Hidung mancung vs Jerawat

Minggu sore (13-03), dalam perjalanan menuju Rosada outlet.

Pembicaraan dua penyiar radio di-iyakan oleh Luc sambil terbahak.

Luc: Dat klop, betul sekali! Kamu juga merasa terganggu ga kalo ada jerawat di hidung? sehingga pandangan kita terganggu oleh jerawat yg menclok di hidung

Me: Haaaaaaahhhhhh? Aku ga bisa liat jerawat di idung kalo ga liat cermin.

Luc: Echt waar? Kamu ga bisa liat ujung idungmu sendiri?

Luc melirikku………dan tersenyum mengerti.

Ja, ja, ja…hanya orang yg berhidung tinggi alias mancung yg bisa melihat ujung hidungnya sendiri. Dan aku bukan salah satu dari mereka.

Beautiful nose, lanjut Luc kearahku.

Off course beautiful, karena semuanya ciptaan Tuhan yang sempurna.

Terima kasih karena telah diberkahi hidung istimewa, yang bisa mencium bau tutung dari arah dapur, yg bisa merubah bau kentut sendiri menjadi lebih nikmat dari harum channel no.5 dan bisa protes jika mencium bau tak sedap dari orang lain!

Rotterdam, 15-03-2011

Orang Indonesia tukang minta uang?

Secara tak sengaja beberapa hari yang lalu aku dan Luc nonton acara TV disini, menceritakan tentang pengalaman tiga orang Indonesia yang mencari ibu biologisnya di Indonesia. Mereka adalah anak yang diadopsi keluarga Belanda sejak mereka bayi. Dari tontonan yang sudah sudah biasanya menceritakan proses pencarian itu sendiri sampai mereka bertemu dan acara berakhir bahagia. Tapi tontonan yang kemarin menceritakan pengalaman sesudahnya. Sesudah mereka menemukan ibu kandungnya. Tiga dari dua orang tersebut tak melanjutkan silaturahmi kembali dengan keluarga kandungnya di Indonesia salah satu alasannya adalah karena setiap mereka berkomunikasi jarak jauh (melalu surat) selalu diakhiri untuk dikirimi uang. Dia berkata bahwa dia tak suka jika dirongrong untuk selalu mengirimi uang, oleh sebab itu dia memutuskan tak lagi membalas surat surat yang datang.

Rasanya cerita semacam itu tak aneh lagi aku dengar. Salah satunya adalah rumor perempuan yang menikah dengan pria bule adalah karena uang. Rasanya nyesek sekali kalo sudah dituduh seperti itu, walau sebetulnya tak pernah ada orang yang menuduhku secara langsung. Tapi kalo celutukan teman (biasanya teman masa lalu yang tiba tiba muncul) yang berkata…. duh asyik nih punya suami bule pasti uangnya banyak. Nah yang kayak gitu rasanyanya udah pengen ngegetok.

Konon sewaktu Luc akan menikah denganku, calon mertuaku mendapat peringatan dari temannya yang orang Indonesia, bahwa Luc harus waspada karena bisa jadi keluarga istrinya nanti doyan minta uang dari Indonesia. Karena itulah yang terjadi dengan temannya mertuaku itu.

Kira kira sebulan yang lalu, salah satu kerabat temanku (temanku itu  tinggal disini) datang ke Belanda. Temanku ini adalah teman sekolahku dulu, secara tiba tiba empat tahun yang lalu kami bertemu disini di Belanda, tentu saja aku senang karena saat itu tak banyak orang Indonesia yang aku kenal, temanku itu sedang bersama dengan kerabatnya yang datang dari Bandung untuk berlibur. Anehnya aku langsung akrab dengan kerabat temanku itu, selama dia di Belanda aku bertemu dengannya dua kali. Ternyata si kerabat itu sudah sering bolak balik ke Belanda sebelumnya sehingga dia mempunyai beberapa kenanlan. Kedatangan kali ini ke Belanda hanya beberapa hari saja karena dia harus mendatangi negara Eropa lainnya.  Kami pun janjian untuk bertemu. Satu hari bersamanya sungguh menyenangkan.

Tapi ternyata seminggu yang lalu aku menerima whatsApp darinya,  dia  bermaksud meminjam sejumlah uang padaku, uang tersebut untuk membayar utangnya pada temannya yang tinggal di Belanda, dia meminjam uang saat dia berada di Belanda satu bulan yang lalu. Katanya tolong bayarin dulu soalnya itu orang nagih nagih terus, janjinya secepatnya dia ganti. Nah melongo lah aku dapat whats App kayak gitu. Tololnya, aku malah bilang bahwa untuk urusan keuangan tak sepenuhnya wewenangku karena aku tak punya penghasialn sendiri, aku harus bilang suami. Eh dengan cueknya kerabat temanku itu malah bilang iya cerita aja ama suami kan harus terus terang, lagian Luc orangnya royal, pasti dia mengerti posisiku. Begitu katanya.

Berdasarkan berbagai pertimbangan aku tak bercerita pada Luc, sehari kemudia aku menjawab WhatsAppnya, aku memohon maaf karena tidak dapat membantu.

Sebetulnya aku ingin membantah mengenai rumor bahwa orang Indonesia tukan minta uang, karena sahabat dekat dan keluargaku tak seperti itu, dan akupun paling sungkan meminta sesuatu pada orang lain. Aku mengasumsikan bahwa orang seperti itu mungkin mengira bahwa orang yang hidup di LN itu kaya, banyak uang. Jadi dengan mudah minta bahkan bercanda untuk meminta sesuatu. Nah ini kerabat temanku ini kan orang kaya, ya iya lah makanya bisa sering jalan jalan ke Eropa, lagian kenapa minta pinjam padaku kenapa bukan pada temanku itu yang jelas jelas kerabatnya?

