Mom and Daughter Shopping Together!

Minggu siang, aku harus shopping bersama Cinta. Kata harus, memang itulah yang pantas disandang saat aku berniat shopping haru itu bersama Cinta. Aku harus membeli sepatu Cinta dan Cahaya untuk sekolah untuk mengganti sepatu mereka yang sudah bolong, tak bisa dinantikan lagi karena setiap hujan tiba, mereka akan datang ke rumah dengan kaos kaki basah, dan rasanya aku malu melihat kondisi sepatu anak anak. Walau mereka punya sepatu lain yang bisa dipakai untuk sekolah, entah kenapa terutama Cahaya, dia selalu memakai sepatu lars bututnya, tak mau digantikan, nah jika hujan tiba dan sepatu larsnya belum kering keesokan harinya, dia terpaksa memakai sepatu lain dengan muka cemberut.

Hari minggu tanggal 16 Feb, aku mendengar kabar dari seorang kawan bahwa toko sepatu van den Assem sedang mengadakan sale hingga 75%, maka dengan hati riang aku mendatangi toko tersebut, setelah melihat di internet bahwa di hari minggu toko tersebut akan buka pukul 12.00. Dan tepat pukul 12 aku keluar rumah dengan diantar Luc yang hanya menurunkan aku dan Cinta di depan toko tersebut, sedangkan dia dan Cahaya kembali pulang ke rumah. Sedikit bingung karena aku melihat orang berkerumun di depan toko tersebut, aku segera menghampiri pintu masuk dan melihat tanda bahwa toko belum dibuka dan jam buka toko adalah 12.30, wah masih 7 menit lagi pikirku. Dan aku tetap bertahan seperti orang orang yang bergerombol di sekitar pintu.
http://www.assem.nl/

Tepat pukul 12.30, dan pintu toko dibuka, bagai semut menemukan gula, kami segera meringsek masuk ke dala toko. Lupa diri melihat sepatu sepatu yang sedang obral besar besaran aku melirik sepatu nomor 35 dan 36 mencoba coba sebentar, sebelum akhirnya sadar diri kembali, bahwa hari ini aku datang untuk membelikan sepatu Cinta dan Cahaya. Aku berhasil melihat sepatu lars untuk Cinta hanya ada satu nomor, tak mungkin aku memaksakan satu nomor lebih besar untuk Cahaya. Cinta ogah ogahan melihat sepatu yang aku pilihkan, niet mooi bunda… rajuknya. Bagus, sayang, lihat ini untuk sekolah dan ini untuk pesta seruku menunjukan sepatu lainnya pada Cinta. Dan sepatu teplek model balet langsung dikagumi Cinta dengan antusias, Mooi bunda, heel erg mooi…. dan rengekan rengekan ingin segera memakai sepatu teplek tersebut dengan bertubi tubi terus dilontarkan. Dengan kesepakan bahwa aku akan membelikan sepatu teplek tersebut dengan perjanjian dia harus memakai sepatu lars yang aku pilihkan untuk sekolah dan pergi ke toko lain untuk mencari sepatu lars lainnya untuk Cahaya. Dengan tanpa ba bi bu lagi Cinta langsung menyanggupinya.

Berjalan dengan riang ke arah kassa, berceloteh pada penjaga toko yang melayani kami, bahwa dia ingin menenteng sepatu tepleknya sendiri, sehingga orang dibalik kassa menempatkan sepatu yang kami beli di kantung yang berbeda, dan aku harus menenteng sepatu lars baru Cinta dan dan dia sendiri menenteng sepatu teplek baletnya.

