Sebelum Scandinavia tour

Rabu, 28 mei 2014

What’s a busy day that day!
08.30 – 12.00 aku sekolah
12.30 jemput anak anak dari sekolah sedangkan pukul 14.15 aku ada asfpraak dengan huisart. Tak mungkin aku pulang dulu ke rumah dan tak lama harus pergi ke dokter, maka ku putuskan tetap di area tempat praktek dokter berada setelah menjemput anak anak. Maka terdamparlah kami bertiga di Verhage menikmati burger dan kentang goreng yang segunung.
Pukul 14.00 kami bertiga sudah duduk manis di ruang tunggu dokter, sudah ada satu orang yang menunggu disana. Pukul 14,15 kami berdua saling lirik ke arah jam dinding yang ada di hadapan kami, tak jua salah seorang dari kami segera dipanggil masuk ruangan praktek. Akhirnya bapak itu dipanggil masuk pukul 14.25, ditengah pikiran ingat pada tugasku menyiapkan keperluan esok hari untuk dibawa ke Denmark akhirnya bapak itu keluar juga dari ruang praktek dokter.
Dokter bilang paru paru baik, jantungku normal, dia masih belum menemukan mengapa aku selalu sesak jika malam tiba, obat yang diberikan minggu lalu masih harus aku minum, sedangkan asfpraak dengan longart di rumah sakit masih harus menunggu dua minggu  ke depan.

Keluar dari dokter bukan berarti aku bisa langsung pulang ke rumah, aku masih harus berbelanja di supermarket. Terkejut saat datang ke rumah waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Tergesa ke dapur membereskan apapun yang harus dibereskan, aku ingin rumah dalam keadaan bersih saat akan ditinggalkan liburan.

Tapi pikiranku tak ada di dapur, aku teringat untuk menelepon orangtuaku di bandung, aha masih kurang dari pukul sepuluh malam disana, artinya ibuku masih belum masuk kamar tidurnya. Aku segera menghubunginya, ada suara ayahku yang menyambutku di ujung sana, gembira seperti biasanya. Setelah bersay hello sebentar aku berkata bahwa nanti malam kami akan ke Denmark, doakan kami selamat, pintaku. Ga je naar Denmark? Wanner? Tanya ayahku, haa? Tak salah ayahku bertanya dalam bahasa belanda. Saat aku bertanya, apakah dia sekarang privat bahasa belanda, dia menjawab bahwa minggu yang lalu dia membeli buku belajar bahasa belanda untuk pemula sebanyak tiga buah lengkap dengan cd nya, dan baru kemarin dipelajarinya. Baru kemaren! Dan dia kini telah bisa berkomunikasi sederhana bersamaku. Kutanya apa kabarnya dalam bahasa belanda, dimana dia tinggal, siapa kamu, dan pertanyaan singkat lainnya secara  menakjubkan dia bisa menjawabnya malah balik melontarkan pertanyaan lainnya yang lebih seru seputar cinta cahaya dan rencanaku ke Denmark.

Dan jadilah hari itu kami cekakak cekikik bersama ayahku, sedikit melupakan urusan dapur yang masih menanti, kemudian ibuku datang menggantikan ayahku, bercerita bahwa ayah tekun sekali mempelajari buku buku yang baru dibelinya dan dalam satu hari dia sudah terlihat canggih ber ggghhhh bgggghhhh (bukan bercas cis cus kalo berbahasa inggris). Ibuku sedikit cemburu karena kemampuan bahasa inggrisnya masih tak seperti yang diharapkannya masih jauh dibawah standar ayahku berbicara bahasa inggris padahal ibuku sudah belajar bahasa inggris secara privat hampir setahun lamanya. Aku berkata bahwa tak mungkin dalam keluarga kami dapat menandingi kemampuan berbicara ayah dalam bahasa Inggris, hanya generasi ketiga dalam keluarga kami yang dapat menandinginya, yaitu keponakan keponakanku. Dulu aku pernah bertanya sejak kapan ayahku belajar bahasa Inggris, dan katanya sejak kelas dua sekolah rakyat.