Pengalaman lain tentang pinjam dan meminjamkan uang juga pernah aku alami disini juga, saat itu aku masih polos. Belum mengerti pergaulan disini. Aku ikut arisan. Tiba tiba aku menang, padahal aku berharap menang di akhir arisan. Nah ini kok menang di tengah jalan. Ada salah seorang anggota arisan yang selalu berharap menang setiap bulannya, bodohnya aku saat itu dengan mudahnya memberikan setengah uang arisan pada si orang yang sedang butuh uang tersebut. Dia berjanji akan bayar bulan depan, lebih bodoh lagi aku malah menjawab pokoknya uangku harus balik sebelum aku pulang ke Indonesia yaitu tiga bulan lagi. Tambah senenglah itu orang. Pas nyampe rumah aku laporan pada Luc bahwa aku menang arisan dan setengah uangnya aku pinjamkan pada anggota lainnya. Luc melongo menanggapi istrinya yang aneh!

Cerita si uang arisan itu ternyata berbuntut panjang, aku tak pernah bercerita pada orang lain selain pada Luc (dan sekarang pada kalian) bahwa aku meminjamkan uang, si peminjam itu sendiri yang berkoar koar setelah hampir tiga bulan kemudian dia tak kunjung menang arisan juga, dia berharap menang arisan untuk membayar utangnya padaku. Dia memohon pada semua orang semoga dia yang menang karena uangnya untuk membayar utangnya padaku yang sebentar lagi akan berangkat ke Indonesia.

Setelah dia berkoar, sang bandar arisan menelepon padaku. Menyangkan tindakanku yang meminjamkan uang dengan ceroboh, dia mengerti bahwa aku masih baru di Belanda tak mengenal banyak orang, dikiranya semua orang sama seperti di Indonesia, si bandar yang baik hati itu sampai menawarkan uangnya untuk aku pakai jika sampai aku berangkat ke Indonesia orang tersebut belum bayar juga padaku, yang tentu saja aku tolak.

Walau aku tak mendapatkan uangku saat aku berangkat ke Indonesia tapi orang tersebut dapang padaku dan Luc dan meminta maaf karena dia tak dapat memenuhi pembayaran seperti yang dia janjikan. Dan Luc berkata sejujurnya bahwa dia tak masalah selama uangku dikembalikan, malah dijelaskan bahwa kami bukan type yang suka bawa uang cash dengan nominal yang besar ke Indonesia, alasannya karena keamanan, kami lebih suka ambil uang di ATM.

Tak enak rasanya menceritakan dua pengalaman ini. Tapi semoga kita bisa lebih waspada untuk urusan pinjam meminjam atau meminta uang karena seringkali bikin ga enak hati pada akhirnya. Juga semoga lebih bijaksana jika meminta sesuatu pada orang lain, meminta hal yang besar ataupun yang kecil.

Terschelling

DSCF7746

Akhirnya ada kesempatan juga untuk menuliskan pengalamanku saat jalan jalan ke pulau Terchelling hampir tiga setengah tahun yang lalu. Terchelling adalah sebuah kota dan juga pulau di bagian Barat Belanda. Sebuah pulau yang merupakan salah satu dari pulau yang ada di Frisland. Terchelling terletak di antara pulau Vieland dan Ameland. Baca disini.

terschelling-kaart

Untuk sampai di Terchelling, kami harus naik kapal Ferry untuk sampai tujuan. Dari Rotterdam kami mengendari mobil menuju Afsluitdijk. Jarak 172 km bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam 45 menit. Tapi berhubung kami harus mengejar Ferry, terpaksalah Luc harus ngebut melebihi ketentuan kecepatan yang seharusnya. Berkali kali aku mengingatkan karena dia melewati batas kecepatan tapi akhirnya aku setuju saja karena ikut deg deg plas saat berkali kali melihat waktu yang makin mepet pada keberangkatan Ferry. Dua minggu kemudian kekhawatiran kami terjawab dengan datangnya surat tilang yang datang ke rumah. Kami kena denda hampir 200 euro karena melanggar batas kecepatan. Kami terekam kamera di dua titik, dua kali melanggar kecepatan.

Bercerita tentang Afsluitdijk itu sendiri adalah hal yang menarik untuk diceritakan juga. Seperti yang selama ini kita hau dan sepertinya tersohor di penjuru dunia, Belanda adalah negara yang jago membuat dam atau dijk. Arti dari nama Nederland itu sendiri adalah negara berdaratan rendah. Bahkan ada beberapa bagian berada dibawah permukaan laut (onder see level). Itulah sebabnya untuk  mengantisipasi banjir atau air laut masuk ke daratan, mereka memuat dam untuk menahan air laut.

Afsluitdijk dibuat untuk membuat jalan pintas dari  Den Oever di Wieringen ke desa Zurich di provinsi Friesland, jembatan yang membelah lautan ini berjarak 32 kilometer (20 mil) dan lebar 90 meter (300 kaki), pada ketinggian awal 7,25 meter (23,8 kaki) di atas permukaan laut. Dibangaun antara tahun 1927 hingga 1932, dan pada tanggal 25 September 1933 Afsluitdijk resmi dibuka.

Afsluitdijk 'Zuiderzee works'. Mengubah air laut yang berada di bagian  IJsselmeer menjadi air tawar dan disebut dengan sebutan danau IJsselmeer.

