Dalam hitungan menit berada di tiga negara

IMG_11770467442734[1]

Jalan jalan kemaren sungguh mengesankan. Kami pergi ke puncak tertinggi di Belanda dimana puncak tertinggi tersebut berada di gunung Vaals (Vaalserberg).

http://en.wikipedia.org/wiki/Vaalserberg

Tak banyak yang aku ketahui sebelumnya tentang Vaals, aku hanya diajak seorang teman untuk naik kereta api ke kota Maastrich setelah itu perjalanan akan dilanjutkan ke Vaals dengan menggunakan bus. Aku hanya menyetujui saja sambil berkata aku akan membawa Cinta meloncong ke Vaals. Tapi begitu kagetnya aku setelah check and recheck di internet dari Maastrich saja perjalanan sampai halte bus Vaals akan memakan waktu 52 menit, tak terbayangkan harus berangkat jam berapa dari Rotterdam dan kembali memperhitungkan pukul berapa aku akan kembali ke rumah. Di musim gugur berpergian seharian menggunakan kendaran umum dengan menuntun anak balita sungguh sesuatu sekali pikirku.

Maka tralaaaaaaa aku meminta Luc untuk menemaniku dengan persiapan jawaban yang mungkin tak sesuai dengan keinginanku. Tapi ternyata dia bersedia. Dan senyumku mengembang senang. Lebih terkaget kaget lagi karena aku mendapati tiga temanku disana, karena menurut komunikasi yang singkat sebelumnya aku hanya tahu akan ada dua temanku disana. Dengan tertawa tawa karena kaget dan senang maka mulailah rombongan yang kini berjumlah 7 orang (termasuk Luc, Cinta dan Cahaya) mulai menyusuri pusat kota Vaals.

Disana ada rotonde (jalan berupa lingkaran atau lebih dikenal bunderan) dengan papan penunjuk berbagai arah. Jika kau ambil jalan ini maka kamu ada di begara Jerman, jika kamu ambil arah yang lain kamu akan berada di Belgia, dan tentu saja rotonde itu berada di Belanda.

Dari pusat kota Vaals dengan mengendarai mobil Luc yang mungil yang berkapasitas lima orang saja dengan mantra sim salabim, kini mobil itu mampu mengangkut manusia sebanyak tujuh orang. Entahlah dari mana ide itu muncul untuk menumpuk tujuh orang dalam mobil mini kami, tapi yang jelas kami sudah berada di puncak tertinggi negara Belanda, di gunung Vaals, dimana titik tiga negara berada.

http://nl.wikipedia.org/wiki/Drielandenpunt_(Vaals)

Dan jika kalian ingin mencoba tersesat di labirin, cobalah datang ke Vaals antara 1 april hingga 1 november, karena waktu tersebutlah labirin dibuka untuk umum dengan harga tiket 5 euro untuk orang dewasa dan 4 euro untuk anak anak.

Sebaiknya saat kalian berencana ke titik tiga negara di Vaals, usahakan menggunakan mobil pribadi, karena untuk mencapai kesana jika mengandalkan kendaraan umum akan memakan waktu yang lama. Dan ternyata datang ke gunung di musim gugur, maka kalian akan disuguhi pemandangan yang fantastis. Daun daun berwarna warni, kabut yang turun tipis tipis dan dinginnya udara segar di pegunungan menambah suasana hati dalam misteri yang yang nyaman.

Berikut gambar gambar yang berhasil diabadikan seorang teman kami, terimakasih  my beautiful Sukanda untuk semua foto fotonya!

Selamat menikmati pemandangan musim gugur, dan segera agendakan untuk mengunjungi Vaals. Salam musim

Rotterdam, 17-11-2013

Tanda disinilah puncak tertinggi negara Belanda. Bukit setinggi 322,5 meter

Tanda disinilah puncak tertinggi negara Belanda. Bukit setinggi 322,5 meter

IMG_11863452798613[1]Papan nama memasuki permainan LabiryntIMG_11872774621242[1]IMG_11886074585498[1]IMG_11958730135825[1]IMG_11921888127182[1]IMG_12014958917685[1]IMG_13436169359154[1]IMG_13557258218670[1]IMG_13653313457799[1]IMG_13675598535810[1]IMG_13720449623581[1]IMG_13732979135296[1]IMG_13789882502614[1]IMG_13376362480834[1]

Durbuy Belgium – The smallest Town on Earth

Image
Datang ke Durbuy bagiku menjadi amat sangat menyenangkan karena aku dapat menikmati banyak hal dalam sekali kunjungan.
Hawa sejuk, pemandangan indah luar biasa, penduduk yang super ramah tamah, dan juga banyaknya aktifitas outdoor untuk anak anak. Baca 7 great reasons to visit Durbuy

