Banjir kartu pos

image

Pertengahan February yang lalu,  aku menerima email dari gurunya Cinta dan Cahaya bahwa tema di sekolah saat ini adalah mengenai pos. Artinya anak anak akan dikenalkan tentang seluk beluk perposan di Belanda. Untuk meramaikan tema tersebut bu guru meminta orang tua murid bahkan oma opanya untuk berkirim kartu pos ke sekolah.

Berikut email dari bu guru,

Beste ouders/verzorgers,

Na de vakantie starten wij met het thema post. Om dit thema meer betekenis te geven, willen wij om uw medewerking vragen.

Wij willen ouders/opa’s en oma’s/tantes en ooms etc. vragen om post te sturen naar school. Dit kan een brief of kaart zijn zodat wij in de klas ‘echte’ post ontvangen. Het zou fijn zijn als u de post aan de groep zou willen richten, dit ter voorkoming van teleurgestelde kinderen die niet zoveel post krijgen.

Mocht u de komende vakantie op reis gaan, is het wellicht een leuk idee om daar vandaan een kaart naar school te sturen.

Verder willen wij u vragen om uw kind een postzegel mee te geven zodat uw kind zichzelf een kaart of brief kan sturen. Hierdoor ervaren de kinderen welke weg de post aflegt.

Mendapat permintaan dari bu guru tersebut,  langsung saja aku mengirim pesan pada keluargaku di Indonesia,  peran singkat di group WhatsApp keluarga. Kakak ku menjawab antusias dan akan meminta anaknya untuk mengirimkan kartu pos pada Cinta dan Cahaya.

Satu minggu kemudian Cahaya menerima kartu pos dari Indonesia. Dari seseorang yang tidak kami kenal,  Aha siapakah dia?

Saat bu guru menunjukkan kartu pos tersebut padaku untuk minta diterjemahkan karena kartu tersebut akan dibacakan di depan kelas,  ternyata kartu tersebut dari teman keponakan ku.

Kok bisa? Ternyata ponakan ku meneruskan permintaan ayahnya alias kakak ku pada group korespondensi nya.  Anak anak Abg itu girang bukan main mendapat orang yang bisa dikirimi kartu pos dengan harapan tentu saja mereka akan mendapat balasan kartu pos dari Cinta dan Cahaya.

Dan tadi siang saat aku menjemput anak anak, bu guru memberikan surat dan kartu yang diterima Cinta dan Cahaya. Ada 17 kartu yang diterima Cahaya,  sedangkan Cinta 15 kartu. Dengan diberikannya kartu kartu tersebut artinya tema pos di sekolah Cinta dan Cahya telah berakhir, dan kartu pos tersebut bisa dibawa pulang tak lagi di pajang di kelas mereka. Gurunya Cinta juga meminta beberapa perangko dari Indonesia untuk koleksi pribadinya. Konon perangko dari Indonesia memiliki kualitas yang baik dan tentunya gambar gambar yang bagus dan berseni.

Bu guru berterima kasih karena kartu yg diterima kelas mereka terdiri dari berbagai negara,  Cinta dan Cahaya menerima kartu dari Swiss dari sahabat Luc yg sedang berlibur disana,  dari oma mereka yang tinggal di Portugal dan Indonesia,  dari tante mereka di Belgia dan Belanda (tante jadi jadian,  karena mereka dua teman karibku) dan tentu saja dari sepupu mereka (terima kasih Megah) beserta group korespondensi nya.

Oh ya Cinta pun menerima kartu yang dikirimkan sendiri ke alamat rumah,  dia dan teman sekelasnya (dan bu guru tentunya) berjalan ke bis surat dan mengirimkan kartu hasil karya mereka sendiri.

Seru ya…. Walau sederhana,  sejak kecil mereka sudah dikenalkan untuk berkirim surat dan caranya secara langsung,  menerima dan mengirim sendiri.  Dan aku hanya tersenyum geli saat Cahaya berkata padaku bahwa jika dia besar nanti dia ingin jadi post bode alias tukang pos!  Hehehe…..