Luc datang pukul 6 sore langsung membantuku menyiapkan makan malam, dia datang ke rumah dengan muka merah dan badan sedikit panas. Oohhhhhhhh tidak, hanya beberapa jam lagi kami akan berangkat ke Denmark, dia harus jadi supir selama kurang lebih 8 jam lamanya untuk membawa kami ke Legoland Denmark. Sementara Cinta dan Cahaya tak putusnya berceloteh untuk segera pergi kesana.

Pukul setengah delapan malam teman les berenangku yang orang Thailand bertanya padaku apakah malam ini aku akan berenang, aku menjawab bahwa akt tak ada waktu untuk berenang karena masih sibuk mengepak pakaian yang harus kami bawa ke Denmark, tapi aku tak kuasa menolak permintaannya untuk datang membawa makanan yang telah dia buat untukku, makanan Thailand. Kami sepakat untuk bertemu setengah sembilan malam selepas dia selesai berenang.

Pukul delapan malam aku membawa Cinta Cahaya ke kamarnya, aku memerikasa suhu badan Cinta, dia sedikit panas. Hatiku kalut. Luc sudah naik ke atas dan berpesan padaku bahwa alarm akan berbunyi pukul 2 malam, dan kami akan langsung berangkat. Aku berkata pada Luc bahwa aku akan berjalan ke kolam renang untuk bertemu Orchidee, setengah terbelalak Luc berkomentar padaku, are you crazy? I need some air! Sedikit berjalan jalan akan membantuku keluar dari situasi aneh seperti ini. Jawabku.
Ada apa, Yayang? Tanya Luc.
Entahlah, rasanya hatiku bimbang, aku belum selesai mengepak pakaian. Cinta sedikit panas, dan kau pun kurang fit. Sedangkan kita harus berangkat nanti jam 2 malam dengan harapan bisa sampai di legoland pukul 10 pagi, aku kira kita akan kecapaian sampai sana mana mungkin bisa menikmati permainan disana.

Seolah mengerti akan kekhawatiranku, Luc memelukku. Tak perlu kau sehawatir ini. Tak perlu khawatir jika barang yang kita perlukan tertinggal di rumah, kita masih bisa membelinya disana. Katanya, pergilah kau sebentar menemui kawanmu, mungkin akan sedikit membantumu menghilangkan resah. Aku akan berangkat tidur sekarang. Ucap Luc.

Ya, berjalan keluar rumah sedikit membantuku keluar dari kepenatan. Tak lama, setengah jam kemudian aku sudah kembali ke rumah, menyalakan TV sambil menikmati masakan Thailand.

Pukul 10 malam aku melanjutkan mengepak pakaian, tak sampai setengah jam, urusan pengepakan sudah selesai. Mengecek ulang. Beres seruku gembira.
Tiket Legoland.
Tomtom dengan alamat seluruh detination yang akan dilalui.
Paspoort kami berempat dan VVRku.
Dompet.
Tablet, laptop, hp.

Berikut jadwal tour kami. kami menyebutnya Skandinavia tour!

29 Mei 2014
Pukul 02.30 – 10.30 Dari Rotterdam  ke Billund Legoland Denmark = 772 km
Pukul 18.00 – 21.00 Dari Legoland ke hotel Scandic Malmo Swedia = 293 km

30 Mei 2014
Seharian jalan jalan di Malmo, playing touristist.

31 Mei 2014
Seharian di kopenhagen Denmark.
dari Malmo Swedia ke kopenhagen hanya 30 menit saja naik kereta api.

1 Juni 2014
Pukul 11.00 – 16.00 Dari malmo Swedia ke Hamburg Jerman = 501 km
Pukul 18.00 – 22.00 Hamburg Jerman ke Rotterdam Belanda = 480 km

So, can you imagine?!
Dengan jadwal yang super padat, dengan kondisi Luc yang kurang fit, Cinta yang sedikit panas, dan aku hingga pukul 11 malam masih belum juga naik ke tempat tidur malah sibuk membuka internet, sibuk dengan media sosial, dilanjut dengan ngobrol di whats app, hah? Fantastis bukan? Sementara tiga jam lagi kami akan segera berangkat dengan jadwal yang super padat.
(tobe continued)

 

Malmo, 31 Mei 2014

PS. Ditengah resah menghadapi esok hari dalam perjalan pulang ke Rotterdam yang rencananya singgah dulu di Hamburg Jerman.

