Kecombrang alias kincung

Dua minggu yang lalu, aku melihat foto bunga kecombrang yang di posting di FB seorang temanku. Begitu esoknya aku bertemu dengan beliau dengan semangat aku bertanya dapat darimana si bunga kecombrang tersebut, karena yang aku tahu di Bandung pun aku sudah sulit sekali mendapatkannya di pasar. Spontan temanku itu yang usianya tak jauh beda dengan ayahku dan biasa aku memanggil dengan sebutan abang kepada beliau, mengernyit bingung saat aku bertanya tentang bunga kecombrang, setelah aku menjelaskan seperti apa bentuk si kecombrang, dia tertawa. Di Medan namanya kincung, katanya. Dan dia berjanji akan membawakan untuk minggu depan.

Dan kini si kincung sudah ada dihadapanku. Senangnya tak terkira.
Teringat masa kecilku saat aku berlibur ke rumah kakek dan nenekku, kakektu tak pernah lupa memetik bunga kecombrang untuk ayahku. Ayahku senang sekali dengan kecombrang, setiap membuat sambal rujak pasti ditambahkan bunga kecomrang yang telah kering. Dulu aku tak begitu suka, tapi semakin aku dewasa aku menjadi penggila kecombrang seperti ayahku.

Kecombrang yang aku kenal sewaktu kecil kuncupnya aku kenal dengan nama honje, honje seperti jantung pisang hanya lebih kecil dan berwarna merah muda. Saat aku buka internet mencari image dari bunga kecombrang, aku mendapatkan gambar yang cantik sekali, kecombrang yang sudah mekar, sewaktu kecil aku tak pernah melihat kecombrang mekar di rumah kakekku.
Image

Kecombrang yang masih kuncup lebih mirip dengan tanaman pisang pisang pisangan hias.
Image

Melihat kecantikan tananman kecombrang ini, membuat hayalanku segera melayang ke rumah orang tuaku di Bandung, akan kusarankan ayah dan ibuku untuk menanam tanaman tersebut. Selain bunganya yang indah manfaatnyapun untuk masakan sangat beragam. (baca manfaat kecombrang)

Dan hari ini, ditengah flu berat yang sedang aku derita, kusempatkan membuka lemari es. Mengeluarkan kecombrang pemeberian dari temanku tersebut, menggiling bawang merah, bawang putih, kemiri, cabe merah dan tomat sekaligus. Menumis bumbu halus tersebut sebentar, menambahkan air, memasukan gula merah, laza, daun salam, bunga kecombrang, buah melinjo (tangkil) yang aku punya (juga untuk pertama kalinya membeli buah tangkil disini), memasukan labu siam yang telah dipotong korek api, terakhir secara bersamaan, aku memasukan daun melinjo, garam dan bumbu masak.
Image
Image

Maka sebelum pukul dua belas siang aku telah menikmati sayur lodeh dengan wangi bunga kecombrang yang sangat menggoda selera.

Selamat makan siang teman teman sekaligus saudaraku di negeri Belanda ini.
Terima kasih oleh oleh kecombrangnya.
Image

Advertisements

Pemilu, Verkiezingenen gemeenteraad en gebiedscommissies

Tanggal 19 Maret 2014 dua hari yang lalu, akhirnya untuk pertama kalinya aku pergi ke pemungutan suara untuk pemilihan dewan kota (gemeenteraad) dan komite daerah (gebiedscommissie) wilayah Overschie dimana kami tinggal.
Image

Semuanya terjadi secara otomatis saja, aku menerima kartu stemmen kurang lebih sebulan sebelumnya lewat pos. Hak memilih akan didapat pada siapapun mereka yang tinggal di Belanda dengan syarat syarat sudah berusia 18 tahun ke atas, dan sudah tinggal minimal 5 tahun disini.
http://www.rotterdam.nl/verkiezingen

Awalnya aku ogah ogahan saat menerima kartu pemilihan, tak tertarik atau tak begitu mengerti menjadi hal yang saling berhubungan. Tapi empat hari sebelum pemilihan terjadi, aku bertemu dengan istri dari dokter pribadiku (yang kebetulan berprofesi sebagai asisten dokter) yang sedang berdiri di depan supermarket bersama seorang pemuda tampan yang sedang membagi bagikan selebaran sebuah partai. Aha mereka berdua sedang berkampanye! Dengan menebar senyum aku melempar senyum pada mereka, tak disangka si asisten memanggil namaku. Hai mevrauw Neville, serunya Waw tentu saja aku kaget, maka kami saling menyapa. Dia bertanya apakah aku akan menggunakan hak suaraku? Yang tiba tiba saja aku jawab dengan mantap, tentu saja! Walau sebetulnya tak pasti, hahaha. Kemudian dia bertanyata kesehatanku dan juga kesehatan si kembar. Di akhir perbincangan yang singkat aku menerima selebaran partai yang sedang dia kampanyekan.

