Daylight Saving Time

Pertama kali aku mengalami perubahan “waktu dimajukan” saat aku berada di Barcelona. Saat itu ada di akhir bulan Oktober, receptionist hotel mengingatkanku bahwa aku harus check out satu jam lebih awal dari waktu yang ada di jam tanganku. Agak kaget dan sedikit bingung, kenapa waktu yang ada di sekitarku tiba tiba saja berubah satu jam lebih awal. Ketika dia menjelaskan hari ini adalah akhir dari waktu musim panas, aku semakin tidak mengerti. Untunglah gadis muda cantik yg sedang menjelaskan padaku, seorang yang sabar atau lebih jelasnya seorang yang profesional yang mengerti pekerjaannya untuk memberi informasi pada penghuni hotel dimana dia bekerja sebaik mungkin.

Jadi seorang Yayang yang pada waktu itu masih seorang gadis petualang, dan baru pertama kali bertandang ke Eropa cukup suprise dan senang dapat sesuatu yang aneh dalam hidupnya. Ya bagaimana mungkin waktu bisa dimajukan dan dimundurkan dalam satu tahun selama dua kali.

Dan hari ini adalah kebalikan dari kejadian waktu di Barcelona, tadi malam tepat jam 2 pagi, seluruh jam yang ada di rumah kita harus dimajukan satu jam ke depan, jadi jam 3 pagi, artinya mulai hari ini musim dingin telah berakhir dan akan datang musim semi dan musim panas.

Waktu Musim Panas yang dikenal di Amerika Utara sebagai Daylight Saving Time (DST), adalah sistem yang dimaksudkan untuk “menyimpan cahaya siang hari” di musim panas. Karena itu di Eropa sistem ini dikenal sebagai “Waktu Musim Panas”. Waktu resmi dimajukan (biasanya) satu jam lebih awal dari zona waktu yang resmi dan diberlakukan selama musim semi dan musim panas. Hal ini dimaksudkan untuk lebih menyesuaikan jam ketika hari masih terang dengan jam kegiatan kerja dan sekolah. DST biasanya digunakan di wilayah yang suhunya sedang, karena perbedaan yang cukup besar antara masa hari terang dibandingkan gelap sepanjang musim di wilayah-wilayah tersebut.

http://en.wikipedia.org/wiki/Daylight_saving_time

Jadi selamat datang matahari, bagi mereka yang tinggal di negara yang tidak selalu merasakan sinar matahari, musim semi dan panas adalah musim yang membahagiakan. Selamat tinggal jaket jaket tebal……. selamat datang baju baju tipis, es serut surinam, sendal jepit dan keceriana BBQ……… Musim panas hampir tiba!

(Ditulis pada tgl 27-3-2011)

Lumpur Cinta

Dulu waktu aku kecil aku  suka sekali kue lumpur.

Biasanya aku beli kue lumpur di Trina, supermarket pertama yang aku kenal saat aku kecil dulu yang terletak di jalan buah batu di sisi ruas yang sama dengan tempat tinggalku dulu, setiap aku disuruh ibuku beli telur aku tak lupa minta izin pada ibuku, apakah aku boleh beli kue lumpur juga.

Beberapa bulan yang lalu, secara mengejutkan aku menerima kiriman paket dari Indonesia, tak seperti biasanya ibuku tak memberi kabar padaku bahwa dia mengirim paket untukku. Senang tentu saja menerima kiriman tak terduga…. tapi rasa haruku melebihi rasa senang itu. Ibuku mengirimkan cetakan kue lumpur dan cetakan martabak.

Ibuku hanya tertawa bahagia di ujung sana saat aku menelepon dirinya untuk mengucapkan terima kasih. Ingat kamu waktu kecil yang doyan kue lumpur katanya dengan riang.

Luc berkata dengan polosnya waktu kami bersama sama membuka paket tersebut, katanya… wah alat masak seperti ini mungkin ada juga di jual di blokker, repot sekali ibu mengirimnya kesini. Kataku pada Luc…. cetakan ini hanya ada di Indonesia!

