The last day (Hello Goodby)

Rabu, 27 Agustus 2014

Hari ini hari rabu, di minggu terakhir di bulan Agustus, dan berakhir pula liburan kali ini di Indonesia.

Kami berencana berangkat pukul 4 sore dari rumah, dengan harapan tiba di bandara sebelum pukul 9 malam, karena kami sudah harus check in 3 jam sebelum pesawat take off. Sedangkan jadwal pesawat take off adalah pukul 00.04 WIB.

Tapi rencana tinggal rencana, mobil sewaan beserta supir sudah menanti dengan manis sejak pukul 4 sore, tapi kami baru keluar rumah pukul 5 sore. Aku yg berada di mobil sewaan bersama kedua orangtuaku beserta Cinta, Cahaya dan Ghaly ponakanku beserta ibunya yang tak lain istri adikku Abay ‘Surabay’ semakin gelisah begitu melihat antrian panjang di jalan Bypass Bandung, belum lagi mobil sewaan yang harus diisi bensin. Sialnya tanggal 27 Agustus adalah hari yang gonjang ganjingg di Indonesia, saat itu di Indonesia bahan bakar bensin sulit didapat. Ayahku malam sebelumnya sudah mengingatkan adikku untuk menyewa mobil dengan wanti wanti agar mobilnya diisi bensin terlebih dahulu karena menurutnya isu keurangan bahan bakar akan terjadi hari rabu ini. Ternyata apa yang ditakutkan ayahku terbukti benar. Mobil yang kami tumpangi hanya bisa melewati pom bensin yang sebetulnya mudah didapat di Jalan Bypass namun entah kenapa semua pom bensin kehabisan bahan bakar yang dijualnya, semua pom bensin bertulisan kosong.
.
Aku yang terpisah dengan Luc segera menghubungi adikku yang satu mobil dengan Luc untuk tak menunggu kami, setidaknya Luc bisa datang tepat waktu ke bandara dan terlambat. Semua koper ada bersama Luc dan adikku.

Menyesal karena aku tak menuruti saran adikku untuk berangkat menggunakan satu mobil saja. Abay menyarankan agar kami hanya menggunakan mobil ayahku, sedangkan koper berangkan dengan travel saja ke jakarta. Menurut adikku itulah cara yang paling mudah, karena dia sudah biasa menggunakan travel setiap sebulan sekali kalau dia bertugas ke Bali, dia hanya naik travel saja ke bandara, dan katanya bisa barang juga. Tapi aku ketakutan jika barang tak akan sampai di hari yang sama. Kata adikku ketakutan yang tak beralasan katanya.

Tapi sudahlah aku sudah memilih menyewa mobil lain, dan inilah yang terjadi, pukul 6 sore kami masih berada di Bandung mencari bensin. Dan ketegangan kami berakhir ketika pom bensin yang berada di perempatan bypass dan buah batu menyediakan bahan bakar yang kami cari. Dengan antrian yang sabar akhirnya kami berhasil dari pom bensin dengan mobil yang kini terisi penuh dengan bensin.

Kami berhasil sampai di bandara pukul setengah sepuluh malam, kakak pertamaku sudah menanti beserta istri yang datang langsung dari Bogor. Sedangkan Luc dan adikku akhirnya bergabung bersama kami setelah mereka berhasil menurunkan semua koper dari mobil dan segera mendorong troli yang kini dipenuhi oleh koper koper kami.
Kami langsung masuk untuk segera check in, baru saja kami melewati pemeriksaan x ray, sementara koper sudah dinaikan ke ban berjalan untuk diperiksa juga,saat aku sibuk memindahkan koper kembali ke troli, seorang petugas mendatangiku sambil menenteng tas merah kepunyaanku, punya siapa ini? Tanyanya aku segera menjawab punyaku sambil diiringi ucapan terima kasih, aku kira dia tengah membantuku untuk memasukan ke troli, ternyata dia menyuruhku membuka tas merah tersebut, ibu membawa botol baygon besar ya? Tanyanya.

Apa seruku kaget sekali, dan segera membuka tas merah yang terkunci, akhirnya aku berhasil membuka tas tersebut. Hatiku kalang kabut, sepertinya ketegangan masih terus mengikutiku, setelah bisa bernafas lega setealah bisa sampai dengan selamat ke bandara, kini aku masih tertahan untuk membongkar tas merah tersebut. Petugas tersebut segera menarik bingkisan kotak yang terbungkus kertas buku warna coklat. Ternyata isi tas merah adalah semua titipan teman temanku di belanda dari keluarganya di Bandung dan Jakarta. Teman temanku yang menitipkan titipan adalah semua teman terdekatku, bahkan keluarga mereka di Bandung suka berhubungan dengan keluargaku juga di Bandung.