Malamnya, aku bercerita pada Luc dan dengan yakin aku akan ikut memilih. Luc bertanya partai apa yang akan aku pilih, dia juga bertanya apakah aku tau apa bedanya partai kiri dan kanan. Dan aku dapat menjawab dengan benar partai partai apa saja yang termasuk kiri atau kanan, itu karena selalu dibahas di sekolah dan semakin mengertinya aku saat aku melihat berita disini. Tapi saat aku dihadapkan partai apakah yang akan aku pilih, aku masih tidak bisa menjawanb pasti. Kemudian Luc membukan sebuah site di internet. Ternyata site tersebut berupa pertanyaan pertanyaan yang harus aku jawab, dari jawaban yang aku berikan maka akan diberikan hasil yang cenderung sama untuk masukan partai apa yang sebaiknya aku pilih.
http://rotterdam.stemwijzer.nl/

Wow atau sejuta wow patut diberi pujian untuk advis yang diberikan oleh stemwijzer alias panduan cara memilih partai yang sesuai dengan hati nurani atau keinginan kita. Maka tak perlu rasanya aku membaca apa saja yang dijanjikan para partai yang jumlahnya tak kalah seru dengan partai di Indonesia (saking banyaknya).

Luc tertawa saat melihat hasil yang di anjurkan oleh stemwijzer. Wah ternyata pikiranmu tak jauh beda dengan pilihanku, seru Luc. Aku lebih cenderung ke sayap kiri ternyata. Sungguh aku tak tau sebelumnya jika saja tidak mencoba ikut quize stemwijzer tersebut. Yang aku ingat dari hasil yang diberikan dari quize tersebut adalah Partai SP, D66, PvdA, groenliks yang cocok dengan jawaban jawaban yang aku berikan yang sesuai dengan keinginanku untuk menjadi seperti apa Rotterdam nantinya.

Yang menarik disini adalah politik bukan salah satu hal yang menarik untuk membuka sebuah pembicaraan. Tak seperti halnya di Indonesia sepertinya seluruh masyarakat Indonesia seperti paham atau lebih tepatnya menjadi semacam hobi untuk membicarakan apa yang terjadi dengan pemerintahan, contohnya untuk tingkat bawahpun, saat aku berbicara dengan sopir angkot mereka dengan berapi rapi bisa begitu lancar membicarakan tentang keprihatinan mereka pada pemerintah, berkeluh kesah tentang kekecewaan yang selalu mereka alami karena janji janji saat kampanye tak pernah terjadi saat orang terpilih telah duduk di pemerintahan. Hingga akhirnya akan diakhiri dengan kesimpulan bahwa semua partai adalah sama, korup dan tak amanah. Jadi tak heran jika sekarang muncul sebuah nama yang diharapkan menjadi orang yang akan tetap jujur (degan harapan jikalau nanti terpilih) masyarakat kebanyakan begitu antusias untuk memilih dia dengan tanpa melihat partai pendukungnya (apakan paling korup atau tidak). Lihatlah betapa mereka begitu rindu akan kejujuran.

Disini kami sama sekali tak begitu tertarik untuk berbicara politik terutama pada orang yang belum begitu kami kenal. Tapi begitu ditanya partai apa yang akan anda pilih untuk pemilu nanti, mereka tak sungkan sungkan untuk menjawab dengan jujur, tanpa malu malu, tanpa sungkan dan tanpa takut dicemoohkan. Kebebasan mengungkapkan pendapat sepertinya sudah menjadibagian darah daging mereka, bagian dari gaya hidup mereka. Juga saat aku sepulang menjemput Cinta dan Cahaya dari sekolah, ada sebuah partai yang kembali menawarkan selebaran ke arahku, aku menerimanya juga memperbolehkan saat Cinta dan Cahaya ditawari permen loli oleh mereka, tapi tidak dengan seorang ibu yang kebetulan berjalan beriringan denganku. Dia dengan tegas menolak kertas yang disodorkan sambil berkata, partai anda bukan pilihanku!
Image

Dan pada hari rabu dua hari yang lalu, kami berempat datang ke tempat pemungutan suara. Luc menjemput kami dari kolam renang, karena hari rabu adalah jadwal les renang Cinta Cahaya, langsung dari tempat les kami datang ke tempat stemen. Tepat pukul 6 sore, saat kebiasaan orang Belanda makan malam. Lucunya kami disambut dengan aroma stampot saat kami memasuki ruangan pemilihan, ternyata orang yang sedang menjaga kotak suara sedang makan malam, hahaha. Rileks saja. Petugas yang memeriksa kartu stem kami, bertanya ramah padaku, apakah pemilihan ini hal pertama untukku? Yang langsung aku benarkan. Bahkan Cinta dan Cahayapun bisa asyik berbincang dan membantu mencapkan kartu stemku.
Image
Image
Image