Advertisements

Cintaku

Cinta, sejak pertama kali aku memandangmu aku sangat yakin bahwa kau adalah istimewa.
Celotehmu, tingkah polahmu adalah penunjukan bahwa kau adalah seorang yang special.
Kau dapat meruntuhkan gunung es di wajah seseorang dengan candamu.
Semakin hari aku kian mengenalmu bahwa kau adalah seorang pemaaf yang berjiwa besar.
Dan kejadian hari kemarin itu, saat aku mendapati dirimu tengah berdiri menantiku, mamandangku, tersenyum dan melangkah pelan ke arahku, keyakinanku akan istimewanya dirimu tergambar jelas hari itu…..
Dengan rambut dan pakaian yang basah kuyup kau memandangku meminta maaf.
Tak akan putus doaku padamu sayang……
Semoga kau akan selalu seperti itu, kuat tangguh dan berjiwa pemaaf.
Sehat rohani dan jasmani
Bahagia selamanya
Selalu dalam lindungan Tuhan

Tak sekedar hari Kebangkitan Nasional

Apa kabarnya hari kebangkitan di masa kini?
Apa kabarnya para pemuda pemudi Indonesia.

Rasanya gaung cinta bangsa menjadi tak semembumi di jaman aku kecil dulu.
Bukan karena jarangnya lagu lagu nasional terdengar, tapi rasanya ada sesuatu yang semakin menjauh dari rasa cinta bangsa yang dulu lekat di media, yang kini tergantikan oleh tayangan yang sekedar hura hura saja.
Sementara aku disini, rasanya makin mengikuti perkembangan sejarah masa lalu secara tak sengaja disini. Membaca buku multatuli yang berjudul Max Havelaar yang kudapat di perpustakaan disini. Dan ternyata kini aku tau bahwa buku Max Havelaar dijadikan buku bacaan wajib di sekolah sekolah Belanda. Baca: Max Havellar.

Bahkan Luc pun yang dulu tak mengetahui sejarah bangsa Indonesia kini mulai tertarik untuk mengetahui tentang apa saja yang terjadi saat Belanda berada di bumi Indonesia, ketertarikan tersebut karena dia membaca beberapa buku karangan Pramudya Ananta Toer.

Tanggal 20 Mei bagiku bukan hanya sekedar peringatan hari Kebangkitan Nasional, atau masa dimana bangkitnya rasa Persatuan dan Kesatuan yang dirasakan pemuda di jaman itu, jaman berdirinya Boedi Oetomo (Baca Sejarah Kebangkitan Nasional), tapi juga karena  tanggal tersebut merupakan hari pernikahan kami.

Aku masih ingat hari itu, saat kakakku protes saat aku memberi kabar bahwa kami akan menikah di tanggal 20 mei.
Kenapa tidak hari minggu saja? Tanyanya, kenapa harus hari selasa?
Dan dengan entengnya aku menjawab karena hari tersebut hari kebangkitang nasional. Hari tersebut akan selalu dirayakan tiap tahunnya oleh bangsa Indonesia. Padahal alasan utamanya tidak seperti itu. Aku dipisahkan jarak dengan Luc, kami sama sama direpotkan oleh urusan dokumen dokumen untuk pernikahan kami, tentu saja Luc bukan orang yang hanya tahu beres saja, semua informasi yang aku ketahui tentang mengurus pernikahan antar bangsa di konfirm ulang oleh Luc. Begitu urusan dokumen selesai, dengan semangat Luc ingin segera kembali ke Indonesia, kami tak mau menunggu lama, begitu dia diperbolehkan mengambil sisa cuti yang dia punyai (dan hanya lima hari saja) karena hari liburnya telah terpakai selama sebulan di Indonesia pada kunjungan sebelumnya, dan diambilah hari selasa tanggal 20 mei 2008, karena tak mungkin diadakan hari minggu, luc sampai di Indonesia hari minggu dan harus segera kembali ke belanda hari sabtu dalam minggu yang sama.

Dan ternyata 20 mei 2008 adalah diperingatinya hari kebangkintan nasional secara besar besaran karena hari itu adalah 100 tahun kebangkitan nasional (20 mei 1908 – 20 mei 2008).