Bungkusan yang kini tengah dibuka oleh petugas bandara ternyata berisi berbagai macam kerupuk mentah, ada kerupuk kulit dan entah kerupuk apa lagi. Petugas tersebut segera mengembalikan otak sepatu yang berisi berbagai kerupuk kulit tersebut dan mulai menarik bungkusan lain yang dicurigai berisi baygon. Aku mulai naik darah karena ingat aku harus segera mengantri untuk check in, jika waktunya terlalu mepet aku tak bisa kembali untuk menemui keluargaku karena waktunya terlalu mepet dengan boarding.

Dan ternyata begitu bungkusan tersebut dibuka, salah satu isinya memang baygon! Ya ampun, aku yang tadinya sudah naik darah malah bersyukur benda tersebut disita di Soekarno Hatta, kalau sampai terperiksa di Schiphool mungkin akan lebih merepotkan, entahlah aku juga tak mengeri mengapa aku tak bisa membawa baygon ke Belanda, mungkin temanku juga tak mengerti bahwa baygon dilarang.

Dengan tergesa gesa aku berhasil memasukan semua barang kembali ke tas tersebut. Luc yang sudah berada di belakangku ikut terkaget kaget dengan kejadian barusan, sambil menenangkan diri kami segera berbaris dalam antrian check in.

Dan waktu yang tersisa hanya setengah jam saja setelah kami berhasil check ini dan memasukan semua koper untuk selanjutnya dimasukan ke bagasi pesawat. Walau begitu aku tetap memutuskan untuk kembali ke keluargaku sejenak. Ghaly ponakanku berseru gembira ketika melihat Cinta dan Cahaya.

Selalu sulit rasanya untuk mengucapkan selamat tinggal pada orang yang kita cintai terutama pada ibuku. Tak bisa kuungkapkan begitu beratnya, tapi aku harus kembali lagi pada kehidupanku.

Pesawat Emiraat yang membawa kami ke Dubai take off dan landing sesuai dengan jadwal. Begitu turun dari pesawat Cinta dan Cahaya begitu antusias, keluar dari pesawat dua anak kembar ini bertanya padaku dimana Ghaly berada mengapa belum kelihatan juga padahal sudah dari tadi mereka berjalan melewati lorong lorong yang mereka kira masih di bandara soekarno hatta, mana Ghaly tanya mereka? Saat kujelaskan bahwa Ghaly ada di Indonesia sontak mereka kecewa dan ingin kembali ke Indonesia, rupanya mereka belum mengerti konsep perjalanan jauh, tak mungkin orang yang sama mengantarkan kita di Jakarta akan menanti kita juga di Dubai, keistemewaan tersebut hanya akan terjadi di film film saja.

Sampai di Schiphool, taxi yang telah dipesan saat kami ke Indonesia sudah menunggu. Aku tak banyak berkata kat selama berada di dalam taxi, sementara Cinta dan Cahaya kembali terlelap selama perjalanan dari Schiphool menuju Roterdam yang kurang sejam perjalanan saja.

Mendapati rumah masih seperti sedia kala seperti saat kami tinggalkan adalah suatu hal yang pertama aku syukuri.
Akhirnya aku kembali lagi ke kehidupan nyataku. Sangat berharapa akan ada lagi liburan liburan yang akan datang, kejutan kejutan manis yang selalu kunantikan. Bertemu sanak saudara, tak dirasa badan kecapaian, tidur kurang, kenyataan yang tak selamanya seperti yang diharapkan, tetap saja semua itu terobati karena bertemu dengan keluarga.

Apakah kalian juga begitu?

Schiphool 28 Agustus 2014

Schiphool 28 Agustus 2014

Memenuhi janji untuk menulis tiap hari selama liburan…. Hasilnya? Tak sesuai harapan

Hari ke duapuluhsembilan dan tigapuluh
Senin, Selasa 25-26 Agustus 2014
Duh ini tulisan sudah ga ada juntrungnya, awalnya mo tiap hari nulis selama di Indonesia. Tapi ternyata mana bisa? Tapi berhubung sduah janji pada diri sendiri untuk menceritan semua kejadian selama liburan kali ini, dan hasilnya tak memuaskan. Aku kehilangan ide cerita. Walau pun sebetulnya banyak kejadian untuk diceritakan tapi susah sekali untuk dipaksa menuliskannya saat itu juga.

