Meraih Rijbewijs – SIM di Belanda

IMG_20150909_145036635[1]

Akhirnya aku berhasil meraih rijbewijs di Belanda alias SIM. Itupun dengan acara penuh drama dan cucuran keringat selama berbulan bulan. Berbulan bulan! Astaga…. selama itukah? Ya, dalam jangka waktu yang lama dan sulit diprediksi!

Tanggal 7 September 2015, aku bisa bernafas lega setelah dinyatakan lulus oleh examinator yang super ramah. Rasa syukur dan air mata mengiringi kepulanganku ke rumah saat Perry instrukturku mengantarkanku pulang. Ah sebegitu mengharu birukah, hingga aku mengeluarkan air mata saat dinyatakan lulus? Tapi begitulah kenyataanya.

Sejak tahun 1905 Belanda mewajibkan siapapun yang mengendari kendaraan bermotor untuk melengkapi dirinya dengan rijbewijs, saat itu belum ada ujian untuk meraih rijbewijs. Barulah di tahun 1927 diadakan test atau ujian kemampuan dalam mengendarai mobil, mereka yang lulus dari test tersebut berhak mendapatkan rijbewijs dan berkendaraan dengan mengikuti ketentuan yang ada.

Di Belanda, sebelum kita mendaftarkan untuk ujian praktek mobil, kita diwajibkan mengikuti les mobil dari seseorang yang profesional di bidangnya. Bisa melalui sekolah nyetir atau seseorang yang mempunyai kewenangan memberikan les mobil. Ini berbeda dengan negara negara Eropa lainnya yang bisa belajar dari orang bukan profesional, mereka bisa belajar dari siapapun (keluarga misalnya) yang penting saat ujian praktek lancar dan sesuai standar, maka kita dapat lulus walaupun tidak belajar dari seorang profesional.

Walaupun aku mempunyai pengalaman bertahun tahun mengendari mobil di Indonesia, itu bukan jaminan aku bisa lancar dan langsung lulus dalam ujian mobil ini. Dibutuhkan waktu yang cukup lama. Aku mulai ikut les mobil sejak bulan Nov 2014, seminggu sekali dimana tiap pertemuan adalah 100 menit dengan biaya 58 euro setiap satu pertemuan. Pada bulan desember sang instruktur atau pelatih mobilku liburan, sehingga akupun libur. Tgl 29 Januari 2015 aku lulus ujian teori,  dengan kerja keras yang maksimal aku berhasil lulus dalam satu kali ujian, hal yang luar biasa menurut instrukturku karena aku berasal dari negara yang tidak menggunakan bahasa Belanda namun toh berhasil lulus dalam sekali ujian. Ini ceritanya Ujian teori SIM.

Keadaan berbeda setelah aku lulus ujian teori, setiap datang Perry menjemputku, aku panik luar biasa, kemampuan menyetirku seakan makin mundur karena Perry selalu mengoreksiku dengan keras. Aku tau, aku bukan orang yang tabah jika dikerasi, aku hanya bisa bilang oke oke dihadapan Perry tapi hatiku sakit luar biasa, aku takut setiap dia datang. Saat aku salah aku diteriakinya, why? Tanyanya, kenapa melakukan kesalahan yang sama? Aku tak dapat menguasai mobil dengan baik, kurang kecepatan saat masuk ke jalan tol, terlalu cepat di dalam kota, terlalu cepat di setiap belokan, tak becus melihat kaca spion, tak mahir melihat petunjuk tempat, bahkan kadang aku mengambil jalan yang salah!

