Pengalaman jadi petugas penghitung suara Pemilu (Verkiezingen) di Belanda

Pada tanggal 15 Maret 2017 di Belanda dilakukan pemilihan umum untuk Tweede Kamer (parlemen). Pemilu kali ini melibatkan 28 partai yang ikut bertarung. Ada 150 kursi yang diperebutkan. Setiap partai akan mencantumkan para kandidat yang dapat dipilih. Karena banyaknya para kandidat bahkan ada partai yang mencantumkan 80 orang kandidatnya dibawah partai yang diusungnya, maka  setiap rumah dikirimi contoh surat suara agar kita dapat membaca/tahu siapa siapa saja para kandidat yang akan bertarung dan setidaknya para pemilih bisa mencari tahu di internet orang seperti apa yang akan kita pilih.

IMG_20170315_194805584[1]

Seperti ini contoh surat suaranya. Nama partai ditulis paling atas, kemudian berurutan (kebawah) tercantum nama kandidatnya. Contohnya: Partai no. 1 VVD yang diikuti nama Mark Rutte di urutan pertama. Nomor dan nama partai berjejer dari kiri ke kanan. (lupakan wajah suami yang berakting kaget tapi tak berhasil)

Sekitar dua bulan yang lalu, suami secara tak sengaja membaca lowongan untuk menjadi petugas penghitung suara pemilu, dia berseloroh padaku via email… mungkin ini cocok buat kamu berhitung secara kamu dulu seorang cost control. Aku hanya tersenyum membaca suratnya namun tetap membuka link ini dan mengisi biodata diri untuk diikutkan menjadi petugas penghitung suara. Dan memilih sendiri dimana aku ingin ditempatkan, tentu saja aku memilih tempat pemilihan yang paling dekat dengan rumah.

Dua hari berselang aku mendapat email balasan dari panitia pemilu bahwa aku dinyatakan layak untuk jadi petugas penghitung (artinya tidak punya catatan kriminal hihihi) dan diminta untuk mengisi data tambahan setelah diberi kode untuk masuk ke site yang lain. Ada isian nomor rekening (untuk honor yang akan diterima) dan nomor plat mobil untuk memastikan biaya parkir akan ditanggung pula.

Setelah aku dinyatakan pasti akan datang membantu di stembureau no. 127, pihak panitia mengirim email yang berisi folder yang harus aku baca dan  video training yang harus aku pelajari sendiri di rumah. Membaca tahapan yang akan terjadi di tempat pemilihan yang berlembar lembar, aku langsung gak pede, ada sedikit takut gak bener dalam berhitung yang langsung disemangati oleh Luc…. Oh came on…. masa ngitung gitu aja takut, itu itungan yang bisa dilakukan anak anak seumuran Cinta Cahaya, oh lalala. Dan aku pun nyengir menyadari betapa penakutnya diriku.

Dan hari H pun tiba, aku akan bertugas dari pukul 9 malam hingga pukul 2 pagi. Tepat setelah pintu tempat pemilu (stembureau) ditutup, dimana tak seorangpun diperbolehkan untuk  mencoblos melebihi jam 21:00.Tempat pemilihan dibuka dari pukul 7.30 hingga pukul 21.00, yang terdiri dari dua shift. Pukul 15.30 shift pertama akan digantikan oleh shift 2 yang bertugas hingga selesainya perhitungan suara. Kemudian pada pukul 21.00 datang dua orang ekstra teller untuk membantu proses penghitungan, satu diantaranya adalah diriku.

Pukul setengah 9 malam, aku sudah keluar berjalan kaki ditemani Luc dan si kembar. Luc akan datang untuk memberikan suaranya dalam pemilihan ini, tak lupa dia membawa kertas undangan yang telah dikirim beberapa minggu sebelumnya via pos dan juga identitas diri. Pemilu Parlemen (Tweedekamer) hanya berlaku pada pemegang paspoort merah alias mereka yang berkebangsaan Belanda, sedangkan diriku yang bukan warga negara Belanda tidak punya hak suara untuk ikut dalam pemilu ini, namun hanya sebatas pemilihan daerah atau gemeenteraadsverkiezingen. Keikutsertaanku pada pemilihan daeran pernah aku tulis disini.