Experienced tragedy of giving birth

Post ini aku post ulang setelah terjadinya perombakan kata dan gramatika atas bantuan Luc, sementara aku hanya cekikikan menyadari bahwa aku menulis cerita ini saat itu dalam bahasa Inggris dengan menterjemahkan kata demi kata sehingga secara arti dan juga gramatika banyak salah. Maklumnya bahasa Inggrisku ampuuuuuunn deh 😉

The days of Yayang

I write my stories for myself and people who I love just to remember the experiences in my life and also to say thanks to Allah Swt, my husband, my parents, my mother in law, my whole family (big) in Indonesia, my neighbor in Cibiru, Marc Neville & Fam, Claudia & Fam, Sandra & Fam, Hanny & Mike, Esther & Fam, The Docks, Paul & Anne Niehaus, Dr. Lorenzo, all people in L&M Software B.V, Dr. Cornet & all doctors and nurses of the Erasmus Medical Center (EMC), Laurens (zorg), fysiotheraphy, and all my friends in Holland and Indonesia for their support, prayers and help.
I will tell about my first and last experience of pregnancy, I say last because getting pregnant again is impossible.

In intensive care on  artificial respiration. I hope this photo doesn't scare me too much. In intensive care on artificial respiration. I hope this photo doesn’t scare me too much.

I was so happy in life until I experienced the tragedy…

View original post 1,216 more words

Kopdar

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Akhirnya hari yang ditunggu pun tiba, hari minggu tanggal 22 Maret 2015, kami bertemu pukul 12 siang di station Utrech.

Ini pertemuan pertamuku, bertemu dengan beberapa orang bloger. Dan rasanya……. seneng banget. Terjawab sudah beberapa pertanyaan, seperti kok bisa sih para bloger di Indonesia saling kumpul…. Gimana Caranya?

Berawal  dari inisiatif mba Yoyen untuk kopi darat dan akhirnya terwujud setelah Deny, Crysta, Indah dan aku tentunya sepakat untuk bertemu di tanggal tersebut. Sumo all you can eat menjadi saksi bisu saat kami tertawa tawa sekaligus tercengang mendengar beberapa pengalaman masing masing.

Deny yang terkena culture shock justru bukan dari para bule tapi dari sesama orang Indonesia (oh ya Deny kapan kita ke pasar bareng?), Crysta si mahasiswi muda belia ternyata pembawaanya tenang sekali bercerita tentang pengalaman pertemanan dengan teman kuliahnya baik sesama orang Indonesia maupun asing. Saat Crysta bercerita sebetulnya pikiranku malah sibuk menebak isi pikirannya, muda dan fresh sekali dia pikirku apa pendapatnya berjumpa ibu ibu kayak aku?

Kalau ada orang yang menobatkan mba Yoyen sebagai motivator, aku adalah saksi hidup yang melihat dia seperti itu pada hari minggu dua hari yang lalu. Rasanya ga bisa dipercaya akhirnya aku bisa ketemu dengan mba Yoyen yang terkenal itu, hehe. Dan selain motivator dia juga banyak memberikan saran dan tips menulis. Bahkan dia dengan telaten menanyakan kesulitan atau kendala apa yang aku temukan saat menulis, tuh kan acara kemaren itu selain membuat hati senang bahkan ilmu pula yang didapat. Makasih mba.

Oh ya aku malahan tercengang sambil cengengesan saat Indah bercerita tentang bayaran untuk dog walking selama satu jam, 10 euro lho! Ayo siapa mau yang bawa Dante jalan jalan? Dari pada jadi Myrte yang dibayar 5 euro saja untuk jagain Cinta dan Cahaya selama satu jam? Hihihi, jangan sampe Myrthe tau berapa bayaran  oppas untuk Dante, bisa kabur dia tergiur bayaran yang diberikan Indah! Atau malah Myrthe akan lebih memilih Indah karena selain itu dia bisa difoto keren oleh Indah. Iya Indah yang punya foto foto keren itu yang hobby diving sambil foto foto gitu, tengok deh blog nya pasti terbelalak disuguhi foto foto cantik hasil jepretannya.

Dan yang lebih mencengkan, aku terkejut pada diriku sendiri saat aku bercerita tentang proses kelahiran Cinta dan Cahaya yang untuk pertama kalinya tak diiringi mata yang berkaca kaca, aku bisa menceritakan tragedy of giving birth dengan lancar. Menyadari bahwa aku bisa bercerita walau hanya garis besarnya tanpa emosi bagiku merupakan kemajuan yang amat besar, sehingga saran dokter untuk menuliskan kejadian yang aku alami (berdasarkan email Luc yang ditulis setiap hari saat aku di rumah sakit sebanyak 49 email yang dikirimkan pada keluarga, temanku dan temannya termasuk pada diriku) secara lengkap semakin besar ingin aku wujudkan termasuk kejadian yang aku alami selama aku koma 2 minggu lamanya yang menurut ibuku hanya mimpi belaka.

