Air terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep

111_1218

Hari ke tujuhbelas
Rabu, 13 Agustus 2014

Rute hari ini adalah mengunjungi daerah Utara Pulau Lombok. Apalagi kalau bukan Gunung Rinjani. Sang supir membawa kami ke jalan yang berbeda dengan kemarin, jika kemarin menyusuri tepian pantai, kini berubah pemandangan di kanan kiri, maka aku disuguhi pemandangan pohon pohon nan hijau serasa ke arah Garut.

Dengan melintasi jalan yang berliku, tempat yang kami tuju (Air terjun Sindang Gile) bisa dicapai dalam waktu 2,5 jam menggunakan mobil pribadi dari kota Mataram dimana hotel tempat kami menginap berada.

Ada dua rute yang bisa dilalui yaitu Rembiga – Anyar – Sinaru, sedangkan rute kedua adalah Mataram – Ampenan – Pemenang – Anyer – Sinaru. Eka, supir yang mambawa kami memilih menggunakan rute pertama, melalui rute ini kami melewati Hutan Pusuk. Di Hutan ini terkenal dengan monyet yang masih berlimpah, sebagian monyet tersebut datang ke pinggir jalan yang kami lewati dan nongkrong disana, meminta belas kasihan kami untuk sedikit memberi makan pada mereka.
111_1153

Setibanya kami di tujuan yaitu air terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep, begitu membuka pintu mobil aku dihadapkan pada seorang pemuda yang membawa sebuah kertas, sambil bertanya apakah kami akan ke air terjun, dia menyodorkan kertas yang sedari tadi dipegangnya.

Kertas tersebut berisi daftar harga untuk mencapai satu atau dua air terjun sekaligus. Harga untuk satu air terjun 125 ribu dan untuk dua air terjun sebersar 175 ribu perorang. Tarif sebesar itu sudah termasuk tiket masuk ke air terjun, snack dan guide yang menyertai kita. Agak terkaget kaget dengan tarif sebesar itu karena yang aku baca dari buku keluaran gramedia (intisari) berjudul where to go (Lombok & Sumbawa) yang keluar di tahun 2012 dan dibeli ayahku di tahun 2013 tiket masuk untuk melihat dua air terjun tersebut hanyalah sebesar dua ribu rupiah saja. Jadi untuk guide dan lain lainnya yang mahal.

Aku menawar tarif tersebut, tapi tak berhasil. Pemuda tersebut tetap memintaku biaya 350 ribu untuk dua air terjun untuk dua orang. Aku tau aku bukanlah penawar yang ulung jika dibandingkan teman yang aku kenal, tapi aku lebih baik daripada ibuku yang hampir tak pernah menawar dalam hidupnya, kalaupun harus menawar pasti tak pernah berhasil!
Aku menyerahkan setengah uang dimuka dan aku berjanji membayarkan sisanya setelah selesai. Pemuda itu mengucapkan terima kasih dan berkata bahwa kami akan di guide oleh temannya
.
Edy, seorang muda belia yang datang kepada kami untuk meng guide kami, kurus, berkulit legam dengan wajahnya yang kalem dan mata yang teduh. Kami berdua (aku dan Luc) langsung jatuh hati padanya. Dalam hatiku, mampukah dia membawa kami kesana? Edy meminta tas ransel yang dibawa Luc. Aku bawakan katanya, pertama Luc menolaknya, tas ransel itu hanya berisi obat obatanku dan dua botol air mineral saja. Edy membujuk Luc untuk membawakan ranselnya sehingga dia bisa memasukan kantong keresek yang sedari tadi dibawanya. Ternyata isi kresek Edy adalah tiga botol air mineral, sebungkus kacang garuda, chips, Oreo, dan wafel Tanggo.

Jalan menuju air terjun Sindeng Gile menurun dengan tanah yang teleh ditembok menjadi tangga. Rapi dan nyaman saat kami menuruni tangga tersebut. Orang lokal sini sepertinya tak perlu membayar tiket masuk karena aku melihat beberapa anak kecil usia sekitar 10 tahunan sedang bermain menuju air terjun. Tak banyak turis domestik. Kami hanya berpapasan dengan turis mancanegara dengan guide yang menyertai mereka.

Kurang lebih duapuluh menit berjalan kami telah sampai di air terjun Sindeng Gile. Pemandangan di depanku sungguh menakjubkan. Baru pertama kali ini aku melihat air terjun sebesar dan setinggi ini. Air terjun Sindeng Gile aliran airnya melalui tebing bertingkat. Masyarakat disekitar sini mempercayai bahwa air terjun ini mempunyai khasiat membuat awet muda.
111_1163

Berdiri dalam jarak dimana Luc berdiripun, dia kembali keatas dengan basah kuyup terkena serpihan air terjun yang deras, disarankan bagi mereka yang tak ingin basah bajunya untuk menggunakan jas hujan

Berdiri dalam jarak dimana Luc berdiripun, dia kembali keatas dengan basah kuyup terkena serpihan air terjun yang deras, disarankan bagi mereka yang tak ingin basah bajunya untuk menggunakan jas hujan

 

pelangi kembar

Pelangi kembar

sendiri

Suara air terjun yang deras membuat kami harus mengeraskan suara jika ingin berbincang. Sedikit saja mendekati air terjun tersebut, maka pakaian kami basah terkena cipratan air terjun yang deras. Disitu kami sibuk berfoto ria, Edy menawarkan makanan yang dia bawa pada kami saat kami duduk di batu didekat air terjun. Aku berkata padanya, mengapa dia membeli makanan ini, dia menjawb karena itu adalah snack yang tertera di kertas yang aku baca sebelumnya. Aku menyarankan lain kali jangan membeli snack karena biasanya para wisatawan asing tak banyak yang ngemil, sayang uangnya dibelikan sesuatu tapi tak dimakan.