Aku duduk di kursi yang tersedia saat Luc masuk ke bilik suara sedangkan Cinta dan Cahaya asyik memilih coklat yang ditawarkan oleh petugas disana (yang pada akhirnya keresek coklat itu diberikan padaku saat tugas penghitungan usai). Saat aku duduk menunggu, datang seorang lelaki muda yang dandananya rapi sekali, mengenakan coat hitam panjang dan syal hitam glamour mirip artis artis yang ada di TV, dia wangi sekali. Saat mengulurkan tangannya padaku dan menyebutkan namanya dengan gaya anggun dan kemayu seperti dokter Boyke aku langsung nyaman akan bekerjasama dengannya, dia adalah petugas penghitung suara tambahan juga seperti diriku.

Suami dan anakku segera pulang, kemudian lubang kotak suara ditutup karena waktu tepat menunjukan tepat pukul 9 malam, voorzitter atau ketua stembureau segera memerintahkan anggota yang bertugas dipintu masuk untuk mengunci pintu, dimana seorangpun tak boleh masuk ke ruangan tempat kami menghitungg suara. Petugas pintu masuk itu seorang wanita muda yang kemuadian saat aku mengobrol dengannya dia adalah seorang dokter yang bertugas di rumah sakit dimana aku dulu pernah dirawat.

Tahapan pertama perhitungan adalah:

1. Kotak suara dibuka, seluruh isi kertas suara dihamburkan dilantai, voorzitter memeriksa isi kotak memastikan tak ada kertas suara yang tertinggal.

2. Kami para petugas membuka satu persatu kertas suara dan mengelompokan kertas suara tersebut satu persatu ditumpuk dimeja yang telah disediakan berdasarkan nomor partai, kami membuat 11 meja yang diletakan melingkar meja nomor satu hingga sepuluh adalah meja partai yang paling banyak dipilih sedangkan meja nomor sebelas adalah meja yang berisi tumpukan kertas suara dari berbagai partai dari partai nomor 11 hingga nomor 28, yang kemudian aku meminta dipasangkan lagi satu meja untuk partai nomor 11 yaitu partai 50plus yang ternyata banyak dipilih, karena adanya meja tambahan sehingga meja ke 12 dijadikan meja untuk partai nomor 12 hingga 28.

 

IMG_20170315_212951781[1]

Ehmmm siapa dia yang orangnya lebih kecil dari kertas suara?

3. Setelah kertas suara tersusun rapi berdasarkan partai barulah kami melakukan perhitungan tahap satu yaitu perhitungan cepat. Berapa total masing masing suara dari setiap partai, kemudian disebutkan pada voorzitter yang langsung menginputnya secara online ke komputer. Dari dua belas meja aku berhasil menghitung tiga meja, sedangkan orang yang menghitung berjumlah 6 orang.

4. Setelah perhitungan secara cepat dilakukan (perhitungan tahap pertama), kemudian perhitungan tahap dua dilakukan. Dari setiap meja kami harus mengelompokan nama nama berdasarkan kandidat yang terpilih. Misalnya dari partai nomor 1 VVD, berapa orang yang memilih Rutte dan berapa orang yang memilh kandidat lainnya, semua itu kami catat di kertas yang telah disedikan. Setelah selesai mengelompokan para kandidat kami menghitung total keseluruhan dari satu partai tersebut, menulis nama kita beserta paraf dikertas yang telah kita tulis dan menyerahkannya pada vorzitter kemudian voorziter memasukannya pada komputer memeriksa apakan perhitungan kita sama dengan yang pertama, jika berbeda kami memeriksa ulang dibantu anggota lainnya..

