Sendok

Pesan Hilman Hariwijaya sang penulis Lupus,

Jika kau kabur dari rumah bawalah sendok, niscaya ibumu akan mencarimu….

Membaca itu aku dan kakakku terpingkal pingkal, berjanji pada ibuku kalau kabur dari rumah tak akan membawa sendok dari rumah sehingga ibuku tak merasa kehilangan sendok, hahaha

Membaca sebuah cerita dalam Chicken Soup Soul,

Seorang ibu selalu mempersiapkan makan malam lengkap dengan sendok garpu piring terbaik yang ada di rumahnya.

Saat anaknya bertanya, ‘mengapa kau selalu menggunakan piring dan garpu untuk kami seperti menjamu tamu istimewa?’

Ibunya menjawab, ‘karena kalian lebih istimewa dari raja dan ratu sekalipun…’

Membaca cerita itu, ibuku segera menurunkan piring, gelas, sendok, garpu dari lemari pajangan.

Menyingkirkan gelas, piring, sendok dan garpu yang selama ini kami pakai sehari hari dan menggantikannya dengan apa yang dulu ada di lemari pajangan.

Dan tentu saja mang Entis yang paling berbahagia karena bisa menghadiahkan lungsuran alat rumah tangga dari ibuku kepada istrinya tercinta di kampung.

Sementara aku, berjanji dalam hati…

Jika berumah tangga nanti, aku akan selalu mempersiapkan makan malam terbaik lengkap dengan alat alat terbaik yang aku punya untuk keluargaku.

PS.

Ya, aku menjalankan janjiku, aku tak membedakan piring sendok dan garpu untuk tamu yang berkunjung ke rumah kami dengan apa yang kami gunakan sehari hari. Tentu saja mana mungkin aku membedakannya karena hanya itulah bestek yang aku punya…. itupun peninggalan Luc pada jaman bujangan dahulu kala hahaha.

Jadi seumpamanya Cinta atau Cahaya suatu hari nanti membawa kabur sendok yang ada di rumah, aku tahu dengan pasti dan tentu saja akan kehilangan ūüôā

Rotterdam, 24-10-2012

Mari Sekolah

werkweek groep 8 Albert Schweitzerschool

werkweek groep 8 Albert Schweitzerschool

What? Cinta Cahaya udah masuk SD?

Apa mereka sudah bisa baca?

Berapa biaya yang habis untuk masuk SD? Uang pendaftaran dan lain lainnya?

Dan beberapa pertanyaan bertubi tubi lainnya dari beberapa temanku di Indonesia seputar Cinta dan Cahaya yang  telah masuk Sekolah Dasar.

Dari beberapa temanku itulah kini aku tahu bahwa umumnya anak anak yang akan masuk SD diharuskan bisa baca sebelum masuk sekolah,  tak hanya sekolah favorit yang daftar tunggunya  panjang, bahkan sekolah disekitar mereka tinggal pun menerapkan peraturan yang sama bahkan ada beberapa sekolah yang mengadakan test masuk sekolah segala.

What? Test masuk untuk anak SD? Bukankah mereka baru masuk sekolah? Mengapa harus ada test masuk segala?

Ya, karena daftar tunggunya yang sungguh berjubel, siapa yang dapat nilai terbaik merekalah yang bisa duduk di sekolah tersebut. Maka bermunculanlah sekolah favorit dan non favorit.

Keterbelalakanku pun semakin menjadi, begitu mendengar dari beberapa temanku yang bercerita mereka sampai menghabiskan uang yang sungguh fantastis (menurutku) untuk bisa masuk Sekolah Dasar, uang pangkal menurut mereka, sumbangan uang bangunan, uang seragam, uang buku dan lain lain.

Sungguh aku tercengang mendengar penjelasan dari temanku, sungguh sabar orang orang yang tinggal di Indonesia itu pikirku, untuk bisa masuk Sekolah Dasarpun mereka harus berjuang dan berpikir untuk memberikan yang terbaik untuk anak anaknya.