Dan acara ketawa ketiwi kami akhiri setelah bersin bersin Indah tak dapat terbendung, kami kembali berjalan ke arah station Utrecht dan hanya Indah yang tetap berjalan menuju station sementara kami berempat terdampar di Starbuck dan melanjutkan hahahihi dan tips tips menarik tentang perblog-an. Walaupun Indah terkena hooikoorts, dia masih sempat mengabadikan foto kami berempat. Terima kasih semua, semoga kita bisa cepat kembali bertemu dengan jumlah yang lebih banyak.

Ayo ayo yang lain segera ceritakan versi kalian yang seru, biar kita bisa ketemu lagi.

Jambu Air

Betapa lebatnya

Tiba tiba ingin jambu air. Trus diiris masukin ke plastik dan dimakan pake bubuk cabe. Ih, jadi kangen jaman SD dulu, suka jajan di tukang buah potong.

Nah bicara tentang jambu air, waktu mudik ke Indonesia bulan Agustus tahun lalu, pohon jambu air di kebun belakang rumah orang tua kami sedang berbuah dengan hebohnya. Heboh? Iya betulan bikin aku kaget luar biasa, buahnya banyak banget. Aku gak tau jenis jambu air apa yang waktu itu berbuah, pokoknya buahnya besar sekali, saat masih belum matang warna jambu air itu merah ranum, tapi begitu dimakan buah jambu air yang merah mulus itu tak secantik rupanya, rasanya sedikit kesat dan masam. Jadi kita harus memilih yang sudah tua yang berwarna merah hati dan tentu saja buahnya lebih besar.

Seperti tahun lalu, saat pohon jambu air ini berbuah, ibu dan ayahku membagikannya ke semua tetangga satu RT. Satu RT? Beneran ! Dibagikan ke tetangga satu RT yang konon mencapai 100 Kepala Rumah tangga. Caranya, ibuku minta tolong kepala RT kami yang jiwa sosialnya ga ketulungan, dia rela mendatangi rumah warganya dibantu anak dan istrinya buat membagikan buah jambu air tersebut.

Kebun orangtuaku memang dipenuhi berbagai jenis buah buahan, dan yang paling terkenal adalah mangga Arumanisnya yang selalu berbuah lebat menandingi mangga cengkir kesukaanku. Saat aku masih tinggal bersama orangtuaku, pernah suatu ketika aku yang mengantarkan buah mangga ke rumah pak RT untuk dibagikan, tentu saja aku harus membawanya dengan bantuan mobil karena tak mungkin mengangkatnya seorang diri karena mangga tersebut bisa mencapai dua karung, dan pak RT yang baik dan bijaksana itu akan menghitung buah mangga yang dititipkan orangtuaku, dihitungnya kemudian dibagi sama rata pada warganya kaya atau miskin, semua mendapat jatah yang sama.

Nah masih pada saat aku mudik tahun kemarin juga, saat aku asyik menatap kolam ikan yang ada di depan halaman depan rumah, seorang bapak yang membawa gerobak mirip tukang rongsokan menyapaku, dia menanyakan ibuku. Saat ibuku muncul, ibu bergumam oh si emang sirsak….

Kemudian terjadilah percakapan antara ibuku dan si emang tersebut.
Ibu (I) : Ah mang sirsakna oge ngan sakeudik! (Ah mang, sirsaknya juga masih sedikit!)
Tukang Sirsak (TS): Eta, atos dietang ku mamang, aya kinteun kinteun sapuluh. (Itu, sudah dihitung oleh mamang ada kira kira sepuluh buah)
I: Sok atuh ala sadayana, ibu nyungkeun tilu siki. (Ya sudah ambil dari pohon semuanya, ibu minta tiga buah).
TS: Nuhun pisan, bu. (terimaksih banyak, bu) Ujar si tukang sirsak sambil segera ke kebun sebelah rumah, dan segera memanjat pohon sirsak dengan cekatan. Mengambil semua buah yang sudah ranum dimasukan ke karung, dan hanya meninggalkan buah sirsak yang masih mentah di pohon. Yang sudah matang dibabad habis olehnya.