Setelah kami selesai berhitung dan melaporkan pada voorzitter, sang ketua berteriak gembira karena tidak ada selisih antara surat suara yang telah keluar (yang telah diberikan pada pemilih) dengan surat suara yang masuk yang telah kami hitung.

Lalu dimulailah ketidaksesuaian antara video yang aku pelajari dan kejadian dilapangan. Kami semua membereskan semua peralatan yang telah dipakai, meja meja dikembalikan ke tempat semula. Kami menyortir semua barang yang harus dikembalikan pada tempatnya. Apa yang harus disimpan dikotak suara yang kemudian dikunci, apa yang harus disimpan di doos/kotak bewarna hitam, apa yang harus dimasukan ke tas voorziter (seperti laptop dan kunci kotak suara) atau apa saja yang masuk ke kotak / doos putih. Aku berkata bahwa kertas bekas tidak boleh disatukan pada kraat hitam tapi seharusnya pada doos putih. Voorzitter terbelalak keheranan saat aku berkata seperti itu, kemudian wakil ketua segera menghampiri laptop dan membaca ulang tahapan yang harus dilakukan, kemudian membacakannya pada voorzitter, sang ketua memandang ke arahku sambil berkata… kamu benar… terimakasih. Opss lega rasanya. Tapi kemudian dia berteriak panik tapi dimanakah doos putih tersebut? Aku tidak pernah melihatnya, ujarnya. Aku segera menunjuk doos putih yang berada tak jauh dari tempat dia berdiri. Semua tertawa lega, dan dengan sigap kami segera memasukan secara benar pada tempatnya.

Portier atau petugas pengangkut telah menunggu kotak suara, kami semua bersalaman saling bergembira dengan pengalaman yang baru diperoleh dan segera kembali ke rumah masing masing kecuali voorziter yang harus menyerahkan tas yang berisi laptop dan kunci kotak suara oleh dia pribadi pada petugas pusat pemilihan umum. Aku tak jadi jalan kaki ke rumah seorang diri pada pukul 2 pagi, tapi aku diantarkan oleh sang wakil sang ketua yang ternyata rumahnya berada di belakang rumahku. Dan aku telah berada di rumah pada pukul setengah duabelas malam. Hanya 2 jam setengah aku membantu penghitungan suara. Waktu singkat dengan sejuta pengalaman.

Luc belum tidur saat aku tiba di rumah, dengan setengah berteriak dan tertawa menggoda pada sang suami aku berkata…. partai perompak (Piratenpartij) pilihanmu hanya  dicoblos oleh tiga orang saja, kamu bisa bergembira karena bukan kamu satu satunya yang mencoblos partai itu. Sambil berseloroh juga Luc berkata, setidaknya ada tiga orang waras yang datang ke stembureau 127 yang menginginkan dunia lebih baik dan damai. Hahaha. Kami berdua tertawa. Shhtssss, bukan berarti yang lain gak waras lho. Disini kami bebas untuk memilih partai apapun sesuai keinginan kami, partai yang mendekati apa yang kami harapkan dari pemerintah. Tanpa saling mencaci atau menyudutkan partai pilihan yang lain. Seperti iklan di TV untuk pemilihan kali ini dimana berdatangan orang orang satu persatu yang diibaratkan partai kemudian bernyanyi dengan nada/suara yang berbeda tapi nada yang berbeda itu menghasilkan harmoni yang indah. Pesannya adalah walaupun berbeda partai namun bertujuan menghasilkan tujuan yang baik.

Bukankah ini lebih indah dan nyaman?

Advertisements

Good, Bad and Ugly

Day 9: Describe The Good, The Bad and The Ugly of yourself

The Good
Hormat pada orang tua, sayang pada orang yang lebih kecil (kurang mampu), jarang berpikiran negatif pada banyak orang, seolah semua orang di dunia ini baik adanya (setidaknya setiap orang ada sisi baiknya). Pffhhh pas baca lagi uraian siangkatnya kok ideal sekali ya? Tapi itulah yang ‘rasanya’aku rasakan tentang diriku. Saking seringnya bersikap polos pada orang orang, kadang jadinya banyak dimanfaatkan juga.