Durbuy merupakan kampung kecil yang berarea total 156.61 km², rasanya berkeliling di centrum Durbuy tak akan membuat kita lelah, semuanya menarik perhatian, dari toko toko yang kecil yang ditata rapih dan menarik membuat aku terpesona. Disana banyak  dijual produk produk lokal seperti teh, madu, bir, selai buatan Durbuy. Konon selai buatan Durbuy adalah yang terbaik karena dipilih dari bahan bahan yang baik dan tak ditambah gula alias asli dari buah yang dibuat selai tersebut. Kebetulan aku datang ke toko yang tepat yaitu toko selai yang merupakan pabrik selai terbaik di Durbuy yaitu  Confituerie Saint Amour.
Image
Image

Yang paling menarik di Durbuy adalah sungai yang panjang dan tidak dalam maka cocok sekali bagi mereka yang ingin mencoba menaiki kano atau kayak dengan biaya 15 euro bagi dewasa, 10 euro untuk anak 6 – 12 tahun dan gratis bagi mereka yang berusia kurang dari 6 tahun, maka kita dapat bermain kano sambil menikmati keindahan alam selama 2 jam.

Dua jam menurut tempat penyewaan kano yang kami datangi, ternyata pada prakteknya Luc dan yang lainnya hampir menghabiskan waktu 4 jam, tentunya ditambah waktu mengantri dan menunggu jemputan bis dari tempat terakhir kano, mereka berlayar (berkano) sejauh 8 km, maka untuk kembali ke tempat awal pihak penyewaan kano menyediakan bis untuk mengangkut mereka kembali ke garis awal. Dan menurut Luc pemandangannya sangat fantastis.

Jalan jalan ke Durbuy merupakan pengalaman yang menyenangkan untukku, aku datang tak hanya dengan Luc, Cinta dan Cahaya saja, tapi kami datang bersama empat keluarga lainnya yang sudah akrab satu dengan lainnya. Maka tak heran kalau jalan jalan kali ini merupakan jalan jalan terheboh karena diselingi tingkah polah anak anak kami, dan tentu saja acara favorit kami semua adalah piknik yang menyenangkan. Canda tawa dan rasa kekeluargaan diantara kami adalah hal yang paling istimewa yang kami punya.

Saat kami kembali dari Durbuy dan melanjutkan perjalanan ke rumah salah seorang teman di Hazelt, Luc berkata padaku bahwa dia merasa nyaman berkumpul kali ini. Tentu saja aku bahagia mendengarnya.

Berikut foto foto yang terkumpul dari beberapa camera telepon kami.

Image
Puri Durbuy  adalah milik pribadi oleh keluarga d’Ursel. Yang menjadi ciri khas Durbuy dan menjadi pemandangan yang menakjubkan di kota ini.  Berasal dari abad ke-9, telah dihancurkan dan dibangun kembali berkali-kali. Foto yang berhasil di jepret kamera telepon bang Indra ini adalah puri yang berhasil di pugar pada tahun 1880-an.

Image

Image

ImageBangunan bangunan di centrum Durbuy.

Image

Image

Image
Petualangan kano yang menyenangkan.

Image
P
ara bocah yang cerah ceria dan sedang berkampanye no. 2, hahaha.

Image
Lapangan parkir yang luas dan nyaman, hanya dengan membayar 5 euro saja kami bisa memarkir mobil kami seharian. Dan entah ada rejeki apa hari itu palang parkir ke arah luar sudah terbuka lebar, sehingga kami tidak perlu membayar biaya parkir.

Image
Dapat kado dari tuan rumah.

Image
Yang kelaparan setelah naik kano. Berangkat pukul 15.30 datang pukul 19.15. Cape tapi fun, begitu katanya.

Image

Image

Image

Nationaal Park de Biesbosch

Image
Akhirnya diantara cucian yang menggunung dan rencana membersihkan rumah secara besar besaran kembali ditunda karena adanya hari minggu yang diselimuti matahari yang terik.
Blame it on the sunny day rasanya bakal dikutuk banyak orang jika menyalahkan hari yang cerah.
Yes, karena hari yang cerah lupakan kegiatan di rumah, mari sama sama keluar ruamh untuk menikmati sinar matahari.
Dari mulai ajakan seorang teman yang jauh jauh datang dari Limburg untuk makan di Denhaag, ajakan sahabat yang bersikukuh menikmati di Kinderdijk hingga rengekan Cinta Cahaya yang ingin melihat sirkus, gara gara kemaren melihat tenda sirkus.
Akhirnya aku dan Luc sepakat menunda (kembali) acara bersih bersih rumah, digantikan acara jalan jalan ke Nationaal Park de Biesbosch sebuah  hutan lindung di daerah Dordrecht. Baca Nationaal Park de Biesboch.