Mendapatkan atmosfir yang rileks di ruangan tersebut, aku masih bisa dengan santainya membaca daftar nama nama para kandidat yang tertera di ketas pemilihan. Sedikit terbelalak mendapati nama partai yang belum pernah aku baca dan dengar sebelumnya. Tersenyum simpul melihat ada partai dengan nama Turki nya, yang menurutku pasti didirikan oleh orang orang Turki, dan begitu kembali ke nama partai yang belum pernah aku baca sebelumnya, aku memeriksa nama nama kandidat di bawah partai tersebut, dari delapan belas nama yang berurutan ke bawah hanya ada satu nama yang bernama orang Belanda, sedangkan yang lainnya adalah nama yang berbau Arab. Aha! Pikirku, tahulah aku berbasis apa kira kira partai tersebut. Kemudian aku melirik partai yang telah aku siapkan dari rumah, teringat akan pesan Luc dalam meberi trik mewarnai nama kandidat, usahakn warnailah kandidat yang paling atas, karena biasanya nama yang paling atas adalah nama yang paling berpengaruh di dalam partai tersebut. Pinsil warna merah yang tengah aku pegang hampir aku coretkan ke sebuah nama paling atas di partai yang telah aku siapkan, tapi tiba tiba aku begitu ‘menghormati’ naluri, mataku kembali ke sebuah partai yang baru aku baca hari itu dan tiba tiba saja aku telah sibuk mewarnai di sebuah nama Belanda diantara nama yang hampir serupa. Nama Belanda itu nama yang berbeda dari yang lainnya. Seperti biasanya aku kadang merubah arus, hari itu aku mencoblos nama partai yang baru aku kenal, yang tanpa aku ketahui sebelumnya apa program programnya, aku begitu mempercayakan sebuah nama yang berbeda dari kandidat yang lainnya yang ada di partai itu. Harus ada yang mendukung perbedaan dalam sebuah keseragaman, gumamku menguatkan. Teori yang aneh terdengar. Tapi biarlah, ini hanya tentang politik, yang menurut bawah (atau atas) sadarku adalah sebuah kesia siaan jika diperdebatkan, politik selalu sama. Pikirku tak begitu berpengaruh mungkin apapun partai yang menang, jika berada di sebuah negara yang telah terorganisir secara baik keseluruhan. Maka apapun pilihanku semoga membawa yang paling baik menurut nuraniku.

Dan kini dua hari setelah pemilihan, dunia politik kembali dikejutkan oleh pernyataan Wilders yang mengskreditkan orang orang Maroko di depan umum. Minder Marokkanen, serunya. Dan tentu saja perkataan itu, menimbulkan cemoohan hampir dari segala pihak. Rasis. Bahkan Luc pun yang aku kenal begitu menghargai hampir semua pendapat orang, ikut berkomentar ketika melihat tayangan tersebut, perkataan yang menjijikan, katanya.  Dan kini aku secara berulang ulang kembali melihat cuplikan tayangan tersebut di TV saking banyaknya berita yang menyayangkan atau merasa sebal dengan perkataan Wilders. Kemudian aku berkata pada Luc, apa perasaan orang orang yang ada di ruangan tersebut kini? Apakah mereka sekarang merasa malu dan menyesal telah bertepuk tangan gembira mengamini perkataan Wilders?

Tapi kemudian Luc menjawab pertanyaan yang tak sempat aku lontarkan.
Yayang, semua orang berhak dengan pendapatnya masing masing, tak jadi soal apakah mereka menyesal dengan perkataannya tersebut. Tapi dengan itu kita semakin bisa melihat mana yang baik atau yang kurang pantas. Akan sangat menyedihkan jika kita dihakimi karena darimana asal kita atau apa ras kita, apa warna kulit kita atau karena agama kita. Kita tak bisa dibedakan karena unsur unsur seperti itu. Yang berdeba adalah apakah kita orang baik atau orang tak baik.

