Lovely visitor

Apa yang akan dilakukan seorang anak jika ibunya akan berkunjung ke rumah anaknya?

Temanku jaman kuliah dulu, akan sibuk membereskan kamar kosnya. Menempatkan buku buku ditempat yang akan tersapu oleh pandangan mata dan menyembunyikan barang barang yang tak pantas dimiliki seorang pelajar ditempat yang ‘aman’.

Kakakku akan khusus membersihkan rumah seminggu sebelum ibuku datang berkunjung ke rumahnya, dikomando istrinya yang juga sibuk luar biasa (hihihi…Piissss)

Dan bagaimana dengan diriku?

Haha ternyata tak kalah dengan pengalaman teman dan kakakku. Kesibukan bukan saja terjadi seminggu sebelumnya, bisa dikatakan sebulan sebelumnya.

Tak hanya bersih bersih tapi juga menghilangkan barang barang yang seharusnya sejak lama tidak berada di dalam rumah.

Bukan hal penting bagi kami, apakah orangtuaku tahu usaha seperti apa yang kami lakukan agar semuanya terlihat rapi dan bersih? Yang aku tahu kami (aku dan Luc) sama sama menikmati moment bedah rumah ini dengan suasana hati campur aduk, senang sekaligus dag dig dug takut deadline tak tercapai.

Dan sudah terbayang di dalam memoriku, saat ibuku berkomentar atas hasil jerih payah kakakku, …. eleuh eleuh teteh teh beberes? Naha teu kaciri?

Hahaha, akan kah komentar seperti itu juga yang akan menimpaku?

Rotterdam, 22 April 2013

Image

TV merk LG dan Phillips ready dibawa ke tempat sampah
Image

Image

Image

Image
Ternyata akupun bisa ‘nembok’

Ibu kita Kartini

Apa kabar nya peringatan hari Ibu Kartini di masa kini? Masihkah diperingati seperti di jaman kecilku dulu?

Dulu setiap tanggal 21 April, maka kami akan mengenakan baju daerah, kebanyakan hanya anak perempuan yang berbaju daerah, sedangkan anak lelaki lebih memilih tetap berseragam sekolah. Hingga kini aku masih ingat kebaya apa yang aku kenakan pada hari Kartini sewaktu aku TK dulu, kebaya krem mendekati oranye buatan ibuku, dan kain samping kepunyaan ibuku yang dilipat sedemikian rupa untuk dibuat pas ditubuh mungilku, dan tak lupa ibuku mengambil bunya dari vas bunga untuk dibuat hiasan diatas kepalaku, alhasil aku bagaikan vas bunga berjalan, hahaha.

Begitu aku pulang dari acara Kartini di sekolahku, aku menceritakan pakaian teman teman yang dikenakan saat itu, berkali kali aku antusias menceritakan seorang teman yang mengenakan baju daerah yang sangat indah sekali, kemudian dia bercerita bahwa baju yang dikenakannya adalah baju Bodo dari Menado. Aku bilang pada ibuku bahwa jika nanti ada peringatan hari Karini di sekolah aku ingin mengenakan baju Bodo, kemudian ibuku memperlihatkan buku pahlawan yang ada gambar RA Kartini, dan menunjukan bahwa Kartini mengenakan baju kebaya dari Jawa kemudian menceritakan mengenai siapa ibu Kartini. Singkat saja menurut versi ibuku, dia seorang wanita cerdas yang ingin selalu bersekolah yang berkorespondensi pada teman Belandanya dan dia tidak mengenakan baju Bodo. Mungkin saat itu yang ingin ibuku sampaikan adalah untuk menjadi cerdas dan berpikiran maju tidak melihat baju apa yang kita kenakan atau dari mana kita berasal.