Aku hanya bisa melongo mendengar percakapan antara ibuku dan tukang sirsak tersebut. Tanpa dijelaskanpun aku tahu apa yang terjadi, si tukang sirsak itu selalu datang berkala pada ibuku, awalnya dia meminta ibuku menjual buah sirsak yang ada di pohon di kebun sebelah rumah orangtuaku. Tapi ibuku memperbolehkan si tukang sirsak tersebut untuk mengambilnya secara cuma cuma. Ibuku bilang, cukup sudah dibagikan kepada para tetangga, mungkin merekapun sudah pada bosan diberi sirsak oleh ibuku, hanya tetangga yang meminta buah sirsak saja yang diberi. Aku teringat tentang buah sirsak, sewaktu aku kecil dulu, sebelum kami pindah ke rumah yang sekarang, dulupun rumah orangtuaku  dikelilingi kebun yang luas yang ditumbuhi pohon buah buahan.  Dan saat itupun kami mempunyai buah sirsak yang tak pernah berhenti berbuah, selalu ada setiap saat. Sehingga siapapun yang ingin buah sirsak tinggal datang saja ke rumahku dan pulangnya sudah menggondol satu buah sirsak.

Saat aku menonton tukang sirsak yang tengah mengambil sirsak di atas pohon, si tukang sirsak bercerita padaku, bahwa ibuku orang yang murah hati. Dia gampang memberi, tak hanya buah sirsak yang diberikan ibuku, bahkan si tukang sirsakpun diberi pula makan dan minum sebelum dia melanjutkan perjalanannya.

Ah bukan hal yang aneh, pikirku. Aku sudah melihat ibuku begitu sejak aku masih kecil, bahkan ibuku yang menyuruhku mengambilkan minum jika ada orang yang berteduh di kebun rumah kami.

Balik lagi ke soal jambu air, berikut adalah foto foto jambu air tahun lalu. Oh ya ayahku selalu meminta kami mengumpulkan biji dari jambu air yang sudah kami makan. Nah biji biji tersebut selalu dijemur ayahku, dan ayahku selalu menawarkan biji biji jambu air tersebut pada tamu tamunya (baca teman, saudara atau tetangga). Bahkan ayahku pun menawarkan padaku untuk membawa biji jambu tersebut ke Belanda. Duh ayah mo ditanam dimana? Di balkon?

Ayahku (ayah paling hebat sedunia) sedang membawa jambua air hasil rawatannya

Ayahku (ayah paling hebat sedunia) sedang membawa jambua air hasil rawatannya

Lihat, betapa besarnya buah jambu air yang ada di kebun ayah dan ibu

Lihat, betapa besarnya buah jambu air yang ada di kebun ayah dan ibu

Aha mang Entis! Sang idola!

Aha mang Entis! Sang idola!

Biji jambu air yang sudah dijemur kering

Biji jambu air yang sudah dijemur kering

Jambu yang dimakan kalong (kelelawar)

Jambu yang dimakan kalong (kelelawar)

Hearing Hands….. One day with no barriers

Suatu hari adikku semata wayang pulang ke rumah dengan senyum sumringah dan cerita seru mengiringi wajahnya yang berseri.
“Aku ditraktir seorang bapak di warung kupat tahu!” Serunya.
“Tak hanya aku saja, tapi semuanya!”Lanjutnya.

Kemudian mengalirlah cerita yang kemudian menginpirasiku untuk sesekali berbuat begitu juga. Saat itu adiiku duduk di bangku kelas satu SMP, dia dengan beberapa temannya mampir ke warung kupat tahu langganan nenek moyang kami (saking tuanya!) di Jl. Pasundan Bandung, kupat tahu mangun reja, yang warungnya tak berubah sejak aku kecil dulu hingga aku mengajak Luc makan disitu jika aku pulang kampung ke Bandung.