Di lain sisi, menurut temanku yang guru TK, dia mengalami dilema. Dia tahu bahwa menurut ilmu phisiologi tak baik mengajarkan anak anak membaca dan berhitung di TK, tapi tak ada pilihan lain baginya untuk mengajarkan itu karena anak anak sekarang dituntut sudah bisa membaca dan berhitung jika akan masuk SD. Dan menurutnya dia harus pandai pandai mengajarkan anak anak didiknya untuk bermain sambil sesekali disisipi pengenalan huruf dan angka, sehingga diusahakan agar tuntutan bermain sambil belajar tercapai.

Ok, mari lupakan sejenak tentang apa yang terjadi di Indonesia sana. Mari mengenal sedikit sistem pendidikan disini (Belanda). Dan aku akan bercerita tentang yang aku alami bersama Cinta Cahaya.

Cinta Cahaya sudah masuk sekolah saat usia mereka dua tahun, namanya  peuterspeelzaal atau biasa disebut playgroup di Indonesia. Berada di peuterspeelzaal hanya tiga jam saja dalam sehari selama 4mpat hari dalam seminggu. Mereka yang berada di Peuterspeelzaal berusia 2 hingga 4 tahun. Berada dalam satu kelas sebanyak 10 hingga 15 anak dengan dua orang pendamping dewasa atau guru. http://nl.wikipedia.org/wiki/Peuterspeelzaal

Biaya yang dikeluarkan bervariasi disetiap peuterspeelzaal, dan kami membayar 16 euro per bulan, biaya itu sudah termasuk minum susu, buah buahan dan kue kering disetiap mereka masuk sekolah. Setiap hari jumat orang tua boleh berada di kelas hingga pukul 9 pagi, menemani putra putrinya di kelas sambil melihat perkembangan mereka di kelas para orang tua juga disediakan kopi dan teh.

Sebelum usia mereka empat tahun, kami sudah mendapat surat pemberitahuan resmi dari pemerintah untuk tidak lupa segera mendaftarkan Cinta dan Cahaya di sekolah dasar (surat itu datang pada saat usia mereka dua tahun setengah), informasi mengenai sekolah dasar, dan mereka meminta anak anak sudah terdaftar di satu sekolah sebelum usia mereka 4 tahun, jika belum maka mereka akan membantu untuk mencarikan sekolah bagi Cinta Cahaya, surat tersebut disertai dengan site site informasi mengenai sekolah dasar.

Setelah kami mendapat surat pemberitahuan tersebut, aku dan Luc segera mengirim email ke beberapa sekolah dasar untuk membuat janji sekiranya kami bisa melihat lihat sekolah tersebut, disini disebut dengan istilah roundlopen. Reaksi dari beberapa sekolah sungguh sangat cepat, selang sehari dari kami mengirim email, mereka beraksi dan mengirimkan balasan dengan memberikan jadwal kapan kami harus datang untuk melihat sekolah itu, hari tanggal dan jam hingga contack person yang harus kami temui sungguh jelas. Bahkan satu dari sekolah yang kami kirimi email langsung menelepon dan membuat janji  kesepakatan kapan kami harus datang melalui telepon. Selang sehari brousur hingga undangan datang ke alamat rumah kami, informasinya sungguh jelas hingga visi misi dan agenda kalender untuk tahun depan pun mereka kirimkan.

Disini, untuk masuk Sekolah dasar tidak harus menunggu hingga tahun ajaran baru tiba, mereka akan dikirim dari Peuterspeelzaal menuju sekolah dasar tepat pada saat mereka berulang tahun. Usia empat tahun. Tak perduli bulan januari, maret atau desember mereka berulang tahun, pada bulan itulah mereka akan dikirim ke sekolah dasar.  Dan mereka akan ditempatkan di group een (1), groep 1 dan 2 disebut juga dengan sebutan kleuterschool atau kleutergroep, usia yang duduk di kleutergroep mulai 4 hingga 6 tahun. Di Indonesia bisa dikenal dengan sekolah TK. http://nl.wikipedia.org/wiki/Kleuterschool. Disini jelas disebutkan bahwa di groep 1 dan 2 anak anak hanya bermain, musik dan knutselen (lebih dikenal dengan istilah kerajianan tangan, melipat, menggunting, dll)

Saat kami untuk pertama kalinya roundlopen (berkenalan ke sekolah dasar) aku bercerita bahwa Cinta Cahaya sama sekali belum mengenal huruf dan angka, bahkan untuk menghitung satu hingga sepuluhpun mereka belum mengenal sama sekali. Dan orang yang membawa kami mengelilingi sekolah tersebut terbahak saat aku bertanya, apakah tidak apa apa karena mereka belum mengenal huruf dan angka sama sekali? Dan jawabnya, tentu saja tidak masalah karena sekolah akan mengajarkan mereka membaca, dan berhitung saat mereka berada di groep 3 atau kelas satu SD jika di Indonesia.

