Apa kabar….

Kangen nulis dan tentunya kangen kalian semua, kangen ngintip ke blog teman teman semua, ikut merasakan bahagia tentang cerita bahagia kalian, terinspirasi jika ada cerita yang bikin jiwa raga tergugah jika membaca cerita pembawa aura positif, pokoknya kangen ngeblog lagi.

Ide selalu berlomba lomba berserabutan hilir mudik di kepala dan pikiran, berloncatan untuk segera dituliskan. Namun langkah kaki untuk datang ke komputer selalu terhalang dengan berjuta alasan untuk tetap tak beranjak dari sofa berwarna ungu dengan spot yang tak satu pun penghuni rumah ini berani duduk disana. Spot itu milk bunda!

Aku sedang berada dalam keadaan yang kurang nyaman. Apakah depresi ringan akibat akan (sedang) datangnya musim dingin? Ahhh tentu bukan, karena jika orang dilanda depresi orang yang bersangkutan konon tidak menyadarinya.

Ini hanya galau saja. Come on Yayang segera lah bercerita. Tapi masa mau cerita curhat?

Pokoknya segini dulu aja deh😬😬😬. Cuma mo tanya apa kabar kalian semua? Semoga hari kalian menyenangkan. Teman teman yang ada di Belanda yang punya anak SD apakah saat ini sedang membantu anaknya bikin suprise buat dibawa ke sekolah? Atau yang punya anak balita sudah nyiapin kado di sepatu kah? Atau apakah kalian seperti aku yang sedang menantikan kado apa yang akan kita dapat saat pakjesavond tiba? Ahhhh, maafkan diriku yang bertanya mengenai urusan tak penting….. Yang jelas jujur dari hati yang paling dalam aku kangen kalian.

Ada yang mau peyek?

Atau gado gado

Hari ini kami makan peyek dan gado gado, seperti halnya hidup ini yang berasa gado gado ada asam asin dan manis, eh itu nano nano ya…. Maaf salah😬.

Kulit Pastel

Sudah seminggu lamanya mengidamkan bikin pastel. Bikin ya bukan makan. Tiba tiba saja terinspirasi saat minggu lalu dibekali dua buah pastel dari seorang teman. Dulu pernah juga bikin pastel untuk pertama kali, tapi langsung berjanji tidak akan bikin lagi diakibatkan keribetan membuat kulitnya.

Dua potong pastel itu aku bawa ke tempat kerja keesokan harinya, aku tawarin pada seorang kolega yang tepat duduk di sebelah ku saat kami break di kantin. Sudah barang tentu si Belanda ini memuji kelezatan pastel tersebut.

Hari senin kemarin sepulang kerja, aku menelepon teman ku itu, aku minta resep kulit lumpia seperti yang dia buat, kukatakan pada nya bahwa aku telah googleling tapi tetap aku ingin tau resep kulit pastel buatan ya karena menurut dia anti gagal.

Dan Inilah resep yang dia gunakan, yang menurut dia hasil pencari an di Internet.

250 gr tepung terigu

50 gr boter

50 gr minyak sunflower

80 gr air

Sejumput garam

Semua diaduk saja, setelah boter ya dicairkan terlebih dahulu. Diuleni hingga kalis, diamkan kira kira satu jam, baru bisa di pakai.

Saat itu aku langsung membuat tiga adonan. Membuat isiannya dari pukul satu siang, dengan harapan pukul 3 siang saat anak anak pulang bisamenyantapnya. Tapi ternyata tidak begitu, aku baru bisa menggoreng sebanyak 7 biji tepat saat makan sore tiba sekitar pukul 6 sore. Pembuatan selanjutnya aku lanjutan pada pukul 8 malam dan baru selesai pada pukul setengah 10 malam.

Dari 3 adonan yang aku buat, berhasil menghasilkan pastel sebanyak 33 buah dengan berat masing masing perbijinya 60 gr.

Melihat perjuangan ku dari siang hingga malam (brenti brenti juga) ternyata membuahkan waktu dan effort yang tidak sedikit. Rasanya pastel yang banyak beredar di toko seharga 1,75 euro satuannya termasuk harga yang murah jiga dibandingkan perjuangan membuatnya.