Nah perjalan ke air terjun selanjutnya yaitu Tiu Kelep, sedikit membuat aku kewalahan, medannya yang sedikit sulit membuat Luc dan Edy menolongku berkali kali. Dua kali kami harus menyebrang sungai, walau tak sampai pahaku airnya tapi sungguh menyulitkan berjalan di atas batu yang licin. Tapi rasa lelah setelah berjalan akan terobati saat melihat pemandangan Tiu Kelep. Saking derasnya air yang menghujam ke bawah menimbulkan uap air yang berterbangan, di tengah jatuhnya air terjun disarankan untuk tidak berenang di bagian jatuhnya air terjun karena di situ pusaran airnya lebih deras dan ada putara air, sehingga jika kita kecapaian maka kita akan tak kuat berenang ke tepian. Edy bercerita beberapa waktu yang lalu ada seorang warga negara Spanyol yang datang ke tempat tersebut tanpa guide. Dia berenang disana dan dia terbawa pusaran air hingga lelah, untunglah nyawanya masih tertolong tapi dia tak mampu untuk berjalan balik keatas, hingga dia harus dibopong oleh 4 orang guide.
111_1190111_1195di dpn air terjun

Dari cerita Edy selanjutnya aku mendapatkan informasi bahwa untuk mencapai kaki gunung Rinjani diperlukan perjalanan lagi sekitar dua kilometer dari situ. Satu kilometer dapat ditempung menggunakan kendaraan roda empat sedangkan satu kilometer selanjutnay hanya bisa dilalui kendaraan roda dua, Edy menawarkanku ke pintu kaki Rinjani dengan mengguanakan sepeda motor miliknya, sayang waktu yang kami miliki tidak banyak sehingga janjiku kepada ponakanku untuk bisa mengunjungi kaki Rinjani tak dapat dicapai. Ponakanku bernama Rinjani, namanya diambil dari Gunung Rinjani yang diberikan oleh ibuku untuknya, Rinjani yang megah. Dan gadis cantik yang bernama Megah Rinjani ini kini telah berusia 17 tahun.

Saat kami duduk beristirahat di Tiu Kelep, Edy bercerita bahwa dia minggu yang lalu habis membawa tamu dari Belgia menaiki gunung Rinjani, perjalanan menaiki Rinjani diperlukan waktu tiga hari dua malam. Biaya yang harus dikelurkan mereka yang menaiki Rinjani untuk menyewa guide berkisar maksimal 6 juta perorang. Berdasarkan pengalaman Edy tamu yang pernah dibawanya yang  cerewet adalah tamu dari Prancis dan Cekoslowakia, mereka menginginkan pelayanan yang prima, menurutnya para guide harus bekerja maksimal karena mereka telah dibanyar sangat mahal, konon jika mereka tak bagus maka uang yang telah mereka bayarkan ingin ditarik kembali, entahlah.
duduk di batu
111_1202

Jika Edy menerima tamu menaiki Rinjani, dia sangat gembira karena dia akan menerima uang bersih sebanyak 500 ribu dari perjalan tiga hari tersebut. Tapi dia harus membawa beban hampir 35 kg di punggungnya. Edy bercerita satu tahun yang lalu saat di untuk pertana kalinya membawa tamu ke gunung Rinjani (sewaktu dia kelas 3 SMA) dia menangis di bukit penyesalan. Bukit tersebut berada di atas danau Segara Anak yang indah itu. Tanah yang dipijak setelah dua injakan akan menurun satu injakan, jadi akan memakan waktu yang lama untuk mencapai puncak. Banyak pengunjung disana menangis karena menyesal mendakai gunung Rinjani, katanya mau naik ke atas serasa tak mampu lagi apalagi mau kembali ke bawah, akan sangat menyesal karena sudah lebih setengah jalan. Tamu yang dibawa Edy pun merasa kasian, berkali kali mereka menawarkan untuk membawakan beban yang dibawa Edy, tapi Edy menolaknya karena itu merupakan tugasnya. Biasanya mendaki gunung Rinjani bersama sebuah tim, guide dan juga poter yang membantu membawa beban, tentu saja beban yang dibawa poter lebih banyak.

Edy tak menyebutkan berapa honor yang dia dapat setelah mengantarkan kami. Tapi dia berkata bahwa setidaknya dia dapat memberikan uang kepada ibunya sebesar 20 ribu setiap kali dia membawa tamu ke air terjun, dan sedikit uang saku untuk membeli rokok untuk dirinya. Aku menggodanya jika Edy tak merokok tentu uang yang diberikan pada ibunya akan lebih besar. Dia hanya tersenyum. Aku pun berkata kue yang telah dia beli untuk dibawanya pulang saja. Edy sangat senang dan berkali kali mengucapkan terima kasih. Aku bertanya bagaimana uang sebanyak seperti di tarif yang dicantumkan bisa sampai hanya kecil saja pada dirinya? Dia berkata uang tersebut sudah berkurang untuk dibelikan makanan bagi para tamu, sedangkan harga makanan semakin menggila saja dan sebagian untuk sumbangan ataubagi tempat yang merka sewa yang dijadikan tempat mangkal bagi dia dan teman temannya juga biaya lainnya, jadi dia hanya menerima sisanya saja.