Dan diantara perkataan Luc yang panjang lebar, diantara pemberitaan tentang Wilders yang semakin menuai kritik, aku berkata dengan lirih pada Luc, tahukah kau akan partai Nida? Luc menggeleng. Kemudian kami sama sama melihat internet. Betapa terkejutnya kami begitu melihat hasil kursi yang berhasil disabet partai tersebut, dari 45 kursi yang diperebutkan partai tersebut berhasil menyabet dua kursi atau lima persen dari total jumlah pemilih. Prestasi yang sangat besar dari pemilihan sebelumnya yang hanya nol persen tak jelas juga bagiku apakah pemilihan sebelumnya partai Nida termasuk dalam pemilihan partai?
Image

Kemudian sambil tersenyum aku berkata, Luc di hari pemilihan itu aku memilih Nida untuk Rotterdam dan memilih PvdA untuk Overschie. Kemudian  aku menambahkan mengapa aku memilih kedua partai tersebut, Nida karena aku mendapati satu nama kandidat yang berbeda dalam partai tersebut. PvdA karena aku bercengkrama dengan asisten dokter yang sekaligus istri dari dokter pribadiku yang tengah berkampanye dan juga karena aku sedikit mengenal nama PvdA sebuah partai tengah cenderung kiri. Sambil tertawa tawa mendengar alasanku memilih Luc masih sempat berseloroh, jadi kau tak memilih partai berdasarkan advis yang telah aku dapatkan dari stemwijzer? Aku menggeleng sambil berseloroh ke arah Luc, sorry hoor aku tak memilih partaimu. Dan partai yang sesuai dengan keinginanku akan Rotterdam berdasarkan stemwijzer adalah SP alias sosialis partij. Partai ekstrim kiri!

Hahaha, sebetulnya berbicara tentang politik adalah pembicaraan yang sering aku hindari, selain masih berpikiran bahwa semua partai adalah sama saja juga karena menurutku bukan sesuatu yang penting. Tapi seperti anjuran Luc untuk tidak malu dan sungkan mengungkapkan semua pilihan tanpa ragu ragu adalah salah satu terapi untuk belajar tegas dan berani. Selama  pilihan dan pendapat itu tidak mengganggu orang lain, mengapa tidak? Bukankah dari situ kita juga jadi semakin menghargai pendapat dan pilihan orang lain?

Hhmmmmmmm dengan menarik nafas panjang, aku segera menyudahi tulisan panjang ini, semoga aku tak menulis tulisan yang menyinggung pihak lain. Peace.

Bunga gratis

Tadi pagi begitu selesai belanja di supermarket, seorang pelayan yang sedang membereskan bunga menyodorkan satu bos bunga tulip kearahku. Voor u mevrouw, katanya ramah. Dan langsung disambut senyum sumringah dariku sambil menjawab dank u wel, kearahnya.

Tiba tiba saja hariku begitu indah dengan dihadiahi bunga tulip dari supermarket melalui tangan pemuda yang bekerja di supermarket tersebut. Bukan hal yang aneh jika supermarket selalu mengadakan promo, biasanya seperti hari valentine selalu ada selebaran yang menuliskan akan mendapatkan bunga mawar merah jika anda berbelanja di hari tersebut dari jam sekian hingga sekian. Tapi saat aku mengecek di selebaran promosi tak ada bunga tulip gratis yang dibagikan untuk hari ini. 
Image

Luc, pernah bercerita bahwa konon orang Belanda suka sekali kalau ada gratisan. Tapi saat aku perhatikan jika di pusat kota atau keramaian, ada suatu produk yang sedang mempromosikan produknya secara gratis maka yang berbondong bondong menyerbu gratisan tersebut adalah diriku dan orang orang yang bukan ber’ras’ seperti bangsa Belanda, melainkan bangsa pendatang. Salah satunya adalah diriku. Yang biasanya selalu dijegah oleh Luc untuk ikut menerima produk gratisan tersebut. Tapi ucapku, kasian ga ada yang antri.

Yang paling sering aku temui perusahaan coca cola yang sering membagikan coca cola gratis, dan seperti biasanya coca cola zero yang dibagi bagikan. Juga pernah fanta orange, dan minuman energy drink baru. Yang paling aku sukai tentunya jika klub sepakbola sedang membagikan kaos gratis, kaos gratis tersebut aku kirimkan ke Indonesia, hahaha.

Berikut foto foto yang aku miliki saat mendapatkan gratisan di pusat keramaian.
Image

minuman gratis dari Aquarius.

Image

Kaca mata oranye dan fanta orange gratis saat koninginedag 2013

Antwerpen

Ini kali kedua aku datang ke kota Antwerpen. Masih tetap menarik dimataku.
Bangunan tua yang selalu menjadi daya tarik para turis dari manapun, kuliner yang lebih bervariasi dari pada di Belanda, hingga orang yang berlalu lalang di Antwerpen bisa begitu menarik perhatianku. 

Maka Antwerpen adalah termasuk kota yang akan aku kunjungi kembali, selain jarak yang bisa ditempuh tak lebih satu jam dari Rotterdam, kota ini bisa begitu menawarkan berbagai macam pilihan. Seperti hari ini kami berencana menjadi tourist di Antwerpen. Pejalanan di mulai dari Grote Markt, dimana City Hall berada atau stadhuis dalam istilah Belanda dimana tempat layanan untuk rakyat (balai kota) berada.