Banyak yang bisa dilakukan di taman hutan Biesboch, dari mulai hiking dengan atau tanpa panduan, mengunjungi museum Beaver, berlayar dengan menyewa perahu mesin dengan harga sewa 17,5 euro per jamnya, menyewa kano, menyewa sepeda atau sekedar menumpang dengan perahu wisata yang disediakan yang berlayar setiap setengah jam sekali yang disebut Rondvart yang cukup membayar 1,70 euro per orang bahkan tak sedikit yang membawa perahu karet sendiri.

Hari sudah beranjak siang saat kami memutuskan untuk pergi ke Biesboscht dan menolak tawaran tawaran dari kawan kami untuk melewatkan minggu cerah bersama sama. Dan mimpiku untuk picnik bersama keluarga akhirnya bisa aku realisasikan juga, menyiapkan makanan yang akan aku bawa dan siang itu aku masih sempat membuat nasi uduk, sambal ijo dicampur ikan asin jambal roti dan thai papaya salad. Tak lupa aku menyelipkan kue kue dan chips serta cola dan juice untuk anak anak.

Luc sedikit mengeluh karena dia tak berhasil mendapatkan sambungan telepon untuk reservasi perahu mesin, tak ada seorangpun yang mengangkat telepon diujung sana. Akhirnya aku menghibur dia untuk melupakan telepon dan lihat saja nanti disana.

Seperti perkiraan kami sebelumnya, hari yang cerah menyebabkan hampir semua orang untuk beranjak ke luar rumah, mendapati area parkir yang penuh, mendapati mereka yang berjemur matahari sambil terlentang atau sebaliknya, sehingga rumput yang hijau tak nampak lagi digantikan mereka yang berbikini.

Untunglah setelah kami berhasil memarkirkan mobil dan berjalan menuju centraal informasi di hutan tersebut, kami segera merasa lega saat tak begitu banyak orang di tempat daerah pusat informasi, walau sempat merasa kecewa saat perahu yang akan kami sewa sudah tak bersisa sehingga rencana Luc untuk menyewa perahu selama dua jam kandas sudah. Cinta dan cahaya segera melupakan kekecawaan mereka tak mendapatkan perahu saat berjalan memasuki hutan dan bertemu dengan area berang berang, tertarik mengamati yang ada di area tersebut hingga memasuki burcht beever atau kastil berang berang. Ada petunjuk dimana harus masuk dan keluar, aku segera menggeleng saat Cinta dan Cahaya meminta aku turut serta masuk ke kastil tersebut, aku sudah merasa tak nyaman di daerah situ yang terlalu rindang dan lembab ditambah kastil berang berang, yang hanya berbentuk seperti rumah iglo yang mempunyai dua pintu. Saat Luc dan anak anak masuk aku masih bisa mendengar suara Luc yang berkata dia tak bisa melihat apa apa di dalam saking gelapnya sementara Cinta dan Cahaya hanya tertawa tawa kegirangan.

Seru cerita mereka berdua, saat aku menyambutnya diluar kastil, tak kuiyakan rengekan mereka yang mengajakku ke dalam, dengan tegas aku bisa mengatakan tidak dan segera beranjak dari situ. Duduk di sebuah batang pohon yang tumbang dan segera dihampiri Luc untuk ikut duduk disampingku. Sementara Cinta dan Cahaya kembali masuk ke kastil tersebut sambil tetap berceloteh seru diantara mereka berdua. Kami berdua memperhatikan dari jauh, setelah beberapa menit membiarkan mereka having fun di dalam kastil berang berang, Luc dengan tegas memanggil mereka yang ternyata tak mereka hiraukan, akhirnya aku berkata pada Luc untuk sedikit mengagetkan mereka dengan bersembunyi di balik pepohonan saat mereka masuk ke kastil. Sambil bersembunyi kudengar mereka berteriak saat tak mendapi kami di tempat batang pohon yang tumbang, kudengar mereka menghampiri tempat kami duduk terakhir kali. Panik, mendapati kami tak disana? Tidak!!!! Mereka dengan entengnya berkata, wah papa dan bunda pergi, kalau begitu mari kita kembali masuk ke kastil. Haaaahhhhhhhhhhh

Sambil tertawa bersama mendengar perkataan Cinta dan cahaya, akhirnya kami terpaksa memanggil mereka dengan paksaan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Kami berjalan dengan suka ria, Luc tak henti hentinya menjelaskan apa apa yang ditemuinya selama kami berjalan, seperti disuguhi memeri masa sekolah dasar saat aku pramuka dulu dengan panduan kakak pembina yang menerangkan apapun yang kami lihat. Luc menjelaskan bunga yang dipetik anak anak, apa saja namanya, menjelaskan daun yang menyebabkan gatal kalau mengenai kulit kita sekaligus menunjukan daun yang harus kita gosokan jika kita terkena daun gatal tersebut.