Berbulan bulan aku tak percaya diri jika harus les mobil, aku bercerita pada ibuku dengan menderitanya, diujung sana ibuku tak percaya. Bagaimana bisa? Aku sudah punya SIM sejak berumur 18 tahun, ibuku sudah nyetir mobil sejak aku kecil, dimana jaman itu jarang sekali ibu ibu yang menyetir mobil, ibuku tukang ngebut dan ternyata menurun padaku. Keluargaku tahu tentang kemampuanku menyetir mobil, teman lelakiku berkomentar, aku tidak termasuk dalam golongan mereka yang mendapat maklum dijalan raya jika mengendari mobil dalam arti lain perempuan yang dianggap tak setangkas laki laki jika berkendaraan, aku bukan golongan itu, hehehe.

Tapi kini, aku merasa berada di level paling bawah dalam berkemampuan menyetir mobil, dimata Perry aku selalu salah melulu. Luc menyarankan aku ganti instruktur, aku menolaknya! kataku tunggu hingga aku betul betul tak dapat menghandelnya.

Bulan Mei aku mengikuti proef examen. Tanganku menggigil saat menyetir mobil, keringat bercucuran, rasanya aku tak kuasa berpikir, yang ada dikepalaku adalah aku ingin segera kembali ke tempat ujian, tak peduli hasilnya seperti apa. Sang examinator menjelaskan pada intrukturku apa yang terjadi selama proef examen. Proef examen adalah ujian yang bukan sesungguhnya, dalam proef examen tak ada kata lulus atau tidak lulus. Ini adalah pengenalan ujian, semacam study bandingg lah, gini loh ujian mobil itu. Proef examen tidak diwajibkan, biasanya instruktur memberi advies pada kita, apakan kita perlu proef examen atau tidak. Perry menganjurkanku ikut proef examen karena aku selalu panik dan tak percaya diri. Zenewachtig istilahnya atau yang dikenal gugup dalam bahasa Indonesia.

Sang examinator menjelaskan padaku dan Perry, bahwa saat ujian nanti aku tak perlu lagi parkir, karena parkirku sudah baik. Tapi  veruitkijken alias kemampuanku melihat jauh masih kurang baik, aku masih banyak ragu ragu di jalan tol dan kurang baik di perempatan. Dari hasil itu Perry tak mau mendaftarkanku secepatnya untuk ujian, katanya aku mesti belajar lebih keras lagi. Tentu aku kecewa karena itu artinya banyak hal, masih akan banyak biaya yang harus dikeluarkan oleh Luc, masih akan ada waktu panik luar biasa saat les mobil. Tahukah kalian, aku sampai harus menelan obat penenang setiap hari jumat sesaat setelah keluar dari kelas, saat Perry menjemputku di sekolah. Teman temanku sampai berkomentar jangan lupa pil nya hahaha, bahkan dosenku sudah hapal jika hari jumat datang, dia bilang setiap jumat aku tak dapat berkonsentrasi dengan baik. Aha!

Kemudian setelah bulan Mei datanglah Juni, aku puasa, aku tak dapat menelan pilku lagi, panik semakin menjadi jadi, eh tiba tiba Perry bilang dia akan pergi berlibur selama tiga minggu. Ah bagaimana mungkin dia meninggalkanku sementara aku tengah bersiap akan ujian? Dia berjanji bahwa dia akan mendaftarkanku setelah dia pulang nanti, tapi ternyata aku harus ke Portugal, kami sepakat akan mengambil ujian setelah aku kembali dari Portugal.

Dan tanggal 7  September lah, hari eksekusi itu. Sehari sebelumnya aku sudah menelepon ibuku, meminta doa darinya agar ujianku dilancarkan, anak anak sudah tau bahwa esok hari adalah hari penting untukku, berkali kali Luc menenangkanku bahwa tidak lulus ujian mobil adalah hal yang lumrah. Santai saja ucapnya.

Datang ke tempat ujian, aku sedikit tenang saat Perry berkata padaku bahwa aku tak perlu khawatir tentang snelweg atau jalan tol, juga tentang di perempatan, keluar dari mobil sebelum berjalan ke gedung ujian untuk bertemu dengan examinator, aku memberekan mobil dulu, kumatikan navigator, tanganku bergetar, Perry melihatnya. Kemudian katanya…. Yayang,  you can do it! You will be pass.