Dan kini sudah 3 minggu Cinta dan Cahaya bersekolah di Bassisschool atau sekolah dasar. Lima hari dalam seminggu. Pintu kelas dibuka dari pukul 08.15 dan kami diberi kesempatan lima belas menit untuk berada di lingkungan sekolah, pukul 08.30 para orangtua harus keluar kelas dan harus menjemput kembali pada pukul 3 sore. Empat kali dalam seminggu mereka senam (gym). Groep 1 dan 2 hanya mengenakan baju dalam saja saaat mereka senam, sepatu gym pihak orangtua yang harus menyediakannya, sepatu diberi nama, disimpan di aula tempat mereka senam, anak anak membuka baju, sepatu dan lain lain tanpa bantuan orang lain. Bayangkan anak usia empat tahun harus sudah bisa berpakaian sendiri. Kadang aku begitu bangga pada mereka, anak sekecil itu harus sudah membiasakan menyiapkan segala keperluannya seorang diri, membayangkan mereka makan siang sendiri dengan bekal yang dibawa dari rumah, kadang aku berkali kali mengingatkan untuk memakan buah buahan juga yang aku sertakan disetiap bekal siang mereka. Di usia empat tahun, aku sudah tidak direpotkan untuk urusan buang air kecil atau besar, mereka sudah bisa melakukannya sendiri.

Nanti saat mereka berada di group 3 (atau kelas satu SD di Indonesia) tak hanya gym yang mereka dapat tapi juga belajar berenang, dan sama halnya senam, berenangpun dilakukan saat jam sekolah, dan tanpa orang tua yang menyertai, mereka ramai ramai berjalan ke kolam renang yang tak jauh dari sekolah (beberapa sekolah ada yang mempunyai kolam renang di lingkungan sekolah). Pada umumnya anak anak disini sudah mengenal kolam renang sejak bayi dan mulai 4 tahun mereka sudah boleh mengikuti les renang), sama wajibnya dengan bersekolah anak anak disini juga diwajibkan belajar renang. Diploma A, B, C harus mereka raih.

Untuk urusan biaya sekolah, bersekolah di Belanda tentunya jauh lebih murah bila dibandingkan dengan di Indonesia. Anak anak di Belanda dikenakan leerplicht alias wajib belajar mulai usia 5 hingga 18 tahun. Untuk usia usia segitu mereka dikenakan peraturan tertentu, harus bersekolah, menaati waktu sekolah. Dan yang membiayai sekolah tentu saja pemerintah. Orang tua hanya dikenakan biaya study tour, biaya ophang (jaga anaka anak saat jam istirahat) untuk itu semua kami dikenakan 60 euro pertahun untuk setiap anak, biaya yang hanya 60 euro pertahun pun bisa dicicil dalam 4 kali pembayaran. Biaya itu bervariasi dengan sekolah lain, karena aku mendapatkan anak temanku hanya dikenakan biaya 17 euro saja pertahun. Kami tak dipusingkan dengan biaya buku, diktat atau uang seragam dan biaya biaya lainnya. Semua biaya dijelaskan dengan gamblang hingga cent pun mereka berhitung.

Karena biaya sekolah hanya dibantu hingga usia 18 tahun saja, sejak dini aku dan Luc sudah berunding akan bagaimana setelah anak anak berusia 18 tahun? Akankah mereka tetap bersekolah atau bekerja? Tentu saja setiap orang tua berharap mereka dapat bersekolah setinggi mungkin, tetapi untuk itu mereka harus memiliki dua hal uang dan nilai cito yang baik (selain kemauan dan usaha tentunya).  Biaya sekolah disini sangat mahal, konon mencapai ribuan euro pertahunnya, mereka yang bersekolah setelah usia 18 tahun, umumnya mendapat pinjaman dari pemerintah yang nantinya harus dikembalikan dengan cara dicicil jika mereka telah bekarja, cara pengembalian uang pinjaman diatur secara jelas, pengembalian uang dilakukan dalam jangka waktu 15 tahun disesuaikan dengan basis pendapatan yang mereka peroleh. http://nl.wikipedia.org/wiki/Studiefinanciering