Tiba di padang rumput yang luas dengan kali jernih di depannya, kami memutuskan untuk menggelar piknik disitu. Tak hanya aku dan Luc yang menghabiskan bekal seadanya begitupun Cinta dan Cahaya. Tak terkira senangnya hatiku mendapati bekal yang kami bawa tandas tak bersisa.
Image
Image

Usai acara piknik yang menyenangkan, kami melanjutkan langkah kaki kami kembali ke pusat informasi, memasuki museum yang ada disitu hingga sedikit melepas lelah sambil minum koffie di restaurant yang lagi lagi kami mendapati Cinta Cahaya pergi ke meja lain dan asyik bermain dengan anak kecil yang berada di meja seberang.
Image

Dalam perjalan pulang, di dalam mobil aku sedikit merenung, betapa indahnya menghabiskan waktu bersama sama dengan keluarga, bukan hanya karena mendengar seloroh Luc yang berkata, aha goedkoop uitdagje! Hahahaha.

Antwerpen

Ini kali kedua aku datang ke kota Antwerpen. Masih tetap menarik dimataku.
Bangunan tua yang selalu menjadi daya tarik para turis dari manapun, kuliner yang lebih bervariasi dari pada di Belanda, hingga orang yang berlalu lalang di Antwerpen bisa begitu menarik perhatianku.

Maka Antwerpen adalah termasuk kota yang akan aku kunjungi kembali, selain jarak yang bisa ditempuh tak lebih satu jam dari Rotterdam, kota ini bisa begitu menawarkan berbagai macam pilihan. Seperti hari ini kami berencana menjadi tourist di Antwerpen. Pejalanan di mulai dari Grote Markt, dimana City Hall berada atau stadhuis dalam istilah Belanda dimana tempat layanan untuk rakyat (balai kota) berada.

Seperti kota kota lainnya di eropa, jika berdiri gedung City Hall maka (selalu) ada lapangan (main square) di depannya. Ada yang menarik di halaman stadhuis di Antwerpen yaitu berdirinya patung  Silvius Brabo.
http://nl.wikipedia.org/wiki/Brabofontein
Image

Dari Balai kota kami segera berjalan menyusuri jalan jalan yang berpencar ke berbagai arah dimana pertokoan kecil dan bermacam cafe berada. Pertokoan yang banyak di dominasi toko pakaian kecil dan berbagai macam toka souvenir juga banyak dijumpai para pengamen atau pemusik jalanan. Tentu saja setiap pemusik jalanan tersebut selalu dinikmati oleh Cinta Cahaya, maka siapkan lah uang receh, karena Cinta Cahaya sudah hapal jika ada pengamen maka dia harus memasukan uang cent an pada tempat yang disediakan, bahkan mereka suka sekali berhitung ada berapa buah uang yang ada di bungkus gitar atau biola yang biasanya diletakan di depan pengamen tersebut.
Image

Sambil menyusuri jalan jalan dengan cuaca yang cerah seperti hari ini, Cinta Cahaya dihadiahi es krim coklat yang menambah semangat dan suka cita. Akhirnya pilihan kami untuk makan siang jatuh ke restaurant Jepang Zoawang.
http://www.zaowang.be/
Restaurant tersebut mendapat resensi yang baik bagi para penggemar sushi di Antwerpen, tapi tidak untuk kami. Hanya nilai it’s ok dari Luc yang artinya biasa biasa saja, dan hanya ‘hhmmmmmm’ dari ku. Entah ada yang salah dari lidah kami tapi kami tak mendapatkan rasa yang istimewa dari pesanan kami, Luc memesan curry noodle sedangkan aku satu set mix tempura. Hanya Cahaya saja yang tampak menikmati mie goreng pesanannya yang dibagi dua dengan Cinta, dan sayangnya Cinta hanya mampu makan beberapa suap saja. Tapi yang menjadi nilai yang baik adalah layanan yang super ramah dari pelayan di restauran tersebut.Image
Image

Keluar dari situ kami melanjutkan perjalanan, tak menggubris rengekan dari Cinta Cahaya yang ingin naik delman istimewa di Antwerpen, sebagai gantinya Luc membolehkan Cinta Cahaya membelai kuda yang sedang tak menarik penumpang itu.
Image
Image

Setelah itu kami beranjak pergi menuju pinggiran laut atau pelabuhan Antwerpen tepatnya. Antwerpen adalah kota pelabuhan kedua terbesar di eropa setelah Rotterdam. http://en.wikipedia.org/wiki/Port_of_Antwerp
Dan yang menarik di Antwerpen adalah kastil tua yang ada di pinggir dermaga yang dikenal dengan  nama Het Steen atau Stone Castle.
http://en.wikipedia.org/wiki/Het_Steen
Image
Image

