Awug Bandung

Waktu kecil aku suka sekali jajan awug. Hampir tiap pagi beli di si mbok yang jualan dengan menggunakan bakul gendong yang datang ke setiap rumah. Pesanannya selalu sama awug dan lupis.

Nah sekarang kangen dong makan awug, setelah serching di internet dari tiga resep semuanya sama yaitu menggunakan tepung beras dan tepung ketan yang dicampur dengan komposisi yang sama. Nah dengan berbekal keyakinan resep tersebut akan sama persis dengan awug idaman, mulailah aku mulai menemukan kendala pertama yaitu aku ga punya ‘aseupan’ atau wadah berbentuk segitiga kerucut yang biasanya digunakan untuk menanak nasi di jaman dulu.

Maka jadilah besek yang dijadikan percobaan, masalah bentuk bolehlah berbeda, asalkan rasa sama kan? Ini nih besek yang aku maksud, besek bekas tape singkong yang aku beli di Oriental toko.

Besek alias pipiti ;)

Besek alias pipiti ­čśë

Nah ternyata resep yang aku dapatkan sama sekali berbeda dengan awug jaman dulu yang aku kenang, kok jadi mirip kue bugis ya? Lengket dan basah.

Beberapa waktu yang lalu aku melihat postingan teman yang bikin awug juga, wih gambarnya persis awug idaman. Langsung dong aku App dia, berikut resep ala Catur temanku yang rasanya dan bentuknya mirip dengan awug masa kecilku.

Bahan:
* 400 gr tepung beras, kukus selama 20 menit
* 250 gr gula merah, iris hingga halus
* 100 gr kelapa parut

Caranya:
* Setelah tepung beras dikukus satukan dengan kelapa parut kira kira 75 gr, sisa kelapa parut untuk taburan setelah awug tersebut jadi.
* Susun selang seling campuran tepung beras dan kelapa parut dengan irisan gula merah.
Ingat tepung beras tersebut harus diciprati air yang telah dicampur garam, secukupnya saja, kemudian taburi gula merah kemudian tepung beras, ciprati lagi, begitu seterusnya hingga bahan habis.
* Nah kukus deh kurang lebih satu jam

Dan inilah hasilnya, selamat menikmati dan mencoba bagi yang doyan awug. Oh ya bagi teman teman yang tinggal di Belanda, mungkin tau dimana toko yang menjual aseupan? Duh aku ga tau apa bahasa Indonesia nya aseupan ­čśë
IMG_20150405_230613065[1]

Donat vs Oliebol

Dari kemarin anak anak sudah merengek rengek ingin membuat cup cake, berhubung mereka hanya suka membuatnya saja dan tak mau memakannya, aku memaksa mereka untuk mengurungkan niatnya membuat cup cake dan mengganti dengan membuat donat saja.

Bercerita tentang membuat donat kentang adalah obsesiku sejak kecil. Aneh ya? Semuanya terinpirasi sewaktu aku kelas lima SD dulu, aku mempunyai teman yang ibunya bisa membuat apa saja. Sampai suatu hari beliau membuat donat yang super lezat, saking lezatnya aku berkali kali menceritakan pada ibuku bahwa donat yang dibuat ibunya Rini itu terbuat dari kentang, aneh kan? Kata ibuku ibu temanku itu memang hebat dan ibuku berharap suatu hari nanti aku bisa ┬ámembuat donat kentang seperti buatan ibunya Rini itu, padahal saat itu aku berharap ibuku mau membuatkannya untukku. ­čÖé

Dan siang ini sibuklah kami bertiga membuat donat kentang, dengan bahan bahan sbb;
* 300 gr kentang, kupas, rebus
* 500 gr tepung terigu
* 100 gr botter
* 50 gr susu bubuk
* satu sachet ragi instan
* 1/2 sendok teh garam
* 4 butir kuning telur
* 100 ml susu cair

Nah sekarang cara buatnya;
Kentang, botter, susu cair dan kuning telur disatukan dalam baskom dan langsung dihancurkan bisa menggunakan alat penghancur untuk membuat aardapel pure atau pakai mixer. Di baskom lain satukan tepung terigu, ragi instan, garam dan susu bubuk aduk sampai rata, kemudian satukan dengan bahan kentang tadi, uleni sampe kalis. Kemudian diamkan kira kira 10 sampe 15 menit.