Aku terbelalak mendengar perkatannya, kuucapkan terimakasih sambil menenangkan gemuruh di hatiku. Aku melangkahkan kaki ke gedung bersamanya, berkenalan dengan examinator, mendengarkan peraturan yang harus aku jalankan saat ujian nanti, kemudian melangkahkan kaki bersamanya menuju mobil, Perry bertanya padaku apakah  dia perlu mendampingiku, aku menolaknya, aku hanya ingin berdua saja dengan examinator! Perry kembali mgucapkan good luck padaku. Dan mulailah eksekusi ini dimulai. Aku tenang, aku pasrah, aku menjalankan mobil sesuai dengan permintaan examinator, menuju snelweg A13, tujuan Denhaag. Kulewati route yang aku kenal dengan baik, saat masuk snelweg kulirik rumahku diujung sana, hahaha. Kuarahkan mobil dengan percaya diri yang luar biasa, kujawab setiap pertanyaan examinator yang super ramah sambil menjalankan mobil dengan santainya, kuikuti kemauan sang examinator yang memintaku keluar dari jalan tol melalui pintu ke arah Rotterdam Airport. Aha wilayah rumahku, kukenal jalannya dengan baik, dan astaga sang examinator mengarahkan ke arah jalan rumahku, untunglah tak sampai melewati rumahku, jika saja sampai melewati rumah bisa bisa aku mampir ke rumah untuk membawakan nasi goreng untuk sang examinator, sebagai sogokan atau tanda terima kasih. 😉

Kembali ke tempat ujian, aku memarkir mobil serapih mungkin, aku tau sang examinator tak akan turun sebelum aku turun, dia akn melihatku bagaimana caranya membuka pintu, kumatikan semuanya, rapih, lampu dipadamkan, wiper dipadamkan (oh ya saat ujian hujan turun), kemudian mesin dipadamkan, rem tangan tidak lupa tentu saja. Kemudian kulihat kaca spion dalam dan luar dan tak lupa menegokkan kepala hampir 180 derajat sambil membuka pintu dengan dua tangan seperti yang diajarkan Perry, sang examinator melihat semua itu.

Tak percaya rasanya saat aku duduk di kursi dan sang examintaor mengucapkan selamat padaku, air mataku mengalir, kujabat tangannya dengan gembira, kupeluk Perry dengan semangat. Seperti biasanya dia tak bergeming dengan wajah datarnya, hanya berucap kamu berhak lulus, kamu siswaku yang penurut, hahaha. Oh Perry!

Kini seminggu telah berlalu, rasanya aku tetap tak percaya setiap bangun pagi aku tak perlu dijemput untuk les mobil lagi. Terus kuucapkan syukur berkali kali, bahwa aku terbebas dari les mobil yang menyesakkan itu.

Sebagai catatan aku hampir menghabiskan 2800 euro atau berkisar 45 juta rupiah untuk semua biaya meraih SIM ini, biaya ini termasuk ongkos les setiap minggunya, biaya ujian teori, ujian praktek dan biaya proef ujian. Hari itu aku dibanjiri ucapan selamat dari teman temanku yang mengikuti test hari ini, itu karena aku memposting foto diriku yang sedang mendekap buket bunga dari Luc diikuti postingan kata kata…

Alhamdulillah,
Terimakasih pada semua pihak yang mengikuti dan membantu meredam stressku tiap minggunya 😘😘😘😘

Goodbye Perry, Terimakasih atas bimbingan nya 🐯💐
‪#‎yeayyyygeslaagd‬🚦

Kemudian aku menerima what’sApp dari salah seorang sahabat Luc, ….Big girl! I know how difficult is getting that driving license!!!! I had like 7 exams!!!! Pppffff

Beberapa temanku yang aku kenal disini beberpa orang diantaranya harus melewati dua tau tiga kali ujian, namun begitu aku mengenal empat orang yang lulus dalam sekali ujian praktek, tapi tidak dengan ujian teori. Dari semua itu aku mengenal seseorang yang harus melewati 11 kali ujian praktek, tak dapat kubayangkan betapa tangguhnya orang itu!

