Saat Anak-anak Terbang Sendiri

IMG_20170424_173901282[1]

Children traveling alone? Pernah berpikir tentang membiarkan anak anak terbang sendiri saat mereka dibawah umur? Dulu tak pernah berpikir sampai kesana, hingga dua tahun lalu….. Aku dan suami mulai memikirkan untuk membiarkan si kembar terbang berdua tanpa kami. Hal itu diawali saat aku bilang pada ibu mertua bahwa kami tak bisa tiap tahun menengok beliau di  Portugal. Beliau langsung melontarkan penawaran untuk mengirimkan si kembar tanpa kami, sehingga kami bisa pergi ke tempat lain tanpa anak anak. Luc langsung menyetujui ide itu sebagai usulan yang baik tapi tidak denganku. Rasanya berat sekali membiarkan si kembar terbang berdua saja.

Bulan Oktober tahun lalu rencana sudah dibuat, si kembar sudah siap dikirim saat liburan musim gugur. Namun tiba tiba aku tidak bisa tidur, gelisah luar biasa, beberapa pikiran buruk berseliweran dalam benakku. Hingga aku harus menelepon ibu mertua dan bilang bahwa kepergian si kembar kami mundurkan hingga liburan di bulai mei sebelum liburan musim panas.

Dan panduan inilah yang membuat diriku semakin percaya diri untuk mengirimkan si kembar berdua saja, karena beberapa point dalam artikel tersebut dimiliki pula oleh si kemabr seperti point yang menyebutkan perkembangan emosi dan kemampuan si kembar dalam beradaptasi sangat baik.

Seperti biasa, kami selalu memilih maskapai penerbangan transavia jika akan terbang ke Faro. Dengan alasan praktis, transavia bisa terbang dari Rotterdam Airport dan itu hanya lima menit saja berkendarran dari rumah, penerbangan ini adalah penerbangan langsung dari Rotterdam ke Faro, tidak usah transit dulu di Lisabon seperti beberapa penerbangan lainnya.

Batas minimal untuk terbang sendiri di beberapa maskapai penerbangan berbeda beda. Untuk Transavia anak umur 5 hingga 11 tahun wajib  menggunakan jasa pengantar/pendamping atau disebut begeleider. Biaya yang dikenakan  adalah 50 euro per anak per satu tujuan. Jadi total biaya pendamping untuk dua anak adalah 200 euro pp.

Tiket tidak bisa langsung dibeli online. Karena saat kami mencoba membeli tiket online system selalu saja menolak, mereka selalau menanyakan berapa jumlah orang dewasa yang akan pergi, untuk itu kami segera menelepon pihak maskapai, sehingga merekalah yang menuliskannya di system dan langsung dikirim saat itu juga via email. Ada beberapa formulir yang harus kami isi dan harus kami bawa saat  check in nanti. Dan trala ternyata formulir itu harus dibuat sebanyak 5 copy per satu keberangkatan, alhasil karena dua anak kami harus mengcopy (print out) sebanyak 20 lembar pulang pergi.

Dan tibalah hari keberangkatan, si kembar heboh luar biasa. Aku menyiapkan dua handbagage yang muat dibawa ke cabin, sengaja tidak menyediakan koffer besar dengan tujuan mereka tak perlu mengambil di bagian pengambilan bagage tujunnya agar mereka cepat keluar bandara sehingga nenek mereka tak lama menunggu. (Yang pada akhirnya tetap saja handbagage tersebut tidak dibawa ke cabin untuk memudahkan anak anak berjalan ke atas pesawat, koffer mereka dimasukan ke penyimpanan koffer seperti biasa).

Selain membawa baju seperlunya, mereka juga membawa tutup plastik minuman untuk disumbangkan pada organisasi yang menangani anak anak sakit kanker di Portugal. Kebiasaan ini sudah aku lakukan sejak pertama kali melihat ibu mertuaku selalu menyimpan tutup minuman bekas, saat aku tau alasannya maka sejak itu pula aku ikut mengumpulkan tutup plastik bekas susu dll. Dan salah satu teman sekelas Cahaya, diapun ikut ikutan mengumpulkan tutup bekas minuman juga dan selalu dia serahkan pada Cahaya secara berkala. Tentu saja tutup platik itu tak bisa seluruhnya meraka bawa ke Portugal karena tak ada ruang di koffer mereka.
img_20170504_1007099471.jpg

Tibalah kami di bandara, saat check in dan memasukan koffer, petugas memberikan dua buah tas kecil yang dikalungkan pada leher si kembar. Tas kecil tersebut berisi tiket, passport dan kertas kertas yang telah kami print sebelumnya di rumah, kertas tersebut harus aku tandatangani di depan petugas saat menyerahkan si kembar, tentu saja akupun harus memperlihatkan passportku pada petugas.

Tiga puluh lima menit sebelum pesawat take off kami sudah harus berada di dekat pintu  ruang boarding, saat itu juga ada petugas bandara yang membawa si kembar ke dalam, kami tidak boleh masuk kedalam sehingga kami hanya bisa melihat dari kejauhan saja saat mereka diperiksa seluruh badannya oleh petugas. Ada 4 orang anak dalam penerbangan tersebut yang terbang tanpa orang dewasa.