Baru belakangan hari saat aku bercerita tentang cetakan kue lumpur, temanku berkata kalau yang bahannya dari teflon biasanya ada di blokker, kecuali yang bahannya dari tembaga baru biasanya tidak dijual disini.

But anyway, aku bangga sekali punya cetakan kue lumpur itu, bangga karena ibuku yang mengirimkannya dari Indonesia, karena dengan cintanya cetakan itu kini berada di tanganku, dengan jawaban riangnya di ujung sana yang mengatakan …. karena dulu kau suka sekali kue lumpur.

Janjiku, akan kubuat jutaan kue lumpur penuh cinta. Dan benar saja pertama kali aku membuat kue lumpur, aku mendapatkan pujian dari Luc. Disusul bertubi tubi pujian dari tamu yang datang ke rumah kami saat aku menyuguhkan kue lumpur atau saat aku membawa kue tersebut ke suatu acara. Dan di suatu malam (saat aku berada di luar rumah, sementara Cinta Cahaya di rumah bersama Luc) aku mendapat telepon yang menyejukan hatiku…. di ujung sana terdengar suara merdu dari seorang gadis kecil yang berkata…..Bunda, ik vind kue lumpur lekker….. Suara kecil Cahaya yang penuh cinta.

Image

PS. Terus terang kue lumpur yang aku buat biasa saja, tak se-fantastis kue lumpur di Trina sewaktu aku kecil dulu ūüôā

 

Rotterdam, 30-3-2013

Image

Image

Back home

Musim semi akan segera datang,

senangnya hatiku.

Tiga minggu sungguh waktu yang singkat untuk melepaskan rindu dan kangen pada keluargaku di Indonesia,

tapi seperti pepatah bilang, tak akan cukup waktu untuk merasa cukup jika kamu berada disekitar orang orang yang kamu cintai, tidak tiga minggu, tidak tiga bulan, tiga tahun bahkan sepanjang hidupmu…..

Tiga minggu yang penuh canda tawa, sungguh aku menikmati liburanku kali ini,

walau tak sempurna seperti yang selalu aku bayangkan,

meski sangat cape luar biasa sesudahnya

tapi tak ada kata yang bisa menggambarkan bahwa aku sungguh bahagia

Kata terima kasih tak serta merta dapat aku lontarkan untuk keluargaku tercinta,

kadang aku begitu kaku untuk mengekspresikan bahwa aku cinta mereka

tapi aku tahu dengan pasti bahwa mereka begitu mengerti dengan keadaanku, aku harap ūüôā

Kembali ke belanda adalah….

menyadari bahwa inilah kehidupanku,

dan yang kemudian aku sadari adalah….. inilah rumahku

Tempat dimana aku harus mengabdi pada suami dan mendidik anak anakku

tempat dimana aku harus menciptakan harmoni yang indah dalam keluargaku

Dan jika memang itu seharusnya yang harus aku lakukan, aku akan lakukan dengan benar………

berbahagia bersama keluargaku…..

Love you guys…….

Rotterdam, 11-3-2012

* Kini, satu tahun berselang. Musim dingin yang tak kunjung berakhir hingga masuk di akhir minggu bulan maret, menambah kangennya akan tanah air Indonesia. Can’t ¬†believe that there is still snow at the end of the march (28-3-2013)

Aku tetap disini untuk setia….

Terngiang lambat lantunan lagu dari Jikustik, 

Aku tetap disini untuk setia…….

Satu bait saja, tapi mampu menjungkirbalikan ingatanku ke masa lalu.

Seolah aku bukan lagi si pelupa!

Seakan saling berlomba, memori tentang jaman dulu kala berlompatan muncul dalam ingatanku.

 

Memori itu….

Bukan ingatan saat aku masih berseragam abu abu atau setelah seragam abu abu itu, tapi satu tingkat setelah itu.

Saat tahun pertama memasuki dunia kerja, yang disusul dengan tahun tahun berikutnya.

Tentang impian, persahabatan dan petualangan.

 

Ketika impian itu sudah aku raih, irama dalam hidupku seolah surut sejenak….