Tuhan maha adil, Dia tak membiarkan umatnya stress berkepanjangan, maka dimudahkanlah ujianku.

Dan bagaimanakah cerita teman teman sekalian tentang mendapatkan SIM di negara lain, apakah seketat di Belanda?
IMG_20150907_172319025[1]

Advertisements

42 thoughts on “Meraih Rijbewijs – SIM di Belanda

    • Aduh ga bisa dibandingkan dgn Indonesia, waktu jaman aku dpt SIM di Indonesia tinggal dateng ke kantor polisi, sehari bisa jadi, belajar mobil nya lewat sopir dan diajari kakak. Disini ngapain peraturan sampe tiap malem belajar selama sebulan, waduh

  1. Hebaaaattt dan inspiratif nih Mbak ceritanya soalnya aku lg belajar nyetir dan belajarnya juga pake tangis2an air mata bercucuran hahahaha. Abisnya susaaah banget rasanya, 2 minggu lalu terakhir nyetir, smp skrg masih takut karena di jalanan gak bisa konsen ke dua hal (ganti gigi plus melihat sekitar… mobilnya manual sih) jadi… bakalan balik lagi ke jalanan sepi atau tempat parkir gede buat latihan membiasakan diri sama giginya. Selamat ya Mbaaa pasti seneng buanget deh 🙂

    • Ayo tetep semangat, inget waktu muda dulu waktu belajar mobil diajarin kakak, aku selalu melirik kopling setiap ganti gigi, sampe kakakku bilang ga boleh liat lg, aku disuruh mikir, tapi dasar bandel setelah ganti gigi aku nanya kakakku itu dah gigi berapa, dan dia bilang gigi kuning hahahaha
      Katanya yg paling penting adalah kita nya tenang jika sedang belajar, tapi aku ngerti keadaan mu, ga mudah untuk tenang… Tetap usaha dan ga berputus asa, ingat saja akhirnya jika dapat SIM kita tak perlu les lagi….. Horeeee

      • Makasih penyemangatnya Mbakkk 😀
        Emang ya kl udh ngerasain susahnya belajar mobil beneran, bs sampe nangis2. Aku ini punya SIM Indonesia lho walau nembak hahaha. Tapi sama aja bohong krn gak bisa nyetirnya, hueeeeee. Tp belum pernah ketemu instruktur streng kaya instrukturnya Mbak Yayang

  2. Waaahhh Kereeennn. Saluutt Yayang. Aku berdecak kagum baca cerita dan perjuanganmu. Ulet banget dirimu yang. Iya aku dengar dapat SIM di Belanda ini susah ya. Bahkan orang Belanda sendiri sampai ngulang ujian teori dan praktek. Suamiku ngulang ujian teori. Duh berarti perjalananku buat dapet SIM lebih panjang lagi ya Yang karena belum bisa nyetir sama sekali 😀 Gefeliciteerd Yayang, goed gedaan!

    • Den, jangan pesimis dulu, siapa tahu dirimu bisa lebih cepat dapat SIM drpd yg sudah bisa nyetir kayak aku, karena dari sebagian cerita teman, kadang yg belum nyetir sama sekali akan lebih mudah belajar dan mengikuti petunjuk I struktur dgn benar, masalahnya aku dah punya style sendiri dlm mengemudi, merubah yg telah menjadi kebiasaan kita ternyata tak mudah. Semuanya mesti dirubah dan itu butuh waktu, sebetulnya kalau aku ga gugupan dan percaya diri aku bisa cepat ujian, kata instrukturku aku ngengerti dan selalu menjawab benar semua teori yg ditanyakan tapi begitu prakteknya aku ngintil nginget ujian krn takut salah, jadinya gini. Tapi Alhamdulillah akhirnya bisa selesai juga, dan yg lebih membahagiakan aku bisa sekali lulus ujian teori dan praktek, sampai ada suami teman bilang unbelievable katanya. Ayo jangan khawatir Deni, semoga dirimu dimudahkan juga…. Dan kerja jelas juga tentunya 😉
      Makasih ya Den, sukses juga untuk dirimu nanti