Biro Jodoh

Bicara tentang permintaan ‘tolong cariin cowok/cewek’ dari beberapa orang kenalanku rasanya bukan bahasan yang terdengar asing di telingaku . Tapi hari ini ditengah suasana mendung yang menyelimuti Belanda dalam beberapa hari terakhir, kok jadinya aku tertarik buat nulis tentang hal yang satu ini.

Kemarin aku menerima pesan App bertubi tubi dari nomor yang tidak dikenal, bunyinya permintaan tolong dicarikan suami, yang ternyata bukan buat dirinya tapi untuk temannya. Pesan itu dilengkapi foto si pencari jodoh tersebut, tak lupa diertakan pula kriteria suami yang diinginkan. Yang menurutku calon yang diminta begitu istimewa dan nyaris sempurna. Sesaat membaca pesan tersebut, emosi sempat naik. Kok berani beraninya tanpa basa basi tanya kabar terlebih dahulu langsung minta tolong ke permasalahan yang satu ini. Namun begitu aku melihat foto profiel yang ada di nomor App tersebut, aku langsung mengenali orang tersebut. Beliau adalah istri dari seorang temanku semasa SMA yang hingga saat ini masih berteman baik denganku. Aku segera melupakan keterkejutanku saat ditodong tiba tiba, menjawab pesannya dengan ramah dan sopan, singkat dan sedikit menyenangkan sang peminta.

Jawabku, Hallo dear…kebetulan untuk saat ini aku tidak mempunyai calon suami yang sekiranya dapat dijodohkan atau dikenalkan pada temanmu itu. Namun, jika ada seorang laki laki yang datang padaku untuk dicarikan wanita, maka aku akan menghugungimu. Ceila, begitulah kira kira jawabanku yang disambut suka cita oleh orang diujung sana. Alamak, maafkan aku yang nyengir membaca betapa antusiasnya walau dijawab dengan kata ‘jika ada’.

Itu bukan satu satunya contoh yang minta dicarikan jodoh. Belum lama ini ada kasus serupa permintaan jodoh, dia adalah temanku semasa sekolah (sengaja kali ini tidak disebutkan, saat sekolah apa. SD, SMP, SMA atau universitas). A, temanku itu tiba tiba meneleponku. Aku menyambutnya dengan gembira, karena setiap kali dia menelepon dia selalu membawa keceriaan. Tapi tiba tiba saja kali ini tema nya jadi tentang permintaan jodoh…. darliiingggg tolong dong cariin aku bule! Awas harus yang ganteng ya, baik hati dan kaya raya! Mendengar suaranya yang riang gembira, aku segera menyuruhnya istigfar saat dia minta bule. Lha, gimana bisa dia minta bule sedangkan dia belum lama ini baru saja menikah dengan seseorang dan tinggal di luar Indonesia? Lalu meluncurlah ceritanya….. Bahwa saat ini dia dalam proses perceraian, menceritakan bahwa suaminya bukan manusia seperti ‘harapannya’ dan kini temanku  sudah kembali lagi ke Indonesia.

Kujawab permintaannya dengan tegas, bahwa aku tidak bisa mencarikan dia bule, kujawab sejujurnya bahwa aku bukan type orang yang bisa menjodohkan dan mau bersusah payah untuk itu. Kukatakan pula bahwa selama aku tinggal di Belanda aku belum pernah mengenal bule yang super kaya seperti standar hidupnya di Indonesia. kusinggung juga padanya mengenai fotonya yang belum lama ini berseliweran di media sosial miliknya yang terlihat bersama dengan artis cantik papan atas ibukota yang menyabet predikat super rich. Tuhhhhh harusnya kamu mencari jodoh dikalangan sana, semburku. Dia tertawa renyah. Ah dia selalu bersahabat dan enak diajak bercerita. Dia yang aku tau tak pernah membedakan manusia dari bentuk fisik, wajah dan kekayaannya. Namun ajaibnya dia minta cowok yang kaya (eh sah sah saja kan?). Dia selalu bisa bercengkrama denganku tentang apa saja dan selalu diselingi dengan humor yang tidak garing.

Setelah kami selesai berbincang bincang, aku tercenung cukup lama. Kehidupan siapa yang tau. Si cantik jelita, berada di lingkungan glamour. Orang yang memandang kehidupannya tidak akan menyangka ada apa dibalik semua gemerlap itu, tentang kekosongan hati seperti yang dia ceritakan. Pencarian yang hingga kini belum dia temukan.