Dan aku seakan seperti Rapunzel yang ragu untuk meraih mimpi saat mimpi itu ada di depan mata hanya karena takut tak akan tau lagi tujuan hidup setelah mimpi itu teraih.

Tapi ah ah seorang Eugene dapat menjawab keraguan Rapunzel dengan tepat…. you will find another dream….

 

Yes, yes, yes!!!

Lagu jikustik itu dan jawaban Eugene untuk Rapunzel adalah kombinasi yang tepat untukku saat ini.

Aku hanya perlu gairah masa mudaku, tak tahulah apa namanya… Apakah aku hanya pasrah atau telah merasa ‘aman’ dengan keadaanku saat ini, karena seolah aku tak mencari mimpi yang lain yang harus aku kejar dan aku perjuangkan seperti dulu lagi.

 

Kemudian bisikan yang kian lama menggema dalam hati adalah syair lagu yang lain, dengan gema yang semangat…

I could go running, and racing and dancing and chasing and leeping, and bounding

Hair flying, heart pounding and splashing and reeling. And I feeling.

That is when my life begins!!!

 

Yes, I’ve got a dream!!!!

 Ya, aku tau apa mimpiku saat ini!

 

PS.

Saat tak tau apa mimpimu saat ini, cobalah duduk sejenak, kenang masa lalu sejenak… sesaat saja.

Dan kau akan menemukan mimpimu kembali

* Akibat kebanyakan nonton Rapunzel bersama si kembar ūüôā

 

 Rotterdam, 25-2-2013

Makhluk Sosial Judulnya

Bener2 tertampar. Saat “aksi” mu didepan mataku, dan tidak diketahui oleh siapapun. Tapi semuanya pasti akan “dibalas” suatu saat nanti. Camkan itu ….(sensor)!!!!!

Jika yang menulis status seperti itu si A atau si B, aku masih bisa maklum, masih bisa tersenyum, dan masih bisa ikut berkomentar lucu atupun ikut menghibur.

Tapi tidak pada dia, aku terlalu kaget membacanya, hingga tak kuasa ikut menghibur ataupun menulis kata kata menguatkan ataupun sekedar kata kata untuk membalaskan kekecewaannya.

Membaca status singkat seperti itu, malah mengingatkan ingatanku di jaman aku masih kerja dulu. Selalu saja ada kekecewaan dan sakit hati.

Aku bekerja dengan sungguh sungguh, sekuat tenaga, sejujur mungkin, serajin mungkin, seramah dan seko-operatif mungkin pada semua orang yang terkait di tempat kerjaku. Dan hasilnya, baru tiga bulan aku bekerja disitu aku mendapat predikat karyawan terbaik untuk tahun tersebut, tak hanya atasanku langsung yang terlihat puas akan kinerjaku akan tetapi bos paling atas pun terlihat senang. Hingga aku mendengar dari kolega terdekatku bahwa si C membicarakan diriku dibelakangku. Katanya, tak aneh dia bisa dapet penghargaan, karena dia (diriku) bawaan bos besar…

Tanyaku siapa si C? Ooooooohhhhhhh dari depertemen lain toh, tak banyak berinteraksi dengan diriku. Tenang…. dia tak tahu siapa diriku, tak tau cara kerjaku. Wajar dia berkata seperti itu, toh dia tak mengenalku!

Di tempat kerja yang lain lagi, kolegaku sungguh membuat diriku semaput, tak ramah sejak pertama kali padaku, manyun terus, ngomel ngomel, kalau boleh aku bilang nenek sihir seratus kali lebih lucu dan ramah daripada dia!!!

Dengan cueknya aku bertahan dengan semua perlakuannya padaku, hingga atasanku berkata bahwa bos dari bosku menginginkan aku menggantikan ‘suatu tugas’ yang biasanya dikerjakan oleh kolegaku. Sederhana saja permintaannya karena pada saat dia tak masuk kerja dan aku yang harus mengerjakannya, aku membuat laporan yang lebih baik daripada dia.