Setelah itu bagi bagi berbentuk bulat, dan lubangi menggunakan telunjuk, langsung goreng saat itu juga. Dan tralaaaaaaaaa jadi lah donat buatan Cinta dan Cahaya yang lebih menyerupai oliebollen daripada donat donat cantik yang banyak di jual di Indonesia.
PhotoGrid_1419961230254[1]

Secara kebetulan aku membuka FB dan disitu sudah ada gambar donat cantik buatan Dira dan Mufid, kakak adik yang seumuran Cinta dan Cahaya juga. Tercengang kok bisa kompakan sih? Padahal kan lain negara, hihihihi. Hanya yang membedakan buatan mereka donatnya cantik, ternyata saudara saudara donat buatan mereka adonannya digiling dulu, kayak bikin pizza gitu, trus dicetak pake gelas untuk bolongnya dilubangi pake tutup air mineral. Oalala pinter banget sih mamanya Dira. Okelah kalau begitu, lain kali kita pasti membuat donat dengan trik cerdas ala mereka! Terimakasih ya ilmunya.
FB_IMG_1419960966859[1]

Nah berhubung untuk membuat bolongnya dicetak dari tutup air mineral, jadi ada donat mini yang tercipta, bulat bulat mirip oliebollen, bercerita tentang oliebollen, oliebol adalah makanan khas di Belanda yang muncul pada akhir tahun saja, oliebollen akan ada memeriahkan malam pergantian tahun baru, herannya begitu tanggal satu january tiba, gerobak oliebollen itu akan menghilang juga. Biasanya satu buah oliebol akan dijual seharga satu euro, di daerah kami untuk pembelian 5 euro maka akan ada bonus satu olliebollen. Di tempat lain jika membeli 10 oliebollen maka cukup membayar 9 euro saja.

Apa sih istemewanya oliebol? Menurutku sih biasa saja, hanya tepung terigu dicampur air trus digoreng, trus ditaburi gula tepung, persis donat lah. Hanya donat lebih cantik dari dalam segala hal, cantik dan rasa. Tapi begitu banyak orang lho yang merindukan oliebollen, contohnya Luc! Setiap lihat kram olliebol kesannya pingin mampir saja, walaupun kram kecil yang ada di Praxis saat kami kebetulan belanja disana dua minggu lalu, komentar Luc kasihan ga laku….. ┬ámari kita beli, padahal sih pengen oliebol hahaha.

IMAG0888

Penampakan oliebol krenten yang dijual disini

FB_IMG_1419962016673[1]

Foto kram oliebol tahun lalu ( tahun 2013)

Oh ya setiap tahunnya ada kontes tentang si oliebol ini, olliebol mana sih yang paling enak? Hasil dari AD Oliebollentst 2014 pemenangnya adalah olieballen dari kota IJsselstein, nilainya 10.
http://www.ad.nl/ad/nl/12107/tests/integration/nmc/frameset/varia/oliebollentest_2014.dhtml
http://www.ad.nl/ad/nl/12107/AD-Oliebollentest-2014/index.dhtm

So, kalian bakal pilih mana, donat atau oliebol? Aku sih lebih suka donat. Tapi lain lagi dengan Cinta dan Cahaya, begitu selesai membuat donat hari ini, mereka secara serempak bertanya padaku sambil merayu…. Besok kita bikin cup cake ya Bunda…..

Walah tahun baru, bikin cup cake?

Selamat Tahun Baru 2015 temans….. Semoga di hari mendatang lebih membawa kebahagian dan kedamaian buat semuanya……

Persedian musim dingin

Hari ini aku tak masuk sekolah, setelah sehari sebelumnya dosenku memberi kabar bahwa hari selasa ini dia tak dapat mengajar karena dia keseleo sangat parah hingga tidak bisa berdiri apalagi berjalan.

Maka malam itu juga aku segera masuk dapur setelah anak anak tidur jam delapan malam. Memenuhi pesanan Cinta yang minta dibikinkan pempek sejak dari beberapa bulan yang lalu. Cerita mengenai Cinta yang doyan pempek emaknya agak janggal juga, berhubung beberpa bulan terakhir ini aku semakin disibukkan untuk urusan ini itu, maka urusan menyiapkan makanan kesukaan keluarga cukup terbengkalai juga, berkali kali Cinta minta pempek dan aku selalu berjanji untuk membuatkannya, namun tak kesampaian juga hingga aku memutuskan memesan pada seseorang yang sudah cukup terkenal disini membuat pempek lewat pos, pempek terkirim namun Cinta tak mau memakannya, dia minta buatanku. Kemudian seorang kawan membawa pempek buatannya, dan kembali Cinta menggeleng.

Dan malam itu aku menggiling 1 kg ikan panga disatukan dengan 1 kg tapioca. Tak cukup disitu aku menambahkan membuat pempek tanpa ikan setelah melihat resensi http://www.justtryandtaste.com/2012/11/pempek-dos-pempek-gurih-walau-tanpa-ikan.html dan hasilnya hingga pukul 11 malam aku masih berkutat di dapur dan tak sempat kulanjutkan sisa adonan pempek yang masih harus direbus, besok saja, pikirku.

Dan hari ini, pagi setelah mengantar anak anak ke sekolah aku menyempatkan diri ke toko bunga, menikmati bunga bunga, membeli beberapa untuk menambah koleksi tanaman di rumah. Bahagia rasanya setelah mengantarkan anak anak tak harus ke sekolah tapi menikmati pertokoan di sekitar kami tinggal.

