiket yang fantastis seharga 5500 dolar (aku melihat tiket mereka saat mereka akan pulang ke Indonesia).

Sejak orangtuaku kembali ke Indonesia, aku dan Luc semakin memiliki kontak bathin dengan kakakku dan istrinya, mereka yang berjuang mati matian untuk membantu kami, saat aku sakit. Luc selalu berujar padaku bahwa dia akan mengingat dan akan selalu berterima kasih atas apa yang telah mereka lakukan untuk kami.

Hanya beberapa bulan setelah kesembuhanku, cobaan yang lain muncul dan giliran kakak keduaku yang tertimpa prahara.

Seperti sudah jadi takdir pada  si sulung, kembali dialah yang menjadi jembatan utama untuk membantu agar semuanya menjadi tentram kembali,  agar kami semua baik baik saja secara emosi.

Dan di tahun 2013 saat kedua orang tua kami tengah berlibur di Belanda, cobaan ketiga datang pada keluarga besar kami, kali ini giliran si sulung. Dan kini dapatkah kami sebagai adik adiknya membantu dia? Aku menggeleng.

Aku tak pernah mendengar keluhan darinya, dia begitu tegar dan kuat seperti biasanya. Aku seperti kehilangan daya kreatifku bahkan hanya untuk bertanya padanya, apa yang bisa aku bantu? Apakah kau baik baik saja? Untuk sekedar melontarkan pernyataan penghiburanpun aku tak mampu.

Aku melihat dan belajar dari kedua kakakku dalam mengatasi masalahnya, mereka berdua kembali ke akarnya, mereka mencari solusi dari semua permasalahan dengan kembali mempelajari agama.

Kakak kedua menjadi lebih kalem, menurut ibuku sifatnya yang dulu agak temperamental tak lagi ada, masih tetap kadang berpikir berbeda diantara kami berempat (tapi Luc berkata Jerry adalah orang yang jenius, orang jenius berpikir beberapa langkah dari orang kebanyakan, itulah sebabnya mengapa berbeda, dan Jerry adalah favorit suamiku). Masih menurut ibuku, sekarang dia rajin membaca buku buku agama dan banyak tau tapi tak sok tahu. Istilah ilmu padi pantas diberikan padanya. Dan apa yang dilakukan kakak keduaku dalam berproses untuk berdamai dengan masalahnya, diacungi jempol oleh kedua orang tua kami.

Kemudian minggu yang lalu, ibu bercerita dan memintaku untuk bicara dengan si sulung. Masalahnya cukup membuatku tersenyum simpul. Ibu tak suka kakakku memberikan jempol pada apa yang dia baca. Contohnya berita politik  yang ada hubungannya dengan dua kubu yang bersebrangan di pemilu 2014 kemarin. Aku berkomentar balik pada ibu, mengapa aku yang harus bicara, mengapa bukan ibu saja? Ibu berkata, dia sungkan untuk berbasi basi soal itu, hahaha, aku juga seruku. Maka kutulis saja apa yang menjadi ganjalan ibu.

Seperti yang banyak orang ketahui, pemilu yang baru lalu banyak menimbulkan ‘keajaiban’ antara dua kubu yang berbeda. Pun yang terjadi pada kami, aku serta ayah ibu condong pada kubu A dan kedua kakakku condong pada kubu B. Sedangkan adikku sepert sebuah misteri, tapi aku tahu dengan pasti dia ada di kubu yang sama denganku.

Mulanya aku juga tak perduli, siapapun yang menang, justru ketertarikanku untuk semakin keukeuh mendukung jagoanku setelah aku ber chating ria dengan kakakku ini. Rasanya pemikirannya yang biasanya sejalan denganku kini berbeda banyak.

Kami semua tahu bahwa politik adalah panggung sandiwara. Juga saat pengumuman pemenang pemilu diumumkan, saat aku ada di Indonesia, kami saling tertawa dan berseloroh bercanda tentang hasil pemilu ini. Walau berbeda pendapat kami tetap berada di koridor yang terkontrol dan terkendali. Ehmmm.

Aku kira pertarungan ini telah selesai. Terus terang aku tak tertarik lagi menanggapi para penonton yang ternyata kadang masih bertentangan di media sosial walau kini caranya lebih santun. Pun saat kakakku memberikan jempol pada berita media online yang dibacanya.

Menurut ibu, kakakku boleh membaca apapun dengan bebas apa yang dia suka, tapi tolong jangan memberi jempol ujarnya. Tanyaku, mengapa tak boleh? Ibuku menjawab, soalnya yang dia beri jempol adalah sesuatu yang tak penting. Jempol itu tidak sesuai dengan kelasnya. Kakakku seorang yang elegan, tak pantas ikut ikutan berjempol ria seperti yang lainnya. Yang langsung aku sambut dengan gelak tawa.

