Children’s book day

Bagi teman teman yang mengalami jaman kanak kanak di era tahun 80 an (ufffff aku dah tua ternyata) pasti tau dengan majalah anak anak bobo. Dulu waktu aku belom bisa baca, hari kamis adalah hari yang kami tunggu tunggu, hari kamis tukang koran selain mengantarkan koran juga nganterin majalah Bobo. Karena aku satu satunya yg belum sekolah, maka akulah yang pertama bisa melihat lihat gambar-gambar di majalah (waktu itu aku belom bisa baca).

Dan malamya, saat aku minta dibacakan buku sebelum tidur, cerita Oki dan Nirmala adalah cerita yang minta duluan dibacakan, disusul cerita Bobo, Si Sirik dan Juwita. Si Sirik adalah tokoh yang disukai ayahku, ingat dalam memoriku saat dia mengatakan Alakazam, benar benar menakutkan dan saat Si Sirik berubah jadi tutung karena ulahnya sendiri (selalu begitu akhirnya) ayah akan tertawa terkekeh kekeh. Ayahku juga suka cerita Husin dan Asta, bagian yang betul betul tidak menarik bagiku. Beliau juga suka cerita Deni manusia ikan (juga tidak aku sukai karena ga tamat tamat, walau akhirnya tamat juga).

Majalah Bobo banyak berubah di era tahun 90 an (kami kembali berlangganan Bobo karena si bungsu lahir terlambat sangat jauh dari kakak kakaknya). Tidak banyak tokoh dalam cerita Bobo, yang jadi tokoh utamanya hanya itu itu lagi Bobo dan Doni sahabatnya. Ga ada tokoh Lobi lobi dan Tutut (sepupu Bobo), bibi Titi Teliti, bibi Tutup Pintu, dan tokoh Coreng dan Upik hanya selingan saja. Begitu juga dengan cerita Oki dan Nirmala, ga ada lagi tokoh Pak Dobleh yang suka bikin kue, tokoh Dino dinosaurus sahabat Oki, ga ada Tik tik yang lucu yang sangat suka main hujan, dan tokoh Ratu kahiayangan juga ga ada. Kalau aku sangat suka Nirmala, lain lagi dengan kakak tertuaku, dia suka sekali bagian “Tahukah Kamu?”, urusan sain dan sain yang tidak menarik perhatianku.

Jika jaman kecil dulu ada biodata yang harus diisi di kolam hobby, maka aku selalu mengisinya dengan hobby membaca. Ternyata kegemaranku membaca tidak ada apa apanya jika dibandingkan generasi ponakanku sekarang, jika aku dulu hanya gemar membaca dongeng dongeng pengantar tidur dari HC Andersen’s, tidak dengan ponakanku, dari usia dini mereka sudah mulai bertanya:

– Teu, kenapa kalo burung berdiri di kabel listrik ga kesetrum?

– Teu, tau ga kenapa lampu lampu di jalan selalu berwarna kuning? Ga putih seperti lampu neon di rumah kita?

– Ateu, tau ga kenapa kucing setelah eé selalu ditutup ama pasir?

– Ateu tau ga ini, tau ga itu?

Waw selalu pertanyaan pertanyaan yang aku sendiri saat itu ga tau jawabannya. Aku baru tau jawabannya setelah dia sendiri yang menunjukan buku yang dibacanya ke arahku, disertai penjelasan yang membuatku terkagum kagum, padahal dia baru berusia 7 tahun saja. Dia sudah membaca buku ensklopedia anak anak yang disertai gambar gambar menarik. Tentang Apa dan Mengapa. Terbayang dalam memoriku ketika aku hidup bersamanya selama setengah tahun saat dia berusia 3 tahun, dia selalu minta dibacakan buku enklopedia anak anak, seri transportasi. Maka tak heran dia kini (usia 10 tahun), bagai buku berjalan jika bicara mengenai kereta api, jenis apapun dia tau, sampai kecepatan kereta api tercepat sekalipun, jadi jangan heran kalo dia tiba tiba bicara ke padaku di chating hanya untuk bilang…… ateu, tahu ga sekarang bukan shinkansen lagi kereta tercepat, sekarang kereta titik titik titik (aku ga tau namanya), kecepatannya sekian, ada di negara A, dan penjelasan detail lainnya.