Sampai di rumah niatku untuk melanjutkan sisa adonan pempek semalam, sedikit terganggu saat aku berpikir bahwa inilah saat yang tepat untuk mengisi frezzer yang kosong. Kemudian aku mengeluarkan tiga bungkus kulit lumpia, membiarkannya pada suhu kamar agar mencair dan bisa digunakan untuk membuat lumpia. Sambil menunggu cair aku langsung membuat isi lumpia semarang. Dua kaleng rebung yang telah dipotong korek api, setengah kilo gram daging ayam dan lima buat telur ayam, semuanya aku tumis dan ditambahkan bumbu royko. Dikatel yang lain aku membuat isi lumpia sayuran kesukaan Cinta dan Cahaya. Hanya berisi irisan bawang bombay, spitkool, daun bawang dan wortel.

Setelah semunya jadi aku duduk di depan tv, sambil menggulung lumpia. Di TV tersaji acara rumpi dari Trans TV dengan pembawa acara (Fenny Ros?) yang memanggil dirinya sendiri dengan sebutan ka Ros. Yang jadi bintang tamunya adalah Ange Lelga yang bercerita tentang tas kremes-nya. Si kremes itu bisa mendatangkan untung hingga 200 juta rupiah perbuahnya, dia beli, dipakai kemudian di jual kembali. Saat itu aku mendengarkan cerita dia sambil tanganku sibuk menggulung lumpia untuk ransum kami. Rasanya aku bagaikan ibu ibu di gang gang sempit yang dulu pernah aku datangi saat aku masih bekerja di lembaga survey. Melihat acara TV semacam gossip dan sebangsanya sambil tangannya mengerjakan pekerjaan rumah, sambil mulutnya sesekali ikut mengomentari atau sekedar celotehan… ah artis mah bisa beli apa aja, kita mah cuma bisa nonton. Pernah suatu hari aku bertanya pada ibu ibu tersebut, bagaimana perasaan mereka melihat tontonan kemewahan di TV? Mereka hanya menjawab lugu dan pasrah, ah biasa aja…. itu kan udah hidupnya mereka serba enak, kita mah gini aja sudah syukur.

Mengingat itu, aku seperti dihadapkan kenyataan inilah aku, sibuk setiap harinya dengan urusan anak anak, suami dan diriku sendiri. Semuanya berkutat di urusan rumah dan sekolahku. Aku menjalankannya dengan pasrah dan biasa saja, seperti sesuatu yang sudah seharusnya. Begitupunkah dengan Angel Lelga? Apakah dia juga merasa bahwa sesuatu yang dijalankannya adalah memang begitulah seharusnya? Dan perkataan dia bahwa hanya dua hal yang dia takuti yaitu cowok jelek dan jatuh miskin. Jawaban konyol sekaligus jujur.

Tapi sudahlah mari lupakan acara TV yang tak mutu itu  (eehhhmmm tapi aku tetap menontonnya hingga abis) kembali ke masalah semula, masalah ransum di musim dingin. Dan ini lah hasilnya, 45 buah lumpia semarang dengan menggunakan double kulit lumpia, 55 buah lumpia vietnam dengan single kulit lumpia. Dan puluhan pempek lenjer dan belasan pempek kapal selam. Semuanya aku kemas manis di plastik, aku tulisi nama dan tanggal pembuatannya dan siap dimasukan ke frezzer.

Kelak saat anak anak minta, aku tinggal mengeluarkannya dari frezzer dan menggorengnya, dan jika ada teman Indonesia yang datang ke rumah aku dengan mudah bisa menyiapkannya secara cepat.

Praktis bukan, ayo tengok isi frezer kalian, jika masih kosong cepatlah buat…..

Lumpia semarang

Lumpia semarang

IMAG3041

Vietnam Loempia

IMAG3044

Siap masuk frezzer

Seminggu ga nemu nasi ;)

Sepertinya sudah biasa dari kebanyakan orang. Juga untukku, bahkan  sebelum datang ke Belandapun, aku bisa berhari hari makan tanpa nasi (maksudnya nasi yang dimasak normal, karena aku masih makan bubur atau lontong dan tetap bilang belum makan nasi!). Menikah dengan Luc datang ke Belanda, menjadikan aku sebagai ibu rumah tangga, artinya masak di dapur. Kalo dulu, uh boro boro, udah cape kerja lebih gampang makan diluar atau bawa masakan yang sudah jadi dan disantap di rumah.

Mengenali kebiasaan Luc sebelumnya, dia sebelum menikah ternyata orang yang tak suka masak juga, beli makanan yang tinggal dipanaskan di magnetron saja, atau hanya makan roti saja dan kadang kadang dia pesan dari internet yang langsung diantarkan ke rumah. Dari cara makannya, aku tahu dia bisa makan apa saja, tidak seperti orang Belanda totok yang biasanya hanya menyukai makanan yang dikenalnya sebelumnya. Luc termasuk orang yang suka eksplore terhadap makanan. Mencoba makanan baru adalah hobinya.. Itulah sebabnya dia begitu bergembira mendapati masakan Indonesia yang beraneka ragam dan hampir semua masakan yang aku masak dia suka.

