What are you most looking forward to in the next six months?

Donkere-houten-keuken

photos van keuken inspiratie

Dapur baru!

Akhirnya, setelah pencarian dalam satu setengah tahun ini, kami memutuskan membeli dapur pada perusahaan yang sama sekali baru kali ini kami dengar namanya.

Ternyata membeli dapur disini tak segampang yang kami kira, butuh waktu yang lama hingga akhirnya kami menjatuhkan pilihan. Setelah  searching sana sini, baca vieuw dari banyak orang, kemudian kami memutuskan membuat janji untuk datang ke toko dapur yang terkenal akan kualitasnya. Hampir dua jam kami disana, dibuatkan sketsa dapur seperti yang kami inginkan, kemudian memilih warna lemari dan bahannya, memilih alat alat elektonik seperti oven, kompor, mesin cuci piring hingga keran air pun kita yang memilih.

Dan tibalah kalkulasi harga dari dapur yang kita inginkan, dan percayalah aku sampai sakit kepala dan ingin muntah saat mendengar harga yang diperlihatkan. Kemudian si penjual bertanya sebetulnya berapa budget yang kita siapkan, saat kami menyebutkan budget kami dan ajaib si penjual dengan cepat bisa menyamakan harga dapur dengan budget yang kami punya. Caranya? Merk alat alat yang kami pilih diganti, bahan meja dan lemari diganti hanya warna yang tetap sama, biaya pasang/kerja dihilangkan. Semua itu dengan syarat bahwa kita mau menandatangi kontrak hari ini juga!

Hah??? Tentu saja kami langsung mundur teratur, Luc paling tidak suka dipaksa paksa seperti itu. Membeli dapur baru adalah salah satu keputusan penting dalam hidup kami dan melibatkan euro yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya.

Strategi berikutnya kami ubah, kami tak langsung mengirim email uantuk membuat janji datang ke tempat, tapi kami mengirim email kesekitar sepuluh toko dapur se Belanda untuk meminta brosur atau majalah dapur dari toko mereka. Tak sampai seminggu rumah kami dibanjiri pos dari berbagai toko dapur yang mengirimi majalah dapur mereka. Kemudian beberpa toko tersebut ada yang menelepon kami menanyakan apakah kami sudah mempunyai ide dari dapur idaman kami? Bertanya apakah kami ingin datang ke toko mereka dan membuat janji? Hanya dua dari sepuluh toko yang pada akhirnya kami datangi untuk dibuatkan sketsa dan bernegosiasi. Dan kedua toko terakhirpun gagal memenuhi kemampuan  ‘kantong’ kami.

Beberapa kenalan menyodorkan nama nama toko dari Jerman, lebih bagus dan jauh lebih murah kabarnya. Sudah ada dalam agenda kami untuk membuat janji dengan salah satu toko di Jerman. Belum lagi hal itu terlaksana, hari kamis dua minggu yang lalu Luc mengambil cuti dari tempat kerjanya karena akan menghadiri concert Cinta dan Cahaya di sore hari, memanfaatkan waktu yang ada kami mendatangi sebuah toko dapur yang tak jauh dari kota Rotterdam (dengan membuat janji terlebih dahulu tentunya). Seorang pria setengah abad yang tengah duduk di balik komputer menyapa kami, sedikit mengernyit sambil memandangi komputer saat Luc menyebutkan bahwa kami telah membuat afspraak pukul 10 dengan orang yang bernama A, yang ternyata dirinya. Berkali kali dia mengecek komputernya dan bersikukuh bahwa dia tidak punya janji dengan kami, aku segera menangkap sinyal di wajah Luc yang mulai tak nyaman. Hingga kemudian wajah si pria itu tiba tiba sumringah dan berubah drastis menjadi super ramah. Aha Lucas! Serunya. Hhmmm saat Luc menyebutkan nama belakangnya ternyata yang tertera di komputer adalah nama depan.