Saat kami kembali ke tempat parkir mobil, kami harus berjalan mendaki. Edy menawarkan jalan lain melewati terowongan air. Sedikit ragu aku menerima tawarannya. Edy menjelaskan kami akan berjalan sekitar 10 menit di dalam terowongan dengan air yang cukup deras. Maka kami segera berjalan beriringan, Edy berjalan di depan, aku ditengah yang kemudian disusul oleh Luc. Berkali kali Edy mengingatkan agar kami menginjak bagian yang telah diinjak oleh Edy sebelumnya, saat Edy menunjukan langit langit dengan senter yang ada di HPnya, hatiku dan Luc sedikit ciut. Jika saja aku tau bahwa terowongan ini berkelelawar tentu aku menolak untuk berjalan ke dalam terowongan ini. Celana pendek yang aku gunakan basah bagian ujungnya, begitupula Luc yang menggunakan celana pendek selutut.

Mengukur derasanya dan ketinggia air sebelum berjalan ke dalam terowongan. Lebih masuk ke dalam air telah membasahi celana pendekku

Mengukur derasanya dan ketinggia air sebelum berjalan ke dalam terowongan. Lebih masuk ke dalam air telah membasahi celana pendekku

Terus terang aku bangga dan lega luar biasa begitu keluar dari terowongan. Berkali kali Luc berteriak, we did it! Pengalaman menyusuri selama 11 menit (berdasarkan timer yg ada di HP Edy) yang menengangkan akhirnya berakhir dengan menggembirakan.

Yes, we did it!

Yes, we did it!

Aku menyerahkan sisa uang yang harus aku bayarkan pada Edy, Luc membisiku agar aku memberikan tambahan uang padanya. Edy menerimanya dengan gembira yang membuat hatiku lebih bergembira darinya.

edy
Saat kami kembali menuju hotel, mas Eka sang supir mengajak kami menikmati matahari tenggelam, dia menghentikan mobilnya sebentar sehingga kami bisa menikmati turunnya matahari dengan nyaman di tepi jalan.
111_1236111_1237

Kemudian di daerah dekat pantai Senggigi, dia menurunkan kami untuk menyantap makan malam, kami duduk di restaurant yang berada di tebing dengan pemandangan laut dibawahnya, sayang keindahan laut tak banyak bisa kami nikmati karena hari telah gelap. Dan reataurant dengan menu seafood yang bisa kami pilih sendiri sebelum dimasak cukup membuat perut kami kenyang.
111_1243

Berkunjung ke Lombok? Jangan lupakan untuk datang ke air terjun. Rasa lebih bahagia aku dapatkan hari ini.

Advertisements

Sasak Tour

hari ke enambelas
Selasa, 12 Agustus 2014

Supir yang menunggu kami di loby hotel bernama Eka. Perawakannya bulat berisi, senyumnya selalu mngembang, bagi kami dia supir yang sopan walau kemudian hari kadang dia mengambil keputusan tanpa sempat aku mengetahuinya terlebih dahulu, tapi aku memaklumi tindakannya, mungkin maksudnya baik untuk membuatku mudah selama berlibur di Lombok.

Hari ini, tour kami dimulai dengan mengunjungi desa Sukarare (Sukarar). Desa in terkenal sebagai penghasil tenun tradisional yang sudah terkenal seantero Lombok. Kaum perempuan di desa ini biasanya mengerjakan tenun songket, sedangkan kaum lelaki mengerjakan tenun ikat.

Guide yang membawa kami berkeliling di tempat pembuatan kain tenun, mengajak kami melihat dari awal proses pembuatan tenun ikat. Ternyata dinamakan ikat karena proses setelah di gambari pola kemudia diikat oleh tali rapia. Ada beberapa tahapan untuk sampai menjadi kain tenun ikat yang cantik.

Pembuat pola

Pembuat pola

IMAG2287

Proses pembuatan benang dijadikan kain, yg kemudian hasilnya tenun ikat

Proses pembuatan benang dijadikan kain, yg kemudian hasilnya tenun ikat

proses membuak tali rapia

proses membuak tali rapia

Saat kami melewati seorang ibu yang sedang membuat kain songket, setelah guide menjelaskan cara atau proses pembuatannya, dia menyuruhku untuk mencoba membuatnya. Maka akupun segera duduk dengan posisi kaki selonjor menggantikan si ibu yang awalnya duduk disitu. Dengan bantuannya aku mencoba beberapa kali memposisikan benang benag yang kemudian di tekan dengan keras oleh kayu, sehingga bunyi pukulan berirama mengikuti proses pembuatan kain songket.
111_1072

Kemudian kami diajak ke daerah pembuatan batik di bagian lebih dalam. Ada tiga atau empat gadis muda sedang duduk membuat batik mereka saling duduk memunggungi. Karena Luc sangat tertarik pada pembuatan batik maka sang guide disibukan oleh menjawab berbagai pertanyaan Luc, dan aku lebih bertanya pada seorang pembuat batik tulis yang duduk di dekatku berdiri.