Ketika usiaku mulai membengkak, dan aku mulai membaca beberapa artikel tentang Ibu Kartini, aku semakin mengerti untuk membuka wawasan mengenai arti emansipasi wanita yang terinspirasi dari Ibu Kartini. Jika kini emansipasi wanita selalu dikaitkan bahwa wanita bisa meraih karir setinggi mungkin sama dengan para lelaki, wanita di Indonesia selalu diingatkan untuk tidak melupakan kodrat sebagai wanita yaitu menjadi pendamping suami dan ibu yang baik baik jika ia punya suami ataupun anak.

Ibuku pernah bilang, aneh ya klo giliran wanita diingatkan untuk kembali ke dapur mereka selalu berteriak, udah ga jaman, ada emansipasi wanita! Eh giliran di bis kota dan ada wanita yang menggerutu karena dia berdiri dengan belanjaan penuh sedangkan di depannya ada laki laki yang dapat kursi dan lekker siten dengan enaknya, pasti lah si wanita sedikit kesal karena itu laki laki bisa duduk dengan enaknya tanpa menawarinya kursi. Ibuku bilang, jangan menyalahkan laki laki yang ga mau memberikan kursinya, ingat kan wanita sama dengan laki laki, tidak usah mengeluh! Itulah sebabnya, walau aku satu satunya perempuan dari 3 lelaki di rumah, kami semua sama, cuci pakaian masing masing, cuci piring siapa saja, dan masak bisa siapa saja. Dan tentu saja ibu selalu mengandalkan ayahku untuk membuat nasi goreng, hehehe. Emansipasi berjalan dengan tertib di rumah orang tuaku.

Dan aku kini telah menikah, pemikiran sudah di mindset dari awal, bahwa posisi suami istri di rumah sama, sama sama boleh mengambil keputusan penting untuk kepentingan bersama, tapi aku tetap bilang pada suamiku bahwa aku tetaplah makmum di rumah ini dan dia adalah nahkodanya alias imam. Dan dia masih tetap tidak mengerti saat aku masih juga selalu mengandalkan seluruh keputusan dan selalu minta pendapatnya. Dan yang lebih ekstrim adalah saat Luk menyatakan pemikirannya, bagi dia (Luc) tak apa jika aku ingin bekerja dan ternyata penghasilanku lebih besar darinya, dan bisa menghidupi kebutuhan seluruh keluarga, maka dia akan diam di rumah dan tidak keberatan mengurus anak anak. Dan jawabanku tentu saja………. No way! Kau harus tetap bekerja sayangku, hahaha.

Berikut aku lampirkan sedikit biografi RA Kartini yang diambil dari wiki, aku harap kalian yang membaca Note ini membaca juga penjelasan dari wiki hingga tamat. 🙂 Dengan harapan, jika sering membaca sepak terjang para Pahlawan maka akan terinpirasi juga untuk lebih mencintai bumi kita Pertiwi dan berusaha untuk tidak terjebak dalam lingkaran sifat korup yang ternyata makin jelas terlihat di depan mata kita.

http://id.wikipedia.org/wiki/Kartini

So you guys…..tetap semangat untuk membuktikan bahwa kita termasuk putra dan putri bangsa Indonesia yang konon bangsanya dipuja puja bangsa 🙂

Rotterdam, 21 April 2011

Image

Jl. RA Kartini di kota Utrecht Selain di kota Utrecht, nama Kartini juga dijadikan nama jalan di kota Amsterdam, Venlo dan Haarlem

Image

Patah Hati

Empat tahun yang lalu,

Dengan bangganya Luc mengabarkan padaku bahwa dia memajang fotoku di wallpaper display komputernya di kantor, dan katanya komentar komentar teman kantornya mengenai fotoku membuat Luc senang dan bangga.

Itu cerita saat kami masih dipisahkan oleh jarak Belanda Indonesia (kami sudah menikah di Indo, tapi aku masih tinggal  di Bandung beberapa bulan lamanya untuk mengurus migrasiku, sementara Luc sudah kembali ke Rotterdam)

 

Hari sabtu kemarin,

Cinta dibawa Luc ke kantornya.