    • Makasih mba, Ayo semangat semoga bisa cepat juga dapet SIM. Aku beruntung bisa sekali lulus, klo dengar cerita temen yg sampe habis lima ribuan euro rasanya gimana gitu, secara dia di Indonesia disebut raja jalanan, tapi disini ditekankan tau peraturan….

  3. Wah selamat Mba, pasti senang banget ya. Aku juga lagi mau buat SIM, sudah belajar dari tahun kemarin, sudah ujian tinggal kurang 1 jenis ujian lagi. Rencana bulan November ini aku mau belajar lagi, ngulang pelajaran lagi karena sudah hampir 1 tahun hiks. Sekali lagi selamat ya Mba 🙂

    • Owww sukses May, ada di negara mana dirimu? Disini sebelum ujian praktek ujian teori nya harus sudah lulus, dan ketulusan teori berlaku setahun setengah hingga kita lulus ujian teori, jika kita blm lulus ujian praktek juga dlm waktu satu setengah tahun, maka kita harus ambil ujian teori lg, jadi banyak dari para siswa belajar teori dan praktik berbarengan biar masa waktunya tak kadaluarsa, jdi sambil les mobil juga nyoba ikut ujian teori

      • Mba, aku di Malaysia sekarang.
        Tahun kemarin aku dah mulai ikut kursus (teori plus praktek, sekitar 20 jam an) dan sudah lulus tes teori :). Waktu ujian praktek jalan raya udah lulus, pas yang di circuit gagal huhu. Aku ngga terusin lagi karena malas harus cuti terus untuk ujian.

        InshaAllah November ini mau kuterusin dulu, mumpung hasil ujian teori dan jalan raya nya masih berlaku Mba. Batasnya 2 tahun disini, kalau ngga lulus juga harus ngulang dari awal hehe

  4. Iya Mbak :hihi, kata rebuwes masih dipakai juga oleh orang-orang tua di kampung saya untuk menyebut surat kendaraan, oh ternyata asalnya dari bahasa Belanda. Duh ikatan kedua bangsa ini memang erat banget, lebih erat dari yang diperkirakan.
    Selamat atas ujiannya! Gila Mbak, ketat sekali, bahkan peraturan turun dari mobil pun dicek dengan sangat teliti, mungkin untuk meminimalkan kejadian lupa pasang rem tangan atau lalai mengunci pintu mobil, ya. Semua demi kebaikan sih jadi memang mesti dilakukan. Sekali lagi selamat!

    • Iya mahal banget disini mau ambil SIM.
      Maksudnya disini jadi seperti ga ada artinya kemampuan nyetir di Indonesia, krn disini nyetir mobil berdasarkan peraturan, klo di Indonesia kan berdasarkan toleransi, misalnya di perempatan yg tanpa lampu merah, kita bisa maju duluan siapapun yg posisi nya paling mudah untuk maju duluan, tapi disini kita hrs memberikan jalan duluan siapapun yg datang dr sebelah kanan kita. Dan banyak aturan yg walaupun kita tahu teorinya tapi saat praktek kadang kita lupa ga digunakan, nah itu yg bikin stres karena kita tahu tapi secara otomatis ga di praktekkan krn kebiasaan nyetir di Indonesia yg terbawa kesini, jadi udah mendarah daging gaya kita nyetir dan susah dirubah

  5. Gefeliciteerd ya!! 🙂 .

    Awalnya sempat berpikir mau mencoba ikut prosesnya disini dengan ikut lesnya itu dulu summer kemarin. Tapi kemarin harus pindahan jadi berubah pikiran deh 😛 . Disini memang mahal banget ya biayanya membuat SIM itu. Katanya sih yg paling mahal memang biaya lesnya itu ya?