Jika aku mengenal buku dari ayah dan ibuku, hingga kini aku belum begitu mengenalkan buku pada Cinta Cahaya, hanya buku usia awal saja yang mereka punya, itupun pemberian colega Luc saat mereka ulang tahun, kini buku tersebut rusaknya bukan main. Tapi sejak mereka belum lahir aku sudah mempersiapkan buku buku cerita buat mereka, Sprokjes. Aku ingin mereka menyukai dongeng antah berantah sepertiku dulu. Jack dan pohon kacang, Putri Aurora, Itik bertelur emas, Putri Tidur, Putri Salju, Gadis berkerudang merah, Tiga babi kecil, (ayo apa lagi?), tapi aku juga ingin mereka menyukai cerita wayang dan legenda Indonesia seperti aku dulu. Dan saat aku mengutarakan pada Luc, dia hanya bilang…..mereka boleh menyukai buku apapun yang mereka suka (tetap dlm standar anak anak), mungkin saja dia lebih menyukai animasi jepang (seperti dia).

Di hari buku anak anak dunia yang tepat diperingati hari ini, diambil dari tanggal lahir HC andersen’s,

http://www.ibby.org/index.php?id=269

aku ingin anak anak Indonseia gemar membaca, aku tahu kegemaran anak anak membaca berangkat dari fasilitas yang mereka miliki sedari kecil, tapi itu bukan alasan untuk berkelit untuk tidak suka membaca, aku contohnya…… ga semua buku yang aku mau selalu aku dapatkan, aku harus berjuang dulu begitu lamanya jika ingin buku yang aku inginkan tidak dibelikan oleh orang tuaku, aku gemar datang ke perpustakaan dan menjalin pertemanan dengan teman teman yang gemar membaca juga, membuka usaha perpustakaan kecil kecilan yang dinamai “Cahaya LEN” singkatan dari nama nama kami, menarik sedikit uang dari teman teman lain yang meminjam buku kami dan kemudian hasil dari uang tersebut kami belikan buku baru, kami juga meminjamkan buku gratis pada mereka yang tak punya uang sama sekali. Dan itu terjadi saat aku masih duduk di bangku SD.

Aku juga melihat contoh dari orang tuaku yang selalu punya waktu untuk membaca, masih terbayang ibuku terbahak bahak setelah membaca Lupus (by Hilman Hariwijaya), Kiki dan komplotannya (by Arwendo Amiwiloto) atau Petualangan Si Roy (by Gola gong), juga aku sempat tersenyum kecut saat ayahku pulang dari Prancis, berbulan bulan lamanya (aku masih berusia 13 tahun), saat kami memburu kopernya hanya buku buka yang dia bawa termasuk brosur brosur remeh temeh dari station kereta api. Terbayang juga wajah kakekku jika beliau berlibur ke rumah kami, yang terbayang dibenakku adalah beliau identik dengan membaca koran dengan kaca mata tebalnya, padahal beliau sudah berusia sangat sepuh lebih dari 80 tahun! Tapi tetap semangat membaca.

Walaupun sekarang buku sudah mulai tergantikan oleh internet, dan jangan salah banyak hal menarik dari internet yang sangat bermanfaat untuk dibaca, tapi tetap kegemaran membaca berawal dari buku!

Selamat hari buku anak anak dunia.

Tetap semangat membaca (aku dah mulai kendor membaca pfffffffffff), tetap semangat memberi contoh membaca untuk generasi mendatang.

Rotterdam, 2 April 2011

PS.
Hari ini, dalam rangka memperingati hari anak nasional 23 juli, mari kita kenalkan gemar mebaca pada anak anak kita.
Dan kini Cinta Cahaya pun sudah gemar membolak balik buku, bagi mereka buku tak kalah menarik dengan mainan terutama bagi Cinta 🙂
Terus lah membaca anak anakku, seperti perintah-Nya…. Iqro!

One Day Journey

Kereta itu lewat persis di depan mataku, saat aku tiba di peron 4.

Kereta api yang akan membawaku ke Maastrich baru saja meninggalkanku.

Beringsut pelan menghampiri bangku merah yang ada di peron tersebut, aku duduk dan mulai mengatur nafasku yang sedikit diatas normal.

Finally hari ini tanggal 24 dec 2011, aku memutuskan tetap pergi ke Maastrich.

Setelah beberapa jam sebelumnya aku masih ragu antara berangkat atau tetap di rumah, dan begitu keputusan untuk tetap pergi aku ambil, aku masih saja disibukkan oleh tetek bengek yang tak perlu, berkali kali mengecek keperluan untuk anak anakku selama aku pergi (yang hanya beberapa jam saja!)