Dan cerita Cinta mengenai kantor papanya setelah kembali ke rumah,

Cinta: “Bunda, tadi di komputer papa di kantor ada foto Cinta dan Cahaya”

Aku: “Oh ya? Ada foto bunda juga kan?”

Cinta: “Neeeeee, ga ada!”

 

Saat itu juga aku langsung broken heart!!!

 

 

PS; Salah satu perbedaan atau perubahan antara sebelum dan sesudah kehadiran anak anak!

Perubahan yang lebih membahagiakan tentunya.

Terimakasih Tuhan, atas kepercayaan-Mu menitipkan mereka pada kami, semoga kami dapat menjalankan Amanah-Mu sesuai ajaran-Mu.

 

Image

 

Rotterdam, 24-12-2012

Kenapa Indonesia jauh sekali?

Percakapan sebelum bobo,

Aku: Kenapa Indonesia letaknya jauh sekali dari Belanda?

Luc: Geen idee

Aku: Kalau saja Indonesia letaknya di Maroko, tentunya kita ga terlalu jauh klo pulang kampung

Luc: Maroko juga jauh dari sini, kalo ga naek pesawat kita harus melewati Belgi, Frankrijk, Spanje baru bisa nyampe Marokko

Aku: Ya, setidaknya ga harus 18 nyampe 20 jam ngendon di pesawat, atau misalnya Indonesia ada di Turki

Luc: Turkije juga jauh dari sini

Ya, mesti melewati Belgi, Prancis, Spanyol, Maroko baru Turki ya. Ujarku sok tau

Luc: Haah kok ke Belgi dulu? Ya langsung ke Germany, Hongarije, Romania, Bulgarije en finally Turkije!

Hmmmmm, tetep aja masih jauhan Indonesia. Seruku, sedikit kecewa pada diri sendiri karena ga paham dimana Maroko dan dimana Turki, dikira Maroko dan Turki berdampingan kali?

Dan sekonyong konyong Luc bergumam,

‘Atau kau ingin ke Indonesia pake jalan darat? Oke jadi kita harus ngelewatin Germany, Poland, Ukraina, klein betje Rusland, Iran, Afganistan, Pakistan, India, trus apa lagi ya? mungkin kesananya kamu dah hapal karena dah deket Indonesia.

Aku: Ya, trus Filipina Thailand, Malaysia, Singapur dan horeee Indonesia. Ujarku senang.

Luc: Haaahhhhh! Bukankah Filipijn ada di arah yang berlawanan atau kamu ingin ambil jalur yang lain? Bukankah seharusnya di dekat India ada Myanmar?

Hihi aku tersenyum malu. (Untung gelap)

Aku: Ya, aku mo ambil jalur yang lain, biar melewati benua Amerika jadi nanti bisa melewati Filipina

Luc: Oke, berarti kita harus ke Polen, Finland, Rusland terus ke atas ngelewati Noord Pole, trus ke Canada baru bisa ke Amerika trus……. Yang kita mesti kemana lagi? Tapi kalo harus ngelewati Rusland takut juga, apalagi panjang gitu perjalannanya, kita mungkin ga selamat banyak kejahatan disana hhmmmmmmmmm ngeri. Yang…. Yayang are you still awake?

Aku: Hmmmmm ya ya ya banyak cerita miring tentang menjelajahi Rusia, ga jadi aaahhhh! Kenapa Belanda ga di Surabaya aja, jadi enak kalaupun naek kereta api di Indonesia masih bisa dilalui dengan angka 12 jam, itu juga dah super lambat dan masih bisa pesen nasi goreng di gerbong.

Luc: Yayang you are amazing!!! Hahahaha

Dan tadi pagi aku memutar bola dunia, melihat negara negara yang kami perbincangkan tadi malam.

Luc, you are amazing!!!!

Kamu menyebutkan jalur jalur itu tanpa salah!

