Kutuan

Awal tahun 2018 di salah satu saluran TV Belanda ada mini seri De Luizenmoeder. Awal aku melihat iklannya aku berpikiran apakah ini mengenai pencarian kutu di kepala anak anak yang prakteknya dilakukan di minggu pertama anak anak kembali ke sekolah setelah liburan (liburan semua musim). Ternyata film ini bukan mengenai hal tersebut (walau hingga saat ini aku belum pernah nonton mini seri tersebut).

Luizenmoeder itu sendiri adalah sebutan untuk orang yang memeriksa rambut anak anak setelah liburan tiba. Jika di sekolah si kembar yang lama yang jadi luizenmoeder adalah orang yang bekerja di sekolah (bisa admin ataupun vrijwilligers yang bekerja di sekolah untuk menjaga anak anak bermain saat istirahat tiba). Sedangkan di sekolah si kembar yang sekarang yang jadi luizenmoeder adalah orangtua murid, biasanya tiga orangtua. Tidak hanya ibu saja lho, bapak pun bisa jadi luizenmoeder.

Nah mengenai kutu di kepala, rasanya jaman masa kini yang namanya kutu sudah tidak jaman lagi, digantikan oleh ketombe dan kerontokan. Tapi tidak begitu di Belanda! Saat si kembar awal bersekolah SD di sekolah yang lama, aku mendapatkan email peringatan dari pihak sekolah bahwa salah satu anak di kelas Cinta kedapatan kutu di kepalanya. Kami para orang tua dianjurkan selama seminggu menyisir rambut anak anak setiap pagi dan sebelum tidur (menggunakan sisir sirit). Hal tersebut dianjurkan guna mengantisipasi kemungkinan rambut anak anak lainnya yang sekelas tertular kutu pula.

Langkah langkah yang harus dilakukan untuk menyirit rambut anak anak harus dilakukan di atas kertas putih sehingga kutu yang jatuh dari rambut akan terlihat di kertas putih. Saat aku membaca perintah tersebut, aku sampai ngakak habis, kok persis banget sih caranya seperti aku kedapatan kutu sewaktu kelas empat SD sehabis kemping Pramuka padahal cuma semalam lho! Ibuku menyirit rambutku di atas kertas putih!

Selain cara menyirit rambut, juga terdapat informasi lainnya yang harus dilakukan jika langkah pertama menyirit rambut membuahkan hasil kutu di kertas putih tadi, maka langkah selanjutnya adalah membeli shampo pembasmi kutu atau mendatangi dokter keluarga.

Awalnya aku tak menghiraukan email tersebut, tapi aku sedikit takjub saat Luc pulang dari bekerja dia membawa sisir sirit yang baru dibelinya. Dan aku diajarkan bagaimana caranya menyirit rambut anak anak. Dan diatas kertas putih! Hahaha.

Nah tepatnya aku lupa saat si kembar duduk di kelas berapa (sa, aku mendapatkan telepon dari pihak sekolah bahwa luizenmoeder menemukan lisa (telur kutu) di kepala Cahaya. Tidak banyak katanya mungkin tiga atau empat telur saja, dan itu sudah mati. OMG, seteliti itukah? Dan akupun disarankan memeriksa rambut kami sekelurga dengan alat sisir serit. Nah tak lama setelah meneleponku, muncul dong email peringatan penemuan telur kutu di kepala di kelas Cahaya. Nama anak yang jadi tersangka (anakkku!) tentu saja tidak disebutkan.

Rasanya aku tidak pernah menceritakan penemuan telur kutu di kepala Cahaya pada orangtua teman sekelas Cahaya. Menurutku itu aib yang harus dijaga, jangan sampai ada anak lain yang tau. Hihihi. Ternyata tidak begitu dengan salah satu ibu dari teman si kembar. Tadi pagi aku mendapatkan pemberitahuan di whats App grup kelas Cinta, seorang ibu memberitahukan bahwa anaknya kedapatan kutu di kepalanya. Dia memohon maaf dan meminta kami untuk memeriksa anak masing masing yang mungkin saja tertular kutu juga, atau bisa jadi salah satu murid dari kelas Cinta yang menularkan kutu tersebut.

Kalau kalian pernah kutuan? 🙂

Advertisements