Tapi kira kira dua minggu yang lalu, aku mencoba masak masakan yang gampang ala Barat, tapi tetap dari bahan bahan yang fresh (bukan dari frezzer) dan hasilnya tidak terlalu mengecewakan, selain masak nya cepet sekali, dan rasanya kami di minggu itu berasa menjadi orang yang sehat, karena ga terlalu masak pakai banyak garam dan minyak, aha.

Dan inilah hasilnya, masak selama seminggu yang bukan masakan Indonesia

IMAG2818

Lamchop met brokoli stampot

IMAG2831

Beefstuk

IMAG2824

Beefstuk, champions, spinazi stampot

IMAG2652

ikan, bayam, perkedel kentang ­čśë

DSCF6182

Lassagna (foto lama)

DSCF6942Bagaimana dengan kalian? Sekali kali masak yang gampang, sangat sangat menyenangkan……

Sayur mayur murah

Salah satu keuntungan dari bergaul adalah…. aku jadi tau dimana harus beli sayuran yang harganya jauh lebih murah dari biasa yang aku beli.

Sabtu kemarena aku ke pasar di Grote visserijstraat, setelah aku tak sanggup lagi berdesak desakan di pasar Blaak, karena menurutku setelah Markthal dibuka, rasanya pasar Blaak semakin ramai saja. Dan ternyata pasar yang didapat berdasarkan petunjuk temanku itu banyak menjual sesuatu yang selalu aku buru, apalagi kalau bukan sebangsa cabe rawit dan teman temannya.

Hari itu aku mendapatkan dua bungkus cabe merah dan hijau seharga 1,50 euro saja, begitu ditimbang di rumah perbungksunya 700 gr dan 600 gr. Jika aku beli cabe merah di AH, harga perbungkusnya 99 cent dan isinya hanya 3 biji saja saudara saudara!

Di pasar itu aku berhasil membeli kangkung dengan harga murah, bawang merah, terong ungu, alpukat yang biasanya aku beli 99 cent perbiji di pasar aku bisa mendapatkan 4 biji dengan harga 1 euro. Dan yang lebih membuat diriku serasa di surga adalah saat mataku tertumpu pada tomat hijau yang biasanya sulit dicari, dan harganya lebih mengagetkan lagi cuma 35 cent per kilonya, duh beli dua kilo ga nyampe satu euro.

Cara lain mendapatkan sayuran murah adalah dengan mendatangi supermarket Lidl. Sudah murah dan kualitasnya sangat bagus. Sekitar dua tahun yang lalu saat supermarket Lidl dibuka di dekat rumah kami, Luc tak tertarik sedikitpun untuk belanja di sana, dia tetap setia untuk selalu belanja di supermarket Plus. Kini setelah aku membandingkan bahwa sayuran di Lidl sangat jauh lebih murah dari pada di Plus, aku membagi tugas dengan Luc, secara garis besar tugas belanja tetap menjadi bagian Luc namun untuk urusan sayuran, akulah yang bertanggung jawab. Karena aku masih belum juga punya SIM di Belanda (artinya tidak bisa belanja banyak, berat soalnya kalau harus jalan kaki sambil mengangkat belanjaan) jadi setiap hari aku menyicil beli sayuran ke Lidl setiap habis menjemput anak anak dari sekolah. Kini jika satu hari saja aku tak mengunjungi Lidl Cinta Cahaya selalu menarikku untuk tetap masuk kesana.

Dan tahukah berapa harga kentang 10 kg di Lidl beberapa waktu yang lalu? 1 euro 69 cent saja!!! Kaget? Sama dong. Jika satu euro sama dengan 15 ribu rupiah, maka harga satu kg kentang hanya 2350 rupiah saja. Kentang yang konon dengan kualitas terbaik.

iklannya di folder

iklannya di folder

penampakan kentang setelah ada di rumah

penampakan kentang setelah ada di rumah

Kadang mendengar bahwa harga sayur mayur di Indonesia kadang tak masuk akal, bisa naik secara drastis dan juga bisa sangat murah hingga para petani terpaksa membuang hasil panennya karena tak mungkin dijual. Tanya:  mengapa bisa begitu?

dua bungkus cape 1,50 euro saja!

dua bungkus cape 1,50 euro saja!