Hari ini, saat aku membeli bunga di pasar dan langsung menjemput Cinta dan Cahaya di sekolah, secara serentak mereka bertanya, untuk siapa bunga itu? Aku menjawab untuk kalian. Mereka sangant gembira sekali dan secara bergantian mereka menentengnya pulang.

Dan untuk pertama kalinya, hari jadi pernikahan kami tak kami rayakan dengan makan malam di restaurant, aku memasak nasi kuning, semur daging dan oseng tahu tauge, untuk pertama kalinya aku memperbolehkan Rafaelle tetangga kami (teman Cinta dan Cahaya) untuk makan malam bersama kami, binar bahagia terpancar di mata Rafaelle saat aku memperbolehkannya untuk tetap tinggal saat makan malam dengan syarat dia harus bertanya dulu pada ibunya, dan dengan gembira dia berlari keluar dan kembali hanya dua menit kemudian sambil berkata padaku dengan gembira bahwa ibunya memperbolehkan makan di rumah kami. Dengan suka cita saat makan malam berlangsung, dia berkata bahwa ini, untuk pertama kalinya dia makan nasi kuning, dan nasi yang aku sendokkan ke piringnya habis tandas, begitu pun dengan Cinta Cahaya, bahkan Cinta menambah piringnya sekali lagi dan tentunya dengan pujian, lekker bunda……

Image
Image

 

 

PS. Semoga masih ada tahun tahun berikutnya untuk merayakan hari kebangkitan nasional dan juga hari pernikahan kami.
Terima kasih pada keluarga dan sahabat yang telah mengucap doa untuk kami (bahkan memilihkan bunga untukku, hahaha), doa yang sama untuk kalian semua, semoga kita selalu berada  dalam kebahagian.

 

Rotterdam, 20 Mei 2014

 

Nationaal Park de Biesbosch

Image
Akhirnya diantara cucian yang menggunung dan rencana membersihkan rumah secara besar besaran kembali ditunda karena adanya hari minggu yang diselimuti matahari yang terik.
Blame it on the sunny day rasanya bakal dikutuk banyak orang jika menyalahkan hari yang cerah.
Yes, karena hari yang cerah lupakan kegiatan di rumah, mari sama sama keluar ruamh untuk menikmati sinar matahari.
Dari mulai ajakan seorang teman yang jauh jauh datang dari Limburg untuk makan di Denhaag, ajakan sahabat yang bersikukuh menikmati di Kinderdijk hingga rengekan Cinta Cahaya yang ingin melihat sirkus, gara gara kemaren melihat tenda sirkus.
Akhirnya aku dan Luc sepakat menunda (kembali) acara bersih bersih rumah, digantikan acara jalan jalan ke Nationaal Park de Biesbosch sebuah  hutan lindung di daerah Dordrecht. Baca Nationaal Park de Biesboch.

Banyak yang bisa dilakukan di taman hutan Biesboch, dari mulai hiking dengan atau tanpa panduan, mengunjungi museum Beaver, berlayar dengan menyewa perahu mesin dengan harga sewa 17,5 euro per jamnya, menyewa kano, menyewa sepeda atau sekedar menumpang dengan perahu wisata yang disediakan yang berlayar setiap setengah jam sekali yang disebut Rondvart yang cukup membayar 1,70 euro per orang bahkan tak sedikit yang membawa perahu karet sendiri.

Hari sudah beranjak siang saat kami memutuskan untuk pergi ke Biesboscht dan menolak tawaran tawaran dari kawan kami untuk melewatkan minggu cerah bersama sama. Dan mimpiku untuk picnik bersama keluarga akhirnya bisa aku realisasikan juga, menyiapkan makanan yang akan aku bawa dan siang itu aku masih sempat membuat nasi uduk, sambal ijo dicampur ikan asin jambal roti dan thai papaya salad. Tak lupa aku menyelipkan kue kue dan chips serta cola dan juice untuk anak anak.

Luc sedikit mengeluh karena dia tak berhasil mendapatkan sambungan telepon untuk reservasi perahu mesin, tak ada seorangpun yang mengangkat telepon diujung sana. Akhirnya aku menghibur dia untuk melupakan telepon dan lihat saja nanti disana.