Memasuki gerbang kastil kami disuguhi pengamen yang memainkan biola dan trompet.
Image

Menaiki kastil dan berjalan terus ke dalam maka di akhir atau belakang kastil maka kita akan disuguhi pemamdangan indah tepian laut dan kami bisa melihat jauh dengan bantuan teropong yang tersedia di pinggiran dermaga.
Image

Dari situ kami kembali ke grote markt dengan tujuan tempat parkir diaman mobil kami terparkir, tanpa senganja kami melewati Vrouwekathedraal, salah satu gereja bersejarah di Antwerpen.
http://en.wikipedia.org/wiki/Cathedral_of_Our_Lady_(Antwerp)
Image

Sebelum menuju mobil, maka tak lengkap rasanya jika jalan jalan di Belgia tidak diakhiri dengan oleh oleh coklat untuk dibawa pulang ke rumah, seperti kebiasaan Luc yang harus membawa coklat jika sehabis jalan jalan dari Belgia. Karena waktu yang merambat cepat aku tak sempat mengajak Luc ke pabrik coklat seperti yang pernah aku kunjungi pertama kali ke Antwerpen saat tak bersama Luc dua tahun yang lalu, sebagai gantinya kami hanya mendatangi toko coklat yang ada di sekitar vrouwekathedraal dan membeli sekotak coklat untuk dibawa pulang.
Image

Didalam toko coklat aku tersenyum melihat tulisan cerdik yang ada di dalam toko, It’s true that money doesn’t buy Happiness, but does buy chocholate which is a kind same thing. Hahaha, baiklah.
Image

Seperti hari ini yang cerah, secerah hati kami. Aku bisa bercerita berbagai hal yang aku lupa ceritakan pada Luc, yang aku sampaikan sepanjang pergi dan pulang dari Antwerpen yang aku ceritakan di mobil. Hari ini aku melihat wajah Luc yang bahagia, mendengar celoteh Cinta dan Cahaya yang tak ada habisnya, melihat aksi nari mereka di depan pengamen, mendengar nyanyian mereka sepanjang jalan.

What’s a such good day today! Thank you my darling, my love and my shine sun!

 

Rotterdam, 16 maret 2014

One Day Journey

Kereta itu lewat persis di depan mataku, saat aku tiba di peron 4.

Kereta api yang akan membawaku ke Maastrich baru saja meninggalkanku.

Beringsut pelan menghampiri bangku merah yang ada di peron tersebut, aku duduk dan mulai mengatur nafasku yang sedikit diatas normal.

Finally hari ini tanggal 24 dec 2011, aku memutuskan tetap pergi ke Maastrich.

Setelah beberapa jam sebelumnya aku masih ragu antara berangkat atau tetap di rumah, dan begitu keputusan untuk tetap pergi aku ambil, aku masih saja disibukkan oleh tetek bengek yang tak perlu, berkali kali mengecek keperluan untuk anak anakku selama aku pergi (yang hanya beberapa jam saja!)

Tiba di station dengan diantar suami dan kedua anakku, berkali kali suamiku menyemangatiku untuk ‘have fun’ tak usah khawatir akan kedua anakku. Bersyukur, karena dia begitu memahamiku. Mengerti akan kerinduanku berpetualang.

Duduk tercenung di bangku merah di peron 4, tak lama kereta api antar negara (Thalys) berhenti di peron 4. Orang yang menunggu di peron segera masuk, tak sampai lima menit petugas segera meniup peluit tanda kereta akan berangkat, seorang wanita tinggi semampai dengan nafas tersengal tiba mengejar kereta yang akan bergerak maju.

Jam tak dapat kembali diputar balik, juga untuk tiga detik keterlambatan kaki yang membawa langkahnya menuju kereta. Kereta tujuan Brussel dan Paris itu sudah bergerak. Sosok semampai itu mulai terguncang, pundaknya naik turun dan air matanya mulai mengalir. Dan dia tetap berdiri terpatung di pinggir peron.

Aku ikut terpaku menyaksikan semua adegan tersebut, ikut merasakan perih yang dia derita. Sangat mengerti bagaimana rasanya ditinggal oleh kereta, mengerti bagaimana rasanya menyeret koper menuju peron yang harus melewati tangga tanpa lift di station Rotterdam yang sibuk, mengerti bagaimana rasanya menanggung beban di tinggal kereta seorang diri.