Jadi begini lah adanya, penceritaan seadanya. Mungkin membosankan untuk dibaca orang lain, tapi intinya aku ingin menuliskan hari hari selama di Indonesia.
Maka untuk hari senin dan selasa ini, setelah sore hari kemarin kami diantarkan kakakku ke hotel Sensa di Ciwalk (again!) Kami hanya menghabiskan waktu di sekitar situ saja, di dalam mall dan kamar, hanya bolak balik itu saja. Sementara aku dan Luc selalu hunting supermarket untuk mencari makanan yang tak bisa kami dapatkan di Belanda, Cinta dan Cahaya lebih banyak menghabiskan waktu bersama ayah dan ibu di tempat permainan anak. Atau kembali ke kolam renang.

Dan esok hari (tgl 27 agustus 2014) adalah hari kami kembali ke Belanda, terima kasih yang masih mengikuti hari hariku di Indonesia, maafkan hanya mampu menceritakan sesuatu yang mungkin membosankan, yang lebih jelasnya akupun sudah bosan menuliskannya hihihi.

Dan berikut beberapa foto yang pemerannya masih yang itu itu juga 😉
IMAG2464IMAG2390IMAG2393IMAG2462IMAG2405IMAG2411IMAG2457IMAG2401IMAG2409IMAG2413

Jangan pernah menyepelekan ingatan seorang ibu

Hari ke duapuluh delapan
Minggu, 24 Agustus 2014

Hari ini adalah hari minggu terakhir di Bandung sebelum aku kembali ke Rotterdam. Walau adikku Abay Surabay tak bisa datang tapi hari ini kedua kakakku bisa datang ke Bandung. Kakak pertamaku datang beserta keluarganya dari Bogor, sedangkan kakak nomor dua datang bersama istrinya dari Cianjur.

Hari ini, kakakku meminta kami makan siang bareng, katanya makan siang terakhir bareng bareng sekeluarga sebelum aku kembali ke Rotterdam. Karena nanti sore aku, Luc dan si kembar akan menginap kembali di Sensa berhubung rencana ke Cirebon batal, ternyata Luc membooking dua kamar di Sensa dari minggu sampai selasa, satu kamar untuk ayah ibuku. Gara garanya karena aku tak mau tidur di hotel lagi dan sangat ingin menikmati hari hari terakhir sebelum pulang ke Belanda hari rabu nanti bersama kedua orangtuaku. Kali ini ibuku bersedia diajak tidur di hotel hanya untuk menebus rasa bersalah dua tahun lalu, saat kami mengajak ayah ibu untuk tidur di Hotel juga, ibuku tak mau tidur disana, ngapain katanya tidur di hotel, wong ada rumah di Bandung dan tentu saja tempat tidur sendiri adalah tempat tidur yang paling nikmat sedunia, dan itu aku setuju sekali. Maka sebelum pergi makan siang aku sudah membereskan koper untuk dibawa ke Belanda, semua sudah dirapikan hanya satu koper saja yang masih terbuka untuk barang barang yang belum dibereskan sepulang kami dari hotel.

Awalnya kami berencana makan di Roemah Nenek di jalan Taman Cibeunying. Sengaja mencari tempat yang tak terlalu jauh, Taman Cibeunying mudah di jangkau, berhubung kami berangkat dari rumah sudah terlalu siang dan kedua kakakku akan langsung kembali ke rumahnya di Bogor dan Cianjur setelah makan nanti. Saat aku berkata bahwa kita akan ke Roemah Nenek, Luc yang saat itu sedang tenggelam di balik tablet melontarkan kata kata pada kami, Stone cafe rating nya lebih tinggi dari pada Roemah Nenek! Kakak pertamaku langsung ikut mengecek juga, dan tiba tiba saja dia ikut berseru kita kesana yaa…….

Padahal tempatnya termasuk dalam daerah yang kami hindari, sudah jauh macet juga. Saat Luc menyebutka nama Stone cafe tak ada diantara kami yang tau nama itu, artinya tidak satupun dari kami yang pernah makan disitu. Tapi kemudian ibuku menimpali, dia tau tempat itu, katanya dia pernah makan bersama kakakku dan kemudian menuduhku sudah makan disitu juga. Kontan kami semua menyebut ibu mengada ada sambil bercanda kami berkata ibu sedang mengigau, anehnya ibuku menyebut sangat detail tempatnya, saat kami menyebutkan beberapa nama untuk meyakinkan ibuku mungkin ibu keliru dengan restauran lainnya, tapi ibu tetap menggeleng dan berkata bukan setiap nama yang kami sebutkan. Saking detailnya ibu bisa menyebutkan bahwa ada mushola di bagian depan, kecil tapi bersih dan tempat wudhu nya bagus, ibu sholat Asar disana katanya.

