Siapa yang suka beres beres rumah?

Ibuku paling tau kalau aku paling malas beres beres rumah. Tapi itu dulu saat aku masih tinggal di Indonesia. Seiring waktu aku jadi tau bahwa hidup di suatu ruangan itu dan jika ingin ruangan itu tetap rapih maka harus ada seseorang yang membereskan barang barang yang telah kita gunakan.

Pertanyaan nya siapa kah orang tersebut? Saat aku memutuskan hidup bersama suami maka yang ada dipikiranku saat itu adalah bahwa kami berdua yang bertanggung jawab akan kebersihan dan kerapihan rumah. Apalagi ibuku menasihati agar aku bisa menyeimbangi Luc yang saat itu selalu keliatan rapih dan bersih dimata ibuku.

Kemudian berbagai keterkejutanku mengenai image Luc yang menurut ibuku selalu rapih di mulai. Di minggu pertama aku tinggal dengannya, setiap dia pergi ke kantor di pagi hari kemudian aku masuk ke kamar mandi aku selalu terkaget kaget melihat pemandangan disana, ada dua handuk basah di lantai, baju dalam dan lain lainnya. Predikatku di rumah saat aku masih di Indonesia adalah aku satu satunya yg tidak bisa beres beres, tapi rasanya belum pernah sekali pun aku meninggalkan pakaian dalam di lantai kamar mandi dan membiarkannya begitu saja.

Tiga kali berturut turut aku harus memunguti pakaian kotor tersebut dari kamar mandi dan memindahkannya ke keranjang cucian yang berada diruang cuci tepat di depan kamar mandi. Saat itu kamar mandi di rumah lama kami termasuk kamar mandi yang baik dan cukup mewah buat bujangan seperti Luc. Bathtub berwarna coklat sewarna dengan wastafelnya yang dihiasi cermin bulat bergerigi klasik. Dan kamar mandi tersebut cukup luas karena dulunya adalah sebuah kamar tidur yang disulap menjadi kamar mandi. Terdapat pula lemari terbuka yang berisi handuk handuk putih yang pada ujungnya terdapat bordiran binatang, ada kuda, jerapah, gajah dan anjing. Dan handuk handuk mewah menurutku tersebut diinjak injak begitu saja oleh Luc setiap dia selesai mengeringkan badan.

Setelah tiga hari pertama bersama Luc sang suami, akhirnya aku membuka pembicaraan mengenai kegiatan ku memunguti kolor tiap pagi, kuungkapkan dengan jelas bahwa aku datang ke Belanda bukan untuk jadi pemulung kolor😁. Kujelaskan pula bahwa menggunakan handuk bersih tiap hari dan dua helai pula adalah suatu pemborosan apalagi kemudian dilempar begitu saja di lantai kamar mandi dan diinjak pula begitu dia keluar dari bathtub.

Kemudian aku yg dikenal tidak bisa beres beres ternyata jadi orang yang paling cerewet tentang kebersihan dan kerapihan rumah. Hingga kini, hingga lahir si kembar dan mereka berdualah yang paling sering aku suruh suruh untuk mengembalikan barang barang untuk diletakan kembali ke tempatnya setelah di gunakan.

Walau begitu jika dibandingkan dengan rumah orang lain, rumah kami tetap lah bukan rumah yang rapih, tapi tetap rumah yang berantakan! Padahal rasanya aku setiap hari cerewet luar biasa.

Oh ya sang suami juga suka buka kaos kaki seenaknya dan membiarkan bergelimpangan begitu saja dekat sofa, kini aku punya beberapa trik yang membuat dia agak tertib untuk beberapa hari, aku tidak menyuruhnya menyimpan kaos kaki kotor ke keranjang cucian, aku membiarkan nya begitu saja, setelah tiga hari aku tak kuat lagi melihat tiga pasang kaos kaki kotor di lantai. Maka sebelum aku berangkat kerja di pagi buta (05.30). Aku menggantungkan ketiga pasang kaos kaki itu di layar komputer Luc. Luc, akan bangun pukul 6 pagi, mandi kemudian duduk di depan komputer selama setengah jam untuk mengikuti kursus secara online, yg kemudian akan membangunkannya anak anak dan mengantar kan mereka sekolah sembari dia pergi kerja.

Kubayangkan tawanya akan pecah begitu melihat kaos kaki bergelantungan di layar komputer. Dua jam kemudian aku menerima pesan singkat darinya melalui telpon…

Hai istri ku sayang, aku dengan gagah berani telah membawa kaos kaki kaos kaki itu ke atas, ke keranjang cucian! Tapi bisa kah kau beritahu dimana sepatu ku? Aku dan anak anak sudah mencari nya kemana mana….

I love you,

Groetjes, suamimu!

Dan tawaku meledak saat itu, saat aku akan berangkat kerja aku nyaris terjatuh di Hall (gang) pintu depan dimana tempat sepatu berada, aku tersandung sepatu Luc. Saking kesalnya keisenganku timbul, aku melempar sepatu Luc ketempat sampah!

Advertisements