Aha, pikirku. Itukah sebabnya selama ini dia tak suka padaku? Persaingan dalam dunia kerja? Untuk apa? Bukankah seharusnya kami bekerja bersama sama. Pikirku hanya pekerjangan ringan kok, hanya masalah administrasi. Mengapa sebegitu repot hingga tak pernah menyapaku dengan ramah, kenapa harus dengan muka bersungut sungut dan tanpa memandang wajahku?

Jujur saat itu aku sakit hati padanya, sedih luar biasa mengapa nasibku seperti ini, dibenci orang yang menurutku tak ada apa apanya.

Kini aku tak berada dalam putaran dunia kerja lagi. Mungkin suatu saat nanti jika diharuskan dan ada kesempatan untuk bekerja kembali, aku akan berada dalam lingkaran seperti itu lagi. Bahagia dan senang saat berkeja tetapi akan ada juga situasi situasi tak menyenangkan, itu biasa… ¬†itu manusiawi…..

Juga kini tanpa bekerjapun, kita akan selalu bersinggungan dengan hal menyenangkan dan hal mengecewakan. Disini sekalipun, dimana konon orang orangnya tak se’√ßomel’ di Indonesia, tetap kita harus sedikit ber say hello. Kadang ada orang yang ingin aku hindari tapi ini orang tetap getol ber say hello padaku, disisi lain ada orang yang begitu aku suka dan aku berusaha untuk bersay hello tapi tak pernah mendapat respon yang menggembirakan hatiku.

Hingga pada akhirnya aku sadar dan belajar dari semua ini dari dunia kerjaku dulu dan juga dari dunia saat ini, bahwa kita manusia benar adanya sebagai mahkluk sosial, selalu membutuhkan orang lain. Menyenangkan atau mengecewakan setiap respon dari orang lain, kita harus menerimanya. Dan ternyata bersikap baik dan tulus (termasuk pada orang yang kita tak suka) jauh lebih melegakan daripada menyimpan pikiran negatif terhadap orang lain.

Dan yang paling berarti untukku adalah dukungan dari keluarga. Terdengar klise memang, tapi cobalah rasakan disaat kita kecewa dan tiba tiba saja dilimpahi cinta dari keluarga, semua kekecewaan yang tadi membendung tiba tiba sirna seketika.

Pelajaran untuk diriku, berikan cinta juga pada mereka yang mengecewakanmu…. mampukah????? Huhuhu, aku tak tau.

PS. Untuk adikku, lawan dan sikat saja orang seperti itu, hihihi

Rotterdam, 26-3-2013

Annelies dood

Hampir satu tahun yang lalu, Luc berkata dengan muka masam memperlihatkan hatinya yang terluka… Annelies dood!!! Aku gak mau baca buku kedua Pram (baca buku kedua dari tetralogy pulau buru, Anak semua bangsa), masa Annelies mati? Gak lucu ga menarik, gak seru!

Hohoho, rupanya ada yang kecewa berat!

Teringat saat aku sodorkan buku berjudul Bumi manusia versi bahasa belanda kepada Luc, dia menerima dengan ogah ogahan…. hhmmmm aku ga biasa baca fiksi romantika, kau tau kan bacaanku kebanyakan science dan horor. Kau boleh sodorkan bermacam macam cerita horor Indonesia tapi please jangan yang seperti ini.

Setelah rayu sana rayu sini, membujuk agar mau membacanya, untuk sedikit tahulah tentang budaya Indonesia, tulisan yang baguslah, menunjukan berapa banyak penghargaan yang diterima Pram di mata dunia, dan lain lain, dan lain lain. Akhirnya usahaku berhasil!

Hampir setiap malam sebelum tidur Luc membaca buku tersebut. Sedikit demi sedikit meninggalkanku yang juga membaca buku yang sama dalam versi bahasa Indonesia. Membawa  buku tersebut saat kami liburan ke Praha, membacanaya hingga pukul tiga pagi, kemudian bangun pagi sekali untuk kembali membaca buku tersebut. Berkali kali menanyakan tentang kebenaran yang ada di buku tersebut dengan keadaan di Indonesia sebenarnya, tertarik luar biasa tentang apa yang dilakukan Belanda pada Indonesia di jaman kolonial dulu. Bertanya ini itu, berdiskusi  panjang lebar dengan diriku, hingga kemudian menyebutku Nyai (salah satu tokoh dalam buku tersebut) dengan nada mesra, yang langsung aku jawab dengan pelototan mataku, gondok sekaligus geli.