The Bad
Susah mengatakan TIDAK, untuk banyak hal. Susah untuk percaya diri, sehingga kadang diremehkan orang yang baru kenal. Susah melawan jika diserang orang dan memendam kesedihan sendirian. Duh kok banyak banget  sisi negatif diriku, jadi merasa kasian pada diri sendiri hahaha. But don’t worry…. aku sedang belajar untuk percaya diri.

The Ugly
Susah lupa jika disakiti atau dihianati seseorang, padahal sudah memaafkan tapi begitu susah melupakan. Menyalahkan diri sendiri jika berada disuatu keadaan yang tidak menyenangkan, padahal itu bukan akibat kesalahan kita tapi selalu bertanya tanya mungkinkah salahku?

 

 

Titi Nginung

Day 7: Recommended a book for us to read. Why do you think it is important?

Kenal Titi Nginung saat awal kuliah dari membaca cerita Opera Pencakar Langit yang disajikan  bersambung di majalah Hai. Jangan tanya bagaimana alur ceritanya, sudah hilang dari ingatan. Tapi dari membaca dua kali tayang di majalah Hai, aku langsung jatuh cinta, jatuh hati pada cara menulis Titi yang jujur cenderung vulgar, kalimat kalimatnya pendek namun berbobot, jelas dan nyinyir! Maka tak heran aku tak kuat menunggu lebih lama untuk bisa membaca sambungan cerita tersebut dan segera mencari novelnya di Gramedia.

Selesai membaca Opera Pencakar Langit, aku tertarik untuk mencari buku buku Titi lainnya. Tak sengaja aku berkata pada ibuku…. Heran kok Titi cara bertuturnya seperti bukan seorang wanita, tapi kayak laki laki. Ibuku memandangku terbelalak, dan balik bertanya? Yayang kamu tak tahu siapa Titi Nginung? Dia kan Arswendo Atmowiloto!

Aarrgghhh, mengertilah aku, mengapa tulisan Titi begitu jujur, kuat dan luwes. Ternyata Titi Nginung adalah salah satu nama samaran Oom Wendo. Dari opera pencakar langit, aku segera membeli buku Opera Jakarta, Opera Jakarta-Hongkong yang segera mengisi lemari novelku menemani buku buku karya Arswendo lainnya dengan nama samaran lainnya yaitu bung smas.

Tau Noni kan? Bukan…. bukan noni nyanya sepatu yang tinggal di Medan itu. Tapi Noni dalam novel karya bung smas yang bukunya sudah  aku koleksi sejak jaman SD dulu, mulai dari Nyanyian ibu hingga Sakura berduri. Itulah sebabnya saat aku membaca blog Noni langsung saja ingatanku pada buku buku masa kecilku, apakah Noni yang ini seperti Noni nya Godek, Noni Pragawati dari Krapyak? Yang suka wingko babat, berambut pendek dan tomboy?

Jadi jika ditanya buku apa yang dapat aku rekomendasikan untuk dibaca dan kenapa menurutmu penting? Jujur aku tak bisa menjawabnya. Tidak ada judul yang langsung meloncat dari pikiranku kecuali sebuah judul yang selalu aku ingat….. Gadis Pantai karya Pramudya Ananta Toer!

Maaf kok jadi loncat ke Pram, baiklah mari kita kembali ke bung smas. Buku lain dari bung smas yang begitu aku cintai hingga ke ubun ubun adalah serial Pulung. Jika Noni dan Godek-nya, maka Pulung dan Nansy-nya. Sang sahabat yang telah tiada yang tewas karena terjatuh ke kolam tak berair di belakang villa saat dia berjalan dalam tidur. Aahhh bungg smas… kau buat cerita untuk anak anak yang bagiku bagaikan cerita horor!