Afsluitdijk ‘Zuiderzee works’. Mengubah air laut yang berada di bagian IJsselmeer menjadi air tawar dan disebut dengan sebutan danau IJsselmeer.

Yang menarik dengan dibuatnya tanggul afsluitdijk ini mengakibatkan berubahnaya air laut menjadi air tawar. Di bagian Waddenzee atau bagian kiri dalam gambar tetap air laut yang berasa asin sedangkan bagian kanan pada gambar daerah IJselmeer berubah menjadi air tawar karena dibangunnya tanggul ini.

Kembali ke Terchelling, akhirnya kami sampai dengan selamat di tempat parkir dan berlari pontang panting menuju Ferry besar yang telah menunggu kami, dan kamilah penumpang terakhir. Begitu kami sampai di kapal, petugas segera menutup pintu dan membuang jangkar (begitukah istilahnya?) Dan kapal Ferry besarpun segera melaju.

Ferry yang membawa kami langsung ke pulau Terchelling memakan waktu kurang lebih dua jam, lumayan lama dan tanpa kami duga sebelumnya. Untunglah Cinta dan Cahaya sangat menikmati perjalan mereka, mereka makan dengan lahap di restaurant yang ada di kapal tersebut, menonton TV dan bermain dengan anak anak lainnya. Ongkos yang kami keluarkan untuk naik Ferry perorangnya tak begitu aku ingat lagi, tapi pastilah kami selalu menacari ongkos termurah. Hihihi. Dan berdasarkan data pencarian yang aku dapatkan di internet ongkos termurah perorang adalah 16,30 euro pulang pergi per orang untuk aku dan Luc, sedangkan untuk Cinta dan Cahaya yang saat itu masih dibawah umur 3 tahun dikenakan ongkos 8,70 euro perorang. Berdasarkan tarif disini.

Oh ya kami datang ke Terchelling karena menerima ajakan Sandra dan keluarga untuk (lagi lagi) berlibur bersama. Tapi karena satu dan lain hal kami tak bisa, maka kami memutuskan bertemu mereka tapi hanya satu hari saja alias tidak ikut menginap. Dan ternyata waktu satu hari itu adalah hari yang sangat menyenangkan.

Begitu kami tiba di di daratan, Sandra dan Tibo sudah datang menjemput kami dengan menggunakan sepeda. Kami langsung diajak ke tempat penyewaan sepeda, Luc menyewa bakfiets yaitu sepeda yang didepannya ada baknya untuk menyimpan Cinta dan Cahaya. Tipe sepeda ini banyak dijumpai di Belanda bagi mereka yang mempunyai anak balita. Sedangkan aku memilih sepeda elekronik yang sadelnya harus diturunkan lagi karena terlalu tinggi. Dan itulah pertama kalinya aku bersepeda di Belanda.
DSCF7769

Dari tempat penyewaan sepeda kami harus melewati sekitar 1 hingga 2 kilometer untuk sampai di vakantie huis (rumah liburan) yang disewa oleh Sandra. Dan ini pengalaman yang menyenangkan dan  mengasyikan  bersepeda melewati hutan lindung.
DSCF7704
DSCF7730DSCF7734

Bagi kalian yang sangat menyukai pantai, suasana desa tua, hutan dan makanan laut, menurutku datang dan  nikmatilah Terchelling. Dijamin puas tak terhingga. Ingat satu hari adalah waktu yang sangat pendek untuk menikmati Terschelling, disarankan minimal menginaplah satu malam disana, karena walaupun kami datang dengan Ferry yang paling pagi dan kembali dengan Ferry terakhir tetaplah kami seakan berkejaran dengan waktu saat berada disana. Walaupun Sandra dan anak anaknya bersikerasmeminta kami untuk menginap, tapi kami tetap harus kembali hari itu juga, karena Luc telah terlanjur beli tiket Ferry pulang pergi untuk hari itu saja, hahaha kami tak mau rugi.

Pengalaman mendatangi Terschelling adalah pengalaman yang sangat menyenangkan. Berikut aku tampilkan film amatir  yang aku buat dan menjadi kesukaan Cinta dan Cahaya untuk ditonton berulang kali. Selamat menikmati Terschelling. Ayo agendakan segera untuk mendatangi Terschelling bagi kalian yang berminat.

Ibu Mertua

Setelah menikah akhirnya aku punya ibu mertua juga.
Cerita tentang ibu mertua sudah menjadi cerita yang sepertinya bagai gelombang samudra yang bisa tenang dan bergelora.
Saat aku masih berada di Indonesia, aku selalu menjadi orang yang mendengarkan cerita tentang ibu mertua ini dari beberapa teman kerjaku dulu, rasanya ada saja salah satu yang bercerita tentang tingkah polah ibu mertuanya. Hampir bisa ditarik kesimpulan walaupun mereka kadang kesal dengan ucapan ibu mertua tapi mereka semua sepertinya sayang pada ibu mertua ini. Kadang kalau sedang kesal tingkat tinggi pada si ibu mertua, aku hanya bisa menenangkan mereka sambil berkata, seharusnya kalian juga merasakan seperti apa ibu mertua terhadap kalian, mungkin saja mertua pun merasa kalian menantu menyebalkan. Yang langsung disambut huuuuuuuuuuhhhhhh panjang dari teman kerjaku, sambil menjawab, kamu belum tau rasanya punya mertua.

Oeps! Memangnya bagaimana rasanya punya mertua?