Namanya Ika. Dia bekerja dari pukul 8 hingga 5 sore di tempat ini. Selama 7 hari dalam seminggu. Tujuh hari! Olalala tanpa libur menurut pengakuan Ika. Dia dibayar sebesar 300 ribu perbulan. Menurut dia semua gaji yang diterima ditempat ini sama besarnya, tukang pembuat pola, hingga pembuka rapia dalam proses pembuatan tenun ikat. Kecuali ibu ibu pembuat tenun songket, dia baru dibayar setelah tenun yang dibuatnya selesai.

Ika sedang membuat batik tulis

Ika sedang membuat batik tulis

111_1075

Tempat yang kami datangi adalah sebuah showroom berbagai kerajianan tradisional dari Lombok. Selain menjual kain tenun songket dan ikat, di tempat ini dijual juga berbagai kerajian kayu yang dikenal di Lombok dengan nama cukli. Kerajinan ini berupa segala benda berbahan kayu dengan hiasan kulit kerang yang ditanam di benda tersebut. Barang dibuat biasanya asbak, wadah tissu, wadah buah, pigura, meja, kursi, lemari, peti bahkan tempat tidurpun ada.

Cukli

Cukli

Disini aku membeli sebuah kain tenun songket kecil berupa syal seharga 400 ribu yang kemudian mereka turunkan menjadi 250 ribu. Padahal aku sudah meniatkan tak membeli oleh oleh disini, tapi toh setelah naik te tingkat atas dimana tersedia barang jualan yang beraneka ragam aku tergiur juga untuk membeli oleh oleh.

Showroom kain tenun

Showroom kain tenun

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke desa Sade (cerita tentang desa ini, aku ceritakan nanti ya…)
Keluar dari desa Sade, mobil yang membawa kami segera menuju pantai Kuta. Aku dan Luc segera turun menyusuri pantai sedangkan mas Eka sang supir memilih duduk di sebuah warung sambil menunggu mobil.

Aku tau, Luc bukan penyuka lautan, baginya berjemur atau duduk di pinggir pantai untuk membuat kulit coklat adalah suatu penyiksaan lahiriah. Sedangkan aku yang gampang pusing jika terlalu lama kena panas matahari memang ogah berjemur karena takut kulit gosong (walau kini aku tak peduli lagi tentang kulit). Namun aku pernah punya pengalaman seru sewaktu jaman gadis dulu. Saat aku bekerja di Bandung dulu, aku pernah ditugaskan di Bali selama 3 minggu. Kami yang terdiri dari tim yang berjumlah 12 orang (3 perempuan dan 9 orang laki laki) bagaikan karyawan yang keluar dari kurungan, hampir tiap hari kami menyusuri Bali di sore hari menggunakan sepeda motor, dan tempat favorit kami adalah duduk di pantai kuta sambil menunggu matahari terbenam. Ajeng sahabatku ( laki laki dengan nama yang sering dimiliki perempuan) hingga kini menjadi sahabatku yang paling dekat, dia yang dulu pertama kali aku kabari akan menikah, dia pula yang bertindak sebagai kepala panitia dalam pernikahanku. Dan kini walau terbentak jarak, akulah orang yang dia jadikan tempat curahan berbagai cerita dan peristiwa.

Beberapa kali aku selalu bercerita pada Luc, bahwa aku juga ingin kembali mengulang duduk di tepi pantai sambil menunggu matahari tenggelam, tapi tak pernah sekalipun moment tersebut terulang, juga saat aku berada di Kuta Lombok, Luc segera mengajakku duduk di Cafe Breze kepunyaan Novotel. kami memesan dua minuman moktail tanpa alkohol, dan rasanya asam sekali hingga kami berdua tak sanggup menghabiskan minuman tersebut.
IMAG2293
Keluar dari pantai Kuta Lombok, mas Eka membawa kami ke pantai Mawun. Pantai ini termasuk pantai yang kurang populer dibandingkan pantai lain di Lombok. Padahal pantai ini sangat indah dengan hamparan pasir putihnya. Namun sayang sepertinya akses yang menyertainya kurang terawat baik dan bersih, seperti wc umum yang tersedia di dekat tempat parkir mobil. Tapi aku segera buru buru memaklumi, jangankan di tempat yang jauh seperti ini, dipusat kotapun kadang yang namanya wc umum banyak yang tak bersih. Ssthhh mari berhenti bercerita tentang WC!

Pantai Mawun

Pantai Mawun

111_1122

Tak lama kami berada di pantai Mawun, kami dibawa ke pantai lainnya yaitu pantai Selong Belanak. Pantainya indah sekali dengan pasir putihnya yang bersih. Pantai ini cukup panjang. Dan aku sangat menikmatinya, kami duduk di sebuah warung yang tersedia di pinggir pantai. Sementara supir menikmati segelas kopi pahit yang besar, aku dan Luc cukup menikmati pantai tersebut dengan diam, hanya memandang saja.
111_1130111_1131
Konon pantai Selong Belanak adalah salah satu pantai papan atas di pulau Lombok dari aspek keindahan dan kebersihannya. Bentuk pantainya mirip bulan sabit. Pokoknya datanglah ke pantai ini, maka kalian akan terpesoana pada keindahannya.