Jadi kenapa karya Titi Nginung yang aku rekomendasikan? Karena pembaca blog ini sudah dewasa dan penulis favoritku adalah Arswendo, maka yang tepat direkomendasikan disini adalah novel novel dari Titi Nginung. Bukan Noni, Pulung, atau Imung sang detektif cilik yang korengan!

Adakah dari kalian yang pernah berakrab ria dengan karya Titi Nginung?

Day 6: Masih tidak bisa lepas dari Facebook

What’s something you’ve always  want to do, but haven’t? Why not?

Ingin keluar dari face book! Tapi belum juga. Errghhhh…… Padahal simpel kan tinggal gak usah nengok atau hapus FB di HP dan selesai!

Tapi ternyata tidak semudah itu………..
Keinginan untuk melepaskan diri dari FB sudah ada sejak lama, rasanya pernah juga ditulis di blog (pas cari cari kok gak ketemu, lupa judul apa?). Usaha untuk menghindari facebook sebetulnya pernah berhasil beberapa tahun yang lalu namun untuk beberapa bulan saja, setelah itu kembali lagi suka nengok nengok. Hingga kini, apalagi setelah dengan mudah di install di HP.

Kenapa sih susah sekali? Padahal sudah banyak teman teman di listku yang sudah tidak aktif lagi di FB. Tapi kenapa aku susah sekali lepas ya? Why?

Padahal aku jarang pasang status atau apa, tapi herannya nengok facebook bisa tiap hari trus anteng baca tayangan tayangan ajaib disana apalagi kalau sudah baca postingan di sebuah grop disini.

Jika dilukiskan perasaanku pada facebook seperti benci tapi rindu. Ada yang hilang jika aku belum menengoknya, rasanya aku gak keren karena masih sibuk mantengin FB daripada baca buku atau kegiatan apalah yang rada kerenan dibanding lirik lirik medsos, ada perasaan bersalah dan rasanya aku semakin mundur kebelakang (Upss mundur  ya kebelakang)!

Adakah dari kalian yang bisa kasih tips jitu buat aku? Atau adakah yang serupa, ingin keluar tapi masih juga mantengin?

Oh ya, aku pernah baca postingan Emy (crossing borders) tentang labirin FB, dicari cari kok ga nemu ya? Mungkin aku bisa belajar dari dia, cara ninggalin FB…….

 

 

Een brief voor de Koning: Mag ik dineren met u?

koning 50 jaar

Zijne Majesteit de Koning,

Ik ben een vrouw met een grote droom. Ik wil graag één van de 150 Nederlanders zijn die uitgenodigd worden ter geledenheid van uw 50ste verjaardag voor een feestelijk diner op vrijdagavond 28 april 2017 op het Koninklijk Paleis Amsterdam. Maar ik ben geen Nederlander, ik ben een buitenlander van Indonesische nationaliteit. Indonesie, kent u dat nog? Ja, dat is het. Een mooi land met veel verhalen!

Als ik met u dineer, mag dan mijn familie mee? Ten eerste wil ik mijn vader mee. Waarom mijn vader? Omdat hij een culinair avonturier is. Hij wil alles proberen. Hij is iemand die houdt van praten en hij kan ook goed luisteren. Soms begrijpen we hem niet omdat hij te slim is(verstooide professor). Maar maakt u zich geen zorgen hij is erg aardig. Hij is nooit boos, natuurlijk zal niemand dat zijn als ze dineren met de Koning.

Ten tweede wil ik graag ook mijn moeder mee. Zij houdt van sprookjes. Dineren met Koning  lijkt een beetje op een sprookje.

Zijne Majesteit de Koning, mag mijn man ook mee? Hij was verliefd op koningin Maxima.Gelukkig heeft hij mij gevonden. Hij vindt dat ik mooier ben dan Maxima. Eehhmm, sorry!