Aku, Luc, ibu ikut bersama kakak nomor dua beserta istri. Berhubung rombongan kakak pertamaku yang paling kami andalkan untuk urusan jalan ke restaurant sudah berangkat duluan karena harus ke toko buku dulu untuk keperluan anaknya, rombonganku terjebak di jalan, karena kakakku tak berhasil menemukan jalan ke sana, waktu di briefing dia dengan pasti tau tempatnya, nah begitu sudah ada di daerah Tubagus Ismail dia tidak berhasil menemukan tempatnya.

Maka sibuklah aku saling telpon untuk meminta petunjuk ke rombongan yang telah pergi duluan, ibuku yang duduk di sampingku berkali kali memberitahukan kakakku yang sedang berada di belakang kemudi untuk mengikuti petunjuknya dengan menunjukan jalan karena dia pernah ke Stone cafe katanya. Karena kami tetap tak menemukan tempat yang dimaksud akhirnya Luc mengecek internet lagi, mencari alamat yang jelas dimana tempat itu, dan hoplaaa sekarang Luc sibuk menjadi co pilot kakakku dengan mengarahkan kemana mobil yang kami tumpangi harus melaju, Luc menggunakan google maps.

Dan tralaaaaaaa, kemudian kami mengenali jalan jalan yang dilalui, kemudian ibu semakin bersorak ketika Luc menyuruh kakakku menepikan mobilnya.

Saat kami menemui rombongan kakak pertamaku dan adikku yang sudah menunggu disana, kulihat mereka tertawa tawa, termasuk dua ponakanku yang sadah beranjak dewasa. Tawa kami semakin membahana saaat ibuku berkomentar seperti ini…..

Makanya harus percaya pada orang tua, apalagi pada seorang ibu. Sudah berapa kali ibu bilang, kita pernah kemari tapi tak ada satupun dari kalian yang percaya.

Hahaha, saat aku turun dari mobil dan berjalan ke arah cafe, saat itu barulah aku yakin bahwa akupun pernah berada disini. Bahkan kedua ponakanku yang biasanya tak pernah lupa akan suatu tempat, semakin tersenyum simpul menyadari bahwa merekapun pernah kemari.

Satu pelajaran yang kami pahami hari itu, jangan pernah menyepelekan pendapat orang lain. Apalagi perkataan seorang ibu, jangan pernah diingkari.

Sambil cengengesan menahan malu, kami semua meminta maaf pada ibuku bahkan ayahku juga!

Indonesia, negara sejuta Mall?

Hari ke duapuluh enam dan duapuluh tujuh
Jumat dan Sabtu 22-23 Agustus 2014

Rasanya diantara negara yang pernah aku kunjungi, sepertinya Indonesia juara satu dengan jumlah mall terbanyak. Jadi sepertinya tak salah jika mendapat julukan negara sejuta mall. Dan mall yang paling kami sukai selai BIP dan Paris van Java(tahun ini kami tak sempat ke PVJ) adalah Ciwalk, karena setiap kami pulang ke Bandung kami selalu menyempatkan tidur di hotel Sensa salah satu alasannya karena berada di dalam mall Ciwalk.

Saat Luc check internet bioskop apalagi yang belum dia kunjungi, dia menemukan nama Festival City Link yang sebelumnya belum pernah aku dengar. Karena Luc hobby sekali nonton film maka nama mall yang baru aku dengar kali ini pun akhirnya kami datangi.

Ternyata Festival City Link dulunya gedung lama dari Molis yang dulu bankrut dan kini berubah wajah. Jadwal ke mall kali ini apalagi kalau bukan memenuhi permintaan Luc nonton film, karena semua film sudah dia tonton di mall yang lainnya, dia menemukan satu judul film yang tidak ada dibioskop lainnya dan hanya da di Festival City Link ini. Sementara Luc menonton film, aku sibuk creambath.

Esoknya kami datang ke TSM yang dulunya bernama BSM. Bahkan Luc pun ikut terkaget kaget saat BSM berubah nama, tanyanya kenapa harus berubah nama? Mungkin disesuaikan namanya karena kini ada Trans Studio disana?