Dalam keluargaku akulah satu satunya anak perempuan diantara tiga anak laki laki. Jadi ibuku adalah ibu mertua dari tiga menantu perempuannya. Selama aku di Indonesia kedua kakakku sudah menikah jauh sebelum aku (ya aku yg terlambat menikah) rasanya tak ada keluhan dari kedua menantu ibuku ataupun dari ibuku sang mertua. Mereka semua terlihat baik baik saja.

Namun setelah aku tinggal jauh dari Indonesia, sedikit sedikit aku mendengar curhat dari ibuku tentang menantu mereka, dari curhat ibuku ternyata aku malah membela sang menantu ibuku. Hahaha. Apa sih yang dicurhatkan ibuku? Biasanya tentang rumah yang berantakan,  terlalu keras atau terlalu lemah pada cucu ibuku. Seputaran itulah. Tapi ibuku selalu tak lupa memuji mereka jika mereka berada diatas standar yang diharapkan ibuku.

Kini aku di Belanda, punya teman dekat yang mempunyai ibu mertua yang menurutku pendiam. Dan temanku selama bertahun tahun tak pernah bercerita tentang ibu mertuanya itu hingga beberapa waktu yang lalu dia berkeluh kesah juga dan menyampaikan bahwa dia iri sekali padaku yang mempunyai ibu mertua yang jauh sehingga si ibu mertua tak banyak mencampuri kehidupan rumah tanggaku.

Angela. Dia adalah mertuaku. Aku berbicara padanya satu hari setalah aku tiba di Belanda untuk tinggal permanen. Artinya beberapa bulan setelah pernikahan di Indonesia. Dia tak datang pada pernikahan kami. Konon dia hanya memberikan restunya (dan sumbangan untuk biaya resepsi) saja. Satu hari setelah datang ke Belanda, aku menerima buket bunga yang sangat cantik, sesaat setelah menerima buket itu aku meminta suamiku untuk menyambungkan telepon untuk berbicara dengan ibunya, sebagai ucapan terma kasih. Dan meneleponlah aku ke Portugal dimana ibu mertuaku tinggal. Dia mengundang kami untuk mengunjungi vilanya di Portugal. Maka sibuklah kami menyiapkan liburan kesana yang kemudian harus ditunda karena aku tiba tiba hamil dan kondisinya sangat tidak memungkinkan untuk terbang.

Pertemuan pertama dengan Angela terjadi saat aku tak sadarkan diri di rumah sakit. Dia datang dari Portugal untuk mengambil kedua anak kembar kami dari rumah sakit sebelum mereka diberikan pada foster parent karena ketidakmampuan kami untuk merawat mereka. Saat itu aku terbaring di rumah sakit, suamiku memutuskan merawatku dan menyerahkan perawatan anak anak kami pada rumah sakit dimana rumah sakit akan mencari orangtua sementara untuk Cinta dan Cahaya. Angela datang pada saat yang tepat untuk menjadi orang yang bertanggung jawab atas anak anak kami.

Untuk pertama kalinya aku bertemu dengan Angela saat aku hanya bisa sedikit berkomunikasi (saat aku sakit suaraku sempat hilang) hal yang aku katakan padanya adalah perutku gendut sekali, kataku sambil mengusap perutku yang masih gendut tapi tak ada Cinta dan Cahaya disitu. Dan Angela menjawab dengan cepat, tapi kamu masih wanita tercantik seantero dunia, sahutnya. Di ujung tempat tidur Luc tersenyum trenyuh. Baru dikemudian hari saat aku dan suamiku mengingat pertemuan pertama antara aku dan Angela, kami berdua selalu tersenyum getir. Masa masa tersulit yang pernah kami lalui.

Orangtuaku datang dari Indonesia untuk membantu merawat diriku, saat mereka kembali ke Indonesia kata kata ibuku padaku adalah, kamu beruntung punya ibu mertua yang sangat baik, ibuku berkata tentang besannya bahwa dia wanita yang luarbiasa.

Sembilan bulan kemudian kami berempat melanjutkan rencana kami untuk mengunjunginya di Portugal, jika dulu kami berencana datang berdua, kini kami datang berempat. Di saat liburan itulah aku mengerti mengapa ibuku berkata demikian tentang Angela. Ya dia super baik pada diriku. Dia menjaga Cinta dan Cahaya, membiarkan kami pergi saja berdua padahal saat ibu si kembar masih bayi umur 9 bulan. Dia mencucikan baju baju kami dan yang lebih kaget lagi dia menyetrikakan baju baju kami juga.

Setelah kedatangan kami yang pertama kami mengulanginya selalu setiap tahun, dan perlakuannya pada kami tak pernah berubah. Rumor yang aku dengar dari suamiku sendiri bahwa ibunya termasuk orang yang bisa sedikit ikut campur pada urusan rumah tangga anak anaknya tak terbukti pada diriku. Perang dingin antara Angela dan menantu satunya lagi (istri dari adiknya Luc) tak pernah bisa aku mengerti. Ibuku memberikan jawaban yang membuat hidungku mengembang, karena kamu juga baik. Hahaha. Apakah begitu?