Seperti kota kota lainnya di eropa, jika berdiri gedung City Hall maka (selalu) ada lapangan (main square) di depannya. Ada yang menarik di halaman stadhuis di Antwerpen yaitu berdirinya patung  Silvius Brabo.
http://nl.wikipedia.org/wiki/Brabofontein
Image

Dari Balai kota kami segera berjalan menyusuri jalan jalan yang berpencar ke berbagai arah dimana pertokoan kecil dan bermacam cafe berada. Pertokoan yang banyak di dominasi toko pakaian kecil dan berbagai macam toka souvenir juga banyak dijumpai para pengamen atau pemusik jalanan. Tentu saja setiap pemusik jalanan tersebut selalu dinikmati oleh Cinta Cahaya, maka siapkan lah uang receh, karena Cinta Cahaya sudah hapal jika ada pengamen maka dia harus memasukan uang cent an pada tempat yang disediakan, bahkan mereka suka sekali berhitung ada berapa buah uang yang ada di bungkus gitar atau biola yang biasanya diletakan di depan pengamen tersebut.
Image

Sambil menyusuri jalan jalan dengan cuaca yang cerah seperti hari ini, Cinta Cahaya dihadiahi es krim coklat yang menambah semangat dan suka cita. Akhirnya pilihan kami untuk makan siang jatuh ke restaurant Jepang Zoawang.
http://www.zaowang.be/
Restaurant tersebut mendapat resensi yang baik bagi para penggemar sushi di Antwerpen, tapi tidak untuk kami. Hanya nilai it’s ok dari Luc yang artinya biasa biasa saja, dan hanya ‘hhmmmmmm’ dari ku. Entah ada yang salah dari lidah kami tapi kami tak mendapatkan rasa yang istimewa dari pesanan kami, Luc memesan curry noodle sedangkan aku satu set mix tempura. Hanya Cahaya saja yang tampak menikmati mie goreng pesanannya yang dibagi dua dengan Cinta, dan sayangnya Cinta hanya mampu makan beberapa suap saja. Tapi yang menjadi nilai yang baik adalah layanan yang super ramah dari pelayan di restauran tersebut.Image 
Image

Keluar dari situ kami melanjutkan perjalanan, tak menggubris rengekan dari Cinta Cahaya yang ingin naik delman istimewa di Antwerpen, sebagai gantinya Luc membolehkan Cinta Cahaya membelai kuda yang sedang tak menarik penumpang itu.
Image
Image

Setelah itu kami beranjak pergi menuju pinggiran laut atau pelabuhan Antwerpen tepatnya. Antwerpen adalah kota pelabuhan kedua terbesar di eropa setelah Rotterdam. http://en.wikipedia.org/wiki/Port_of_Antwerp
Dan yang menarik di Antwerpen adalah kastil tua yang ada di pinggir dermaga yang dikenal dengan  nama Het Steen atau Stone Castle.
http://en.wikipedia.org/wiki/Het_Steen
Image
Image

Memasuki gerbang kastil kami disuguhi pengamen yang memainkan biola dan trompet.
Image

Menaiki kastil dan berjalan terus ke dalam maka di akhir atau belakang kastil maka kita akan disuguhi pemamdangan indah tepian laut dan kami bisa melihat jauh dengan bantuan teropong yang tersedia di pinggiran dermaga.
Image

Dari situ kami kembali ke grote markt dengan tujuan tempat parkir diaman mobil kami terparkir, tanpa senganja kami melewati Vrouwekathedraal, salah satu gereja bersejarah di Antwerpen.
http://en.wikipedia.org/wiki/Cathedral_of_Our_Lady_(Antwerp)
Image

Sebelum menuju mobil, maka tak lengkap rasanya jika jalan jalan di Belgia tidak diakhiri dengan oleh oleh coklat untuk dibawa pulang ke rumah, seperti kebiasaan Luc yang harus membawa coklat jika sehabis jalan jalan dari Belgia. Karena waktu yang merambat cepat aku tak sempat mengajak Luc ke pabrik coklat seperti yang pernah aku kunjungi pertama kali ke Antwerpen saat tak bersama Luc dua tahun yang lalu, sebagai gantinya kami hanya mendatangi toko coklat yang ada di sekitar vrouwekathedraal dan membeli sekotak coklat untuk dibawa pulang.
Image

Didalam toko coklat aku tersenyum melihat tulisan cerdik yang ada di dalam toko, It’s true that money doesn’t buy Happiness, but does buy chocholate which is a kind same thing. Hahaha, baiklah.
Image

 

Seperti hari ini yang cerah, secerah hati kami. Aku bisa bercerita berbagai hal yang aku lupa ceritakan pada Luc, yang aku sampaikan sepanjang pergi dan pulang dari Antwerpen yang aku ceritakan di mobil. Hari ini aku melihat wajah Luc yang bahagia, mendengar celoteh Cinta dan Cahaya yang tak ada habisnya, melihat aksi nari mereka di depan pengamen, mendengar nyanyian mereka sepanjang jalan. 