    • Makasih Zilko. Iya lesnya per jam mahal 😉
      Ikut proefles aja dulu, nanti bakalan dikasih tahu berapa kali kita akan les, intrukturnya bisa memprediksi, dulu pas aku ikut proefles aku diperkirakan cuma butuh 20 les, karena aku udah bagus nyetir nya katanya, les cuma untuk pengenalan peraturan dan membiasakan stir kiri, tapi pada praktek nya aku dua kali lipat lamanya dengan Prediksi awal.
      Sukses Zilko, klo nanti kamu ikut ambil SIM disini, klo anak muda mungkin bisa cepet dibandingkan ibu ibu kayak aku 😉

    • Makasih Crystal. Yes! Akhirnya selesai dan dpt rijbewijs. Betul di Indonesia kata rijbewijs atau rebewes masih banyak digunakan orang orang dulu, contohnya ayah dan ibu juga di rumah msh pake kata rebewes buat menyebutkan SIM. Disini kartu memang bervariasi macam ya, segala ada secara budaya berkirim kartu ucapan masih terjaga

  6. Yayang, salam kenal ya. Kayanya kita belum kenalan ya walaupun gue suka baca-baca di sini.

    Senasib banget rasanya baca post ini. Aku juga udah bertahun-tahun nyetir di Jakarta tapi pas di sini (Finlandia) harus ambil SIM langsung keok, rasanya gak bisa apa2. Masalahku pun sama juga kaya kamu, gak cocok sama instrukturnya. Dia gak galak, sih, tapi dia juga suka banget nanya “Why did you do that?” dan pertanyaan2 lainnya “what makes an intersection? what do you have to do now? what do you see 10m ahead?” pokonya semua kalimat dalam bentuk pertanyaan bikin aku malah panik. Berasa ujian dan bukannya latihan. Trus kalo nerangin juga panjaaaaang banget, padahal kesalahanku sepele dan pake satu kalimat aja aku bakal ngerti. Yang biasa nyetir di Jakarta lancar, kalo sama dia tanganku jadi sendingin es.
    Parahnya aku gagal tes praktek dua kali gara-gara kepercayaan diri udah terkikis abis. Jadi terus2an nambah jam les deh. Mana di sini mahal bener lesnya, 74 euro per 50 menit

    Trus di Finlandia sini abis lulus tes dapet SIMnya cuma untuk 2 tahun aja dan dalam 2 tahun itu wajib ambil beberapa kursus tambahan seperti menyetir dalam gelap, menyetir di jalan licin dll yang totalnya habis sekitar 700an euro. Kursus tambahan inis seperti tes juga sih tapi gak ada lulus/gagal, palingan dikasih feedback aja sama instrukturnya. Aku jelas dong langsung ganti instruktur kali ini.

    • Hallo Rika salam kenal.
      Ya ampun kayaknya lebih parah daripada di Belanda, sampe hrs ikut les wajib lg setelah dua thn dapat SIM. Dan lbh gila lagi biaya lesnya mahal banget. Trus rata-rata harus berapa kali les? Klo di Belanda rata rata 30 sampe 40 kali les, sekali les nya 100 menit. Tapi ada juga yg ambil 50 menit sekali les nya.
      Dan ternyata setelah lulus, baru banyak denger juga dari temen tentang pengalaman ambil SIM disini, kebanyakan dari mereka stres saat sedang latihan, malah ada yg dibilang idiot oleh intrukturnya, klo aku digituin bakalan sakit hati banget. Ah tapi untung lah sekarang sudah berakhir. 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s