Saat wanita muda tersebut mulai mengusap air matanya dan segera beringsut menuju bangku merah dimana aku duduk, aku segera mengalihkan pandangan ke arah lain, berusaha keras untuk tak melirik wajah yang baru bersimbah air mata. Tapi tidak dengan seorang ibu yang duduk di sebelahku, dia segera menawarkan rasa simpatinya yang langsung dijawab dengan bahasa Inggris oleh wanita muda tersebut tanda dia tak mengerti apa yang si ibu katakan padanya. Ya, tentu saja sejak awal aku sudah mengira dia bukan seseorang yang berbahasa Belanda, dari raut mukanya aku sudah menebak dia berasal dari suatu negara di Eropa Timur.

Dan kami bertiga segera duduk berdampingan.

Wanita muda itu segera mengeluarkan telepon genggamnya, berusaha melakukan kontak telepon tapi sepertinya tak ada jawaban di ujung sana. Sungguh aku tak mau meliriknya, tak mau ikut berduka bersamanya. Doaku terkabul, dia segera beranjak pergi sambil menyeret kopernya yang berat. Dan sang ibu yang ramah segera sedikit menghiburku, mengatakan bahwa masih akan ada kereta ke Paris atau ke Brussel untuk hari ini, setidaknya wanita muda itu harus bersabar menunggu kereta berikutnya. Pernyataan itu jelas dijawab dengan rasa syukur dalam hatiku, membayangkan jika wanita itu akan pulang ke negaranya untuk merayakan natal esok hari bersama keluarganya, dia masih bisa mengejar waktu.

Kereta yang aku tunggu tiba satu jam berikutnya, setelah sesuatu yang tak seperti biasanya terjadi. Seharusnya kereta yang akan membawaku ke Maastrich akan tiba setiap setengah jam sekali, tapi hari ini begitu kereta api muncul, kereta itu hanya menurunkan penumpang dan melarang kami yang tengah menunggu untuk tidak naik kereta, di pengeras suara yang terdengar adalah bahwa kami harus menunggu kereta berikutnya alias harus menunggu setengah jam lagi, alhasil aku terus terusan harus melirik papan elektronik jadwal keberangkatan kereta menuju Maastrich dengan seksama, jangan sampai aku salah naik kereta, karena hampir lima menit sekali kereta datang dan pergi yang membawa ke berbagai jurusan.

Bagi diriku yang biasa menunggu kereta di Station Bandung yang akan membawaku ke Yogya atau Surabaya, menunggu setengah jam bahkan tiga jam sekalipun adalah hal yang enteng, tapi tidak dengan manusia produk sini yang biasa tepat waktu, penundaan selama 30 menit dirasakan hal yang merugikan hak azasi manusia, maka kudapatkan wajah wajah tak senang disekitarku saat menunggu kereta 30 menit berikutnya, dan begitu kereta yang ditungggu muncul, mereka segera berlompatan masuk.

One day journey kali ini, bukan penceritaan bagaimana rupa Maastrich setelah lebih dari 4 tahun lalu aku tinggalkan, tapi bagaimana perasaan hatiku saat aku kembali berpetualang. Memori yang kembali menggila saat aku masih tinggal di Indonesia, yang begitu menghitung hari jika mendapati kalender berwarna merah di hari jumat atau senin, yang berarti aku bisa melakukan journey 3 hari lamanya tanpa merusak cuti tahunanku yang sangat aku jaga rapi untuk kupergunakan journey yang lebih panjang di tiap tahunnya. Jika aku mendapati angka merah itu artinya aku sudah harus mulai bernegosiasi bersama Ratna, teman bertualangku.

Jika banyak mereka yang berlibur bersama teman akan mencari daerah wisata dari kota atau negara yang mereka tuju, tidak dengan kami. Mendatangi daerah wisata cukuplah sudah saat kami sekolah dulu, study tour tiap tahun dengan rombongan sekolah. Yang kami datangi tempat biasa saja, tempat yang secara tak sengaja kami temukan tapi selalu menjadi menarik. Siapa sangka saat kami tersesat setelahh berjalan jauh dibawah terik matahari, tahu tahu kami terdampar di pasar burung di kota Yogya padahal sebelumnya kami bermaksud hanya mencari toko yang menjual kancing dari tempurung kelapa (juga sesuatu yang aneh) tapi dari pasar burung kami bisa berkenalan dengan penjual burung dan bisa begitu meresapi kehidupan bapak si penjual burung beserta keluarganya. Atau siapa sangka setelah dari keraton lama kami bisa terlibat dengan kehidupan masyarakat di sekitar situ?

Atau kami bisa berlama lama duduk di bangku Mall besar di Jakarta atau Bandung, dan hanya sibuk menilai wajah orang? Menghitung berapa banyak wajah bahagia yang kami temukan di mall? Kemudian bersyukur ternyata dalam keadaan bagaimanapun kami selalu tertawa riang. Kami menilai bahwa kami bahagia, hahaha.