Ada seorang bapak yang tengah menikmati kupat tahu, selesai makan si bapak sekedar bertanya pada adikku dan kawan kawannya, cuma pertanyaan basa basi yang tak basi, saat anak anak tersebut masih menyantap kupat tahu, si bapak yang telah selesai makan segera membayar kupat tahunya sambil berkata ke ibu penjual kupat tahu itu sekalian juga dengan anak anak itu. Tentu saja adikku and the gank terkejut bahagia, sambil berkali kali berterima kasih pada si bapak dermawan.

Kejadian tersebut sesungguhnya sangat sederhana, anak anak tersebut sangat tidak menyangka akan diberi hadiah oleh orang asing. Mungkin kita juga sudah sering membaca atau melihat contoh bahwa memberikan sesuatu secara suprise pada orang lain dapat memberikan suatu arti. Teringat kejadian yang membuat adikku bahagia, suatu hari aku duduk di samping supir angkot saat pulang kerja. Saat aku membayar ongkos angkot aku berkata pada si supir, aku bayar untuk enam orang, satu untukku dan lima yang ada di belakang. Eta, nu di pengkeur rerencangan? Tanya si supir. Aku menggeleng. Dan komentar si supir membuatku ikutan nyengir…… “Ah si eneng aya aya wae!”

Kemarin malam, Luc memperlihatkan sebuah video yang membuat mataku berkaca kaca. Iklan dari samsung yang sebetulnya sudah diluncurkan satu minggu yang lalu, mungkin kalianpun sudah melihtanya. Tak ada salahnya jika sekali lagi nonton…..

Muhharam Yazgan yang hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat karena bisu tuli. Suatu hari dia mendapat suprise dengan melihat orang yang bersinggungan dengan dirinya di hari itu bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat, mulai dari orang yang berpapasan dengannya ‘berkata’ selamat pagi, kemudian tukang roti yang menyebutkan pesanannya, hingga supir taxi yang bisa berkomunikasi juga.

Dan suprise yang diberikan Samsung untuk Muharram membuat Muharram menangis haru. A world without barriers is our dream as well. Itulah pesan yang ingin disampaikan Samsung.

Jadi, alangkah damainya dunia jika kita semua bisa memikirkan kebahagian orang lain. Do you?

Yuk di check lagi pesannya!

Korban modis

Hari itu.

Prakiraan cuaca mengabarkan akan ada storm sejak siang hari dengan kecepatan angin bisa mencapai 9 bft alias 75 sampe 88 km per jam.

Cahaya sedang tergolek lemas karena sudah seminggu lamanya dia kena cacar air.

Suamiku sudah dua hari tidak masuk kerja karena sakit, dan dia hanya bisa tergolek saja di sofa biru rumah kami, tidak makan, tidak duduk di balik meja komputer seperti biasanya dan yang paling fantastis dia tidak nonton film. Hebat luar biasa karena dia tidak memegang keyboard XBMC untuk mensortir film yang biasa ditontonnya.

Dan Cinta hari itu vervelend banget! Maunya nempel terus pada diriku, padahal masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan. Mungkin karena partner bermainnya sedang terbaring sakit dan yang lebih mengecewakan  dia tidak bisa menaiki punggung besar dan menyuruhnya berkeliling rumah, sementara dia tertawa tawa di atas punggung besar itu. Ya, bermain kuda bersama papanya.

Tapi hari itu aku (harus!) keluar rumah sejenak.
Aku mendapat kabar menggembirakan dari seorang teman, bahwa akan ada banjir diskon di toko pakaian tempat dimana biasanya aku membeli pakain, terutama untuk si kembar.

Akhirnya setelah minta izin dengan khidmatnya pada suami yang sedang sakit, setelah Cinta Cahaya tidur siang dengan lelapnya, aku pergi juga.

Diskon tersebut akan dimuali pukul 17.00 hingga 21.00. Biasanya toko sudah tutup sejak pukul 6 sore, khusus hari itu serasa koopavond bisa belanja hingga jam 9 malam.

Setelah mengamati trik dari temanku itu, aku diharuskan datang sebelum pukul 5 sore, memilih pakaian terlebih dahulu dan baru mengantri di kassa tepat jam 5 sore. Trik yang cerdas sekali pikirku, maka aku sudah tiba sekitar pukul 4 sore di toko tersebut, dengan hati yang berbunga.

Tapi…..
Tepat pukul 4 sore aku telah tiba dii toko yang aku cita citakan, dan alangkah terkejutnya ketika mendapati toko sudah ramai sekali, kalo boleh mendramatisir keadaan disana ga kalah ramai dengan pasar baru bandung, hahaha.