Di akhir tour Sasak ini, mas Eka membawa kami ke restaurant yang tak jauh dari tempat kami menginap. Restaurant ini menyediakan berbagai makanan khas Lombok, seperti ayam taliwang dan plecing kangkung, yang menjadi awal drama bolak baliknya aku dan Luc ke toilet, hahaha.

Plecing kangkung pembawa tragedi :)

Plecing kangkung pembawa tragedi 🙂

Ayam taliwang

Ayam taliwang

sop balung

sop balung

Go to Lombok

Hari ke limabelas
Senin, 11 Agustus 2014

Perjalana ke Lombok lancar jaya. Kami datang ke bandara Soekarno hatta pagi pagi sekali setelah di drop kakakku di halte bus yang membawaku ke bandara. Dari Bogor kami menumpang bis Damri. Dengan harga karcis 45 ribu perorang kami sudah sampai dengan selamat di bandara tepat waktu.

Pesawat yang membawaku berangkat tepat waktu, aku naik Lion Air yang konon suka sekali delay, tapi ternyata tidak ada keterlambatan walau beberapa menit. Semuanya perfect! Di dalam pesawat aku sempat membaca tulisan Febby di majalah Lion Air edisi bulan agustus 2014, Febby adalah salah satu penulis blog yang tulisannya aku ikuti. 

Sampai di Lombok dari airport kami langsung menaiki taksi menuju Hotel. Semuanya lancar. Hotel yang telah dibooking sejak dari Belanda, ternyata sedikit di luar dugaanku. Aku kira hotel kami berada di sebuah mall di kota Mataram, ternyata Plaza Hotel Mataram hanya berada di dekat sebuah mall.

Kami makan malam di sebuah restaurant di bagian depan mall, cafe Delicious, yang tak seistimewa namanya, just ok. Yang istimewa dari cafe ini adalah, baru saja kami memesan, makanan sudah tersedia dengan cepatnya namun dengan porsi yang sedikit.

Lemon juice dan Koboy Juice by Delicous

Lemon juice dan Koboy Juice by Delicous

Cah kangkung dan daging lada hitam yang telah masuk perut ;)

Cah kangkung dan daging lada hitam yang telah masuk perut 😉

Kembali ke hotel, aku masih disibukkan dengan menghubungi beberapa kenalan yang mempunyai mobil sewaan besarta sopir untuk membawa kami mengelilingi Lombok mulai besok pagi. Sampai jam 9 malam aku masih belum mendengar kabar yang pasti siapa yang akan membawa kami besok, hingga setengah jam kemudian telepon di kamar berdering aku mempunyai appointment untuk massage.

Bicara tentang di pijat badan, ini kali ketiga aku dipijat. Dulu aku paling takut dipijat, takut sakit dan geli. Ibuku berkali kali mencoba mempengaruhiku apabila aku terlihat kelelahan, panggil tukang pijit ya…. langganan ibu. Tukang pijit langganan ibuku dulu adalah tukang pijit kampung yang dibayar semampunya kita alias tidak memasang tarif. Walau begitu aku tak pernah mau dipijit. Hingga tiga tahun lalu saat liburan ke Indonesia aku masuk angin parah. Luc tak percaya ada penyakit masuk angin. Tak mungkin angin bisa masuk ke badan katanya, ada juga keluar angin, hahaha. Ibuku memanggilkan tukang pijit, sesudah dipijit badanku sedikit ringan.

Maka satu tahun kemudian, saat aku ada di Indonesia lagi aku minta dipijat kembali. Dan lagi saat liburan kembali ke Indonesia. Ah apapun yang tak mungkin aku dapat di Belanda bisa dengan mudah didapat di Indonesia. Begitu pula sebaliknya, namnya hidup bukan? Walau dipijat di tempat perawatan tubuh yang lebih profesional dan berbau bisnis (seperti massage and spa, yang hampir selalu ada di setiap hotel) bagiku tak masalah selama yang memijat badanku sama sama perempuan.

Kembali ke kamarku, aku sudah sempoyongan menahan kantuk, teringat pada urusanku mencari sopir yang belum berhasil. Kabar menggembirakan aku dapatkan saat aku membuka pintu kamar, hotel meminta menelepon balik teman adikku yang aku mintai bantuannya mencarikan supir. Jawaban di ujung sana saat aku menghubunginya mengatakan mobil dan supir yang kami butuhkan telah tersedia.

Senangnya hatiku, aku bisa tidur dengan amat nyenyak malam ini.

 

Cianjur dan Buburnya!

Hari ke empatbelas
Minggu, 10 Agustus 2014

Setelah melewati macet panjang yang menghebohkan, akhirnya sampai juga di Cianjur. Kami tidur di hotel TW yang sebelumnya sudah direservasi kakakku, kami semua masih menunggu di mobil saat kakakku balik lagi ke arah kami, dia meminta istrinya turun. Kami melihat mereka bolak balik di depan lobby hotel yang kecil, atau mungkin disebut penginapan. Kemudian istrinya mengabarkan padaku bahwa mereka berdua merasa kamar yang mereka pesan berbau asap rokok, padahal no smoking area. Mereka berdua meminta pertimbangan Luc. Dan saat Luc kembali padaku di mobil dia berkata tak ada masalah bau rokok dengan kamar yang dipesan kakakku. It’s ok. Katanya.