Singkat, kami langsung dipersilahkan duduk. Seperti biasa ditanya minuman apa yang kami inginkan. Aku segera menyodorkan sketsa dapur buatanku padanya. Dia terbelalak dan melihatnya, berkomentar positif saat melihat akupun mencantumkan jarak stopkontak dan ukuran ukuran meja dan lemari, bahkan ukuran meja wastafel dan kompor pun aku cantumkan. Dia gembira karena hari itu berjalan menyenangkan, kami hanya memilih bahan saja, tak seperti toko dapur lainnya, kunjungan kami dia sudahi setelah kami memilih bahan, katanya kami diminta datang di hari minggu setelah hari kamis itu untuk membicarakan harga. Dia menjanjikan di pertemuan berikutnya dia sudah membuat gambar tiga dimensi dari dapur yang kita inginkan, sementara aku dirumah pun diberi tugas untuk memilih merk barang barang beserta harganya dari toko manapun yang dapat kami cari di internet. Ini lain dengan yang lain, kami diberi kebebasan untuk mencari barang barang yang kami inginkan.

Dan hari itupun tiba, kami menandatangi kontrak pembelian dapur, setelah sebelumnya si penjual tak percaya kami mengiyakan harga yang dia sodorkan. Dia sampai menjabat tangan kami berkali kali dan bertanya apakah kami akan merayakan pembelian dapur baru ini setelah pulang dari sini? Aku menjawab sambil bercanda, bukan kami yang akan merayakan seharusnya anda yang merayakan, kami bangkrut sekarang, tak ada uang!

Dalam perjalan pulang, kami bersiul senang. Impian mempunyai dapur baru akan terlaksana dalam waktu yang tak lama lagi. Aku senang karena nanti akan ada American koelkast dan laci laci cantik untuk menyimpan bumbu bumbu Indonesiaku. Sedangkan Luc bergembira karena impiannya untuk mempunya keran air Quooker dan oven berkualitas akan terlaksana. Akan aku buat kue taart terenak dan teh yang langsung keluar air panas dari keran. Serunya padaku. Ja ja ja Luc, kita lihat saja nanti hingga berapa lama kehebohan berkutat di dapur baru akan berlangsung.

What’s one thing that you would never change about yourself

Tetap menjadi seorang perempuan. Hmmm itu takdir ya? Setelah aku menjalani hidup hingga sekarang ini, sesuatu yang tidak ingin berubah atau hilang dalam diriku adalah rasa sayang dan kasih pada sesama.

Tentang salah satu sifat aku ini, pernah ada seseorang dalam hidupku memberi saran dan nasihat karena menurut dia sifatku yang ini harus sedikit dikurangi, menurutnya super ramah pada orang lain itu baik asal jangan kebablasan seperti diriku. Menurutnya harus ada sikap pertahanan diri sehingga orang tidak menginjak diriku seenaknya, atau rasa kasihan yang berlebihan pada orang lain sehingga menyebabkan diriku sedih berkepanjangan dan melakukan segala cara untuk menolong orang yang aku kashihani namun ternyata membawa masalah pada diriku.

Menurut ‘penasihatku’ ini sifat ku yang selalu merasa kasihan pada orang lain adalah sifat baik yang menjadikan diriku lemah. Lalu baiklah, aku mencoba sarannya. Aku belajar tega pada orang lain, aku bersikap lebih tidak peduli jika melihat seseorang dalam kesusahan. Aku tidak lagi berlama lama bertatapan dengan orang yang menjajakan koran jalanan/ straat krant di depan supermarket. Hanya sesekali saja aku membelinya, tidak sesering dulu. Aku mulai menegarkan diri jika orang menghiba hiba meminta pertolonganku, aku mulai menakar dan mimilah mana yang lebih penting menolongnya atau membiarkannya.

Perubahan ini mulai berdampak pada diriku, aku mulai terlihat kaku, langsung berpikir hati hati jika ada orang minta tolong padaku, aku akan berpikir apakah dia memanfaatkanku saja? Pokoknya serba hati hati. Mulai memilih orang yang akan aku ajak senyum (sstthhh aku dikenal orang sebagai orang yang tukang senyum, ini sebenarnya karena aku pemalu).

Hingga beberapa bulan yang lalu, saat aku sadar bahwa aku merasa ada sesuatu yang hilang, aku memiliki jawaban apakah karena aku ingin  berubah, namun sesuatu yang aku ubah sebenarnya malah melemahkanku? Aku jadi bukan merasa diriku lagi. Aku menarik kesimpulan apa yang dikatakan sahabatku  memang baik, namun ternyata tak cocok denganku. Mungkin sudah begini diriku….. agak lebay kata ponakanku mah…….