Beberapa hari setelah Luc mogok tak mau baca buku Pram lagi, sedikit demi sedikit dia mulai melupakan sakit hatinya (hahaha) pada Pram dan mulai terobati atas matinya Annelies, Luc mulai membaca buku selanjutnya.

Buku kedua, buku ketiga dan kini buku keempat tengah kami baca setahap demi setahap. Luc meninggalkan aku yang terlambat membaca buku keempat, kami sama sama tidak begitu seantusias membaca buku pertama karena di buku keempat ini Pram  menghilangkan tokoh Minke yang selama ini menjadi tokoh sentral dalam buku buku sebelumnya. Walaupun banyak revieuw dari mereka yang telah membaca keempat buku dari seri pulau buru bahwa buku keempatlah yang paling menarik.

Hingga pagi tadi, Luc berteriak gembira ke arahku…. Yayang, Minke is back! Serunya gembira.

Aha, syukurlah…….

Membaca buku buku Pram setidaknya menambah wawasanku mengenai keadaan Indonesia di jaman kolonial dulu, ikut merasakan sakit hati bangsaku saat itu terhadap penjajah, terlepas pro kontra atas diri Pram, aku sangat menikmati tulisannya, cerdas, jujur walau kadang sebal luar biasa karena akhir cerita  tak sesuai harapanku, menggantung dan meninggalkan tanya di pikiran hingga berhari hari lamanya.

http://id.wikipedia.org/wiki/Tetralogi_Buru

Rotterdam, 10-3-2013

Jangan nakal, nanti ibu yang di dokter gigi datang……

Kata siapa orang Indonesia selalu bersikap lunak alias tidak bisa tegas terhadap orang Eropa? Semuanya terbantahkan sejak aku tinggal di Belanda dan lebih tau mengenai kebiasaan orang orang sini.

Pertama ibuku terkaget kaget melihat para dokter dan perawat yang begitu ramah tamah terhadap diriku dan orangtuaku. Tetap sabar menghadapiku saat aku dirawat di ruamh sakit hampir dua bulan lamanya, padahal waktu itu aku selalu bersikap ketus terhadap mereka. Kataku saat itu tentu saja mereka bersikap baik karena mereka menjalankan profesinya yang bekerja di bidang jasa alias pelayanan, mana boleh mereka tak melayani dan bersikap judes terhadap paseinnya?

Dan kejadian kemaren pagi saat kami berada di dokter gigi kian mengukuhkan bahwa kedudukan bangsa asing di Belanda setara dengan orang orang penduduk asli negeri ini.

Setelah berkali kali Luc  menghendaki mencari dokter gigi lain, karena dia kecewa dengan  dokter giginya yang lama akhirnya setelah melakukan pencarian dari internet yang cukup lama dia menemukan dokter gigi yang menurut revieuw dari mereka  yang menjadi paseinnya, dia adalah dokter yang memuaskan. Dan yang membuat aku suprise dari membaca namanya dia adalah seorang Indonesia.

Dan benar saja saat Luc menelepon tempat praktek dokter gigi tersebut yang menjawab telepon diseberang sana adalah seseorang yang berlogat Indonesia dan berbahasa belanda ‘broken’ seperti dirimu… kata Luc sambil tertawa panjang.

Dan tibalah hari yang dinanti tiba, kami datang berempat menuju dokter gigi. Dua orang wanita yang aku yakin pastilah mereka orang Indonesia duduk di belakang meja receptionis menyambut kedatangan kami dengan senyum ramah dan mempersilahkan kami duduk di ruang tunggu. Lima menit kemudian kami dipersilahkan masuk ke ruang praktek dokter, disana telah menanti dokter yang masih sangat muda dan asisten dokter yang sudah berumur, keduanya wanita.