Membaca dan menelaah mengenai pinjaman study tersebut, sejak dini aku dan Luc sepakat untuk menabung sedikit uang atas nama Cinta dan Cahaya yang nantinya bisa digunakan saat mereka ingin melanjutkan sekolah kelak. Tapi tak hanya urusan biaya saja yang harus diperhatikan, dari itu semua yang paling penting adalah hasil akhir dari nilai ujian mereka saat keluar dari Sekolah Dasar. Mereka yang akan menamatkan Sekolah Dasar akan menempuh ujian cito http://nl.wikipedia.org/wiki/Cito_Eindtoets_Basisonderwijs  yang hasilnya akan menentukan kemana mereka akan bersekolah kelak, ada tiga tingkatan yang akan menanti mereka setelah sekolah dasar selesai, yaitu:

  • ¬†vmbo

dikenal dengan sebutan pendidikan kejuruan tingkat menengah persiapan, berlangsung empat tahun, dari usia 12-16 tahun,  menggabungkan pelatihan kejuruan dengan pendidikan teoritis dalam bahasa, matematika, sejarah, seni dan ilmu pengetahuan.  Vmbo memiliki empat tingkatan yang berbeda, dimana masing-masing mempunyai campuran yang berbeda dari pelatihan kejuruan yang praktis dan pendidikan teoritis yang dikombinasikan. http://en.wikipedia.org/wiki/Voorbereidend_middelbaar_beroepsonderwijs

  • havo

Disebut pendidikan menengah umum tinggi, berlangsung lima tahun lamanya, diikuti mereka yang berusia 12-17 tahun. Selesai dari Havo mereka bisa melanjutkan  ke tingkat perguruan tinggi ( politeknik ) atau pendidikan tinggi. http://en.wikipedia.org/wiki/Hoger_algemeen_voortgezet_onderwijs

  • vwo

Disebut dengan Pendidikan pra-universitas ( VWO ) disebut demikian karena setelah selesai bersekolah disitu mereka akan melanjutkan ke universitas atau bisa juga ke sekolah tinggi, mereka yang mampu menembus vwo adalah calon penghuni universitas di belanda. Vwo ditempuh dalam jangka waktu 6 tahun. Tak heran banyak dari anak anak Belanda (dan juga orangtuanya) berharap bisa masuk vwo setelah lepas sekolah dasar. Namun berdasarkan data tak banyak yang dapat duduk di vwo. 60% lulusan SD  masuk ke vmbo sedangkan sisanya masuk ke havo dan vwo. Dapat dibayangkan hanya mereka yang memperoleh nilai cito tinggilah yang dapat menduduki kursi vwo dan sudah dapat dipastikan suatu saat nanti mereka akan duduk di bangku universitas. http://en.wikipedia.org/wiki/Voorbereidend_wetenschappelijk_onderwijs

Namun demikian tak ada istilah vmbo lebih rendah atau vwo lebih tinggi, semuanya dapat dipahami dan dihargai. Untuk mencapai semua itu diperlukan kerja keras, kemauan dan kesabaran.

Kembali lagi ke sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini yang dirasakan banyak kalangan terlalu berat beban sekolah untuk anak anak di Indonesia, mata pelajaran yang terlalu banyak dan beragam, tuntutan harus bisa baca dan berhitung sebelum masuk sekolah dasar hingga beban biaya yang tak sedikit menjadikan sistem pendidikan Indonesia menjadi sedemikian komplek.

Sudah tiba saatnya untuk segera memikirkan dan mencari jalan keluar agar bisa mencari solusi untuk semua ini, sehingga anak anak bisa kembali ke fitrahnya…. bermain.