Bicara mengenai rokok, hal yang wajar jika di Indonesia selalu berhubungan dengan asap rokok, penduduk Indonesia terutama laki laki adalah perokok walau tak semuanya. Tapi bisa dikatakan amat sangat banyaklah. Nah aku yang terlahir sebagai satu satunya anak perembuan dari empat bersaudara, tak satupun dari saudara saudaraku yang merokok. Mungkin ini didapat dari ayahku yang bukan perokok. Anehnya ibunya walau bukan perokok aktif tapi yang aku ingat tentang mamih (ibu dari ayahku) beliau kadang merokok. Nah saat aku berjodoh dengan Luc, dia adalah orang yang amat anti rokok. Melihat orang merokok disekitarnya dia segera menjauh. Saat aku hamil dulu, Luc yang paling cerewet menjagaku agar tak kena asap rokok.

Walau aku bukan perokok tapi aku bukan orang yang anti rokok. Biasa saja. Dulu sewaktu aku kecil, aku yang kerap dimintai tolong oleh bibiku untuk membeli rokok ke warung. Adik ibuku ini adalah perokok berat, dulu minimal dua bungkus rokok gudang garam filter setiap harinya. Lucunya ketiga kakak ibuku yang lakilaki tak seorangpun yang merokok.
Oh ya kok jadi cerita tentang rokok? Lupa tema kali ini adalah tentang Cianjur ya…

Pagi hari kakakku yang tinggal di Cianjur sudah datang ke hotel. Sementara yang lainnya sarapan di hotel aku meminta Jerry (kakak keduaku) dan istrinya untuk jalan jalan ke pasar Cianjur, kangen akan pasar tradisional Cianjur dulu sewaktu kuliah aku KKN di Cianjur dan rasanya senang sekali waktu bisa datang ke pasar Cianjur untuk membeli barang barang kebutuhna selama KKN. Jarak yang jauh dari pelosok tempat KKN menyebabkan saat datang ke kota Cianjur serasa menemukan peradaban kembali.

Jika Kota Cianjur begitu identek dengan oleh oleh manisan Cianjurnya, bagiku yang bikin kangen akan Cianjur adalah bubur Cianjurnya yang aku suka. Pokoknya bubur yang paling enak yang pernah aku coba. Langganan ayah dan ibuku jika datang ke Cianjur adalah jongko/warung tenda yang kecil yang ada di depan toko oleh oleh yang berjajar di jalan besar Cianjur. Nama jalannya aku tak tahu. Jongkonya kecil, tapi bersih dan apik menjadi nilai tambah yang menggugah selera saat duduk nongkrong di tendanya. Penjualnya ibu ibu. Walau disamping warung tendanya ada penjual bubur lain yang lebih besar dan profesional, tapi kami tak tertarik untuk makan disana.
Saat kakakku akan memarkir mobilnya, kami berteriak riuh karena melihat mobil ayahku akan keluar dari tempat parkir depan tukang bubur. Ternyata ayah, ibu dan adikku yang datang dari arah bandung dengan tujuan ke rumah kakakku telah mampir terlebih dahulu ke warung ini.

Ayahku segera ikut memesan lagi saat rombongan kami memesan bubur, masih lapar katanya hahaha. Tapi percayalah makan bubur Cianjur seakan tak ada kenyangnya. Nikmat. Yang membuat istimewa dan membuat beda dari bubur lainnya adalah sayur kuning bawang daun yang menggugah selera.
IMAG2273IMAG2275

Dan jadwal hari ini adalah kami sekeluarga besar, berkumpul di rumah kakak keduaku di Cianjur. Dia bekerja di sebuah bank swasta di Bandung tapi karena istrinya yang seorang bidan dan menjadi pegawai negri maka sulit sekali untuk meninggalkan Cianjur dan pindah ke Bandung mengikuti kakakku. Apa boleh buat kakakku harus tiap hari bolak balik Bandung Cianjur, hanya kadang kadang saja suka menginap di rumah orang tuaku di Bandung jika dia merasa lelah sekali. Namanya keluarga harus ada seseorang yang mengalah bukan?

Dari Cianjur, aku dan Luc akan ikut kembali ke bogor ke rumah kakak pertamaku, sedangkan Cinta dan Cahaya akan dibawa ayah dan ibuku ke Bandung. Karena hari senin pagi aku dan Luc harus sudah ada di bandara Soekarno Hatta untuk terbang ke Lombok, dan berlibur disana berdua saja!

Halo Lombok, kami datang!

Sate Maranggi

IMAG2272
Malam minggu di Cipanas

Dari kuntum Bogor dan setelah menjemput ponakanku Megah dari sekolahnya yang keluar pada pukul 2 siang kami langsung melanjutkan perjalanan ke Cianjur, ke rumah kakakku yang nomor dua, Jerry.

Walau arah puncak telah dijadikan satu arah (adanya jam penutupan jalan) tapi tetap saja kami terjebak macet. Mobil yang disupiri kakakku benar benar tak bergerak, dan aktivitas penghuni mobilpun beragam. Cinta Cahaya yang tetap berceloteh sambil sesekali mengganggu Megah yang membuka buku pelajarannya, Luc yg sibuk membaca buku, Rully kakak sulungku yang berada di belakang kemudi asyik mengobrol dengan Heru adiknya Megah. Sedangkan istrinya yang berusaha mengompori suaminya untuk menyalip mobil didepannya akhirnya pasrah dan memilih Al Quran untuk dibacanya. Dan aku membuka laptopku dan mulai menulis.