Omdat ik een moeder ben, wil ik graag mijn dochters mee naar het diner nemen? Ze zijn nog niet 20 jaar oud, maar helaas moet ik de regel breken. Mijn tweeling van 7 jaar  neem ik dan mee naar het diner omdat ik geen oppas kan regelen.

Bedankt voor uw begrip. Ik hoop dat u mijn brief leest, dus kunnen we elkaar leren kennen en samen een mooie ervaring hebben.

 

Met vriendelijke groet,

Yayang Neville
Een kleine vrouw van 43 jaar oud met grote dromen.

 

Note:
Day 5: If you could have dinner with any five people, who would they be?

 

Day 4: Kue Ladu special

15 days chelenge.png

Baliknya diriku menulis lagi seakan disambut postingannya mbak Yoyen untuk menulis / tantangan menulis selama 15 hari, akhirnya aku pun mencobanya walau tak mulai dari awal karena baru baca  15 day challenge kemarin malam.

Jadi bahasan hari ini adalah,  memori favorit apa sih saat aku kecil dulu? Sepertinya banyak banget, mulai dari cukur rambut sendiri, dikejar anjing hingga jatuh ke selokan kering dan ga bisa bangun karena badan terjepit walaupun terjepit ga sampai setengah jam tapi rasanya berabad abad karena ga ada orang yang lewat buat membantu diriku keluar dari selokan, ih!

Dan yang paling berkesan dalam ingatanku hingga saat ini adalah mengenai sosok mang Yaya dan mang Andi tukang beca langganan aku semasa TK dan SD. Langganan disini memang benar benar langganan yang datang tiap pagi jemput ke rumah dan siang mengantar ke rumah dan bayarannya pun perbulan pula.

Jadi waktu aku TK aku langganan beca buat antar jemput pergi dan pulang sekolah. Mang Andi adalah tukang beca diawal aku masuk TK hingga beberapa bulan kemudian digantikan oleh mang Yaya adiknya mang Andi. Saat penggantian kekuasan itu aku senang sekali digantikan mang Yaya karena beca mang yaya baru, bersih dan lebih besar. Selain beca yang nyaman, mang Yaya sendiri pun orangnya sangat bersih dan gaya, sehingga kami selalu menebutnya mang Yaya gaya. Beralih ke mang Yaya menjadikan diriku bunnya satu satunya anak yang berlangganan beca tapi ada6 anak kecil lainya. Jadi ada tujuh anak yang setiap hari dijemput dan diantar mang Yaya ke sekolah. Tujuh anak dalam satu beca, ajaib ya bener benr kayak sirkus. Jadi tiga anak duduk normal di jok beja, dua anak duduk di kiri dan kanan kayu yang berfungsi sebagai penyangga lengan jika kita duduk normal di sebuah beja, sedangkan dua anak lainnya duduk di stang beca dengan kaki menjulur di jok. Anakk anak yang tubuhnya lebih besar boleh duduk normal bertiga di jok, nah bagian aku dan beberapa teman yang bertubuh mungil hanya bisa pasrah duduk di tempat mengenaskan di kiri dan kanan lengan jok.

Suatu hari mang Yaya sakit, dan tugas mengantar dan menjemput ke sekolah digantikan sementara oleh mang Andi kembali, tak semua anak ditangani mang Andi hanya aku dan Irma saja yang rumahnya berdekatan denganku. Dan hari itu tak sepeti biasanya mang Andi bertanya apakah aku akan ikut mengantar Irma terlebih dulu? Barulah aku yang terakhir diantar pulang, aku setuju. Irma telah tiba di rumahnya dengan selamat, aku masih ada di beca, beca melaju semakin menjauhi rumahku. Aku yang saat itu masih kelas dua SD bertanya akan dibawa kemana diriku. Mang Andi menjawab bahwa dia akan mampir dulu ke rumahnya untuk pipis. Karena aku saat itu masih kecil rasanya jauh sekali baru sampai di rumah mang Andi di daerah Cipagalo, sedangkan rumahku saat itu adalah di terusan buah batu. Tiba disebuah gang yang sempit, mang Andi memarkirkan becanya, menyuruhku menunggu sebentar tapi aku menolak dan memaksa ikut dengannya rasanya takut sekali ditinggal sendirian di beca.