Seperti perkiraan kami sebelumnya, hari yang cerah menyebabkan hampir semua orang untuk beranjak ke luar rumah, mendapati area parkir yang penuh, mendapati mereka yang berjemur matahari sambil terlentang atau sebaliknya, sehingga rumput yang hijau tak nampak lagi digantikan mereka yang berbikini.

Untunglah setelah kami berhasil memarkirkan mobil dan berjalan menuju centraal informasi di hutan tersebut, kami segera merasa lega saat tak begitu banyak orang di tempat daerah pusat informasi, walau sempat merasa kecewa saat perahu yang akan kami sewa sudah tak bersisa sehingga rencana Luc untuk menyewa perahu selama dua jam kandas sudah. Cinta dan cahaya segera melupakan kekecawaan mereka tak mendapatkan perahu saat berjalan memasuki hutan dan bertemu dengan area berang berang, tertarik mengamati yang ada di area tersebut hingga memasuki burcht beever atau kastil berang berang. Ada petunjuk dimana harus masuk dan keluar, aku segera menggeleng saat Cinta dan Cahaya meminta aku turut serta masuk ke kastil tersebut, aku sudah merasa tak nyaman di daerah situ yang terlalu rindang dan lembab ditambah kastil berang berang, yang hanya berbentuk seperti rumah iglo yang mempunyai dua pintu. Saat Luc dan anak anak masuk aku masih bisa mendengar suara Luc yang berkata dia tak bisa melihat apa apa di dalam saking gelapnya sementara Cinta dan Cahaya hanya tertawa tawa kegirangan.

Seru cerita mereka berdua, saat aku menyambutnya diluar kastil, tak kuiyakan rengekan mereka yang mengajakku ke dalam, dengan tegas aku bisa mengatakan tidak dan segera beranjak dari situ. Duduk di sebuah batang pohon yang tumbang dan segera dihampiri Luc untuk ikut duduk disampingku. Sementara Cinta dan Cahaya kembali masuk ke kastil tersebut sambil tetap berceloteh seru diantara mereka berdua. Kami berdua memperhatikan dari jauh, setelah beberapa menit membiarkan mereka having fun di dalam kastil berang berang, Luc dengan tegas memanggil mereka yang ternyata tak mereka hiraukan, akhirnya aku berkata pada Luc untuk sedikit mengagetkan mereka dengan bersembunyi di balik pepohonan saat mereka masuk ke kastil. Sambil bersembunyi kudengar mereka berteriak saat tak mendapi kami di tempat batang pohon yang tumbang, kudengar mereka menghampiri tempat kami duduk terakhir kali. Panik, mendapati kami tak disana? Tidak!!!! Mereka dengan entengnya berkata, wah papa dan bunda pergi, kalau begitu mari kita kembali masuk ke kastil. Haaaahhhhhhhhhhh

Sambil tertawa bersama mendengar perkataan Cinta dan cahaya, akhirnya kami terpaksa memanggil mereka dengan paksaan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Kami berjalan dengan suka ria, Luc tak henti hentinya menjelaskan apa apa yang ditemuinya selama kami berjalan, seperti disuguhi memeri masa sekolah dasar saat aku pramuka dulu dengan panduan kakak pembina yang menerangkan apapun yang kami lihat. Luc menjelaskan bunga yang dipetik anak anak, apa saja namanya, menjelaskan daun yang menyebabkan gatal kalau mengenai kulit kita sekaligus menunjukan daun yang harus kita gosokan jika kita terkena daun gatal tersebut.

Tiba di padang rumput yang luas dengan kali jernih di depannya, kami memutuskan untuk menggelar piknik disitu. Tak hanya aku dan Luc yang menghabiskan bekal seadanya begitupun Cinta dan Cahaya. Tak terkira senangnya hatiku mendapati bekal yang kami bawa tandas tak bersisa.
Image
Image

Usai acara piknik yang menyenangkan, kami melanjutkan langkah kaki kami kembali ke pusat informasi, memasuki museum yang ada disitu hingga sedikit melepas lelah sambil minum koffie di restaurant yang lagi lagi kami mendapati Cinta Cahaya pergi ke meja lain dan asyik bermain dengan anak kecil yang berada di meja seberang.
Image

Dalam perjalan pulang, di dalam mobil aku sedikit merenung, betapa indahnya menghabiskan waktu bersama sama dengan keluarga, bukan hanya karena mendengar seloroh Luc yang berkata, aha goedkoop uitdagje! Hahahaha.