Dalam hal ini aku sangat setuju sekali dengan olah raga yang diadakan hampir setiap hari, sesuai dengan semboyan dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Dan bermain di luar kelas tak hanya dilakukan hanya pada jam istirahat saja, tapi dilakukan juga pada jam jam belajar, anak anak dibiarkan bermain bersama gurunya di luar kelas, bermain pasir, bermain air hingga kejar kejaran, semua dilakukan dengan kecerian khas anak anak. Tak heran jika anak anak di Belanda dianugrahi sebagai anak anak paling bahagia di dunia (berdasarkan laporan UNICEF). http://www.dutchdailynews.com/dutch-kids-ranked-happiest-in-the-world/

Teringat akan cerita temanku, dia selama dua tahun lamanya berada di Belanda untuk mendampingi suaminya yang sedang menempuh pendidikan di Belanda, kedua anaknya dimasukan di sekolah dasar di belanda, saat mereka kembali ke tanah air dan harus kembali bersekolah di Indonesia, satu bulan pertama anak perempuannya sering menangis setelah pulang sekolah, mengaku ingin kembali bersekolah di Belanda, keluhannya hanya karena terlalu banyak mata pelajaran yang harus dihapalkan, banyak PR dan beratnya beban buku yang harus dibawa ke sekolah. Sekolah di Belanda hampir bisa dikatakan tak membawa buku sama sekali, ceritanya.

Cinta dan Cahaya baru melangkahkan kakinya di sekolah, bersyukur aku tak harus khawatir pada mereka karena belum bisa baca dan berhitung saat masuk sekolah dasar, bersyukur tak harus memikirkan bagaimana mendapatkan biaya untuk sekolah mereka saat ini. Dan kami semua begitu bersyukur karena Cinta Cahaya bisa bersekolah dengan bahagia tanpa harus memikul beban yang berat di punggungnya seperti kebanyakan anak di Indonesia yang harus membawa buku berjubel jubel, yang bisa bersekolah dengan bebasnya, tidak seperti Malalai Yousafzai  yang harus rela ditembak demi keinginannya untuk tetap bersekolah. Semua itu harus disyukuri.

Anakku, bersekolahlah dengan riang gembira, kejar mimpi kalian setinggi mungkin, belajarlah dengan sungguh sungguh, semuanya perlu proses dan ketekunan.

Image

Hujan

Orang-orang yg kalah selalu melihat hujan menjadi penghalang, menimbulkan ketakutan, dan hujan berarti kegelapan. Tapi bagi mereka yg mempunyai mental pemenang, meyakini adanya pelangi di balik hujan.

Itu status seorang teman yang aku baca hari ini. Jadi let’s talk about rain!

Sewaktu aku bekerja dulu bosku punya seorang sopir pribadi yang kehandalannya bikin orang geleng geleng kepala.

Wiiiiihhhhhhhh ngebutnya mantap, di puncak paas walau hujan dan berkabut tetap tenang dan teteap ngebut tapi tetap terkendali. Cerita ayahku yang pernah diantar Mr. Jo dari Bogor menuju Bandung.

He is a crazy driver. Hard rain but still high speed! Just happen in Indonesia. Cerita Luc yang pernah di jemput dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandung.

Suatu hari aku kena lembur, aku pulang malam, Mr. Jo datang menjemput untuk mengantarkanku ke rumah. Di tengah jalan segerombolan orang asyik berjongkok di jalan, asyik menawar dan aktivitas jual beli lainnya. Ya hari itu ada pasar malam. Mr. Jo, dengan cueknya menerobos gerombolan orang orang itu, walau dengan kecepatan yang tidak tinggi tapi tetap membuat orang orang yang nyaris diseruduknya mengumpat umpat saking kagetnya termasuk diriku yang ada di sampingnya.

Mr. Jo, plzzzzzz…pelan pelan atuh!

Atuda sok keheul, naha ari hujan lalumpatan ka sisi ngariuhan, ari ka mobil teu sieun!

Hahaha aku ngakak sejadi jadinya. Tapi beliau benar juga, aku memperhatikan banyak orang yang dengan cueknya nyebrang jalan disana sini, berjalan tidak di trotoar, dan aku sebagai supir juga kadang jengkel setengah mati.

Orang Indonesia kebanyakan tidak suka bawa payung atau jas hujan, kebanyakan yang bawa payung hanya orang tua dan perempuan saja. Sehingga jika hujan turun, seketika aktivitas seperti terhenti, yang mau ke luar rumah tunggu hujan dulu barang sejenak, yang ada janji nelepon dulu bakal terlambat datang, semua seperti ada jeda sejenak.