Kami berhenti di sebuah cafe agar Cinta, cahaya dan Megah bisa makan terlebih dahulu. Sedang penumpang lainnya tetap beritikad mengosongkan perut demi memburu sate Maranggi yang sudah ada dalam listku sejak dari Belanda.
Akhirnya kami tiba di tempat sate Maranggi di Cipanas, ini baru pertama kali aku makan disini yang konon tempat sate maranggi yang sesungguhnya.

Dan walahpenuhnya tempat ini di malam minggu (apakah hari hari lainpun begini?) Kami duduk berbaris di bangku dekat penjual yang sedang mengipasi sate, bau asap sate yang sesudahnya menempel pada seluruh tubuh dari ujung rambut hingga kaki membawa wangi sedap yang aku sukai namun dibenci ponakanku Megah.

Aku menghabiskan sate 10 tusuk beserta nasi yang menyertainya, sementara yang lain menyantap sate dengan ulen atau ketan bakar, dan menurut Luc sate maranggi nikmat sekali dikombinasikan dengan ketan bakar dibandingkan dengan nasi.
Aku sempat berbincang dengan penjual sate yang bertugas mengipasi sate, dan berbagai informasi aku peroleh. Sate maranggi buka 24 jam, pekerja dibagi 2 shift saja, artinya mereka bekerja 12 jam per hari. Harga sate maranggi campur (kombinasi daging dan lemak gaji) 20 ribu per sepuluh tusuk, sedangkan sate daging 30 ribu. Harga nasi dan ulen aku lupa bertanya. Sate disusun rapi perbaskom besar. Satu baskom besar berisi kurang lebih 1200 tusuk satu baskom besar itu akan habis kurang lebih 3 atau 4 jam saja. Fantastis!

Seru dan pengalaman baru bagiku aku dapatkan hari itu.
Sate maranggi….. hmmmmmm lezatnya tak terlupakan!

sate dalam pembakaran

sate dalam pembakaran

IMAG2267

Sate yang siap dibakar dlam baskom, berisi kurang lebih 1200 tusuk sate

Sate yang siap dibakar dlam baskom, berisi kurang lebih 1200 tusuk sate

Kuntum Farm Field

IMG-20140810-WA0004

Hari keduabelas
Sabtu, 9 Agustus 2014

Akhirnya rencana untuk mengunjungi Kuntum terlaksana juga. Setelah diniatkan dari Belanda saat aku membaca Blog kepunyaan Amel tentang kuntum farmfield yang diceritakan secara menawan oleh Amel, aku merencanakan untuk mengunjungi Kuntum saat aku mudik ke Indonesia.

Dan yang diceritakan Amel terbukti nyata, Cinta dan Cahaya bahkan Heru ponakanku yang telah SMP pun sangat bergembira bisa berkunjung ke kuntum.

Mereka memberi makan kelinci, memberi susu pada anak kambing bahkan memberi makan ayam dan bebekpun dilakukan oleh mereka bertiga.

Sesuai dengan slogannya yaitu back to nature, chemical free and friendly environment Kuntum farmfield seakan menjawab permintaan orang tua yang menginginkan anak anak mereka lebih mengenal alam dan lingkungan, dan mengunjungi kuntum adalah pilihan yang tepat.

Kuntum beralamat di Jl. Raya Tajur 291 Bogor. Dengan tiket masuk 25 ribu perorang kita bisa mengajarkan anak anak kita untuk lebih ramah pada lingkungan dan mahluk hidup.
IMG-20140810-WA0000IMG-20140810-WA0001IMG-20140810-WA0009IMG-20140809-WA0003IMG-20140810-WA0008IMG-20140810-WA0003

Pondok Indah Mall

Hari kesebelas
Jumat, 8 Agustus 2014

Rencana dari Belanda adalah kami ingin keliling Jakarta, tapi apa daya kondisi badan dan mepetnya waktu serba tak memungkinkan. Maka hari jum’at selesai check out dari hotel tujuan ke monas atau taman mini dibatalkan, tujuan kami hanya jalan jalan ke mall saja. Dan atas saran kakakku, tujuan mall kali ini adalah mall Pondok Indah yang lebih dikenal PIM.

Kami dijemput dari hotel oleh seorang supir yang masih kerabat besan ortu tepat pukul 11 pagi. Kami diturunkan di pintu masuk mall sektor 3 dan akan dijemput kembali sekitar pukul 5 sore untuk kemudian menjemput kakakku yang bekerja di daerah Pondok Indah untuk kemudian bersama sama menuju rumahnya di Bogor.

Begitu masuk ke PIM aku bagaikan si iteung saba kota! Saking terbelalaknya melihat ada mall sebesar ini. Baru kali pertama aku datang ke Jakarta untuk jalan jalan ke mall, sebelumnya kalau ke Jakarta paling ke rumah saudara itupun tak pernah menginap dan mungkin hanya satu atau dua kali saja seingatku. Bahkan  waktu jaman gadis dulu saat aku ke negara Jepang, rasanya aku tak sekaget ini.