*****

Sejak Cinta dan Cahaya berusia dua tahun mereka sudah masuk sekolah. Di tahun kedua sekolah playgroup itu Cahaya mempunyai sahabat namanya Daisy. Mereka masuk sekolah dasar yang sama saat mereka berusia empat  tahun. Daisy masuk tiga bulan lebih awal dibandingkan Cahaya karena dia berusia tiga bulan lebih tua dari Cahaya. Di Belanda anak anak akan masuk Sekolah Dasar tepat pada umur 4 tahun, kapanpun mereka berusia empat tahun maka mereka akan masuk SD. Maka tak heran murid baru bisa datang kapan saja. Persahabatan Cahaya terjalin hingga kini. Tapi tak pernah sekalipun aku melihat Daisy diantarkan oleh ibunya, selalu oleh ayahnya atau neneknya atau orang lain yang aku tau adalah masih kerabat Daisy. Aku tak pernah bertanya pada Daisy jika Daisy bermain di rumah kami tentang ibunya. Barulah setelah Cahaya bercerita bahwa ibunya Daisy kini tinggal dirumahnya setelah lama tinggal di rumah sakit, tapi dia tidak bisa berjalan, Cahaya bilang dia duduk di kursi roda yang keren yang bisa berjalan sendiri.

Mendengar cerita Cahaya aku menebak nebak apa yang terjadi dengan ibunya Daisy. Aku tak pernah melihatnya dia menjemput aatau mengantar anaknya ke sekolah. Setiap ke sekolah Daisy selalu diantar ayahnya dan pulangnya dijemput neneknya yang selalu mendorong kereta bayi kembar yang berisi dua bayi perempuan lucu. Kini bayi lucu itu sudah berusia tiga tahun dan sudah sekolah di playgroup. Cahaya bilang bayi kembar itu adalah adiknya Daisy. Mungkinkah ibunya Daisy sakit seperti diriku? Sakit karena melahirkan bayi kembar?

Aku adalah orang yang didatangi banyak dokter setelah aku sembuh, sebagian dari mereka tak percaya bahwa aku bisa sembuh hingga kini. Setiap aku datang control dokter yang menanganiku selalu menyalamiku dengan ucapan awal “hallo superwomen”, kata kata seperti itu selalu dia katakan setiap memeriksaku….hingga kini!

Sekitar satu bulan yang lalu aku melihat ibunya Daisy untuk pertama kalinya, dia datang menjemput anak anaknya didampingi suaminya, menggunakan kursi roda. Beberapa orangtua yang lainnya menyalaminya, tentunya mereka yang saling kenal. Aku baru berbicara beberapa hari setelahnya. Saat itu Cahaya diajak merayakan ulang tahun Daisy di sebuah tempat hiburan anak, hanya Cahaya saja. Saat aku menjemput Cahaya dari rumah Daisy, untuk pertama kalinya aku berbicara dangan ibunya Daisy, Chantal. Dia berkata bahwa Cahaya anak yang baik dan dia berkata bahwa di senang bisa melihat Daisy having fun bersama Cahaya.

Kemarin sore, Daisy bermain ke rumah kami. Tiba tiba saja aku teringat ucapan Cahaya bahwa Daisy pernah masuk TV. Aku bertanya padanya dalam acara apa? Daisy tak bisa menjelaskan secara detail nama acaranya, dia hanya menyebutkan ada di TV SBS6, Channel nasional Belanda. Daisy hanya menyebutkan bahwa dia memberikan kejutan untuk ibunya  dengan menanam pohon yang diberi nama Joey, Daisy, Abby dan Jessy.

Kemudian aku bertanya pada Daisy, apakah ibunya berada di rumah sakit setelah dia melahirkan Abby dan Jessy? Daisy mengangguk. Aku terdiam teringat lukaku sendiri. Kemudian aku mencari informasi di internet, aku berhasil menemukan cerita tentang mereka di koran lokal. Dan airmataku membanjir saat membaca ceritanya.

Chantal ibu dari empat orang anak perempuan berusia 7, 5 dan 3 tahun didiagnosa leukimia akut sesaat setalh melahirkan. Berada di ruang isolasi lebih dari setengah tahun, menjalani beberapa pengobatan dan kemo, setelah berkali kali berada dalam kondisi hampir dinyatakan meninggal. Berkali kali! Kasusku, aku dinyatakan dua kali dalam posisi nyaris meninggal. Tidak berkali kali seperti kasusnya ibunya Daisy.

Kini dia diperbolehkan keluar dari rumah sakit hanya untuk memberikan untuk menikmati sisa hidupnya bersama anak anaknya, sehingga dia bisa melihat anak anaknya disaat saat terakhirnya. She is dying! Suprise suprise acara yang dimotori Henny Huisman salah satu presenter terkenal di Belanda, mendokumentasikan kehidupan Chantal. Dia memberikan kursi roda baru bagi Chantal yang didekorasi oleh keempat anaknya, kemudian dia dibawa dengan menggunakan bus yang berisi keluarga terdekatnya ke sebuah tempat, diaman akan ditanam empat buah pohon yang diberi nama keempat anaknya. Tempat tersebut adalah tempat yang selalu dihabiskan oleh suami Chantal untuk membawa keempat anaknya setelah mereka menengok Chantal di rumah sakit. Di tempat itu Chantal ingin keempat anaknya mengingat dirinya.

Aku melihat film tersebut (dari uitzending gemist) dengan mata bercucuran, sama seperti Chantal yang bercucuran saat melihat suami dan keempat anaknya menanam pohon secara simbolis. Kemudian suaminya dan beberapa kerabatnya mengucapkan beberapa kata mengenai Chantal. Mijn inspiration, superwomen, sterk vrouw, dan lain lain.

Kemudian Chantal yang berkata, bahwa dia sangat berterima kasih pada seluruh keluarganya atas dukungannya hingga saat itu dan terakhir dia berkata, terima kasih pada ibu mertuaku yang telah menjada anak anakku………..