Dengan rasa penasaran yang masih nyata, aku harus meninggalkan toko tersebut dan dengan terpaksa harus melupakan sepatu yang baru aku lihat tadi di etalase, sepatu lars yang cantik, tanpa hak, datar saja seperti kesukaanku, tak lelah dibawa jalan lama, harga yang tertera disitu sekitar 350 euro dan akan menjadi sekotar 90 euro setelah dikorting 75%. Dan yang lebih fantastis lagi nomor sepatu tersebut adalah nomor 35, nomor yang jarang aku temui disini. Beli jangan beli jangan seperti irama yang menggelora di dadaku. Beli saja toch Luc tak akan marah, dia akan mentertawakan seperti biasanya, tapi tak pernah marah, bisikku. Tapi disaat yang lain aku berkata, anak anakku yang butuh sepatu, bukan aku. Dan berita para pengungsi gunung kelud kembali terbayang dalam pikiranku. Mereka boro boro ingin sepatu kedua atau ketiga, jangankan sepatu yang  mungkin tak penting bagi mereka, untuk makan pun mereka menunggu bantuan dari para relawan. dUh jika sudah ingat kesitu, aku bisa dengan sedikit tenang meninggalkan toko tersebut.

Tapi ya hanya sedikit, ketika aku melewati toko Manfield, yang konon orang bilang salah satu toko sepatu terbaik di Belanda, aku segera membelokan langkahku. Dan derita pengungsi gunung kelud hilang dalam ingatanku.
http://www.manfield.com/

Aku tengah memegang sepatu engkel lars yang hampir serupa yang aku punya, sepatu yang sudah tiga tahun aku pakai itu sekarang kondisinya sudah tak berbentuk dan salah satu sol sepatu kanan sudah tak utuh lagi, tergerus oleh seringnya aku berjalan. Melirik sebentar ke harga yang tertera 132 euro koma sekian cent. Otakku segera bekerja, aku tak tau berapa persen sepatu tersebut di korting, dan aku segera bertanya pada pekerja di toko tersebut, jadi 31,19 euro katanya, yang langsung disambut dengan senyumku, rasanya jika aku beli sepatu ini tak mengapa bathinku, para pengungsi di gunung kelud akan maklum dan merestui pembelianku, bisikku dalam hati. Dan dengan luapan kegembiraan aku berkata pada orang yang melayaniku bahwa aku ingin mencoba pasangannya. Dia segera membawa kotak sepatu dan menunjukannya padaku, alangkah kecewanya aku saat aku melihat pasangan sepatu yang ada di dalam kotak kondisinya sangat bersih, sehingga kontras dengan sepatu yang ada di tanganku yang sedikit lecek. Ada yang lain mevrouw tanyaku, walau aku tau jawabannya tak mungkin ada, disini sepatu kortingan adalah sepatu yang tersisa, yang ada di pajangan itulah yang ada, tak mungkin minta yang lain ataupun nomor yang lain karena tak mungkin ada. Dia menggeleng, dan segera memintaku tunggu sebentar, mungkin dia bisa mengakalinya katanya, dia bergegas meninggalkanku dan datang kembali dengan sepatu yang sudah digosok dan ketika kembali dan kami sama sama membandingkan sepatu tersebut aku masih melihat perbedaan warna yang walau tak begitu kentara, tapi ada sedikit beda. Aku tersenyum bimbang, sebentar katanya, mungkin aku bisa meminta pertimbangan kolegaku, katanya sambil bergegas pergi.

Aha, inilah yang aku tunggu, aku pernah mengalami kejadian serupa, juga dengan kasus sepatu kortingan, saat aku mendapati sepatu yang akan aku beli sedikit tergores, dan jelas jelas tak nyata, tapi secara kebetulan aku memeriksanya dan penjaga toko tersebut segera beranjak pergi dan datang kembali dengan seorang manager, dan managaer tersebut memohon maaf karena sepatu yang aku inginkan tak sempurna, dan kalaupun aku masih keukeuh membelinya dia bersedia menurunkan setengah harga lagi dari sepatu yang telah di korting tersebut. Dan tentu saja akan  aku sambut penawarannya dengan suka cita.