Setelah mereka masuk ke ruang boarding, aku dan Luc segera berlari ke tempat panorama sehingga kami bisa melihat saat pesawat take off. Oh ya salah satu syarat dari transavia, pengantar tidak boleh meninggalkan airport sebelum pesawat lepas landas. Ternyata anak anak langsung dibawa ke pesawat saat itu juga, kami bisa melihat mereka berjalan didampingi petugas yang membawa mereka dari kami, barulah dua puluh menit setelah anak anak masuk, rombongan penumpang lain baru bisa memasuki pesawat berbondong bondong.
IMG_20170424_194322211[1]

Mereka akan berada di pesawat selama 3 jam lamanya. Setelah anak anak berada di tangan ibu mertua, Angela (ibu mertua) segera menelepon kami mengabarkan si kembar sudah di tangannya. Si kembar datang paling akhir setelah semua penumpang turun, saat penyerahan petugas memeriksa passport Angela dan meminta Angela menandatangi surat surat.

Kini anak anak sudah kembali ke rumah dengan cerita seru selama liburan di provinsi Algarve yang dikenal sebagai  Balinya Portugal,  hanya 7 hari saja. Mereka membawa hasil karya mereka selama berada di club Mozaik dimana Angela terdaftar sebagi anggotanya. Mengunjungi berbagai perkumpulan yang kebanyakan anggotanya kakek dan nenek (begitu cerita si kembar), berbahasa Inggris dengan para anggota, pergi ke toko mainan, dan tak lupa tiap hari nyemplung ke kolam renang yang ada di rumah omanya.

IMG_20170504_114955000[1].jpg

Hasil karya si kembar di club mozaik. Yang atas buatan Cinta (penggemar warna ungu) yang bawah buata Cahaya (pengemar warna pink)

Selama berada di pesawat si kembar menunjukan sikap yang menyenangkan (laporan petugas bandara). Mereka membeli minuman di pesawat setelah sebelumnya aku memberikan uang sebanyak masing masing 3 euro untuk berjaga jaga jika mereka kehausan (setelah sebelumnya aku mengecek terlebih dahulu berapa harga satu minuman ice tea kaleng di dalam pesawat 2,8 euro. Kami orang tua yang pelit, hahaha. Dan ternyata kono uang yang aku berikan tidak mencukupi harga minuman yang mereka beli sehingga penumpang lain yang duduk disamping mereka harus mengeluarkan uang 20 cent untuk membantu si kembar. Hihihi maafkan bunda sayang…. dan terimakasih pada penumpang berhati mulia tersebut.

Saat kembali ke Rotterdam, uang saku yang diberikan Angela pada si kembar ternyata lebih manusiawi, selain bisa membeli ice tea si kembar pun bisa membeli tosti dan masih ada kembaliannya pula yang mereka tunjukan padaku dengan bangga, beberapa cent yang tak mencapai satu euro. 🙂 🙂

Cinta pun menunjukan kertas yang dia warnai selama di pesawat, sambil cemberut dia berkata … masa aku hanya diberikan kertas mewarnai untuk anak dua tahun! Tanya Cinta: mengapa kami tak boleh mempunyai tablet seperti anak lainnya, dan hanya boleh meminjam punya bunda saja itu pun hanya weekend? Anak lain bisa bermain dengan tablet mereka di pesawat, dan kami hanya mewarnai ini? Oohhh…..

IMG_20170504_112622078[1]

Captain Cinta! 🙂 🙂

Cerita Angela sangat positif mengenai si kembar, mereka sangat ramah dan penolong pada orang orang, bahkan  mereka membantu pekerjaan rumah  seperti menjemur baju, mencuci piring sehabis makan dan membereskan mainan mereka dengan baik. Tanpa diminta! Inisiatif sendiri.  Aha!

Dan drama seru lainnya adalah saat penjemputan anak anak di bandara. Mereka berjalan dengan gagah ke arahku, aku peluk Cahaya denagn erat namun dia menangis sesenggukan…. Ohhh mungkin anak ini rindu sekali padaku…. dan ternyata kata kata yang keluar dari mulutnya adalah…. Aku tak mau pulang, aku rindu pada oma Angela hiks hiks hiks. Dan aku pun menangis patah hati! Sepanjang perjalanan di mobil Cahaya benar benar menangis hebat, dia meminta berbicara dengan omanya saat kami tiba di rumah, dan dia tak bisa bercerita dengan jelas pada omanya karena tangisnya menghalangi perkataannya. Omanya berjanji untuk menelepon si kembar keesokan harinya. Esok harinya Angela memang menelepon sekaligus meminta pada kami untuk kembali mengirim si kembar di musim panas tahun ini. Baik aku maupun Luc tak langsung mengiyakan, kami hanya memberikan jawaban…. akan kami pikirkan…..

# Adakah diantara kalian yang pernah  mengalami mengirim anak anaknya terbang sendiri? Atau mungkin kalian sendrilah yang pernah mengalaminya?

 

Advertisements