Yang dipersilahkan duduk duluan di kursi pasein adalah Luc, sementara kami bertiga duduk di kursi yang ad di ruangan tersebut. Cinta tentu saja tertarik pada wanita tua sang asisten, dia segera turun dari kursinya menghampiri sang asisten yang sedang sibuk membantu sang dokter. Berkali kali aku menariknya kembali untuk duduk tenang tapi tetap saja Cinta kembali berdiri menghampiri dan bertanya ini itu kepada dokter dan sang asisten yang  kini tak terlalu ramah lagi terhadap Cinta, hingga akhirnya sang asisten mengusir kami ke ruang lain. Dan tibalah sang asisten datang kepadaku mempersiapkan diriku untuk duduk di kursi pasein dan sedikit berbasa basi dengan diriku, dari mana asalku, berapa lama aku tinggal disini, dia juga bercerita bahwa dokter yang menangani kami adalah putrinya dan suaminya yang aku baca namanya di internet kini telah pensiun.

Sementara Cinta yang dari tadi berkali kali diperingatkan oleh sang asisten tampat tak senang saat dia bercerita pada diriku, karena otomatis Cinta tak perhatikan lagi oleh diriku hingga dia berteriak cukup lantang untuk menarik perhatian diriku. Dan sang asisten tanpa aku minta telah berdiri dihadapan Cinta dan dengan tegas memperingati Cinta untuk tidak bersikat seperti itu lagi kepada diriku. Ucapnya…jangan sekali kali kamu berteriak terhadap ibumu, kamu harus bersikap baik dan manis terhadap ibumu, kamu harus menghormati ibumu, mengerti kamu nak….

Terpana, merah padam wajahku sekaligus sedikit malu, aku memandang wajah wanita luar biasa dihapapanku. Sikap hormat dan berterima kasih aku lontarkan untuknya.

Pembelajaran dari dirinya tak selesai sampai disitu, saat aku sedang ditangani oleh dokter, Luc dan anak anak dikirim ke ruang disebelahnya yang masih berhubungan dengan ruang  praktek dokter, setelah selesai sang asisten mendatangi Luc diruang sebelah dan aku tersenyum (malu) karena aku mendengar sang asisten menegur Luc yang mendudukan Cinta di kursi putar bundar yang biasanya diduduki dokter saat memeriksa pasein. Katanya, jangan duduk di kursi mahal itu, itu tempat duduk dokter saat memeriksa pasein! Dan aku mendengar suara Luc meminta maaf, dapat aku bayangkan pasti gondok setengah mati, hihihi.

Saat kami akan pulang, aku masih berusaha mendamaikan sang asisten dan Cinta, aku suruh Cinta mengulurkan tangan dan mengucapkan selamat tinggal, yang hanya diindahkan oleh Cinta dengan mengulurkan tangan tanpa senyum dan kata kata.

Tiba di tempat parkir dan masuk mobil rupanya Cinta masih berusaha menguji kesabaran kami, dia protes terhadap Cahaya yang telah duduk di kursi mobil dan berusaha mengambil alih tempat duduk yang telah ditempati, tentu saja kami menegurnya dan menyuruhnya segera duduk manis. Dia masih berusaha merajuk, hingga Luc mengluarkan suara geramnya sambil berkata… Ayolah Cinta, cukup sudah kamu bersikap menyulitkan untuk hari ini, jika masih sulit juga aku akan memanggil ibu yang ada di dokter gigi itu…. untuk menyuruhmu tutup mulut!

Ah ah Luc, hari itu kamu kewalahan menghadapi gadis kecil berumur 3 tahun.

Lihatlah wanita tegas di dokter gigi itu…. tak heran dia telah mendampingi suaminya menjadi dokter gigi yang hebat dan kini dia sedang menuntun putrinya menjadi dokter gigi hebat pula. Wanita hebat itu…. berasal dari malang dan berbahasa Indonesia dengan diriku dengan bangganya!!!