Lebih kaget lagi, karena saat kami makan di food court, kami harus bayar makanan pakai kartu yang ada saldonya. Yah kami kan tak tau, kita pesan makan dan begitu bayar mereka tanya ada kartunya? Yah aku bilang ga punya dong, dan aku langsung memberikan uang 50 ribu untuk semangkuk mie kocok dan kerupuknya. Nah orang yang melayaniku di gerai mie kocok itu memberikan sebuah kartu dari dompetnya, sambil berkata pake punyaku saja dulu dan aku diminta mengisi debitnya sebesar 50 ribu di counter pengisian kartu Trans.

Sambil melongo keheranan aku laksanakan juga perintahnya, saat aku duduk dan menanti Luc yang sedang membeli soto di kedai yang lainnya, aku mendengar panggilan Luc, dia tak mengerti sama sekali apa yang diminta kassa, o alah aku sudah menyangka pasti dia diminta kartu juga, aku jelaskan kami tak memiliki kartu dan aku meminta untuk membayar cash saja. Akhirnya orang yang melayani Luc setuju. Sialnya saat Luc akan membeli juice untuk minum, kedai juice tak menerima uang cash, sambil bersungut sungut Luc kembali duduk dan kembali berkeluh kesah mengenai sistem pembayaran yang menjengkelkan itu. Ya tentu saja menjengkelkan bagi kami yang baru pertama kali lagi datang, tak tahu apa apa mengenai kartu Trans dan tak mendapat penjelasan sebelumnya.

Oh ya, hal yang bikin aku terkejut juga adalah ternyata saat aku ke supermarket yang ada di TSM, Hero supermarket aku terpana melihat tampilan Hero sekarang ini, lebih diperuntukan untuk ekonomi kelas menengah ke atas, disaat aku mencari cereal untuk Cinta Cahaya,  ternyata disini harganya cukup mahal yaitu Rp. 113.490, padahal biasanya aku membeli dengan harga sekitar 3 euro saja untuk jenis cereal yang sama keluaran Kellogg’s
IMAG2436
IMAG2437
Cukup sekali saja makan di food court TSM, sungut Luc dengan nada jengkel.

Desaku yang kucinta

111_1268

Luc, mang Entis, ayah

Hari ke duapuluhlima
Kamis, 21-8-2014

Akhirnya adikku Abay Surabay datang juga pukul 10 pagi, setelah aku dan ibuku sibuk mengomel panjang pendek karena rencananya pergi pagi ke Singaparna tak sesuai dengan rencana. Seruku menyambut kedatangannya, asalnya kalian mau tak tinggal… tapi gak bisa wong kamu supirnya. Dia hanya nyengir saja seperti biasa. Menurutnya tak penting mendengar omelan aku yang selalu cerewet padanya.

Dan perjalanan menuju Singaparna pun diramaikan oleh celoteh Cinta dan Cahaya yang sudah lebih fasih berbahasa Indonesia dan saling menimpali bersama Ghaly sepupunya, anak adikku itu. Sepanjang perjalanan Luc banyak diam saja, merasakan perutnya yang menurut ceritanya masih belum normal juga, dia sesekali menyuruh Cinta dan Cahaya tidak terlalu ribut, dan ketiga bocah yang duduk di jok paling belakang mobil Avanza kepunyaan ayahku terdiam sesaat setiap kali Luc berteriak menyuruh diam tapi selang menit kemudian mereka bertiga sudah kembali tertawa tawa dan berceloteh kembali. Hatiku senang melihat keakraban mereka bertiga. Tapi rupanya Luc sedikit cemburu, katanya padaku kenapa dia satu satunya yang tak bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia? Aku semakin memanasinya, kelak kami bertiga akan saling berbagi rahasia menggunakan bahasa Indonesia dan kau tak tau, ujarku semakin membuat Luc geram. Hihihi.

Tapi untunglah Luc yang sedang sedikit ‘tertekan’ akibat bahasa dan perut yang tak bersahabat segera mencair ketika sudah mendekati Singaparna, dan kegembiraan segera terasa saat kami tiba di rumah mang Entis. Kami berkunjung ke rumah mang Entis, begitu kami biasa memanggilnya. Beliau bukan kerabat kami, tapi kekeluargaan diantara keluarga kami dan dia begitu erat. Walau pada awalnya hubungan ini adalah antara tuan dan bawahan, tapi kami tak mengganggapnya seperti itu. Aku sudah kenal mang Entis sejak aku bayi (menurut cerita ayah dan ibuku tentunya), mang Entis adalah orang yang mengerjakan sawah ayah dan ibuku, yang kemudian menjadi sering dipanggil ke Bandung untuk urusan memelihara taman yang harus dirapikan setiap sebulan sekali. Kemudian menjadi penunggu rumah ayah dan ibuku, jika mereka sedang berada di luar kota atau luar negri.