Orang hilir mudik saling sikut, memilih pakaian, ada yang berceceran di lantai tapi mereka tak menghiraukannya.

Aku terbelalak melihat orang orang yang begitu kesetanan, persis di film addicted to shoping.

Saking ramainya aku tak bisa menikmati shoping time kali ini, aku hanya melirik pakaian sekenanya, tidak berbelanja bijak dengan melihat dengan seksama lingkaran berwarna apa di balik tag harga yang menggantung di pakaian tersebut. Aku hanya mengambil pakaian yang aku dan si kembar butuhkan, bodohnya diriku yang tidak memanfaatkan crazy discount yg hanya berlangsung satu hari itu.

Tiba di kassa.
Jantungku hampir copot karena melihat antrian yang panjang, toko yang sedang mengadakan diskon adalah toko pakaian sebangsa Yogya Departement store di Indonesia dan hampir di seluruh kota di Belanda terdapat toko tersebut, dan yang aku datangi adalah toko terbesar di Rotterdam, toko dengan 4 lantai! Dan di setiap lantai terdapat dua buah kassa.

Berdiri di antrian kassa.
Aku menghibur diriku dengan mengamati orang orang sekitar yang sedang mengantri pula, umumnya mereka datang berkelompok, yang satu mengantri yang satu masih memilih pakaian kemudian mereka saling bertukar tempat, umumnya mereka datang sekeluarga. Tersenyum simpul melihat seorang bapak yang sedang mengantri dengan mulut terkatup, tanda tak senang hati! Sementara sang istri bolak balik menyerahkan hasil buruannya.

Tersenyum simpul saat menyadari tak banyak rambut pirang di antrian, yang ada berambut hitam sepertiku (lebih hitam maksudku) dan umumnya mereka yang menutup rambutnya.

Dan berbagai bahasa mulai aku dengar………

chau sing fu ku…..
szang cshoung zing….
firr show maa…..
arg far hu….

dan sebangsanya!

Tiba di dekat kassa, aku sedikit bernafas lega, dan hatiku senang. Melirik ke arah antrian di sampingku karena seseorang di balik kassa berbicara dengan orang yang sedang membayar belanjaannya, kata kata mirip peringatan untuk tidak melakukan hal tersebut lagi, aku melirik karena ingin tahu…

Dan Ya Tuhan,….
Dua manita yang sedang menyerahkan belanjaannya di kassa, ternyata memasukan pakaian yang akan mereka beli ke keranjang belanjaan yang biasa dibawa ke pasar atau supermarket,  tak tanggung tanggung mereka membawa tas dorong  tersebut sebanyak 4 buah dan semuanya telah penuh pakaian,  mereka berdalih lebih mudah berbelanja dengan tas dorong. Dan wanita di balik kassa itu memperingatkan lain kali untuk tidak melakukan hal tersebut lagi, mereka boleh memasukan pakaian yang telah mereka beli ke tempat manapun yang mereka suka asal telah dibayar, jangan sebelum dibayar!

Ya, tapi itu lebih mudah buat kami, jawabnya, hahaha. Mungkin orang orang disitu juga setuju dan kalau bisa pake shoping car sekalian.

Sesampainya di rumah.

Suamiku tertegun, melihat barang yang kubawa, dan tanyanya, apakah mencapai 3 digit? Aku tak menjawab. Dan tersenyum senyum wink wink minta dikasihani dan minta dimaafkan. Stout Yayang!

Hari ini, satu hari setelah fighting with crazy shoping.

Tanganku pegal pegal, pundakku apalagi, aku mulai batuk, hidungku mancer terus.

Nah Yayang, selamat menikmati perjuanganmu menjadi korban modis alias modal diskon, hahaha.

Tapi tetap berharap, jika suatu hari nanti aku mau bergila ria menjadi modis (modal diskon) aku ingin datang bersama temanku itu, karena dia sangat pintar mengatur strategi dan memilih dan melihat dengan cermat barang apa yang harus dibeli, dan se chaos apapun keadaannya kami akan selalu bisa tertawa dan menikmati dengan senang hati.

Hidup korting!
Hidup Aanbieding!

I love it

Rotterdam, 8 Dec 2011