Dan hari itu, hal tersebut kembali lagi menghampiriku, orang yang melayaniku kembali datang dengan koleganya, dan dia menurunkan lagi sepatu tersebut menjadi 20 euro saja, aha sepatu yang awalnya seharga 132 euro kini bisa aku dapatkan dengan harga 20 euro saja. Tralalalaaaaaaaaaaa dengan amat gembira aku segera mendatangi kassa, dan saat itu pula derita pengungsi gunung kelud sudah benar benar hilang dalam ingatanku. Duh Gusti……
Image

Kami segera berjalan dengan riang gembira, tinggal sepatu untuk Cahaya pikirku. Cinta segera mengeluh bahwa dia ingin makan dan minum, aku segera membelokkan langkah kaki kami ke sebuah cafe yang langsung ditolak oleh Cinta, bukan yang ini bunda, katanya. Itu lho tempat yang biasa yang ada banyak anak anaknya. Hahaha aku tahu yang dimaksud Cinta, ke Hema kan? Iya bunda, betul… Hema. Teriaknya gembira. Akupun tentu saja gembira, karena dengan pergi ke Hema uangku tak akan keluar banyak, aku senang Cinta pun senang.
http://www.hema.nl/nieuws/ontbijt.aspx
Image

Keluar dari Hema, kami segera mendatangi toko sepatu langgananku, toko sepatu murah meriah, sepatu Cinta dan Cahaya sering aku temukan disitu. Tak berapa lama seperti biasanya aku bisa menemukan sepatu untuk Cahaya tanpa kesulitan.

Dan perjalanan masih disibukan dengan mendatangi toko kosmetik, recanaku membeli lipstick akhirnya aku niatkan juga. Pesan teman sekelasku untuk tidak malu bertanya pada penjaga toko, akhirnya aku laksanakan. Hari itu aku bertanya pada penjaga toko dan dia memberikan advis untukku, dan sebuah lipstik merah berhasil aku bawa pulang di hari itu. Di toko itu pula Cinta ditawari untuk sedikit di make up. Tentunya setelah penjaga toko tersebut bertanya dulu padaku, dan setelah aku mengiyakan dan penjaga toko itu bertanya pada Cintaa yang langsung disambut dengan suka cita oleh Cinta, dia segera menaiki kursi untuk pelanggan yang tinggi tanpa bantuanku, dan dia berhasil duduk di kursi tersebut dengan bangganya.
Image
Image

Berjalan pulang menuju haltu bus, kami masih sempat berfoto bersama di dekat Beurs. Cisssssss dan kami pun berfoto bersama yang bisa langsung di share saat itu juga oleh FB melaui http://www.koopgoot.nl
Image

Dan hari cerah ceria kami akhiri dengan bernyanyi bersama sambil menunggu bis yang datang selama hampir 15 menit lamanya. Dan perjalanan menuju rumah dengan nyaris hanya tiga penumpang saja hingga sampai rumah kami akhiri dengan gembira.
Image
Image

Ternyata tak perlu menunggu lebih lama untuk bisa menikmati shopping bareng dengan anak anak. Kami sama sama menikmatinya. Terimakasih Cinta! Next month giliranmu Cahaya!

Sampai di rumah, aku menceritakan semua cerita pada Luc. Luc tertawa waktu aku bercerita mengenai sepatu yang tertinggal di toko Assem, sedikit menggodaku bagaimana bisa aku tahan tak membeli sepatu kortingan itu tanyanya? Jawabku walau sebetulnya tak nyambung sama sekali, tapi aku sedikit bercerita mengenai kontradiksi hatiku, tak enak rasanya membeli barang yang sebetulnya tak begitu aku butuhkan sementara banyak ribuan orang di negaraku begitu susah, dan seperti biasanya Luc menentramkan hatiku dengan kata katanya, kalau kemampuanmu menolong hanya bisa dengan menahan keinginanmu untuk tidak membeli barang yang tidak kamu butuhkan, setidaknya kamu sudah membantu mereka dengan tidak hidup secara berlebihan karena inilah yang kita mampu.

Hahaha tidak hidup berlebihan karena inilah kemampuan kita. Ya, mau berlebihan bagaimana, wong mampunya segini! Terima kasih Tuhan.