Saat Luc untuk pertama kalinya datang ke Indonesia, ibuku sudah mengajak Luc ke kampung mang Entis. Luc jatuh hati padanya. Saat Luc datang untuk yang kedua kalinya ke Indonesia untuk menikah denganku, oleh oleh istimewa dia persiapkan untuk mang Entis.

Menurut Luc, man Entis adalah orang yang paling baik yang pernah dia temui. Sementara menurut ibuku, dia adalah orang yang paling jujur dan tak pernah membicarakan orang lain sedikitpun walaupun kita berusaha untuk memancingnya, dia tetap tak akan terpengaruh.

Dan menurutku dia adalah orang yang cerdas, kecerdasan mang Entis yang begitu melekat erat dalam ingatanku adalah karena mang Entis bisa menjawab teka teki yang aku lontarkan yang menurutku teka teki tersusah di jamannya hahaha, saat itu aku masih kelas dua SD.

Herannya walau mang Entis tak banyak cakap, kalau tak kita tanya maka dia akan membisu selamanya tapi anak anak kecil sangat suka padanya dan selalu mengekuti mang Entis, itu terjadi padaku sewaktu aku kecil dulu, kemudian pada adikku, pada ponakanku dan kini pada Cinta dan Cahaya.

Ghaly ikut recokin mang Entis yg lg kerja

Ghaly ikut recokin mang Entis yg lg kerja

IMG-20140920-WA0004

Dan hari kamis tanggal 21 pada saat pengumuman pemenang presiden di umumkan, Cinta dan Cahaya begitu bergembira bermain main di pematang sawah.

Desa Ciawang Lebak Singaparna-2014

Desa Ciawang Lebak Singaparna-2014

250 ribu ongkos naik kuda di Ganeca ITB, Blaammmmmmmmmmmm!

Hari keduapuluh empat
Rabu, 20 Agustus 2014

Hari ini ayahku menjemput kami dari hotel balik ke Cibiru ke rumah orang tuaku setelah tiga malam menginap di Sensa. Aku berjanji pada Cinta Cahaya untuk membawa mereka naik kuda sebelum kembali ke Cibiru. Setelah berputar dua balikan di jalan Cilaki, kami tetap tak menemukan kuda yang biasanya nangkring di jl Cilaki. Akhirnya kuputuskan untuk mencari kuda di jl Ganeca, yang sudah pasti suka berkeliaran di sekitar kampus ITB itu.

Baru saja ayahku berhasil parkir, beberapa mang kuda sudah mendatangi mobil kami, aku berkata bahwa kami hanya butuh tiga kuda saja, untuk Cinta, Cahaya dan Ghaly. Sementara Cinta dan Cahaya heboh untuk segera menaiki kuda, Ghaly ponakanku malah meronta ronta tak mau keluar dari mobil, di bujuk dengan cara apapun dia tak mau menaiki kuda.

Bagaimana bisa sementara ayahnya (adikku), dulu paling gila naik kuda. Masih ingat dalam ingatanku aku yang saat itu sudah kuliah sedangkan adikku yang kala itu masih SD (kami terpaut perbedaan umur 12 tahun) sering membawa adikku untuk naik kuda, kubiarkan dia naik kuda sepuasnya, sementara aku asyik makan baso yang kadang mangkal di pinggir jalan atau sambil membaca buku di mobil sambil istirahat atau sambil terkantuk kantuk saja di balik stir mobil. Hingga si mang kuda yang mendampingi adikku, memintaku untuk mencari kuda lain untuk ditunggangi adikku, kasian capek kudanya, kata si emang. Dan begitu kuperhatikan kuda yang ditunggangi adikku, kuda tersebut sudah mengeluarkan busa dari mulutnya. Dan tentu saja si emang sudah tersengal sengal kelelahan.

Kini mana mungkin Ghaly anak adikku bisa takut menaiki kuda? Karma? Karena dulu sering membuat kuda kecapean? Hehehehe.