Aku mengerti maksud ibuku. Dia yang telah meraih jabatan penting pada suatu perusahaan asing di usia muda, yang menjadi barometer pemegang keputusan penting setelah ayahku. Si sulung adalah pemegang simbol si benar, dia tak boleh salah sedikitpun, dia tak boleh melakukan kekonyolan sedikitpun, bagi kami dia adalah simbol sukses dalam segala hal. Dalam keluarga, dalam pekerjaan, pemegang simbol favorit dalam semua urusan. Dan menurut ibu kadar berita yang dia baca tak sesuai dengan kapasitas predikat cerdas yang dia sandang selama ini. Bagaimana bisa dia memberi jembol pada berita seperti itu?

Ah, kataku. Sudahlah. Tak ada sedikitpun niatku untuk memenuhi keinginan ibuku agar aku bicara pada kakakku apalagi hanya urusan si jempol, hingga aku melihat dia sharing berita dari media online abal abal. Aku sedikit merenung, patutkah kukabulkan permintaan ibuku? Belum tuntas aku berpikir, aku melihat komentar adikku untuk si sulung, cukup jelas apa maksud adikku. Adikku menjawab dengan artikel lain yang menyatakan…. Anda suka share berita dari bla bla bla dsb? Anda kurang Vitamin D 🙂

Awalnya aku tertawa membaca komentar si bungsu, tapi tidak setelah membaca jawaban si sulung atas komentar si bungsu, walau kakakku menjawab dengan tulisan riang gembira dan penuh canda tapi menurutku ada yang salah dari jawaban tersebut. Lebih jelasnya ada yang hilang dari sikapnya yang aku kenal dulu.

Tapi kemudian aku merenung. Tak baik aku mentertawakan pendapatnya, setiap orang boleh dengan bebas berpendapat, pendapatku belum tentu lebih baik darinya. Aku sedikit malu ketika muncul perasaan yang membisikiku bahwa jawaban kakakku tidak s-elegan seperti biasanya. Ah aku seperti orang yang merasa benar dan dia salah. Itu tak baik!

Maka kuhapus pikiranku bahwa aku pernah tertawa membaca komentarnya  atas berita yang telah dia share. Dan kupaksa agar aku hanya mengingat bagian awal dan akhirnya saja ….. don’t  think to much…… intinya kita harus membaca secara berimbang….. Begitu tulisnya.

Kepada Rully, Jerry dan Akbar….. Seperti ayah dan ibu yang begitu bangga pada kalian, begitupun aku yang sangat bangga pada kalian. Dari kalian aku mempelajari keteladanan selain dari orangtua kami tentunya.

Terima kasih ayah ibu yang selalu mengajarkan agar kami rukun selalu. Semoga kami bisa menjadi seperti yang kalian harapkan.

Dosenku kini telah berada di dalam kelas, artinya pandangan lurusku ke arah jendela besar yang ada di hadapanku harus aku alihkan. Goyangan pohon pohon di musim gugur harus aku lupakan sejenak, juga ingatan akan perawat yang aku claim sebagai sahabatku di rumah sakit. Musim gugur selalu menimbulkan berbagai memori dalam hidupku. Juga akan rindunya aku pada keluargaku di Indonesia.

Love,
Yayang

The Supandukos

The Supandukos

Apabila si dia tidak romantis

Beberapa hari yang lalu, aku berbalas pantun dengan temanku tentang cowok yang merayu ceweknya, tapi membuat kami ‘sebagai penonton’ tersenyum geli mendengar dan melihat rayuannya.

Si A bilang ih dah ga jaman…,
Si B bilang kalo aku yang dirayu kayak gitu ga mempan tuh…….
Si C bilang garing abis………
Si aku bilang……. jadi pengen dirayu!
Hahaha.

Kemudian bermunculanlah tip tips apa yang harus kita lakukan untuk membuat si dia tertarik untuk merayu kita, dari sekedar lucu lucuan hingga serius.

Tapi itulah saat pertama kenal dengan orang yang kini menjadi suamiku, dia bukan orang yang romantis, pun kini setelah kami menikah. Dengan berjalannya waktu dan dengan pengamatan seadanya, aku menyadari bahwa orang Eropa bukan type perayu, mereka tidak mengeluarkan kata kata gombal, mereka tidak membuat berbagai cara agar orang yang ditaksirnya impres pada rayuannya, dan bersusah payah agar orang tertarik pada kata katanya yang semanis madu.