Kembali ke one day journey ku hari itu, hal seperti itulah yang kemudian aku dapati. Menyimak mereka yang duduk di peron di station Rotterdam, kemudian saat aku melangkahkan kaki keluar dari kereta yang artinya aku sudah berada di Maastrich adalah aku terpaku pada dua sosk wanita muda yang sedang sibuk berfoto ria. Dan ingatanku kembali ke memori purba jaman dulu kala saat aku masih sering berpetualang bersama Ratna. Wajah bahagia itulah yang aku rekam saat melihat mereka, persis seperti apa yang aku lakukan bersama Ratna, tertawa bersama. Dan tak lama kami sudah berjalan bersama menuju kerst markt di jantung kota Maastrich. Dan siapa mengira kami ternyata masih bersama saat aku kembali ke kota Rotterdam, kami mengambil kereta yang sama karena mereka kembali ke Delft. Ya mereka dua mahasiswa dari TU Delft.

Dari semua itu, aku berterima kasih pada Luc, yang mengijinkanku untuk kembali berpetualang. Yang tak henti hentinya selalu menyemangatiku untuk melakukan hal yang kuimpikan.

Walau journey kali ini hanya beberapa jam saja, sungguh aku menikmatinya.

So Yayang, what’s next?

Rotterdam, 28 Dec 2011

Nightmare in Seville

Kami sekeluarga sedang liburan di Portugal selama dua minggu.

Dalam dua minggu itu pula aku dan suamiku berencana escape dari dua putri kami.

Maka disusunlah rencana,

Disepakati, kami berdua akan berpetualang mengendari mobil dari Portugal ke Spanyol, mengelilingi kota kota di Andalusia.
Hanya semalam sebelumnya kami sibuk searching hotel di kota kota yang akan kami singgahi, Seville, Cordoba, Malaga, Huelva.

Hari pertama di Seville,

Receptionist hotel tak bisa berbaha Inggris! Tapi sangat ramah. (Sesuai dengan review dari orang orang yang pernah menginap di hotel tersebut)

Saat Luc bertanya pada receptionist karena tak menemukan paswoord wifi di kamar dan juga nomor safety box salah  hingga safety box tak dapat dibuka, maka munculah kelucuan komunikasi.

Bahasa tangan dan tubuh sudah diperagakan, orang kedua dan ketiga sudah didatangkan untuk membantu komunikasi, dan tra laaaaaaaaaaaa, orang ketiga yang membantu kami seorang bapak tua segera mengetik di komputer dan keluarlah google translate!

Hahaha dan dengan bantuan itulah kami lancar berkomunikasi.

Kami baru bersiap tidur pada saat waktu hampir menunjukan pukul dua dini hari, tapi tak lama kami mendengar suara aneh, seperti suara kaleng dipukul pukul. Ada sesuatu di dalam energy drink monster yg baru di minum Luc!

Luc tak berkata apa apa tapi segera membawa kaleng tersebut ke kamar mandi, dan berkata nothing saat aku bertanya, tapi dia memintaku menurunkan temperatur AC, panas katanya, padahal aku sudah membenamkan dalam dalam tubuhku di selimut karena AC yg terlalu dingin.

Pagi pagi benar Luc sudah mandi dan  berkata bahwa dia  ingin cepat cepat keluar hotel tanpa sarapan dulu.

Setelah aku memaksanya ada apa dengan dirinya, barulah dia berkata bahwa dia tak dapat tidur sama sekali karena dia mendapati kecoa di dalam kaleng minumannya!!!

Kecoa yang sangat besar, baru pertama kali dia melihat kecoa sebesar itu seumur hidupnya kata Luc dengan mimik serius.

Dan dia menahan cerita mengenai kecoa semalaman padaku karena dia khawatir aku tak dapat tidur seperti dirinya, dan hanya berjaga jaga takut kecoa yang besar itu balik lagi.

Aha, pantasan semalaman dia tak mematikan lampu baca yang ada di sampingnya, padahal dia paling anti pada lampu menyala jika saatnya tidur!

Oh ya satu lagi saat kami tiba di Seville kami dikejutkan dengan temperatur yang tinggi sekali, 45 derajat Celcius!!! Panas luar biasa, dan angin yang berhembus pun sangat panas sekali.

Ah Seville kau adalah kota dengan kenangan yang tak mungkin kami lupakan…. sesuai namamu…. Sephia…. (Seville dibaca Sevia) mengingatkanku pada band favorite ku… Sheila on 7…. Sephia…. dimanakah engkau kini?

PS. Kepada Eross dkk, i miss you…..

Silves, Portugal, 8 july 2013Image

Dear Megah

Dear Megah,

Empat tahun yang lalu aku bermimpi, kau datang menjengukku saat aku terbaring di rumah sakit.