Kembali ke soal Cinta dan Cahaya yang antusias naik kuda, mereka dengan sigap dinaikan oleh si mang kuda ke punggung kuda yang dia bawa. Tanpa ba bi bu lagi dua tukang kuda itu membawa Cinta dan Cahaya pergi. Ayah ibuku yang belum keluar mobil terkaget kaget, dan berkata padaku, awas perhatikan dengan baik takutnya anak anak dibawa kabur.

Waduh merinding pula mendengar komentar ibuku, untunglah belum lagi aku menyuruh Luc untuk mengejar si kembar, Anak anak sudah berada di hadapanku dengan senyum mengembang, melempar senyum di atas punggung kuda dengan bangganya. Aku berseru ke arah si emang untuk berhati hati dan cukup dua putaran lagi saja, mengingat waktu kami yang tak banyak sementara kami harus masih ke tempat lain sebelum pulang ke cibiru yaitu ke studio foto.

Kemudian satu dua kali aku melihat mereka melewati kami, kemudian aku dan Luc sepakat saat mereka melewati kami, cukup bagi anak anak main kuda.

Si mang kuda merayu kami untuk membiarkan Cinta dan Cahaya berkeliling sekali lagi, tapi aku menolaknya walaupun diikuti rengekan anak anak. Kok cuma sebentar bunda? Lagi lagi dong, abru juga naik, dan kata kata protes lainnya dari mulut si kembar, yang membuat si mang kuda di atas angin. Tapi begitu Luc berkata tidak, empat orang itu yang tadi merengek renget langsung diam termasuk dua kuda yang ditunggangi Cinta Cahaya. Si mang buru buru menurunkan anak anak dari punggung kudanya.

Aku segera bertanya berapa uang yang harus di bayarkan.
Jawab si emang…..
Satu putaran 50 ribu, mereka naik kuda tiga putaran.
Kemudian kata si emang yang satunya lagi….
Eh itu tiga putaran besar, trus satu putaran kecil. Yang putaran besar dikali dua, jadi mereka naik kuda tujuh putaran.

What???!!!! Seruku terkaget kaget. Jadi satu anak harus bayar 350 ribu? kali dua jadi 700 ribu? Yang rasanya tak sampai 10 menit saja? Di antara kepanikan mendengar angka yang fantastis aku masih sempat bersyukur untung Ghaly tak naik. Kalau dia berhasil kurayu untuk naik kuda, berapa uang yang harus kubayarkan?

Tapi tunggu dulu, aku ga mau dipalak begitu saja. Ini Indonesia, masih bisa bernego alias di tawar.

Jawabku, aku yang salah mang, harusnya aku menawar dulu sebelum anak anak naik. Nah aku lupa menawar karena kejadiannya begitu cepat, kalian langsung membawa anakku naik kuda. Mana mungkin 50 ribu satu putaran, pantasnya 10 ribu saja. Jadi perorang 70 ribu ya, dua jadi 140 ribu. Ujarku dengan yakin.

Si emang tetep ga mau, pun ketika aku menawarkan 200 ribu kemudian 250 ribu pada mereka. Hingga Luc mendengar diskusi kami dan bertanya sebetulnya berapa sih yang harus dibayarkan. Dan beranglah saat tau berapa rupiah yang dipinta tukang kuda tersebut. Tak wajar itu, serunya mana bisa lebih mahal dari pada naik kuda di Belanda?

Akhirnya ibuku turun tangan, katanya menggunakan bahasa Sunda yang halus, yang artinya seperti ini…. sudah kasih harga yang wajar saja, ibu juga penduduk Bandung, lahir disini, makan nasi seperti emang jadi tahu pasti mana mungkin naik kuda bisa semahal ini (lho apa hubungannya makan nasi dan harga naik kuda? hhihihi) Jadi terima saja uang 250 ribu ini, kan emang ga kerja setengah jam saja tidak sampai…. dapat uang sebesar ini, ibu aja yang pensiunan pegawai negri yang lebih dari 35 tahun kerja ga mungkin 15 menit dapat uang sebesar itu. Jadi terima saja, syukuri rejeki mamang yang banyak.

Kemudian sambil menyerahkan uang 250 ribu, ibuku berkata kembali…. ini saling ridho kan, semoga bermanfaat.

Kedua tukang kuda itu mengangguk ngangguk takjim, mengucapkan terima kasih dan berlalu dari kami semua. Sementara aku masih terbengong bengong.