Advertisements

Huisvrouw – Housewife – Ibu Rumah Tangga

Dijaman sekarang (konon) kita harus bangga jika kita berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Katanya jika ada yang bertanya apa pekerjaanmu, jawablah dengan tegas ‘aku berprofesi sebagai ibu rumah tangga’ jangan menjawab dengan malu malu dan tak percaya diri, semisal ah aku hanya ibu rumah tangga saja. Tentu saja, seorang istri sekaligus ibu yang bekerja dan mereka tetap bisa menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya dengan fantastis, menurutku merekalah wanita istimewa. Karena bagaimanapun aku tetap bercita cita ingin bekerja juga suatu saat nanti.

Namun saat ini, karena aku sibuk bersekolah juga, rasanya aku mulai kewalahan dengan jadwal dan kegiatan yang semakin bertumpuk, rasanya aku kehilangan waktu berlama lama di dapur untuk memasak, tak ada lagi kegiatan jahit menjahit di malam hari karena jika malam tiba aku sudah kelelahan dan tak tertarik lagi untuk menjahit atau merajut.

Seperti dua hari terakhir ini, Cinta sakit. Otomatis kami berdua tak bersekolah. Dan alangkah tak menyenangkannya saat aku harus mendorong Cinta di kereta bayi saat mengantarkan dan menjemput Cahaya bersekolah. Sore tadi saat aku akan menjemput Cahaya dan mendapati Cinta yang sedang tidur nyenyak, tak terkira betapa gundah gulananya diriku terlebih denga turunnya hujan. Membangunkan Cinta, memakaikan jaket, syal, sarung tangan dan topinya, mendudukannya di buggy, menyelimuti kakinya.

Kemudian barulah aku melangkahkan kaki keluar rumah, bersamaan  tetangga sebelah rumah yang juga akan menjemput anak anaknya. Kami berjalan dalam diam, entah ada angin apa, si tetangga yang biasanya tak pernah berbasa basi padaku, dia melontarkan pertanyaan melihat Cinta yang duduk di buggy, tak sekolah? Tanyanya. Yang langsung aku iyakan, sakit kataku menambahkan. Dan mulailah kami membuka obrolan, aku bertanya pada bayi yang ada di kereta dorongnya, dia menjelaskan baru melahirkan belum dua minggu, aku terbelalak, sungguh aku tak menyangka bahwa sebelum dua minggu ini dia sedang hamil, aku kira dia hanya gemuk saja, sedangkan satu anaknya yang tengah berdiri di kereta bayi tersebut (seperti kereta gandeng) berumur kurang dari dua tahun. Dan anak yang berjalan di belakang kami berumur tiga tahun dan duduk di kelas peuterspeelzaal, bersekolah 4 hari dalam seminggu, dan hari jumát adalah hari liburnya. Aku tau bahwa anak anaknya yang akan dijemputnya lebih dari satu orang, dan tanyaku, di groep berapa anakmu yang akan kau jemput? Jawabnya santai…. groep satu, dua dan tiga!!!

Blaammmmmm!
Enam orang anak, yang bertautan umur antara satu hingga satu setengah tahun dengan saudara saudaranya.

Hohoho, mendengar jawabannya, tiba tiba saja hatiku riang gembira. Tak ada keluh kesah lagi saat harus menjemput satu anak di sekolah sementara anak yang satunya sedang sakit panas dan harus juga ikut menjemput saudaranya di sekolah, karena tak memungkannya ditinggal sendiri di rumah. Tak ada pilihan lain.

Kemudian sambil berdendang aku melanjutkan mampir ke supermarket setelah menjemput Cahaya. Tiba tiba aku tak mau menunggu Luc pulang dari tempatnya bekerja untuk memintanya belanja kebutuhan dapur seperti biasanya, dan di tengah hujan rintik rintik kami menjambangi toko daging dan dua supermarket, di salah satu supermarket kami bertemu dengan teman sekelas Cahaya yang ibunya sedang berbelanja juga dengan membawa bayi dan satu dua anak yang salah satunya teman sekelas Cahaya dan yang satunya kakak si bayi.

Jadi kawan, bukan pemandangan yang aneh jika di Belanda banyak dijumpai ibu atau ayah yang sedang mendorong kereta bayi sementara ada dua atau tiga anak lainnya yang berjalan di belakangnya.