What’s a such good day today! Thank you my darling, my love and my shine sun! 

 

Hikmah Ramadhan dan dasyatnya doa ibu

Ramadhan tahun 2010 baru beberapa hari saja berakhir.

Agak terheran heran kok bisa cepet berakhir ya? So, dimana bau mulut, kantuk disetiap detik, perut keroncongan dan dahaga tiada tara? Atau kemana perginya badan lesu lunglai, yang biasanya menyerangku saat bulan Ramadhan tiba?

Ramadhan kali ini adalah…….

Pukul 03.30 sudah bangun buat makan sahur (sendirian…kacian deh Yayang)

Pukul 04.30 selesai makan dan duduk manis di depan tv buat nonton acara gosip di sctv (hot shot dsb, acara yg sebaiknya ga ditonton lg hihihi) dan berubah channel jadi ke rcti, tv one atau metro tv setelah seminggu menjelang lebaran untuk memantau arus mudik di Ind.

Ikut tersenyum dan tertawa bahkan meneteskan air mata melihat kesibukan mereka yg bisa mudik ke kampung halaman walau berjejal jejal di kereta tapi tetap tersenyum sumringah, bahkan terkaget kaget melihat keluarga yg mudik dari jawa tengah ke jawa timur menggunakan becak, si bapak mengayuh becak sementara istri dan dua anaknya duduk di becak salah satu dari anaknya bahkan masih berusia 3 bulan dan anak laki lakinya yg berusia sekitar 12 tahun mengayuh sepeda di belakang becak bapaknya.

Pukul 05.00 waktunya tidur sejenak even sebetulnya ga begitu ngantuk, dan kadang kadang klo ga bisa tidur sama sekali saya meraih Qurán dan mengaji sampai pukul 07.00, saat Luc siap siap bekerja dan anak2 bangun

Pukul 08.00 Luc berangkat kerja tanpa sarapan (seperti biasanya) dan dia berkata bangga, äku juga puasa bahkan lebih kuat dari kamu, karena aku ga sahur dulu……. Ya ya ya sayang, off course you are more strong than me! Sambil berkata begitu dia melanjutkan dgn kata kata yg bikin orang ketawa mendengarnya, aku cuma minum air putih saja! Hahaha

Dan mulai pukul 8 hingga pukul 10, segala macam keributan akan segera dimulai………

Dari mulai ta ta ta ta sampai jeritan memekikan telinga akan meluncur dari dua pasang bibir mungil Cinta Cahaya

Sarapan pagi kilat yang bisa membuat karpet kotor walau sudah berusaha dilapisi tilam pelastik

Dan ratusan kali jungkir balik karena lari lari dan berkali kali terjatuh atau tabrakan

Hingga menggilinding jatuh dari tangga lantai satu hingga ke dasar……….. dan yg satu ini membuat aku histeris, telepon dokter, cek ke dokter bertiga saja, mendorong buggy dgn dua bayi lincah di tengah angin Belanda yang spektakuler!

Dan tibalah pukul 10.00 pagi, Yayang tijd! It’s my time! Aku bisa mandi sepuasnya (dan ini jarang sekali krn aku ga hoby mandi), bersihin botol botol susu 8 sets, bekas minum Cinta Cahaya dari kemarinnya…..masukin piring2 kotor ke mesin, masukin pakaian2 kotor ke mesin dan setelah beres…..aku bisa rileks sepuasnya menunggu anak2 bangun

Dulu sebelum bulan puasa, menunggu mereka bangun tidur adalah waktunya aku meliahat rcti (jam 10 pagi di Belanda berarti jam 15.00 di Ind, waktunya cek and ricek atau kabar kabari) tapi di bulan puasa aku memutuskan untuk membaca Qurán dari mulai Alif lam mim sampai terakhir dengan target 1 jusz setiap harinya, dengan prediksi akan selesai begitu malam takbiran tiba. Dan dimulai lah perjuangan itu…dari mulai suara agak keras dan merdu hingga begitu melewati 1 setengah jam suara itu berubah jadi berbisik saja dan parau…… Tapi aku berhasil dengan target 1 juz perhari. Walau ternyata tidak tamat 30 juz, karena di minggu terakhir lebaran aku menerima upah jahitan dgn upah yg membahagiakan walau hanya satu baju tapi kami sama sama puas, dan waktu luang yang aku punya tidak aku gunakan sepenuhnya untuk membaca Qurán tapi terbagi dgn menjahit…..tapi tak apalah (aku membela diri!)

Dan yang menyenangkan, aku jadi rajin shalat duha………duh seneng baget karena cuma dua rakaat dan ga ada beban sama sekali buat mengerjakannya.