Mother’s day 2014

Heehhh Yang, Gefeliciteerd!
Ujar Luc, saat aku selesai salam dan menengok ke arah kiri, tanda usai sholat subuh.

Matahari belum muncul, dan sepertinya tak akan muncul seharian. Cinta Cahaya masih meringkuk di kasurnya.
Hari ibu kali ini berbeda sekali dengan hari ibu tahun sebelumnya.
Tak ada sarapan di tempat tidur dari Luc, juga saat aku sambil bercanda ke arah Luc, mana kadonya?
Dan langsung disambut celoteh Luc tak kalah seru, bukankah anak anak sudah memberikannya dua minggu yang lalu?
Hahaha kado kepagian! Cahaya tak sabar ingin memberikan kado yang dibuatnya di sekolah untukku tepat keesokan harinya setelah kado itu dibuat, tak digubrisnya larangan gurunya untuk memberikannya padaku dua minggu kemudian. Siapa yang tahan untuk tak memberikannya langsung? Jangankan anak empat tahun, akupun yang sudah menebak apa isinya ingin segera membukanya! Yang ternyata berisi centong kayu yang telah dihias sana sini. Selalu kado yang spektakuler, hehehe. Hanya Cinta yang bertahan dan akan memberikannya padaku dua minggu yang akan datang, yaitu hari ini.

Nanti setelah anak anak bangun, akan kuberikan kado dariku. Ucap Luc diiringi tawanya.

Membuka media sosial hari ini, masih diramaikan oleh ucapan hari ibu, pasang foto kado dari anak dan suami, juga pesan BBM dan Whats App. Begitu pun aku, ikut berbahagia dan membalas dengan tulus ucapan selamat dari beberapa kawan, berharap merekapun mendapat hari bahagia di hari ibu. Dan seperti biasanya kami para ibu tetap berkutat pada kerjaan di rumah yang tak ada habisnya, kami hanya dapat senyum dikulum membaca komentar teman yang mengira hari ibu bisa sedikit relax, tapi nyatanya sama saja!

Baiklah kalau begitu, mumpung masih pagi ujarku kemudian, mari sambut hari ibu ini dengan hari relax. Dan jadilah Cinta Cahaya yang tiba tiba bisa menyiapkan makan paginya sendiri, sementara aku segera masuk kamar mandi dan segera mengisi bathtub dengan air panas, memasukan tablet sehingga air panas di bak mandi meletup letup seperti kawah berbelerang dengan wangi yang berbeda. Dan wangi aroma terapi segera menyebar keseluruh ruangan. Hhmmmm.

Setelah air penuh di bak mandi, aku segera membenamkan diriku disana. Membuat sandaran empuk dari handuk untuk kepalaku, sementara kakiku kunaikan ke sisi yang lain di bak mandi. Anak anak masuk ke kamar mandi dan ingin bergabung denganku yang langsung segera di halau oleh Luc. Biarkan bunda seorang diri disana. Perintahnya, yang langsung disambut sikap protes dari Cinta. Luc menawarkan kopi dan buku untuk menemaniku berendam, aku hanya meminta kopi saja. Tak ingin membaca, tak ingin mendengar berita, tak ingin berpikir,  sambil sesekali menyeruput kopi aku  hanya memejamkan mata. Relax.
Image

Hampir satu jam disana, tanpa gangguan siapapun, dan rasanya legaaaaaaaaaaaa sekali.
Aku tahu, walau ada saja kudengar para ibu mengeluh tentang rutinitas sehari hari, kelelahan dari pekerjaan yang tak ada habisnya, tapi tetap selalu mereka merasa bahagia diantara keluarganya, diantara orang orang yang mengasihinya, dan kelelahan dan kejenuhan bisa langsung saja sirna begitu melihat senyum dan tawa anak anaknya.

Sederhana, tak usah berkecil hati jika kita belum merasa mampu untuk selalu membuat bahagia orang tua kita, cukup kita tersenyum dan bahagia itu adalah hadiah yang tak ternilai untuk mereka. Setidaknya itu yang aku rasakan saat ini, kebahagian bisa datang dengan melihat orang orang disekitar kita bahagia.

Image