Cabe setelah dicuci

Cabe setelah dicuci

IMAG2523

buah delima yg jarang didapat di Indonesia disini cuma 1 euro saja per kilo nya

buah buahan

buah buahan

spruitjes harga marah kurang dari satu euro perbugkus

spruitjes harga marah kurang dari satu euro perbugkus

oseng spruitjes siap disantap bersama nasi putih

oseng spruitjes siap disantap bersama nasi putih

berbagai macam sayuran yg perbungkusnya kurang dari 1 euro

berbagai macam sayuran yg perbungkusnya kurang dari 1 euro, wortel, china kol, sla

tomat hijau yg hanya bisa ditemui di pasar perkilonta 35 cent saja, tomatnya besar besar, sehat, siap jadi sambal hijau ala masakan padang

tomat hijau yg hanya bisa ditemui di pasar perkilonta 35 cent saja, tomatnya besar besar, sehat, siap jadi sambal hijau ala masakan padang

buah buahan setelah nyampe rumah, ada kiwi, alpukat, mangga, perssinasapel

buah buahan setelah nyampe rumah, ada kiwi, alpukat, mangga, perssinasapel, apel

Kue kue jajanan pasar dan teman temannya

Di Bandung, penjual makanan begitu mudah didapat.
Tak usah bicara di pusat keramaian, ke kampung sekalipun begitu berserakan penjual makanan.
Mulai dari makanan murah meriah semacam bala bala, cilok, cireng, baso kampung hingga bala bala mahal, cilok istimewa, cireng suguhan dewa (saking hiperbolanya) hingga baso dengan harga bikin kaget.
Semua ada.

Mau kue kue jajanan pasar?
Tinggal melangkahkan kaki ke Kartika sari, dan sim salabim semua kue jajanan pasar versi modern akan bisa kita bawa pulang.

Dulu sewaktu aku kecil, kami akan bergembira ria bila sore hari tiba. Ada tukang awug yang lewat. Kami bisa memilih kue kue yang dijajakan si mbok. Aku selalu memilih kue lupis dan awug. Hhhmmmmm enak sekali. Dilain waktu aku akan memilih cendil merah yang hanya ditaburi gula putih saja. Kadang kami juga membeli martabak manis berjudul martabak teluk bayur, jauh sekali sebelum jamannya martabak special san fransisco atau martabak telur.

Barulah diakhir akhir tahun aku berada di sekolah dasar  makanan semakin beragam. Ada gorengan Dadan, pempek Dadan, odading Dadan, baso Dadan, dan jajanan lainnya yang kami sebut Dadan. Kenapa Dadan? Karena lokasi yang berjualan beraneka rupa makanan tersebut berada di tanah milik Kang Dadan, tetangga kami di jalan buah batu persis di belokan jalan buahbatu dan kliningan.

Kini aku berada di belahan dunia lain. Dan syurga makanan di Bandung tak ikut serta menemaniku disini. Setidaknya ditahun tahun awal aku disini.

Tapi kini, tra laaaaaaa.
Aku bisa menyantap pempek senikmat pempek pak raden.
Makan baso yang tak kalah seru dengan baso yang aku biasa aku beli di Bandung.
Dan baso tahu? Aha, rasanya tak ada baso tahu yang selezat buatanku sendiri (dengan catatan jika sedang tidak gagal)
Pangsit? Ya pangsit juga, sangat sangat lumayan!

Dan hari ini, ada tiga macam makanan yang biasanya dengan mudah aku dapatkan di Bandung dengan cara membeli jadi, tapi disini aku harus membuatnya.
Ada kue lupis kegemaranku. Begitu bangun pagi aku langsung kedapur dan membuat kue lupis.
Image
Ada kue bika ambon, berdasarkan permintaan Cinta yang ikut sibuk di dapur saat aku membuat kue lupis, sedangkan dia ingin ikut membuat kue. dan untuk membuat mulutnya diam aku menyodorkan adonan kue bika ambon yang tinggal ditambahi telur dan santan saja. Begitu bika ambon jadi, aku dan Luc tak dapat berhenti mencomot dari loyang hingga kue habis lebih dari setengahnya. Saking lezatnya hahaha.
Image
Dan sore ini kami tutup dengan menyantap baso dan pangsit buatan sendiri, tak secantik buatan toko tapi rasanya terlebih kuah basonya, bolehlah…..
Image

Jadi tak usah berkecil hati berada jauh dari si emang cilok di bandung atau si tukang baso.
Semuanya bisa kita buat sendiri…
Baso tahu
Pempek
Baso
Batagor
Bika Ambon
Lumpia
Lemper
Risoles
Kroket
Cendol
Dll, dll, dll….

Dengan catatan ada kemauan, itu saja!

Jadi, selamat menikmati makanan yang kalian kangeni dengan cucuran keringat saat membuatnya, hahaha.