Kau hanya berkata singkat,

aku hanya mampir sebentar saja untuk melihatmu… menengokmu di Belanda

aku tak bisa berlama lama karena aku sedang mengikuti kompetisi pelajar di Spanyol dan aku

datang sebagai wakil dari Indonesia.

Begitu ujarmu dengan senyum diiringi gigi gingsulmu.

Aku begitu ingat kau datang diantarkan ayahmu mengendarai pesawat menyerupai UFO.

Masih teringat jelas dalam benakku, ayahmu meneteskan keringat saat dia memutar stir UFO yang besar.

Kemudian ayah dan ibuku datang juga menengokku.

Ayahku yaitu kakekmu bercerita bahwa ayahmu sekarang telah naik jabatan dan dengan jabatannya yang tinggi dia diperbolehkan mengendarai UFO.

Begitu cerita kakekmu mengenai ayahmu dengan bangganya.

Aku mengangguk, membenarkan cerita kakekmu karena aku melihat sendiri saat ayahmu menjalankan UFO dengan keringat yang mengucur di dahinya.

Kemudian, aku terbangun dari tidurku selama dua minggu.

Ada ayah ibuku di sampingku.

Aku tak terkejut, toh sudah beberapa hari ini mereka menemaniku di rumah sakit, berdoa, bercerita tentang segala hal termasuk cerita ayahmu yang jadi supir UFO.

Saat aku bertanya apakah Megah masih di Spanyol? Mereka kaget luar biasa, sedikit bingung tapi menjawab juga bahwa kau sedang di Bogor, tak datang menjengukku dan tak sedang berkompetisi di Spanyol.

Dearest Megah,

lupakan kekonyolanku yang menyakini bahwa kau benar benar datang menjengukku dari Spanyol.

Aku baru percaya setelah berminggu minggu kemudian bahwa itu hanya mimpi belaka.

setelah para dokter menjelaskan tentang apa yang terjadi dengan diriku saat aku terbaring tak sadarkan diri selama dua minggu lamanya. Aku mengalami delirium yang hebat.

http://en.wikipedia.org/wiki/Delirium

Megah sayangku,

Hari ini, aku sedang berdiri tegak di Spanyol.

Aku berdiri dengan senyum mengembang teringat mimpiku empat tahun yang lalu, dulu aku membayangkan dirimu sedang berada di Spayol diantara jembatan kokoh di jaman Renaissance.

Di jembatan itu, seperti dalam mimpiku empat tahun yang lalu, kini aku berdiri disitu.

Tahukah kau sayangku, dimana jembatan itu?

Cordoba!

Ya, aku menemukan jawaban dimana kau berdiri saat itu.

Jangan khawatir, suatu saat nanti benar benar dirimu yang akan datang kesana, benar benar berdiri di jembatan itu, yang kemudian berjalan melewati jembatan itu, menyusuri jalan jalan tua dari batu yang terhampar indah, melintasi benteng benteng kokoh yang mengungkung kota tua Cordoba, memasuki mesjid nan indah yang kini lebih di kenal Mosque-Cathedral.

Kau akan mengenalinya dari tiang tiangnya yang megah bahwa dulu bangunan itu pernah menjadi sebuah mesjid.

https://en.wikipedia.org/wiki/Mosque%E2%80%93Cathedral_of_C%C3%B3rdoba

Dear Megah,

bahwa mimpi adalah milik kita.

Hanya kita sendiri yang mampu mewujudkannya, tentu saja atas kuasa Tuhan.

Subhanallah, bahwa aku bisa menginjakan kaki di Cordoba tentunya atas izin Allah.

Dearest Megah,

masih banyak mimpi mimpiku yang belum terwujud,

tolong bantu aku mewujudkannya…..

Menyusuri kota kota di Andalucia seluruhnya…

http://en.wikipedia.org/wiki/Andalusia

Mengunjungi rumah Allah di Mekah…

Tuntun tangan tangan mungil dari Cinta Cahaya yang tentunya kelak tak mungil lagi.

Terangkan olehmu dengan gaya cuekmu yang dapat memikat hati mereka.

Bahwa tak ada yang tak mungkin dengan seizin Tuhan.

Selamat menyongsong bulan Ramadhan sayangku….

Empat tahun yang lalu  di awal Ramadhan  aku bangun dari sakitku, begitu juga dirimu kini….

Tak ada yang tak mungkin bagi Allah, kita hanya perlu meminta…

Ayo go go go

Aku dan Oom-mu beserta Cinta Cahaya tak sabar memelukmu dan kaka Heru di bandara Schiphol

PS. Percayalah kawan, dengan mengejar mimpimu, hidup akan lebih berwarna

Malaga, 7 July 2013

Image

Image