Semua ada ganjarannya

Let’s talk about fine!
Tadi sore kami kena denda, Luc tepatnya! Gondoknya masih terasa hingga kini.
Sebelum ke mushola, aku minta diantar ke toko daging di pusat kota. Sialnya setelah dua kali putaran, kami tak juga menemukan tempat parkir, hujan yang rintik rintik kini semakin deras hingg akhirnya Luc menyuruhku turun sendirian dan dia akan menurunkanku tepat di pintu masuk toko daging sehingga aku tak perlu basah kuyup sementara Luc bersama Cinta Cahaya akan menunggu di mobil saja.

Tak sampai lima menit aku di dalam toko daging, begitu keluar aku melihat petugas berseragam tengah mencatat mobil kami.
Tidaaaaaaaakkkkkkkkk! Seruku dalam hati. Luc kena tilang! Aku segera masuk mobil, mendapati Luc yang bermuka masam. Kena tilang Luc? Tanyaku yang langsung di iyakan. Kenapa kamu ga maju terus begitu melihat petugas datang? Ingin aku bertanya seperti itu pada Luc, tapi aku urungkan pertanyaan itu, tak ada gunanya. Dan kami menunggu dalam diam sementara petugas berseragam tersebut sibuk mencatat di sebuah alat yang mirip handphone jaman dulu yang besar. Kemudian dia memotret mobil kami. Aku yang ada di mobil melongokkan wajahku dan menempelkan dua jari dan tersenyum lebar ke arah kamera. Konyol memang, tapi aku melihat Luc terkikik melihat apa yang aku lakukan.

Kemudian sang petugas memberikan print out berupa kertas kecil serupa struk belanjaan dari supermarket. Luc menyerahkan padaku. Mataku terbelalak kaget, sekaget kagetnya. What????? 90 euro darling……..!!! Seruku.

What’s up Luc? Tolong ceritakan apa yang terjadi begitu aku keluar mobil tadi?
Begitu kamu keluar, aku menyalakan dua lampu richting, aku melihat petugas menghampiriku, bertanya mengapa berhenti? Aku menjawab, hanya berhenti sebentar saja, aku menunggu istriku beli daging. Dia tak menyuruhku maju untuk pergi, dia malah meminta SIM ku, dan kemudian kamu datang. Tak sampai lima menit darling. Dan kita menunggu lebih lama sementara dia mencatat SIM ku dan memotret mobilku daripada kamu tadi di dalam toko daging.

Batapa tak adilnya. Seruku dalam hati. Kami tadi berusaha mencari tempat parkir sampai berkeliling dua kali, sehingga Luc mengambil resiko menurunkanku di jalan. Tapi tiba tiba saja ketidak beruntungan menimpa kami.

Aku kesal, karena kami harus mengeluarkan uang yang seharusnya bisa kami tabung, teringat berkali kali ucapan Luc, yang mengingatkanku untuk tidak membeli barang yang tak terlalu penting, ucapnya berkali kali ingat kamu harus segera les mobil untuk mendapatkan SIM, dan setelah itu kami harus memikirkan mobil lain untukku.

Teringat sebulan lalu, Luc juga harus membayar denda sebanyak 250 euro akibat kelebihan kecepatan 9 dan 11 km saja dari batas yang ditentukan. Tapi waktu itu aku tak terlalu kesal begitu surat tilang datang ke rumah kami, sadar bahwa itu kesalahan kami. Tapi denda yang ini rasanya begitu mengganjal dalam hati. Tak tahu kenapa.

Sampai di mushola, dengan masih kesal aku menceritakan pada teman tentang kejadian yang baru menimpa kami, dan komentarnya sungguh membuatku prihatin juga, karena dia menceritakan juga tentang kejadian beberapa bulan lalu saat dia berkunjung ke rumah temannya, setelah berkali kali tak menemukan tempat parkir dia berteriak gembira karena melihat tempat kosong, langsung parkir, eh begitu balik lagi ke mobilnya, dia mendapatkan surat tilang. Tak tanggung tanggung 360 euro, karena dia telah parkir di tempat parkir khusus untuk orang cacat! Sungguh serunya, disitu tak ada ada tanda cross sebagaimana biasanya, dan setelah dia teliti ternyata ada plang tanda khusus untuk orang cacat, tapi karena malam hari dan terlalu gembiranya melihat tempat kosong, maka dia langsung parkir.

Masih menceritakan kejadian yang baru saja kami alami, Luc bertanya padaku mengapa aku begitu gusar? Aku berkata, entahlah. Kemudian dia menggenggam kedua tanganku sambil berkata….. Hanya perlu kamu ingat, semua ada ganjarannya. Kamu hidup di Belanda akan ada denda untuk semua yang kamu lakukan tidak semestinya. Sebelum aku menurunkanmu tadi, aku sudah tahu bahwa aku mengambil resiko, akan ada sangsi yang tidak menyenangkan, tapi aku harus menerimanya, karena itulah yang harus aku lakukan, menurunkanmu di pinggir jalan dan jika aku harus maju terus untuk berkeliling dan kemudian kembali lagi ketempatmu dimana aku meninggalkanmu, maka akan menghabiskan waktu 20 menit hingga 30 menit untuk kembali ke arahmu, sementara aku tahu kamu akan berada di toko itu tak sampai lima menit. Oleh sebab itu Yayang, kita harus menerimanya.