 

Kue bika ambon

Kue lupis, lumpia, pastel dan roti mini

Kue lupis, lumpia, pastel dan roti mini

mie kocok

mie kocok

Martabak manis

Martabak manis

Spring roll Lumpia basah isi soun, sayur, ayam asap  koriander, timun

Spring roll
Lumpia basah isi soun, sayur, ayam asap koriander, timun

Pisang molen

Pisang molen

Baso tahu(siomai) bandung

Baso tahu(siomai) bandung

Pempek

Pempek

Bubur ayam

Bubur ayam

Cireng gagal rupa

Cireng gagal rupa

Pangsit udang ikan dan ayam

Pangsit udang ikan dan ayam

Goreng ikan tilapia, anggap saja ikan gurame! Beserta sambal sehah lata lata

Goreng ikan tilapia, anggap saja ikan gurame!
Beserta sambal sehah lata lata

Rempeyek rawit

Rempeyek rawit

Lumpia

Lumpia

Kupat tahu petis

Kupat tahu petis

Soto bandung

Soto bandung

Kue pancong

Kue pancong

Combro

Combro

Gudeg, krecek

Gudeg, krecek

Sate padang

Sate padang

Es duren

Es duren

Mango salad

Mango salad

Kecombrang alias kincung

Dua minggu yang lalu, aku melihat foto bunga kecombrang yang di posting di FB seorang temanku. Begitu esoknya aku bertemu dengan beliau dengan semangat aku bertanya dapat darimana si bunga kecombrang tersebut, karena yang aku tahu di Bandung pun aku sudah sulit sekali mendapatkannya di pasar. Spontan temanku itu yang usianya tak jauh beda dengan ayahku dan biasa aku memanggil dengan sebutan abang kepada beliau, mengernyit bingung saat aku bertanya tentang bunga kecombrang, setelah aku menjelaskan seperti apa bentuk si kecombrang, dia tertawa. Di Medan namanya kincung, katanya. Dan dia berjanji akan membawakan untuk minggu depan.

Dan kini si kincung sudah ada dihadapanku. Senangnya tak terkira.
Teringat masa kecilku saat aku berlibur ke rumah kakek dan nenekku, kakektu tak pernah lupa memetik bunga kecombrang untuk ayahku. Ayahku senang sekali dengan kecombrang, setiap membuat sambal rujak pasti ditambahkan bunga kecomrang yang telah kering. Dulu aku tak begitu suka, tapi semakin aku dewasa aku menjadi penggila kecombrang seperti ayahku.

Kecombrang yang aku kenal sewaktu kecil kuncupnya aku kenal dengan nama honje, honje seperti jantung pisang hanya lebih kecil dan berwarna merah muda. Saat aku buka internet mencari image dari bunga kecombrang, aku mendapatkan gambar yang cantik sekali, kecombrang yang sudah mekar, sewaktu kecil aku tak pernah melihat kecombrang mekar di rumah kakekku.
Image

Kecombrang yang masih kuncup lebih mirip dengan tanaman pisang pisang pisangan hias.
Image

Melihat kecantikan tananman kecombrang ini, membuat hayalanku segera melayang ke rumah orang tuaku di Bandung, akan kusarankan ayah dan ibuku untuk menanam tanaman tersebut. Selain bunganya yang indah manfaatnyapun untuk masakan sangat beragam. (baca manfaat kecombrang)

Dan hari ini, ditengah flu berat yang sedang aku derita, kusempatkan membuka lemari es. Mengeluarkan kecombrang pemeberian dari temanku tersebut, menggiling bawang merah, bawang putih, kemiri, cabe merah dan tomat sekaligus. Menumis bumbu halus tersebut sebentar, menambahkan air, memasukan gula merah, laza, daun salam, bunga kecombrang, buah melinjo (tangkil) yang aku punya (juga untuk pertama kalinya membeli buah tangkil disini), memasukan labu siam yang telah dipotong korek api, terakhir secara bersamaan, aku memasukan daun melinjo, garam dan bumbu masak.
Image
Image

Maka sebelum pukul dua belas siang aku telah menikmati sayur lodeh dengan wangi bunga kecombrang yang sangat menggoda selera.

Selamat makan siang teman teman sekaligus saudaraku di negeri Belanda ini.
Terima kasih oleh oleh kecombrangnya.
Image

Si Tutung

Mendapatkan hasil gosong masakan alias tutung bukanlah hal yang aneh dalam keluarga kami. Terus terang terutama ibuku.
Dulu waktu belum jamannya rice cooker, menanak nasi di panci bukan hal yang aneh jika hasilnya gosong bahkan saat nasi tersebut di kukus, si nasi masih bisa gosong akibat air di dandang habis dan akibatnya nasi diatasnya berbau angit karena panci yang terbakar. Lebih ekstrimnya, ibuku pernah saat ibuku merebus air, bukan hasil air mendidih yang didapat tapi air satu panci tersebut habis menguap dimakan api. Saking lupa diri!

Maka tak heran jika ayahku menjulukinya si Tutung.

Saat aku mulai tinggal terpisah dan harus mulai memasak sendiri, hal itu pulalah yang aku dapati. Berkali kali tutung. Dan Luc mulai mengenal istilah tutung!

Tapi kini aku mulai jarang sekali mendapati masakan tutung, dan kini aku mulai mengerti mengapa ibuku atau aku (bahkan kokon kaka iparku) sering mendapati masakannya gosong.