Tiba di station dengan diantar suami dan kedua anakku, berkali kali suamiku menyemangatiku untuk ‘have fun’ tak usah khawatir akan kedua anakku. Bersyukur, karena dia begitu memahamiku. Mengerti akan kerinduanku berpetualang.

Duduk tercenung di bangku merah di peron 4, tak lama kereta api antar negara (Thalys) berhenti di peron 4. Orang yang menunggu di peron segera masuk, tak sampai lima menit petugas segera meniup peluit tanda kereta akan berangkat, seorang wanita tinggi semampai dengan nafas tersengal tiba mengejar kereta yang akan bergerak maju.

Jam tak dapat kembali diputar balik, juga untuk tiga detik keterlambatan kaki yang membawa langkahnya menuju kereta. Kereta tujuan Brussel dan Paris itu sudah bergerak. Sosok semampai itu mulai terguncang, pundaknya naik turun dan air matanya mulai mengalir. Dan dia tetap berdiri terpatung di pinggir peron.

Aku ikut terpaku menyaksikan semua adegan tersebut, ikut merasakan perih yang dia derita. Sangat mengerti bagaimana rasanya ditinggal oleh kereta, mengerti bagaimana rasanya menyeret koper menuju peron yang harus melewati tangga tanpa lift di station Rotterdam yang sibuk, mengerti bagaimana rasanya menanggung beban di tinggal kereta seorang diri.

Saat wanita muda tersebut mulai mengusap air matanya dan segera beringsut menuju bangku merah dimana aku duduk, aku segera mengalihkan pandangan ke arah lain, berusaha keras untuk tak melirik wajah yang baru bersimbah air mata. Tapi tidak dengan seorang ibu yang duduk di sebelahku, dia segera menawarkan rasa simpatinya yang langsung dijawab dengan bahasa Inggris oleh wanita muda tersebut tanda dia tak mengerti apa yang si ibu katakan padanya. Ya, tentu saja sejak awal aku sudah mengira dia bukan seseorang yang berbahasa Belanda, dari raut mukanya aku sudah menebak dia berasal dari suatu negara di Eropa Timur.

Dan kami bertiga segera duduk berdampingan.

Wanita muda itu segera mengeluarkan telepon genggamnya, berusaha melakukan kontak telepon tapi sepertinya tak ada jawaban di ujung sana. Sungguh aku tak mau meliriknya, tak mau ikut berduka bersamanya. Doaku terkabul, dia segera beranjak pergi sambil menyeret kopernya yang berat. Dan sang ibu yang ramah segera sedikit menghiburku, mengatakan bahwa masih akan ada kereta ke Paris atau ke Brussel untuk hari ini, setidaknya wanita muda itu harus bersabar menunggu kereta berikutnya. Pernyataan itu jelas dijawab dengan rasa syukur dalam hatiku, membayangkan jika wanita itu akan pulang ke negaranya untuk merayakan natal esok hari bersama keluarganya, dia masih bisa mengejar waktu.

Kereta yang aku tunggu tiba satu jam berikutnya, setelah sesuatu yang tak seperti biasanya terjadi. Seharusnya kereta yang akan membawaku ke Maastrich akan tiba setiap setengah jam sekali, tapi hari ini begitu kereta api muncul, kereta itu hanya menurunkan penumpang dan melarang kami yang tengah menunggu untuk tidak naik kereta, di pengeras suara yang terdengar adalah bahwa kami harus menunggu kereta berikutnya alias harus menunggu setengah jam lagi, alhasil aku terus terusan harus melirik papan elektronik jadwal keberangkatan kereta menuju Maastrich dengan seksama, jangan sampai aku salah naik kereta, karena hampir lima menit sekali kereta datang dan pergi yang membawa ke berbagai jurusan.

Bagi diriku yang biasa menunggu kereta di Station Bandung yang akan membawaku ke Yogya atau Surabaya, menunggu setengah jam bahkan tiga jam sekalipun adalah hal yang enteng, tapi tidak dengan manusia produk sini yang biasa tepat waktu, penundaan selama 30 menit dirasakan hal yang merugikan hak azasi manusia, maka kudapatkan wajah wajah tak senang disekitarku saat menunggu kereta 30 menit berikutnya, dan begitu kereta yang ditungggu muncul, mereka segera berlompatan masuk.