Jadi inilah aku, yang bisa dengan tegas menolak keinginan Cinta yang minta dibelikan kibeling atau patat, tapi segera meyodorkan uang untuk membeli straat krant dan begitu sampai rumah dipelototi Luc sampai berkata…. Yayang ini koran yang sama dengan hari yang lalu…. Dan aku dengan cueknya akan berkata… Tapi Luc, yang jualannya beda orang kok! Hahaha.

What’s your most embarrassing moment?

Apa ya? Pake acara berpikir keras. Dan setelah pake acara berpikir keras, akhirnya aku menyuguhkan cerita ini….

Kejadiannya lebih dari  20 tahun yang lalu. Aku tidak bisa naik sepeda motor, dan temanku berkata bahwa naik motor itu gampang, asal bisa naik sepeda maka bisa langsung lancar. Tergoda aku menuruti ajakannya saat dia menawarkan akan mengajariku, karena dia sendiri tak punya motor maka aku meminjam motor kakakku, motor baru untuk pergi kuliah kakakku.

Benar saja dengan intruksi dari Airin (kawanku) aku bisa langsung naik motor, hari itu kami menjelajahi jalan buah batu, jalan dimana rumahku berada dan  terus menyusuri jalan bypass masuk komplek Batu nunggal dan kembali ke jalan cijagra I dimana rumah Airin berada, sebelum kami sampai ke rumahnya kami melihat tukang durian di pinggir jalan, kami sepakat untuk membeli dua buah durian. Setelah Airin duduk di belakang punggungku, aku memberikan aba aba padanya untuk duduk dengan benar, karena kedua tangannya penuh membawa durian di kiri dan kanan. Saat Airin berkata bahwa dia telah siap sekonyong konyong aku terkesima saat ada motor besar keren, dikenderai cowok ganteng.

Tak tau naluri penyerang atau terkesima dengan kegantengan cowok yang bak artis itu, motor yang tengah aku kendarai  langsung aku belokan menuju arah si ganteng tadi, namun karena kemampuan mengendarai motor belum terlatih, setelah belok sebanyak 90 derajak aku malah tancap gas dan motor meluncur terus ke arah selokan cukup besar. Motor beserta dua anak manusia dan dua buah durian ranum tergelincir dengan mengenaskan di selokan.

Orang berdatangan menolong kami, motor diangkat, kami diselamatkan. Dan durian juga tentunya tak ketinggalan ikut diangkat dalam keadaan tak muungkin dimakan karena masuk ke ari selokan. Aku berdiri dengan pakaian basah, untungnya hanya luka baret saja, begitupun Airin.

Saat kami masih dalam keadaan tak tau apa yang terjadi antara shock dan malu, tiba tiba aku melihat si ganteng ada di depan kami. Sudah turun dari motor besarnya, mengenakan celana jins dengan kaos oblong putih dan sepatu mengkilat, persis di film film telenovela, pria gagah tampan dan bersih menyelamatkan gadis kucel dan kotor.

Kalian tidak apa apa? Tanyanya ramah. Tangannya berlepotan air selokan, dialah yang menyelamatkan motor kakakku, bukan aku! Hahaha. Jadi tak perlu kuceritakan seperti apa mukaku saat itu. Aku malu luar biasa. Rasanya aku jatuh cinta pada pandangan pertama, entah cinta atau merasa diri konyol, entahlah. Aku menelepon ayahku, beliau datang dengan kakakku ke rumah Airin,  membawa baju salin sesuai permintaanku. Tak kuketahui kabar si lelaku ganteng itu, namun ada kabar baik yang bisa aku sampaikan pada kalian semua…..

Yakni aku dan Airin masih bisa menikmati buah durian yang telah nyemplung ke selokan, setelah durian tersebut dimandikan ternyata jadi cantik kembali dan kami membukanya bersama sama dan memakannya dengan lahap diiringi cerita tentang si ganteng.

 

 

Note: Kepada Airin dimanapun kamu berada, aku rindu padamu. Terakhir kali kami berkirim kabar, kau telah kembali ke daerah asalmu, telah menikah dengan seorang pegawai BRI, memiliki dua orang anak perempuan dan tinggal di Parigi Sulawesi. Mimpiku, kau membaca cerita kenangan kita kemudian mengontakku.