Rotterdam, 5 Dec 2011Image

Aku anak Indonesia

Mendengar cerita temanku dan apa yang aku lihat saat aku masih tinggal di Indonesia, mengenai anak anak mereka adalah benar adanya.

Anakku paling suka lassagna.
Kalo dikasih pizza, langsung tandas.
Alhamdulillah anakku lebih suka dikasih spageti daripada indomie, lebih bergizi kan….
Anakku baru makan lahap kalo makan di ….. fried chicken.

Tapi tidak dengan Cinta Cahaya,
Mereka bisa makan lahap klo dikasih oseng tempe.
Paling doyan makan wajit ketan.
Saat disodori chips dan rangginang, mereka akan memilih rangginang!

Hahaha anakku, what kind kid you are?

PS; Saat hatiku resah tak tau apa yang harus kumasak hari ini untuk mereka.
Masa harus tempe lagi?
Tolooonggggggggggggg!

Rotterdam, 15-12-2011

Rapi dan Bersih

Berdasarkan kemampuan motorik tanganku untuk melakukan tugas beberes, rasanya telah aku gunakan secara maksimal. Tapi hasil dari effort yang aku kerahkan tak pernah fantastis.

Meja kaca di ruang tengah selalu saja bergajih walau telah aku bersihkan setiap hari.

Rak buku tetap saja berdebu walau aku bersihkan seminggu sekali.

Dapur tetap saja tak pernah terlihat rapi walau aku berusaha keras menyusun barang dan bumbu bumbu yang ada di dapur.

Kaca jendela masih tampak kusam dan berdebu (karena memang tak aku bersihkan, haha)

Tentang ruang tengah? Wah jangan tanya! Hanya bisa rapi saat anak anak berangkat tidur dan akan kembali ‘fantastis’ di pagi hari saat mereka kembali beraktivitas.

Tapi beberapa hari yang lalu, seorang teman berkunjung, dan komentarnya,

‘Duh teh yayang, dapurnya bersih, aku mah mana sempet bersihin dapur’

Lalu dia ikut menidurkan anaknya di kamar Cinta Cahaya, ‘rapih teh… padahal teteh anaknya dua, aku mah anak satu juga kamarnya ga serapi ini’

Berbekal sanjungan yang luar biasa itu aku meneruskan ucapan temanku pada Luc, dan katanya,

‘Hahhh!’Ucapnya setengah berteriak sambil tersenyum, tapi kemudian ucapnya

‘Mungkin dia salah lihat atau mungkin dia berusaha membuat dirimu bahagia, aahhhhhh so nice, dia menghargai usahamu beberes’

Dan kemarin siang waktu Belanda, aku menelepon ibuku….

Entah dari mana mulanya, percakapan menuju daerah ‘beberes’, hingga terlonta kata kata bangga dariku tentang ucapan temanku mengenai kamar Cinta Cahaya yang rapih.

Dan apa jawaban di ujung sana?

Hanya tawa panjang yang tiada henti, kalau aku boleh mendramatisir mungkin gema tawa ibuku tetap bertahan ditelingaku hingga saat ini!

Ah ibuku yang cantik, my big motivator, pe-support paling tangguh dalam hidupku, yang selalu tabah menerima setiap langkahku dan keputusan gila sekalipun yang aku ambil dalam hidupku, dia tak mampu menerima kamar Cinta Cahaya dikatakan rapih, hahahaha….

Rotterdam, 10-11-12

Doa Ibu

Saat aku bilang pada ibuku,
Aku mohon doa darimu…..
Ibuku menjawab,
Di setiap helaan nafasku ada doa selalu untukmu…….

Kini baru aku sadari setelah belasan bahkan puluhan tahun berselang,
selalu ada doa yang tanpa aku sadari aku panjatkan, bahkan saat aku membaca sekalipun
untuk kedua buah hatiku….

PS. Selalu ingat Yang……. anak dan harta adalah amanat dan ujian bagimu!

Rotterdam, 17-10-2012