One day journey kali ini, bukan penceritaan bagaimana rupa Maastrich setelah lebih dari 4 tahun lalu aku tinggalkan, tapi bagaimana perasaan hatiku saat aku kembali berpetualang. Memori yang kembali menggila saat aku masih tinggal di Indonesia, yang begitu menghitung hari jika mendapati kalender berwarna merah di hari jumat atau senin, yang berarti aku bisa melakukan journey 3 hari lamanya tanpa merusak cuti tahunanku yang sangat aku jaga rapi untuk kupergunakan journey yang lebih panjang di tiap tahunnya. Jika aku mendapati angka merah itu artinya aku sudah harus mulai bernegosiasi bersama Ratna, teman bertualangku.

Jika banyak mereka yang berlibur bersama teman akan mencari daerah wisata dari kota atau negara yang mereka tuju, tidak dengan kami. Mendatangi daerah wisata cukuplah sudah saat kami sekolah dulu, study tour tiap tahun dengan rombongan sekolah. Yang kami datangi tempat biasa saja, tempat yang secara tak sengaja kami temukan tapi selalu menjadi menarik. Siapa sangka saat kami tersesat setelahh berjalan jauh dibawah terik matahari, tahu tahu kami terdampar di pasar burung di kota Yogya padahal sebelumnya kami bermaksud hanya mencari toko yang menjual kancing dari tempurung kelapa (juga sesuatu yang aneh) tapi dari pasar burung kami bisa berkenalan dengan penjual burung dan bisa begitu meresapi kehidupan bapak si penjual burung beserta keluarganya. Atau siapa sangka setelah dari keraton lama kami bisa terlibat dengan kehidupan masyarakat di sekitar situ?

Atau kami bisa berlama lama duduk di bangku Mall besar di Jakarta atau Bandung, dan hanya sibuk menilai wajah orang? Menghitung berapa banyak wajah bahagia yang kami temukan di mall? Kemudian bersyukur ternyata dalam keadaan bagaimanapun kami selalu tertawa riang. Kami menilai bahwa kami bahagia, hahaha.

Kembali ke one day journey ku hari itu, hal seperti itulah yang kemudian aku dapati. Menyimak mereka yang duduk di peron di station Rotterdam, kemudian saat aku melangkahkan kaki keluar dari kereta yang artinya aku sudah berada di Maastrich adalah aku terpaku pada dua sosk wanita muda yang sedang sibuk berfoto ria. Dan ingatanku kembali ke memori purba jaman dulu kala saat aku masih sering berpetualang bersama Ratna. Wajah bahagia itulah yang aku rekam saat melihat mereka, persis seperti apa yang aku lakukan bersama Ratna, tertawa bersama. Dan tak lama kami sudah berjalan bersama menuju kerst markt di jantung kota Maastrich. Dan siapa mengira kami ternyata masih bersama saat aku kembali ke kota Rotterdam, kami mengambil kereta yang sama karena mereka kembali ke Delft. Ya mereka dua mahasiswa dari TU Delft.

Dari semua itu, aku berterima kasih pada Luc, yang mengijinkanku untuk kembali berpetualang. Yang tak henti hentinya selalu menyemangatiku untuk melakukan hal yang kuimpikan.

Walau journey kali ini hanya beberapa jam saja, sungguh aku menikmatinya.

So Yayang, what’s next?

Rotterdam, 28 Dec 2011

Teori Relativitas

Berbicara dengan sahabat seumur hidup alias suami butuh seni komunikasi yg unik. Apalagi saat bicara mengenai keyakinan dan pendapat, selalu ada perbedaan. Dan cara menyamakan jawaban itulah yang paling rumit.

Dulu saat baru baru berumah tangga, aku selalu egois menerapkan tentang keyakinan yang aku yakini pada suami, selalu mengajarkan apa yang aku tau sebisa mungkin pada suami. Pertama tama dia selalu mengiyakan dan tidak pernah membantah walau tidak juga mengerjakan apa yang aku suruh, hanya jawaban nanti nanti dan nanti. Aku selalu memahami jawaban ‘nanti’ sambil berpikir, toh kalo aku mengerjakan apa apa menurut keyakinanku lama lama dia akan mengerjakan juga, tapi tidak semudah itu ternyata……

Dia lebih suka berdiskusi. Dan diskusi bukanlah sesuatu yg aku kuasai dan aku sukai. Dalam diskusi selalu akulah pihak yang tidak bisa meneruskan jawaban, karena lawan bicara yang aku hadapi adalah orang yang sudah selama 39 tahun selama hidupnya mendewakan science. Apa apa selalu dikaitkan dengan science bahkan bacaannya tiap pagi adalah science daily, situs dimana para jelmaan Einstein berada.