Masih ingat rasanya mang Andi menggandeng tanganku menyusuri gang sempit yang gelap, kemudian kami tiba di rumah yang tak kalah gelap dan sempitnya, ada seorang wanita tua yang menyambut kami, senyumnya mekar saat melihatku, sementara mang Andi pergi entah kemana sepetinya ke jamban umum, aku ditinggalkan bersama wanita tua tersebut yang tak lain adalah istrinya. Dia menyodorkan air putih ke arahku, mengelus rambutku dan berkata bahwa aku cantik sekali.

Mang Andi datang kembali, membawaku kembali menyusuri gang sempit dan gelap, mengambil jalan lain dan tiba disebuah warung kecil. Tak banyak yang dijual di warung tersebut, berbeda sekali dengan warung dekat rumahku, mang Andi menyuruhku untuk mengambil makanan yang aku suka yang ada di warung tersebut. Dengan terpana aku memandangnya tak percaya bahwa aku akan ditraktir oleh seorang tukang beca yang keadannya jauh dari mampu. Aku mengambil kue ladu satu satunya makanan yang tersisa di warung tersebut. Ladu adalah kue yang terbuat dari tepung beras dicampur gula merah yang menyerupai dodol tepung beras yang luarnya ditaburi tepung untuk menghindari lengket di tangan, aku menyebutnya dodol berbedak. Kini ladu bisa aku temui di toko oleh oleh di daerah Garut.

Sepanjang pulang ke rumah aku duduk bahagia di beca sambil mengunyah kue ladu istemewa. Enak sekali. Tiba di rumah aku mengucapkan terima kasih sekali lagi pada mang Andi atas kue ladu traktirannya. Kami sama sama bahagia.

Aku lupa apakah kejadian aku ditraktir mang Andi aku ceritakan pada ibuku atau tidak, kedua orangtuaku bekerj, ibuku baru kembali dua jam setelah aku tiba di rumah. Mang Andi hanya menggantikan tugas mang Yaya selama seminggu saja. Bagiku keduanya adalah my bodyguard. Kadang mang Andi datang ke rumah kami membawa sayur kangkung yang baru dipetik. Dia sudah semakin jarang menarik beca karena tak kuat lagi mengayuh. Aku berlangganan beca hingga kelas tiga SD, karena kami pindah rumah mendekati sekolah jadi aku bisa jalan kaki saja ke sekolah. Mang Yaya masih suka ke rumah kami walau aku tak berlangganan beca lagi padanya, mang Yaya pula yang mengabarkan pada ayah ibuku bahwa mang Andi sakit, orang tuaku datang menjenguk mang Andi. Kemudian tiba suatu hari ibuku datang padaku dengan wajah duka mengabarkan bahwa mang Andi telah berpulang.

Hari ini aku teringat kembali pada kenangan masa kecil itu, kue ladu special dari orang miskin harta yang kaya akan cinta kasih. Bagiku mang Andi adalah orang kaya melebihi siapapun. Tak akan kulupa sosoknya yang selalu megenakan celana panjang warna hijau ABRI dengan topi pet senada dengan celananya, kemeja lengan panjangnya yang lusuh juga berwarna hijau.  Dia menggulung rambutnya keatas ditutupinya dengan topi hijaunya sehingga tak banyak orang tau bahwa dia berambut panjang sepinggang. Sosoknya yang tinggi kurus dengan wajah tirusnya ditambah giginya yang ompong tak mungkin aku lupa hingga kini.