Rotterdam, 29 November 2013

Cinta menunggu di luar kelas, sementara bunda mengantar Cahaya kedalam kelas

Cinta menunggu di luar kelas, sementara bunda mengantar Cahaya kedalam kelas

Kasih makan bebek dulu sebelum pulang ke rumah
Kasih makan bebek dulu sebelum pulang ke rumah

Cahaya bertemu teman sekelasnya (anak laki laki) dan sempat bermain main dulu sementara ibu dan dua adiknya berada di kassa
Cahaya bertemu teman sekelasnya (anak laki laki) dan sempat bermain main dulu sementara ibu dan dua adiknya berada di kassa

Quality Time

Waktu tak dapat diputar ulang. Pepatah yang kadang dengan mudah kita sepelekan.
Dan kini terjadi pula pada diriku. Tiba tiba saja aku merasa kehilangan begitu banyak waktu bersama si kembar.
Mereka sudah keluar rumah dari pukul 8 pagi dan baru pukul 3 sore aku dapat melihat batang hidungnya. Seru rasanya saat mereka datang memelukku,dan berlari memelukku saat aku menjemput mereka di sekolah.

Dan setiap hari rabu kita selalu punya begitu banyak kegiatan yang kami lakukan bersama setelah pulang sekolah. Karena hari rabu anak anak sekolah hanya sampai pukul setengah satu, sehingga kami punya banyak waku bersama.

Sejak kami berjalan menuju rumah dari sekolah, kami sudah sibuk merancang apa yang akan kami lakukan bersama, biasanya mereka selalu minta masak bareng, bikin kue bolu dan pannenkoeken adalah hal yang paling sering kami lakukan. Atau kami berjalan ke pertokoan di sekitar rumah hanya sekedar makan ikan kebeling kesukaan kami bertika, biasanya kami duduk di depan gereja dan segera menyantap ikan kibeling yang masih panas mengepul. Hhmmmmmmmmm sedapnya.

Atau aku memperbolehkan mereka main dikamarku, dan biasanya mereka main ‘logeren’ alias menginap, dan tentu saja bermacam bantal dan selimut akan mereka angkut ke kamarku. Berantakan? Tentu tak terkira!

Dan hari ini kembali mereka meminta membuat panenkoeken bersama, muali dari menyiapkan alat alatnya hingga makan di meja, harus mereka yang menyiapkannya, mirip acara deksel di TV Kindertijd. Seru? Tentu saja!

PS. Terima kasih Cinta Cahaya yang selalu memberikan kegembiraan padaku.

Rotterdam, 27 November 2013

Image

Bikin Pannenkoeken

Image

Lagi ngendong di kamar bunda

Image

Main di kamar bunda

Image

Jalan jalan pulang beli ikan kibeling

Eerste dag naar basisschool # Hari pertama masuk SD

Hari yang dinanti akhirnya tiba. Hari ini hari pertama masuk sekolah, bayangkan….. hari ini mereka masuk di groep een di basisschool.

Waktu begitu cepat berlalu, teringat dua tahun yang lalu saat aku berjalan bersama Cinta Cahaya di siang yang cerah untuk mengantarkan Cinta Cahaya bersekolah di Peuterspeelzaal. Usia mereka baru dua tahun lewat satu bulan, tapi mereka berjalan dengan semangat ke sekolah. Aku memakaikan pakaian terbaik untuk mereka, hadiah dari ibuku, nenek mereka. Suamiku sengaja cuti hari itu, untuk menyaksikan moment penting tersebut. Di hari pertama tersebut selama lima belas menit aku dan suamiku boleh melihat Cinta cahaya di dalam kelas, dan saat aku menciumnya untuk meninggalkan kelas, tak ada kekhawatiran di wajah mereka, mereka membalas ciumanku, melambaikan tangan dan mulai asyik kembali dengan mainannya. Bahkan saat itu mereka belum bisa merangkai kata satu kalimatpun. Dan selama dua tahun lamanya empat kali dalam seminggu, Cahaya Cinta-ku tak ada dalam dekapanku hampir  tiga jam lamanya.