Ibu Mertua! Omanya Daisy yang selama ini mendorong kereta kembar Abby dan Jessy, yang selalu menjemput Daisy dan kakaknya dari sekolah, yang memijit bel rumah kami untuk menjemput Daisy saat dia selesai bermain di rumah kami adalah ibu mertua Chantal.

Kematian adalah milik semua mahluk hidup. Tak ada seorangpun yang tau kapan saat itu akan datang, tak dapat dibayangkan bahwa kini aku mengenal seseorang yang sedang menikmati saat saat kebersamaan bersama anak anaknya. Tiba tiba perkataan dokter setiap kami bertemu ‘hallo superwomen’ kini tak ada artinya lagi buatku, aku tak sekuat Chantal, apa yang terjadi pada diriku jika aku dinyatakan tinggal menunggu hari saja?

Tapi diatas semua itu, bukankah kita semua sama dengan Chantal….. menunggu saatnya tiba

Aku melirik pada buku friendship kepunyaan Cahaya, disitu Daisy menulis (orang dewasa di rumahnya tentunya yang menuliskannya)…. semoga persahabatan kita abadi selamanya…………

Cinta Cahaya bersama Daisy 9 juni 2015

Cinta Cahaya bersama Daisy
9 juni 2015

Efteling

IMG_20150605_185313725 Efteling adalah sebuah taman hiburan terbesar di Belanda. Efteling identik dengan taman yang berisi fairy tales, cerita anak anak, legenda ataupun mitos. Anak anak di Belanda jika ditanya tentang Efteling maka yang terpikir di benak mereka adalah cerita Lange neck. Kini taman yang di rancang oleh ilustrator terkenal Belanda Anton Pieck dari taman alam berkembang menjadi taman alam yang dilengkapi berbagai wahana hiburan anak anak yang cukup lengkap. Secara official Efteling dibuka pada tanggal 31 Mei 1952. Kini Efteling dilengkapi dengan hotel, teather, lapangan golf dan desa hiburan. Tentu saja taman ini menjadi salah satu kebanggan Belanda, terutama bagi anak anak. Untuk mengetahui sejarah Efteling lebih lengkapnya silahkan buka disini. Hari jumat tanggal 5 Juni yang baru lalu, udara cerah dan spektakuler karena bersuhu 31 derajat Celcius dan kebetulan hari itu anak anak libur satu hari (studiedag), Luc tiba tiba saja mengambil cuti satu hari dan kami berpikir untuk pergi ke Efteling di hari Jumat itu. Cinta dan Cahaya yang baru kami beritahu sesaat sebelum mereka tidur disambut dengan antusias. Keantusiasan tersebut berdampak mereka tidak bisa tidur nyenyak dan pindah ke kamar kami pada pukul setengah tiga dini hari hanya untuk bertanya apakah sekarang sudah pagi? Pagi hari saat kami berangkat udara masih sejuk, perjalan dari rumah hingga ke tempat tujuan lancar jaya. Karena kami membeli ticket dari supermarket Albert Heijn sehari sebelumnya jadi kami lolos dari antri ticket yang cukup panjang di pagi hari itu, Oh ya Harga tiket masuk Efteling adalah 36 euro perorang, anak anak dari umur nol hingga tiga tahun gratis, sayang Cinta dan Cahaya sudah tidak gratis lagi jadi kami harus membeli empat tiket, untunglah kami mempunyai kortingan seharga 10 euro perorang karena kami punya stiker dari Albert Heijn yang dikumpulkan setiap berbelanja, setiap berbelanja dengan jumlah tertentu akan mendapatkan satu stiker (dan kelipatannya). Satu kartu yang berisi lima stiker akan mendapatkan korting Efteling sebanyak 10 euro. Karena kami punya empat kartu yang sudah terisi penuh, maka kami hanya membayar 104 euro saja untuk 4 ticket. Oh ya ditambah biaya parkir sebesar 10 euro sehari.

Pengunjung yang berjalan dari tempat parkir menuju pintu masuk Efteling

Pengunjung yang berjalan dari tempat parkir menuju pintu masuk Efteling

Berdasarkan peta (plaatgroand) yang kami dapatkan di dekat pintu masuk, kami segera memasuki hutan cerita (sprookjesbos) yang disambut dengan suka cita oleh Cinta dan Cahaya. Masuk ke kastil putri tidur, mengunjungi kampung kurcaci, mendatangi sang legendaris di Efteling yaitu Lange neck, Little mermaid, dan lain lain. IMG_20150605_110551381

Rapunzel

Rapunzel

Lange neck

Lange neck

Perkampungan liliput

Perkampungan liliput

Perkampungan liliput

Perkampungan liliput

Masih di perkampungan liliput Seorang nenek yang sedang mencuci baju, gerakan tangannya naik turun

Masih di perkampungan liliput
Seorang nenek yang sedang mencuci baju, gerakan tangannya naik turun

Putri tidur

Putri tidur

Penjaga kastil yang tidur di istana putri tidur

Penjaga kastil yang tidur di istana putri tidur

Yang menarik di Efteling adalah, adanya beberapa patung yang yang mulutnya terbuka dan mengeluarkan bunyi untuk memanggil siapa saja untuk memasukan kertas ke mulutnya yang disebut Holle Bolle Gijs.

Pemakan kertas

Pemakan kertas/ Paper Gobbler

Kuda nil yang makan kertas juga

Holle Bolle Gijs…… Papier hier………papier hier……..