So untuk menyiasati setiap perdebatan jika aku akan kalah, sekarang aku punya trik khusus, kadang aku menyelipkan beberapa formula khusus para penemu (dengan maksud agar dia tertarik), seingatku saat aku masih SMA, seperti percakan malam tadi……

Setelah bla bla bla berbicara mengenai sekarang ini pencarian tenaga kerja sudah meminta sample DNA bagi para pelamar kerja, dan perusahaan besar menyakini bahwa mereka bisa menemukan pekerja yang baik jika DNA nya juga cocok untuk pekerjaan yang akan mereka jalani, tapi baru baru ini beberapa perusahaan membantah bahwa tidak selalu DNA yg saat di tes cocok untuk pekerjaan tertentu ternyata bisa juga meleset dan mereka mulai meragukan pencarian tenaga kerja yang baik melalui DNA.

Saat itu aku langsung menimpali, itulah sebabnya kita jangan terlalu percaya pada science, karena tidak sepenuhnya science akan selalu benar, ingat saja akan teori relativitas dari Einstein tentang percepatan dan perlambatan, kataku bangga bisa mengingat teori tersebut, tidak semua perhitungan satu tambah satu akan jadi dua, akan selalu ada hal hal lain yang bisa juga menyatakan jadi tiga, jawabku asal.

Dan, jawaban itulah yang menjadikanku bumerang…..

Kata suamiku sambil berpikir dan kemudian beranjak ke komputer…..tunggu dulu saya kira teori relativitas salah satunya mengenai paradox kembar, bukan mengenai perhitungan yang sudah pasti akan menjadi berbeda, lanjutnya.

Tralaaaaaaaaaaaaaa, ketauan aku menjawab sok tau.

Untunglah mengenai perlambatan dan percepatan ternyata benar, juga saat aku menimpali bahwa teori relativitas dipengaruhi oleh teori Newton mengenai gravitasi ternyata benar, so aku tidak terlalu menjawab sok tau mengenai hal ini. Tapi sungguh mengenai paradox kembar aku baru tau saat itu, dan membuatku tertarik.

Duh Yayang kemana saja kau selama 2 tahun di SMA duduk di bangku fisika dan lupa sama sekali mengenai teori paradox kembar? Hahaha

http://www.forumsains.com/fisika/paradoks-kembar-7407/?wap2

http://nl.wikipedia.org/wiki/Relativiteitstheorie

Dan dari percakapan semalam menambah keyakinanku bahwa masa akan berbeda, itu sudah jelas! Satu hari di bumi akan berbeda dengan satu hari di akhirat.

Rotterdam, 1 Feb 2011

True Colors

Kemaren malam aku nonton film Song for Marion berdua dengan Luc tentunya.
http://www.imdb.com/title/tt1047011/?ref_=sr_1
Mendengar lagu True Colors jadi begitu berbeda rasanya setelah nonton film tersebut.

You with sad eyes
Don’t be discouraged

Oh I realiazed it’s hard to take courage
In a world full of people, you can lose sight of it all
And darkness still inside you, make you fell so small

But i see your true colors shining through
I see your true colors and that’s why i love you
So don’t be afraid to let them show

Your true colors, true colors you are beautiful
Like a rainbow

Show me a smile then, don’t be unhappy
Can’t remember when i last saw you laughing
If this world make you crazy and you’ve taken all you can bear
You call me up because i know i’ll be there

And i see your true colors shining through

PS.
This song to remind me that i have somebody to call up if i’ve afraid with this world
Thanks Luc, to be my best friend forever!

Satu detik yang lalu

Satu detik yang lalu,
aku masih begitu bersemangat
masih sibuk memindahkan foto dari camera ke folder folder kosong yang telah aku siapkan
memilah milah
copy
cut
atau paste

Hingga jariku tengahku tertahan tak memijit kursor bawah
di waktu yang bersamaan telunjukku telah memijit tanda delete!
dan blaam!!!
di detik itu juga hilang sudah foto foto yang dibuat guru Cinta Cahaya di sekolah untukku
moment maha penting perayaan ultah si kembar di sekolah kemarin siang.