Tapi tidak dengan di Jepang, tua muda, laki perempuan, selalu tak pernah lupa payung dan jas hujan. Aku pernah terbelalak saking kagetnya saat berada di apartemen temanku di Tokyo, satu ember penuh hanya berisi payung, dan jawabnya banyak dari payung payung tersebut bukan kepunyaan dirinya tapi kepunyaan dari beberapa temannya yang datang berkunjung ke rumahnya dan lupa membawa kembali payung yg dibawanya dari rumah.

Di sini, aku memang jarang menemukan anak muda memakai payung terutama laki laki, tapi mereka tak pernah berhenti karena hujan, hujan kecil dan besar tetap mereka labrak, yang berjalan kaki tetap berjalan, yang naik sepeda tetap naik sepeda, orang jompo tetep berjalan bersama rollatornya semuanya tetap berjalan tak ada jeda.

Suatu hari saat anak anak masih berusia beberapa bulan saja, mungkin enam bulan, aku berjalan jalan dengan Luc sementara anak anak asyik tertidur di buggy yang kami dorong, tiba tiba hujan datang, dengan sibuknya aku segera membuka payung yang ada di buggy tersebut dan segera mengajak Luc untuk kembali ke rumah, sangat khawatir karena kaki mereka yang mungil tetap terkena air hujan walaupun sudah memakai payung.

Dan apa jawaban Luc?

Apa mereka terbuat dari gula? Mereka tak akan meleleh karena hujan. Let’s enjoyed the rain with the babies!

Ps. Semoga aku termasuk orang yang menyakini adanya pelangi di balik hujan.¬†And I do! ūüôā

Rotterdam, 3-9-2012

images

Eerste dag naar basisschool # Hari pertama masuk SD

Hari yang dinanti akhirnya tiba. Hari ini hari pertama masuk sekolah, bayangkan….. hari ini mereka masuk di groep een di basisschool.

Waktu begitu cepat berlalu, teringat dua tahun yang lalu saat aku berjalan bersama Cinta Cahaya di siang yang cerah untuk mengantarkan Cinta Cahaya bersekolah di Peuterspeelzaal. Usia mereka baru dua tahun lewat satu bulan, tapi mereka berjalan dengan semangat ke sekolah. Aku memakaikan pakaian terbaik untuk mereka, hadiah dari ibuku, nenek mereka. Suamiku sengaja cuti hari itu, untuk menyaksikan moment penting tersebut. Di hari pertama tersebut selama lima belas menit aku dan suamiku boleh melihat Cinta cahaya di dalam kelas, dan saat aku menciumnya untuk meninggalkan kelas, tak ada kekhawatiran di wajah mereka, mereka membalas ciumanku, melambaikan tangan dan mulai asyik kembali dengan mainannya. Bahkan saat itu mereka belum bisa merangkai kata satu kalimatpun. Dan selama dua tahun lamanya empat kali dalam seminggu, Cahaya Cinta-ku tak ada dalam dekapanku hampir  tiga jam lamanya.

Dan kini, saat usia mereka empat tahun, aku harus merelakan mereka ada di tangan sekolah selama hampir tujuh jam setiap harinya. Aku panjatkan doa saat aku menyerahkan tangan Cinta dan Cahaya pada gurunya. Kutatap namanya di kursi yang telah disediakan. Terlihat jelas, karena begitu berbeda dengan nama anak anak lain yang terlihat.

Lirihku, semoga kalian akan selalu bercahaya dimanapun kalian berada, selalu menyebarkan cinta pada sesama.

Selamat bersekolah anak anakku, kejar mimpi kalian. Doa ku akan selalu mendampingi di setiap langkah kalian.

 

Rotterdam, 2 September 2013

IMAG0190

Di halaman sekolah, saat sekolah usai

Di halaman sekolah, saat sekolah usai

agustus 2011  dua tahun yang lalu saat pertama kali masuk sekolah TK

agustus 2011
dua tahun yang lalu saat pertama kali masuk sekolah TK

agustus 2012 hari pertama di tahun kedua di TK

agustus 2012
hari pertama di tahun kedua di TK