IMG_20150605_153746767

Kuda nil pemakan kertas

Dari hutan sprokjes kami istirahat sebentar, Cinta yang kondisinya tidak terlalu fit karena bangun setengah tiga pagi dan sulit tidur setelahnya, tiba tiba muntah saat kami duduk di bangku sambil menyantap bekal yang dibawa dari rumah. Luc memanggil petugas untuk meminta maaf karena kami sudah mnegotori lantai dengan muntahan yang cukup banyak, personil Efteling yang ramah yang hampir semuanya service oriented yang menurut Luc bukan tipikal orang Belanda, menyarankan agar Cinta dibawa ke EHBO atau semacam klineik pertolongan pertama.

pintu masuk EHBO

pintu masuk EHBO

Di klinik Cinta disarankan untuk diberi drop saja, semacam permen yang konon bisa menyembuhkan batuk. Karena saat itu kami tak membawa drop, maka mampirlah kami ke toko permen yang tak jauh dari klinik EHBO. Dan keduanya kembali segar bugar begitu kami memperbolehkan mereka memilih beberapa permen dan boleh menimbang permennya masing masing di kassa.

Toko permen

Toko permen

Tak hanya klinik EHBO yang cukup lengkap, petugas medis di Efteling ternyata berkeliling pula dengan menggunakan sepeda, selama di Efteling kami berpapasan dual kali dengan petugas medis yang sedang berkeliling.

Petugas medis di Efteling

Petugas medis di Efteling

IMG_20150605_155247495

Yang satu minta gendong, yang satunya ditarik. Nasib jadi ayah 😉

Di Efteling disediakan juga penyewaan kursi roda bagi kalian yang kecapean, seperti halnya Cinta yang kondisinya tidak terlalu baik saat itu, dia hanya duduk di kereta yang Luc tarik bahkan berkali kali Cahaya lah yang menarik kereta Cinta, untuk penyewaan kereta seperti yang dipakai Cinta dikenakan biaya 4 euro. IMG_20150605_105945005 Dan inilah beberpa foto yang sempat aku ambil saat kami menjajal beberapa atraksi yang sesuai untuk anak anak seumuran Cinta dan Cahaya. IMG_20150605_131359455IMG_20150605_132825603 IMG_20150605_144259032 IMG_20150605_144536425 IMG_20150605_145249466 IMG_20150605_145735438 IMG_20150605_160343382 IMG_20150605_162559223 IMG_20150605_162625295 IMG_20150605_172951580 IMG_20150605_173210850 IMG_20150605_175719685IMG_20150605_124149452 IMG_20150605_124532552 Hari menyenangkan tersebut kami tutup dengan makan di station Oost Restaurant. Station ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, sayang sekali aku lupa mengambil foto station Oost yang dibawahnya ada tulisan Station Timur. IMG_20150605_103915545

Himpunan Masyarakat Muslim Indonesia

Difoto dulu setelah berlebaran

Difoto dulu setelah berlebaran

Himpunan Masyarakat Muslim Indonesia atau yang lebih dikenal dengan nama Himmi adalah wadah yang dibangun untuk mempererat silaturahmi sesama umat muslim yang berada di Belanda khususnya di kota Rotterdam.

Sekitar bulan April 2010, itulah awal kami sekeluarga mengenal Himmi. Saat itu mushola Himmi masih bertempat di Grotevisserijstraat Rotterdam, tempat itu tak jauh dari rumahku. Kala itu Cinta dan Cahaya masih orok. Kegiatan Himmi ini diadakan setiap hari sabtu mulai pukul enam sore hingga sepuluh malam. Kegiatan yang diadakan seminggu sekali ini tempat menimba ilmu yang berkaitan dengan agama Islam dan juga membahas berbagai masalah yang berkaitan dengan dunia Islam. Tak hanya anak anak saja yang belajar baca tulis Alquran tapi para orang tua pun ikut belajar, terutama para mualaf yang banyak ditemui di sini karena pasangannya beragama Islam.

Dari Grotevisserijstraat, mushola Himmi berpindah ke sebuah sekolah Islam yang tidak digunakan lagi pada awal 2011. Kira kira satu setengah tahun kemudian mushola berpindah tempat lagi hingga kini ke Susanadijk 153, 3079 VN Rotterdam yang kami tempati hingga sekarang.  Ini alamat jelasnya http://ijsselmonde-pit010.nl/home/Agenda/Himmi%20%28Indonesische%20groep%29

Yang menurutku paling berbeda di Himmi adalah, disini ada pelajaran bahasa Arab yang ternyata peserta kursusnya tidak saja kami yang berbahasa Indonesia tapi mereka juga yang pada dasarnya masih ada darah Arab nya, yaitu orang Maroko. Coba bayangkan, ada dari mereka yang datang dari Utrech untuk belajar di mushola kami, eh orang Indonesianya sendiri malah ogah ogahan belajar, hahaha. Siapa itu? Hihihi tentu saja aku tunjuk tangan. Aha, sebetulnya aku hanya ingin mengingatkan diri sendiri saja, bahwa ada orang yang even dia itu jauh dan bisa berbahasa Arab juga, tapi mereka tetap mempergunakan kesempatan baik ini untuk belajar bahasa Arab. Kenapa begitu? Karena pelajaran bahasa Arab yang diberikan Bu Djena sangat terstuktur dan mudah dipahami. Gratis pula! Tuh kan kursus Inburgering aja yang ‘mudah’ harus membayar ratusan hingga ribuan euro. Ini gratis lho…. Ayoooooo Yayang yang rajin dong ke mushola….

Tak hanya bahasa Arab saja, Bu Djena Roehoeputy pun mengajarkan segala macam, beliaulah yang paling dirindukan anak anak karena cara mengajarnya yang merangkul anak anak dengan tepat menyebabkan setiap anak yang diajarkan oleh beliau terkesima. Sedangkan untuk orang Belanda yang belajar Alquran, mereka diajarkan oleh bapak Endjat. Dan Imam atau pembimbing utama Himmi adalah bapak Hamdi Rafioeddin.