Dan tibalah pukul 13.00 atau 14.00 dimana anak anak kembali bangun dan membuat keributan kembali, hingga waktu menunggu papanya pulang kerja pukul 17.00. Dari waktu tersebut hingga pukul 20.00 waktunya aku sedikit rileks, karena saat itu giliran Luc yang mengawasi Cinta Cahaya.

Tiba pukul 20.00 aku telah kembali ke dapur untuk mempersiapkan menu berbuka puasa (walau Luc ngomel ngomel untuk apa sibuk di dapur jam segitu, karena buka puasa kan dimulai sekitar pukul 21.26).

Dan tibalah waktu yang di nanti………saatnya berbuaka puasa, setelah hampir 17 jam menahan lapar dan dahaga, dan hanya dimulai dengan seteguk teh manis..dahaga itu hilang seketika….

Apakah aku begitu mendirita selama bulan puasa? Menahan lapar hingga 17 jam? Menahan godaan orang orang makan dan minum di sekitarku?

Jawabnya aku tidak menderita sama sekali, aku menjalankan kehidupan normal sama seperti dihari hari lainnya, jalan jalan ke centrum setiap weekend bersama suami dan anak anak, melihat konser musik dua kali, berkunjung ke rumah teman dan dikunjungi teman.

Dan ternyata aku harus tau, mengapa aku bisa sekuat itu….. ada doa dasyat yang mengiringi langkahku setiap saat…….DOA IBU.

Masih teringat dalam ingatanku, satu tahun yg lalu……. saat aku terbaring 2 bulan di rumah sakit, saat 2 minggu koma, saat dokter bilang (setelah aku tersadar) bahwa aku nyaris tak tertolong…….Saat dokter di Erasmus kalang kabut mencari paru paru buatku dan tidak ada yang cocok saat itu……….saat dokter muda (dari 15 dokter paru paru) yang mempertaruhkan jabatannya, untuk mempertahankan paru paru ku yg telah sangat rusak dengan treatment baru yg belum pernah dicoba……… Saat Kuasa Ilahi menjawab segalanya! Saat kehidupan kedua mulai aku jalani………..

Dan Ramadhan tahun ini, saat aku berkonsultasi dengan dokter dan dokter memperbolehkan aku untuk berpuasa setengah hari….meluncur kata kata ibuku…..Kamu kuat Nak, untuk menjalani ramadhan tahun ini……..percaya pada Allah, bahwa kamu kuat dan Allah akan membuatmu kuat…………

Ya bu, aku kuat…..dari 29 hari puasa hanya satu hari aku batal, 28 hari aku puasa (hampir penuh karena aku tidak mensturasi lagi, akibat rahimku telah diambil dokter saat aku sakit parah).

Dan inilah aku sekarang……….sambil memegang buku dari ibuku  saat beliau kesini satu tahun yg lalu…buku dengan judul Dasyatnya Doá Ibu……diiringi tulisan indahnya di halaman pertama,

Yang!

Sebagai anak yang sholeh, “Berdo’a lah untuk ayah dan ibu”

Sebagai seorang ibu yang mulia pemegang surga bagi anak anaknya, “Banyak lah berdoa untuk mereka”

Sekali lagi ibuku sayang terima kasih atas doa yang selalu engkau panjatkan untukku, satu yang aku minta dari berjuta doa2mu…..aku ingin selalu berada dalam ridho mu……….

Rotterdam, 13 September 2010

Experienced tragedy of giving birth

I write my stories for myself and people who I love just to remember the experiences in my life and also to say thanks to Allah Swt, my husband, my parents, my mother in law, my whole family (big) in Indonesia, my neighbor in Cibiru, Marc Neville & Fam, Claudia & Fam, Sandra & Fam, Hanny & Mike, Esther & Fam, The Docks, Paul & Anne Niehaus, Dr. Lorenzo, all people in L&M Software B.V, Dr. Cornet & all doctors and nurses of the Erasmus Medical Center (EMC), Laurens (zorg), fysiotheraphy, and all my friends in Holland and Indonesia for their support, prayers and help.
I will tell about my first and last experience of pregnancy, I say last because getting pregnant again is impossible.

In intensive care on  artificial respiration. I hope this photo doesn't scare me too much.

In intensive care on artificial respiration. I hope this photo doesn’t scare me too much.