Lalu dari mana anggapan bahwa orang Barat lebih romantis daripada orang Asia?

Mungkinkah mereka melihat dari film film Amerika? Yang begitu menawan hati dalam memanjakan pasangannya?

Tentang memberikan bunga? Oh disini sudah menjadi hal yang biasa orang membawa bunga, seperti halnya seorang suami membawa pisang goreng buat oleh oleh anak dan istri di rumah sepulang kerja.

Dan kemarin sore saat Luc pulang kerja, sesaat setelah menemuiku di ruang tengah, dia bergegas naik ke lantai atas dan membawa koper besar dan menaruhnya tepat dihadapanku sambil tersenyum riang….

Tanyaku,
Apa ini?
Koper… jawabnya masih tersenyum
Aku tau…

Isi dengan baju ganti untuk kita berempat, kau boleh pilih ke negara mana kau ingin berlibur, kita berangkat minggu depan selama seminggu…..

What?

Dan airmataku tiba tiba meleleh diantara haru dan bahagia yang luar biasa.

Kemarin pagi sebelum dia berangkat bekerja, aku mengatakan padanya bahwa beberapa minggu ini aku lelah sekali, dengan kesibukanku sebagai istri dan ibu dari dua anakku. Aku bilang padanya aku bukannya mengeluh tentang menjadi seorang ibu, aku hanya minta advis padanya bagaimana caranya agar aku bisa sedikit santai dan tidak sesibuk ini? Aku ingin bisa mengatur waktu dengan baik. Dan aku akhiri curhatku dengan kata kata, aku butuh liburan…..

Maksudku, hanya jalan jalan kecil saja bersamanya dan anak anak, teringat akan empat buah tiket yang telah aku beli tapi belum aku tunjukan padanya, tiket ke sebuah taman rekreasi di Belanda yang aku beli di supermarket dengan korting 50%.

Kini aku tau tentang satu hal, perayu dan romantis adalah dua hal yang berbeda.

Dia memang bukan perayu, dia tidak pernah melakukan hal gombal padaku, baik dengan tingkah laku ataupun kata kata. Tapi bagiku apa yang baru dia lakukan adalah hal romantis, dia tidak pernah minta izin cuti pada bosnya sebelum mendiskusikannya denganku, dan yang dia lakukan adalah hal diluar normal, dia melakukannya untuk menyenangkan hatiku, bukankah itu hal yang romantis?

Kami bukanlah keluarga kaya raya yang bisa seenaknya merencanakan liburan sesuka hati, disini untuk makan di restaurant pun  kami harus berpikir bijak,  apakah memang perlu?

Ketika aku bertanya, masih dengan wajah haru dan bahagia…

Apakah tidak terlalu berlebihan kita berlibur saat ini? Bukankah dua bulan lalu kita baru pulang berlibur dari Indonesia?

Dan jawabnya,
It’s ok, bukan hal yang salah jika ingin berlibur, dan itu suatu hal yang menyenangkan untuk kita semua, dan bagiku menyenangkan mengabulkan permintaanmu dan membuatmu bahagia………….

Terimakasih kekasihku 🙂

Rotterdam, 4 mei 2012

Please, leave me alone!!!

Fenomena ingin ditinggal sendiri di rumah kiranya tengah mewabah disini.

Beberapa hari terakhir aku membaca status teman yang intinya mereka merasa berbahagia berada di rumah sendirian.

Yippppppppiiiiiiii, just me at home : Laki-laki Belanda, menikah dgn wanita Belanda mereka punya seorang anak ABG

Horreeeeeee, home alone : Wanita Indonesia menikah dgn laki-laki Belanda mereka punya dua anak balita.

Yeayyyyyy home alone, is het Leuk! : Seorang ABG usia 13 tahun yang lahir dari orang tua Indonesia, lahir di Belanda.

Dua minggu yang lalu aku diculik oleh teman sekelasku semasa SMA ke Den haag, tak lupa aku membawa kedua anakku. Menelepon suamiku bahwa aku akan tiba sekitar 3 jam setelah dia berada di rumah sepulang kantor, berpesan makan malam sendiri saja, karena kami sudah makan malam di rumah temanku. Suamiku menjawab dengan gembira di ujung sana… have fun with your friend!

Sesampainya di rumah aku berkata dengan penuh hikmad pada suamiku sambil mengelus punggungnya….
‘Maaf kau berada di rumah saat kami masih di luar’

Dan jawabnya,
‘Sweet heart, it’s amaging just me at home for  3 hour!!!’

Huaaaaaaaaaaaaa

PS. Everybody need to be alone just for a while!

Rotterdam, 25-05-2012