 

The Best Day of Your Life to Date

Jujur aku tak tahu kapan tepatnya hari terbaik yang aku rasakan hingga saat ini.  Apakah hari perkawinan? Saat orang yang aku keceng ternyata bilang suka juga padaku? Saat pertama kali pergi ke Eropa seorang diri dan pake uang sendiri (hasil kerja) tanpa dibiayai satu euro pun oleh orang tua? Mungkin  saat pertama kali pergi ke luar negri  dan itu seorang diri ke negara yang diidamkan pula, Jepang? Atau saat kelahiran si kembar?

Sepertinya yang terakhir bukan! Ya, hari kelahiran si kembar bukan hari favoritku. Ternyata hari yang  aku kira bukan  hari favoritku ternyata membawa dampak pembelajaran bagi kami semua. Betul kata orang bijak, Tuhan akan menunjukan jalan terbaik untuk kita, walaupun awalnya itu bukan yang kita inginkan tapi sejatinya itulah yang terbaik untuk kita.

Dan hari terbaik hingga saat ini menurut versiku hari ini ini adalah, saat aku bertemu kembali dengan dokter Verhulsdonk, seorang dokter kandungan yang membantu kelahiran Cinta dan Cahaya. Hari itu di awal bulan November, aku sama sekali tak ingat hari apa atau tanggal berapa, untuk pertama kalinya aku ikut, aku masih mengenakan kursi roda, Cahaya ada di pangkuanku sementara Luc sambil menggendong Cinta menggunakan gendongan bayi di dadanya, dia harus pula mendorong kursi rodaku.  Kami datang khusus ke rumah sakit sambil membawa tiga buah kue taart yang sengaja di pesan Luc, untuk tiga departemen di rumah sakit, IC Thorax, IC dan high care Kinder Sophia. Tiga departemen di rumah sakit Erasmus dimana aku dirawat selama dua bulan lamanya.

Di Kinder Sophia lah kami bertemu dokter Verhulsdonk. Dia memeluk erat diriku, berbicara dengan antusias pada Luc menggunakan bahasa Belanda yang tak aku mengerti saat itu, bercerita kesana kemari mengucapkan berkali kali selamat pada diriku dan bersyukur bisa bertemu kembali dengan diriku dalam keadaan sehat. Dia bersikukuh akan mempertemukan ku dengan dokter Cornet, dokter kepala yang menangani kasusku saat itu, namun pada saat di chek dimana biasanya dokter Cornet berada, beliau tidak ada di tempat.

Kemudian sebulan kemudian aku bertemu dokter Cornet untuk control. Beliau tidak mengecek kesehatanku sama sekali, karena pertemuan kali ini hanya prosedur rutin bagi pasein yang pernah lama berada di rumah sakit dan sakit parah, kami hanya berbincang bincang saja. Pembicaraan yang berkali kali membuat kami (aku dan Luc berkaca kaca) saat dokter Cornet bercerita akan ketidak percayaannya saat melihat diriku bisa berjalan. Tak pernah dia sangka sebelumnya. Menurut perkiraan dokter di Erasmus termakut 17 dokter paru paru yang menangani kasusku mereka berkata, sekalipun aku bisa sembuh, aku hanya bisa duduk di kursi roda saja tak mungkin bisa berjalan! Sambil berkaca kaca aku berkata pada dokter Cornet bahwa ini semua adalah sebuah keajaiban yang lansung disambut dengan tegas oleh dokter Cornet. Yes, it is a miracle! Namun dalam hati aku berkata semuanya sudah diatur oleh Yang Maha Pengatur. Tak ada sesuatupun yang berupa kebetulan, semuanya sudah ada jalannya.

Dan moment pertemuan dengan dokter Cornet saat aku sudah bisa berjalan adalah moment terbaikku saat itu, hari terbaikku hingga saat ini. Hari itu aku melihat wajah Luc yang menahan emosi bahagia, menahan air matanya supaya tidak jatuh saat dokter Cornet mengucapkan terima kasih pernah menjadi bagian dalam menangani kasusku, berterima kasih karena mengenal kami. Dia berkata bahwa aku adalah seorang wanita yang kuat, namun saat dokter Cornet berkata begitu aku malah teringat ucapan huisartku saat datang ke rumah untuk mengontrol kesehatanku, dia berkata bahwa aku seorang wanita yang kuat bukan saja karena kuat fisiknya tapi kuat secara mental. Dan tentu saja perkataan dokter keluarga ini membuat aku ternganga.

Dan itu membuat aku selalu bersyukur telah diberi nikmat sehat.