Ada banyak alasan mengapa aku sekaget ini. Barang barangnya aduhai mahal sekali. sampai takut aku melihat harganya! Orang orang yang berkunjung ke sana pun rasanya tak akan menolehku jika aku berjalan seorang diri. Para nanny alias baby sitter yang mendorong atau menggendong bayi sang majikan dua kali lebih hebring dari penampilanku, hehehe. Dan rata rata mereka adalah orang tua muda.

Para wanita yang berlalu lalang di sekitarku baik yang muda ataupun yang sudah sepuh, begitu anggun berjalan menggunakan sepatu atau sandal berhak tinggi, disesuaikan dengan pakaian dan tas yang melengkapi penampilannya. Enak dipandang mata. Kontras sekali dengan penampilanku yang menggunakan rok batik tak bermerk dan sepatu sandal murah meriah dari van Haren namun enak dipakai di kaki. Timbul pertanyaan dalam hatiku, taukah mereka rasanya bebas merdeka berjalan dengan sandal teplek dan kaos oblong yang nyaman?

Luc memperbolehkanku untuk belanja pakaian atau sepatu di PIM namun dengan tegas kutolak tawarannya, terima kasih! Aku termasuk orang yang melihat harga terlebih dahulu sebelum mencoba barang yang akan aku beli. Jika aku melihat harga yang tak ada dalam kisaran budget yang kami punya lebih baik aku tak meliriknya sama sekali atau untuk sekedar iseng mencobanya tak ada dalam pikiranku.

Cinta Cahaya menemukan toko yang menarik minat mereka yaitu toko barbie. Lucu sekali saat mereka mencoba baju di kamar pas tanpa aku boleh melihatnya, mereka membuka baju sendiri dan memakai baju yang mereka coba dan keluar dari kamar pas dengan bangganya untuk diperlihatkan pada aku dan Luc. Dan saat mereka menemukan baju yang mereka suka, aku berkata pada mereka bahwa baju yang mereka inginkan bisa mereka dapatkan di Belanda dengan harga yang lebih murah, aku memberi pengertian kepada mereka jika mereka bisa bersabar aku berjanji membelikannya suatu hari nanti jika kami telah kembali ke Belanda.

Cinta dan baju yang akan dicobanya

Cinta dan baju yang akan dicobanya

Cahaya yang bergaya dengan baju yang dicobanya

Cahaya yang bergaya dengan baju yang dicobanya

Rata rata kaos barbie yang ada disana dijual dalam kisaran 400 ribu itupun setelah dipotong korting sekitar 20%, itu hanya atasan saja jika ingin membeli dengan bawahannya setidaknya bisa mencapai satu juta. Uhuy untuk satu anak saja! Iseng aku bertanya pada penjaga toko yang melayani kami, banyakkah anak anak yang membeli baju disini? Dan jawab penjual toko tentu saja banyak, anak perempuan biasanya penyuka barbie. Ya ya ya bagi mereka yang berada, jika mereka yang terlahir seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya, jangankan memiliki pakaian seperti yang dipakai boneka barbie, mengelus boneka barbie pun sepertinya hal yang mustahil. Seperti Cahaya yang ingin dibelikan boneka barbie seharga 30 euro edisi Ariel yang bisa mengeluarkan musik yang kujanjikan jika berulang tahun nanti dan hingga kini hadiah yang didamba belum ada ditangannya. 30 euro terlalu mahal untuk boneka barbie menurutku.

Untunglah Cinta dan Cahaya hingga kini masih mengerti jika aku menyebutkan kata ‘mahal’ untuk sesuatu yang dia inginkan dan mereka akan meletakkan barang yang dilihatnya jika aku menyebutkan kata itu.
Kemudian Luc melihat cafe magnum. Es krim magnum yang biasa saja menjadi istimewa setelah disulap di cafe ini, baik Luc, Cinta dan Cahaya mereka sangat menikmati es krim pesanan mereka.
IMAG2242IMAG2240

Saat kami melewati toko buku, dengan antusias seperti baisanya si kembar segera sibuk memilih buku, tak menghiraukan orang orang yang memperhatikan kehebohan mereka memilih buku sambil duduk di lantai toko. Sementara Luc menemukan majalah film yang segea dibelinya.
IMAG2233IMAG2235

Di akhir jalan jalan sebelum kami meninggalkan PIM, aku meminta pengertian Luc untuk menyetujui pilihanku untuk makan di bakmi Gajah Mada. Sejak dulu aku mendengar dan membaca begitu terkenalnya bakmi yang satu ini. Walaupun terkenal tapi belum pernah aku mencobanya, maka saat aku melihatnya aku tau sudah saatnya aku mencicipi si bakmi ini, dan Luc sebagai orang yang bukan pencinta baso atau bakmi meluluskan permintaanku untuk makan disana.
IMAG2253

Keluar dari PIM dan duduk di mobil kakakku yang membawaku ke arah kota Bogor pikiranku masih dipenuhi berbagai pemandangan di dalam mall tersebut. Mereka yang sepertinya tak pernah tau bahwa ada dunia lain yang tak seindah dan senyaman kehidupannya, mereka yang sering kujumpai saat aku berjalan di trotoar, saat aku membayar uang parkir di parkiran liar pinggir jalan, saat aku membayar ongkos angkot, saat aku menyelipkan uang tak seberapa di tangan mereka yang tengah menyapu trotoar atau memanggul karung plastik besar berisi berbagai rongsok, mereka yang mungkin tak tau bahwa ada rumah boneka seharga rumah mereka…..