Pertama, kami tak suka berlama lama di dapur.
Kedua, kami tak suka memasak makanan yang sekedar oseng oseng saja, karena persiapan dari memotong bahan dan lain lain membutuhkan waktu yang lama. Kami menyukai masakan yang bisa di tinggal lama di dapur, misalnya memasak daging. Yang akhirnya saat kami kembali makanan tersebut sudah gosong.
Ketiga kami termasuk type yang suka mengerjakan pekerjaan secara bersamaan, misalnya dari pada menunggui tahu yang sedang di goreng, kami akan beranjak ke pekerjaan lain misalnya memasukan pakaian kotor ke mesin cuci, dan kadang bukannya kembali lagi ke dapur tapi malah ke ruang duduk dan nonton tv disana , hahaha.

Tapi sekarang tak begitu lagi, aku muali bisa berlama lama di dapur, awalnya bukan hoby sama sekali, tapi karena sekedar kebutuhan. dan acara menggoreng tahu tak pernah aku tinggalkan untuk pergi nonton lagi, tapi tetap di dapur dan membuat makanan lainnya, sehingga begitu yang satu selesai aku tetap sibuk di dapur. Dan tra laaaaaaa hasilnya masakanku jarang lagi gosong dan hasil yang aku dapatkan dari dapurpun tak sekedar satu macam, tapi beraneka rupa.

Namun tidak dengan hari kemaren.
Begitu membuka mata di pagi hari, planning ku untuk bekerja segera berhamburan, banyak yang harus aku kerjakan karena hari ini dan tiga hari berturut turut rumahku akan didatangi berbagai macam tamu, dari mulai teman temannya Cinta dan Cahaya, hingga temanku yang lama tak aku jumpai, walaipun harinya akan berbeda, tapi setidaknya aku harus menyiapakan kudapan untuk anak anak dan juga rumah yang bersih.

Dan begitu aku masuk dapur, aku segera membuat menggiling bumbu di blender, memotong tempe, memasukannya di panci, menuangkan bumbu yang telah aku giling, menambahkan air hingga setengah panci, menyalakan api di kompor. Dan segera meninggalkan dapur, masuk ke ruang makan, sibuk menyetrika pakaian yang bertumpuk.

Kemudian memberi makan cinta cahaya yang tak lama bangun pagi, kembali lagi pada setrikaan, kemudian ikut merumpi di whats Aap, sedikit mencium bau gosong, aku segera mengecilkan volume setrikaan, kembali setrika sambil sesekali melirik lirik teleon dan tablet yang terpasang berita di Indonesia yang sedang heboh, apalagi kalo bukan soal korupsi. Kemudian saat Cinta dan Cahay yang sedikit bertengkar aku segera melerai, dan alangkah kagetnya saat aku melihat asap mengepul.

Ya, Tuhan! Apa itu seruku, berlari dan mendapati panci yang berisi tempe, yang awalnya akan dibuat tempe bacem tengah mengepul mengeluarkan asap yang tebal. Hampir tiga jam lamanya aku membiarkan panci berisi tempe itu diatas api!
Image
Image

Bagaimana bisa aku lupa diri seperti itu?

Perkara menghilangkan bau gosong dalam rumah yang mungil tertutup, bukanlah perkara mudah. Aku harus membuka seluruh jendela. Membuka jendela di musim dingin dengan angin besar yang gila bergelora? Ya, aku harus melakukannya. Maka sepanjang hari itu aku harus membungkus tubuhku di dalam rumah dengan winter jas, menyelimuti Cinta dan Cahaya yang tak mau memakai jakte tebal, walau aku sudah memakaikannya sweater tebal.
Image

Saat Luc datang ke rumah, yang dilakukannya bukan menciumku seperti biasanya, tapi langsung bekata denga wajah kocaknya, Aha tutung!!!

Yayayaya, itulah akbatnya kalau lupa diri, dan ingin mengerjakan banyak pekerjaan selama bersamaan. Pesan kawanku saat aku mengirimkan hasil tempe bacemku di WA, dia hanya berkata bijak…. Yayang kerjakan pekerjaan satu satu, nikmati setiap pekerjaan itu, toch pekarjaan tak akan ada habisnya. Setelah mendapat pesan itu, aku membuat se-mug besar teh, menikmatinya bersama kue kering sambil melihat Cinta Cahya yang sedang bermain. Sementara pikiranku melayang pada panci gosong yang belum aku bersihkan….. Hhhhmmmmmmmmmmm, betapa aku merindukan si bibi!

Cilok dan setoples bumbu kacang

Image

Ingat jaman Sekolah dasar, jajanan favorit adalah cilok dan cireng.
Berkali kali melanggar larangan orangtua untuk tidak jajan sembarangan.
Tapi cilok selalu memanggilku jika jam istirahat tiba.

Cilok dengan bumbu saos kacang dicampur saos tomat yang tak tau rimbanya apakah berasal dari tomat atau sekedar pewarna murahan.
Cilok yang boleh dibeli dan langsung dicelupkan pada bumbu kacang tersebut dengan satu kali celupan.
Cilok dengan memori yang kuat melekat dan tawa masa kini jika ingatanku melambung pada sosok nakal teman sekelasku yang telah membuat berang penjual cilok yang lugu tapi jujur.
Temanku yang dengan polosnya kembali mencelupkan cilok yang telah dijilatnya pada bumbu yang berada di panci kecil milik si penjual.
Baahhhhhhhhhh, pada jaman itu tapi tawa pada masa kini.