Dan kini, saat usia mereka empat tahun, aku harus merelakan mereka ada di tangan sekolah selama hampir tujuh jam setiap harinya. Aku panjatkan doa saat aku menyerahkan tangan Cinta dan Cahaya pada gurunya. Kutatap namanya di kursi yang telah disediakan. Terlihat jelas, karena begitu berbeda dengan nama anak anak lain yang terlihat.

Lirihku, semoga kalian akan selalu bercahaya dimanapun kalian berada, selalu menyebarkan cinta pada sesama.

Selamat bersekolah anak anakku, kejar mimpi kalian. Doa ku akan selalu mendampingi di setiap langkah kalian.

 

Rotterdam, 2 September 2013

IMAG0190

Di halaman sekolah, saat sekolah usai

Di halaman sekolah, saat sekolah usai

agustus 2011  dua tahun yang lalu saat pertama kali masuk sekolah TK

agustus 2011
dua tahun yang lalu saat pertama kali masuk sekolah TK

agustus 2012 hari pertama di tahun kedua di TK

agustus 2012
hari pertama di tahun kedua di TK

 

 

 

Anakku, maafkan bundamu

Anakku,

Bunda baru saja membaca artikel dengan judul ‘terbukti manusia’

Manusia seringkali membutuhkan bukti sebelum benar-benar yakin. Butuh sakit sebelum yakin untuk meninggalkan kebiasaan buruk. Butuh nilai buruk untuk yakin belajar lebih giat. Butuh kehilangan sebelum yakin untuk menjaga apapun yang (ternyata) dicintainya dengan sungguh-sungguh. (by aafuady.wordpress.com)

Dan itu adalah benar anakku,

Kadang bunda lupa, akan ada moment penyesalan setelah bunda memarahi kalian, setelah bunda berlaku tak sabar pada kalian, setelah bunda sibuk berceramah panjang pendek tak karuan. Dan bunda kadang makin geleng geleng kepala saat kalian tak mengerti juga.

Maafkan bundamu anakku, akan tak berdayaan bundamu dalam mengatur emosi. Tapi percayalah anakku, bundamu tak akan pernah berhenti belajar.

Kau tahu anakku, bahwa bundamu tak pandai menyusun kata dengan indah, kadang tak tau harus bagaimana bercerita dengan heboh agar orang lain bisa memperhatikan kita. Dan anakku, kadang bundamu selalu bertanya pada diri sendiri apakah bundamu telah mengajarkan yang terbaik pada kalian?

Anakku dengan membaca artikel tersebut bunda seakan diingatkan untuk selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk kalian, bunda tak ingin bukti yang menyakitkan untuk membuat bunda menjadi lebih menghargai atas apa yang telah Tuhan titipkan pada bunda.

Anakku, i love youImage

Aku anak sholeh? Tanya nya

Beberapa hari ini,

mereka tak merengek lagi tiap pagi minta ke sekolah.

Aku tak perlu lagi berkali kali menjelaskan, sekolah tutup nak, kalian libur hampir dua bulan lamanya, berapa malam lagi harus tidur hingga masuk sekolah? Masih banyak sayang….

Beberapa hari ini juga,

mereka sibuk di kamarnya.

Bikin projekt mewarnai, menggunting kertas koran iklan, menempel hingga membuat surat dan kartu. Untuk nenek, untuk nenek, untuk oma Angela, untuk kake, untuk Anemone, untuk Anemone, untuk Anemone lagi, lagi Anemone. Dan serunya, bunda aku harus mengeposkan kartu ini buat Anemone. Ya, sayang biar bunda yang simpan nanti kalo kita keluar rumah kita poskan bersama ok?

Mereka senang, tak tau bahwa bundanya tak mengirimkan kartu kartu yg mereka buat seluruhnya, hanya beberapa saja, jika tahun baru tiba atau special moment penting lainnya.