 

Dutch Carnival

Akhirnya kesampaian juga ikut karnaval di provinsi Limburg, provinsi yang teletak di Belanda bagian selatan.

Karnaval dirayakan di banyak kota diprovinsi  Limburg dan  Nord Brabant, biasanya karnaval berlangsung selama tiga hari, mulai hari minggu, senin dan selasa (25, 26, 27 februari), walaupun ada juga yang merayakan hingga enam hari. Perayaan Karnaval erat kaitannya dengan perayaan umat Katholik. Karnaval itu sendiri bisa diartikan perayaan menjelang Rabu Abu (Ash wednesday), bisa disebut perayaaan sebelum puasa selama 40 hari hingga tiba hari Paskah.(diambil dari penjelasan wiki)

Karnaval dapat dianggap sebagai ritus perjalanan dari gelap ke terang, dari musim dingin ke musim panas, perayaan festival pertama di awal tahun. Karnaval  diadakan pada saat liburan sekolah, liburan musim semi (voorjaar vakantie) selama seminggu. Banyak dari penduduk kota yang merayakan Karnaval mengambil libur kerja untuk ikut merayakan karnaval. Dan jangan heran jika banyak toko toko yang tutup selama tiga hari. Seperti tujuh tahun yang lalu saat  aku melihat karnaval di kota Venlo, restaurant cepat saji MacD pun ikutan tutup selama karnaval.

Karnaval dimulai setelah walikota menyerahkan kunci kota ke pangeran karnaval. Pangeran (prins) Karnaval itu sendiri dipilih sebelumnya pada tanggal 11 november. Pangeran inilah yang akan bertanggung jawab pada perayaan karnaval. Biasanya si Prins karnaval adalah orang kaya, yang akan dengan mudah mengeluarkan uang untuk mentraktir angota anggotanya minum minum, konon biaya minum minum selama karnaval berlangsung bisa mencapai ribuan euro yang dikeluarkan oleh sang pangeran.

Kini tak banyak yang merayakan karnaval karena berhubungan dengan agama, mereka berpartisipasi ikut merayakan karnaval hanya untuk hiburan semata. Contohnya diriku! Aku datang bersama teman teman ke kota Sittard untuk ikut karnaval. Seorang teman yang tinggal di kota Born telah merelakan rumahnya diserbu rombongan kami berlima, ibu ibu asal Bandung yang telah saling kenal selama masih tinggal di kota Bandung, teman satu SD, teman satu SMA, teman kuliah bahkan teman main masa kecil yang kini sebagian dari kami telah melewati umur setengah abad, tapi toch kami masih bisa tertawa ceria ikut larut dalam acara karnaval yang berlangsung seru, berdandan heboh dengan baju pinjaman dari sang tuan rumah. Terima kasih Ellen dan Guus!

Seperti yang dikatakan seorang peserta karnaval…. If you can sing, dance and wearing colorful outfit, you more than  welcome to celebrate carnival.

Berikut foto foto yang berhasil diabadikan temanku, Fei.

16904703_10154400997615784_6228448069394247820_o

17038598_10154400983680784_2056309741500836935_o

16904699_10154401012355784_1506372717018401508_o

Berry van Rijswijk (wethouder) bersama penampakan di belakangnya….Salah satu rombongan Raja Salman  yang dibawa ke Indonesia kah? 🙂 🙂

16903113_10154400995590784_4506596096476527533_o16991891_10154401000120784_7077317785665159660_o16836290_10154401014320784_12915699062351124_o

16836609_10154400992450784_4229838677910713200_o

Mereka yang memakai  topi seperti ini adalah mereka yang berkuasa/ pada pejabat dalam karnaval. mungkinkah prins karnaval?

16903282_10154400994120784_3957291548158588232_o16905001_10154401022215784_2938705316740765316_o17016956_10154401034225784_3079755918880481228_o

16939199_10210497361082866_3255886462950994932_n

Bandung Auch hie !!! – Urang Bandung aya di dieu!!!