Kini aku tak perlu lagi menahan air liur untuk berbuat gila dan polos seperti temanku untuk menjilat cilok dengan bergelimang saos yang gurih.
Kini aku bisa makan cilok sesuka aku, dengan saos kacang terlezat, dengan kacang yang diimpor dari negara pengimpor kacang terbaik, dengan cabe dan rawit yang didatangkan dari penghasil cabe dan rawit terbaik.
Dan aku bisa mencelupkan berkali kali cilok pada toples yang besarnya luar biasa untuk ukuran satu cilok kecil.
Tanpa harus merasa bersalah, tanpa harus mendapat murka dari penjual cilok di sekolahku, seperti temanku dulu.

Pada temanku, kudoakan kini kau bisa menikmati cilok dengan setoples besar bumbu kacang sepertiku.

Pada kau penjual cilok dan para penjual makanan SD di SDN Cijagra Jl. Situ Lembang Bandung, dimana kalian berada?
Si Iing tukang es doger sahabatku,
Mang Ari, tukang baso legendaris,
Si Crisye, penjual es campur terlezat,
Mang Abuy, tukang bubur langganan kami,
Si mang buah yang selalu memberikan ekstra sambal bubuk padaku, dia yang aku ingat selalu berlari ke mesjid Baladun Amin, setiap azan Azhar berkumandang, tak peduli jam segitu adalah saatnya istirahat kedua dimana anak anak siap membeli dagangannya, hingga aku selalu berlagak menjadi asistennya, melayani jika ada yang membeli.

Kudoakan pada kalian para pejuang hidup, para penjual bermental jujur dan baik hati, untuk selalu berbahagia di akhir hidup kalian. Jika mungkin kalian tak mendapatkan limpahan harta didunia kini, tak usah khawatir. Aku yakin seyakinnya, Tuhan yang Maha Kuasa telah mempersiapkan kenikmatan di lain tempat suatu saat nanti.

Dan untuk kawan kawanku penggemar cilok, mari kita nikmati cilok dan saos kacangnya yang berlimpah.

Rotterdam, 31 January 2014

Buah Delima

Hasil belanjaan kemarin di pasar adalah aku berhasil membeli buah delima.
Buah yang konon langka di Indonesia, ternyata banyak sekali di Belanda dan harganya super super murah!
Di pasar harga perkilonya hanya 1 euro, aku mengambil 4 buah dengan perkiraan pastilah satu kilo. Ternyata kurang dari satu kilo dan dihargai hanya 85 cent saja.

Sampai rumah aku mulai membuka internet mencari tahu apaan sih buah delima itu? Karena dulu jamna aku kecil dulu hanya bisa ditemui jika ada yang empat bulanan atau tujuh bulanan orang yang hamil, dibuat rujak dan tentu saja rasanya luar biasa enak jika sudah jadi rujak, karena konon jika dimakan buah delimanya saja rasanya masam dan tak begitu berasa.

Setelah membaca ringkasan dari wiki secara garis besarnya aku mulai mengerti kenapa di Indonesia buah delima jarang ditemui karena konon asal buah tersebut dari Timur Tengah, walau juga bisa ditemui di daerah Cina Selatan dan Asia tenggara.
http://id.wikipedia.org/wiki/Delima

Cobalah baca manfaat dari buah delima ini, antara lain untuk mengurangi radang pada kulit, mengurangi radang tenggorokan. Buah delima yang sangat kaya akan kandungan antioksidan ini berarti juga menjegah kolesterol jahat dalam tubuh. Selain yang sudah disebutkan tadi, khasiat buah delima bagi kesehatan antara lain dapat untuk penyakit-penyakit seperti: gangguan perut, gangguan jantung, kanker, perawatan gigi, rematik, kurang darah dan diabetes.

Wow fantastis seruku, karena di akhir penjelasan disebutkan juga peneliti dari Vanderbilt University Medical Center menemukan bahwa orang yang meminum jus 3 kali atau lebih dalam seminggu, dapat menurunkan risiko terkena alzheimer hingga 76% dibandingkan orang yang tidak minum jus sama sekali.

Saat aku menunjukan buah itu pada Luc, Luc berseru disini buah itu disebut Granaatappel. Haha boleh juga namanya, buah yang seperti apel tapi berupa granat juga. http://nl.wikipedia.org/wiki/Granaatappel

Ayo mau sehat, mari sama sama banyak makan buah dan sayur salah satunya makanlah buah delima rasanya enak, manis luar biasa. Betul betul aku baru merasakan ada buah delima semanis ini, dan harganya? Aduhai murah sekali.

Image

Rotterdam, 1-1-2014