I was so happy in life until I experienced the tragedy of giving birth. I had to undergo surgery for four times. The first was a standard Caesarean section to take out the twin babies. The second and third were both emergency operations to stop my abdominal bleeding. The doctors found a large quantity of blood in my stomach. I lost 7 liters of blood the first time and 5 the second time. There was great difficulty trying to stop the bleeding. The fourth operation was a hysterectomy. They removed the uterus since it was suspected of being the cause of a dangerous bacterial infection. Risking waiting for test results could be fatal so best was to take the uterus out. Later the test results from the laboratory came out negative. The uterus was not the source of the bacteria in my blood. This of course made it impossible of getting pregnant again. Twice I was submitted into intensive care and nearly underwent a full lung transplantation. The condition of my lungs has worsened so much so all the doctors which were helping out on my case, 15 in total, were having meetings seriously considering a lung transplantation. I was treated at the Erasmus Medical Center in Rotterdam for almost 2 months. During my second stay in the intensive care, I was not conscience and was put in a forced coma for about 2 weeks. The first stay in intensive care I was in a coma for a couple of days.

All those bad things happening to me constantly made me lose that special moment when I touched my babies for the first time. After a month I finally could consciously look at my babies.
From the moment I could communicate again with the doctor and my husband, they explained what had happened to me in the period of time after birth. The doctor said I was very strong person to survive the pain I suffered, many doctor came to greet me when I regained consciousness. And Luc, my husband, says he wrote many emails. For each day in hospital he wrote an email. This helped me get a clearer picture of what happened to me while I was in the hospital.

Only after a month since I returned home I dared to open the emails my husband wrote to me. There were a total of 49 emails he wrote. I read every email. It was very difficult because it triggered my memory recalling the events in hospital and so many extraordinary events happened to me. I could experience my husbands feelings when a doctor called him into the room and had to have a very serious talk with him, explaining my condition and asking him to prepare himself and our two babies to lose me. The doctor explained that in the event that I recover it would be very unlikely I can fully recover. Although I might survive I would not be like before and my life would not be normal because my lungs had been damaged so much. The doctors say it would be like a miracle if I could recover from it all and go back to a healthy and normal life, although not 100 percent. When reading that email it showed the pain my husband was in.

Another email describes my family’s panic in Indonesia. My parents decided to immediately go to the Netherlands. Rully, my oldest brother, coordinated all the communication on the Indonesian side and saw to it that my parents could come to the Netherlands. And as miracles happen the first day my parents came to the hospital was the same day I regained consciousness after two weeks. Until now I did not dare tell them what happened to me when I was unconscious for two weeks, many events that I experienced, and when I wanted to tell my mom what I remember while unconsciousness, she just said I do not have to remember, it was all just a dream. I was so touched how my mother and father fought for me to get up and get healthy.

In another email my husband told me how he had to take care of everything from the beginning to see our babies, keep visiting me , inform everybody about the current state taking care of the babies, getting papers in order for emergency visa and take care of all other affairs of the house, he was alone in the Netherlands. His mother lived in Portugal for a long time. Our babies were discharged from hospital. This presented a new problem for my husband. How to divide your time between the babies and visiting the hospital. Somebody should take care of the babies while my husband was visiting me in hospital. Luckily his mother helped us out, she came from Portugal and took care of the twins. There was a time of uncertainty first and the hospital gave my husband the option to let temporary foster parents take care of the babies. Luc is a programmer in a company. His company had empathy for our situation, they did not allow him to work while I was sick and still paid him a full salary.

Coming back home after almost two months in the hospital was so touching. For three months a nurse came twice a day to help me bathe and give me the morning and evening medication. When I came back home there was a walker, a wheelchair and also a place to sleep which resembled a hospital bed. For a lot of things I needed to start from scratch again, learning to walk, taking care for the baby and also to eat because I could not use my hands. They were not functioning properly, my hands were always shaking whenever I hold something. All my muscles were unused while ill. Fysiotherapy came twice a week. The family doctor (huisarts) came once a week initially for one month and then the frequency was reduced to 2 times a month, then once a month and after that he said that I was fantastic patient, my health gradually improved making a spectacularly recovery.

Until now I still come to Erasmus on a regular basis to check my health,and they always say that I experienced a rapid improvement. There was one doctor who said from the 10 people who suffered the same condition as mine 7 people would have died 2 would recover but would need constant care for the rest of their lives and 1 only 1 out of 10 would recover like me. I still remember one of the nurses at the hospital said that during the 25 years she worked at Erasmus this was the first time she saw a case like mine and another nurse told me when she read the medical report it read like a horror story.

But here I am now …… I can walk again, take good care of both my twins, I can play together with them, laugh and have fun. Every day I was with them, husbands work from 9 am to 5 pm every working day. I came to the Netherlands to become a mother, leaving my job in Indonesia as a cost control in a large national company in Indonesia. And I am now happy to have a responsible husband, have a mother-in-law who loves me and have incredible parents and of course have twin daughters who are so beautiful. There has been a miracle in my life so I could recover. I believe the greatness of God and I believe in miracles. I’m happy…………………

Rotterdam, 5 April 2010

Love
Yayang Neville

Proud new papa

Proud new papa