Dan beberapa hari ini juga,

mereka banyak tertawa berdua, betul betul have fun berdua, menari sampe jumpalitan, main dokter dokteran, bongkar pasang baju baju barbie, masak masakan, semuanya selalu diiringi ketawa ketiwi.

Begitu waktu tidur tiba, mereka bertanya sambil memegang pipiku erat,

Bunda, hari ini aku baik ya? Tak menyebalkan?  Niet nakal, bunda? Aku anak sholeh?

 

Ya Tuhan, kadang aku lupa untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah engkau berikan. Kenapa mereka kadang bertanya seperti itu padaku? Ya, jika emosiku dalam puncak yang tak dapat ku kontrol kadang aku berkata… kenapa kalian nakal sekali?

Bukankah tugasmu Yayang sebagai orang tua yang harus mengarahkan mereka untuk berjalan di dalam track yang benar? Harus mengajarkan jujur dalam segala hal? Karena kini sudah banyak orang pintar dan hebat, tapi ternyata tak jujur. Bukankah sekarang kita semakin menyadari bahwa kita lebih kagum pada mereka yang menjaga kejujurannya.

Upsss, aku memandang tumpukan kartu kartu buatan Cinta Cahaya untuk Anemone. Katakan dengan jujur bahwa kartu kartu tersebut masih bertumpuk di lemari.

Anak anakku, bunda akan selalu melafalkan…. anak sholeh anak sholeh anak sholeh pada kalian … agar seperti itulah kalian.

 

Image

Happy Motherday – Tak ada hari libur untuk seorang Ibu

Dua minggu yang lalu hari terakhir anak anak masuk sekolah sebelum libur musim semi selama dua minggu, bu guru memberikan empat buah kado berbungkus kertas kado warna pink, sambil berkata ini kado dari Cinta dan Cahaya untukmu, kado moederdag, dibukanya dua minggu lagi ya………

Aku menjawab, terimakasih bu guru nyampe rumah langsung buka ah……

Dan langsung direspon…. neeeeeeeee

Tentu saja, aku tak membukanya dan segera melupakannya.

Hingga hari ini.

Luc datang dengan setangkai mawar di nampan lengkap dengan sarapan pagi beserta kado dari anak anak.

Mungkin semua ibu di Belanda akan mendapat perlakuan yang sama sepertiku hari ini.

Bukan merupakan sebuah suprise lagi.

Tapi melihat apa yang dibuat anak anak selalu membuat hatiku mengharu biru.

Dan kini aku bertanya pada diriku sendiri, apakah anak anakku akan bangga pada diriku seperti halnya diriku yang membanggakan ibuku?

Apakah mereka akan memuja diriku seperti halnya diriku memuja mereka?

Apakah mereka akan memaafkanku dengan keterbatasan yang aku miliki seperti halnya aku selalu memaafkan mereka?

Ibuku tak pernah mendapat sarapan di tempat tidur dari kami anak2nya kecuali saat dia sakit.

Ibuku tak pernah mendapat bunga dari kami saat hari ibu.

Dan aku lupa apakan aku pernah menggambar atau membuat sesuatu di hari ibu.

Yang aku ingat setiap tanggal 22 desember, hari ibu yang diperingati di Indonesia, kami datang ke sekolah dengan berkebaya ala Dewi Sartika, yang kami ingat saat itu adalah berkebaya dalam rangka memperingati hari ibu!

Dan kini setelah menjadi seorang ibu, …. tak ada hari libur untuk seorang ibu!

Terdengar seperti berkeluh kesah rasanya, tapi sungguh aku tetap memilih tak ada hari libur daripada tidak menjadi seorang ibu.

Selamat hari ibu kepada semua perempuan yang ada di dunia

Rotterdam, 13 Mei 2012

Lieve mama

Kreasi buatan Cinta Cahaya Tempat lilin yg diwarna cat air Dan tempelan yg diisi puisi ‘Mijn mama’ mijn mama is van mijn Ze maakt me altijd blij Mijn mama is ook heel erg lief Ik ben haar eigen hartendief een lief kusje… Cinta Cahaya