Sebetulnya berapa sih harga normal naik kuda tunggang di ITB untuk satu putaran kecil? Walau aku tak tau ada putaran kecil dan besar seperti istilah yang dikatan tukang kuda padaku.

Cahaya naek kuda!

Cahaya naek kuda!

Cinta naek kuda!

Cinta naek kuda!

Meisya si Japanese girl

with Mikako and Ai Ginza-Tokyo, July 2006

with Mikako and Ai
Ginza-Tokyo, July 2006

Hari ke duapuluhtiga
Selasa, 19 Agustus 2014

Hari ini dapat kunjungan dari Meisya. Meisya si cantik yang kini tinggal di Jepang. Ada cerita sendiri sewaktu Cinta dan Cahaya pertama kali ketemu. Waktu itu di awal bulan jan 2010. Cuaca ekstrim luar biasa. Untuk pertama kalinya aku berkunjung ke rumah seorang teman di Groningen.Aku baru tiga bulan keluar dari rumah sakit, aku baru lepas dari suster yang membantuku yang setiap dua kali sehari pagi dan malam datang ke rumahku, dan saat itu fisioteraphy masih datang ke rumahku satu minggu sekali.

Temanku Puti mama dari Meisya menerima kedatang kami, dia memasak capcay dan ayam bumbu kecap untuk kami, masih belajar katanya hahaha. Sama sama pendatang baru dari Bandung yang hijrah ke Belanda dan tak pernah ke dapur untuk memasak sebelumnya selama tinggal di Bandung dan tentu saja sama dengan diriku (dan aku kira banyak yang senasib dengan kami). Dan tralaaaaaaaaa pemula ini sudah bisa menyuguhkan masakan lezat.

Cahaya-Meisya-Cinta (Jan 2010)

Cahaya-Meisya-Cinta (Jan 2010)

Satu tahun kemudian kunjungan Puti sekeluarga ke Rotterdam.

Hingga mereka sekeluarga harus hijrah ke Jepang. Karena bung Amel mendapat pekerjaan baru disana, dan kami tak sempat bertemu untuk bersay goodby.

Ternyata saat liburan ini kami bisa bertemu kembali di Bandung. Puti sekeluarga sedang mudik ke Bandung begitu juga diriku.
Ternyata say goodby yang belum sempat terucapkan berubah menjadi say hello saat berjumpa di Bandung.

Walau waktunya singkat, dan kami tak sempat bercerita banyak, tapi Cinta dan Cahaya menikmati pertemuan meraka kembali, berlari ke sana kemari. Yang dua bicara bahasa Belanda dan yang satu bicara bahasa jepang. Seru lucu dan kocak. Meisya sudah lupa lagi bahasa Belanda padahal dia masih sempat sekolah di Belanda. Kini dengan mudahnya dia berbahasa Jepang. Untunglah sebagai penyambung bahasa mereka bertiga saling menerjemahkan ke bahasa Indonesia. Walau lebih banyak berlarian daripada bercerita, tapi itulah dunia anak anak, apapun bahasa mereka, mereka akan saling mengerti satu sama lainnya.

Reuni agustus 2014

Reuni agustus 2014

Dan kenapa kita orang dewasa walaupun dalam satu bahasa yang sama kadang tak pernah saling mengerti? Hahaha.

Terima kasih Puti dan Meisya atas kunjungannya, dan serbuk ajaib yang berubah jadi permen. It’s really amazing!

Puuuuut kapan aku bisa balik ke Jepang?
Kangen Syibuya tempat nongkrong hampir tiap sore bersama Ai and the gank, pas nyebrang di stopan yang super ramai itu. Kangen ngumpulin tissu gratisan. Kangen Yokohama. Kangen Yamanasi, Tokyo, Fukuoka. Kangen berat dengan Nishiyama san “mother of Tokyo” yang memperlakukanku bak seorang putri. Terlebih itu aku kangen pada ibu keduaku Sachie Ogata, dari beliau aku belajar bagaimana menjadi seorang istri yang melayani suami dengan cinta dan pengabdian, dan tak seujung rambut pun aku tak akan mampu seperti dia. Okasan maafkan aku yang belum juga membawa Luc seperti janjiku saat kutelepon dirimu untuk mengabarkan bahwa aku akan menikah. Ya Tuhan baru aku sadari bahwa aku ternyata dikelilingi oleh orang orang hebat. Tersadar bahwa aku punya warna warni hidup yang ceria dan fantastis.

Ya Tuhan, nikmat apa lagi yang telah aku dustakan?

Syibuya!

Syibuya!