Sejatinya Himmi didirikan oleh Bapak Syamsudin beserta bapak Marco dan juga Pak Hamdi. Dan secara official Pak Marco lah sebagai ketua umum, namun namanya perkumpulan yang didirikan secara kekeluargaan, Pak Hamdi selalu menegaskan bahwa Himmi adalah milik kita bersama, tak ada yang namanya anggota atau ketua, semua sama. Tapi Pak, musti ada ketuanya juga dong…. kan klo ada apa apa ketuanya dulu yang dicari, hehehe.

Di Himmi ada orang yang sangat penting, kalau beliau tak datang maka lumpuhlah bagian logistik. Beliau adalah Ibu Susi. Siapa dia? Tak perlu aku bercerita banyak tentang dia, rasanya semua orang Indonesia di Rotterdam tahu. Oh ya yang tak kalah pentingnya di mushola ini adalah Pak Nursani. Beliau seksi sibuk juga, yang menyiapkan segala macam perlengkapan mengaji jika pengajian akan dimulai. Sosoknya yang aku ingat adalah beliau suka hilir mudik mendorong meja yang berisi Alquran untuk dibagikan pada jemaah, dan setelah meja tersebut kosong giliran Cinta Cahaya dan anak anak kecil lainnya yang berebut naik di meja tersebut dan mulai didorong dorong oleh anak anak yang lebih besar dari mereka.  Oh ya selain itu jika aku bertemu atau melikat Pak Sani langsung juga aku ingat apakah aku sudah infak atau belum? Hehehe karena beliaulah pencatat keuangan di mushola.

Kegiatan mushola ini tak melulu harus diadakan di mushola, tapi bisa juga di tempat lain. Misalnya di taman sambil acara BBQ, seperti minggu lalu. Atau acara Rihlah ke Paris, sambil jalan jalan juga mengenalkan mesjid di Paris. Ada pula acara seru untuk menghibur anak anak seperti pergi ke tempat bowling. Dan yang sudah diagendakan adalah acara ke Movie Park di Jerman pada tanggal 13 Juni mendatang.

Berikut adalah beberapa moment yang terekam dari beberapa mobiel phone kami. Yuk mari disimak…….

FB_IMG_1433274307574[1]

Bapak Marco salah satu pendiri Himmi

Pak Hamdi, pembimbing utama di mushola Himmi

Pak Hamdi, pembimbing utama di mushola Himmi

Masih pak Hamdi, tanpa kacamata sekarang ;)

Masih pak Hamdi, tanpa kacamata sekarang 😉

Bang Doddy, ketua ibu ibu mushola ;)

Bang Doddy, ketua ibu ibu mushola 😉

Haji Syarif alias oom Bert. Asisten dapur, bagian minuman kopi dan teh

Haji Syarif alias oom Bert. Asisten dapur, bagian minuman kopi dan teh

FB_IMG_1433284720538[1]

Bu Susi dan sang asisten

FB_IMG_1433275224032[1]

Aha siapa kah dia yang berjaket biru?

ini dapurnya..... dan siapa itu yang kecil? Yes... it's me!

Dapur di mushola

FB_IMG_1433274520432[1]

FB_IMG_1433274771593[1]

Makan dulu setelah selesai belajar

begitupun bapak bapak

FB_IMG_1433284454001[1]

FB_IMG_1433284574227[1]

Lebaran 2012 Aha siapakah si ibu yang tak berjilbab?

Lebaran 2012
Aha siapakah si ibu yang tak berjilbab?

Idul Adha 2013

Idul Fitri 2013

FB_IMG_1433273778085[1]

Bu Susi dan sang asisten ;)

Idul Fitri 2014

FB_IMG_1433285244330[1]

Shalat Idul Fitri 2014

Idul Adha 2015

Idul Adha 2014

Pak Endjat dan Pak Hamdi Rafioeddin, tenaga pembimbing di mushola Himmi yang juga adik kakak

Pak Endjat dan Pak Hamdi Rafioeddin, tenaga pembimbing di mushola Himmi yang juga adik kakak

Serius baca Alquran

Serius baca Alquran

Saling membantu belajar baca Alquran

Saling membantu belajar baca Alquran

Acara syukuran di rumah keluarga Blok di Belgia

Acara syukuran di rumah keluarga Blok di Belgia

Pak Syamsudin dan Pak Ronald

Pak Syamsudin dan Pak Ronald

FB_IMG_1433272570568[1]

Daging kambing di acara BBQ tak mau kalah ingin difoto juga

Daging kambing di acara BBQ tak mau kalah ingin difoto juga

Zuidpark, 30 Mei 2015

Zuidpark, 30 Mei 2015

FB_IMG_1433274181273[1]

Zuidpark, acara BBQ sebelum berpuasa

Abak anak perlombaan kelereng

Abak anak perlombaan kelereng

Anak anak balap karung

Anak anak balap karung

ini ibu ibu atau anak anak yang balap karung?

ini ibu ibu atau anak anak yang balap karung?

Acara perpisahan pak Syamsudin dan Tika yang  akan pindah ke Indonesia

Acara perpisahan pak Syamsudin dan Tika yang akan pindah ke Indonesia

Abang Regi lagi maen bowling

Mengajak anak anak mushola main bowling

FB_IMG_1433289330868[1]

Acara rihlah ke Paris 2014