Schat, ik zoek een ander…

Di antara tiga pos yg kami terima hari kemarin, salah satunya adalah kartu super menghebohkan ini.

Di amplop kartu tersebut ditujukan pada penghuni rumah ini, aku tak menggubrisnya langsung meletakan di tempat biasa kami meletakan surat yg belum dibuka.

Saat Luc pulang kerja, dia langsung membuka surat surat untuknya. Kemudian aku yang sedang sibuk di dapur mendengar makian kekagetan dari suaranya. Aku melirik nya, dia tersipu saat tersadar aku tengah mengawasinya. Dia langsung tersenyum sambil berjalan ke arah tempat sampah kertas dan membuang kartu tersebut seraya bergumam…. Reklame sialan, ujarnya. Aku penasaran dan segera memungut apa yang baru dilempar Luc. Terbahak nya ring sesaat setelah membuka kartu tersebut.

Di bagian depan kartu tersebut bertuliskan…

Schat, ik zoek een ander…. (terjemahan bebasnya adalah, Sayang, aku mencari yang lain)

Sedangkan begitu aku buka lembar berikutnya adalah… HUIS!

Hahaha bukan mencari kekasih hati yang lain.😂

Ini adalah iklan spektakular yg nyaris bikin Luc jantung an 😜.

Luc you are always be my valentine every day every time, forever! 😁

Advertisements

Hand phone

Sudah hampir setahun ini si kembar terutama Cinta tergila gila dengan telepon genggam. Obsesi untuk memiliki telepon genggam kian menjadi setelah mereka pulang liburan dari Indonesia setengah tahun lalu. Disana oom dan tante dengan suka hati meminjamkan telepon mereka jika si kembar meminjamnya barang sesaat jika kami sedang tertimpa kemacetan. Aku dan Luc tak suka jika mereka bermain main dengan telepon genggam yang bukan milik kami, banyak resiko yang dapat terjadi, entah itu rusak, terjatuh atau memperlihatkan contoh yang kurang baik jika dilihat umum melihat anak kecil bermain main dengan telepon genggam.

Tanteku pernah berbicara secara hati hati padaku saat aku melihat si kembar bermain telepon genggam kepunyaan tanteku tanpa persetujuanku terlebih dahulu. Tanteku bilang mereka tidak bermain game atau memdownload seseatu melalui telepon genggam, mereka hanya berfoto ria alias selfie. Menurut tanteku, aku khawatir secara berlebihan. Bermain sesaat dengan barang yang tidak diperbolehkan olehku saat di rumah terutama saat liburan adalah hal yang wajar, menurut tanteku. Dan aku ada membenarkan pendapat tanteku tersebut.

Saat kembali ke sekolah, si kembar mengomporiku dengan cerita bahwa beberapa temannya sudah ada yang mempunyai telepon genggam kepunyaan sendiri, walaupun mereka juga berkata umumnya telepon genggam tersebut adalah telepon bekas orang tuanya dan tidak membawanya kesekolah. Melihat fenomena tersebut Cinta semakin gencar ‘merengek’ mengenai keinginannya mempunyai telepon genggam. Karena dia suka bernyanyi, saat dia meminjam telepon kepunyaanku dia selalu membuka youtube yang menampilkan penyanyi kesukaannya, dan dia suka ikut menyanyi. Bagiku aku tak keberatan dia meminjam teleponku untuk dipakai demi mengikuti nyanyian dan tarian.

Minggu yang lalu dia bermain di rumah tetangga, sepulang dari sana dia menceritakan bahwa mereka bermain tik tok, katanya mereka bernyayi dan membuat video melalui media tik tok. Terus terang aku tidak tahu banyak mengenai tik tok, hanya pernah mendengar samar samar saja. Karena Cinta meminta aku meng-install aplikasi tersebut, membuatku mencari tahu terlebih dahulu mengenai apa tik tok itu. Dari meng-gugel aku membaca bahwa pada tanggal 3 Juli 2018, Tik Tok mulai diblokir di Indonesia. Kemenkominfo telah melakukan pemantauan mengenai aplikasi ini selama sebulan dan mendapati akan banyak sekali masuknya laporan yang mengeluh tentang aplikasi ini. Menurut sang menteri banyak sekali konten negatif terutama sekali untuk anak-anak.

Aku membacakan laporan tersebut pada Cinta dan dia mulai mengerti, namun begitu aku berjanji akan membicarakannya dengan Luc, apakah dia memberi izin untuk bermain Tik Tok atau tidak. Saat aku berbicara dengan Luc dia langsung berkata bahwa Tik tok bukan untuk anak sesusia si kembar, karena aplikasi tersebut adalah termasuk jejaring media sosial. Si kembar masih dibawah umur.

Kecewalah Cinta saat dia tahu bahwa dia tak boleh lagi having fun bersama temannya yang setahun lebih tua dari usia si kembar untuk bertik tok tanpa pengawasan orang tua. Namun begitu keinginan untuk mempunyai telepon masih tetap menyala, berkali kali dia memastikan padaku bahwa dia akan mendapatkan telepon genggam jika dia masuk middelbare school (SMP) nanti. Aku berkata bahwa aku tidak menjanjikan demikian, aku akan membelikan dia telepon genggam jika memang perlu (harus) dan sudah cukup usia. Dari kata kataku tersebut Cinta mulai ketakutan bahwa jika dia duduk di meddelbare dia tidak mempunyai telepon. Ujarnya…. nanti teman teman akan membully ku bunda…. nanti aku akan jadi mahluk aneh di kelas bunda….. Dan alasan alasan lainnya yang menurutku lucu dan mengenaskan.

Mulailah dia mencari solusi lain, dia memintaku untuk memberinya uang saku, dia menawarkan untuk membantuku mengerjakan pekerjaan rumah dan meminta upah padaku, bahkan dia meminta hadiah ulang tahunnya kelak (yang masih setengah tahun lagi) berupa uang. Dia bertekad akan menabungnya hingga cukup dibelikan telepon gengganm saat dia duduk di SMP nanti. Mengenai tekadnya tersebut, aku dan Luc harus mendudukannya untuk mengajaknya berbicara serius mengenai hal tersebut.

Dengan lemah lembut dan sabar aku dan Luc memberikan pengertian pada Cinta bahwa tak usah khawatir mengenai telepon genggam, Middelbare masih beberapa tahun lalu, mungkin disaat dia dududk di meddelbare nanti telepon genggam sudah tergantikan dengan teknologi yang lebih canggih. Dia tak usah khawatir dia tak mendapatkan sesuatu yang dibutuhkannya nanti, kami selaku orang tua akan memberikan yang terbaik selama itu perlu dan telah sesuai dengan usianya. Adil adalah bukan penyama rataan dengan yang lain tapi susuai dengan kebutuhannya.

Aku rasa dia mengerti…..

Hingga kemarin sore, dia berlari lari menghampiriku sepulang sekolah. Mencium pipiku seperti biasanya dan dia terburu buru mengeluarkan sesuatu dari tas nya…..

Sebuah telepon genggam terbuat dari kertas karton yang dia warnai dengan cantik.

Kini aku telah punya telepon genggam bunda….. Aku membuatnya di sekolah saat istirahat tadi siang. Kau tak usah khawatir lagi aku selalu merengek. Ujarnya.

Aku memandang maha karya indah itu dengan haru. Dan mencium Cinta berkali kali.