Panik?
Sedikit…..
Kemudian panik maha dasyat menderaku saat aku tak dapat memanggil file yang telah aku delete di tempat sampah
Tuhan, aku menghilangkan foto itu justru di directory dimana card camera berada.
Jelas sudah tak ada foto itu di Recycle bin!
Dan tibalah panik maha dasyat!

Maafkan bunda sayang….
Tapi percayalah moment bahagia itu akan selalu ada di dalam hati kalian…..

My girl friend

Menghabiskan waktu cutinya dari hari kamis sepulangnya kami liburan dari Portugal hingga hari minggu malam ini, yang dilakukan suamiku semenjak membuka mata di pagi hari hingga melipat mata waktunya tidur adalah duduk di sofa sambil mengotak atik dan melototin tablet yang baru dibelinya bulan lalu.

Saat aku bersungut sungut melihat kelakuannya, dia hanya tersenyum, menarik tanganku sambil berkata…
My girl freind. Katanya sambil menyecup tablet yang tengah dipegangnya. Sambil melirik menyebalkan ke arah meja komputer, katanya…. my ex girl friend tunjuknya ke arah smartphone yang ada di meja komputer.

Kemudian ujarnya, my wife….. Sambil tersenyum lebar ke arahku.

Aaarrggggggghhhhhhhhhh

Nightmare in Seville

Kami sekeluarga sedang liburan di Portugal selama dua minggu.

Dalam dua minggu itu pula aku dan suamiku berencana escape dari dua putri kami.

Maka disusunlah rencana,

Disepakati, kami berdua akan berpetualang mengendari mobil dari Portugal ke Spanyol, mengelilingi kota kota di Andalusia.
Hanya semalam sebelumnya kami sibuk searching hotel di kota kota yang akan kami singgahi, Seville, Cordoba, Malaga, Huelva.

Hari pertama di Seville,

Receptionist hotel tak bisa berbaha Inggris! Tapi sangat ramah. (Sesuai dengan review dari orang orang yang pernah menginap di hotel tersebut)

Saat Luc bertanya pada receptionist karena tak menemukan paswoord wifi di kamar dan juga nomor safety box salah  hingga safety box tak dapat dibuka, maka munculah kelucuan komunikasi.

Bahasa tangan dan tubuh sudah diperagakan, orang kedua dan ketiga sudah didatangkan untuk membantu komunikasi, dan tra laaaaaaaaaaaa, orang ketiga yang membantu kami seorang bapak tua segera mengetik di komputer dan keluarlah google translate!

Hahaha dan dengan bantuan itulah kami lancar berkomunikasi.

Kami baru bersiap tidur pada saat waktu hampir menunjukan pukul dua dini hari, tapi tak lama kami mendengar suara aneh, seperti suara kaleng dipukul pukul. Ada sesuatu di dalam energy drink monster yg baru di minum Luc!

Luc tak berkata apa apa tapi segera membawa kaleng tersebut ke kamar mandi, dan berkata nothing saat aku bertanya, tapi dia memintaku menurunkan temperatur AC, panas katanya, padahal aku sudah membenamkan dalam dalam tubuhku di selimut karena AC yg terlalu dingin.

Pagi pagi benar Luc sudah mandi dan  berkata bahwa dia  ingin cepat cepat keluar hotel tanpa sarapan dulu.

Setelah aku memaksanya ada apa dengan dirinya, barulah dia berkata bahwa dia tak dapat tidur sama sekali karena dia mendapati kecoa di dalam kaleng minumannya!!!

Kecoa yang sangat besar, baru pertama kali dia melihat kecoa sebesar itu seumur hidupnya kata Luc dengan mimik serius.

Dan dia menahan cerita mengenai kecoa semalaman padaku karena dia khawatir aku tak dapat tidur seperti dirinya, dan hanya berjaga jaga takut kecoa yang besar itu balik lagi.

Aha, pantasan semalaman dia tak mematikan lampu baca yang ada di sampingnya, padahal dia paling anti pada lampu menyala jika saatnya tidur!

Oh ya satu lagi saat kami tiba di Seville kami dikejutkan dengan temperatur yang tinggi sekali, 45 derajat Celcius!!! Panas luar biasa, dan angin yang berhembus pun sangat panas sekali.

Ah Seville kau adalah kota dengan kenangan yang tak mungkin kami lupakan…. sesuai namamu…. Sephia…. (Seville dibaca Sevia) mengingatkanku pada band favorite ku… Sheila on 7…. Sephia…. dimanakah engkau kini?

PS. Kepada Eross dkk, i miss you…..

Silves, Portugal, 8 july 2013Image