Aku terdiam menerima semua kata kata Luc. Bukan hanya tentang apa yang baru dikatakannya, tapi berpikir lebih jauh. Luc tahu betul bahwa semua akan ada ganjarannya, semua tindakannya sudah dia pikirkan, jika aku melakukan sesuatu yang tidak sesuai aturan maka aku akan menerima sanksi.

Dari semua itu, aku tahu banyak mengenai aturan dalam agama yang aku anut. Aku tahu banyak mengenai sanksi yang akan aku terima bila aku menyalahi aturan tersebut. Dan ternyata aku tahu banyak bahwa aku banyak melangggar aturan.

Semoga kejadian ini, benar benar menjadi pembelajaran yang berharga, mengenai suatu sebab akibat, berbuat dan akibat dari perbuatan. Benar dan salah selalu ada ganjarannya. Berbuat baik ada ganjarannya, berbuat salah ada ganjarannya. Tak perlu mengingat kebaikan yang kita lakukan karena ganjarannya bukan urusan kita, tapi keburukan yang kita tuai walau mungkin ganjarannya tidak kita rasakan sekarang tapi nanti tak mungkin dilimpahkan pada orang lain.

Rotterdam, 9-11-2013

Advertisements

22 thoughts on “Semua ada ganjarannya

  1. Lho, kok 9-11-2013? πŸ˜€

    Btw, aku sependapat dengan Luc. Memang ketika kita sudah tahu “risiko” dari keputusan yang kita ambil, ya ketika risiko itu beneran terjadi kita harus siap menerima ganjarannya ya πŸ™‚ .

  2. Nyesel banget emang ya kena denda yg mahal. Kalo parkir an kosong diantara yg lain penuh emang mesti waspada banget, kalo itu disable denda nya emang nyekek leher… Hehe

  3. Yup, memang semua tindakan kita pasti ada konsekuensinya, baik itu tindakan yang sesuai dengan aturan maupun yang tidak sesuai dengan aturan. Dan kita juga harusnya sudah mempertimbangkan konsekuensi apa dari suatu tindakan yang akan kita ambil. Aku setuju sama Luc

    • Iya mas betul. Tapi rasanya ga rela banget waktu kena tilang. Dasar aku maunya ngirit, krn di toko daging yg di pusat kota lebih murah dari pada yg deket rumah, eh tapi ternyata harga nya jadi berlipat lipat gara gara tilang πŸ˜‚

    • Klo nurunin doang sebetulnya gpp, tapi ini luc berhenti trus nyalain lampu double richting yg kerlap kerlip gitu, kebetulan petugas stadswacht (bukan polisi, lebih rendah dr polisi) lg lewat naek sepeda, dasar apes ditilang ga pake perlawanan, tilang ditempat. Biasanya tilang pake surat ke rumah.

      Hihihi klo di Indonesia, mungkin demo nya dari bunderan HI nyampe Bali, protes denda super mahalπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

  4. Itu denda temenya 360euro nyesek banget pastinya.. Padahal gak sampai 5 menit ya mba. Polisinya gesit banget..

    Bener kata mas Luc semua hal yang kita lakukan baik buruknya pasti ada ganjaranya .. Jadi kalau kita berani berbuat sesuatu ya harus terima n siap dengan konsekuensinya

    Tapi kayanya mas Luc yang lebih nrimoo ya Mba huehehe

    • Iya itu nyesek banget yg di denda 360 euro.
      Kita cuma masuk bentar ke toko, pengunjung nya cuma aku aja saat itu, kilat belanja nya tinggal tunjuk, dikilo lalu bayar, eh keluar lg diperiksa petugas, bukan polisi, ini lebih rendah dari polisi, petugas stadswacht, sebangsa hansip, kadang khusus meriksain mobil yg ga parkir😒

  5. beli dagingnya berapa, denda nya berapa hiksss aku jg harap2cemas kalau abis pulang dari road trip, suka tiba2 dateng surat gak diharapkan berisi tagihan denda krn over speed πŸ™‚

    • Beli dagingnya sekitar 20 euro an, itu tokonya lebih murah dari pada yg deket rumah, denda ya 90 euroπŸ˜‚, suami bilang itu daging termahal yg pernah aku beli.
      Iya ya, minggu lalu baru dateng juga tagihan dari Prancis, huhuhu. Ternyata waktu Road trip ke Portugal yg baru lalu itu.

      • 45 euro, tapi ga disebutkan kelebihan berapa km nya. Lucu ya di suratnya disebut kan pembayaran sebesar 45 euro jika dibayar dlm jangka waktu 40 hari setelah keluarnya surat ini, trus naik 180 euro klo dibayar dlm jangka waktu tiga bulan gitu (hrs liat suratnya lg) pokok nya ada tiga tingkat pembayaran. Langsung dong suami bayar hari itu juga, rugi amat klo dinanti nantiπŸ˜‚

      • ah iya bener, aku juga inget deh tuh pas terima surat lgs bayar juga….katanya skarang malah kl lagi apes disuruh di bayar di tempat ya, ckckck makin2 aja deh ya skarang peraturan2nya πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s